Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 Hubungan Pola Asuh Dengan Kejadian Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur Tahun 2025 The Relationship Between Parenting Patterns and the Incidence of Stunting in the Work Area of the Patianrowo Community Health Center Nganjuk Regency East Java Province in 2025 Dyah Tri Rahayu1,Fauzia Laili2 . Alfika Awatiszahro3*. Sri Inti4 . Fithri Rif'atul Himmah5 Mahasiswa Prodi Kebidanan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri 2,3,4,5 Dosen Prodi Kebidanan. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Kadiri *Corresponding : alfika90@unik-kediri. ABSTRAK Prevalensi stunting di Kabupaten Nganjuk berhasil diturunkan dari 20% pada tahun 2022 menjadi 17,1% pada tahun 2023 berdasarkan SSGI/SKI artinya stunting dikabupaten Nganjuk turun 2,9% namun belum sesuai dengan target nasional yaitu sebesar 14% oleh sebab itu stunting masih menjadi masalah yang perlu diatasi. Bulan Februari 2024 dari seluruh anak balita yang ditimbang dan diukur pada kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Kabupaten Nganjuk didapatkan 5,49% di antaranya tercatat mengalami Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Hubungan Pola Asuh dengan kejadian Stunting di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah inferensial kuantitatif. Populasi yang di teliti adalah seluruh balita usia 2-5 tahun berjumlah 60 balita dengan teknik simple random sampling di dapatkan sampel 52 Instrument penelitaian yang digunakan adalah lembar kuesioner dan kohort. Hasil penelitian kemudian dianalisis menggunakan spearman rank. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak mengalami stunting, rata-rata responden melakukan pola asuh demokratis. Hasil uji statistik didapatkan p-value 0. 033 ada hubungan antara kejadian stunting dengan pola asuh di Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian kecil responden mengalami stunting. Saran untuk peneliti selanjutnya hubungan pola makan dengan kejadian Kata kunci : Pola Asuh. Stunting. Balita ABSTRACT The prevalence of stunting in Nganjuk Regency has been successfully reduced from 20% in 2022 to 1% in 2023 based on SSGI/SKI, meaning that stunting in Nganjuk district has decreased by 2. 9%, but it is not in accordance with the national target of 14%, therefore stunting is still a problem that needs to be Article History: Received: August 11 ,2025. Revised: September 14, 2025. Accepted: October 19, 2025 Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 In February 2024, of all children under five who were weighed and measured at the Toddler Weighing Month (BPB) activity in Nganjuk Regency, 5. 49% of them were recorded as stunted. The purpose of this study is to determine the relationship between parenting and the incidence of stunting in the work area of the Patianrowo Health Center. Nganjuk Regency in 2025. The research design used is quantitative inferential. The population studied was all toddlers aged 2-5 years amounting to 60 toddlers with a simple random sampling technique obtained from a sample of 52 The research instruments used were questionnaire sheets and cohorts. The results of the study were then analyzed using spearman rank. The results of the study showed that most of the respondents did not experience stunting, on average respondents carried out democratic parenting. The results of the statistical test obtained a p value of 0. 033, there is a relationship between stunting incidence and parenting at the Patianrowo Health Center. Nganjuk Regency in 2025. The results of the study showed that a small percentage of respondents were stunted. Suggestions for researchers further the relationship between diet and stunting incidence. Keywords: Parenting. Stunting. Toddlers PENDAHULUAN Berdasarkan kesehatan pencegahan stunting. World Health Organization (WHO) 2020 prevalensi stunting di seluruh dunia sebesar 22% atau 149,2 juta Persentase status gizi balita pendek di Indonesia tahun 2021 mencapai 24,4% atau 5,33 juta balita. Berdasarkan hasil Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 24,4 %. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. Meskipun ada penurunan, angka stunting masih perlu diturunkan sesuai target nasional yaitu 14%. Kasus stunting di Jawa Timur pada tahun 2022 mencapai 23,5%. Prevalensi Kabupaten Nganjuk berhasil diturunkan dari 20% pada tahun 2022 menjadi 17,1% pada tahun 2023 SSGI/SKI dikabupaten Nganjuk turun 2,9% namun belum sesuai dengan target nasional yaitu sebesar 14% oleh sebab itu stunting masih menjadi masalah yang perlu diatasi. Bulan Februari 2024 dari seluruh anak balita yang ditimbang dan diukur pada kegiatan Bulan Penimbangan Balita (BPB) di Kabupaten Nganjuk didapatkan 5,49% di antaranya tercatat mengalami stunting. Dampak dari stunting adalah gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan pertumbuhan otak (Aryastami et al. , 2. Dampak stunting saat anak beranjak dewasa akan mudah terjangkit penyakit kronis seperti kanker, diabetes, stroke dan hipertensi (Khoiriyah et al. Selain itu dampak stunting dapat kembang anak yang bersifat menetap (Ernawati, 2. Berdasarkan tabel 1. 1 menunjukan bahwa angka kejadian stunting dalam 3 bulan mengalami penurunan namun belum signifikan. Bulan Maret tangka kejadian stunting 9,2%, bulan April 9,02% dan bulan Mei 8,9%. Salah satu faktor yang berpengruh pada kejadian stunting pada balita adalah pola asuh orang Pola asuh orang tua merupakan perilaku Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 dalam merawat ataupun menjaga anak yang meliputi memberikan air susu ibu, pemberian makanan pendamping, mengajarkan tata cara makan yang benar, memberikan makanan yang bernilai gizi tinggi, pemberian imunisasi untuk kekebalan tubuh balita sehingga asupan nutrisi dan kesehatan anak dapat terjaga dengan baik (Dranesia et al. , 2. Cara orang tua memperlakukan anaknya sangat dipengaruhi oleh pola asuhnya (Julianti & Jusmaeni, 2. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tuanya. Hasil penelitian Dayuningsih dkk 2020 menyatakan bahwa balita dari ibu dengan pola asuh pemberian makan yang kurang akan berisiko 6 kali lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita yang pola asuh makannya Proses perkembangan akan dipengaruhi oleh pola asuh yang digunakan orang tua terhadap anaknya. Menurut Latifah dkk. ,kualitas dan potensi perkembangan anak sendiri ditentukan oleh pola asuh tersebut dari orang tuanya . Orang tua yang rasional selalu mendasarkan keputusan dan tindakan mereka pada rasio atau pemikiran. Psikologi pemberian pola makan ada 4 macam. Pertama Feeding responsif yaitu orang tua peka terhadap tanda lapar/kenyang anak, memberi makan dengan sabar, tanpa paksaan, dan menciptakan suasana positif. Kedua Otoriter yaitu memaksa anak makan sesuai aturan orang tua, kurang memperhatikan sinyal anak. Ketiga permisif yaitu membiarkan anak memilih makan sesuka hati tanpa arahan gizi. Keempat Negligent yaitu kurang perhatian, jarang memantau jenis dan jumlah makanan anak. Meskipun status ekonomi orang tua baik tetap beresiko memiliki anak yang stunting. Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk meneliti tentang hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting Wilayah Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025. METODE Rancangan dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut :Berdasarkan lingkup penelitian termasuk jenis penelitian inferensial. Berdasarkan tempat penelitian termasuk jenis Berdasarkan pengumpulan data termasuk jenis penelitian cross sectional. Berdasarkan cara pengumpulan data termasuk jenis penelitian survey. Berdasarkan ada tidaknya perlakuan termaksut jenis expost facto . anpa perlakua. Berdasarkan termasuk analitik korelasi. Berdasarkan sumber data termasuk jenis data primer. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak usia 2-5 tahun di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 berjumlah 60 Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian anak usia 2-5 tahun di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025. Instrumen yang digunakan untuk kegiatan penelitian ini adalah kuesioner dan Uji statistik statistic non parametric yaitu dengan metode signifikan hubungan menggunakan uji Spearman Rank HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Usia Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Usia stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 Usia Frekuensi <20 dan >35 Tahun Prosentase (%) 20-35 Tahun Jumlah Berdasarkan tabel diatas rata-rata ibu di Wilayah Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 berada diusia produktif yaitu sebesar 29 . 8%). Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Pekerjaan Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Pekerjaan stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Pekerjaan IRT Swasta PNS Jumlah Frekuensi Prosentase (%) Berdasarkan tabel 2 rata-rata ibu di Wilayah Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga yaitu sebesar 26 . %). Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Pendapatan Frekuensi Dasar (SD-SMP) Prosentase (%) Menengah (SMA) Tinggi (D3-PT) Jumlah Berdasarkan tabel 3 rata-rata ibu di Wilayah Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 berpendidikan menengah (SMA) yaitu sebesar 29 . 8%). Karakteristik Responden Berdasarkan Kejadian Stunting Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Kejadian Stunting stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Kejadian Stunting Tidak Stunting Stunting Jumlah Frekuensi Prosentase (%) Berdasarkan tabel 4 rata-rata responden di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 tidak mengalami stunting yaitu sebesar 38 . 1%). Karakteristik responden Berdasarkan Pola Asuh Tabel 5 Distribusi Frekuensi Karakterisktik Responden Berdasarkan Pola Asuh stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Pola Asuh Demokratis Otoriter Permisif Jumlah Frekuensi Prosentase (%) Berdasarkan tabel 5 rata-rata responden di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 Nganjuk Tahun menerapkan pola sebesar 26 . %). demokratis yaitu Tabulasi Silang hubungan antara pola asuh dengan kejadian Stunting Tabel 6 Tabulasi Silang Pola Asuh dengan kejadian stunting di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Demokratis Otoriter Stunting Kejadian Stunting Tidak Stunting Total Permisif Total Pola Asuh r: 0. A-value : 0. Berdasarkan tabel 6 rata-rata ibu di wilayah Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun menerapkan pola asuh demokratis tidak mengalami stunting yaitu sebesar 22 . 3 %). Berdasarkan hasil uji satistik rank spearman didapatkan p value 0. 033 lebih kecil dari 0. artinya ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting. Berdasarkan nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0. 296 artinya kekuatan hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting berkorelasi positif dengan kekuatan hubungan lemah. PEMBAHASAN Kejadian Stunting di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Berdasarkan tabel 5. 5 data penelitian didapatkan hasil bahwa kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Patianworo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 sebesar 14 . Stunting terjadi disebabkan oleh kekurangan gizi kronis karena pemberian makan yang tidak sesuai dengan gizi seimbang yang dapat mengakibatkan asupan gizi kurang dan status gizi menurun. Pemenuhan gizi pada anak seharusnya dimulai dari 1. 000 hari pertama kehidupan yaitu mulai dari masa awal kehamilan hingga anak berusia 2 tahun, masa ini disebut Augolden ageAy atau Auwindow of OopurtinityAyyang pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada anak. Oleh karena itu. Stuntingdapat memperburuk kualitas hidup balita dan tumbuh kembang balita (Putri, 2. Achadi . bahwa stuntingpada dipengaruhi oleh faktor langsung seperti penyakit infeksi dan kekurangan asupan gizi balita, serta faktor tidak langsung seperti pengetahuan ibu yang rendah, praktik pola asuh anak, sanitasi lingkungan, dan ketahanan pangan rumah tangga yang tidak adekuat Pola Asuh Orangtua di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Berdasarkan tabel 5 data penelitian didapatkan hasil bahwa pola asuh orangtua di wilayah kerja Puskesmas Patianworo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 adalah jenis pola asuh Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Hendra et al. , 2. ada hubungan pola asuh dengan kejadian stunting diperoleh nilai p-value 0,007 artinya ada hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada balita. Pola asuh merupakan cara orang tua mendidik, membimbing, dan mengasuh anakanak mereka, yang mencakup bagaimana orang Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 tua berinteraksi, memberikan dukungan, dan menetapkan batasan. Pola asuh ini sangat penting karena dapat membentuk kepribadian, perilaku, dan perkembangan anak secara Pola asuh orang tua merupakan perilaku dalam merawat ataupun menjaga anak yang meliputi memberikan air susu ibu, pemberian makanan pendamping, mengajarkan tata cara makan yang benar, memberikan makanan yang bernilai gizi tinggi, pemberian imunisasi untuk kekebalan tubuh balita sehingga asupan nutrisi dan kesehatan anak dapat terjaga dengan baik (Dranesia et al. Pola asuh demokratis ditandai dengan adanya pengakuan orang tua terhadapa kemampuan anak. Pola asuh demokratis memungkinkan orang tua dan anak saling menyesuaikan diri dengan berbagai keadaan Hubungan antara pola asuh dengan Kejadian Stunting di Wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 Berdasarkan tabel rata-rata responden di wilayah kerja puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun menerapkan pola asuh demokratis tidak mengalami stunting yaitu sebesar 22 . 3 %). Berdasarkan hasil uji satistik rank spearman didapatkan p value 0. 033 lebih kecil dari 0. artinya ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting. Berdasarkan nilai koefisien korelasi yaitu sebesar 0. 296 artinya kekuatan hubungan antara pola asuh dengan kejadian stunting berkorelasi positif dengan kekuatan hubungan lemah. Dampak dari stunting adalah gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan pertumbuhan otak (Aryastami et al. , 2. Pada saat dewasa akan mudah terjangkit penyakit kronis seperti kanker, diabetes, stroke dan hipertensi (Khoiriyah et al. , 2. Selain itu dampak stunting dapat mengakibatkan kerusakan pada tumbuh kembang anak yang bersifat menetap (Ernawati, 2. Stunting merupakan kondisi dimana tinggi badan anak tidak sesuai dengan Kejadian dipengaruhi oleh pola asuh dari orang tua. Penelitian ini sejalan dengan penelitian (Hendra et al. , 2. ada hubungan pola asuh dengan kejadian stunting diperoleh nilai p-value 0,007. Kualitas pengasuhan yang diberikan oleh ibu berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak karena semakin baik pola asuh gizi yang diberikan maka angka kesakitan akan semakin rendah serta status gizi anak akan lebih (Hasanah et al. , 2. artinya ada hubungan pola asuh dengan kejadian stunting pada balita. Kualitas pengasuhan yang diberikan oleh ibu berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak karena semakin baik pola asuh gizi yang diberikan maka angka kesakitan akan semakin rendah serta status gizi anak akan lebih (Hasanah et , 2. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian (Batiro et al. ,2. bahwa anak dengan tinggi badan normal mendapatkan pola asuh yang baik dengan kebiasaan pemberian makan, pengasuhan, kebersihan dan pelayanan kesehatan yang baik sedangkan untuk balita stunting tidak mendapatkan pola asuh dengan Penelitian (Makori et al. , 2. terdapat pengaruh antara pola asuh nutrisi dan pemantauan kesehatan yang dilakukan oleh Jurnal Mahasiswa Kesehatan VOLUME 7 NOMOR 1 | OKTOBER 2025 | E-ISSN: 2686-5300 | P-ISSN: 27145409 orang tua pada anak usia 2-5 tahun terhadap kejadian stunting pada anak usia 2-5tahun. Peneliti berasumsi bahwa pola asuh Pertumbuhan dan perkembangan yang baik akan mencegah terjadinya stunting pada anak. KESIMPULAN DAN SARAN Sebagian besar respondn di di wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 tidak mengalami stunting. Sebagian besar orangtua di wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025 menerapkan Pola asuh demokratis. Ada hubungan yang signifikan antara pola asuh dengan kejadian stunting di wilayah kerja Puskesmas Patianrowo Kabupaten Nganjuk Tahun 2025. UCAPAN TERIMA KASIH