Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 PENCEGAHAN DAN PENANGANAN SKABIES MELALUI PENINGKATAN SANITASI DAN PERSONAL HYGIENE Hardono1. Wisnu Sadhana2. Asril Hs3. Sutrisno4. Chusairil Pasha5 Adhina Elda Irsulin6. Ahmad Saipuddin7. Ali Subagiyo8. Ayu Oktavianti9. Dawair10. Erwin Wijaya11. M Sulthon Al-Farisi12. Muhammad Ikhsan13. Pingki Oktavia14. Romza Afriadi15. Rumiyati16. Tri Anggoro17 Program Studi S2 Keperawatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Aisyah Pringsewu E-mail korespondensi: hardonoaisyah2009@gmail. Abstrak: Latar Belakang: Andikpas di LPKA Kelas II Bandar Lampung memiliki risiko tinggi penularan skabies akibat hunian padat, sanitasi yang terbatas, dan kurangnya kebersihan diri . ersonal Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku hidup bersih untuk menekan angka kejadian skabies. Metode: Kegiatan dilakukan melalui lima tahapan: koordinasi dan persiapan materi, skrining gejala skabies, penyuluhan kesehatan interaktif, peningkatan sanitasi lingkungan kamar hunian, serta penanganan kasus melalui pengobatan topikal. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Hasil: Hasil pengabdian masyarakat yaitu terdapat peningkatan pemahaman andikpas yang signifikan mengenai pencegahan skabies. Peserta menunjukkan perubahan perilaku nyata, seperti kedisiplinan mandi, rutin mengganti pakaian/sprei, serta tidak lagi berbagi barang Kebersihan fasilitas bersama dan kamar hunian juga meningkat secara drastis. Program edukasi berbasis sanitasi dan personal hygiene efektif meningkatkan derajat kesehatan Keberlanjutan program memerlukan monitoring berkala dan penguatan peran kader kebersihan di lingkungan LPKA. Kata Kunci: Penanganan. Pencegahan. Skabies. Sanitasi. Personal Hygiene Abstract: Background: Andikpas at the Bandar Lampung Class II LPKA has a high risk of scabies transmission due to overcrowded living conditions, limited sanitation, and poor personal hygiene. This program aims to increase knowledge and change clean living behaviors to reduce the incidence of scabies. Method: The activities were carried out in five stages: coordination and preparation of materials, screening for scabies symptoms, interactive health education, improvement of sanitation in living quarters, and case management through topical treatment. Evaluation was conducted using pretest and post-test questionnaires. Result: The results of the community service showed a significant increase in the inmates' understanding of scabies prevention. Participants demonstrated tangible behavioral changes, such as bathing discipline, regularly changing clothes/bed sheets, and no longer sharing personal items. The cleanliness of shared facilities and living quarters also improved dramatically. The sanitation and personal hygiene-based education program effectively improved the health status of the The sustainability of the program requires periodic monitoring and strengthening the role of hygiene cadres in the LPKA environment. Keywords: Treatment. Prevention. Scabies. Sanitation. Personal Hygiene ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 Pendahuluan Skabies merupakan penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei yang hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, khususnya pada lingkungan dengan kepadatan hunian tinggi. World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat lebih dari 200 juta kasus skabies di seluruh dunia setiap tahunnya, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada negara-negara berkembang dan lingkungan komunal seperti panti asuhan, asrama, dan lembaga pemasyarakatan (World Health Organization, 2. Di Indonesia, prevalensi skabies mencapai 4,6% hingga 12,95% pada populasi umum, dengan angka yang lebih tinggi pada lingkungan hunian padat seperti pesantren, panti asuhan, dan lembaga pembinaan khusus (Kemenkes, 2. Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) merupakan salah satu institusi dengan risiko tinggi terhadap penularan penyakit kulit menular, termasuk skabies. Kondisi ini diperburuk oleh kepadatan hunian, keterbatasan fasilitas sanitasi, serta kurangnya penerapan personal hygiene yang optimal di kalangan anak didik pemasyarakatan (Andikpa. Penelitian oleh (Rahayu & Suryani, 2021. menunjukkan adanya hubungan signifikan antara personal hygiene yang buruk dengan kejadian skabies pada lingkungan hunian padat, di mana responden dengan personal hygiene buruk memiliki risiko 4,2 kali lebih besar untuk terinfeksi skabies dibandingkan dengan responden yang memiliki personal hygiene baik. Temuan serupa juga dikemukakan oleh (Sari & Putri, 2022. yang menyatakan bahwa edukasi kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku pencegahan skabies di lingkungan tertutup, dengan peningkatan skor pengetahuan mencapai 65% setelah intervensi edukasi Skabies memberikan dampak yang signifikan, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial-ekonomi bagi penderitanya. Secara fisik, infestasi tungau Sarcoptes scabiei menyebabkan gatal intensif terutama pada malam hari, ruam kulit, dan lesi akibat garukan yang dapat berkembang menjadi infeksi sekunder seperti impetigo, selulitis, atau abses kutaneous yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus pyogenes (Engelman et al. , 2. Studi oleh (Romani et al. , 2. menunjukkan bahwa komplikasi infeksi sekunder akibat skabies dapat meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti glomerulonefritis post-streptokokus dan demam reumatik, terutama pada populasi dengan akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Selain dampak fisik, skabies juga memberikan beban psikologis berupa penurunan kualitas tidur akibat pruritus nokturnal, gangguan konsentrasi, rasa malu, stigma sosial, serta penurunan kualitas hidup secara keseluruhan (Hay et al. , 2. Dampak sosialekonomi juga tidak dapat diabaikan, di mana skabies menyebabkan hilangnya hari produktif akibat ketidakhadiran di sekolah atau tempat kerja, biaya pengobatan berulang, dan beban ekonomi pada sistem kesehatan (Karimkhani et al. , 2. Dalam konteks LPKA, dampak-dampak tersebut dapat menghambat proses pembinaan dan rehabilitasi Andikpas, menurunkan kualitas interaksi sosial, serta memperburuk kondisi kesehatan mental yang mungkin sudah rentan pada populasi anak dalam lembaga pemasyarakatan. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 Permasalahan skabies pada Andikpas LPKA Kelas II Bandar Lampung tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik berupa gatal, iritasi kulit, dan risiko infeksi sekunder, tetapi juga dapat mengganggu kenyamanan, proses pembinaan, serta kualitas hidup Andikpas secara keseluruhan. Meskipun demikian, upaya pencegahan dan penanganan skabies yang komprehensif dan berkelanjutan masih belum optimal dilaksanakan di lingkungan LPKA. Faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kejadian skabies meliputi minimnya pengetahuan tentang skabies, rendahnya kesadaran dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta keterbatasan akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai (Kemenkes, 2. Dalam konteks internalisasi akhlakul karimah, menjaga kebersihan diri dan lingkungan merupakan cerminan dari tanggung jawab individu terhadap amanah kesehatan yang diberikan Allah SWT. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 195, "Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan," yang mengajarkan pentingnya menjaga diri dari hal-hal yang dapat membahayakan Oleh karena itu, upaya pencegahan skabies tidak hanya bermakna medis, tetapi juga spiritual dalam rangka membentuk karakter Andikpas yang bertanggung jawab, disiplin, dan peduli terhadap kesehatan diri serta sesama. Berdasarkan latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perubahan perilaku Andikpas LPKA Kelas II Bandar Lampung dalam pencegahan dan penanganan skabies melalui peningkatan sanitasi lingkungan dan personal hygiene. Secara khusus, kegiatan ini bertujuan untuk: . meningkatkan pengetahuan Andikpas tentang skabies, meliputi penyebab, cara penularan, tanda dan gejala, serta upaya pencegahan. meningkatkan kesadaran dan perubahan perilaku Andikpas dalam menerapkan personal hygiene yang baik dan benar. meningkatkan kebersihan dan kualitas sanitasi lingkungan hunian Andikpas. menurunkan angka kejadian dan mencegah penularan skabies di lingkungan LPKA. meningkatkan peran aktif petugas dan Andikpas dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan secara berkelanjutan. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Bandar Lampung pada bulan November 2024. Sasaran kegiatan adalah Andikpas LPKA Kelas II Bandar Lampung dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Metode pelaksanaan kegiatan dirancang secara sistematis dan komprehensif melalui lima tahapan utama yang mengintegrasikan pendekatan promotif, preventif, dan kuratif sederhana. Tahap Persiapan Tahap persiapan diawali dengan koordinasi bersama pihak LPKA, petugas kesehatan, dan pengelola sanitasi untuk menentukan jadwal pelaksanaan, identifikasi sasaran, dan pemetaan kebutuhan kegiatan. Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan materi edukasi mengenai skabies, sanitasi lingkungan, dan personal hygiene dalam bentuk presentasi slide, poster, dan leaflet. Tim pelaksana menyiapkan instrumen evaluasi berupa kuesioner pre-test dan post172 ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 test yang telah divalidasi untuk mengukur tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah intervensi. Tahap Identifikasi dan Skrining Skrining awal dilakukan untuk mengidentifikasi Andikpas yang memiliki tanda dan gejala skabies melalui pemeriksaan sederhana oleh petugas Skrining meliputi observasi kondisi kulit, identifikasi keluhan gatal terutama pada malam hari, serta pemeriksaan area tubuh yang rentan terinfeksi seperti sela jari, pergelangan tangan, dan lipatan kulit. Hasil skrining didokumentasikan dan digunakan sebagai data dasar untuk evaluasi program. Tahap Penyuluhan dan Edukasi Kesehatan Kegiatan penyuluhan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, dan tanya jawab. Materi penyuluhan mencakup pengertian skabies, penyebab dan cara penularan, tanda dan gejala, upaya pencegahan melalui personal hygiene, serta pentingnya menjaga sanitasi lingkungan. Penyampaian materi didukung dengan media visual berupa slide presentasi, poster, dan video edukatif yang mudah dipahami. Pada awal sesi, peserta diberikan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal, dan di akhir sesi diberikan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan setelah . Tahap Monitoring dan Evaluasi Monitoring dilakukan melalui observasi langsung terhadap perubahan perilaku Andikpas dalam menerapkan personal hygiene dan menjaga kebersihan Evaluasi kuantitatif dilakukan dengan membandingkan hasil pre-test dan post-test menggunakan uji statistik untuk menilai peningkatan pengetahuan. Evaluasi kualitatif dilakukan melalui wawancara singkat dan diskusi kelompok terfokus untuk mengeksplorasi perubahan sikap dan perilaku Andikpas. Data hasil evaluasi dianalisis dan didokumentasikan sebagai bahan penyusunan laporan akhir dan rekomendasi program lanjutan. Keseluruhan metode pelaksanaan kegiatan ini dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik sasaran, kondisi lingkungan LPKA, serta prinsipprinsip promosi kesehatan yang efektif dan berkelanjutan. Hasil Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 30 Andikpas LPKA Kelas II Bandar Lampung dengan karakteristik usia 14-18 tahun yang berjenis kelamin laki-laki dan telah menjalani pembinaan selama 3-12 bulan. Tingkat pendidikan peserta bervariasi dengan 40% berpendidikan SMP, 50% SMA, dan 10% SD. Sebanyak 80% peserta belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang skabies sebelumnya. Hasil skrining awal menunjukkan 12 dari 30 Andikpas . %) memiliki keluhan gatal pada kulit terutama malam hari, dan pemeriksaan fisik mengidentifikasi 8 Andikpas . ,7%) dengan tanda klinis skabies berupa ruam kemerahan dan lesi pada area sela jari, pergelangan tangan, dan lipatan kulit. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 Evaluasi pengetahuan menggunakan kuesioner terstruktur 20 pertanyaan menunjukkan peningkatan signifikan. Hasil pre-test menunjukkan rata-rata skor pengetahuan 8,2 A 2,4 . ategori cuku. dengan distribusi: pengetahuan rendah 46,7%, cukup 43,3%, dan baik 10%. Setelah intervensi, hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan dengan rata-rata skor 16,8 A 2,1 . ategori bai. , dengan distribusi: pengetahuan cukup 13,3% dan baik 86,7%. Tidak ada peserta kategori pengetahuan rendah setelah intervensi. Peningkatan rata-rata skor sebesar 8,6 poin . ,9%) menunjukkan efektivitas program edukasi. Observasi perilaku personal hygiene menunjukkan peningkatan dalam kebiasaan mandi teratur . % menjadi 93,3%), mengganti pakaian . ,3% menjadi 90%), memotong kuku . % menjadi 83,3%), tidak berbagi handuk . ,7% menjadi 86,7%), dan mengganti sprei . ,3% menjadi 80%). Evaluasi sanitasi lingkungan menunjukkan perbaikan signifikan pada kebersihan kamar hunian, kamar mandi, dan fasilitas cuci melalui jadwal piket yang disusun Ventilasi ruangan diperbaiki dengan membuka jendela secara teratur untuk meningkatkan sirkulasi udara. Delapan Andikpas yang teridentifikasi skabies mendapat penanganan berupa pemberian salep permethrin 5%, edukasi perawatan diri, dan anjuran mencuci serta menjemur pakaian dengan benar. Evaluasi dua minggu setelah penanganan menunjukkan 87,5% kasus . dari 8 oran. mengalami penurunan keluhan gatal dengan perbaikan kondisi kulit yang signifikan. Wawancara dan diskusi kelompok menunjukkan respons positif dengan peserta menyatakan materi mudah dipahami, bermanfaat, dan menimbulkan perubahan pola pikir menjadi lebih peduli terhadap Gambar 1. Rata-Rata Skor Pengetahuan Pre-test dan Post-test Gambar 2. Perbandingan Perilaku Personal Hygiene Pre dan Post Diskusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi kesehatan sangat efektif meningkatkan pengetahuan Andikpas tentang skabies dengan peningkatan skor ratarata 104,9%. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Sari & Putri, 2. yang melaporkan peningkatan pengetahuan 65% setelah edukasi kesehatan tentang pencegahan skabies di lingkungan tertutup. Keberhasilan program ini dapat dikaitkan ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 dengan penggunaan metode penyuluhan interaktif yang melibatkan peserta aktif, media visual menarik, dan penyampaian materi yang disesuaikan dengan karakteristik Menurut Health Belief Model, pengetahuan merupakan faktor predisposisi penting dalam pembentukan perilaku kesehatan, sehingga peningkatan pengetahuan yang signifikan memberikan dasar kuat bagi Andikpas untuk memahami risiko, mengenali gejala, dan melakukan pencegahan yang tepat (Kemenkes, 2. Perubahan perilaku personal hygiene yang positif dalam penelitian ini konsisten dengan temuan (Widodo & Kusumawati, 2. yang menyatakan bahwa personal hygiene baik dapat menurunkan risiko infeksi skabies secara signifikan. Peningkatan kebiasaan mandi teratur, mengganti pakaian, memotong kuku, dan tidak berbagi barang pribadi menunjukkan bahwa edukasi disertai pendampingan praktik dan lingkungan mendukung dapat mendorong adopsi perilaku sehat. Namun, inkonsistensi beberapa Andikpas dalam mengganti sprei secara rutin menunjukkan bahwa perubahan perilaku memerlukan waktu dan konsistensi, serta dukungan sistem institusi yang memfasilitasi ketersediaan sarana personal hygiene memadai. Keterlibatan aktif Andikpas dalam pembersihan lingkungan tidak hanya meningkatkan kondisi sanitasi tetapi juga membentuk rasa tanggung jawab sesuai prinsip Community-Based Participatory Approach (Rahayu & Suryani, 2. Peningkatan sanitasi lingkungan merupakan komponen krusial dalam pencegahan skabies karena tungau Sarcoptes scabiei dapat bertahan di luar tubuh manusia pada permukaan kain dan lingkungan selama 48-72 jam (Handoko, 2. Meskipun terdapat perbaikan kondisi sanitasi, kepadatan hunian dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama. Penanganan kasus skabies yang menunjukkan 87,5% perbaikan sejalan dengan pedoman WHO yang menekankan pendekatan komprehensif meliputi pengobatan individu, penanganan kontak dekat, dan dekontaminasi lingkungan. Dalam konteks LPKA dengan kepadatan tinggi, strategi mass treatment dapat menjadi alternatif lebih efektif untuk mengeliminasi skabies secara tuntas dan mencegah reinfestasi. Aspek unik program ini adalah integrasi nilai akhlakul karimah dalam setiap tahapan kegiatan, tidak hanya menekankan kesehatan fisik tetapi juga dimensi spiritual dan moral dalam menjaga kebersihan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap amanah Allah SWT. Pendekatan ini relevan dengan konteks pembinaan di LPKA yang berfokus pada pembentukan karakter dan akhlak mulia. Integrasi nilai Islam dalam promosi kesehatan terbukti efektif meningkatkan motivasi dan kepatuhan dalam berbagai program kesehatan di Indonesia. Konsep kebersihan sebagai bagian dari iman memberikan landasan spiritual kuat bagi Andikpas untuk mengadopsi perilaku hidup bersih dan sehat secara konsisten dan berkelanjutan, dengan hasil terlihat dari meningkatnya sikap saling menghormati, peduli, dan tolong-menolong dalam menjaga kebersihan lingkungan hunian. Keterbatasan penelitian ini meliputi kepadatan hunian tinggi yang menjadi tantangan utama dalam pencegahan penularan skabies, keterbatasan infrastruktur dan anggaran institusi yang membatasi kemampuan mengurangi kepadatan, serta keberlanjutan perubahan perilaku yang memerlukan monitoring konsisten namun ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 terhambat keterbatasan sumber daya manusia. Evaluasi jangka panjang belum dilakukan untuk menilai persistensi perubahan perilaku dan dampak program terhadap penurunan insiden skabies, sehingga penelitian lanjutan dengan desain longitudinal Hasil penelitian memiliki implikasi penting bagi pengembangan program kesehatan di LPKA dan institusi serupa, dengan rekomendasi integrasi program edukasi kesehatan komprehensif secara rutin, komitmen kebijakan institusi untuk penyediaan sarana prasarana memadai, pembentukan kader kesehatan dari Andikpas melalui peer education, dan pengembangan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek fisik, sosial, dan spiritual dalam promosi kesehatan untuk meningkatkan efektivitas program di berbagai setting. Gambar 3. Kegiatan Pengabdian Masyarakat Kesimpulan dan Saran Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tentang pencegahan dan penanganan skabies pada Andikpas LPKA Kelas II Bandar Lampung melalui peningkatan sanitasi dan personal hygiene telah terlaksana dengan baik dan mencapai tujuan yang ditetapkan. Program edukasi kesehatan terbukti sangat efektif meningkatkan pengetahuan Andikpas tentang skabies dengan peningkatan skor rata-rata sebesar 104,9%, dari kategori cukup menjadi kategori baik. Perubahan perilaku personal hygiene juga menunjukkan hasil positif dengan peningkatan signifikan dalam kebiasaan mandi teratur, mengganti pakaian, memotong kuku, tidak berbagi barang pribadi, dan mengganti sprei secara rutin. Peningkatan sanitasi lingkungan hunian tercapai melalui keterlibatan aktif Andikpas dalam kegiatan pembersihan, perbaikan ventilasi, dan pengelolaan kebersihan fasilitas bersama. Penanganan kasus skabies menunjukkan keberhasilan dengan 87,5% kasus mengalami perbaikan setelah dua minggu intervensi. ISSN: 2797-3239 (ONLINE) https://doi. org/10. 36984/y2wbkt10 Jurnal ABDI MERCUSUAR Vol. No. Desember, 2025, pp. 170 Ae 178 Integrasi nilai akhlakul karimah dalam program berhasil membentuk kesadaran spiritual tentang tanggung jawab menjaga kebersihan diri dan lingkungan sebagai amanah, serta meningkatkan sikap peduli dan tolong-menolong antar Andikpas. Berdasarkan keterbatasan penelitian ini, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan desain longitudinal untuk mengevaluasi persistensi perubahan perilaku dan dampak jangka panjang program terhadap penurunan insiden skabies di LPKA. Penelitian selanjutnya perlu mengeksplorasi strategi efektif dalam mengatasi kendala kepadatan hunian dan keterbatasan infrastruktur melalui pendekatan inovatif yang lebih komprehensif. Studi komparatif antara pendekatan mass treatment dengan pengobatan individual dalam konteks lingkungan hunian padat seperti LPKA perlu dilakukan untuk menentukan strategi penanganan skabies yang paling efektif dan Penelitian lanjutan juga disarankan untuk mengkaji efektivitas pembentukan kader kesehatan dari kalangan Andikpas sebagai agen perubahan dalam menjaga keberlanjutan program pencegahan skabies melalui pendekatan peer education. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam tentang integrasi nilai akhlakul karimah dalam program promosi kesehatan di berbagai setting untuk mengembangkan model intervensi holistik yang mengintegrasikan aspek fisik, sosial, dan spiritual secara lebih sistematis dan terukur. Ucapan Terimakasih