Aksio: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Fakultas Dakwah dan Komunikasi Volume 1 Nomor 2. Hal, 153 - 168 https://jurnal. id/index. php/jas/index Pelatihan dan Pendampingan Kader Gizi Sebagai Upaya Peningkatan Status Gizi Anak Balita Hadi Riswandi Azmi1 Stikes Mataram andi90@gmail. Abstrak Tingkat pengetahuan tentang gizi dan kesehatan setiap orang berbeda-beda. Hal tersebut bergantung tingkat pendidikan, akses terhadap informasi dan kemampuan untuk menyerap informasi. Penerapan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan juga berbeda-beda tiap orang. Peran kader terhadap hal tersebut sangat penting. Khususnya peran sebagai mediator bagi masyarakat pada kelompok sasaran posyandu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kader posyandu dalam upaya meningkatkan pengetahuan tentang giz di Desa Sembalun Sajang. Metode yang digunakan berupa pelatihan dengan ceramah, handout presentasi, pemutaran video edukasi, diskusi, role play, dan pendalaman teknis pelaksanaan penyuluhan gizi. Sampel dari kegiatan ini adalah masyarakat yang sedang mengikuti pelatihan sebanyak 20 peserta. Kegiatan pengabdian pada dengan menerapkan metode Hasil pengabdian kepada masyarakat bahwa kegiatan pelatihan dan pendampingan kader terbukti efektif dan bermanfaat. Ibu dapat mengadopsi pengetahuan yang disampaikan melalui kader yang berdampak pada perbaikan gizi anak balita. Kata Kunci: Status Gizi Anak balita. Kader Posyandu Abstract Everyone's level of knowledge about nutrition and health varies. This depends on their level of education, access to information, and ability to absorb it. The application of this knowledge also varies from person to The role of cadres in this area is crucial, particularly as mediators for the community in the integrated health post (Posyand. target group. This community service activity aims to increase the capacity of Posyandu cadres in efforts to improve nutritional knowledge in Sembalun Sajang Village. The methods used include training with lectures, presentation handouts, educational video screenings, discussions, role-plays, and technical in-depth training on nutrition counseling. The sample for this activity was 20 community members attending the training. This community service activity was implemented using counseling methods. The results of the community service program showed that the training and mentoring of cadres proved effective and beneficial. Mothers were able to adopt the knowledge conveyed by the cadres, which resulted in improved nutrition for toddlers. Keywords: Nutritional Status of Toddlers. Posyandu Cadres Pendahuluan Status gizi anak di bawah lima tahun/balita merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur status gizi masyarakat. Semakin dini seorang anak menderita gizi kurang, semakin besar risiko untuk mengalami penurunan kecerdasan sehingga berdampak pada prestasi belajar yang rendah. Kelompok usia dibawah 5 tahun merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap masalah gizi. Sistem kesehatan Indonesia tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan tetapi juga tenaga non-profesional yang disebut kader kesehatan. Mereka adalah relawan masyarakat yang telah dilatih oleh tenaga kesehatan untuk menjalankan dan membantu program promosi kesehatan yang dijalankan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesma. Pos pelayanan kesehatan terpadu atau biasa disebut Posyandu telah didedikasikan untuk mempromosikan kesehatan ibu dan anak. Di Posyandu, kader kesehatan melakukan skrining gizi untuk anak dan ibu hamil sebulan sekali. Posyandu juga memberikan promosi kesehatan melalui penyuluhan, terutama tentang gizi kepada orang tua dengan menggunakan buku kesehatan ibu dan anak1 Mediani. Predictors of Stunting Among Children Under Five Years of Age in Indonesia: A Scoping Review. Global Journal of Health Science, 12 . , 83. Kader adalah kader kesehatan masyarakat setempat yang dipilih oleh warga berdasarkan kemampuan, integritas, loyalitas, dan komitmen untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kader biasanya dilatih untuk mengidentifikasi masalah kesehatan individu dan masyarakat. karenanya, mereka dapat terlibat dalam promosi kesehatan, memberikan konseling, dan merujuk masalah medis ke fasilitas kesehatan2 Perkembangan keadaan gizi balita dapat dipantau melalui hasil pencatatan dan pelaporan yang tercermin dari hasil penimbangan balita setiap bulan dan melakukan monitoring melalui posyandu yang dilakukan oleh kader posyandu. Permasalahan yang berkaitan dengan kader adalah pengetahuan dan keterampilan kader yang kurang3. Peran kader yang diharapkan tidak hanya sebagai pelaksana, akan tetapi sebagai pengelola untuk merencanakan kegiatan dan mengaturnya. Kader sebaiknya mampu menjadi pengelola program kesehatan di wilayahnya, karena kader yang paling memahami kondisi kebutuhannya. Posyandu belum maksimal dimanfaatkan oleh ibu balita. Hal ini menyebabkan tingginya angka kematian balita Salah satu permasalahan kesehatan di dunia akibat kurangnya gizi adalah kematian anak usia bawah lima tahun . Berdasarkan Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 memberikan gambaran status gizi balita dan determinannya dengan menggunakan metode two stage stratified sampling secara potong lintang . ros-sectiona. dengan jumlah sampel sejumlah 334. 848 bayi dan balita di 486 kabupaten/Kota pada 33 Provinsi di Indonesia, melalui pengukuran antropometri dan wawancara didapatkan hasil adanya kenaikan angka wasting dari 7,1% menjadi 7,7%, dan underweight dari 17 menjadi 17,1%, sedangkan angka kejadian stunting mengalami penurunan dari 24,4% menjadi 21,6%. Prevalensi Stunting di Provinsi Jawa Tengah, kota Surakarta mendapat peringkat ke- Shiroya-Wandabwa. Coaching Community Health Volunteers in Integrated Community Case Management Improves the Care of Sick Children Under-5 : Experience from Bondo . Kenya. International Journal of Integrated, 18 . , 1Ae11. Widyaningsih. Windyastuti. , & Tamrin. Peran Kader Dalam Memotivasi Ibu Balita Yang Berkunjung Ke Posyandu. JKEP, 5 . , 1Ae12. 31 dengan angka 16,2%. Wasting berada di peringkat 19 dengan besaran 7,1%, dan underweight peringkat ke 26 dengan besaran 15,5%4 Keluarga Sadar Gizi adalah keluarga berperilaku gizi seimbang yang mampu mengenal, mencegah dan mengatasi masalah gizi pada setiap anggota keluarganya5. Keluarga dikatakan memiliki perilaku Kadarzi yang baik jika sudah menerapkan lima indikator Kadarzi yaitu, menimbang berat badan secara rutin, memberikan ASI eksklusif, makan beraneka ragam, menggunakan garam beryodium dan mengonsumsi suplementasi zat gizi. Proses pendampingan keluarga kadarzi bertujuan untuk mendorong, menyemangati, membimbing dan memberikan kemudahan kepada keluarga guna mengatasi masalah gizi yang dialami 6. Adapun tujuan dalam kegiatan ini adalah melatih dan meningkatkan pengetahuan kader posyandu balita di RW XII Kelurahan Banyuanyar tentang pecegahan stunting. Edukasi kesehatan ibu dan anak secara partisipatif menurunkan prevalensi stunting di Desa Pukdale melalui pelibatan aktif kader dan Melalui uji coba terkontrol secara acak mengevaluasi intervensi komunitas yang mencakup pelatihan kader kesehatan dan pembangunan sanitasi. Intervensi ini berdampak positif pada indikator Pendampingan kader Posyandu menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran mereka sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan Kemenkes. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. In Kemenkes Wijayanti. , & Nindya. Hubungan Penerapan Perilaku Kadarzi (Keluarga Sadar Giz. dengan Status Gizi Balita di Kabupaten Tulungagung. Amerta Nutrition, 1 . Aditriya. , & Widyaningsih. Penerapan Perilaku Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) Terhadap Status Gizi Anak Yang Mengalami Masalah Nutrisi. Jurnal Ners Widya Husada, 8 . , 1Ae14. Atok. Babys. Murti. Alang. Fernandes. Duka. & Atapukang. Mengurangi prevalensi stunting di Desa Pukdale melalui edukasi kesehatan ibu dan anak. Room of Civil Society Development, 4 . , 401Ae412. Beatty. Borkum. Leith. Null. , & Suriastini. A cluster randomized controlled trial of a community-based initiative to reduce stunting in rural Indonesia. Maternal & Child Nutrition, 20 . , e13593. Program pendampingan ini melibatkan pelatihan, monitoring, dan evaluasi kegiatan Posyandu, serta penyediaan alat dan media Pelatihan kader yang komprehensif dan berkelanjutan sangat diperlukan agar mereka dapat terus berkontribusi secara optimal dalam upaya kesehatan Masyarakat9. Hal ini juga dapat meningkatkan motivasi dan kinerja mereka dalam memberikan layanan kesehatan di komunitas. Memantau tumbuh kembang balita di Posyandu sangat penting untuk memastikan anak-anak tumbuh secara optimal dan mencegah masalah kesehatan seperti stunting dan malnutrisi10 Pelatihan kader Posyandu sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kapasitas mereka dalam mendukung program kesehatan masyarakat, terutama pencegahan stunting 11 . Melalui pelatihan, kader dapat belajar teknik pengukuran pertumbuhan yang akurat, cara mendeteksi dini masalah gizi, serta metode edukasi yang efektif untuk masyarakat. Pelatihan juga membantu kader memahami intervensi gizi spesifik dan sensitif yang diperlukan dalam 1. 000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) 12 Djuari. Linda Dewanti. Sulistiawati. Natasya Nurvita Brilianti. Farhan Nurdiansyah, & Subur Prajitno. Improvement Of CadresAo Skills And Knowledge To Provide Comprehensive Health Services For The Elderly. Folia Medica Indonesiana, 59 . , 173Ae Erni Rukmana. Muhammad Edwin Fransiari. Kanaya Yori Damanik, & Latifah Rahman Nurfazriah. Differences In Knowledge Of Posyandu Cadres And Mothers Of Toddlers Regarding Stunting And Its Association With Stunting Incidence In Toddlers. Amerta Nutrition, 8 . , 61Ae70. Tampake. Arianty. Mangundap. Emy. , & Sasmita. The Effectiveness Of Training On Improving The Ability Of Health Cadres In Early Detection Of Stunting In Toddlers. Open Access Macedonian Journal Of Medical Sciences, 9 (E), 373Ae377. Akhmadi. Sunartini. Haryanti. Madyaningrum. , & Sitaresmi. Effect Of Care For Child Development Training On CadresAo Knowledge. Attitude. And Efficacy In Yogyakarta. Indonesia. In Belitung Nursing Journal (Vol. Issue 4. Pp. 311Ae. Belitung Raya Publisher - Belitung Raya Foundation. Setiap pelatihan yang diberikan kepada kader kesehatan harus didukung oleh implementasi langsung pada kelompok sasaran atau masyarakat untuk meningkatkan dampak positif dan meningkatkan efektivitas pelaksanaan program kesehatan 13. Pengetahuan sebagian masyarakat tentang gizi dan kesehatan berbeda-beda, tergantung dari tingkat pendidikan, akses informasi dan kemampuan masyarakat dalam menyerap informasi. Selanjutnya dalam penerapan pengetahuan mengenai gizi dan kesehatan yang diperoleh pun berbeda-beda14 Beberapa faktor yang berhubungan dengan status gizi balita antara lain adalah pola asuh, asupan makanan dan tingkat pendapatan orang Hal tersebut membuktikan bahwa peran orang tua terutama ibu sangat penting dalam tumbuh kembang balita yang dapat mempengaruhi status gizi balita. Adapun bentuk peran orang tua tersebut adalah dari pola asuh, menyiapkan makanan yang bergizi dan berimbang untuk balita 15. Selain itu peran kader sangat penting dalam menghubungkan masyarakat khususnya kelompok-kelompok sasaran posyandu. Berbagai informasi dari pemerintah lebih mudah disampaikan kepada masyarakat melalui Karena kader lebih tanggap dan memiliki pengetahuan kesehatan yang baik di atas rata-rata dari kelompok sasaran posyandu. Melalui kegiatan rutin di Posyandu dapat dilakukan penyuluhan kepada ibu-ibu mengenai pola asuh yang efektif dan asupan makanan yang bergizi dan seimbang untuk balita dalam rangka meningkatkan status gizi balita yang Salah satu penelitian yang dilakukan di Yogyakarta menunjukkan bahwa pelatihan singkat yang diberikan kepada kader secara konsisten dan signifikan dapat meningkatkan pengetahuan kader tentang pemantauan pertumbuhan anak, pemantauan perkembangan anak, dan Siswati. Effect of a Short Course on Improving the Cadres Ao Knowledge in the Context of Reducing Stunting through Home Visits in Yogyakarta . Indonesia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19 . , 1Ae10. Sambriong, et. Peningkatan Status Gizi Anak Melalui Pendekatan Pemberdayaan Keluarga Dalam Memanfaatkan Pangan Lokal. Jurnal Kesehatan Primer, 6 . , 52Ae62. Gusrianti. Azkha. Bachtiar. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Limau Manis Selatan Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas, 8 . , 109Ae114. pemberian makan anak bayi, serta memfasilitasi kader dengan tepat dalam kunjungan ke rumah anak stunting. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Effendy dan teman-teman menunjukkan bahwa pendidikan gizi yang diberikan melalui kelas gizi dikombinasikan dengan kunjungan rumah secara berkala oleh kader dapat memberikan pengaruh dan memiliki potensi yang besar untuk diadopsi guna melengkapi program gizi lainnya di Puskesmas16 Dalam mengatasi masalah-masalah gizi, upaya pendidikan dan penyuluhan merupakan salah satu usaha yang sangat penting. Melalui usaha ini diharapkan keluarga . erutama ibu balit. dapat memahami pentingnya makanan dan gizi, sehingga terbentuk sikap dan perubahan perilaku ke arah pola makan yang lebih baik17. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan status gizi anak balita melalui pelatihan dan pendampingan kader gizi tentang gizi. Diharapkan melalui kader gizi yang sudah terlatih dapat terwujud pemberdayaan keluarga khususnya ibu dalam mengelola pangan yang tersedia di rumah tangga untuk pemenuhan makan yang sehat bagi anak sehingga dapat memperbaiki gizi anak balita Metode Penelitian Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sembalun Sajang. Kabupaten Lombok Timur, dengan sasaran lima kader posyandu aktif. Jumlah kader yang dilibatkan merupakan total populasi kader di posyandu desa tersebut, sehingga seluruh kader terlibat tanpa dilakukan pengambilan sampel. Pelatihan peningkatan kapasitas kader dilakukan menggunakan metode ceramah, diskusi interaktif, pemutaran video edukasi tentang gizi ibu hamil dan balita, pembagian handout, serta simulasi . ole pla. penyuluhan gizi. Materi pelatihan difokuskan pada Effendy, et. Nutrition education in Southeast Sulawesi Province. Indonesia : Maternal Child Nutrition: Wileyonlinelibrary. Com/Journal/Mcn, 16(November 2. , 1Ae14. Mulyati, et. Pengaruh Pendidikan Gizi Kepada Ibu Terhadap Konsumsi Makanan dan status Gizi Anak Balita Penderita Tuberkulosis Primer di Rawat Jalan RSUP Dr. Kariadi Semarang. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 1. , 87Ae91. peningkatan kemampuan kader dalam pemantauan pertumbuhan, penyampaian hasil plotting, edukasi gizi sesuai usia balita, dan pendalaman teknis untuk mengatasi ketidaksesuaian saat pelaksanaan penyuluhan di lapangan. Evaluasi dilakukan melalui observasi langsung terhadap kemampuan kader sebelum dan sesudah pelatihan. Indikator yang diamati meliputi pendataan balita, plotting pada buku KIA, penyampaian hasil plotting kepada ibu balita, edukasi gizi sesuai usia balita, dan pemberian PMT penyuluhan. Materi penyuluhan yang digunakan mengacu pada Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Kementerian Kesehatan RI, 2. Selama kegiatan program pengabdian masyarakat dimulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan didapatkan hasil sebagai berikut: Tahapan Persiapan Tahapan persiapan terdiri atas tahapan perijinan dan persiapan bahan/alat/materi yang dibutuhkan. Setelah mendapatkan ijin, tim melakukan persiapan bahan/alat/materi yang dibutuhkan. Materi yang disiapkan dalam bentuk lembar balik tentang stunting dan alat pemeriksaan antropometri yang digunakan dalam mendukung pengukuran status gizi pada balita, serta lembar observasi untuk mengetahui perkembangan kemampuan yang dimiliki kader posyandu Tahap Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan pengabdian masyarakat ini tim PKM mulai dengan melakukan pendataan kader posyandu balita dan mengidentifikasi keluarga balita yang berisiko dan terkena stunting. Tahapan selanjutnya adalah sosialisasi kegiatan PKM dengan tujuan agar kader posyandu balita mengetahui, membantu kegiatan dan berkomitmen mencapai target PKM. Sebelum dilakukan edukasi dan pelatihan pada kader, tim memberikan pre tes pengetahuan kepada para kader posyandu balita untuk melakukan validasi pengetahuan yang dimiliki kader posyandu balita tentang stunting dan Pelaksanaan kegiatan dilakukan tim PKM dengan metode pendampingan kader posyandu balita pada kegiatan posyandu melalui pemeriksaan antropometri pada balita yang berisiko atau terkena stunting. Selain itu, tim PKM melakukan edukasi kepada para kader tentang pencegahan stunting Tahap Monitoring dan Evaluasi Kegiatan yang dilakukan tim PKM untuk memonitor perubahan penurunan angka kejadian stunting yaitu dengan melakukan kunjungan kerumah balita yang sudah teridentifikasi terkena stunting dan sangat berisiko terjadi stunting dengan membawakan menu makanan tinggi protein sebagai makanan pendamping ASI berupa telur ayam. Tahapan evaluasi dilakukan tim PKM dengan melakukan post tes melalui G-form kepada semua kader posyandu balita guna mengetahui adanya perubahan pengetahuan setelah diberikan edukasi pencegahan stunting dan pelatihan pemeriksaan antropometri, serta mengetahui perkembangan kemajuan potensi yang diterima. Tim PKM melakukan tindak lanjut dan kerjasama setelah kegiatan PKM selesai dilakukan Hasil dan Pembahasan Dalam upaya merealisasikan pelatihan dan pendampingan pelatihan dan pendampingan kader gizi sebagai upaya peningkatan status gizi anak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan pendampingan kader yang dilaksanakan melalui pelatihan peningkatan kapasitas kader menggunakan metode ceramah dengan media edukasi berupa handout presentasi, pemutaran video tentang gizi ibu hamil dan balita, tanya jawab, role play, serta pendalaman teknis pelaksanaan penyuluhan gizi apabila ditemukan ketidaksesuaian Gambar 1 Kegiatan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kader Pengetahuan ibu merupakan faktor penting dalam pemenuhan gizi balita sehingga balita dapat tumbuh dan berkembang sesuai usianya 1819. Posyandu juga memiliki efek kontekstual yang kuat dalam pencegahan stunting, terutama melalui pemanfaatan pelayanan posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita yang berdampak pada status gizi20 Keberadaan kader sangat vital karena mereka memegang peran sentral dalam menjalankan pelayanan Posyandu. Apabila kader tidak aktif, maka pelayanan Posyandu dapat terganggu, sehingga pemantauan status Hatijar. Setiawati. Situmeang. Tyarini. Putri. , & Yunita. Balanced nutrition education as an effort to prevent stunting in toddlers. Jurnal Pengabdian Masyarakat Edukasi Indonesia, 2 . , 39Ae46. Wahyuningsih. , & Liliana. Relationship between mothers level of knowledge about stunting prevention and the nutritional status of toddler. Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta, 11 . , 80Ae82. Sampurna. Dewanti. , & Prasticha. Correlations between maternal knowledge, attitude, and posyandu utilization on nutritional status in children under five. Journal of Maternal and Child Health. gizi balita tidak optimal dan gangguan gizi tidak dapat terdeteksi secara Peran aktif kader Posyandu dalam upaya meningkatkan status gizi balita mencakup pendataan balita, pemantauan pertumbuhan, penyuluhan gizi, serta pemberian makanan tambahan. Selain itu, kader berperan sebagai penghubung antara tenaga kesehatan profesional dengan masyarakat, menyampaikan informasi kesehatan, menggerakkan potensi sumber daya lokal, dan memperkuat kapasitas komunitas dalam bidang Pendidikan kader memiliki pengaruh terhadap kinerja mereka dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kader dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki pemahaman yang lebih baik tentang prosedur kesehatan, dan lebih efektif dalam menyampaikan edukasi kepada Masyarakat23. Pendidikan kader berhubungan dengan pengetahuan yang merupakan faktor yang mempengaruhi keaktifan kader,karena pengetahuan kader tentang posyandu akan berpengaruh dalam kegiatan-kegiatan, dan menunjang setiap penyelenggaraan posyandu sehingga dapat terlaksananya program kerja posyandu dan sasaran keberhasilan bisa dicapai 24 . Sebagai garda terdepan dalam layanan kesehatan, khususnya melalui Posyandu yang berfokus pada kesehatan ibu dan anak, kader kesehatan memiliki peran Hindratni. Sartika. , & Sari. Optimalisasi peran posyandu dalam pencegahan stunting di desa Rimbo Panjang wilayah kerja Puskesmas Tambang Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar. Jurnal Mitra Masyarakat (JMM), 2 . , 40Ae48. Rahayu. , & Rahmatika. Peran posyandu dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan balita. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 15 . , 103Ae113. https://doi. org/10. 48144/jiks. Rahmayanti. Fitriani. Hidayani. Yogaswara. Turiano. , & Tagum. Factors Related To The Performance Of Cadres In The Implementation Of Community Based Health Service Activities. Journal Of Public Health Sciences, 1 . , 55Ae70. Wahyudi. Gunawan. , & Saputra. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Kader Terhadap Peran Kader Dalam Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Sukarame Kota Bandar Lampung. Malahayati Nursing Journal, 4 . , 1340Ae krusial dalam edukasi dan intervensi terkait stunting25. Sebagai ujung tombak layanan kesehatan berbasis masyarakat, kader Posyandu bertanggung jawab dalam memberikan edukasi gizi, melakukan pemantauan pertumbuhan anak, serta mendeteksi dini risiko stunting pada balita. Dengan adanya pelatihan yang berkelanjutan dan dukungan dari tenaga kesehatan, kader Posyandu dapat semakin optimal dalam menjalankan tugas mereka sebagai fasilitator kesehatan di komunitas26 Studi yang dilakukan oleh Suryani & Norhasanah menunjukkan bahwa setelah kader Posyandu mengikuti pelatihan mengenai pengukuran berat badan dan pengisian grafik pertumbuhan, terjadi peningkatan keterampilan yang signifikan. Pelatihan ini membantu kader dalam melakukan pengukuran antropometri secara akurat dan mencatat hasilnya dengan benar, sehingga mereka lebih mampu mendeteksi dini risiko stunting pada balita27. Dengan keterampilan yang lebih baik, kader Posyandu dapat mengidentifikasi tanda-tanda awal pertumbuhan tidak normal, memberikan edukasi kepada orang tua mengenai pentingnya pemantauan pertumbuhan, serta segera merujuk kasus yang memerlukan intervensi lebih lanjut. Hal ini membuktikan bahwa pelatihan berkelanjutan sangat efektif dalam meningkatkan kompetensi kader, sehingga mereka dapat berperan lebih optimal dalam mencegah dan menanggulangi Upaya peningkatan kapasitas kader diharapkan mampu meningkatkan partisipasi dan kepercayaan masyarakat. Kader yang aktif, kompeten, dan komunikatif akan mendorong peningkatan kunjungan masyarakat ke RufaiAotul. Rahim. Ibrahim. Puspita. , & Jafar. Overview Of Health Cadre Knowledge Regarding Stunting Prevention In Children In The Telaga. Tilango. And Limboto Health Centers Klasics | Volumes 5 | Issues 1. Chabibah. , & Agustina. Exploration Of The Role Of Posyandu Cadres In The Achievements Of The Community Health Center Program In Reducing Stunting Incidence. Amerta Nutrition, 7 . , 65Ae 72 Suryani. , & Norhasanah. Peningkatan Pengetahuan Dan Keterampilan Kader Posyandu Dalam Pengukuran Antropometri Di Kelurahan Landasan Ulin Utara Banjarbaru. Jurnal Inovasi Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 4 . , 49Ae54. Khadijah. Areza Syatifa. Halimatu Syahdia, & Nabila Sirait. Pentingnya Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Usia 0- 72 Bulan Untuk Mencegah Gangguan Perkembangan. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2 . , 1Ae8. posyandu dan mempererat hubungan kader dengan masyarakat sebagai pihak yang dipercaya untuk memberikan informasi kesehatan. Dampak jangka pendek dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatnya kemampuan kader dalam melaksanakan penyuluhan kepada ibu hamil dan ibu balita. Sedangkan dampak jangka panjang yang diharapkan adalah perbaikan status gizi ibu hamil dan balita sebagai hasil dari peningkatan kualitas edukasi dan pelayanan kader Kesimpulan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menunjukkan bahwa pelatihan dan pendampingan yang diberikan mampu meningkatkan kapasitas kader posyandu secara nyata. Peningkatan tersebut terlihat terutama pada kemampuan kader dalam menyampaikan informasi hasil plotting dan memberikan edukasi gizi sesuai usia balita. Pelatihan yang menggabungkan pendekatan teoritis dan praktik langsung terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kader posyandu, khususnya dalam hal pemahaman dan keterampilan melakukan pengukuran antropometri. Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya memperkuat pengetahuan dasar kader, tetapi juga memberi ruang untuk aplikasi langsung dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata di lapangan. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan signifikan baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilan kader dalam mengukur panjang badan dan tinggi badan balita. Pendampingan, baik secara langsung maupun tidak langsung, memberikan kontribusi penting dalam mendukung proses pemahaman yang lebih mendalam serta praktik yang lebih akurat di Daftar Pustaka