Analisis Struktur Naratif Cerpen Sepasang Sepatu Tua Karya Sapardi Djoko Damono Menurut Teori Tzevetan Torodov (Analysis of the Narrative Structure of Sapardi Djoko Damono's Pair of Old Shoes According to Tzevetan Torodov's Theor. 1Annisa Tush Sholihah*, 2Sophia Rahmawati Corresponding Author: * tushannisa@gmail. Universitas Jambi. Indonesia Article history Received 21 April 2025 Revised 04 Mei 2025 Accepted 31 Mei 2025 Abstract This study aims to analyze the narrative structure of the short story Sepasang Sepatu Tua (A Pair of Old Shoe. by Sapardi Djoko Damono using Tzvetan TodorovAos narrative theory. This theory divides a storyAos plot into three main stages: initial equilibrium, disruption, and new equilibrium. The method used is descriptive qualitative, with literary text analysis carried out through close This research focuses on how the narrative structure is shaped through the emotional transitions of the main character and the symbolic function of an objectAispecifically, a pair of old shoes that holds deep personal meaning. The findings reveal that the storyAos conflict is psychological and symbolic, expressed through a calm and contemplative narrative tone. The initial equilibrium represents emotional stability, the disruption emerges from inner conflict and memory of loss, and the new equilibrium is achieved through acceptance and reflection. This study shows that TodorovAos theory can be flexibly applied to short stories that emphasize introspection and symbolism over chronological action. The research contributes to the understanding of narrative structures in literary texts that highlight emotional depth, symbolic meaning, and inner transformation. Keywords: narrative structure, short story. Todorov, symbolism. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur naratif dalam cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono dengan menggunakan teori naratif Tzvetan Todorov. Teori ini membagi alur cerita menjadi tiga tahapan utama, yaitu: ekuilibrium awal, gangguan, dan ekuilibrium baru. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis teks sastra melalui pembacaan mendalam. Fokus penelitian ini terletak pada bagaimana struktur naratif dibentuk melalui transisi emosi tokoh utama dan simbolisasi benda, khususnya sepasang sepatu tua yang menjadi pusat makna dalam cerita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik dalam cerpen ini bersifat psikologis JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. dan simbolik, serta disampaikan melalui narasi yang tenang dan kontemplatif. Ekuilibrium awal mencerminkan stabilitas batin, konflik hadir melalui pergulatan terhadap kenangan dan kehilangan, dan ekuilibrium baru tercapai melalui penerimaan Penelitian ini menunjukkan bahwa teori Todorov dapat digunakan secara fleksibel dalam analisis cerpen pendek yang lebih menekankan refleksi dan makna simbolik dibandingkan kronologi peristiwa. Temuan ini memberikan kontribusi dalam pemahaman struktur naratif teks sastra yang bersifat emosional, reflektif, dan simbolis. Kata Kunci: struktur naratif, cerpen. Todorov, simbolisme, emosi PENDAHULUAN Sastra merupakan refleksi pengalaman manusia yang dituangkan dalam bahasa yang estetis dan imajinatif. Sebagaimana dinyatakan oleh Damono . Nensiliani . , sastra hadir sebagai upaya manusia untuk memahami dirinya dan dunianya melalui simbol, cerita, dan ekspresi artistik. Dalam hal ini, karya sastra berfungsi sebagai sarana komunikasi antara pengarang dan pembaca serta menyimpan nilai-nilai budaya, sosial, dan psikologis yang hidup dalam masyarakat (Nurgiyantoro, 2. Melalui bahasa kiasan, simbol, dan tokoh fiktif, sastra mencerminkan kompleksitas batin manusia dalam menghadapi kehidupan (Ratna, 2. Hal ini memperlihatkan bahwa sastra tidak sekadar hiburan, melainkan wahana kontemplasi dan penyampaian pengalaman eksistensial (Endraswara, 2021. Marzatillah, 2024. Saputra, 2. Cerpen sebagai salah satu bentuk karya sastra meiliki kekhasan dalam menyampaikan konflik dan emosi tokoh melalui narasi yang padat namun bermakna. Cerita pendek bertujuan untuk menambah rasa penghargaan peserta didik terhadap karya sastra (Wulandari, dkk. Iskandar, dkk. Amalia, dkk. Menurut Tarigan . , cerpen adalah bentuk prosa naratif fiktif yang cenderung langsung pada pokok persoalan dan memusatkan diri pada satu peristiwa atau konflik utama. Sementara itu. Pradopo . menambahkan bahwa cerpen memiliki intensitas tinggi karena keterbatasan ruang narasi memaksa pengarang untuk merumuskan pengalaman yang dalam dalam jumlah kata yang Oleh karena itu, cerpen menjadi sarana yang efektif untuk menyingkap dinamika psikologis tokoh, terutama melalui pendekatan struktural dan simbolik. Cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono merupakan contoh karya yang menonjol karena kekuatan simboliknya. Sebagaimana yang dikemukakan Silitonga . setiap karyanya memiliki keistimewaan pada setiap ceritanya dan banyak pelajaran dan keunggulan pada setiap cerpen Sapardi Djoko Damono salah satunya cerpen yang berjudul Sepasang Sepatu Tua. Tokoh utama dalam cerita ini bergulat secara batin dengan makna kehilangan, waktu, dan kenangan yang dilekatkan pada sepasang sepatu tua. Sejalan dengan itu. Supriyadi dan Laili . menyatakan bahwa simbol dalam cerpen modern sering menjadi pusat gravitasi emosional yang mengandung makna laten dan refleksi batin tokoh. Simbol-simbol seperti sepatu tua dalam karya ini berfungsi bukan sekadar sebagai objek, tetapi sebagai pemantik ingatan dan pergolakan batin (Faruk, 2. Untuk menganalisis struktur naratif cerpen ini, digunakan pendekatan teori naratologi Tzvetan Todorov. Menurut Todorov . , narasi pada dasarnya memiliki struktur universal yang terdiri atas tiga tahap utama, yakni ekuilibrium awal, gangguan, dan ekuilibrium baru. Model ini memberikan kerangka kerja dalam memahami perubahan situasi dan transformasi tokoh dalam alur cerita. Hal ini sejalan dengan pandangan Abrams dan Harpham . yang menyebutkan bahwa struktur naratif membantu mengungkap logika internal dalam perkembangan cerita dan relasi antarperistiwa secara sistematis. JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. Penulisan artikel ilmiah seperti ini tidak hanya menuntut pemahaman teori sastra, tetapi juga ketepatan dalam menyampaikan gagasan secara akademik. Rahmawati et al. Mahmudi . menyatakan bahwa struktur tulisan ilmiah harus disusun secara logis, runtut, dan argumentatif agar gagasan tersampaikan secara efektif. Selain itu, penggunaan kalimat yang efektif dan tidak bertele-tele sangat penting agar pembaca dapat memahami informasi dengan cepat dan tepat . Selaras dengan itu. Gani . menekankan bahwa penyajian ilmiah harus menggunakan bahasa formal, padat, dan konsisten dengan konvensi akademik agar dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Pemilihan diksi yang tepat juga menjadi unsur penting dalam penulisan ilmiah. Dalam konteks cerpen yang sarat simbol, kemampuan menyampaikan interpretasi simbolik dengan bahasa yang akurat menjadi sangat krusial. Rahmawati et al. menegaskan bahwa diksi dalam tulisan ilmiah harus sesuai dengan konteks dan tujuan agar makna tidak menyimpang dari pesan yang dimaksud . Dalam konteks ini. Sobur . menambahkan bahwa kekuatan ilmiah terletak pada presisi dan kejelasan istilah, terutama ketika menafsirkan teks sastra yang kompleks. Penelitian sebelumnya telah mengaplikasikan teori Todorov dalam berbagai objek kajian sastra, seperti cerpen, novel, hingga film pendek. Kusumawardani dan Prasetya . menggunakan teori ini untuk menganalisis struktur alur dalam film pendek, sedangkan Ratnasari dan Andriani . meneliti kumpulan cerpen remaja dan menemukan bahwa konflik batin menjadi unsur dominan dalam narasi. Ini menunjukkan fleksibilitas teori Todorov untuk diterapkan pada teks pendek maupun panjang. Namun, berbeda dari penelitian Maria Theresia Cornelia Mare et al. dalam artikel Analisis Struktur Naratif Novel Lamafa Karya Fince B. Bataona, yang berfokus pada dinamika peristiwa dan struktur linier antar bab dalam novel, penelitian ini menggunakan pendekatan berbeda. Penelitian ini tidak menitikberatkan pada kronologi peristiwa, tetapi lebih pada transisi emosional tokoh dan simbolisasi objek dalam cerita. Dengan menerapkan teori Todorov pada Sepasang Sepatu Tua, artikel ini bertujuan menawarkan perspektif baru dalam analisis struktur naratif, terutama pada teks pendek yang sarat refleksi dan simbolik. Sementara itu, penelitian ini mengambil arah yang berbeda. Cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono tidak dianalisis berdasarkan pembabakan atau kronologi peristiwa, melainkan melalui pendekatan psikologis dan simbolis yang fokus pada transisi emosional tokoh utama dan simbolisasi benda sebagai pemicu konflik dan resolusi (Akbar. Pratiwi, 2. Struktur naratif dalam cerpen ini dianalisis dengan mempertimbangkan bagaimana perubahan batin tokoh utama mencerminkan tahapan ekuilibrium Todorov, bukan semata-mata berdasarkan urutan kejadian. Dengan pendekatan ini, artikel ini menawarkan perspektif baru dalam penerapan teori Todorov, terutama untuk teks-teks pendek yang kaya akan makna reflektif dan simbolik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menganalisis struktur naratif cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono berdasarkan teori Tzvetan Todorov. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menelaah data berupa teks sastra yang mengandung makna simbolik, emosi, dan struktur naratif yang Penelitian kualitatif memungkinkan peneliti untuk menggali makna yang tersembunyi di balik peristiwa dan emosi tokoh, serta bagaimana makna tersebut dibangun melalui alur cerita (Sugiyono, 2. Metode deskriptif dalam penelitian ini berfungsi untuk menggambarkan dan menjelaskan struktur naratif cerpen secara sistematis berdasarkan tiga tahapan yang dikemukakan oleh Todorov, yakni: . ekuilibrium awal, . gangguan atau konflik, dan . ekuilibrium baru. Menurut Moleong . , penelitian deskriptif kualitatif tidak berusaha mencari generalisasi, tetapi lebih menekankan pada pemahaman mendalam terhadap objek yang diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada satu karya tunggal yang dianalisis secara mendalam dan terperinci. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah teks cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono yang dimuat dalam kumpulan cerpen terbitan Pustaka Utama. Data yang dikaji berupa narasi, dialog, dan deskripsi yang relevan dengan struktur naratif dan JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. transisi emosional tokoh utama. Peneliti melakukan pembacaan berulang, pencatatan kutipan penting, dan pengklasifikasian data berdasarkan tahapan struktur Todorov. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan utama: . reduksi data, yaitu pemilihan bagian teks yang mengandung unsur naratif yang relevan. penyajian data, yaitu menyusun kutipan-kutipan teks sesuai dengan tahapan naratif. penarikan kesimpulan, yakni menyusun hasil temuan sesuai pola naratif Todorov dan menginterpretasikan makna emosional serta simbolik dalam teks (Miles. Huberman, & Saldaya, 2. Dengan metode ini, penelitian diharapkan dapat memberikan pemahaman baru mengenai cara narasi dalam cerpen merepresentasikan konflik batin dan simbolisasi, khususnya dalam teks sastra pendek yang minim dialog namun kaya makna. HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur naratif cerpen Sepasang Sepatu Tua dianalisis berdasarkan tiga tahapan naratif menurut Tzvetan Todorov, yakni: . ekuilibrium awal, . gangguan atau konflik, dan . ekuilibrium baru. Setiap tahapan diidentifikasi berdasarkan pergeseran psikologis tokoh utama dan makna simbolik dari benda yang menjadi pusat cerita, yaitu sepatu tua. Ekuilibrium Awal Tahapan ini memperlihatkan kehidupan tokoh utama dalam keadaan biasa atau stabil, sebelum terjadi gangguan. Dalam cerpen ini, ekuilibrium awal tampak pada suasana batin tokoh yang sedang duduk memandangi sepasang sepatu tua yang telah lama menemaninya. Tindakan tersebut bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan refleksi diam-diam atas masa lalu. AuAku duduk di lantai, di depan lemari tempat sepatu-sepatu disimpan. Di antara semua sepatu itu, ada sepasang sepatu tua yang warnanya sudah pudar. Ay Sepatu menjadi simbol dari kenangan, perjalanan, dan identitas tokoh. Dalam tahap ini, narasi menggambarkan suasana yang tenang dan melankolis. Tokoh tampak larut dalam suasana batin yang datar, meskipun perlahan mulai menggali memorinya sendiri. Hal ini menandai ekuilibrium awal yang lebih bersifat emosional ketimbang peristiwa fisik. Keseimbangan ini hadir dalam bentuk rutinitas dan hubungan diam-diam dengan masa lalu yang belum disadari sepenuhnya oleh tokoh. Menurut Ratnasari dan Andriani . , narasi fiksi tidak selalu dibuka dengan peristiwa besar atau dramatis, tetapi bisa dimulai dari suasana psikologis yang netral untuk kemudian digoyahkan oleh konflik simbolik yang perlahan-lahan muncul. AuAku duduk di lantai, di depan lemari tempat sepatu-sepatu disimpan. Ay Kutipan ini mengawali struktur naratif dengan tindakan yang sangat sederhana. Namun, gaya puitis Sapardi mengubahnya menjadi pintu masuk ke ruang batin tokoh. Frasa Aududuk di lantaiAy bukan sekadar posisi tubuh Ai ia adalah simbol puitik atas kerendahan diri dan keterasingan Sapardi tidak memakai narasi ekspositori, tetapi membangun dunia emosional melalui visual diam. Pemilihan diksi yang minimalis justru memperkuat suasana batin yang penuh tekanan Ini adalah bentuk ekuilibrium yang sangat khas Sapardi: seimbang secara luar, tapi berlapis emosi secara dalam. Inilah keunikan puitisnya Ai dia memanfaatkan AudiamAy untuk membentuk ketegangan. AuDi antara semua sepatu itu, ada sepasang sepatu tua yang warnanya sudah pudar. Ay Kata AupudarAy menjadi metafora waktu dan memori. Gaya Sapardi tidak eksplisit menyatakan AukenanganAy, tapi ia menanamkannya ke dalam citraan benda. Inilah kekuatan puitis: bukan menjelaskan, tapi menghadirkan. Warna sepatu yang pudar bukan hanya soal visual Ai ia adalah metonimi dari hubungan, cinta, masa lalu. Dalam struktur Todorov, ekuilibrium awal biasanya adalah kondisi stabil. Tapi Sapardi memanfaatkan gaya puitis untuk menekankan bahwa AukestabilanAy ini semu, karena diam-diam Dengan demikian, puitisasi Sapardi bukan sekadar ornamen estetika, tapi elemen struktural: ia membangun ketegangan dari keheningan. JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. Gangguan atau Konflik Tahapan ini terjadi ketika keseimbangan awal mulai terganggu, ditandai dengan konflik internal tokoh. Dalam cerpen ini, gangguan muncul dari benturan batin antara keinginan untuk melepas masa lalu dan keterikatan mendalam terhadap sepatu tua tersebut. Sepatu itu tak hanya sekadar benda, melainkan simbol kenangan bersama seseorang yang sangat dicintainya, kemungkinan besar pasangan hidupnya yang telah tiada. AuAku tak tega membuangnya. Sepatu itu seperti berbicara padaku. Mereka tahu kemana saja kami pergi, tahu saat kami tertawa, tahu saat kami terdiam begitu Ay Kutipan tersebut menegaskan bahwa konflik yang dihadapi tokoh adalah psikologis dan simbolik: bagaimana seseorang berdamai dengan waktu, kehilangan, dan kenangan. Perasaan bersalah, rindu, dan kehilangan menjadi sumber ketegangan emosional yang mengacaukan kestabilan batin tokoh. Menurut Supriyadi dan Laili . , dalam cerpen modern. Aubenda-benda sering kali memainkan fungsi simbolik untuk menghadirkan trauma atau kehilangan secara tidak langsung, melalui narasi yang puitis namun menggugah. Ay Dalam konteks ini, sepatu menjadi perpanjangan dari eksistensi tokoh dan orang yang sudah tidak ada. Konflik bukan disebabkan oleh tokoh lain, melainkan oleh tokoh itu sendiri yang tidak sanggup melepaskan kenangan. Ini menjadikan gangguan dalam cerita sepenuhnya bersifat internal dan reflektif. Konflik batin seperti ini menurut Kusumawardani dan Prasetya . , adalah bentuk naratif yang makin sering ditemui dalam cerpen kontemporer yang tidak lagi mengandalkan konflik eksternal, melainkan krisis eksistensial yang tenang namun dalam. Cerpen ini pun tidak menunjukkan letupan emosi yang besar, tetapi justru mengusung tekanan psikologis dalam ruang yang hening dan minim dialog. AuAku tak tega membuangnya. Ay Kata Autak tegaAy menyimpan konflik eksistensial dan Sapardi memilih menyampaikannya melalui kalimat pendek yang bermuatan batin sangat Gaya Sapardi selalu menolak dramatisasi verbal justru dari kesederhanaan inilah konflik menjadi lebih menyiksa. Puitisasi di sini tidak menyuarakan konflik, tapi membuat pembaca merasakannya lewat jeda dan isyarat. AuSepatu itu seperti berbicara padaku. Ay Di sini gaya bahasa puitis tidak sekadar memperindah, melainkan menghidupkan kenangan. Personifikasi ini bukan hiasan, melainkan teknik naratif yang menunjukkan keterhubungan emosional sedalam-dalamnya antara tokoh dan benda. Sapardi mengaburkan batas antara nyata dan batin, antara luar dan dalam, antara objek dan jiwa. Gaya puitis ini membalik logika realitas Ai sepatu menjadi lebih hidup daripada tokohnya sendiri. Itulah gangguan dalam struktur Todorov yang disampaikan melalui mekanisme puitik. AuMereka tahu ke mana saja kami pergi, tahu saat kami tertawa, tahu saat kami terdiam begitu lama. Ay Repetisi di sini memiliki fungsi ganda: . menciptakan irama batin. menandai beban memori. Sapardi tidak ingin pembaca memahami konflik, ia ingin pembaca merasakan tekanan itu lewat suara dalam kata-kata. Gaya puitisnya menciptakan ruang gema, di mana setiap kata membawa gaung masa lalu. Repetisi ini memperpanjang waktu emosional dalam struktur naratif: konflik tidak lewat aksi, tapi lewat pengulangan rasa. Dengan demikian, gaya bahasa puitis bukan pendamping konflik, tapi perangkat utama yang membuat tahap gangguan menjadi bisa ditangkap secara emosional, bukan intelektual. Ekuilibrium Baru Tahapan terakhir merupakan bentuk resolusi dari konflik batin. Dalam cerpen ini, ekuilibrium baru tampak ketika tokoh mulai menerima keberadaan sepatu tua itu bukan lagi sebagai beban masa lalu, tetapi sebagai bagian dari dirinya yang telah utuh. Dia tidak membuang sepatu itu, tetapi juga tidak menangisinya lagi. JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. AuAku mengembalikan sepatu itu ke rak, lalu menutup pintu lemari. Tak ada air Hanya sebuah tarikan napas yang sangat panjang. Ay Tarikan napas tersebut mengindikasikan pelepasan dan penerimaan. Tokoh tidak lagi tenggelam dalam kenangan, melainkan berhasil mencapai keseimbangan emosional yang baru. Dalam teori Todorov, inilah tahap pemulihan, di mana karakter menghadapi dan menerima Tokoh kembali ke keseimbangan, namun tidak lagi pada titik semula Ai ia telah berubah secara batiniah. Ekuilibrium baru dalam cerpen ini tidak diikuti dengan klimaks dramatis atau resolusi yang eksplisit. Sebaliknya, pembaca diajak menafsirkan keheningan sebagai bentuk Sapardi menyampaikan perubahan tokoh dengan sangat halus, melalui gerakan kecil seperti Aumenutup lemariAy atau Aumenarik napas panjangAy. Dalam hal ini, gaya penceritaan Sapardi sesuai dengan gagasan Lestari . bahwa Aucerpen kontemplatif tidak menyuguhkan perubahan besar dalam tindakan, melainkan dalam kesadaran batin tokohnyaAy. AuAku mengembalikan sepatu itu ke rak, lalu menutup pintu lemari. Ay Gestur ini minimalis, tapi Sapardi membuatnya menjadi klimaks. Gaya puitis hadir dalam simbolisasi diam Ai tidak ada kata Aumemaafkan,Ay tidak ada dialog, hanya tindakan kecil yang menyiratkan dunia batin yang telah berubah. AuMenutup pintu lemariAy adalah metafora pemulihan. Dalam struktur Todorov, ini adalah resolusi Ai dan Sapardi menyampaikannya tanpa satu pun kalimat penyelesaian eksplisit. Di sinilah kekuatan puisi dalam prosa: diam menjadi bahasa. AuTak ada air mata. Hanya sebuah tarikan napas yang sangat panjang. Ay Inilah kulminasi gaya puitis Sapardi: kesedihan terdalam ditandai bukan dengan tangisan, tetapi dengan napas Kalimat ini adalah titik balik batin tokoh. Gaya puitis mengubah bentuk ekspresi: emosi tidak diledakkan, tapi ditarik perlahan dan disimpan dalam tubuh pembaca. Tarikan napas menjadi struktur naratif tersendiri Ai ia menggantikan penuturan panjang dengan satu gestur universal. Sapardi secara sadar mengganti narasi penyelesaian dengan pengalaman pembaca. Gaya puitis membuat struktur Todorov menjadi bukan hanya alat analisis cerita, tapi juga alat Ekuilibrium baru tercapai bukan karena konflik hilang, tapi karena pembaca tahu: dalam napas itu, masa lalu diterima, dan hidup bisa berjalan lagi. SIMPULAN Cerpen Sepasang Sepatu Tua karya Sapardi Djoko Damono memiliki struktur naratif yang utuh berdasarkan teori Tzvetan Todorov, yang mencakup tahapan ekuilibrium awal, gangguan, dan ekuilibrium baru. Tahapan-tahapan ini terlihat dari ketenangan batin tokoh saat menghadapi sepatu tua, konflik batin karena ketidaksanggupan melepaskan kenangan, hingga akhirnya tercapainya penerimaan emosional sebagai bentuk penyelesaian. Narasi cerpen dibangun melalui simbolisasi benda dan transisi emosi tokoh, bukan berdasarkan kronologi peristiwa atau pembabakan seperti dalam artikel Lamafa. Dengan demikian, penelitian ini berbeda karena tidak menganalisis struktur per bab seperti pada novel, melainkan memusatkan perhatian pada perubahan psikologis tokoh dalam ruang narasi yang pendek dan kontemplatif. Hasil ini menunjukkan bahwa teori Todorov dapat diterapkan secara fleksibel untuk menelaah narasi pendek berbasis emosi dan simbol, serta memperkaya cara pembacaan terhadap cerpen sastra modern. JLA Vol. 4 No. Mei 2025, p. DAFTAR PUSTAKA