https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 DOI: https://doi. org/10. 38035/jihhp. https://creativecommons. org/licenses/by/4. Peran Media Sosial Sebagai Wadah Partisipasi Politik Masa Kini di Kalangan Generasi Z (Studi Kasus : Akun Media Sosial PUSPENPOL) Yoana Lestonac Elita Wumbu. Indah Adi Putri. Doni Hendrik Universitas Andalas. Sumatera barat. Indonesia, yoanalestonacelita@gmail. Universitas Andalas. Sumatera barat. Indonesia, indahadiputri@gmail. Universitas Andalas. Sumatera barat. Indonesia, donihendrik@gmail. Corresponding Author: yoanalestonacelita@gmail. Abstract: The development of digital technology and the massive use of social media have revolutionized the way society especially Generation Z understands and engages in political Generation Z, who are digitally native, tend to be more active in accessing, sharing, and responding to political information through social media platforms. This study aims to examine the role of social media as a platform for contemporary political participation, focusing on the official social media account of the Center for Political Information (Puspenpo. Using a qualitative approach and case study method, data were collected through content observation, narrative interviews with Gen Z users, and expert triangulation. The findings show that the Puspenpol account actively disseminates political information using visual, interactive, and communicative strategies, effectively attracting attention and encouraging digital political participation among Gen Z such as commenting, reacting, and sharing content. Although most participation remains symbolic and has not yet fully transformed into substantive political action, the account has successfully opened new channels of dialogue between the state and younger citizens. This study affirms the importance of optimizing institutional social media as a strategic tool to improve political literacy, expand information reach, and strengthen the role of youth in todayAos digital democracy. Keyword: Generation Z, political participation, social media. Puspenpol, digital political Abstrak: Perkembangan teknologi digital dan penggunaan media sosial yang masif telah merevolusi cara masyarakat, terutama Generasi Z, memahami dan berpartisipasi dalam proses Generasi Z, yang merupakan generasi digital native, cenderung lebih aktif dalam mengakses, berbagi, dan merespons informasi politik melalui platform media sosial. Studi ini bertujuan untuk mengkaji peran media sosial sebagai platform partisipasi politik kontemporer, dengan fokus pada akun media sosial resmi Pusat Informasi Politik (Puspenpo. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi konten, wawancara naratif dengan pengguna Generasi Z, dan triangulasi ahli. Temuan menunjukkan bahwa akun Puspenpol secara aktif menyebarkan informasi politik menggunakan strategi 521 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 visual, interaktif, dan komunikatif, yang efektif menarik perhatian dan mendorong partisipasi politik digital di kalangan Generasi Z, seperti berkomentar, bereaksi, dan membagikan konten. Meskipun sebagian besar partisipasi masih bersifat simbolis dan belum sepenuhnya berubah menjadi tindakan politik yang substansial, akun tersebut berhasil membuka saluran dialog baru antara negara dan warga muda. Studi ini menegaskan pentingnya mengoptimalkan media sosial institusional sebagai alat strategis untuk meningkatkan literasi politik, memperluas jangkauan informasi, dan memperkuat peran pemuda dalam demokrasi digital saat ini. Kata kunci: Generasi Z, partisipasi politik, media sosial. Puspenpol, komunikasi politik PENDAHULUAN Perkembangan teknologi informasi yang pesat telah mengubah cara masyarakat berinteraksi, termasuk dalam hal komunikasi dan partisipasi politik. Media sosial, sebagai produk utama dari era digital, kini menjadi ruang publik baru yang memungkinkan masyarakat, terutama Generasi Z, untuk terlibat aktif dalam wacana politik tanpa harus berada dalam struktur formal atau organisasi politik tradisional (McQuail, 2011. Utoyo, 2. Generasi Z dikenal sebagai digital native, yaitu kelompok yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan kemajuan teknologi, sehingga sangat akrab dengan platform-platform digital seperti Instagram. TikTok, dan X/Twitter (BPS, 2. Keakraban ini menjadikan media sosial sebagai ruang yang potensial dalam membentuk kesadaran politik serta mendorong partisipasi mereka dalam isu-isu publik. Fenomena meningkatnya keterlibatan politik Generasi Z melalui media sosial menunjukkan adanya pergeseran dari bentuk partisipasi politik konvensional menuju partisipasi politik digital (Nugroho, 2012. Suhariyanto & Rozak, 2. Aktivitas seperti membagikan konten politik, menyukai dan mengomentari unggahan yang berkaitan dengan isu kebijakan, hingga mengikuti akun-akun institusi resmi menjadi bagian dari ekspresi politik baru yang lebih cair, interaktif, dan berbasis jaringan (Bakker & de Vreese, 2011. Firdaus, 2. Namun demikian, bentuk partisipasi ini sering kali bersifat instan, dangkal, atau reaktif, sehingga efektivitasnya dalam membangun kesadaran politik jangka panjang masih dipertanyakan (Achmad, 2024. Suryawijaya et al. , 2. Dalam konteks ini, institusi pemerintah seperti Pusat Penerangan Politik (Puspenpo. melalui akun media sosialnya berupaya memanfaatkan ruang digital untuk menyampaikan informasi politik secara edukatif, visual, dan menarik (Setiawan & Pratama, 2. Tujuan utamanya adalah menjangkau generasi muda dengan pendekatan komunikasi politik yang lebih segar dan populis (Ramadhani et al. , 2. Meski demikian, efektivitas strategi komunikasi tersebut belum banyak dikaji secara ilmiah, khususnya dalam kaitannya dengan pola partisipasi politik Generasi Z. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi pemantik keterlibatan politik anak muda, asalkan dikelola secara tepat dan relevan dengan karakteristik mereka (Ardianto & Bambang Q-Anees, 2007. Tarigan et al. , 2. Generasi Z cenderung menyukai konten yang singkat, visual, dan interaktif, serta lebih tertarik pada isuisu politik yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari (Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2023. AP News, 2. Oleh karena itu, pendekatan komunikasi politik yang digunakan oleh akun seperti Puspenpol perlu dievaluasi tidak hanya dari sisi kuantitas penyampaian informasi, tetapi juga kualitas interaksi dan dampaknya terhadap kesadaran serta tindakan politik. Penelitian ini menjadi relevan dalam rangka memahami sejauh mana media sosial dapat berperan sebagai ruang partisipasi politik yang inklusif dan bermakna bagi Generasi Z. Selain 522 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 itu, studi ini juga dapat memberikan kontribusi dalam merumuskan strategi komunikasi politik digital yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman dan karakter generasi muda Indonesia. Dengan mengambil studi kasus akun media sosial Puspenpol, kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara strategi komunikasi institusi negara dan respons partisipatif dari publik muda yang kerap dianggap apatis terhadap isu politik (Haryanto, 2. Dalam kerangka ini, media sosial tidak lagi hanya menjadi alat penyebaran informasi, tetapi juga ruang dialog antara negara dan warga negara yang lebih demokratis dan partisipatif. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus instrumental, yakni studi yang menggunakan objek . kun media sosial Puspenpo. sebagai sarana untuk memahami fenomena yang lebih luas, yaitu dinamika partisipasi politik digital di kalangan Generasi Z (Stake, 1995 dalam Creswell, 2. Pendekatan ini dipilih untuk mengeksplorasi secara mendalam makna subjektif, pengalaman, dan pola interaksi generasi muda dalam merespons konten politik yang disajikan oleh institusi pemerintah di platform Jenis penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan fokus pada strategi komunikasi yang dilakukan oleh akun Puspenpol dan respons audiens Generasi Z terhadap konten yang ditampilkan selama masa Pemilihan Presiden 2024, yang dianggap sebagai momen krusial dalam lanskap politik digital Indonesia (Achmad, 2024. Ramadhani et al. , 2. Objek penelitian adalah akun resmi Pusat Penerangan Politik (Puspenpo. di platform Instagram dan TikTok, yang dipilih karena merupakan dua media sosial yang paling banyak digunakan oleh Generasi Z untuk mengakses dan menyebarkan informasi politik (BPS, 2023. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, 2. Lokasi penelitian dilakukan secara daring . dengan periode pengumpulan data selama enam bulan, yakni menjelang dan selama Pemilihan Presiden 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tiga metode utama: Observasi daring . terhadap aktivitas akun Puspenpol, mencakup analisis unggahan konten, pola interaksi publik, dan frekuensi keterlibatan audiens (Firdaus, 2. Wawancara mendalam terhadap 8Ae10 orang responden Generasi Z berusia 19Ae25 tahun yang dipilih secara purposif berdasarkan kriteria intensitas penggunaan media sosial dan keterlibatan dalam isu politik digital (Suhariyanto & Rozak, 2. Dokumentasi digital, seperti tangkapan layar unggahan, komentar, serta data statistik keterlibatan . yang tersedia secara publik. Untuk menganalisis data, penelitian ini menggunakan teknik analisis tematik yang dikembangkan oleh Braun dan Clarke . Teknik ini terdiri atas enam tahapan yang sistematis, dimulai dari proses familiarisasi dengan data, yang melibatkan pembacaan dan pemahaman mendalam terhadap data yang telah dikumpulkan. Tahap selanjutnya adalah pengkodean awal, di mana peneliti mulai mengidentifikasi dan menandai elemen-elemen penting dalam data. Setelah itu, dilakukan pencarian tema dengan mengelompokkan kode-kode yang serupa ke dalam kategori yang lebih luas. Tahap berikutnya adalah peninjauan tema untuk memastikan bahwa tema-tema yang dihasilkan relevan dan saling mendukung. Kemudian dilakukan pendefinisian dan penamaan tema, yang bertujuan untuk memberikan makna yang jelas dan spesifik terhadap setiap tema yang telah ditentukan. Tahap terakhir adalah penyusunan laporan, di mana seluruh temuan disusun secara sistematis untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai hasil analisis. Teknik ini dipilih karena mampu mengidentifikasi pola naratif, bentuk keterlibatan, dan konstruksi makna politik yang muncul dari interaksi antara akun Puspenpol dan audiens Generasi Z. 523 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 Untuk menjamin validitas dan reliabilitas data, peneliti menggunakan strategi triangulasi sumber dan metode dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi (Patton, 1. Selain itu, peneliti juga menerapkan teknik member checking, yakni konfirmasi hasil wawancara kepada responden untuk menghindari kesalahan interpretasi, serta peer debriefing dengan pembimbing dan rekan sejawat untuk menurunkan bias peneliti (Creswell & Poth, 2. Secara keseluruhan, metode yang digunakan dalam penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan temuan deskriptif, tetapi juga analitis dan reflektif, sehingga dapat memberikan kontribusi teoritis dalam pengembangan literatur komunikasi politik digital dan kontribusi praktis dalam strategi komunikasi institusi publik terhadap generasi muda di era media sosial. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun media sosial Pusat Penerangan Politik (Puspenpo. , khususnya di platform TikTok dan Instagram, telah bertransformasi menjadi sarana penting dalam menjangkau dan melibatkan Generasi Z dalam diskursus politik. Selama periode Pemilu 2024, akun ini secara aktif memproduksi berbagai konten visual yang informatif, interaktif, dan menarik secara estetika, mulai dari video edukatif, meme politik, hingga liputan langsung aktivitas kepemiluan. Konten-konten tersebut tidak hanya hadir sebagai informasi satu arah, tetapi juga sebagai sarana interaksi dan partisipasi digital. Berdasarkan hasil observasi digital, ditemukan bahwa akun TikTok Puspenpol memanfaatkan tren audio, filter, dan format video yang sesuai dengan kebiasaan Generasi Z dalam mengonsumsi informasi. Narasi yang digunakan dalam konten juga mengandung bahasa yang ringan, inklusif, dan tidak kaku, membuat pesan politik terasa lebih membumi dan tidak Konten-konten seperti AuCek FaktaAy. AuMitos vs Fakta PemiluAy, serta ajakan untuk memeriksa DPT (Daftar Pemilih Teta. merupakan contoh keberhasilan strategi edukatif berbasis media sosial. Wawancara mendalam terhadap sejumlah informan Gen Z yang menjadi pengikut akun tersebut mengungkapkan bahwa kehadiran akun Puspenpol membantu mereka merasa lebih dekat dan paham terhadap proses politik, terutama terkait pemilu dan fungsi partai politik. Salah satu responden menyatakan: AuKalau dari Puspenpol itu kontennya singkat tapi padat. Jadi bisa ngerti tanpa harus baca panjang-panjang. Dan aku share juga ke temen. Ay Temuan ini menunjukkan bahwa bentuk komunikasi yang singkat, visual, dan berbasis narasi populer ternyata lebih mudah diterima dan dikonsumsi oleh generasi digital-native. Meski demikian, partisipasi yang muncul dari audiens Gen Z cenderung bersifat simbolik dan ekspresif, bukan partisipasi substantif seperti keterlibatan dalam diskusi mendalam atau kegiatan politik offline. Mereka lebih banyak menunjukkan dukungan melalui like, komentar, share, dan penggunaan ulang konten . tanpa secara aktif terlibat dalam aksi nyata politik. Namun demikian, keterlibatan simbolik ini tetap penting karena menjadi gerbang awal menuju kesadaran politik yang lebih matang. Selain itu, akun Puspenpol juga memanfaatkan fitur interaktif seperti polling Instagram, sesi tanya jawab, dan siaran langsung . yang dimanfaatkan untuk menjawab pertanyaan seputar pemilu, tugas partai politik, dan hak politik warga negara. Interaktivitas ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan digital terhadap institusi pemerintah, terutama di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap institusi formal politik. Interaksi dua arah yang terjadi dalam akun ini menjadi bentuk komunikasi politik yang lebih setara dan Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan. Salah satunya adalah algoritma media sosial yang sering kali justru mempersempit jangkauan pesan kepada kelompok audiens yang sudah tertarik pada isu politik, sehingga sulit untuk menjangkau kelompok Gen Z yang apatis atau tidak tertarik pada isu politik sama sekali. Selain itu, ada persepsi skeptis di kalangan sebagian audiens bahwa akun seperti Puspenpol hanya 524 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 menyampaikan informasi formal dan tidak cukup kritis atau netral terhadap aktor politik Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media sosial, melalui akun-akun resmi seperti Puspenpol, dapat menjadi medium efektif untuk membentuk partisipasi politik awal di kalangan generasi muda. Namun, efektivitas ini perlu didukung dengan strategi komunikasi yang lebih terbuka, kolaboratif, dan menjawab kebutuhan serta karakteristik Gen Z yang menginginkan keterlibatan dua arah, konten yang autentik, serta ruang untuk menyuarakan opini mereka secara bebas. KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana peran media sosial sebagai wadah partisipasi politik generasi Z, dengan mengambil studi kasus pada akun media sosial Pusat Penerangan Politik (Puspenpo. Berdasarkan hasil temuan dari observasi konten, wawancara naratif dengan pengguna Gen Z, serta analisis interaktivitas di media sosial, dapat disimpulkan bahwa media sosial dalam hal ini akun TikTok dan Instagram Puspenpol telah menjadi instrumen penting dalam menjembatani komunikasi politik antara institusi formal negara dan generasi muda. Akun Puspenpol secara aktif menghadirkan konten yang dikemas secara kreatif, ringan, dan mudah dicerna oleh generasi Z. Bahasa yang digunakan bersifat inklusif, naratif, dan memanfaatkan elemen-elemen khas budaya digital seperti audio viral, tren visual, serta gaya penyampaian populer yang menghindari gaya formal institusional. Hal ini membuat pesan-pesan politik yang selama ini dianggap berat dan kaku, menjadi lebih ramah dan menarik perhatian kalangan muda. Dengan demikian. Puspenpol berhasil mengubah media sosial dari sekadar ruang hiburan menjadi ruang edukasi politik yang informatif dan komunikatif. Partisipasi politik yang tampak dalam ruang digital ini sebagian besar bersifat simbolik dan ekspresif. Gen Z menunjukkan keterlibatannya melalui aksi-aksi seperti menyukai . , membagikan . , memberikan komentar, mengikuti polling, serta menghadiri siaran langsung . Meski belum sepenuhnya mengarah pada partisipasi politik substantif seperti advokasi isu, pengorganisasian komunitas politik, atau keterlibatan dalam proses pengambilan kebijakan, keterlibatan ini tetap menjadi fondasi awal bagi tumbuhnya kesadaran politik yang lebih matang. Lebih lanjut, akun Puspenpol juga memperlihatkan kemampuan dalam menciptakan ruang komunikasi dua arah yang memberi kesempatan bagi Gen Z untuk bertanya, menanggapi, hingga mengkritisi informasi yang disampaikan. Hal ini mencerminkan adanya pola komunikasi politik baru yang bersifat horizontal, dialogis, dan kolaboratif, berbeda dari pola-pola komunikasi politik lama yang cenderung top-down dan monologis. Di sinilah letak pentingnya media sosial sebagai medium demokratis yang membuka akses terhadap informasi, partisipasi, bahkan pengawasan publik. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan jangkauan konten akibat algoritma media sosial yang cenderung memperkuat filter bubble atau echo chamber, sehingga hanya menjangkau pengguna yang sudah memiliki ketertarikan terhadap isu politik. Selain itu, masih ada sebagian pengguna yang memandang akun pemerintah seperti Puspenpol dengan skeptis, terutama terkait independensi dan netralitasnya dalam menyampaikan informasi politik. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki potensi besar sebagai wadah partisipasi politik masa kini, khususnya bagi generasi Z yang akrab dengan teknologi dan budaya digital. Studi kasus akun Puspenpol membuktikan bahwa institusi formal dapat memanfaatkan media sosial sebagai saluran komunikasi politik yang efektif, asalkan mampu beradaptasi dengan gaya komunikasi generasi muda dan membuka ruang dialog yang setara. Oleh karena itu, ke depan, perlu dikembangkan strategi komunikasi politik digital yang lebih inklusif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika sosial-politik yang berkembang di masyarakat digital. 525 | P a g e https://dinastirev. org/JIHHP. Vol. No. 1, 2025 REFERENSI