AL-GHAZALI DAN MASA DEPAN PENDIDIKAN: HARMONISASI SPIRITUALITAS. MORALITAS. DAN ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN DASAR ERA SOCIETY 5. Firdah Nailil Karimah. Mohammad Salik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Email: firdahnk99@gmail. com, mohamadsalik1212@gmail. Abstract: This study aims to analyze the relevance of Imam Al-GhazaliAos educational thought in addressing the challenges of primary education in the Society 0 era. Al-Ghazali emphasizes the importance of harmonizing spirituality, morality, and knowledge as the foundation for the formation of a complete human being. In the context of primary education, this principle is viewed as a potential solution to modern problems such as moral crises, technological dehumanization, and the weak integration of values in The research method employed is a qualitative study using a library research approach, examining Al-GhazaliAos works along with contemporary literature related to Society 5. The findings reveal that AlGhazaliAos concept of education remains highly relevant and has become increasingly significant in facing the dynamics of the Society 5. 0 era. The integration of spirituality, morality, and knowledge serves as a crucial foundation for responding to technological advancements that often shift or diminish human values. ARTICLE HISTORY Received: April 2026 Revised : April 2026 Accepted : April 2026 KEYWORDS Al-Ghazali. Society 5. KEYWORDS Al-Ghazali, pendidikan dasar, moralitas. Society 5. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi pemikiran pendidikan Imam Al-Ghazali dalam menjawab tantangan pendidikan dasar di era Society 5. Al-Ghazali menekankan pentingnya harmonisasi antara spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembentukan manusia paripurna. Dalam konteks pendidikan dasar, prinsip ini dipandang mampu menjadi solusi atas problem modern seperti krisis moral, dehumanisasi teknologi, dan lemahnya integrasi nilai dalam pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. , menelaah karya-karya Al-Ghazali serta literatur kontemporer terkait Society 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan AlGhazali tetap memiliki relevansi yang kuat dan bahkan semakin signifikan dalam menghadapi dinamika era Society 5. Integrasi antara spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk menjawab tantangan kemajuan teknologi yang kerap menggeser nilai-nilai kemanusiaan. PENDAHULUAN Kemajuan pesat teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, khususnya pada era Society 5. Era ini menggambarkan sebuah masyarakat cerdas yang memadukan dunia maya dan dunia nyata untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia. Dalam kerangka tersebut, pendidikan dasar memegang peranan penting dalam membekali peserta didik agar mampu menyesuaikan diri dengan AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . perkembangan teknologi, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan. Akan tetapi, praktik pendidikan modern sering kali menunjukkan kecenderungan yang sempit, yaitu hanya menitikberatkan pada pencapaian akademik dan keterampilan digital, sementara aspek spiritual dan moral kurang diperhatikan. Kondisi yang tidak seimbang ini kemudian menimbulkan berbagai persoalan serius, seperti melemahnya karakter, berkurangnya rasa empati, munculnya dehumanisasi akibat penggunaan teknologi, hingga rendahnya penanaman nilai-nilai luhur sejak jenjang pendidikan dasar. Pemikiran para tokoh klasik memberikan sumbangan penting dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini. (Basori et al. , 2. Salah satu yang sangat relevan adalah Imam Al-Ghazali, pemikir besar Islam abad ke-11, yang menawarkan konsep pendidikan menyeluruh dengan menekankan keseimbangan antara spiritualitas . , moralitas . , dan ilmu pengetahuan (Aoilmiyya. (Al-Ghazali, 2. Bagi Al-Ghazali, pendidikan sejati bukan sekadar proses penyampaian pengetahuan, tetapi juga upaya membersihkan jiwa, membentuk akhlak yang mulia, serta mengembangkan ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan individu maupun masyarakat. (Basori et al. , 2. Pandangan ini sejalan dengan gagasan human-centered education dalam era Society 5. 0, yaitu pendidikan yang tidak hanya menekankan penguasaan teknologi, melainkan juga menumbuhkan tanggung jawab etis serta nilai-nilai kemanusiaan. (Harahap et al. , 2. Kajian tentang pendidikan di era Society 5. 0 menunjukkan bahwa integrasi teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan menjadi isu utama dalam perdebatan akademik Menurut UNESCO . , pendidikan abad ke-21 tidak boleh hanya menekankan penguasaan keterampilan digital, tetapi juga harus menanamkan nilai moral, empati, dan kesadaran sosial sebagai bagian dari kompetensi global. (Diah Rusmala Dewi, 2. Sejalan dengan itu. OECD . melalui Future of Education and Skills 2030 menekankan perlunya pendidikan yang menyeimbangkan kemampuan kognitif, kompetensi digital, dan pembangunan karakter. (Schleicher Andreas, 2. Beberapa penelitian kontemporer menunjukkan adanya risiko dehumanisasi akibat teknologi jika pendidikan terlalu berfokus pada aspek kognitif semata. Misalnya. Sakamoto . menegaskan bahwa Society 5. 0 hanya dapat berhasil jika pendidikan mampu melahirkan generasi yang menguasai teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai (Almirah et al. , 2. Hal ini senada dengan hasil studi dari Fukuyama . yang menyoroti adanya Aukekosongan moralAy dalam pendidikan modern yang berorientasi pada sains dan teknologi tetapi kurang memperhatikan dimensi spiritual dan etika. (Aulia. Di sisi lain, kajian terhadap pemikiran klasik, khususnya Imam Al-Ghazali, memberikan kontribusi filosofis yang signifikan. Dalam IhyaAo Ulumuddin. Al-Ghazali menekankan bahwa ilmu tanpa akhlak akan menjerumuskan manusia pada kesombongan dan penyalahgunaan pengetahuan. Imam al-Ghazali, belajar adalah suatu proses jiwa untuk memahami makna sesuatu sebagai upaya pembentukan akhlakul karimah guna mendekatkan diri kepada Allah . demi mencapai keselamatan di dunia dan di (Al-Ghazali, 2. Konsep pembelajaran imam al-Ghazali lebih menekankan pada persyaratan moral atau akhlak, akan tetapi penekanan ini lebih condong pada pengajar sebagai al-mualim . Seorang pengajar harus memiliki peran atau akhlak yang baik dalam mengajar (Machsun, 2. Ditemukan beberapa hasil penelitian yaitu, pertama bahwa Al-Ghazali memiliki paradigma berpikir yang mengutamakan pendidikan akhlak AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . sebagai dasar pembangunan ilmu pengetahuan. Kedua, paradigma keilmuan Al-Ghazali bersifat integratif dengan menjadikan ilmu agama sebagai dasar ilmu pengetahuan. Ketiga, pendidikan di era Masyarakat 5. 0 dibangun melalui pendidikan akhlak yang kuat dan pengembangan ilmu agama dan ilmu pengetahuan secara integratif sehingga menghasilkan luaran yang berdaya saing di era digital dan berakhlak mulia. (Prastowo & Daraini, 2. Penelitian lain menyoroti signifikansi abadi dari ide-ide al-Ghazali dalam mengatasi tantangan moral kontemporer. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip alGhazali, para pendidik dapat menumbuhkan individu-individu dengan karakter dan kompas moral yang kuat, yang berkontribusi pada perbaikan masyarakat. (Syaiful & Anam, 2. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip Al-Ghazali dalam pendidikan modern dapat membantu menciptakan individu yang menyeluruh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga memiliki moral dan spiritual yang tinggi. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemetaan pemikiran Al-Ghazali terhadap paradigma pendidikan Society 5. Jika penelitian terdahulu lebih banyak menekankan relevansi Al-Ghazali pada aspek akhlak atau pendidikan Islam secara umum, penelitian ini menempatkan pemikiran Al-Ghazali dalam kerangka global pendidikan dasar berbasis Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya khazanah filsafat pendidikan Islam, tetapi juga menghadirkan solusi konseptual untuk pendidikan dasar di era digital yang human-centered, berbasis literasi spiritual, moral, dan digital secara Dengan demikian, pemikiran Al-Ghazali tidak hanya relevan dalam konteks sejarah atau teologi Islam, tetapi juga memiliki makna transformatif dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21. Meskipun telah banyak kajian yang membahas kontribusi AlGhazali terhadap filsafat pendidikan Islam dan etika, perhatian akademik masih terbatas dalam memetakan relevansi pemikirannya terhadap kerangka Society 5. 0, khususnya pada pendidikan dasar. METODE PENELITIAN Penelitian dimulai dengan menentukan pendekatan penelitian, yaitu kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. Tahap berikutnya adalah mengidentifikasi sumber data, yang terdiri atas data primer berupa karya-karya utama Imam Al-Ghazali seperti IhyaAo Ulumuddin dan Ayyuha al-Walad, serta data sekunder berupa buku, artikel jurnal, dan laporan internasional dari UNESCO maupun OECD yang relevan dengan pendidikan abad ke-21 dan Society 5. Setelah itu, peneliti menetapkan jenis data berupa teks dan gagasan yang terkait dengan pendidikan Al-Ghazali serta tantangan pendidikan dasar di era digital. Selanjutnya, dilakukan teknik pengumpulan data melalui kegiatan membaca, mencatat, dan mengorganisasi berbagai informasi yang diperoleh dari sumber pustaka. Tahap terakhir adalah analisis data dengan menggunakan metode analisis isi . ontent Analisis ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi tema-tema utama dalam pemikiran Al-Ghazali, kemudian memetakannya ke dalam kerangka pendidikan dasar di era Society 5. Dari alur ini, diperoleh pemahaman konseptual yang utuh mengenai relevansi pemikiran Al-Ghazali dalam menjawab tantangan pendidikan dasar masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Al-Ghozali AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Abu Hamid Ibn Muhammad Ibn Ahmad Al Ghazali lahir pada sekitar tahun 450 H/1058 M di kota Tus, wilayah Khurasan . ekarang Ira. dalam keluarga berpenghasilan ayahnya bergiat sebagai pengrajin tenun benang wol dan wafat ketika Ghazali masih muda. Masa kecilnya diwarnai pendidikan dasar yang mencakup pengajaran AlQurAoan, bahasa Arab dan Persia, serta prinsip-prinsip agama Islam (Nofal, 2. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan ke Jurjan dan kemudian ke Nishapur, di mana ia menimba ilmu di bawah bimbingan Al-Juwayni (Imam al-Haramay. dalam bidang fikih, teologi . , logika, dan filsafat Islam. Karena kecemerlangannya, al-Ghazali kemudian diangkat sebagai guru besar di madrasah Nizamiyyah di Baghdad, di bawah pengaruh wazir Nizam al-Mulk dan regime Saljuk, memegang peranan penting dalam dunia pendidikan Islam abad ke-11 (Artika et al. , 2. Meskipun berada pada puncak karier intelektualnya, al-Ghazali mengalami apa yang sering disebut sebagai krisis spiritual atau krisis eksistensial sekitar tahun 488 H/1095 M. Suatu gejolak batin yang membuatnya meninggalkan posisi resmi, menjalani pengasingan selama lebih kurang sebelas tahun, dan menelusuri jalan tasawuf secara intensif. Dalam periode ini, ia merenungkan berbagai aliran pemikiran fikih, kalam, filsafat Yunani . serta sufisme dan akhirnya menegaskan bahwa ilmu hakiki tidak semata diperoleh melalui akal dan tekstualisme, melainkan juga melalui pengalaman batin (AomaAorifahA. dan transformasi spiritual(M et al. , 2. Karya-karya al-GhazAl sangat produktif dan berpengaruh. diantaranya: IuyaAo AoUlum al-Din (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agam. , yang memadukan fikih, akhlak, tasawuf dan kehidupan sehari-hari. Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsu. , yang mengkritik pemikiran falsafah yang dianggap menyimpang dari wahyu. dan Al-Munqidh min al-Ualal (Penyelamat dari Kesesata. , otobiografi intelektual yang merekam perjalanan pencarian Dalam Al-Munqidh tersebut, al-GhazAl secara jujur menguraikan bahwa metode ilmiah semata . ndera dan aka. tidak cukup untuk mencapai kepastian mutlak. mengidentifikasi bahwa setelah seluruh kajian rasional, yang tertinggal adalah pengalaman batin dan wahyu sebagai sumber utama kebenaran. (M et al. , 2. Pemikiran al-GhazAl memiliki dampak luas dalam sejarah pemikiran Islam dan dunia. Ia digelari dengan julukan Auujjat al-IslAmAy (Bukti Isla. karena kontribusinya dalam memperbaharui pemikiran dan praktik keilmuan Islam, mengintegrasikan antara syariat, rasio dan tasawuf (Hamid & Context, 2. Melalui terjemahan karyanya ke dalam bahasa Latin dan bahasa Barat lainnya, pemikirannya juga memengaruhi tradisi filsafat Barat maupun dialog agama lintas Bagi kontemporer, warisan al-GhazAl relevan dalam konteks pendidikan Islam, etika profesi, kritik atas reduksionisme ilmiah, dan pengembangan model integratif antara ilmu-agama dan spiritualitas. (Sodiq, 2. Imam Al-GhazAl wafat pada tahun 505 H/1111 M di kampung halamannya, s. Ia meninggal dalam kondisi zuhud dan khusyuk, meninggalkan jejak keilmuan yang hingga kini masih dijadikan rujukan utama dalam kajian teologi, filsafat Islam, tasawuf dan pendidikan agama (Artika et al. , 2. Teori Pendidikan Dasar Menurut Al-Ghozali Teori pendidikan dasar menurut Al-Ghazali berakar pada pandangan filosofis dan spiritual yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus berkembang secara utuh melalui keseimbangan antara aspek intelektual, moral, dan spiritual. Menurut Al-Ghazali, tujuan pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan karakter dan pengendalian diri agar manusia mampu mendekatkan diri kepada Allah serta mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat (Latifah, 2. (Mustofa, 2. Pendidikan, dalam AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pandangan Al-Ghazali, harus mengantarkan peserta didik menuju kesempurnaan akhlak dan penyucian jiwa, karena ilmu tanpa akhlak hanya akan menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan moral (Al-Ghazali, 2. Ia membedakan ilmu menjadi dua kategori besar, yaitu ilmu fardhu Aoain yang wajib bagi setiap individu untuk memperbaiki ibadah dan moralitas pribadi dan ilmu fardhu kifayah, yakni ilmu yang diperlukan demi kemaslahatan sosial seperti ekonomi, kedokteran, dan pemerintahan. Keseimbangan antara keduanya menjadi landasan penting dalam membentuk manusia paripurna yang tidak hanya saleh secara spiritual tetapi juga produktif dalam kehidupan sosial (Basori et al. , 2. Dalam proses pendidikan. Al-Ghazali menempatkan guru dan peserta didik dalam hubungan spiritual yang erat, di mana guru berperan sebagai pewaris para nabi yang bertugas menuntun murid menuju kebenaran dengan keteladanan, keikhlasan, dan kasih sayang (Prastowo & Daraini, 2. Guru ideal menurutnya bukan hanya pengajar ilmu, tetapi juga pembimbing moral yang menanamkan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Sebaliknya, peserta didik harus memiliki adab dalam mencari ilmu, di antaranya menghormati guru, menata niat, serta menjadikan ilmu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah (Basori et al. , 2. Metode pendidikan Al-Ghazali menekankan pembiasaan, keteladanan, dan muhasabah diri sebagai cara efektif membentuk karakter mulia, karena pendidikan moral tidak cukup melalui instruksi verbal semata, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku nyata dan lingkungan yang mendukung perkembangan spiritual. Oleh sebab itu, keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki tanggung jawab kolektif dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang menumbuhkan nilai-nilai akhlak dan keimanan (Hamid & Context, 2. Dalam konteks modern, khususnya pada era Society 5. 0, gagasan Al-Ghazali menjadi sangat relevan. Kemajuan teknologi digital yang menyatukan dunia maya dan nyata menuntut hadirnya manusia yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki kebijaksanaan moral dan spiritualitas yang kuat (Syaiful & Anam, 2. Integrasi pemikiran Al-Ghazali dengan paradigma pendidikan masa kini mendorong terciptanya model pendidikan yang menyeimbangkan penguasaan teknologi dengan pembentukan karakter dan kesadaran spiritual. Pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada kompetensi teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran etis agar peserta didik mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan berorientasi pada kemaslahatan (Sodiq, 2. Dengan demikian, nilai-nilai pendidikan Al-Ghazali memberikan landasan filosofis yang kokoh bagi desain pendidikan masa depan, di mana kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual saling berpadu dalam membentuk manusia berintegritas. Pemikiran Al-Ghazali memliki tiga pilar utama ruhiyyah . , akhlaqiyyah . , dan Aoilmiyyah . lmu pengetahua. yang membentuk kerangka pendidikan utuh dan berimbang (Al-Ghazali, 2. Pilar spiritualitas melahirkan model human-centered education yang menempatkan manusia sebagai pusat pembelajaran. pilar moralitas menumbuhkan etika, tanggung jawab sosial, dan empati. sedangkan pilar ilmu pengetahuan memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis (Santoso et al. , 2. Dengan demikian, pendidikan berbasis pemikiran Al-Ghazali mampu menjawab tantangan era digital dengan tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan. Relevansi pemikiran Al-Ghazali terletak pada kemampuannya mengembalikan ruh spiritual dan moral ke dalam sistem pendidikan yang cenderung rasional dan materialistik, sehingga menghasilkan generasi AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . yang unggul secara intelektual, berakhlak mulia, berempati sosial, dan sadar akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi (Basori et al. , 2. Karakteristik Pendidikan Dasar Era Society 5. Pendidikan dasar pada era Society 5. 0 memiliki karakteristik yang berbeda dengan era sebelumnya karena berupaya memadukan kecanggihan teknologi digital dengan nilainilai kemanusiaan untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman (Almirah et al. , 2. Kemajuan pesat teknologi digital telah membawa perubahan mendasar dalam dunia pendidikan, terutama pada era Society 5. yang ditandai oleh integrasi antara dunia fisik dan dunia maya untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan manusia (Sindi Septia Hasnida et al. , 2. Era ini menggambarkan masyarakat cerdas yang menempatkan manusia sebagai pusat kemajuan teknologi . uman-centered societ. , di mana teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligenc. Internet of Things (IoT), dan Big Data dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, bukan untuk menggantikannya (Office, 2. Dalam konteks pendidikan dasar, prinsip tersebut menuntut adanya transformasi sistem pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pembentukan karakter, nilai kemanusiaan, dan keseimbangan spiritual (Harahap et al. , 2. Menurut UNESCO . , pendidikan di era digital harus berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21 . st Century Skill. , yang meliputi kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, serta literasi digital dan informasi. Kompetensi tersebut menjadi fondasi dalam membentuk peserta didik yang adaptif terhadap perubahan global dan mampu berpartisipasi aktif dalam masyarakat berbasis pengetahuan. Selain itu. UNESCO menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang secara optimal tanpa diskriminasi (Schleicher Andreas, 2. Dalam konteks pendidikan dasar, karakteristik pendidikan di era Society 5. 0 tidak hanya menitikberatkan pada kemajuan teknologi, melainkan juga pada penguatan dimensi kemanusiaan, moralitas, dan spiritualitas. Pendidikan harus berorientasi pada manusia . uman-centered educatio. , yaitu menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajaran dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Santoso et al. , 2. Karakteristik utamanya meliputi pembelajaran yang bersifat personal dan berdiferensiasi, di mana setiap anak difasilitasi sesuai dengan kemampuan, minat, dan gaya belajarnya. Integrasi teknologi dalam pembelajaran menjadi keniscayaan, namun penggunaannya harus diarahkan secara etis agar mendukung penguatan empati, kolaborasi, dan kreativitas, bukan sebaliknya menimbulkan dehumanisasi akibat dominasi mesin (Harahap et al. , 2. c (Santoso et al. , 2. Selain kemampuan kognitif dan teknologi, penguatan karakter Pancasila menjadi ciri khas utama pendidikan dasar di Indonesia pada era Society 5. Nilai-nilai gotong royong, tanggung jawab, cinta tanah air, dan empati sosial harus terus ditanamkan agar peserta didik mampu menjadi manusia berkarakter yang tetap berakar pada budaya bangsa di tengah derasnya arus globalisasi digital (Sukarno, n. Pendidikan dasar juga perlu menanamkan spiritualitas dan moralitas sebagai pengendali kemajuan teknologi, sebab kecanggihan tanpa kendali nilai dapat menyebabkan degradasi etika dan krisis identitas. Oleh karena itu, guru berperan penting sebagai fasilitator dan pengarah, bukan sekadar penyampai pengetahuan. Guru harus mampu membimbing peserta didik agar AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . menggunakan teknologi secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab (Winda Sri Handayani. Ninda Alfia. Endang Fauziati, 2. Berbagai penelitian kontemporer memperkuat gagasan ini. Ritonga. Sartika, dan Wijaya . menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi utama untuk menjawab kebutuhan pendidikan personal di era Society 5. 0, karena proses belajar harus disesuaikan dengan karakteristik unik peserta didik (Maharani Ritonga. Rinny Sartika, 2. Setiawati. Ikmah, dan Rifai . menambahkan bahwa paradigma pendidikan karakter di jenjang dasar kini bergeser: guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber nilai, melainkan fasilitator pembentukan moral di tengah arus digitalisasi (Nazira et al. , 2. Sementara itu. Sugiarto dan Farid . menyoroti pentingnya literasi digital sebagai sarana memperkuat karakter, karena literasi ini menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan tanggung jawab etis dalam penggunaan teknologi (Indriyani et al. , 2. Haryati. Anar, dan Ghufron . menekankan bahwa inovasi kurikulum sekolah dasar melalui Kurikulum Merdeka merupakan bentuk konkret adaptasi terhadap tuntutan Society 0, seperti pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan penguatan kompetensi 4C . ritical thinking, communication, collaboration, creativit. (Islam et al. , 2. Dalam kerangka filosofis, pemikiran pendidikan Al-Ghazali menjadi sangat relevan untuk diintegrasikan dalam paradigma pendidikan dasar Society 5. Al-Ghazali menekankan pentingnya harmonisasi antara spiritualitas . , moralitas . , dan ilmu pengetahuan (Aoilmiyya. sebagai kunci pembentukan manusia paripurna di tengah kemajuan teknologi (Prastowo & Daraini, 2. Prinsip ini memberikan dasar filosofis bahwa pendidikan sejati tidak boleh berhenti pada penguasaan aspek kognitif dan teknologis semata, tetapi harus menumbuhkan potensi ruhani dan moral agar manusia mampu menggunakan ilmu pengetahuan secara etis dan bertanggung jawab (Latifah, 2. Dengan demikian, pendidikan karakter dan spiritualitas menjadi fondasi penting untuk mengendalikan moralitas di tengah masyarakat digital yang serba cepat (Kurniawan, 2. Integrasi nilai-nilai Al-Ghazali memberikan arah baru bagi desain pendidikan dasar yang seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual (Winda Sri Handayani. Ninda Alfia. Endang Fauziati, 2. Integrasi pemikiran Al-Ghazali dalam sistem pendidikan modern menuntut pembaruan kurikulum yang menggabungkan nilai moral, spiritual, dan penguasaan teknologi informasi. Pendidikan harus diarahkan pada pembentukan manusia yang tidak hanya cerdas digital, tetapi juga beretika dan berakhlak mulia (Sahar, 2. Pendekatan ini dapat diwujudkan melalui pembelajaran berbasis karakter, penguatan literasi digital, serta pembiasaan nilai-nilai spiritual dalam kegiatan belajar. Dalam praktiknya, guru berperan sebagai fasilitator yang tidak hanya mentransfer pengetahuan teknologi, tetapi juga menanamkan kesadaran moral dalam penggunaannya (Syaiful & Anam, 2. Hal ini sejalan dengan semangat pendidikan Al-Ghazali yang menempatkan akhlak sebagai puncak dari segala ilmu dan amal (Basori et al. , 2. Dengan demikian, pendidikan berbasis pemikiran Al-Ghazali dapat menjadi solusi atas krisis moral dan degradasi spiritual akibat penggunaan teknologi tanpa kendali nilai. Melalui pendidikan yang menekankan keseimbangan antara spiritualitas, moralitas, dan pengetahuan, generasi muda dapat dibentuk menjadi pribadi berintegritas, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kemaslahatan (Sahar, 2. Tabel berikut menyajikan perbandingan antara konsep pendidikan Al-Ghazali dengan relevansinya terhadap pendidikan dasar di era Society 5. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Tabel 1. Relevansi pemikiran pendidikan Al-Ghozali dengan Pendidikan Dasar Era Society Aspek Pemikiran Pendidikan AlRelevansi dengan Pendidikan Ghazali Dasar Era Society 5. Tujuan Pembentukan manusia Menumbuhkan peserta didik yang Pendidikan paripurna . nsan kami. cerdas digital sekaligus melalui keseimbangan berkarakter, berempati, dan antara akal, hati, dan akhlak. berlandaskan nilai kemanusiaan. Dimensi Harmonisasi antara Menyeimbangkan penguasaan Utama spiritualitas . , teknologi dengan penguatan moralitas . , dan karakter, etika, dan spiritualitas pengetahuan (Aoilmiyya. dalam pembelajaran. Peran Guru Guru sebagai murabbi Guru menjadi fasilitator dan . endidik spiritual dan teladan moral-spiritual dalam mora. , bukan sekadar penggunaan teknologi secara bijak penyampai ilmu. dan bertanggung jawab. Metode Pembiasaan, keteladanan. Pembelajaran berbasis karakter Pendidikan dan penguatan nilai-nilai dan project-based learning yang akhlak dalam setiap proses mengintegrasikan nilai etika dengan inovasi digital. Orientasi Ilmu harus membawa Teknologi dan sains digunakan Ilmu manfaat dan mendekatkan untuk kemaslahatan manusia Pengetahuan manusia kepada kebenaran serta menjaga nilai-nilai dan Tuhan. kemanusiaan dalam inovasi Pembentukan Penekanan pada akhlak Penguatan soft skills seperti Karakter sebagai puncak dari seluruh empati, tanggung jawab, dan proses pendidikan. kolaborasi sebagai nilai utama pendidikan abad ke-21. Nilai Dasar Pendidikan sebagai sarana Pendidikan humanis yang Pendidikan penyucian jiwa dan menumbuhkan kesadaran moral pengembangan potensi dan spiritual di tengah kemajuan Tujuan Akhir Mewujudkan manusia Membangun generasi yang unggul berilmu, beriman, dan secara digital, berkarakter kuat, berakhlak mulia. dan berjiwa humanis sesuai visi Society 5. Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pendidikan Al-Ghazali tetap relevan dan kontekstual dalam menghadapi dinamika pendidikan di era Society 5. Nilai-nilai spiritual, moral, dan kemanusiaan yang digagasnya menjadi fondasi penting untuk menyeimbangkan kecerdasan digital dengan karakter yang berakhlak mulia. Dengan demikian, pendidikan dasar di era modern tidak hanya berorientasi pada kecakapan teknologi, tetapi juga pada pembentukan manusia seutuhnya yang berjiwa etis, berempati, dan bertanggung jawab terhadap kemajuan peradaban. AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Relevansi pemikiran Al-Ghazali semakin nyata ketika dunia pendidikan modern cenderung mengabaikan dimensi moral dalam mengejar capaian akademik dan kompetensi Mengintegrasikan konsep pendidikan Al-Ghazali dalam konteks Society 5. 0 berarti mengembalikan ruh spiritual dalam sistem pendidikan yang kini didominasi oleh rasionalitas teknologi (Zamhariroh et al. , 2. Pendekatan ini menuntut sinergi antara penguasaan ilmu pengetahuan modern dan penanaman nilai-nilai Islam seperti kejujuran, amanah, kerja keras, dan tanggung jawab sosial (Basori et al. , 2. Pendidikan yang ideal bukan hanya menghasilkan generasi unggul secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, berempati sosial, serta sadar akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Melalui harmonisasi antara spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan sebagaimana diajarkan Al-Ghazali, sistem pendidikan dasar masa depan dapat melahirkan manusia yang tidak hanya kompeten menghadapi tantangan global, tetapi juga memiliki keteguhan iman dan kebijaksanaan moral dalam memanfaatkan teknologi demi kemaslahatan bersama (Syaiful & Anam, 2. Dengan demikian, karakteristik pendidikan dasar era Society 5. 0 mencakup orientasi pada kemanusiaan, integrasi teknologi yang beretika, pembelajaran yang personal dan berdiferensiasi, penguatan karakter Pancasila, serta penanaman budaya belajar sepanjang hayat (Maharani Ritonga. Rinny Sartika, 2. Kerangka konseptual ini menunjukkan bahwa pilar-pilar pendidikan menurut Al-Ghazali spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan tetap relevan sebagai dasar filosofis dalam membangun pendidikan dasar yang humanis, adaptif, dan berkelanjutan (Prastowo & Daraini, 2. Pendidikan dasar di era ini tidak hanya bertujuan melahirkan generasi yang cakap teknologi, tetapi juga generasi yang berkarakter, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial, sejalan dengan visi UNESCO tentang pendidikan yang memanusiakan manusia serta menyiapkan generasi pembelajar sepanjang hayat (Harahap et al. , 2. Komparasi Konsep Pendidikan Al-Ghazali Dan Ibnu Miskawaih Pemikiran pendidikan Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih merupakan dua kontribusi penting dalam khazanah filsafat pendidikan Islam klasik yang memiliki fokus utama pada pembentukan akhlak dan penyempurnaan jiwa manusia (Ach. Nurholis Majid, 2. Keduanya menempatkan pendidikan sebagai proses integral yang tidak hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga dimensi moral dan spiritual. Dalam pandangan mereka, manusia tidak akan mencapai kesempurnaan hakiki tanpa pendidikan akhlak yang berlandaskan pada keseimbangan antara akal, jiwa, dan perilaku (Hanifah & Bakar, n. Baik Al-Ghazali maupun Ibnu Miskawaih memandang tujuan akhir pendidikan sebagai upaya untuk mencapai kebahagiaan sejati . aAoada. , yakni kebahagiaan yang bersumber dari kedekatan dengan Allah dan kemampuan mengendalikan hawa nafsu demi kemaslahatan diri serta masyarakat (Ach. Nurholis Majid, 2. Al-Ghazali menempatkan pendidikan sebagai proses penyucian jiwa . azkiyatun naf. dan pembentukan akhlak mulia melalui pendekatan religius dan spiritual. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak akan bermanfaat tanpa disertai dengan amal dan Pendidikan sejati bertujuan untuk membentuk manusia yang mampu mengenal Allah, berakhlak baik, dan menempatkan ilmu sebagai jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat (Al-Ghazali, 2. Ia menolak pendidikan yang hanya berorientasi pada transfer ilmu atau keterampilan duniawi semata. Dalam kerangka pendidikan dasar, konsep AlGhazali mengedepankan peran guru sebagai teladan moral, pembimbing spiritual, serta AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . pengarah perilaku yang berlandaskan kasih sayang, keikhlasan, dan kesabaran (Basori et , 2. Ia menekankan metode pembelajaran melalui keteladanan, pembiasaan amal baik, nasihat, dan muhasabah diri. Dengan demikian. Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses transformasi batin yang mengantarkan manusia menuju kesempurnaan moral dan spiritual (Latifah, 2. Sementara itu. Ibnu Miskawaih menekankan pendekatan rasional dan psikologis dalam pendidikan akhlak. Dalam karyanya Tahdzib al-Akhlak wa Tathir al-AAoraq, ia menegaskan bahwa pendidikan merupakan proses pembentukan karakter melalui kebiasaan baik . abit formatio. yang dilakukan secara berulang hingga menjadi sifat tetap dalam jiwa. Baginya, akhlak tidak semata-mata hasil dari ilham spiritual, tetapi merupakan hasil latihan moral yang berkelanjutan dan berbasis rasionalitas (Hanifah & Bakar, n. memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berkembang ke arah kebaikan melalui pengendalian hawa nafsu dan penggunaan akal secara seimbang. Oleh karena itu, pendidikan dalam pandangan Ibnu Miskawaih berfokus pada penataan jiwa . ahdzib al-naf. , penumbuhan kebajikan melalui latihan, dan pembentukan watak yang moderat . l-wasathiyya. Ia memandang bahwa kebahagiaan sejati dapat dicapai melalui keseimbangan antara akal, nafsu, dan keberanian yang dikendalikan oleh kebijaksanaan . (Fauzani, n. Dari segi persamaan. Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih sama-sama berpandangan bahwa pendidikan akhlak merupakan inti dari seluruh proses pendidikan. Keduanya menolak pandangan yang menitikberatkan pendidikan hanya pada aspek intelektual atau Mereka juga sepakat bahwa pendidikan harus diarahkan pada pembentukan karakter dan keseimbangan jiwa agar manusia dapat hidup secara harmonis dengan dirinya, masyarakat, dan Tuhannya. Persamaan lain terletak pada pandangan bahwa akhlak dapat dibentuk melalui latihan dan bimbingan moral yang konsisten, serta perlunya peran guru sebagai pembimbing dan teladan. Namun, perbedaan utama terletak pada titik tekan pendekatan yang digunakan. Al-Ghazali menekankan pendekatan spiritual dan sufistik yang berorientasi pada hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Ibnu Miskawaih menonjolkan pendekatan rasional dan etis yang berakar pada filsafat Yunani, khususnya pemikiran Aristoteles tentang virtue ethics (Ach. Nurholis Majid, 2. Tabel 2. Komparasi Konsep Pendidikan Al-Ghazali Dan Ibnu Miskawaih Aspek Utama Al-Ghazali Ibnu Miskawaih Fokus Penyucian dan Pembentukan karakter melalui Pendidikan pembentukan akhlak melalui kebiasaan baik dan rasionalitas pendekatan spiritual Tujuan Kebahagiaan dunia-akhirat Kebahagiaan melalui kedekatan dengan Allah keseimbangan akal dan nafsu Pendekatan Religius dan sufistik Rasional dan etis Metode Keteladanan, pembiasaan. Latihan moral dan pembentukan nasihat, muhasabah diri Implikasi Pendidikan berpusat pada moral Pendidikan berorientasi karakter Pendidikan dan spiritual rasionalModern AL IBTIDAIYAH. Vol. No. 02, . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih saling melengkapi dalam membentuk paradigma pendidikan Islam yang utuh. Al-Ghazali memberikan dimensi transendental dan spiritual yang menuntun manusia menuju kesalehan dan penyucian jiwa, sedangkan Ibnu Miskawaih memperkuatnya dengan pendekatan rasional dan psikologis yang membentuk kebiasaan moral secara praktis. Integrasi antara keduanya menghasilkan konsep pendidikan ideal yang memadukan dimensi intelektual, moral, dan spiritual secara seimbang. Dalam konteks pendidikan modern, gagasan kedua tokoh ini tetap relevan untuk membangun sistem pendidikan yang tidak hanya mencetak individu cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan global di era Society 5. KESIMPULAN Konsep pendidikan Al-Ghazali tetap memiliki relevansi yang kuat dan bahkan semakin signifikan dalam menghadapi dinamika era Society 5. Integrasi antara spiritualitas, moralitas, dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi penting untuk menjawab tantangan pesatnya kemajuan teknologi yang kerap menggeser nilai-nilai kemanusiaan. Pendidikan tidak semestinya hanya menitikberatkan pada aspek kognitif dan digitalisasi, tetapi harus berfungsi sebagai wahana pembentukan karakter melalui penanaman etika, empati, dan tanggung jawab sosial agar manusia mampu memanfaatkan teknologi secara arif dan bermartabat. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai figur sentral yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan moral dan spiritual bagi peserta didik untuk tumbuh sebagai pribadi beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Dengan demikian, harmonisasi antara nilai-nilai spiritual, moral, dan intelektual sebagaimana diajarkan Al-Ghazali perlu dijadikan dasar bagi pengembangan paradigma pendidikan yang humanis dan berperadaban. Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi yang unggul secara digital dan ilmiah, sekaligus berjiwa luhur dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Oleh karena itu, pendidikan berlandaskan filsafat AlGhazali dapat menjadi solusi strategis dalam membentuk manusia seutuhnya manusia yang tidak hanya siap menghadapi tantangan global di era Society 5. 0, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai spiritual serta DAFTAR PUSTAKA