Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 RELEVANSI KEUTAMAAN SPRITUALITAS MATIRAGA VINSENSIAN TERHADAP PELAYANAN KATEKIS Chicentus Sixtusia Mira. Agustinus Wisnu Dewantara*) STKIP Widya Yuwana chicentussixtusiamira30@gmail. Penulis korespondensi, dewacm@widyayuwana. Abstract This research aims to find out the relevance of the virtue of Vincentian asceticism to the catechist. Catechist is a group of lay in the Catholic Church who involves themselves in all aspects of the church, example: take charge of teaching, accompaniment, and services to all the categorical groups, and liturgical. This research applies qualitative methods, the methodology based on the literature review that analyses data from books. Articles, from The Holy Bible, and documents . ibrary Researc. This method aims to find the relevant virtue of asceticism in the services of them in the Catholic Church, teaches, guides, and serves the faithful. As a catechist, there is a need for selfdenial and commitment. The result shown that the virtue of Vincentian Asceticism could help Catechists overcome the challenges in services. Additionally, it is also to deepen the spirituality of the catechist through preaching, living in the sacrament of the Eucharist, active in the church, faithfulness in the teaching. Keywords: asceticism. PENDAHULUAN Tuhan memanggil dan mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Injil yang menyelamatkan umat Israel dan seluruh bangsa. Hal ini selaras dengan Injil Lukas 9:1-2, di mana Yesus mengutus para murid-Nya untuk menaklukkan kuasa setan, menyembuhkan penyakit, serta memberitakan Kerajaan Allah. Perintah Yesus ini dilaksanakan dengan setia dan penuh semangat oleh para murid-Nya (Bahari, 2022:. Katekis adalah rasul awam yang dipanggil dan diutus oleh Yesus sendiri untuk mewartakan Kerajaan Allah atau kabar sukacita keselamatan Allah bagi manusia melalui Yesus Kristus. Tugas pewartaan tersebut diwujudkan melalui pengajaran iman, memimpin ibadat sabda, mendoakan orang sakit, serta memberi penguatan bagi umat yang mengalami kesulitan hidup. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa masih ada katekis yang kurang mampu menjalankan peran ini dengan baik karena berbagai faktor, seperti kesibukan pribadi, kurangnya Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pemahaman dan motivasi, maupun kelemahan manajemen paroki. Akibatnya, pembinaan iman umat sering kali tidak terlaksana secara optimal. Padahal, seorang katekis memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan Gereja, terutama dalam pewartaan dan pendalaman iman umat. Sebagai pengajar iman, seorang katekis dituntut menyampaikan ajaran Gereja Katolik secara benar dan jelas sesuai dengan Kitab Suci. Tradisi, dan Magisterium Gereja, sekaligus membimbing umat untuk menghayati serta mengamalkan iman dalam kehidupan sehari-hari (Manuk, 2019:. Dalam praktiknya, seorang katekis tentu menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan. Karena itu, dibutuhkan spiritualitas yang dapat meneguhkan dan memotivasi dalam menjalankan perutusan. Salah satu spiritualitas yang relevan ialah spiritualitas keutamaan matiraga Santo Vinsensius a Paulo. Spiritualitas ini menekankan pengorbanan, kerendahan hati, ketangguhan, dan kesetiaan dalam pelayanan. Sakakaddut & Dewantara . menjelaskan bahwa matiraga adalah usaha meneladani Kristus dengan mengosongkan diri di hadapan Allah, membiarkan rencana-Nya menguasai hati dan pikiran sehingga hidup dan pelayanan dijalani bukan atas kehendak pribadi, melainkan kehendak Allah. Dengan semangat ini, seorang katekis dipanggil untuk menyangkal diri dan memanggul salib setiap hari demi mengikuti Kristus . Mat. Bertolak dari pemikiran di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam relevansi spiritualitas keutamaan matiraga dalam pelayanan katekis, dengan fokus pada dua pertanyaan pokok, yaitu: . Apa yang dimaksud dengan katekis dan pewartaannya? Dan . Apa relevansi keutamaan matiraga Vinsensius terhadap pelayanan katekis?. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka, yakni penelitian yang mendalami konsepkonsep berdasarkan sumber tertulis seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, majalah, dan sumber lain yang relevan . Subadi, 2006:. II. PEMBAHASAN Kajian Teori Riwayat Hidup Santo Vinsensius Santo Vinsensius lahir pada tahun 1581 di Prancis dari keluarga petani sederhana, yang beruntung karena memperoleh pendidikan yang baik (Ponticelli, 2002: . Setelah menyelesaikan pendidikan sekundernya. Vinsensius melanjutkan studi di Universitas Toulouse dan berhasil meraih gelar Sarjana Teologi. Kehidupannya berubah drastis ketika ditawan bajak laut dan dijual sebagai Pengalaman pahit ini justru menjadi titik balik, karena melalui perjumpaannya dengan seorang pengajar iman yang membantunya melarikan diri. Vinsensius semakin menyadari panggilan hidupnya. Sekembalinya ke Prancis, dirinya memutuskan untuk mengabdikan hidupnya demi pelayanan bagi kaum Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 miskin dan terpinggirkan. Pada tahun 1600. Vinsensius ditahbiskan menjadi imam dan mulai terlibat dalam karya sosial di Paris. Panggilan Vinsensius semakin nyata ketika mendirikan Kongregasi Misi atau Lazaris pada tahun 1625, dengan tujuan mewartakan kasih Allah kepada kaum miskin di seluruh Prancis (Maloney, 1992:. Tak hanya itu. Vinsensius juga menjadi tokoh utama pendiri Kongregasi Puteri Kasih (Daughters of Charit. , yang berfokus pada pelayanan kaum miskin, khususnya dalam bidang kesehatan dan pendidikan (Pujo, 2007:. Hidupnya yang penuh pengorbanan dan dedikasi menjadikannya salah satu figur yang paling dihormati dalam sejarah Gereja Katolik. Bagi Vinsensius, pelayanan kepada kaum miskin bukan sekadar aksi sosial, melainkan ekspresi iman yang mendalam. Vinsensius percaya bahwa mengasihi orang miskin sama dengan mengasihi Allah, sebab pelayanan itu adalah wujud nyata pengabdian kepada-Nya (Riyanto, 2012:. Vinsensius selalu memandang orang miskin bukan sebagai objek bantuan, melainkan sebagai saudara seiman yang memiliki martabat sama di hadapan Allah (Ponticelli, 1996:. Keyakinan inilah yang menggerakkan Vinsensius untuk membantu kaum papa, melindungi bayi yang dibuang, dan memberikan perhatian penuh bagi mereka yang terpinggirkan. Karya pelayanan Vinsensius tidak terbatas pada aspek materi, tetapi juga menekankan dimensi iman. Setiap komunitas yang didirikannya berakar pada prinsip kasih dan keadilan, yang menginspirasi para anggota untuk melayani dengan penuh cinta (Roman, 1992:. Vinsensius meneladani Kristus Sang Guru, dan melalui hidupnya memberikan kesaksian nyata tentang pentingnya mengasihi sesama, khususnya mereka yang paling miskin dan menderita. Spiritualitas Vinsensian Santo Vinsensius menegaskan bahwa kunci utama dalam kehidupan rohani adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Baginya, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, melainkan harus diwujudkan dalam pengorbanan dan kerja Vinsensius membedakan dua bentuk cinta kepada Allah, yakni cinta afektif dan cinta efektif, dan menekankan bahwa keduanya harus berjalan seimbang dalam kehidupan rohani (Tondowidjojo, 2003:. Vinsensius juga menegaskan bahwa doa dan karya merupakan dua hal yang tak terpisahkan, sebab cinta kepada Allah harus tercermin dalam usaha konkret melaksanakan kehendak-Nya. Panggilan Vinsensius untuk melayani kaum miskin dan terpinggirkan merupakan wujud nyata dari kecintaannya kepada Allah. Pelayanan ini dijalani dengan penuh iman dan kasih, sehingga kehidupan rohaninya tidak hanya berhenti pada doa dan kontemplasi, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata bagi sesama (Ngarani & Adinuhgra, 2016:. Vinsensius meyakini bahwa Allah memiliki Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 tempat istimewa bagi kaum miskin, karena Allah sendiri telah menjadi miskin dalam diri Yesus Kristus. Bagi Vinsensius, pelayanan terhadap kaum miskin adalah bagian tak terpisahkan dari panggilan rohani yang lebih luas. Vinsensius juga menegaskan bahwa karya pelayanan kepada mereka harus menjadi prioritas utama, sebagaimana ditegaskan dalam Injil Matius 25:35-39. Ajaran ini tidak hanya disampaikan kepada para imam dan komunitas misi yang didirikannya, tetapi juga diwujudkan secara nyata dalam hidup sehari-hari. Kerendahan hati, iman yang teguh, dan kasih mendalam kepada Allah mendorongnya untuk terus melayani dengan dedikasi penuh, sehingga pelayanan kepada kaum miskin menjadi inti dari seluruh karya pengabdiannya (Karmelit, 1985:. Keutamaan Matiraga Vinsensian Matiraga dipahami sebagai tindakan penyangkalan terhadap segala sesuatu yang disukai oleh kodrat manusia (Roman, 1993:92Ae. Semangat ini menuntut setiap orang untuk mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu duniawi, keinginan daging, serta kenikmatan sesaat, agar dapat menghayati kesempurnaan hidup sebagai pengikut Kristus (Tuber, 2020: 9, . Dengan demikian, matiraga menjadi salah satu jalan untuk memperoleh kehidupan kekal, karena merupakan usaha meneladani Kristus, semakin bersatu dengan-Nya, serta mengosongkan diri di hadapan Allah. Segala kepentingan dan keinginan pribadi dipandang sebagai penghalang yang harus dilepaskan agar manusia semakin dekat dan bersatu dengan kehendak Tuhan (Heuken, 2002:. Hidup dalam matiraga berarti hidup dalam penyangkalan diri dan pengorbanan, dengan mengarahkan seluruh kehendak hanya kepada Allah. Proses ini tidak mudah, karena menuntut disiplin spiritual dan moral yang ketat (Tuber, 2020:. Vinsensius sendiri menekankan bahwa penyangkalan diri adalah jalan untuk meneladani Kristus. Yesus Kristus menjadi teladan utama dalam hal ini, sebagaimana tampak dalam kehidupan-Nya yang sederhana, pengajaran-Nya yang penuh kerendahan hati, hingga pengorbanan-Nya di kayu salib (Roman, 1993: . Lebih dari sekadar ajaran. Vinsensius sendiri menjalani hidup yang penuh pengorbanan dan pelayanan nyata. Dirinya mendirikan rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai lembaga amal untuk menolong orang miskin dan terpinggirkan. Setiap tindakan hidupnya mencerminkan kesetiaan pada Kristus yang rela berkorban demi keselamatan sesama. Dengan demikian, spiritualitas matiraga menurut Vinsensius tidak hanya berwujud pengendalian diri, tetapi juga diwujudkan dalam pelayanan tanpa pamrih kepada mereka yang membutuhkan (Hardjana, 2005: . Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Katekis dalam Gereja Katolik Katekis adalah seorang rasul awam yang ditunjuk oleh Gereja Katolik lokal, baik di tingkat Keuskupan maupun paroki (Wiwin & Firmanto, 2021:. Pada prinsipnya, seorang katekis dipanggil untuk mewartakan Kristus, sehingga umat dapat mengenal, mengasihi, dan mengikuti Kristus dengan setia. Dalam pengertian ini, katekis adalah pribadi yang mengabdikan diri pada pewartaan Sabda, yaitu penyebaran ajaran Injil dan doktrin Gereja kepada umat (Bagiyowinadi, 2012:. Tugas utamanya adalah mengomunikasikan pesan iman dengan jelas dan bermakna, agar ajaran Gereja dapat dipahami serta dihayati. Seorang katekis tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan teologis, tetapi juga membimbing umat untuk menerapkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari (Papo, 1987:. Dalam kehidupan menggereja, katekis adalah kaum awam yang melibatkan diri dalam berbagai bidang pastoral. Mereka dapat menjadi pendamping kaum muda, membantu generasi muda menemukan identitas dan panggilannya dalam terang iman. Katekis juga mendampingi kaum buruh dengan memberikan penghiburan, pengharapan, sekaligus memperjuangkan keadilan sosial. Selain itu, katekis sering bertindak sebagai pemimpin ibadat sabda ketika imam tidak hadir, sehingga umat tetap dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam doa dan liturgi (Telaumbanua, 2005:. Dengan demikian, katekis menjadi jembatan antara ajaran Gereja dengan kehidupan nyata umat. Agar dapat menjalankan perannya secara efektif, seorang katekis perlu memperoleh pendidikan khusus dalam bidang katekese dan ijazah formal dari perguruan tinggi. Pendidikan ini mencakup teologi, pedagogi, dan metodologi katekese, yang membekali katekis dengan kemampuan mengajar iman secara profesional dan sistematis. Ijazah formal tidak hanya memberi legitimasi, tetapi juga menjamin bahwa katekis memiliki standar kompetensi yang diakui oleh Gereja. Latar belakang pendidikan yang memadai memungkinkan seorang katekis merancang program katekese yang relevan, menilai kebutuhan spiritual umat, serta memberikan tanggapan pastoral yang tepat (Lalu, 2007: . Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka . ibrary researc. Kajian dilakukan dengan mengumpulkan, membaca, dan menganalisis berbagai sumber tertulis yang relevan, seperti buku, dokumen Gereja, artikel, tulisan ilmiah. Kitab Suci, internet, dan literatur lainnya. Data yang diperoleh dari sumber-sumber ini kemudian diintegrasikan menjadi landasan utama dalam penyusunan laporan penelitian (Hamzah, 2020: . Analisis data dilakukan secara induktif kualitatif, yaitu dengan memulai dari hal-hal khusus menuju kesimpulan yang lebih umum. Proses ini mencakup Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 membaca setiap dokumen secara terpisah, membandingkan isi antar dokumen untuk menemukan persamaan dan perbedaan, lalu mengintegrasikan seluruh informasi menjadi satu kesatuan yang utuh. Hasil integrasi inilah yang menjadi dasar penyusunan laporan penelitian. Pelaksanaan penelitian ini melalui empat tahap utama, antara lain: . tahap persiapan, yaitu pengumpulan bahan bacaan yang relevan dengan tema penelitian. tahap eksplorasi, yakni membaca, mendalami, dan mencatat informasi dari berbagai sumber tertulis yang telah diperoleh. Pada tahap ini peneliti menyoroti konsep-konsep penting terkait tema Relevansi Spiritualitas Keutamaan Matiraga Vinsensius terhadap Pelayanan Katekis. tahap pengolahan data, yaitu membaca ulang catatan penelitian secara kritis, lalu menganalisis dan menghubungkan informasi dari berbagai sumber untuk membentuk gambaran yang utuh mengenai pemikiran Santo Vinsensius tentang keutamaan matiraga. tahap penyusunan laporan, yakni merangkai hasil analisis dalam bentuk tulisan ilmiah. Laporan ini disusun, direvisi berulang kali, hingga menghasilkan naskah akhir sebagaimana ditulis dalam karya ilmiah ini. Hasil Penelitian dan Diskusi Relevansi Keutamaan Matiraga Vinsensian Terhadap Pelayanan Katekis Keutamaan matiraga merupakan salah satu aspek penting dalam spiritualitas Vinsensian yang berfokus pada sikap pengorbanan diri dan pelayanan kepada Dalam konteks pelayanan katekis, keutamaan ini memiliki relevansi yang mendalam bagi kehidupan iman umat. Matiraga menekankan pentingnya kesiapan untuk berkorban demi tugas pelayanan, artinya seorang katekis harus rela mengorbankan waktu, tenaga, dan kenyamanan pribadi demi membimbing dan menumbuhkan iman umat. Dengan menghidupi keutamaan ini, seorang katekis dapat semakin memahami kebutuhan serta tantangan yang dihadapi umat yang dilayaninya (Sakakadut & Dewantara, 2018:. Katekis yang menghayati keutamaan matiraga akan menjadi teladan nyata bagi umat. Kehidupan yang mencerminkan nilai pengorbanan dan pelayanan akan memperlihatkan tanggung jawab yang kuat terhadap panggilan sebagai pewarta Keteladanan ini bukan hanya memperkuat kredibilitas seorang katekis, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan umat terhadap ajaran yang disampaikannya. Lebih jauh, pengorbanan diri yang dijalankan dalam semangat matiraga meneguhkan katekis untuk tetap bersemangat dalam menjalankan tugasnya, sekalipun menghadapi kesulitan atau tantangan dalam pelayanan. Dengan demikian, keutamaan matiraga tidak hanya membentuk sikap pribadi yang tangguh, tetapi juga menanamkan kesetiaan dan ketulusan hati dalam mewartakan Injil. Secara keseluruhan, keutamaan matiraga mengajarkan bahwa pelayanan seorang katekis Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 harus dilandasi dengan hati yang tulus, penuh pengorbanan, dan selalu diarahkan pada kemuliaan Allah serta kesejahteraan umat Nilai-nilai Keutamaan Matiraga Vinsensian bagi Pelayanan Katekis Keutamaan matiraga, sebagai salah satu nilai penting dalam spiritualitas Vinsensian, memiliki relevansi yang mendalam bagi pelayanan katekis. Nilai-nilai ini menjadi dasar bagi sikap dan tindakan katekis dalam mendampingi iman umat. Pengorbanan merupakan inti dari keutamaan matiraga. Seorang katekis yang menghayati nilai ini memiliki tanggung jawab besar untuk meluangkan waktu dan tenaga demi pelayanan. Pengorbanan pribadi tersebut tercermin dalam kesediaannya menghadapi tantangan dan kesulitan demi memberikan pelayanan yang lebih baik. Dalam konteks ini, pengorbanan membangun rasa percaya dan kepedulian yang nyata antara katekis dan umat (Sakakadut & Dewantara, 2018:. Kepedulian menjadi aspek penting lain dari keutamaan matiraga. Katekis yang berempati mampu merasakan kebutuhan umat dan menyesuaikan pendekatan pengajarannya agar lebih relevan dengan situasi yang dihadapi. Kepedulian ini memperkuat relasi antara katekis dan umat serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan iman. Teladan hidup adalah buah dari peneladanan keutamaan matiraga. Katekis yang menjalani nilai pengorbanan dan pelayanan secara nyata akan menjadi contoh positif bagi umat. Melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, katekis menunjukkan bahwa pelayanan dan kebaikan lebih utama daripada kepentingan pribadi. Dengan demikian, umat terinspirasi untuk mengikuti teladan hidup katekis (Papo, 1987:. Pelayanan juga merupakan perwujudan keutamaan matiraga. Katekis yang mengintegrasikan nilai ini dalam pelayanannya akan menunjukkan kesetiaan yang konsisten terhadap tugasnya sebagai pelayan iman. Komitmen ini tampak dalam kesediaan untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta tetap setia mendampingi umat meskipun dalam kondisi yang sulit. Ketekunan merupakan kualitas lain yang lahir dari nilai pengorbanan diri. Dengan semangat matiraga, katekis mampu menghadapi kesulitan dengan keteguhan hati dan kesabaran, baik ketika mengajar maupun saat mendampingi dinamika kehidupan umat. Integritas menjadi manifestasi nyata dari keutamaan matiraga. Seorang katekis yang hidup dengan nilai ini akan menunjukkan kejujuran, konsistensi, dan ketulusan dalam seluruh aspek pelayanannya. Integritas ini membangun reputasi yang baik sekaligus memperkuat kepercayaan umat terhadap pengajaran dan bimbingannya (Bagiyowinadi, 2012:. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai keutamaan matiraga dalam pelayanan menjadikan katekis bukan hanya seorang pengajar iman, tetapi juga teladan hidup yang membawa dampak positif mendalam bagi komunitas umat. Nilai-nilai ini meneguhkan katekis untuk melayani dengan dedikasi, empati, kesabaran, dan integritas demi memperkuat iman umat. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pelayanan Katekis Berdasarkan Keutamaan Matiraga Vinsensian Pelayanan berdasarkan keutamaan matiraga berlandaskan pada prinsip pengorbanan diri, dedikasi, dan empati dalam setiap aspek pendampingan umat. Prinsip-prinsip ini membentuk dasar sikap dan tindakan seorang katekis untuk menghadirkan pelayanan yang efektif sekaligus penuh makna. Pengorbanan diri merupakan inti dari pelayanan yang berakar pada keutamaan matiraga. Dalam konteks pelayanan, hal ini berarti mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kepentingan pribadi. Seorang katekis yang menghidupi prinsip ini akan rela meluangkan waktu dan tenaga untuk mendidik, membimbing, dan mendampingi umat, meskipun harus menghadapi tantangan atau kesulitan pribadi. Pengorbanan tersebut menjadi fondasi kepercayaan dan bukti komitmen yang mendalam terhadap tugas pelayanan (Papo, 1987:. Dedikasi atau komitmen yang konsisten merupakan buah dari semangat pengorbanan diri. Pelayanan yang dilandasi oleh dedikasi ditandai dengan keseriusan dalam menjalankan tugas, termasuk kesediaan untuk terus memperbaiki diri serta bertanggung jawab dalam menghadapi situasi yang beragam. Katekis yang berdedikasi akan senantiasa berusaha memberikan yang terbaik dalam pengajaran dan bimbingan, serta beradaptasi dengan kebutuhan umat yang terus berkembang. Kepedulian juga menjadi aspek penting dalam pelayanan berbasis keutamaan Melalui empati, seorang katekis mampu memahami dan merasakan kebutuhan umat yang dilayani. Sikap ini memungkinkan katekis untuk menyesuaikan pendekatan pastoralnya sehingga lebih relevan dan tepat sasaran. Kepedulian demikian memperkuat hubungan antara katekis dan umat, serta (Heuken, 2012:. Teladan hidup yang baik merupakan manifestasi konkret dari keutamaan Seorang katekis yang hidup sesuai dengan nilai-nilai pengorbanan diri menjadi contoh nyata bagi umat. Tindakan sehari-harinya yang lebih mengutamakan pelayanan dan kebaikan akan menginspirasi umat untuk meneladaninya, sekaligus memperkuat pengaruh positif dalam komunitas Gereja. Ketekunan dalam menghadapi tantangan juga menjadi kualitas penting dalam Katekis yang mengintegrasikan prinsip matiraga akan menunjukkan keteguhan hati dan ketahanan menghadapi kesulitan. Kesabaran dalam membimbing dan mendampingi umat menjadi bukti kesetiaan yang tulus, sekaligus memastikan bahwa pelayanan tetap berlangsung efektif dan penuh kasih dalam jangka panjang. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip keutamaan matiraga dalam pelayanan menjadikan seorang katekis tidak hanya sebagai pengajar iman, tetapi juga sebagai teladan hidup yang mampu membangun relasi mendalam dengan umat serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi kehidupan iman komunitas (Tuber, 2020:. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pembentukan Karakter Katekis Melalui Matiraga Vinsensian Pembentukan karakter katekis melalui matiraga atau pengorbanan diri dalam konteks spiritual melibatkan proses pembentukan sikap, nilai, dan kualitas pribadi yang sesuai dengan prinsip-prinsip pengorbanan dan dedikasi. Proses ini bertujuan untuk mengembangkan katekis yang tidak hanya memiliki pengetahuan teologis yang mendalam, tetapi juga sikap dan karakter yang mencerminkan nilainilai pengabdian dan pelayanan yang tulus (Papo, 1987:. Pengembangan sikap pengorbanan merupakan langkah awal dalam pembentukan karakter katekis. Matiraga mengajarkan pentingnya meletakkan kebutuhan dan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Proses ini melibatkan latihan untuk mengatasi ego dan keinginan pribadi dalam rangka memberikan pelayanan yang tulus dan bermanfaat bagi orang lain. Katekis yang terbentuk dengan sikap pengorbanan akan lebih siap menghadapi tantangan dalam pelayanan dan mampu berkomitmen penuh dalam Empati dan kepedulian merupakan bagian integral dari pembentukan karakter katekis. Pemahaman mengenai keutamaan matiraga ini, seorang katekis belajar untuk merasakan dan memahami kondisi dan kebutuhan orang lain. Kemampuan untuk mendengarkan secara aktif dan menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap pengalaman dan masalah umat. Empati yang berkembang dari nilai matiraga membantu katekis untuk memberikan bimbingan yang lebih relevan dan mendukung perkembangan iman secara lebih efektif (Papo, 1987:. Penguatan integritas dan konsistensi adalah aspek penting dalam pembentukan karakter. Matiraga mengajarkan katekis untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang katekis itu sendiri ajarkan, menunjukkan integritas dalam setiap aspek kehidupannya. Katekis yang memiliki integritas tinggi akan menjadi teladan yang baik bagi umat, memastikan bahwa tindakannya konsisten dengan ajaran dan prinsip iman yang disampaikan. Kesabaran dan ketahanan adalah kualitas yang penting yang diperoleh melalui Matiraga. Pelayanan seringkali menghadapi tantangan dan kesulitan, dan kesabaran serta ketahanan memungkinkan katekis untuk tetap berfokus pada tugasnya dan melanjutkan pelayanan dengan tekun. Latihan dalam matiraga membantu katekis untuk mengatasi frustasi dan rintangan dengan sikap yang positif dan penuh harapan. Penekanan pada pembelajaran dan refleksi diri mendukung proses pembentukan karakter katekis. Matiraga mendorong katekis untuk terus-menerus mengevaluasi dan memperbaiki diri. Tugas yang harus dikembangkan oleh seorang katekis adalah melakukan refleksi yang mendalam tentang motivasi dan tindakannya, serta komitmen untuk terus belajar dan berkembang dalam aspek spiritual dan pastoral. Pembelajaran berkelanjutan membantu katekis untuk menjaga kualitas pelayanannya dan mengatasi berbagai situasi dengan kebijaksanaan yang lebih besar. Pembentukan karakter katekis melalui matiraga Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 adalah proses holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai pengorbanan, empati, integritas, kesabaran, dan refleksi diri. Proses menginternalisasi prinsip-prinsip ini, katekis tidak hanya membangun karakter yang kuat tetapi juga memberikan pelayanan yang lebih berdampak dan berkelanjutan dalam komunitas umat beriman (Papo, 1987:. Pengaruh Matiraga Vinsensian Terhadap Pelayanan Katekis Matiraga dalam konteks pelayanan katekis mengacu pada praktik penyangkalan diri, meditasi, dan disiplin spiritual yang bertujuan membentuk kedewasaan rohani. Sebagai bentuk pelayanan yang terbaik, katekis dipanggil untuk menghayati matiraga melalui upaya pendidikan iman, khususnya dalam Gereja Katolik, agar umat dipersiapkan memahami ajaran iman dan hidup sesuai dengan prinsip-prinsip keagamaan (Roman, 1993:. Pengaruh matiraga terhadap pelayanan katekis tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Melalui disiplin spiritual yang konsisten, seorang katekis memperdalam relasi pribadinya dengan Tuhan. Hal ini memungkinkan katekis mengembangkan pemahaman iman yang lebih dalam, sehingga pengajaran yang disampaikan menjadi lebih bermakna dan inspiratif bagi umat. Selain itu, kehidupan matiraga menjadikan katekis teladan nyata bagi umat yang dilayani. Pengorbanan pribadi, pengendalian diri, serta komitmen terhadap disiplin rohani menunjukkan bagaimana ajaran iman dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, katekis memperkuat kredibilitasnya di mata umat (Heuken, 2002:. Matiraga juga menanamkan ketahanan mental dan emosional yang sangat penting dalam pelayanan. Menghadapi tantangan dalam mengajar dan mendampingi umat menuntut kekuatan batin yang besar. Dengan menghayati matiraga, katekis dibentuk menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan mampu tetap teguh meskipun menghadapi kesulitan. Lebih jauh, kedalaman pengajaran katekis diperkaya oleh pengalaman spiritual yang lahir dari matiraga. Hal ini memungkinkan katekis mengajar bukan hanya dari sisi teori, melainkan juga berdasarkan pengalaman iman yang nyata. Dengan demikian, pengajaran menjadi lebih hidup, menyentuh, dan bermakna. Praktik matiraga yang mencakup meditasi dan penarikan diri dari godaan duniawi juga melatih fokus dan konsentrasi seorang katekis. Sikap ini menolong katekis untuk tetap terpusat pada panggilan pelayanannya, sehingga ia dapat mendampingi umat dengan perhatian penuh serta dedikasi tinggi (Tondowidjojo, 2003:. Dengan demikian, matiraga memperdalam dan memperkuat pelayanan katekis. Melalui pengorbanan diri, ketahanan batin, teladan hidup, serta pengajaran yang autentik, seorang katekis mampu menghadirkan pelayanan yang lebih efektif dan berdaya guna bagi pertumbuhan iman umat. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 i. PENUTUP Kesimpulan Keutamaan matiraga dalam spiritualitas Vinsensian merupakan warisan berharga Santo Vinsensius yang menekankan hidup sederhana, penyangkalan diri, pengorbanan, dan pelayanan tanpa pamrih kepada orang miskin dan terpinggirkan. Vinsensius menunjukkan bahwa melalui matiraga, seseorang dapat semakin dekat dengan Tuhan, menghindari godaan duniawi, dan melayani sesama dengan ketulusan hati. Bagi katekis, keutamaan matiraga memiliki relevansi yang mendalam. Katekis bukan hanya pewarta ajaran iman secara teoritis, tetapi juga saksi hidup yang menghadirkan teladan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menghayati semangat matiraga, katekis mampu melaksanakan perannya secara rendah hati, tekun, dan penuh kasih dalam mendampingi umat, khususnya kaum muda, kaum buruh, dan mereka yang mengalami tantangan hidup. Ketekunan, kerendahan hati, kesabaran, kasih, dan pengampunan yang tercermin dalam keutamaan matiraga menjadikan katekis teladan yang nyata bagi umat beriman. Dengan demikian, pelayanan katekis yang berakar pada spiritualitas Vinsensian tidak hanya memperdalam iman umat, tetapi juga meneguhkan mereka dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari, serta mendorong umat untuk semakin setia mengikuti Kristus. Saran Saran yang dapat diberikan dari hasil penelitian ini ialah agar para katekis dan petugas pastoral semakin menghayati keutamaan matiraga sebagai spiritualitas Dengan semangat pengorbanan, kerendahan hati, dan kesederhanaan, katekis diharapkan mampu menjadi teladan iman sekaligus menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan nyata umat. Gereja bersama lembaga pendidikan kateketik perlu pula memberi perhatian serius dalam pembinaan katekis, baik melalui formasi rohani maupun pelatihan pastoral, sehingga nilai-nilai matiraga Vinsensian sungguh dapat diinternalisasi dan diterapkan dalam pelayanan seharihari. Bagi peneliti selanjutnya, kajian ini dapat dilanjutkan dengan penelitian lapangan untuk melihat bagaimana katekis menghidupi matiraga dalam pelayanan konkret, serta meneliti sejauh mana keutamaan tersebut sungguh membantu mereka dalam mendampingi umat Allah. Penelitian di masa mendatang juga dapat memperluas fokus pada keutamaan lain dalam spiritualitas Vinsensian atau membandingkannya dengan spiritualitas orang kudus lainnya, sehingga memperkaya pemahaman tentang peran spiritualitas dalam pelayanan pastoral. Hasil penelitian ini pada akhirnya diharapkan dapat menjadi inspirasi tidak hanya bagi para katekis, tetapi juga bagi seluruh umat beriman, untuk ikut menghayati Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 keutamaan matiraga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga semakin bersatu dengan Kristus dan menjadi saksi kasih Allah di tengah masyarakat. DAFTAR PUSTAKA