Jurnal Studi Tindakan Edukatif Volume 1. Number 5, 2025 E-ISSN : 3090-6121 Open Access: https://ojs. id/jste/ Enhancing Students' Understanding of Islamic History through InquiryBased Learning: A Study at MTs. Muhammadiyah Pelattoang Nurhidayah R. Supardi2 1 MTs. Muhammadiyah Pelattoang 2 MTs. Jamaluddin Lekong Rembuk Correspondence: nurhidayahrusman87@gmail. Article Info Article history: Received 12 Agust 2025 Revised 02 Sept 2025 Accepted 23 Sept 2025 Keyword: Inquiry-Based Learning. Islamic History. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Classroom Action Research. Student Engagement. MTs. Muhammadiyah Pelattoang. Critical Thinking. Active Learning. ABSTRACT This Classroom Action Research (CAR) aims to enhance students' understanding of Islamic History (Sejarah Kebudayaan Islam. SKI) at MTs. Muhammadiyah Pelattoang by implementing the Inquiry-Based Learning (IBL) model. The research explores how IBL, which encourages active student participation through questioning, exploration, and critical thinking, can improve students' comprehension and engagement with the subject The study focuses on the effectiveness of IBL in making Islamic History more relevant, interactive, and meaningful for students, thus fostering a deeper understanding of Islamic civilization and its cultural The study involves eighth-grade students at MTs. Muhammadiyah Pelattoang. Data is collected through observations, student interviews, and assessments before and after the implementation of the IBL model. The research is carried out in two cycles. In the first cycle, the focus is on introducing IBL strategies, including group discussions, research projects, and guided inquiry activities. In the second cycle, improvements are made based on feedback from students and observations, with a focus on refining teaching strategies and promoting further engagement. The findings indicate that IBL increases students' interest and participation in SKI lessons, encourages independent learning, and enhances critical thinking skills. Students are more proactive in exploring Islamic history, asking questions, and discussing topics in depth. Additionally, the application of IBL fosters a more student-centered classroom environment where students take greater responsibility for their learning. The study concludes that Inquiry-Based Learning is an effective pedagogical approach for teaching Islamic History at MTs. Muhammadiyah Pelattoang. It not only improves studentsAo academic performance but also Islamic A 2025 The Authors. Published by PT SYABANTRI MANDIRI BERKARYA. This is an open access article under the CC BY NC license . ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. INTRODUCTION Pendidikan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) memiliki peranan penting dalam membentuk pemahaman siswa mengenai perkembangan peradaban Islam dan kontribusinya terhadap Namun, pengajaran SKI di banyak madrasah seringkali dianggap monoton, dengan fokus utama pada hafalan fakta sejarah tanpa pemahaman mendalam tentang konteks sosial, budaya, dan religius. Hal ini menyebabkan banyak siswa merasa kurang tertarik pada pelajaran ini dan kesulitan untuk mengaitkan nilai-nilai sejarah Islam dengan kehidupan mereka seharihari (Sari, 2. Di MTs. Muhammadiyah Pelattoang, pembelajaran SKI bertujuan untuk tidak hanya mengenalkan siswa pada tokoh-tokoh besar dan peristiwa sejarah, tetapi juga untuk memberikan wawasan tentang bagaimana peradaban Islam membentuk budaya, ilmu Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 pengetahuan, dan sistem sosial. Namun, meskipun tujuan tersebut sudah ada, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat materi yang terkesan kaku dan historis ini lebih hidup dan menarik bagi siswa (Hidayat, 2. Salah satu pendekatan yang dapat membantu meningkatkan pemahaman dan ketertarikan siswa terhadap SKI adalah model pembelajaran inkuiri. Pembelajaran berbasis inkuiri memungkinkan siswa untuk terlibat aktif dalam pencarian pengetahuan, mengajukan pertanyaan kritis, serta mengeksplorasi topik-topik sejarah Islam dengan cara yang lebih interaktif dan relevan dengan kehidupan mereka. Model ini mengarah pada pembelajaran yang lebih berdimensi, di mana siswa tidak hanya menghafal fakta sejarah, tetapi juga menggali makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa (Ramadhan, 2. Metode inkuiri memiliki potensi besar dalam memperdalam pemahaman siswa tentang SKI, dengan mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis dan analitis. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktif dalam proses pencarian jawaban atas pertanyaanpertanyaan besar yang berkaitan dengan sejarah Islam. Pembelajaran ini mengajak siswa untuk menggali lebih jauh tentang alasan di balik peristiwa sejarah, peran individu dalam sejarah, dan pengaruhnya terhadap perkembangan peradaban Islam (Fajri, 2. Pada tingkat implementasi, pembelajaran inkuiri berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan reflektif. Melalui kegiatan seperti diskusi kelompok, penelitian mandiri, dan pemecahan masalah berbasis kasus sejarah Islam, siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang topik yang dibahas. Hal ini sangat penting dalam konteks pembelajaran SKI, karena siswa tidak hanya belajar tentang sejarah, tetapi juga belajar untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas (Budi. Pembelajaran inkuiri juga memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan penelitian. Siswa dapat belajar untuk mengakses sumber-sumber sejarah, baik itu teks-teks klasik maupun referensi modern, dan mengolah informasi tersebut menjadi pemahaman yang lebih komprehensif. Ini memberi mereka keterampilan yang berguna, tidak hanya dalam pelajaran SKI, tetapi juga dalam mata pelajaran lain yang membutuhkan kemampuan penelitian dan analisis (Ilham, 2. Salah satu faktor utama dalam keberhasilan implementasi model pembelajaran inkuiri adalah peran guru sebagai fasilitator. Guru tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengarahkan dan memotivasi siswa untuk berpikir secara mandiri dan kreatif. Dalam konteks SKI, guru perlu menyajikan materi dengan cara yang mengundang rasa ingin tahu siswa, sehingga mereka terdorong untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap sejarah Islam (Rina, 2. Namun, penerapan pembelajaran inkuiri juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah kesulitan siswa dalam memahami sumber-sumber sejarah yang lebih kompleks dan membutuhkan penafsiran. Beberapa siswa mungkin kesulitan dalam menghubungkan peristiwa sejarah dengan nilai-nilai Islam yang relevan. Oleh karena itu, guru perlu memberikan bimbingan yang cukup untuk membantu siswa memahami makna lebih dalam dari setiap peristiwa sejarah yang mereka pelajari (Dewi, 2. Di sisi lain, meskipun tantangan tersebut ada, penggunaan teknologi dalam pembelajaran inkuiri dapat membantu mengatasi keterbatasan sumber daya dan membuat pembelajaran lebih Misalnya, penggunaan video dokumenter, presentasi digital, dan sumber online dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, membuat mereka lebih terlibat, dan memberikan wawasan yang lebih luas mengenai sejarah Islam (Ilham, 2. Selanjutnya, evaluasi yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana penerapan model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap SKI. Evaluasi ini akan melibatkan pengamatan langsung terhadap keterlibatan siswa dalam kelas, serta penilaian terhadap hasil penelitian mereka dalam proyek-proyek berbasis inkuiri. Hasil Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan apakah model pembelajaran ini perlu diteruskan atau disesuaikan (Fajar, 2. Implementasi model pembelajaran inkuiri di MTs. Muhammadiyah Pelattoang juga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan akademik siswa. Dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menyeluruh, siswa diharapkan dapat lebih menghargai sejarah Islam, serta memahami kontribusi besar peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan, budaya, dan sosial di dunia (Aminah, 2. Dalam proses implementasi, perlu adanya kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran ini. Orang tua dapat berperan dalam memperkuat pemahaman yang diperoleh siswa di sekolah dengan menyediakan bahan bacaan tambahan atau mendiskusikan topik-topik sejarah Islam yang relevan di rumah. Kolaborasi ini penting untuk memastikan bahwa pendidikan yang diterima siswa dapat lebih terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari mereka (Shakira, 2. Salah satu potensi besar dari model pembelajaran inkuiri adalah kemampuannya untuk membangun rasa ingin tahu siswa terhadap sejarah Islam dan budaya Islam secara umum. Pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada pengajaran fakta sejarah, tetapi juga mengajak siswa untuk berpikir kritis dan menghubungkan ajaran agama Islam dengan perkembangan sejarah dunia (Rizal, 2. Dengan menerapkan pembelajaran inkuiri, diharapkan SKI dapat menjadi pelajaran yang lebih menyenangkan dan bermakna bagi siswa. Pembelajaran ini memberi ruang bagi siswa untuk menggali lebih dalam tentang nilai-nilai Islam yang terkandung dalam sejarah, sehingga mereka tidak hanya menghafal, tetapi juga menghayati dan mengaplikasikan pelajaran yang mereka pelajari (Rina, 2. Secara keseluruhan, penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi positif dalam pengembangan model pembelajaran SKI yang lebih menarik dan efektif. Dengan menggunakan pendekatan inkuiri, siswa di MTs. Muhammadiyah Pelattoang diharapkan dapat memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang sejarah Islam, serta dapat mengaitkannya dengan kehidupan mereka sendiri dan dunia sekitar mereka (Zahra, 2. RESEARCH METHODS Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan proses pembelajaran SKI di MTs. Muhammadiyah Pelattoang melalui penerapan model pembelajaran inkuiri. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk merancang, melaksanakan, mengamati, dan merefleksikan proses pembelajaran secara langsung, yang kemudian dilakukan perbaikan pada setiap siklusnya. Melalui PTK, diharapkan dapat dilakukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap pengajaran SKI, sehingga meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan (Hakim, 2. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas Vi di MTs. Muhammadiyah Pelattoang, yang terdiri dari 30 orang siswa. Penelitian ini juga melibatkan guru pengampu mata pelajaran SKI sebagai kolaborator dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri. Data dikumpulkan melalui observasi kelas, wawancara dengan siswa dan guru, serta analisis terhadap tugas dan hasil penelitian siswa. Observasi bertujuan untuk melihat interaksi siswa selama pembelajaran, sedangkan wawancara digunakan untuk menggali pemahaman siswa tentang penerapan model pembelajaran inkuiri dalam SKI (Dewi, 2. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus. Siklus pertama berfokus pada perencanaan dan penerapan model pembelajaran inkuiri, yang mencakup kegiatan diskusi kelompok, penelitian mandiri, dan pemecahan masalah berbasis kasus sejarah Islam. Evaluasi dilakukan setelah siklus pertama untuk menilai tingkat pemahaman siswa terhadap materi dan keterlibatan mereka dalam pembelajaran. Siklus kedua, berdasarkan evaluasi dari siklus pertama, akan Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 difokuskan pada perbaikan metode, peningkatan keterlibatan siswa, serta penguatan refleksi untuk memperdalam pemahaman mereka terhadap nilai-nilai sejarah Islam (Ilham, 2. Proses pengumpulan data dilakukan dengan berbagai teknik, termasuk observasi kelas untuk melihat dinamika pembelajaran, wawancara dengan siswa untuk memahami persepsi mereka terhadap pembelajaran inkuiri, serta penilaian hasil tugas yang dilakukan siswa selama siklus. Semua data yang terkumpul akan dianalisis secara deskriptif untuk melihat perubahan yang terjadi dalam pemahaman dan partisipasi siswa dalam pembelajaran SKI. Proses ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang efektivitas pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sejarah Islam (Budi, 2. Pada akhirnya, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah model pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman dan partisipasi siswa dalam pembelajaran SKI di MTs. Muhammadiyah Pelattoang. Dengan metode ini, diharapkan siswa tidak hanya dapat menghafal peristiwa sejarah, tetapi juga dapat mengaitkan dan mengaplikasikan nilai-nilai dari sejarah Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka (Rina, 2. RESULTS AND DISCUSSION Pada siklus pertama, penerapan model pembelajaran inkuiri di MTs. Muhammadiyah Pelattoang menunjukkan perubahan signifikan dalam keterlibatan siswa dalam proses belajar. Sebelumnya, siswa lebih banyak pasif dan hanya menunggu penjelasan dari guru, tetapi dengan penerapan inkuiri, siswa lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan dan berpartisipasi dalam diskusi kelas. Melalui metode ini, siswa didorong untuk berpikir kritis dan mempertanyakan berbagai aspek sejarah Islam yang mereka pelajari, yang memungkinkan mereka untuk menghubungkan pengetahuan yang didapat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini memperlihatkan bahwa pembelajaran berbasis inkuiri dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar (Budi, 2. Salah satu temuan penting di siklus pertama adalah peningkatan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep penting dalam SKI. Melalui kegiatan yang berbasis pada penelitian dan pemecahan masalah, siswa tidak hanya menghafal fakta-fakta sejarah tetapi juga mulai memahami konteks dan dampak dari peristiwa-peristiwa tersebut. Misalnya, saat mempelajari sejarah peradaban Islam, siswa mulai mengaitkan pencapaian ilmuwan Muslim dengan perkembangan dunia modern. Mereka dapat lebih menghargai kontribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan, yang sebelumnya tidak mereka ketahui secara mendalam (Dewi, 2. Namun, meskipun ada peningkatan yang signifikan, beberapa siswa masih kesulitan dalam mengaitkan teori yang mereka pelajari dengan praktik kehidupan sehari-hari. Ketika berdiskusi tentang peristiwa sejarah, beberapa siswa tidak langsung memahami relevansi peristiwa tersebut dengan tantangan sosial yang mereka hadapi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun mereka lebih aktif dalam pembelajaran, pemahaman mendalam dan aplikasi praktis dari materi masih perlu diperkuat. Oleh karena itu, perlu adanya perbaikan dalam penyampaian materi yang lebih aplikatif dan kontekstual untuk mengatasi masalah ini (Tariq, 2. Pada siklus kedua, perbaikan dilakukan dengan lebih menekankan pada kegiatan refleksi dan diskusi mendalam yang lebih berfokus pada relevansi nilai sejarah Islam dengan kehidupan masa kini. Siswa diberi kesempatan untuk membahas bagaimana nilai-nilai seperti keadilan dan kebijaksanaan yang ada dalam sejarah Islam dapat diterapkan dalam kehidupan mereka, terutama dalam konteks sosial dan budaya yang mereka alami. Hasilnya, siswa mulai lebih mengaitkan prinsip-prinsip Islam yang mereka pelajari dengan masalah sosial yang mereka hadapi sehari-hari, seperti masalah keadilan sosial, perbedaan pendapat, dan toleransi (Ilham. Pada siklus kedua, penambahan penggunaan sumber belajar digital juga terbukti memberikan dampak positif. Melalui video dokumenter dan artikel interaktif yang menggali lebih dalam tentang sejarah Islam, siswa lebih tertarik dan terbantu dalam memahami peristiwa-peristiwa Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 sejarah yang kompleks. Teknologi ini membantu menjelaskan aspek-aspek sejarah yang mungkin sulit dipahami hanya melalui teks, dengan memberikan visualisasi yang lebih hidup dan menarik. Ini menunjukkan bahwa penggunaan media digital dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman siswa dan membuat materi lebih mudah dicerna (Rina, 2. Selain itu, metode inkuiri yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mencari jawaban sendiri melalui eksplorasi lebih lanjut juga meningkatkan keterampilan penelitian mereka. Beberapa siswa menunjukkan peningkatan dalam kemampuan untuk menemukan dan menganalisis sumber-sumber informasi secara mandiri. Mereka tidak hanya bergantung pada materi yang disediakan oleh guru, tetapi juga mulai mencari referensi tambahan dari buku, artikel, dan sumber online yang relevan dengan topik yang dibahas. Ini menandakan bahwa pembelajaran inkuiri dapat membekali siswa dengan keterampilan kritis yang penting untuk pendidikan mereka di masa depan (Fajar, 2. Meskipun demikian, tantangan yang dihadapi pada siklus kedua adalah ketergantungan siswa terhadap teknologi dan kurangnya keterampilan dalam mengolah informasi yang ditemukan secara online. Beberapa siswa masih kesulitan dalam memfilter informasi yang mereka dapatkan dari internet, yang kadang tidak selalu relevan atau akurat. Oleh karena itu, penting untuk terus membimbing siswa dalam memahami cara mengevaluasi dan memverifikasi sumber informasi, agar mereka dapat menggunakan teknologi secara lebih efektif dalam pembelajaran (Shakira, 2. Dalam hal pengelolaan kelas, guru yang berperan sebagai fasilitator menunjukkan perbaikan yang signifikan. Guru tidak hanya memberikan materi, tetapi juga memfasilitasi diskusi, memberikan umpan balik, dan membantu siswa menghubungkan konsep-konsep sejarah dengan kehidupan sehari-hari. Guru lebih sering memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan mendiskusikan pemahaman mereka, yang membuat mereka merasa lebih dihargai dan terlibat dalam pembelajaran. Ini memperlihatkan bahwa peran aktif guru dalam pembelajaran inkuiri sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif (Mira. Siklus kedua juga memperlihatkan bahwa peningkatan keterlibatan orang tua dalam mendukung proses pembelajaran inkuiri sangat berpengaruh. Beberapa orang tua mulai memberikan dukungan lebih besar dengan membantu anak-anak mereka mencari referensi tambahan atau berdiskusi tentang materi yang dipelajari di rumah. Dukungan ini memperkuat pemahaman siswa dan memberikan mereka ruang untuk menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah dalam kehidupan mereka sehari-hari. Kolaborasi antara guru dan orang tua terbukti sangat efektif dalam memperkuat pemahaman siswa terhadap materi SKI (Zahra, 2. Evaluasi terhadap metode pembelajaran inkuiri ini menunjukkan hasil yang positif dalam hal peningkatan pemahaman siswa terhadap sejarah Islam. Namun, meskipun ada perbaikan yang signifikan, beberapa siswa masih memerlukan bimbingan lebih lanjut dalam hal mengaitkan nilai-nilai sejarah Islam dengan tantangan sosial masa kini. Oleh karena itu, dalam siklus berikutnya, akan lebih difokuskan pada penguatan pemahaman tentang aplikasi praktis dari nilai-nilai yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari siswa (Tariq, 2. Secara keseluruhan, penerapan metode pembelajaran inkuiri di MTs. Muhammadiyah Pelattoang dapat meningkatkan partisipasi dan pemahaman siswa dalam pembelajaran SKI. Dengan meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi topik lebih mendalam, serta mengaitkan pelajaran sejarah dengan konteks kehidupan mereka, siswa menjadi lebih termotivasi dan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam situasi nyata. Pembelajaran berbasis inkuiri memberikan dampak positif dalam membentuk siswa yang lebih kritis, mandiri, dan berwawasan luas (Fajar. Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 Temuan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi SKI, tetapi juga membantu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis yang sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu, di masa mendatang, metode ini dapat diterapkan lebih luas di berbagai madrasah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang berbasis pada eksplorasi dan pemahaman mendalam (Zahra, 2. Melalui pembelajaran inkuiri, siswa diajarkan untuk tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga untuk menggali lebih dalam dan menghubungkan pengetahuan tersebut dengan dunia Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya menjadi proses penyampaian informasi, tetapi juga proses pembentukan karakter dan keterampilan siswa dalam menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang (Ilham, 2. CONCLUSION Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs. Muhammadiyah Pelattoang. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dalam dua siklus, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran inkuiri memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Penerapan model ini berhasil meningkatkan partisipasi siswa dalam diskusi kelas dan kegiatan pembelajaran yang lebih aktif. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga aktif dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, dan menganalisis peristiwa sejarah yang mereka pelajari. Pada siklus pertama, meskipun terdapat beberapa tantangan dalam hal pemahaman dan aplikasi praktis dari materi yang diajarkan, peningkatan keterlibatan siswa sangat terlihat. Mereka mulai menunjukkan rasa ingin tahu yang lebih tinggi terhadap sejarah Islam, serta lebih tertarik untuk menggali lebih dalam topik yang dibahas. Diskusi kelompok dan pemecahan masalah berbasis kasus sejarah Islam membantu mereka menghubungkan teori yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari, yang menjadi dasar bagi pembelajaran yang lebih bermakna dan aplikatif. Siklus kedua menunjukkan hasil yang lebih baik. Dengan adanya perbaikan berdasarkan evaluasi siklus pertama, siswa semakin mampu mengaitkan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa sejarah dengan tantangan yang mereka hadapi di masyarakat. Selain itu, penggunaan sumber belajar digital dan teknologi juga memperkaya pengalaman belajar siswa, membuat pembelajaran lebih menarik, dan memudahkan mereka dalam memahami konsep-konsep sejarah yang kompleks. Pemanfaatan video dokumenter dan sumber-sumber interaktif terbukti memberikan dampak positif dalam mendalami topik yang lebih mendalam dan kontekstual. Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan model pembelajaran inkuiri adalah peran aktif guru sebagai fasilitator. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengarahkan siswa dalam pencarian pengetahuan mereka. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi, bertanya, dan berkolaborasi, guru menciptakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami tidak hanya fakta sejarah, tetapi juga nilai-nilai yang terkandung dalam setiap peristiwa tersebut. Namun, meskipun ada kemajuan yang signifikan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah kesulitan sebagian siswa dalam mengolah informasi yang mereka temukan secara mandiri, terutama saat mengakses sumber-sumber digital yang belum tentu semuanya relevan atau akurat. Oleh karena itu, diperlukan bimbingan lebih lanjut dalam hal evaluasi sumber informasi dan keterampilan penelitian untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang lebih tajam. Secara keseluruhan, model pembelajaran inkuiri terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran SKI. Pendekatan ini tidak hanya Jurnal Studi Tindakan Edukatif Vol. 1 No. E-ISSN : 3090-6121 meningkatkan minat siswa terhadap materi yang diajarkan, tetapi juga memperkuat keterampilan mereka dalam berpikir kritis, melakukan penelitian, dan menghubungkan pengetahuan dengan konteks kehidupan mereka. Ke depan, model ini memiliki potensi besar untuk diterapkan secara lebih luas di madrasah lainnya sebagai alternatif pembelajaran yang lebih interaktif dan menyeluruh, yang dapat membentuk siswa menjadi pribadi yang lebih kritis dan berwawasan luas dalam menghadapi perkembangan zaman. REFERENCES