PERAN PEMERINTAH DAERAH DAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PELESTARIAN BUDAYA BATIK BANYUWANGI Ikhwanul Qiram1. Gatut Rubiono2 Universitas PGRI Banyuwangi ikhwanulqiram@gmail. com 1, g. rubionov@gmail. ABSTRAK Batik merupakan warisan budaya yang dikagumi dunia dan memiliki potensi daya tarik wisata. Warisan budaya ini memerlukan upaya pelestarian agar dapat dikembangkan oleh generasi berikutnya. Banyak upaya pelestarian telah dilakukan di daerah-daerah penghasil Upaya ini membutuhkan peran serta aktif pihak pemerintah daerah dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran pemerintah dan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya batik Banyuwangi. Deskripsi pelestarian batik, khususnya motif Gajah Oling, dilakukan dengan wawancara terhadap pemerintah daerah, pengrajin batik dan masyarakat umum. Selain itu dilakukan identifikasi aplikasi motif batik dalam aktivitas masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah dan masyarakat Banyuwangi telah berperan aktif dalam upaya pelestarian batik yang terlihat dari aplikasi batik sebagai pakaian maupun atribut atau aksesoris di lingkungan sekitar. Kata kunci: Batik Banyuwangi, pelestarian, peranan, pemerintah daerah, masyarakat PENDAHULUAN Batik mempunyai padanan yang terdiri dari kata AubaAy dengan awalan AuamAy dan kata AutikAy, sehingga kalau digabung menjadi AuambatikAy yang mempunyai arti membuat titik. Batik terbentuk diawali dengan titik, tersambung menjadi garis yang selanjutnya berkembang menjadi sebuah bentuk. Konsepsi ini hadir pada proses pembuatan batik dan selanjutnya kata batik tidak dipersoalkan lagi karena sudah merupakan nama baku (Mulaab, 2. Simbol dalam batik yang merepresentasikan suatu identitas merupakan salah satu bentuk komunikasi non verbal yang dilakukan oleh manusia. Konsep batik sebagai pakaian yang dapat menjadi alat komunikasi sebenarnya telah dilakukan sejak lama oleh masyarakat Jawa. Batik dikenakan untuk menjadi suatu pertanda akan identitas kultural seseorang. Identitas kultural ini antara lain budaya, kelas sosial, dan identitas diri (Darmaputri L). Budaya lokal adalah salah satu warisan budaya yang merefleksikan identitas suatu kota. Upaya pelestarian diperlukan untuk melindungi warisan sejarah sehingga generasi yang akan datang masih dapat menyaksikan sejarah perkembangan kotanya (Widanirmala M. Khadiyanto P, 2. Batik merupakan salah satu kreasi atau kesenian yang sudah lama ada dan menjadi salah satu warisan bangsa Indonesia. Hasil kreasi anak bangsa Indonesia yang sudah turun temurun ini merupakan salah satu harta warisan yang berharga dan sudah sepatutnya dijaga serta Batik Indonesia, menyimpan konsep artistik serta tidak dibuat sematamata pelestarian (Komaro N. Lutfiati D, 2. Batik adalah salah satu bentuk karya seni bangsa Indonesia yang dikagumi oleh dunia karena keunikan ragam dan corak atau motifnya (Suryanti, 2013. Ridwan MA, 2. Sesuai dengan perkembangan zaman, batik menjadi busana modern yang eksotis dengan motif yang unik dan beragam sehingga dapat diterima masyarakat Indonesia dan mancanegara (Ridwan MA, 2. Batik telah diakui UNESCO pada 2 Oktober 2009 sebagai AuWarisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non BendawiAy (Handini YD & Sisbintari I, 2. Adanya pengakuan ini telah memotivasi beberapa pemerintah daerah untuk melakukan upaya pelestarian (Komaro N & Lutfiati D, 2. Batik merupakan mata budaya yang . erpotensi komodita. , baik dalam pasar lokal, nasional maupun Selaras dengan fakta empirik tersebut. UNESCO mengharapkan agar batik benar-benar beredar dalam pasar Sementara itu di sisi lain, berdasarkan data (UNESCO, tahun 2. di seluruh dunia ini setidaknya terdapat 15 negara yang memiliki tradisi proses rintang warna. Proses tersebut di Indonesia disempurnakan dengan penggunaan malam dan kemudian dinamakan sebagai batik (Zulaekah S, 2. Pengukuhan batik oleh UNESCO tidak hanya merupakan sebuah kebanggaan, namun juga menjadi suatu tantangan bagi bangsa Indonesia. Keberlangsungan dan kelestarian batik sebagai warisan budaya tidak lepas dari peran para pemangku kepentingan saja, namun seluruh masyarakat Indonesia pula. Seluruh melestarikan, memelihara, dan melindungi batik sebagai warisan budaya yang berkelanjutan. Upaya memelihara kepercayaan dunia bahwa batik tidak hanya milik Indonesia, namun juga milik dunia harus terus dilestarikan dalam rangka menjaga kehormatan Untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan batik, maka pemerintah menjaga permintaan pasar dengan memberikan izin usaha yang kondusif. Tidak hanya itu, pemerintah pun mendukung penggunaan teknologi yang cocok dan menganut aspek eko-efisiensi dan prioritas yang ditetapkan dalam industri batik nasional (N. N, 2. Sebagai salah satu kekayaan bangsa, maka seni batik perlu mendapatkan perhatian untuk dilestarikan dan dikembangkan. Indonesia Keragaman ini meliputi motif, bahan baku, tipe, kualitas maupun pangsa pasar yang mampu memberi sumbangan pada pertumbuhan ekonomi serta tahan terhadap berbagai krisis baik ekonomi, sosial dan budaya. Pada era modernisasi kehidupan, batik sebagai salah satu karya seni tetap menjadi salah satu pilihan untuk berbagai kegiatan dan keperluan (Poerwanto dan Sukirno, 2. Batik merupakan produk yang tergolong sebagai industri Perkembangan ini dipicu oleh naiknya permintaan yang tidak saja di pasar domestik, namun juga pasar luar negeri. Sentra batik banyak bermunculan di berbagai wilayah Indonesia. Banyaknya sentra batik ini menunjukkan bahwa sebagai industri kreatif, batik menjadi produk unggulan Indonesia yang memiliki daya saing kuat di pasar internasional (Soekesi A. M, 2. Keberadaan batik sebagai produk unggulan ini tentu saja memerlukan upaya pengembangan dan pelestarian. Upaya pelestarian batik telah banyak diupayakan dan menjadi kajian penelitian. Upaya pelestarian dilakukan dengan cara perlindungan produk dengan pelabelan (Zulaekah S, 2. dan pendataan secara komputerisasi dengan ekstraksi fitur motif batik berbasis metode statistik tingkat tinggi (Mulaab, 2. , pengenalan motif batik menggunakan metode transformasi paket wavelet (Wardani LK & Sitindjak RHI, 2. , klasifikasi citra batik (Kasim AA & Harjoko A, 2. dan metode pengenalan pola (Padmo AAM & Murinto, 2. Penelitian juga dilakukan untuk upaya pelestarian pada penggunaan seragam sekolah dasar (Komaro N. Lutfiati D, 2. dan sekolah menengah atas (Suryanti, 2. Upaya pelestarian di dunia pendidikan atau sekolah dilakukan untuk pelaksanaan muatan lokal batik tulis Lasem pada tingkat sekolah dasar (Farid M. N, 2. , muatan lokal membatik di sekolah menengah atas (Wahyuni N. S, 2. dan media edukasi batik di sekolah menengah pertama (Yudhistira I). Respon masyarakat terhadap pelestarian batik di kampoeng batik Laweyan dikaji oleh Budiningtyas. Rr ES . Sedangkan peran pemerintah dikaji dari segi tingkat efektifitas program (Widanirmala M & Khadiyanto P, 2. , strategi promosi (Ridwan MA, 2. dan strategi pengembangan (Damayanti M & Latifah, 2. Kekuatiran akan hilangnya pusaka budaya telah mendorong sejumlah tokoh masyarakat setempat mengupayakan tindakan Akan tetapi tindakan pelestarian tidak akan berhasil tanpa peran serta masyarakat. Di sisi lain, pariwisata memiliki arti sosial ekonomi yang besar bagi masyarakat. Pengembangan suatu daerah atau kawasan menjadi tujuan wisata tidak lepas dari peran pemerintah berupa dukungan kebijakan. Peran pemerintah dalam pengembangan pariwisata, terlebih pariwisata heritage harus diimbangi keterlibatan masyarakat. Pariwisata dipandang sebagai cara yang paling tepat agar masyarakat mendapatkan keuntungan ekonomi sekaligus mempertahankan kelestarian warisan budaya (Budiningtyas. Rr ES, 2. Kabupaten Banyuwangi merupakan kota di ujung timur pulau Jawa yang mempunyai keanekaragaman budaya dan potensi wilayah yang dapat dikembangkan menjadi potensi Banyuwangi memiliki kekayaan budaya dalam bentuk batik yang termasuk jenis batik pesisiran. Batik pesisiran Banyuwangi sudah mulai dilirik oleh para wisatawan walaupun belum termasuk dalam 5 kota industri batik terbesar di Indonesia yaitu Yogyakarta. Solo. Pekalongan. Cirebon dan Madura. Motif batik Banyuwangi salah satunya yang paling terkenal yaitu motif Gajah Oling, satu dari lebih 22 motif batik Banyuwangi (Furyana SA, et al, 2. Batik Banyuwangi juga mendapatkan perhatian upaya pelestarian dari pemerintah setempat dan masyarakatnya. Potensi geografis wilayah pantai dan gunung yang kaya akan obyek wisata diiringi dengan upaya pelestarian budaya batik untuk memperkaya daya tarik wisatawan. Berdasarkan data Badan Statistik Kabupaten Banyuwangi . , pada tahun 2015 angka wisatawan domestik sebesar 540,669 orang dan wisatawan mancanegara sebesar 59,597 orang. Angka kunjungan wisatawan meningkat di tahun 2016 yaitu wisatawan domestik sebesar 551,513 orang dan wisatawan mancanegara sebesar 64,102 orang. Hal Banyuwangi meningkat dan pariwisata merupakan potensi yang layak untuk dikembangkan. Pengembangan wisata daerah berbasis budaya menunjukkan bahwa pengelolaan desa wisata terkait dengan belum optimalnya kualitas sumber daya manusia, belum optimalnya sarana dan prasarana penunjang, dan kendala dalam promosi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan kerjasama dari berbagai pihak tidak hanya peran pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masayarakat namun juga yang lebih penting adalah peran serta aktif dari masyarakat desa wisata budaya setempat (Priyanto & Safitri D, 2. Kegiatan wisata kreatif batik telah memberikan tawaran kegiatan yang lebih lengkap bagi wisatawan. Kegiatan wisata kreatif batik ini dapat memberikan pegalaman yang unik, berkesan, dan bermanfaat bagi wisatawan (Damayanti M & Latifah, 2. Batik Banyuwangi dikembangkan, baik dari aspek motif atau keragaman dari aspek estetika maupun kajian untuk mendesain motif kreasi baru, pengembangan potensi usaha atau industri kecil maupun potensi batik Banyuwangi sebagai bahan kajian penelitian. Warisan budaya batik Banyuwangi ini diiringi dengan beragamnya budaya yang lain seperti tari, musik dan kehidupan sosial etnis asli Banyuwangi. Bertitik tolak pada uraian latar belakang di atas mendeskripsikan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya batik Banyuwangi. METODE Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif. Jenis batik yang diteliti adalah motif Gajah Oling sebagai motif yang paling Banyuwangi. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara pemerintah daerah, pengrajin batik dan masyarakat secara umum maupun studi pustaka Batik Banyuwangi sebagai topik kajian di kalangan akademisi atau peneliti. Selain itu juga dilakukan identifikasi aplikasi motif batik Banyuwangi terkait dengan upaya pelestarian dan aplikasi batik dalam aktivitas masyarakat. Identifikasi peran pemerintah daerah dan masyarakat juga dilakukan dengan dokumentasi kamera pada tampilan ornamen batik dalam kehidupan sehari-hari. Deskripsi hasil penelitian selanjutnya dirujuk pada referensi-referensi hasil penelitian yang terkait dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik di daerah-daerah lain serta uraian singkat hasil-hasil penelitian batik Banyuwangi yang dilakukan kalangan peneliti dan akademisi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Kabupaten Banyuwangi Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang terletak di bagian timur Pulau Jawa. Secara astronomis, kabupaten ini terletak di antara 111o53Ao Ae 114o038Ao Bujur Timur dan 7o43AoAe 8o46Ao Lintang Selatan. Secara geografis Kabupaten Banyuwangi berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di sebelah utara. Samudera Indonesia di sebelah selatan. Kabupaten Bondowoso di sebelah barat, dan Selat Bali di sebelah Secara administratif. Kabupaten Banyuwangi terbagi menjadi 24 kecamatan dan 217 kelurahan/desa. Terdapat 751 wilayah dusun/lingkungan, 2. 839 Rukun Warga (RW) dan 10. Rukun Tetangga (RT). Gambar 1. Peta kabupaten Banyuwangi (N. N, 2016. Peran Pemerintah Daerah Industri batik Banyuwangi terus berkembang dari tahun ke Pelatihan membatik diadakan oleh pemerintah daerah yang membuahkan beberapa usaha batik baru di Temenggungan yang menjadi kampung produsen awal, seperti usaha batik Sritanjung dan Sayu Wiwit. Usaha batik ini selanjutnya berkembang pula di daerah lainnya. Permintaan akan batik Banyuwangi wisatawan yang semakin meningkat. Banyuwangi menggelar Batik Festival sejak tahun 2013 dimana festival ini menunjukkan beragam kekayaan batik lokal Banyuwangi. Batik festival ini digelar bukan hanya sebagai panggung hiburan saja, namun juga meningkatkan kualitasnya (N. Penyelenggaraan festival batik ini sesuai juga dengan yang dilakukan Kota Pekalongan dalam bentuk pameran (Damayanti M & Latifah, 2. dan pemerintah Kota Cimahi (Ridwan MA, 2. Hasil pemasaran busana batik Bantulan Yogyakarta menunjukkan dibutuhkan adalah program pameran, fashion show, leaflet, kartu nama dan pengemasan. Oleh karena itu pada penelitian ini dikembangkan juga program pameran dan fashion show. Karena pameran merupakan strategi yang mampu mendatangkan Sedangkan fashion show akan memberi kesempatan pada pengunjung khusus yang tertarik dalam bidang busana maupun batik (Wening S, et al, 2. Gambar 2. Suasana festival dan peragaan busana batik Banyuwangi (Wening S, et al, 2. Festival batik diselenggarakan sebagai rangkaian beberapa acara yang digelar bersamaan, tidak hanya sekedar peragaan busana batik saja. Festival batik merupakan wahana untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menumbuhkan geliat usaha para perajin batik. Acara diawali dengan pameran produk, khususnya batik dari sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong industri kreatif di daerah Banyuwangi dan mendorong pertumbuhan usaha di bidang batik. Selain itu juga diadakan lomba membuat motif batik, lomba mencanting batik, hingga lomba desain busana batik bagi pembatik lokal. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya menarik minat dan bakat bagi regenerasi pembatik dan upaya untuk memperkaya ragam batik lokal Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sangat mendukung akan perkembangan dari industri batik. Ada beberapa usaha yang terus dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mendorong akan perkembangan industri batik di Banyuwangi yaitu mendorong dalam hal kemampuan melakukan pengelolaan merek dagang . , pengemasan dan juga desain produknya. Upaya ini mendorong terbentuknya kelompok-kelompok usaha batik baik industri kecil dan menengah yang merupakan salah satu penopang gerak ekonomi bagi Kabupaten Banyuwangi. Data Disperindag Kabupaten Banyuwangi mencatat tahun 2011 terdapat sebanyak 131 total industri kerajinan batik yang tersebar di berbagai sentra industri kecil dan menengah (UMKM) di kelurahan/kecamatan. Dengan menyerap tenaga kerja sekitar 21 ribu orang lebih, dengan menghasilkan total nilai produksi sekitar Rp 243 miliar dalam setahun (Kiseki I, 2. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian Istiqomah N . yang menyatakan bahwa batik Banyuwangi merupakan satu peluang usaha dan upaya pengenalan budaya Banyuwangi di tingkat regional maupun internasional. Usaha batik ini sangat layak untuk Sebagai gambaran tambahan tentang potensi daerah ini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi, pada tahun 2015 tercatat jumlah industri yang bergerak di bidang tekstil sebesar 1. 368 unit. Industri di bidang pakaian jadi sebanyak 312 unit. Dua sektor industri ini menyerap tenaga kerja sebanyak 305 orang. Hasil penelitian Estiningtiyas RS, et al . menunjukkan bahwa keberadaan industri kerajinan batik Sayu Wiwit, salah satu produsen batik Banyuwangi, dapat membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar, selain meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara sosial berdampak pada semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Upaya pelestarian batik mendapat dukungan positif dari berbagai pihak. Pemerintah Banyuwangi kepada masyarakat karena kekayaan budaya dapat Banyuwangi. Produk batik bahkan ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Banyuwangi untuk menuju kota batik karena batik mempunyai banyak keunikan dan tertarik pada perkembangan batik, khususnya batik pesisiran Banyuwangi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Damayanti M dan Latifah . yang menyatakan adanya peran serta dalam bentuk kebijakan pemerintah Kota Pekalongan terkait pengembangan pariwisata kreatif berbasis industri batik. Strategi promosi dilakukan untuk dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk berkunjung ke Kota Pekolangan atau menarik warga Pekalongan untuk dapat berkunjung ke museum dan atau kampung batik. Strategi promosi diselenggarakan pada tingkat nasional maupun internasional, kegiatan museum masuk sekolah . useum goes to schoo. untuk dapat menarik siswa agar belajar batik, pembuatan leaflet dan website serta memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk wisata kreatif ini. Batik Banyuwangi telah didesain dalam beberapa pilihan tampilan produk yang kreatif. Produk diperdagangkan berupa kain berbagai motif dan warna, maupun produk pakaian jadi. Batik juga digunakan sebagai ikat kepala pria khas Banyuwangi yang unik bentuknya dan berbeda dengan ikat kepala dari daerah-daerah lain. Selain itu juga di kemasan produk terdapat logo khusus batik Banyuwangi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Zehan M . yang menyatakan bahwa inovasi produk batik Banyuwangi berdasarkan hasil riset dan fenomena yang terjadi yang paling dominan adalah inovasi desain, penciptaan produk baru berupa motif batik berawal dari ide dan Banyuwangi. Gambar 3. Logo, contoh produk kain dan pakaian jadi batik Banyuwangi (N. Peran mempromosikan batik Banyuwangi. Upaya ini tidak hanya melalui kegiatan di lingkup lokal daerah tetapi juga di lingkup lokal, nasional maupun internasional. Kegiatan internasional adalah balap sepeda Tour De Ijen, kegiatan skala nasional adalah Beach Jazz Festival, sedangkan kegiatan festival yang rutin diadakan setiap tahun, misalnya Festival Gandrung Sewu yang melibatkan seribu penari Gandrung yang merupakan tari khas Selain itu, kebijakan pemerintah daerah dalam upaya pengembangan dan pelestarian batik di Banyuwangi juga dilakukan dalam bentuk pemakaian batik khas daerah untuk seragam dinas maupun seragam siswa sekolah pada hari dan acara tertentu. Selain sehari-hari menggambarkan kebanggaan masyarakat Banyuwangi terhadap kekayaan budayanya. Ornamen ini antara lain dapat ditemukan pada: Ornamen bangunan tempat usaha. Penghias taman dan trotoar jalan. Kantor pemerintahan, sekolah, gapura pemukiman dan bangunan masyarakat. Kendaraan angkutan . , tiang lampu jalan, papan reklame, produk umum dan lain-lain. Ornamen motif Gajah Oling Gambar 4. Aplikasi ornamen Gajah Oling di kegiatan nasional dan internasional (N. Gambar 5. Aplikasi ornamen Gajah Oling di berbagai bangunan (Dokumen: Pribadi, 2. Gambar 6. Aplikasi ornamen Gajah Oling di sekolah dan tempat usaha (Dokumen: Pribadi, 2. Peran Masyarakat Peran serta masyarakat Banyuwangi dapat dilihat pada antusisme peserta festival maupun penonton. Sektor industri kecil dan menengah (IKM) yang memproduksi batik dan berbagai produk lokal yang mengikuti kegiatan Festival Batik 2016 tercatat sebanyak 90 IKM. Lomba mencanting batik dalam festival ini diikuti 80 pelajar tingkat SMA/SMK se-Banyuwangi. Pada festival yang digelar dengan berbagai kegiatan bertema batik, mulai dari pameran, parade atau peragaan busana, lomba cipta desain batik hingga lomba mewarnai batik, diperkirakan diikuti lebih dari 000 peserta (N. Hal ini menunjukkan tingkat antusias masyarakat setempat maupun kalangan pelajar dalam kegiatan yang secara umum bertujuan untuk melestarikan budaya daerah. Gambar 7. Kegiatan lomba membatik (N. Kebijakan pemerintah daerah dalam pemakaian batik sebagai seragam dinas di lingkungan pegawai negeri sipil (PNS) dan seragam sekolah juga mendapat dukungan dari pegawai, pelajar dan masyarakat. Seragam di lingkungan PNS merupakan langkah konsistensi upaya pengenalan dan pelestarian batik oleh pemerintah daerah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Estiningtiyas RS, et al . Hasil penelitian Komaro N dan Lutfiati D . menunjukkan bahwa 100% responden siswa-siswi suka dan sangat suka dengan penetapan berbusana batik oleh kepala sekolah. Sedangkan hasil penelitian Suryanti . menyatakan bahwa siswa memiliki kebanggaan terhadap batik dengan memakainya di acara formal dan non Memakai batik dianggap dapat meningkatkan derajat seseorang karena menunjukkan identitas diri sebagai orang Indonesia. Peran serta lain dari masyarakat dapat dilihat pada antusiasme mengikuti kegiatan festival yang juga menampilkan batik Banyuwangi. Pada festival Gandrung Sewu, para penari menggunakan busana tari berwarna merah yang dominan bernuansa batik motif Gajah Oling. Kegiatan ini juga akan membantu para produsen batik dalam menjalankan operasional Gambar 8. Batik khas Banyuwangi di lingkungan kerja (N. N, 2017. Gambar 9. Festival Gandrung Sewu (N. N, 2017. Hasil penelitian Puspitaningtyas Z, et al . menunjukkan bahwa produsen batik Banyuwangi umumnya bersifat mandiri, tidak bergantung pada pemerintah, secara proaktif mencari peluang dan berani mengambil resiko usaha. Hasil kerja keras produsen batik telah membangun institusi ekonomi dengan tingkat produktivitas yang menjamin keberlangsungan dalam jangka panjang. Sedangkan hasil penelitian Estiningtiyas RS, et al . menunjukkan bahwa keberadaan industri kerajinan batik dapat membawa dampak bagi kehidupan masyarakat sekitar. Industri kerajinan batik dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi secara sosial berdampak pada semakin erat hubungan antar tenaga kerja atau karyawan perusahaan. Di sisi lain, pengembangan industri batik dapat merubah kondisi sosial budaya masyarakat dimana dapat memacu warga untuk mengisi (Widanirmala Khadiyanto P, 2. Industri batik sebagai tujuan wisata berdampak pada perubahan dalam beberapa aspek baik fisik, ekonomi dan sosial budaya. Perubahan fisik yang terjadi mempengaruhi pola-pola yang terbentuk dalam masyarakat dan merubah nilai-nilai yang ada Budiningtyas Rr ES . Penyusunan strategi pengembangan wisata kreatif juga dapat berdampak pada sinergi kerja sama antara pemerintah daerah dan pelaku usaha batik dan wisata kreatif (Damayanti M & Latifah. Peran masyarakat Banyuwangi juga tidak terlepas dari keunikan karakter masyarakatnya, kebanggaan atas identitas diri masyarakat menyebabkan kecintaan akan produk batik lokalnya. Hal ini dapat terlihat pada perkembangan industri batik di Banyuwangi. Di sentra usaha batik masih banyak ditemui membatik, yang umumnya merupakan keahlian keluarga secara turun-temurun. Kecintaan akan batik ini merupakan motivasi dasar bagi pelestarian batik di masyarakat Banyuwangi. Hal ini sesuai dengan referensi Ridwan MA . yang menyatakan bahwa akar tradisi membatik menjadi daya tarik tersendiri bagi kelestarian batik. Pengembangan teknologi mesin tidak mampu menghilangkan keunikan dan keutamaan nilai-nilai yang dimiliki Kebanggaan yang tinggi ini membuat sekumpulan warga yang kurang mampu mengadakan arisan batik sehingga mereka rela menunggu berbulan-bulan untuk memiliki selembar kain batik tulis halus. Hal ini juga turut berperan dalam pemberdayaan pasar industri batik Banyuwangi. Gambar 10. Pembatik berusia lanjut (N. N, 2017. Peran masyarakat yang lain adalah dari kalangan etnis Osing yang merupakan etnis asli Banyuwangi. Etnis Osing sangat menghargai budaya leluhur, salah satunya batik. Batik dianggap sebagai pusaka warisan leluhur yang harus dihormati, dijaga, dan Etnis Osing memiliki penghargaan dan penghormatan mendalam terhadap batik, terutama ketika hari Lebaran. Di sisi lain, batik dengan motif Gajah Oling dianggap memiliki kekuatan yang bersifat mistik. Batik Gajah Oling dipercaya dapat mencegah gangguan makhluk halus pada anak-anak. Kepercayaan seperti ini mendorong untuk memiliki batik motif Gajah Oling. Hasil penelitian Puspitaningtyas Z, et al . menunjukkan bahwa para produsen batik banyak mengacu pada motif Gajah Oling tetapi dengan corak warna yang berbeda. Upaya bertahan berkaitan dengan nilai-nilai sakral yang banyak dianut oleh masyarakat Osing. Gambar 11. Etnis Osing dan batiknya (Z, et al, 2. KESIMPULAN Pemerintah daerah dan masyarakat Banyuwangi telah berperan aktif dalam upaya pelestarian batik. Peran pemerintah kegiatan-kegiatan promosi seperti festival, pameran, peragaan busana dan pengenalan ornamen batik khususnya motif Gajah Oling di banyak kegiatan baik yang berskala lokal, nasional maupun internasional. Peran masyarakat terlihat pada peran aktif dalam kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah maupun dalam pemberdayaan industri batik Banyuwangi. DAFTAR PUSTAKA