Proceedings Series on Social Sciences & Humanities. Volume 20 Prosiding Pertemuan Ilmiah Bahasa & Sastra Indonesia (PIBSI XLVI) Universitas Muhammadiyah Purwokerto ISSN: 2808-103X Peran Dosen untuk Menyiapkan Mahasiswa dalam Menghadapi Era Vuca (Volatility. Uncertainty. Complexity. Dan Ambiguit. Ngatmini1*. Suyitno1 Universitas PGRI Semarang ARTICLE INFO ABSTRACT Article history: Penelitian ini bertujuan untuk menemukan alternatif solusi dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu menghadapi tantangan di era VUCA. Era VUCA (Volatility. Uncertainty. Compexity, dan Ambuguit. ditandai dengan perubahan yang cepat dan tidak terduga di berbagai bidang kehidupan, dunia pendidikan juga menghadapi suatu tantangan. Sementara mahasiswa belum siap menghadapi situasi demikian. Penelitian ini dilakukan dengan studi pustaka, dengan cara menghimpun beberapa literatur, buku, dan hasil penelitian yang relevan. Data tersebut diklasifikasi, dianalisis, dan diinterpretasikan serta diambil simpulan. Berdasarkan analisis data diperoleh hasil bahwa alternatif teknik yang ditemukan untuk menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi Era VUCA adalah dengan teknik kolaboratif dan adaptatif. Teknik ini melatih mahasiswa untuk mengomunikasikan berbagai informasi secara kolaboratif dan adaptif sehingga komunikasi yang interaktif akan terjalin. Secara praktik dapat dilakukan dengan pemecahan masalah melalui beragam Hal ini akan menuntun mahasiswa berpikir kreatif, fleksibel, dan pemikiran kritis. Pemikiran ini akan dikembangkan dengan pemikiran abad 21, yaitu berpikir kreatif . reative thinkin. , berpikir kritis dan pemecahan masalah . ritical thinking dan problem solvin. , berkomunikasi . , dan kolaborasi . DOI: 30595/pssh. Submitted: June 20, 2024 Accepted: November 10, 2024 Published: November 30, 2024 Keywords: Peran Dosen. Era VUCA This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Ngatmini Univeristas PGRI Semarang Jl. Sidodadi Timur Jalan Dokter Cipto No. Karangtempel. Semarang. Jawa Tengah 50232. Indonesia Email: ngatmini@upgris. PENDAHULUAN Mahasiswa saat ini adalah mahasiswa generasi Z sebagaimana dikatakan (Alamin et al. , 2. Generasi Z lahir setelah generasi milenial yaitu mereka lahir pada rentangwaktu setelah 1995 sampai dengan tahun 2010. Generasi ini terjadi saat berkembangnya teknologi digital. Generasi yang cenderung menginginkan hal instan. Saat ini generasi tersebut berada pada era VUCA (Volatile. Uncertain. Complex. Ambiguou. , situasi yang perubahan begitu cepat, tidak pasti, rumit, dan tidak jelas (Rani Afkarina et al. , 2. , (Aka & Afandi, n. Namun, mahasiswa justru motivasi belajarnya menurun karena ketidakpastian dan perubahan yang cepat di lingkungan belajar, mereka stress dan menghambat konsentrasi belajar (Muhammad Prayoga et al. , 2. Sementara, mahasiswa juga sudah akrab dengan dunia internet, tetapi ada gejala positif dan negatif. Bagi mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam menguasai dalam mengakses internet banyak manfaat yang dapat Sebaliknya bagi mahasiswa yang kurang menguasai dunia digital, mereka terbebani karena tidak Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X mengakses informasi yang diperlukan. Demikian juga adanya informasi yang melimpah, mahasiswa tidak mampu memilah, mengelola, dan menyaring informasi (Arvianto et al. , 2. Era VUCA melanda dunia pendidikan, secara khusus pada perkuliahan Bahasa Indonesia. Dikatakan (Syamsuri & Bur, 2. bahwa mahasiswa belum tumbuh sikap positif terhadap Bahasa, strategi pembelajaran belum baik, usaha untuk mahir berbahasa tidak ada, belum percaya diri dalam menggunakan Bahasa Indonesia, dan sikap merasa tidak perlu belajar Bahasa Indonesia. Banyak di kalangan kita Bahasa Indonesia itu mudah sehingga tidak perlu dipelajari. Selain itu, pemilikan kepribadian dan karakter yang baik, menguatkan generasi penerus bangsa. Hilangnya karakter pada generasi penerus, maka hilang pula generasi penerus bangsa. Generasi berkarakter sebagai kemudi dan kekuatan bangsa. Pembinaan karakter dibangun dan dikembangkan melalui Sehubungan dengan beberapa kondisi tersebut,bagaimana peran dunia pendidikan, khususnya dosen yang secara langsung bertemu dengan mahasiswa dalam menghadapi era VUCA? METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode pustaka. Metode dengan cara mengumpulkan data dengan mencari sumber dan merekonstruksi dari berbagai sumber, hasil penelitian, artikel yang sudah ada. Metode analisis menggunakan analisis deskriptif,analisis secara kritis dan mendalam (Saputra, 2. , (Adlini et , 2. Menurut Cresswell dalam (Lisnawati,2023. ) studi literatur adalah gambaran tentang topik yang dibahas, diperoleh melalui artikel, buku, dokumen lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Dunia pendidikan merupakan bidang yang terkena dampak era VUCA. Termasuk di dalamnya pendidikan Pimpinan perguruan tinggi dengan kebijakannya sangat mempengaruhi suasana dalam pembelajaran. Pimpinan di kelas adalah dosen. Dosen merupakan salah satu komponen dalam pembelajaran (Bahri, 2. Komponen pembelajaran juga menentukan keberhasilan mahasiswa, seperti kurikulum yang ditetapkan, dosen, mahasiswa, model pembelajarn yang diterapkan, penyediaan bahan ajar, media yang membantu pencapaian tujuan, evaluasi untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan (Lisnawati, 2. Dosen yang memiliki empat kompetensi: profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian dengan baik sangat berperan dalam mendampingi mahasiswa yang belajar di Era VUCA. Era VUCA merupakan situasi yang perubahan begitu cepat, tidak pasti, rumit, dan tidak jelas akan mempengaruhi mahasiswa dalam belajar dan mencapai hasil belajarnya. VUCA dikatakan (Syamsuri & Bur, 2. sebagai berikut. Volatility Volatility atau anomali adalah situasi ketika seseorang akan menghadapi kondisi yangtidak menentu. Volatility juga bisa digambakan dengan situasi yang berubah-ubah, cepat, dan kompetitif. Uncertainty Ketidakpastian adalah ketika seseorang sudah mengetahui hubungan sebab-akibat namun belum mengetahui tindakan yang harus dilakukan. Complexity Situasi saat seseorang akan menemui kesulitan dalam menjalankan suatu kegiatan/usaha. Situasi ini sudah diketahui hubungan sebab-akibatnya dan juga sudah memperoleh banyak informasi sehingga kesulitan dan tidak memiliki sumber daya yang mumpuni. Ambiguity Pada tahap ini seseorang akan dihadapkan pada ketidaktahuan terhadap hubungan sebab akibat, belum ada pihak yang melakukan dan menerapkan. Cara menghadapi situasi ini dibutuhkan keberanian untuk membuat hal-hal baru. Peran yang dapat dilakukan dosen adalah peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan keprofesionalan dosen (Maryam et al. , 2. Upaya untuk menyiapkan mahasiswa untuk menghadapi Era VUCA melalui teknik kolaboratif dan adaptif (Yusuf et al. , 2. , (Arifah et al. , n. ), (Permana et al. , 2. ,(Guntoro. Teknik Kolaboratif Kolaborasi diartikan sebagai bekerja sama untuk mengerjakan sesuatu, saling berbagi pengetahuan, diskusi kelompok, proyek tim, forum on line (Nuralim & Ghafirin, n. Dalam berkolaborasi diharapkan mahasiswa memiliki keterampilan abad 21, yaitu Critical thinking. Collaborative thinking. Creativity. Communication . C). Pada era perubahan yang begitu cepat (Volatilit. , mahasiswa belum siap menghadapi situasi yang dihadapi, untuk itu perlu dimotivasi agar mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara Dengan berpikir kritis, mahasiswa ketika menemukan informasi dari media sosial atau media digital akan mendiskusikan dengan teman untuk menganalisis menyesuaikan dengan tujuan atau kebutuhannya. Untuk itu, mahasiswa dibekali strategi yang efektif untuk mengelola informasi secara komunikatif. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Untuk mampu berkomunikasi diperlukan bekal kemampuan berinteraksi secara timbal balik. Hal ini perlu adanya pemahaman informasi secara objektif, kemampuan untuk mengomunkasikan kepada pihak lain serta kesiapan mental. Menyampaikan informasi kepada pihak lain tidak mudah, pada diri mahasiswa pasti ada rasa tidak percaya diri akan kebenaran informasi yang disampaikan, ini yang dinamakan kemampuan berbicara. Kemampuan berbicara ditentukan oleh faktor kebahasan dan nonkebahasaan. Faktor yang berkaitan dengan intonasi, ketepana ucapan, pilihan kata serta didukung oleh kemampuan praktik menyampaikan informasi, akspresi wajah, gerak-gerik, kenyaringan, kelancaran, penguasaan topik, dan komunikasi mata. Kemampuan ini yang harus didukung dengan kesiapan mental. Budaya di sekitar kita adalah budaya lisan, tetapi bahasa yang digunakan terkadang sulit dipahami pihak lain. Hal ini yang pada kenyataan mahasiswa malu, minder menyampaikan ide-idenya, takut salah. Kondisi yang demikian itu perlu adanya kesiapan mental,yaitu kesiapan untuk menghadapi tanggapan, respon dari teman yang mungkin berbeda persepsi. Peran dosen dalam hal ini memberi penguatan karakter . ercaya dir. agar mahasiswa siap menghadapi situasi yang dihadapi (Permana et , 2. Kesiapan mental dapat dilatih dengan pengintegrasian nilai karakter dalam pembelajaran(Habibah & Nurhidin, 2. Peran dosen untuk menguatkan mental mahasiswa melalui penerapan model pembelajaran, seperti pengunaan model project based learning (PJBL). Model PJBL melibatkan mahasiswa secara aktif memecahkan masalah. Melalui kegiatan proyek yang dilakukan, mereka akan bekerja sama, berdikusi, berbagi tugas utnuk menyelesaikan proyeknya. Pada proses itulah dosen menguatkan akan pentingnya kerja sama, kolaborasi, menghargai pendapat teman, peduli dengan tugas, disiplin dalam mengerjakan tugas, gotong royong. Di sinilah pembelajaran lebih bermakna, pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta terbentukan karakter dan kepribadian. Uncertainty adalah ketidakpastian dalam menghadapi lingkungan. Rencana atau prediksiapa yang akan dilakukan dalam kondisi tidak menentu. Hal ini dapat berdampak pada mahasiswa dalam menempuh aktivitas belajarnya terkendala atau terhambat. Solusi yang dilakukan dosen sebagai pendamping dalam proses belajar mahasiswa, adalah menanampak sikap proaktif dan menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan. Selain itu ditumbuhkan sikap selalu belajar menyesuaikan diri . Complexity, masalah dan hambatan yang dihadapi sangat kompleks. Ini juga berkaitan dengan ketidakpastian yang datangnya sangat cepat. Era digital, media sosial perkembangannya luar biasa. Demikian pula media pembelajaran yang sangat variatif dan inovatif disertai aplikasi yang sangat mudah dan cepat. Hal yang perlu dilakukan adalah kreatif untuk mencari solusi dan berinovasi. Dosen mengajak mahasiswa belajar menyusun dan melaksanakan suatu proyek. Dari proyek yang riil menuju proyek berkarya. Melaluikegiatan yang faktual menanamkan mehasiswa untuk menyelesaikan masalah. Ambiguity, dalam kehidupan di sekitar kita aturan setiap saat berubah. Kurikulum dan kebijakan dalam pembelajaran juga demikian. Peran dosen dalam kondisi seperti ini, mahasiswa disarankan untuk bersikap fleksibel sehingga adanya perubahan-perubahan yang terjadi tidak menciptakan kebingungan. Teknik Adaptif Teknik adaptif merupakan teknik menyesuaikan diri dengan situasi yang terjadi. Sebagai pemimpin di perguruan tinggi dalam menghadapi Era VUCA selalu bersikap positif dan fleksibel terhadap perubahan yang cepat, ketidakpastian, kekompleksan, dan perubahan-perubahan setiap saat. Dosen sebagai pemimpin di kelas juga Mahasiswa banyak yang mengalami kesulitan menghadapi situasi era VUCA. Motivasi dan minat belajar yang menurun. Tindakan adaptif dapat dilakukan dengan mengintegrasikan pembelajaran dengan mengelola waktu, mengelola kondisi psikhologis, mengelola emosi. Dosen dapat berperan sebagai pendamping, penyampai informasi, fasilitator, model (Yusuf et al. , 2. Dosen sebagai Pendamping Sebagai pendamping, mahasiswa ditanamkan pikiran positif untuk menghadapi tantangan. Kalimat yang digunakan dosen juga positif, seperti, semangat, yuuk dikerjakan Bersama, bukan dengan Aojangan Ao Aotidak AAo Mahasiswa disiapkan untuk menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungannya, baik di rumah dan di kampus. Dalam beradaptasi, mahasiswa perlu pemahaman informasi dan lingkungan setempat dan mengendalikan emosi, seperti tetap tenang, tidak gelisah, tidak depresi atau stress. Kondisi yang demikian perlu pendampingan, ketika muncul emosi, dosen yang berusaha mengingatkan manfaat kalau marah,tegang Dengan pemahaman informasi, sesuatu yang diperoleh benar-banar dipahami sehingga akan menyiapkan psikhologis yang positif. Hal inipun akan melibatkan sikap fleksibilitas, sikap menyesuaikan dengan sesuatu yang mungkin belum ada aturan atau aturan yang berubah. Penyampai Informasi Penyampai informasi, tugas dosen sebagai pendidik, mentransfer ilmu, keterampilan dan niali sikap. Mengahadapi informasi yang serba cepat, tidak pasti dan kompleksitas, mahasiswa mengalami Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X kebingungan atau motivasi atau bahkan minat belajarnya meurun. Dosen berperan sebagai adaptor, menyaring informasi yang terjadi dan mengidentifikan informasi, menganalisis dan mengajak berpikir kritis dan menginterpretasikan secara sederhana sehingga mudah diterima. Informasi yang kompleks mudah diterima pikiran mahasiswa yang galau. Fasilitator Istilah fasilitator banyak dimaknai secara beragam, ada yang berpendapat fasilitiator itu pemberi fasilitas, seperti ruang, tempat belajar dst. Ada juga yang memaknai fasilitator adalah pemberi Pengertian tersebut bisa diterima, tetapi makna fasilitator lebih dari itu. Dosen tidak sekedar memberi ilmu, materi, fasilitas tetapi sebagai faslititator, dosen juga melayani peserta didik untuk memenuhi kebutuhan belajarnya. Mahasiswa yang lambat dalam memahami diberi kesempatan bertanya atau diberi pendampingan, sebagaimana dalam pembellajaran berdiferensiasi. Selain itu, kegiatan yang berkaiatan dengan pengelolaan kelas juga termasuk tugas dosen sebagai fasilitator, mahasiswa mengantuk, ngobrol tidak pada tempatnya, main HP ketika temannya presentasi, dan lain-lain. Model Dosen yang berperan sebagai model berarti dosen mampu menjadi teladan, ditiru, memberi suasana yang positif dalam segala situasi. Dosen yang mampu menghargai dan mengakui kecerdasana setiap individu. Mahasiswa yang kurang mampu memahami suatu informasi yang sangat cepat berubah dan tidak pasti, maka dosen harus mengahrgai mahasiswa tersebut. Mahasiswa yang galau menghadapi perubahan informasi, peraturan atau yang lain, dosen tidak ikut galau, tetapi memberi wawasan terhadap informasi tersebut dan mengidentifikasi, menganalisis, dan memaknai informasi secara positif. Wawasan yang luas terhadap suatu informasi harus diperankan dosen, jika perlu mencari informasi yang relevan dengan informasi dari mahasiswa, sehingga mahasiswa akan terbuka pikiran kritisnya. Kolaborasi dengan teman, dosen, naras sumber sangat penting agar menghadapai suatu hal tetap tenang, adaptif, dan fleksibel. Dosen memiliki empat kompetensi. Dosen sebagai model perlu memiliki empat kompetensi, kompetensi pedagogi, kompetensi sosial, kompetensi professional, dan kompetensi kepribadian. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (Undang-Undang Guru dan Dose. Kompetensi Pedagogi, meliputi : Pemahaman wawasana atau landasan kependidikan . Pemahaman terhadap peserta didik Pengembangan kurikulum/silabus . Perancangan pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis Pemanfaatan teknologi pembelajaran . Evaluasi hasil belajar . Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang . Kompetensi kepribadian, meliputi pribadi yang: Mantap. berakhlak mulia. arif dan bijaksana. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat. secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan . Kompetensi Sosial, yang meliputi : berkomunikasi lisan, tulisan, isyarat. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku. menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan. Kompetensi Profesional, kompetensi ini berkaitan dengan penguasaan: dalam pengetahuan isi . ontent knowledg. , penguasaan ini mencakup: Penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok mata pelajaran yang diampu. Konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, atau kelompok mata pelajaran yang diampu. Mencermati kompetensi yang harus dimiliki dosen dan guru, empat kompetensi sudah terpenuhi, sangat Dosen yang memiliki keempat komptensi tersebut, maka mengahadapi suasana di Era VUCA tidak ada masalaah, semua akan dihadapi dengan baik. Dosen harus dapat mempengaruhi, mendorong, mengajak, menggerakkan,mengarahkan. AomemaksaAo agar usaha tersebut diterima dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan (Guntoro, 2. Dari kompetensi tersebut dosen harus mampu menyiapkan sumber daya manusia untuk mampu menghadapi tantangan, sehingga dosen dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam menyerap informasi (Heryani & Haerul, 2. Kegiatan adaptif dapat dilakukan melalui kegiatan diskusi, kegiatan berbasis proyek, forum on line. Berikut disajikan salah satu tugas proyek pada mata kuliah Perencanaan Pembelajaran yang diberikan kepada Tugas ini merupakan tugas sederhana dalam membuat perencanaan pembelajaran. Tugas dilaksanakan secara berkelompok agar terjadi diskusi, mencari informasi, bekerja sama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Mahasiswa calon guru ini, merupakan mahasiswa yang sama sekali belum pernah melakukan kegiatan pembelajran, sehingga materi kurikulum, perencanaan pembelajaran, media, bahan ajar, asesmen merupakan informasi yang sangat asing. Sementara perkembangan informasitentang perubahan kurikulum sangat TUJUAN TUGAS: Mampu memproduksi modul ajar dengan memperhatikan pengelolaan pembelajaran KOMPETENSI : Pengusaan keterampilan menyusun modul ajar sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran Kinerja kelompok yang baik. Presentasi dan komunikasi verbal dan non-verbal. Ketajaman menjelaskan & kreatif Berkembangnya karakter mahasiswa yang beragam URAIAN TUGAS: Obyek Garapan: memproduksi modul ajar dengan memperhatikan pengelolaan pembelajaran Yang Harus Dikerjakan dan Batasan-batasan: Tugas dikerjakan secara kelompok Mahasiswa menganalisis isi dan capaian pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi modul ajar Mahasiswa mempelajari komponen dalam modul ajar kurikulum merdeka Mengembangkan modul ajar dengan template yang telah disepakati Mempresentasikan modul ajar yang telah dirancang untuk dievaluasi bersama. Keberhasilan presentasi ditentukan oleh ketajaman pemaparan, pemahaman topik yang dikaji, tampilan, penguasaan materi, kerja sama, serta penguasaan audience. Metodologi / Cara Pengerjaan : Melalui pembelajaran berbasis proyek, mahasiswa merancang modul ajar sebagai bentuk perencanaan pembelajaran Tugas dikerjakan secara kelompok Mahasiswa menganalisis isi dan capaian pembelajaran yang akan dikembangkan menjadi modul ajar Mahasiswa mempelajari komponen dalam modul ajar kurikulum merdeka Mengembangkan modul ajar dengan template yang telah disepakati Mempresentasikan modul ajar yang telah dirancang untuk dievaluasi bersama. Kriteria luaran tugas yang dihasilkan/dikerjakan : Modul ajar yang dikumpulkan softcopy format (*. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X KRITERIA PENILAIAN: Penilaian modul ajar mengacu pada penilaian modul secara nasional sebagai berikut. Menerapkan pembelajaran efektif berpusat pada peserta didik Membuat desain pembelajaran yang terstruktur dan berurutan untuk mencapai tujuan Membuat desain pembelajaran yang terstruktur dan berurutan untuk mencapai tujuan Menggunakan pengetahuan kontan yang relevan untuk menentukan tujuan Menggunakan konten pembelajaran dan cara mengajarkannya Menggunakan pengetahuan konten yang relevan untuk mencapai tujuan Mengimplementasikan struktur dan alur pengetahuan dari suatu bidang keilmuan yang relevan untuk pembelajaran Mengimplementasikan struktur dan alur pengetahuan dari suatu bidang keilmuan yang relevan untuk pembelajaran Menerapkan pembelajaran efektif berpusat pada peserta didik Membuat desain pembelajaran yang terstruktur dan berurutan untuk mencapai tujuan Membuat desain pembelajaran yang relevan dengan kondisi di sekitar sekolah dengan melibatkan peserta didik Mampu membuat desain pembelajaran yang mencakup strategi dan komunikasi untuk menumbuhkan minat dan nalar peserta didik Pemilihan dan penggunaan sumber belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran Pemilihan dan penggunaan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran Menggunakan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) secara adaptif dalam Membuat Desain pembelajaran yang terstruktur dan berurutan untuk mencapai tujuan Menerapkan desain pembelajaran yang terstruktur untuk mencapai tujuan Menerapkan pengelolaan kelas untuk mencapai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik Menerapkan interaksi aktif dan empatik dalam pelbelajaran yang berpusat pada peserta didik Menerapkan desain pembelajaran fase penutup yang terstruktur untuk mencapai tujuan pembelajaran peserta didik Menerapkan strategi lingkungan pembelajaran yang aman dan nyaman bagi peserta Mengelola kelas untuk mencapai pembelajaran yang berpusat pada peserta didik Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, agama, dan ekonomi yang relevan untuk menghadapi kebutuhan belajar peserta didik Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan potensi, minat, dan cara belajar peserta didik Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/pssh/issue/view/36 ISSN: 2808-103X Menggunakan pengetahuan dalam menentukan karakteristik yang akan mempengaruhi cara belajar peserta didik Menggunakan strategi pembelejaran yang sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, agama, dan ekonomi yang relevan untuk menetapkan kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan potensi, minat, dan cara belajar peserta didik Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, agama, dan ekonomi yang relevan untuk kebutuhan belajar peserta didik Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik sesuai dengan potensi, minat, cara belajar peserta didik Menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan keragaman kebutuhan belajar peserta didik untuk pembelajaran yang inklusif Menggunakan pengetahuan tentang komponen kurikulum dan cara menggunakannya untuk merancang desain pembelajaran Menggunakan asesmen untuk meningkatkan pembelajaran yang berpusat pada peserta Menggunakan asesmen untuk meningkatkan pembelajaran yang berpusat pada peserta Menggunakan asesmen untuk meningkatkan pembelajaran yang berpusat pada peserta Tugas tersebut merupakan salah satu tugas untuk melatih mahasiswa pada tahap awal membuar renacan Tugas yang lain membuat video pembelajaran mempraktikkan rencana yang sudah disusun. Berdasarkan tugas dan kriteria penilaian, mahasiswa sudah disiapkan untuk menghadapi peserta didik Peserta didik dengan generasi yang berbeda dengan era VUCA. Harapannya mahasiswa siap secara ilmu dan psikhologis. KESIMPULAN Era VUCA merupakan era yang harus dihadapi secara bijak dengan penuh kesiapan dalam menerima, mengolah, menganalsis, dan menggunakan untuk memenuhi kebutuhan. Mahasiswa yang belum stabil dan sangat terpengaruh dengan adanya perubahan yang sangat cepat,rumit, kompleks dan tak menentu perlu adanya motivasi, pendampingan, pengarahan dari pemimpin yang ada di dalam kelas, yaitu dosen. Dosen secara kolaboratif dan adattif mengajak mahasiswa untuk siap mengahadapi situasi saat Dengan empat kompetensi, dosen membantu mahasiswa untuk menghadapi segala permasalahan agar tujuan belajar, perkuliahan berjalan lancar tanpa hambatan. Oleh karena itu, dosen berperan juga untuk menanamkan kemampuan berkomunikasi secara interaktif agar kolaborasi berjalan secara adaptif. Untuk mendukung kemampuan itu mahasiswa harus belajar memahami banyak informasi, berkolaborasi dalam berbagai forum, memiliki rasa percaya diri mendasarkan pada etika yang berlaku. Namun, mahasiswa juga harus dibekali dengan nilai-nilai karakter agar menjadi kemudi generasi penerus Karakter untuk bergotong royong, disiplin, peduli, kerja sama, saling menghargai orang lain, baik pendapat maupun sikap. Pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman belajar tersebut digirng kepada pemikian secara kritis, kreatif, kolaboraif, dan komunikatif. DAFTAR PUSTAKA