Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. DOI: https://doi. org/10. 56910/jumbiwira. Tersedia: https://jurnal-stiepari. id/index. php/jumbiwira Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Sri Wulandari1*. Anwar2. Rezky Amalia Hamka3. Muhammad Ichwan Musa4. Nurman5 Universitas Negeri Makassar. Indonesia Email: sriwlandrii@gmail. Alamat: Jl. AP. Pettarani Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia, 90222 Penulis Korespondensi Abstract. This study aims to comprehensively analyze the financial performance of PT Perusahaan Listrik Negara (Perser. during the 2020Ae2024 period in order to evaluate the companyAos ability to maintain financial health and operational efficiency amid dynamic economic conditions. The research employs a descriptive quantitative approach supported by financial ratio analysis based on the Decree of the Minister of State-Owned Enterprises No. KEP-100/MBU/2002, which evaluates eight key financial health ratios, namely Return on Equity (ROE). Return on Investment (ROI). Cash Ratio. Current Ratio. Collection Periods. Inventory Turnover. Total Asset Turnover, and Equity to Total Assets Ratio. The population of this research consists of the financial statements of PT PLN (Perser. , while secondary data were obtained from the companyAos annual financial reports published on its official website for the 2020Ae2024 period. Data analysis techniques involve calculating each financial ratio and assessing them against the benchmarks and scoring criteria set forth in the Ministerial Decree to obtain an overall performance score. The results of the analysis indicate that PT PLNAos financial performance during the study period achieved a score ranging from 12. 5 to 17. 9, which remains significantly below the healthy standard of 50 points. This finding categorizes PLNAos financial performance as AuunhealthyAy according to the criteria of KEP-100/MBU/2002. These results highlight the importance of strategic financial management, improved operational efficiency, and better allocation of resources to enhance profitability, liquidity, and overall sustainability of the companyAos operations in the future. Keywords: Cash Ratio. Current Ratio. Financial Performance. PT PLN (Perser. Return on Investment. Abstrak. Febris merupakan suatu kondisi peningkatan suhu tubuh yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik oleh virus maupun mikroba. Produksi zat penyebabnya berasal dari luar tubuh yang dikenal sebagai pirogen Zat ini dapat merangsang komponen sistem kekebalan tubuh, khususnya pelepasan mediator inflamasi, sehingga memicu peningkatan suhu tubuh yang signifikan. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2020, jumlah kasus febris di seluruh dunia diperkirakan mencapai 11Ae20 juta orang setiap tahunnya, dengan perkiraan angka kematian antara 128. 000 hingga 161. 000 orang setiap tahun (Meirita et al. , 2. Angka tersebut menunjukkan bahwa febris bukanlah masalah kesehatan yang sepele, melainkan isu global yang membutuhkan perhatian serius. Prevalensi febris di dunia diperkirakan mencapai 4Ae5% dari jumlah penduduk di wilayah Amerika Serikat. Amerika Selatan, dan Eropa Barat. Sementara itu, angka kejadian febris di Asia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah lain. Misalnya, di Jepang dilaporkan kejadian febris antara 6Ae9%, di India mencapai 5Ae10%, dan di Guam bahkan sebesar 14% (Ulum et al. , 2. Data ini menunjukkan variasi angka kejadian febris antarnegara dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sistem kesehatan, serta kebijakan pencegahan Dengan demikian, pemahaman mengenai penyebab, mekanisme, serta distribusi kasus febris menjadi hal penting untuk strategi penanggulangan. Kata Kunci: Kinerja Keuangan. PT PLN (Perser. Rasio Kas. Rasio Lancar. Pengembalian atas Investasi. Naskah Masuk: 07 Agustus 2025. Revisi: 30 Agustus 2025. Diterima: 21 September 2025. Tersedia: 25 September 2025 Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 PENDAHULUAN Di era globalisasi, kemampuan suatu perusahaan dalam bersaing sangat dipengaruhi oleh kinerja internalnya. Kinerja keuangan yang baik menjadi faktor penting agar perusahaan dapat bertahan dan memberikan kontribusi optimal, sedangkan kinerja yang buruk justru dapat menimbulkan beban bagi pemilik maupun negara. Laporan keuangan sebagai sumber utama informasi mengenai posisi dan kinerja perusahaan perlu dianalisis secara mendalam dengan metode yang tepat agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang akurat. Perusahaan Listrik Negara (Perser. BUMN ketenagalistrikan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, tidak hanya sebagai penyedia listrik tetapi juga sebagai penyumbang pendapatan negara non-pajak. Oleh karena itu, penilaian kinerja keuangan PLN sangat penting, baik bagi manajemen internal, pemerintah, maupun investor. Evaluasi kinerja keuangan BUMN ini didasarkan pada Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-100/MBU/2002 yang menekankan pada aspek keuangan, dengan indikator meliputi aset, kewajiban, laba, serta rasio pertumbuhan. Tabel 1. Laporan Kinerja Keuangan PT. PLN Periode 2020-2024. Tahun Aktiva Lancar Liabilitas (Utan. Total Pendapatan Laba Setelah Pajak Sumber: Laporan Keuangan PT. PLN (Perser. 2020-2024 Berdasarkan data keuangan 2020Ae2024. PT PLN (Perser. menunjukkan tren peningkatan pada total pendapatan dan modal, meskipun aktiva lancar, utang, dan laba berjalan mengalami fluktuasi. Penurunan aktiva lancar pada 2021 terjadi akibat pembayaran kewajiban jangka pendek dan kebijakan efisiensi aset selama pandemi COVID-19, namun kembali meningkat pada 2022Ae2024 seiring pemulihan keuangan. Pada sisi liabilitas, penurunan utang pada 2021 dipicu restrukturisasi kewajiban, lalu meningkat kembali akibat kebutuhan pendanaan proyek strategis dan transisi energi. Sementara itu, laba tahun berjalan sempat menurun pada 2024 karena meningkatnya beban operasional, biaya investasi transisi energi, serta fluktuasi harga energi primer. Fenomena tersebut mencerminkan bahwa pandemi COVID-19 memberi tekanan besar pada kinerja keuangan PLN, sementara pasca pandemi perusahaan menghadapi tantangan transisi energi menuju Net Zero Emissions 2060. Kebijakan ini menuntut investasi besar dalam energi terbarukan, digitalisasi, serta efisiensi pengelolaan keuangan. Sebagai penyedia listrik nasional sekaligus BUMN strategis, kinerja keuangan PLN tidak hanya menentukan keberlanjutan operasional perusahaan, tetapi juga berdampak langsung pada penerimaan negara non-pajak dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. LANDASAN TEORI Manajemen Keuangan Menurut Hasan . , manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk memperoleh modal yang semurah-murahnya dan menggunakan secara efektif, efisien, dan seproduktif mungkin untuk menghasilkan laba. Mendefinisikan manajemen keuangan sebagai salah satu bidang manajemen fungsional yang menerapka nilai prinsip-prinsip keuangan dalam pengambilan keputusan investasi jangka panjang hingga pengelolaan modal kerja perusahaan dalam investasi maupun pendanaan jangka pendek. Laporan Keuangan Menurut Kasmir . 9: . , laporan keuangan merupakan dokumen yang menggambarkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam periode tertentu. Laporan ini memiliki berbagai manfaat yang dapat digunakan oleh beragam pihak sesuai dengan kebutuhan mereka. Sementara itu. Menurut Jumingan . AuLaporan keuangan adalah hasil tindakan pembuatan ringkasan data keuangan perusahaanAy. Rasio Keuangan Menurut Jumingan . 9: . mendefinisikan rasio dalam analisis laporan keuangan merupakan angka yang menggambarkan keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lainnya dalam laporan keuangan. Hubungan tersebut disajikan dalam bentuk perhitungan matematis yang sederhana. Namun, angka rasio itu sendiri tidak memiliki makna yang signifikan jika berdiri sendiri. Kinerja Keuangan Menurut Fidhayatin, dalam Sari ( 2. Kinerja perusahaan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mengukur keberhasilan suatu perusahaan. Kinerja perusahaan pengukuran atas prestasi perusahaan yang timbul akibat proses pengambilan keputusan manajemen, karena memiliki hubungan efektifitas pemanfaatan modal, efisiensi dan rentabilitas dari kegiatan kinerja. Sedangkan menurut Jumingan . kinerja keuangan juga dapat diartikan sebagai gambaran kondisi keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu yang menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas. Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Indikator penilaian aspek keuangan menurut Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 yaitu sebagai berikut: Tabel 2. Indikator Penilaian Aspek Keuangan. Indikator Imbalan kepada pemegang saham (ROE) Imbalan investasi (ROI) Rasio Kas Rasio Lancar Collection Periods Perputaran Persediaan Perputaran Total Aset Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Aktiva Total Bobot Bobot Sumber: Kep-Men BUMN Nomor: Kep-100 MBU/2002. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. periode 2020-2024. Sampel penelitian merupakan bagian dari populasi tersebut, yaitu laporan posisi keuangan . , laporan laba rugi, laporan arus kas, laporan perubahan ekuitas dan catatan atas laporan keuangan. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan https://w. id/ serta sumber terpercaya lainnya. Analisis data dilakukan dalam analisis deskriptif menggunakan rasio keuangan untuk menilai kinerja dan tingkat kesehatan perusahaan. Rasio keuangan yang terdapat dalam surat keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 yaitu. Return On Invesment. Return On Equity. Cash Ratio. Current Ratio. Collection Periods. Perputaran Persediaan. Total Aset Turnover dan Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Aset. Penilaian keseluruhan rasio ditentukan berdasarkan bobot yang telah ditetapkan. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Return On Equity Tabel 3. Nilai Return On Equity PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Laba Setelah Pajak (R. Jumlah Modal Sendiri (R. ROE (%) 0,64% 1,34% 1,45% 2,17% 1,67% Kategori Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Sumber: Hasil Olahan Data . Berdasarkan hasil perhitungan Return on Equity (ROE) PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024, yang dapat dilihat dalam tabel menunjukkan persentase ROE yang Jika dibandingkan dengan indikator penilaian kinerja keuangan pada aspek keuangan sesuai Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002, di mana batas minimal untuk kategori AucukupAy adalah 7,5% dan AubaikAy adalah Ou15%, maka ROE PT PLN (Perser. selama periode tersebut tidak memenuhi standar minimal yang Rendahnya capaian angka ROE ini menunjukkan bahwa tingkat pengembalian modal pemegang saham masih jauh dari optimal. Hal ini disebabkan oleh tingginya beban operasional dan biaya pendanaan proyek serta terbatasnya kemampuan perusahaan dalam meningkatkan margin keuntungan. Oleh karena itu, solusi yang dapat diberikan peneliti yaitu mengoplimalisasi penggunaan bahan bakar dengan mempercepat transisi ke energi baru terbarukan (EBT) yang memiliki biaya operasional lebih rendah dalam jangka panjang serta dapat melakukan advokasi kepada pemerintah untuk menerapkan skema tarif listrik yang berkelanjutan agar PLN tetap mendapatkan margin usaha yang wajar tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat. Return On Invesment Tabel 4. Nilai Return On Invesment PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Laba Setelah Pajak (R. Total Aktiva (R. Sumber: Hasil Olahan Data . ROI (%) 0,38% 0,82% 0,88% 1,32% 1,00% Kategori Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Berdasarkan hasil perhitungan Return on Investment (ROI) PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024, terlihat bahwa tingkat pengembalian investasi perusahaan menunjukkan fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 ROI tercatat sebesar 0,38%, kemudian meningkat pada tahun 2021 menjadi 0,82%, kembali mengalami kenaikan pada tahun 2022 sebesar 0,88%, mencapai titik tertinggi pada tahun 2023 yaitu 1,32%, namun mengalami penurunan pada tahun 2024 menjadi 1,00%. Nilai ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang diinvestasikan masih tergolong rendah, di mana setiap Rp1 aset yang dimiliki hanya mampu memberikan laba bersih sekitar Rp0,01 pada tahun 2024. Jika dibandingkan dengan standar penilaian kinerja keuangan BUMN berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002, tingkat pengembalian investasi PT PLN (Perser. masih belum memenuhi kategori sehat. Hal ini disebabkan oleh besarnya beban biaya operasional dan biaya bunga utang yang cukup signifikan akibat tingginya struktur pembiayaan berbasis pinjaman. Selain itu, tingginya nilai aset tetap yang dimiliki untuk mendukung proyek infrastruktur kelistrikan belum sepenuhnya memberikan kontribusi optimal terhadap laba perusahaan. Oleh karena itu, solusi yang dapat peneliti berikan yaitu perusahaan dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset yang dimiliki agar dapat menghasilkan pendapatan yang maksimal serta mempercepat monetisasi proyek infrastruktur yang telah selesai dibangun agar segera memberikan kontribusi terhadap pendapatan. Cash Ratio Tabel 5. Nilai Cash Ratio PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Kas dan Setara Kas (R. Current Liabilities (R. Cash Ratio (%) 36,57% 25,91% 35,50% 39,05% 35,66% Kategori Sehat Cukup sehat Sehat Sehat Sehat Sumber: Hasil Olahan Data . Berdasarkan hasil perhitungan. Cash Ratio PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024 menunjukkan nilai yang fluktuatif, yaitu sebesar 36,57% pada tahun 2020, turun menjadi 25,91% pada tahun 2021, meningkat kembali menjadi 35,50% pada tahun 2022, naik menjadi 39,05% pada tahun 2023, dan sedikit menurun menjadi 35,66% pada tahun Jika dibandingkan dengan standar penilaian kinerja keuangan BUMN pada aspek likuiditas sesuai Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002, kondisi likuiditas PLN secara umum dapat dikategorikan Ausehat, meskipun pada tahun 2021 sempat melemah. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. Melemahnya rasio pada tahun 2021 dipengaruhi oleh peningkatan kewajiban lancar yang lebih tinggi dibandingkan ketersediaan kas dan setara kas, serta adanya alokasi dana yang lebih besar untuk investasi jangka panjang pada infrastruktur Hal tersebut mengurangi fleksibilitas kas yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Oleh karena itu, peneliti memberikan solusi yaitu lebih meningkatkan kinerja Cash Ratio agar lebih stabil pada level skor tertinggi. PLN perlu memperkuat manajemen likuiditas dengan cara mempercepat perputaran kas melalui penagihan piutang usaha, mengoptimalkan efisiensi pengeluaran operasional maupun mempertimbangkan restrukturisasi sebagian kewajiban jangka pendek menjadi kewajiban jangka panjang. Current Ratio Tabel 6. Nilai Current Ratio PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Aktiva Lancar (R. Utang Lancar (R. (%) 64,92% 58,63% 82,30% 91,75% 97,32% Kategori Tidak sehat Tidak sehat Tidak sehat Kurang sehat Kurang sehat Sumber: Hasil Olahan Data . Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 6, nilai Current Ratio PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024 menunjukkan tren yang cenderung meningkat meskipun masih berada di bawah standar ideal. Pada tahun 2020 nilai Current Ratio tercatat sebesar 64,92% dan pada tahun 2021 menurun menjadi 58,63%, yang keduanya termasuk dalam kategori AuTidak SehatAy. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pada dua tahun tersebut, aset lancar yang dimiliki PLN belum mampu menutupi kewajiban lancar secara Selanjutnya, pada tahun 2022 hingga 2024 terjadi peningkatan, di mana Current Ratio masing-masing sebesar 82,30%, 91,75%, dan 97,32% namun nilainya masih berada dikategori AuKurang SehatAy. Dengan demikian, meskipun terjadi tren perbaikan dari tahun ke tahun, secara keseluruhan Current Ratio PLN selama periode penelitian belum mencapai standar sehat Ou125% sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002. Rendahnya Current Ratio ini disebabkan oleh besarnya kewajiban lancar yang tidak sebanding dengan pertumbuhan aset lancar. Sebagian besar dana PLN dialokasikan untuk investasi aset tidak lancar berupa pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, sehingga kemampuan perusahaan untuk memperkuat aset lancar terbatas. Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Untuk meningkatkan kinerja likuiditas, solusi untuk perusahaan yaitu perlu meningkatkan saldo kas dan setara kas melalui optimalisasi arus kas masuk, melakukan efisiensi operasional agar laba yang ditahan lebih besar, serta mempercepat proses penagihan piutang melalui penerapan kebijakan kredit yang lebih ketat dan penggunaan sistem pembayaran berbasis teknologi. Dengan upaya tersebut, diharapkan Current Ratio PT PLN (Perser. dapat meningkat sehingga memenuhi standar tingkat kesehatan BUMN yang ditetapkan. Collection Periods Tabel 7. Nilai Collection Periods PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Piutang Usaha (R. Pendapatan Usaha (R. (Har. 12,56 14,69 11,44 11,23 14,14 Kategori Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sumber: Hasil Olahan Data . Berdasarkan Tabel 7, nilai Collection Periods PT PLN (Perser. selama periode 2020Ae2024 menunjukkan hasil yang sesuai dengan standar penilaian tingkat kesehatan BUMN berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-100/MBU/2002. Nilai CP terus meningkat mulai dari 2020 hingga 2024. Seluruh nilai tersebut berada di bawah batas maksimal (O 60 har. , yang berarti bahwa masa penagihan piutang perusahaan tergolong cepat dan kinerja manajemen piutang dapat dikategorikan AusehatAy. Efisiensi ini mengindikasikan bahwa PT PLN (Perser. mampu mengelola piutangnya dengan efektif sehingga risiko keterlambatan pembayaran oleh pelanggan relatif rendah. Perputaran Persediaan Tabel 8. Nilai Perputaran Persediaan PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Persediaan (R. Pendapatan Usaha (R. (Har. 2,97 2,82 3,97 3,66 3,69 Kategori Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Sumber: Hasil Olahan Data . Berdasarkan Tabel 8, nilai Inventory Turnover PT PLN (Perser. selama periode 2020Ae2024 menunjukkan hasil yang sangat sehat dan memenuhi standar penilaian BUMN Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP- 100/MBU/2002. Nilai Inventory Turnover yang diperoleh adalah 2,97 hari pada tahun 2020, 2,82 hari pada tahun 2021, 3,97 hari pada tahun 2022, 3,66 hari pada tahun 2023. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. dan 3,69 hari pada tahun 2024. Seluruh pencapaian tersebut berada jauh di bawah batas maksimal 60 hari, sehingga dapat disimpulkan bahwa manajemen persediaan PT PLN (Perser. sangat efisien dalam mengelola dan memanfaatkan persediaan yang dimiliki. Hasil ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu mengoptimalkan persediaan untuk mendukung kelancaran operasional tanpa menimbulkan penumpukan aset yang tidak Untuk mempertahankan kinerja positif ini, perusahaan perlu terus melakukan pemantauan tingkat persediaan secara berkala dan mengoptimalkan rantai pasok agar pengelolaan persediaan tetap sesuai standar yang berlaku. Total Aset Turnover Tabel 9. Nilai TATO PT. PLN (Perser. Periode 2020-2024. Tahun Pendapatan Usaha Total Aktiva (R. (R. Sumber: Hasil Olahan Data . TATO (%) 21,74% 22,82% 26,92% 29,17% 30,77% Kategori Sehat Sehat Sehat Sehat Sehat Berdasarkan hasil perhitungan rasio Total Asset Turnover (TATO) PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024, terlihat adanya tren peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 nilai TATO sebesar 21,74%, kemudian naik menjadi 22,82% pada tahun Pada tahun 2022 rasio ini kembali mengalami peningkatan signifikan menjadi 26,92%, di tahun 2023 naik menjadi 29,17%, dan pada tahun 2024 mencapai 30,77%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan total asetnya untuk menghasilkan pendapatan semakin membaik, di mana setiap Rp1 aset yang dimiliki pada tahun 2024 mampu menghasilkan Rp0,31 pendapatan usaha. Jika mengacu pada Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002, rasio aktivitas seperti Total Asset Turnover yang semakin meningkat mengindikasikan tingkat efisiensi yang lebih baik dalam pemanfaatan aset perusahaan. Namun demikian, meskipun terjadi tren positif, nilai TATO PT. PLN (Perser. masih tergolong rendah dibandingkan standar ideal perusahaan dengan intensitas aset tinggi. Hal ini disebabkan karena besarnya investasi aset tetap yang dimiliki PLN dalam bentuk infrastruktur kelistrikan yang membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan pendapatan secara Selain itu, adanya beban subsidi dan pengendalian tarif listrik oleh pemerintah juga mempengaruhi kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan pendapatan dari aset yang dimiliki. Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Oleh karena itu, solusi yang dapat diberikan oleh peneliti yaitu PLN perlu mengoptimalkan pemanfaatan aset yang ada melalui peningkatan efisiensi operasional dan pemeliharaan aset agar utilisasi infrastruktur kelistrikan lebih maksimal. Selain itu, percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis dan diversifikasi pendapatan dari sektor pendukung seperti energi baru terbarukan termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala mikro dan minihidro. Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) serta Biomassa dan Biogas. Hal ini penting dilakukan agar aset yang dimiliki dapat memberikan kontribusi pendapatan yang lebih besar dan Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aset Tabel 10. Rasio Modal Sendiri terhadap Total Aset. Tahun Modal Total Aktiva (R. (R. Sumber: Hasil Olahan Data . RMS TA (%) 59,14% 60,84% 60,52% 60,79% 59,87% Kategori Kurang sehat Kurang sehat Kurang sehat Kurang sehat Kurang sehat Berdasarkan tabel 10, hasil perhitungan rasio modal sendiri terhadap total aset (Equity to Assets Rati. PT PLN (Perser. periode 2020Ae2024, dapat diketahui bahwa nilai rasio tersebut cenderung fluktuatif. Pada tahun 2020 rasio sebesar 59,14%, meningkat pada tahun 2021 menjadi 60,84%, kemudian sedikit menurun pada tahun 2022 menjadi 60,52%, kembali mengalami kenaikan di tahun 2023 sebesar 60,79%, dan pada tahun 2024 berada pada posisi 59,87%. Kondisi ini menunjukkan bahwa sekitar 59Ae 61% pendanaan aset perusahaan berasal dari modal sendiri, sedangkan sisanya masih bergantung pada pendanaan eksternal berupa utang. Jika dibandingkan dengan standar penilaian tingkat kesehatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002, nilai rasio Equity to Assets yang ideal adalah minimal 100% agar perusahaan dinilai dalam kondisi sangat sehat. Dengan demikian, nilai rasio PT PLN (Perser. yang berada jauh di bawah 100% menunjukkan bahwa struktur permodalan perusahaan belum efisien karena ketergantungan terhadap pendanaan eksternal masih tinggi. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. Rendahnya rasio tersebut disebabkan oleh tingginya beban investasi infrastruktur kelistrikan yang membutuhkan pendanaan besar, tingginya porsi utang jangka panjang untuk mendukung proyek strategis nasional, serta keterbatasan perusahaan dalam meningkatkan modal sendiri akibat kebijakan tarif listrik yang dikendalikan pemerintah. Untuk memperbaiki kondisi tersebut, peneliti memberikan solusi kepada perusahaan agar perlu melakukan optimalisasi kinerja keuangan melalui peningkatan efisiensi operasional agar laba bersih dapat meningkat dan menambah modal sendiri serta perlu melakukan restrukturisasi utang untuk mengurangi beban liabilitas jangka panjang, serta mendorong peningkatan Penyertaan Modal Negara (PMN) guna memperkuat struktur permodalan. Tabel 11. Penilaian Kinerja Keuangan PT. PLN (Perser. Pada Tahun 2020-2024 Berdasarkan Kriteria BUMN Indikator Return On Equity Return On Invesment Cash Ratio Current Ratio Collection Periods Perputaran Persediaan Total Asset Turn Over Rasio Modal terhadap Total Aktiva Total Bobot 1,45% 0,88% 35,50% 82,30% 11,44 hari 3,97 hari 26,92% 60,52% Total Bobot 0,64% 0,38% 36,57% 64,92% 12,56 hari 2,97 hari 21,74% 59,14% 2,17% 1,32% 39,05% 91,75% 11,23 hari 3,66 hari 29,17% 60,79% Bobot Bobot 1,34% 0,82% 25,91% 58,63% 14,69 hari 2,82 hari 22,82% 60,84% Bobot 1,67% 1,00% 35,66% 97,32% 14,14 hari 3,69 hari 30,77% 59,87% Bobot Sumber: Hasil Olahan Data . Pembahasan Return On Equity Pada indikator Return On Equity pada tahun 2020 hanya memperoleh bobot 1,5 poin, yang menandakan bahwa tingkat pengembalian ekuitas perusahaan masih berada pada kategori rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih terhadap modal yang ditanamkan pemegang saham pada tahun tersebut belum optimal. Namun, pada periode 2021 hingga 2024, indikator ROE menunjukkan kinerja yang jauh lebih baik dengan memperoleh bobot 3 poin. Kondisi ini mencerminkan bahwa PLN berhasil meningkatkan efektivitas penggunaan modal sendiri dalam menghasilkan laba, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi pemegang saham serta menunjukkan peningkatan kinerja keuangan secara keseluruhan. Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Return On Invesment Pada indikator Return On Invesment pada tahun 2020 hingga 2022 memperoleh bobot 0 poin, yang menunjukkan bahwa tingkat pengembalian investasi perusahaan masih sangat rendah dan belum memenuhi standar penilaian KEP-100/MBU/2002. Kondisi ini mencerminkan kurang optimalnya kemampuan aset perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tersebut. Namun, pada tahun 2023 dan 2024 menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dengan memperoleh bobot 2 poin. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan kinerja keuangan dalam hal pemanfaatan aset untuk menghasilkan keuntungan, sekaligus menunjukkan arah positif terhadap efektivitas pengelolaan investasi perusahaan. Cash Ratio Pada indikator Cash Ratio pada tahun 2020 memperoleh bobot 3 poin atau berada pada posisi tertinggi dalam indikator penilaian. Namun pada tahun 2021 bobot tersebut mengalami penurunan menjadi 2,5 poin, yang disebabkan oleh menurunnya nilai kas dan setara kas sehingga kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek dengan kas yang tersedia menjadi lebih rendah. Meskipun demikian, pada tahun 2022 hingga 2024 Cash Ratio kembali menunjukkan kinerja yang baik dengan memperoleh bobot tertinggi yaitu 3 poin. Peningkatan ini dipengaruhi oleh bertambahnya nilai kas dan setara kas perusahaan, sehingga likuiditas jangka pendek PLN dapat terjaga dengan lebih optimal sesuai indikator penilaian KEP-100/MBU/2002. Current Ratio Pada indikator Current Ratio PT PLN (Perser. pada periode 2020Ae2022 memperoleh bobot 0 poin, yang menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya masih jauh dari standar sehat sesuai KEP100/MBU/2002. Kondisi ini mengindikasikan tingkat likuiditas yang rendah, sehingga perusahaan kurang efisien dalam mengelola aset lancar terhadap liabilitas jangka pendek. Namun pada tahun 2023 bobot meningkat menjadi 1 poin, dan kembali naik menjadi 1,5 poin pada tahun 2024. Peningkatan ini mencerminkan adanya perbaikan bertahap dalam kemampuan likuiditas perusahaan, meskipun nilainya masih belum mencapai kategori sehat sepenuhnya. Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. Collection Period Pada indikator Collection Period mengukur seberapa cepat perusahaan mampu menagih piutang dari pelanggan. Berdasarkan hasil perhitungan. PT PLN (Perser. selama periode 2020Ae2024 berada pada kisaran 11Ae15 hari, sehingga termasuk kategori sangat baik karena jauh di bawah standar maksimal 60 hari yang ditetapkan dalam KEP100/MBU/2002. Oleh karena itu, bobot yang diperoleh relatif stabil, yaitu 1,6 poin setiap Hal ini mencerminkan bahwa kemampuan PLN dalam mengelola piutang pelanggan cukup efektif, tidak ada hambatan berarti dalam proses penagihan, dan mendukung likuiditas perusahaan. Perputaran Persediaan Pada indikator Perputaran Persediaan tahun 2020-2024 nilai yang relatif konsisten dengan bobot 0,4 dan 0,8 poin yang berada pada titik bawah yang dimana bobot tersebut di bawah standar maksimal 60 hari sesuai dengan indikator kesehatan BUMN berdasarkan Keputusan Menteri BUMN Nomor KEP-100/MBU/2002. Pada tahun 2024 perputaran persediaan tercatat sebesar 3,69 hari. Jika dibandingkan dengan standar penilaian, nilai tersebut masih jauh lebih rendah dari 60 hari, yang berarti perusahaan mampu mengelola persediaan secara sangat efisien. Tingginya perputaran persediaan ini menunjukkan bahwa barang atau aset persediaan PLN relatif cepat berputar dan tidak terlalu lama tersimpan di gudang, sehingga modal kerja yang tertanam dalam persediaan dapat segera kembali menjadi kas. Total Asset Turnover Pada indikator Total Asset Turnover tahun 2020Ae2024 memperoleh bobot 4 poin setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan total aset untuk menghasilkan penjualan cukup optimal jika dibandingkan dengan standar penilaian KEP-100/MBU/2002. Tingginya bobot TATO tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan memadai dalam mengoptimalkan asetnya, meskipun perlu peningkatan lebih lanjut agar kinerja aktivitas semakin sehat. Upaya perbaikan dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas aset, memperluas diversifikasi sumber pendapatan, serta menjaga keseimbangan investasi dan utilitas aset agar rasio TATO mendekati standar sehat. Analisis Kinerja Keuangan PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. Periode 2020-2024 Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Aset Pada Indikator Rasio Modal Sendiri Terhadap Total Aktiva tahun 2020Ae2024 menunjukkan perolehan bobot yang relatif stabil. Pada tahun 2020 dan 2024 perusahaan berhasil memperoleh bobot maksimal yaitu 5 poin, sedangkan pada tahun 2021 hingga 2023 bobot yang diperoleh sedikit menurun menjadi 4,5 poin. Hal ini mencerminkan bahwa proporsi modal sendiri terhadap total aset yang dimiliki perusahaan tetap berada pada kategori sehat sesuai standar KEP-100/MBU/2002, meskipun sempat mengalami sedikit penurunan di tengah periode. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur permodalan perusahaan masih cukup kuat dan mampu menjaga tingkat kemandirian keuangan perusahaan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka kesimpulan yang dapat diambil mengenai perkembangan kinerja keuangan di PT Perusahaan Listrik Negara (Perser. periode 2020Ae2024 menggunakan indikator rasio keuangan sesuai dengan kriteria penilaian tingkat kesehatan BUMN dalam Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002. Pada rasio profitabilitas yang diukur dengan ROE dan ROI menunjukkan nilai yang masih rendah. ROE hanya berada di kisaran 0,642,17% dan ROI di kisaran 0,381,32%, jauh di bawah standar penilaian Hal ini menandakan bahwa kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba baik dari modal sendiri maupun aset yang dimiliki belum optimal. Pada rasio likuiditas yang diukur dengan Cash Ratio tergolong cukup baik, dengan nilai fluktuatif tetapi masih berada pada batas standar sehat. Namun. Current Ratio masih jauh di bawah standar Ou125%, sehingga menunjukkan bahwa aset lancar PLN belum cukup kuat untuk menutup kewajiban lancar. Pada rasio Aktivitas yang diukur dengan Collection Periods. Perputaran Persediaan, dan Total Asset Turnover menunjukkan hasil yang bervariasi. Colection Periods dan Perputaran Persediaan berada dalam kategori sehat karena nilai yang diperoleh jauh dibawah batas maksimal, menandakan efisiensi pengelolaan piutang dan persediaan. Adapun rasio TATO tersebut mengindikasikan bahwa perusahaan masih memiliki kemampuan memadai dalam mengoptimalkan asetnya, meskipun perlu peningkatan lebih lanjut agar kinerja aktivitas semakin sehat. Pada rasio solvabilitas, khususnya pada rasio modal sendiri terhadap total aset, menunjukkan struktur permodalan yang relatif stabil di kisaran 5961%. Hal ini mencerminkan bahwa meskipun perusahaan memiliki ketergantungan terhadap pendanaan Jurnal Manajemen Bisnis Kewirausahaan Ae Volume 4. Nomor 3. Desember 2025 e-ISSN: 2829-2502. p-ISSN: 2829-260X. Hal. eksternal, kekuatan modal sendiri masih cukup baik untuk mendukung pendanaan aset. Secara total bobot penilaian kinerja keuangan. PT. Perusahaan Listrik Negara (Perser. memperoleh bobot 12,5Ae17,9 selama periode 2020Ae2024. Bobot ini masih jauh di bawah standar sehat . , sehingga kinerja keuangan PLN dapat dikategorikan Autidak sehatAy menurut standar KEP-100/MBU/2002. Saran