1 P- ISSN: 2527-5798. E-ISSN: 2580-7633 Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. No. Januari-Juni 2022 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DPT-HIB DI PUSKESMAS ASAM-ASAM TAHUN 2021 Chrisnawati1. Subarjo 2. Sapariah Anggraini 3. Anastasia Maratning4 1,2,3,4 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin Email: yudhachris16@gmail. ABSTRACT AEFI (Adverse Event Following Immunizatio. is a condition that occurs due to side effects of immunization. AEFI is characterized by fever, swelling and redness of the injection site. AEFIs that occur due to the DPT-Hib vaccine have an impact on the incidence of trauma to mothers who bring their children to the immunization program. Mother's knowledge is very important to be able to manage and handle DPT-Hib AEFI in children. This study aims to describe the knowledge of mothers about AEFI DPT-Hib at the Asam-asam Health Center in 2021. This study used a quantitative method with a descriptive design and a survey approach. The population was all mothers with toddlers who carry out DPT-Hib immunization activities in the working area of the Asam-asam Health Center totaling 76 people and the total population sampling technique being 76 people. Data analysis used descriptive statistics and the data was displayed in the form of a frequency distribution. The results showed that mother's level of knowledge about AEFI DPT-Hib at the Asam-asam Health Center was majority in the good category, 65 respondents . %). This study suggests that nurses maintain education about AEFI DPT-Hib to mothers at the Asam-asam Health Center so that the immunization program can be followed optimally. Keywords: AEFI. DPT-HIB Immunization. Mother's Knowledge. ABSTRAK KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisas. merupakan kondisi yang terjadi akibat efek samping imunisasi. KIPI ditandai dengan demam, bengkak dan merah bekas suntikan. KIPI yang terjadi akibat vaksin DPT-Hib berdampak pada timbulnya trauma pada ibu yang membawa anaknya mengikuti program imunisasi. Pengetahuan ibu sangat penting agar dapat mengelola dan menangani KIPI DPT-Hib pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang KIPI DPT-Hib di Puskesmas Asam-asam Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode kuantitaif dengan rancangan deskriptif dan pendekatan survey. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki balita yang melakukan kegiatan imuniasi DPT-Hib di wilayah kerja Puskesmas Asamasam berjumlah 76 orang dan sampel dengan teknik total population sampling berjumlah 76 orang. Analisis data mengunakan statistic deskriptif dan data ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukan tingkat pengetahuan ibu tentang KIPI DPT-Hib di Puskesmas Asam-asam mayoritas pada kategori baik 65 responden . %). Penelitian ini menyarankan agar perawat mempertahankan edukasi tentang KIPI DPT-Hib kepada ibu di Puskesmas Asam-asam agar program imunisasi dapat diikuti secara Kata Kunci: KIPI. Imunisasi DPT-HIB. Pengetahuan Ibu. PENDAHULUAN Saat ini dunia kesehatan telah menjadi salah satu kebutuhan utama bagi kelangsungan hidup manusia. Hal ini didukung oleh pengakuan bahwa indikator kesehatan sendiri mampu menjadi tolak ukur utama bagi kesejahteraan masyarakat. Adapun salah satu indikator penting tersebut ialah dengan mempertahankan diri terhadap penyakit, baik penyakit tidak menular ataupun penyakit menular, penyakit akibat mikroba seperti, virus, bakteri parasit dan jamur, dan lain-lain. Sebagai tambahan, tubuh mempunyai cara mengatasi penyakitpenyakit tersebut dalam batas waktu tertentu (Saragih dan Refika, 2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang penyelenggaraan Imunisasi menegaskan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan indikator kesehatan bagi individu agar terhindar dari penyakit telah dilakukan dengan berbagai upaya, seperti pemberian promosi kesehatan bagi masyarakat, penerapan PHBS di masyarakat, hingga pemberian vaksin atau imunisasi bagi penyakit menular, infeksi, dan lain-lain. Imunisasi menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. P- ISSN: 2527-5798. E-ISSN: 2580-7633 Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. No. Januari-Juni 2022 Pencegahan penyakit dengan imunisasi telah diakui oleh Kebijakan imunisasi saat ini lebih diarahkan untuk mencapai sasaran imunisasi seperti pencegahan polio, eliminasi tetanus neonatorum, dan reduksi campak, yang diikuti juga komitmen global melalui capaian dukungan pemerataan Universal Child Immunization (UCI) sampai tingkat desa terjamin penyuntikan dengan aman . afe injectio. serta berkesinambungan. Adapun jenis imunisasi yang diberikan pada bayi yaitu Bacillus Calmette-Guerin (BCG). Difteri Pertusis Tetanus (DPT). Hepatitis B (HB). Haemophillus Influenza tipe B (Hi. , polio, dan campak (Yuda dan Nurmala, 2. Vaksin DPT (Difteri. Pertusis dan Tetanu. diberikan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap tiga penyakit sekaligus yakni difteri, pertusis dan tetanus yang memiliki efek samping ringan dan berat. Efek samping ringan yang dapat terjadi adalah pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan disertai deman, sedangkan untuk efek samping berat bayi dapat menangis hebat selama kurang lebih empat jam, kesadaran menurun, terjadi kejang, enselofati dan syok (Saleha, 2. Pada literatur WHO dijelaskan bahwa KIPI pasca imunisasi dapat menimbulkan reaksi sistemik dan lokal. Reaksi lokal ringan seperti nyeri, kemerahan, dan pembengkakan dilaporkan sekitar 40Ae 80% setelah imunisasi dengan vaksin yang mengandung DTP. Data kasus KIPI tidak serius berupa demam, bengkak dan merah bekas suntikan akibat vaksin DPT-Hib di wilayah Kabupaten tanah laut sebanyak 219 kasus dan di Puskesmas Asam-asam sebanyak 47 kasus (Dinas Kesehatan Tanah Laut,2. Adapun data kasus angka kejadian KIPI di beberapa Puskesmas di Kabupaten Tanah Laut, antara lain. Puskesmas Asam-asam sebanyak 47 kasus. Puskesmas Kintap sebanyak 46 kasus. Puskesmas Tirta Jaya sebanyak 41 kasus. Puskesmas Tambang ulang sebanyak 35 kasus, dan puskesmas Sungai Rian sebanyak 25 kasus. Kegiatan wawancara, sebagai bagian dari studi pendahuluan yang dilakukan kepada 10 Ibu yang memiliki bayi/ balita di Puskesmas Asam-asam pada tanggal 10 Oktober 2020. Melalui kegiatan wawancara dengan 10 Ibu . %) mengungkapkan bahwa mereka tidak dan belum mengetahui apa itu KIPI, istilah KIPI dan arti dari KIPI. Lalu 5 dari 10 Ibu . %) mengatakan jika anaknya demam setelah imunisasi, maka diberi obat penurun panas dari petugas kesehatan/ beli sendiri di apotek dan ikuti petunjuk pemberian obat dari kemasannya, 3 dari 10 ibu . %) mengatakan jika anaknya panas/ demam cukup diberi kompres air dingin dan dibawa ke tukang urut, karena masih takut memberikan obat pada anak yang masih kecil . dan menunggu jika tidak ada perubahan maka baru/ segera dibawa ke fasilitas pelayanan Lalu 2 dari 10 ibu . %) mengatakan meminum obat penurun panas sendiri karena masih menyusui dan obat tersebut dapat mengalir melalui ASI ibu. Selanjutnya, jika terjadi bengkak pada bekas suntikan, maka 6 dari 10 Ibu . %) mengungkapkan bahwa akan diberi kompres hangat dan tunggu hingga bengkaknya akan berkurang dengan sendirinya, lalu 3 dari 10 Ibu . %) mengungkapkan dapat dioles dengan minyak kayu putih saja dan 1 ibu . %) mengatakan dibiarkan saja/ tidak dilakukan apapun karena takut terjadi apa- apa pada bayinya. Pada tahun 2017 telah terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri di beberapa daerah di Indonesia yang menyebabkan beberapa kematian penderita, hingga menimbulkan keresahan masyarakat Indonesia sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap Hal ini menjadi penting untuk menjadi perhatian, bahwa kasus KIPI pada imunisasi DPT-Hib menjadi lebih utama dibandingkan dengan kasus KIPI pada imunisasi lain. Pernyataan tersebut juga didukung dengan beberapa hal, seperti hasil data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tanah Laut dari 219 kasus KIPI di 19 puskesmas DPT-Hib yang terbanyak ada 215 kasus. BCG 2 kasus, dan campak 2 kasus. Kemudian angka kejadian kasus KIPI yang ada di puskesmas Asam-asam sebanyak 47 kasus yang disebabkan setelah pemberian imunisasi DPT-Hib. Lalu didukung juga dengan berbagai efek samping/ reaksi yang ditimbulkan setelah imunisasi DPT- Hib ini dapat menyebabkan demam, bengkak di area bekas penyuntikan, anak menjadi rewel dan bayi bisa menangis bila disentuh di area bekas suntikannya, sedangkan imunisasi yang lain tidak demikian. Selain itu. KIPI dari imunisasi DPT-Hib dapat memberikan presepsi negatif seperti ibu khawatir dan jadi malas membawa anak ke puskesmas untuk imunisasi DPT-Hib, dan capaian program imunisasi pemerintah di puskesmas terkait imunisasi DPT-HiB dapat menurun serta menimbulkan dampak peningkatan penyakit salah satunya tingginya angka kejadian difteri pada anak. METODOLOGI Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan penelitian kuantitatif. Metode ini merupakan suatu proses untuk menemukan pengetahuan menggunakan data berupa angka sebagai alat analisis untuk berbagai keterangan, mengenai apa saja yang ingin diketahui (Sugiyono, 2. Pada penelitian ini, menggunakan analisa deskriptif dan pendekatan cross-sectional yang digunakan untuk menggambarkan pengetahuan ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-Hib di Puskesmas Asam- Asam. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 April sampai dengan 30 April 2021 di Puskesmas Asam-asam. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu-ibu yang datang membawa anaknya di wilayah kerja Puskesmas Asamasam untuk diberikan imunisasi dasar khususnya imunisasi DPT-HiB yang tercatat dalam periode November 2020, sebanyak 76 ibu sesuai dengan ketentuan dan kriteria yang telah ditetapkan peneliti. Sampel pada penelitian ini adalah semua ibu-ibu yang memiliki bayi/ balita yang melakukan kegiatan imuniasi DPT-Hib kepada anaknya di wilayah kerja Puskesmas Asam-asam sebanyak 76 orang sesuai dengan ketentuan dan kriteria peneliti. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini mengunakan alat ukur dengan skala Guttman dengan jumlah 16 item pertanyaan dan kategori sesuai dengan kebutuhan serta ketentuan peneliti. Hasil uji validitas dan reliabilitas P- ISSN: 2527-5798. E-ISSN: 2580-7633 Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. No. Januari-Juni 2022 menunjukan instrument ini valid dengan nilai r hitung lebih dari r tabel 0,444 dan instrument ini reliabel dengan nilai CronbachAos alpha lebih dari 0,6. Instrument penelitian berupa kuesioner tertutup atau terstrukutur. Kuesioner tersebut telah diadopsi, dimodifikasi dan dikombinasi dari teori Mardiana. Sri, 2018. Rahmawati dan Ningsih, 2020 pada penelitian sebelumnya yang kemudian dibuat peneliti sesuai HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden pada Tahun 2021. Karakteristik Responden Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Jumlah Usia 17-25 tahun 26-35 tahun 36-45 tahun 46-55 tahun Jumlah Jenis Pekerjaan IRT Karyawan Pegawai Wiraswasta Jumlah Tingkat Pendidikan SMP/ SLTP SMA/SMK/SLTA D i D IV Jumlah Data kuantitatif yang telah terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel distribusi Kategori Baik Cukup Kurang Jumlah Tabel 2. menunjukkan data tingkat pengetahuan ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-Hib di Puskesmas Asam-asam sebagian besar termasuk dalam kategori baik sebanyak 65 responden . %), sedangkan 8 responden masuk kategori cukup . %) dan 3 responden termasuk dalam kategori kurang . %). PEMBAHASAN Tabel 1. menunjukkan distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden. Mayoritas responden berjenis kelamin perempuan . 100%), berusia 17-25 tahun . 45%) dan 26-35 tahun . 45%), jenis pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT) . 91%), dan memiliki tingkat pendidikan SMA/SMK/SLTA . 41%). dengan kerangka konsep penelitian. Instrument yang peneliti gunakan sudah valid dan reliabel untuk digunakan. Hasil penelitian dapat ditunjukkan dengan tabel-tabel sebagai berikut: Karakteristik Responden Analisis Univariate Tabel 2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Pengetahuan Ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-HIB di Puskesmas Asam-asam Tingkat pengetahuan ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT- Hib di Puskesmas Asam-asam mayoritas termasuk dalam ketegori baik. Hal ini menunjukkan bahwa para ibu telah mampu memahami dengan cukup baik secara keseluruhan konsep dari imunisasi dan KIPI DPT-Hib yang merupakan satu kesatuan unsur yang terdiri dari beberapa indikator utama yang dapat dinilai mulai dari pengertian imunisasi DPT-Hib, frekuensi pemberian imunisasi, tanda dan reaksi/ efek pasca imunisasi DPT-Hib, dampak imunisai DPT-Hib dan penanganan imunisasi DPTHib (Sundoro, dkk, 2018. Mardiana, 2. Pemenuhan pengetahuan akan imunisasi khususnya kejadian pasca imunisasi akan menghasilkan sebuah keputusan, sikap dan berbagai intervensi. Berdasarkan dari master tabel data penelitian yang didapatkan bahwa pengetahuan ibu berada pada persentasi 81% hingga 94% dalam mengetahui pengertian imunisasi, frekuensi pemberian, cara pemberian, reaksi/efek pasca imunisasi, dampak maupun penanganan dari kejadian pasca imunisasi (KIPI). Mubarak . menyatakan bahwa pengetahuan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pendidikan, pekerjaan, umur, pengalaman dan infomasi. Salah satu faktor penting yang mempengaruhi pengetahuan adalah tingkat Hal ini dapat tergambar pada penelitian ini. Ibu dengan pengetahuan baik memiliki latar belakang pendidikan SMP. SMA. Diploma dan Sarjana sebanyak 91%. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah pula mereka memperoleh informasi. Hal ini juga diungkapkan Notoatmojo . yang menyatakan bahwa pada usia muda individu berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua. Selain P- ISSN: 2527-5798. E-ISSN: 2580-7633 Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. No. Januari-Juni 2022 itu, orang usia muda akan lebih banyak waktu untuk Sejalan dengan hal tersebut. Nazwa & Titi . dalam penelitiannya menunjukkan kemudahan untuk memperoleh informasi juga membantu mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru. Pengetahuan juga diperoleh dari minat seseorang. Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Semakin tinggi minat seseorang terhadap sesuatu maka akan semakin banyak pengetahuan yang ia dapat (Mubarak dkk, 2. Sesuai dengan ungkapan dari ibu ketika peneliti menyebarkan kuesioner, sebagian ibu sudah mendapatkan informasi terkait KIPI saat mengantarkan anaknya imunisasi namun tidak semua memperhatikan secara lebih dalam. Faktor usia juga sangat berpengaruh dalam memperoleh Dalam penelitian ini diperoleh usia ibu dalam rentang 24-38 tahun. Semakin tinggi umur seseorang, maka semakin matang dalam berfikir dan mengenal masalah (Wawan A dan Dewi M, 2. Status pekerjaan Ibu rumah tangga dimana secara teori ibu rumah tangga cenderung lebih fokus terhadap kesehatan anak dan keluarga sehingga membuat mereka memperoleh infomasi atau pengetahuan baik dari media, lingkungan sosial maupun fasilitas kesehatan lainnya, mempercepat seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang baru (Mubarak, dkk, 2. Sejalan dengan penelitian oleh Dahlan dan Anggian dkk, adanya hubungan antara status pekerjaan ibu dengan pemberian ASI ekslusif dimana ibu dengan tidak bekerja memiliki kemungkinan besar memberikan ASI ekslusif karena banyak waktu luang ibu yang dapat digunakan untuk merawat dan memberikan kasih sayang untuk bayinya (Dahlan, 2013 dan Anggian dkk 2. Selain itu, terdapat beberapa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang seperti, tingkat pendidikan, paparan informasi, usia, media, pekerjaan, pengalaman dan kebudayaan (Notoadmodjo, 2. Namun, hal ini tidak sejalan dengan penelitian Sekar . yang menilai hubungan tingkat pengetahuan ibu mengenai KIPI terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap pada balita di wilayah kerja Puskesmas Kom Yos Sudarso Pontianak. Penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian KIPI. Pada kategori cukup dan kurang yaitu 13% dari hasil penelitian terletak pada indikator ketidakmampuan mengenal efek/ reaksi pasca imunisasi, dampak dari imunisasi serta penanganan dalam hal ini memiliki skor terendah yaitu 8-11 dari penilaian indikator secara keseluruhan. Terkait reaksi/efek pasca imunisasi yang tidak dapat dijawab/ diketahui oleh responden yaitu terkait reaksi setelah imunisasi anak bisa demam, rewel, bengkak di area suntikan dan juga efek samping. Selain itu, ibu menganggap bahwa anak yang diimunisasi menjadi tidak sehat dan tidak memiliki Ibu juga tidak mengetahui bila terjadi pembengkakan pada area suntikan maka dapat diberikan kompres hangat di area bekas suntikan. Hasil dari kegiatan imunisasi dan vaksin, tidak terlepas dari kecemasan orang tua terhadap KIPI pasca imunisasi anak. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman orang tua, khususnya ibu tentang efek/ reaksi yang timbul serta penanganannya, membuat ibu merasa cemas dan takut (Mardiana, 2. Pengetahuan ibu tentang imunisasi sangat diperlukan karena imunisasi tersebut sangat penting untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit. Pada bayi 0-9 bulan dianjurkan untuk memberikan imunisasi sehingga daya tahan tubuh bayi menjadi kebal terhadap suatu penyakit (Notoadmodjo, 2. Pengetahuan yang harus diketahui oleh ibu baik dari segi pengertian, reaksi/efek pasca imunisasi, bagaimana penanganan dan dampak yang muncul jika tidak tertangani dengan baik KIPI tersebut (Arikunto, 2010. Sari,dkk 2018. Kemenkes RI, 2. Data dan pembahasan hasil penelitian mengenai pengetahuan ibu yang termasuk dalam kategori baik, diperoleh dari responden yang menyatakan bahwa, ibu balita secara rutin mendapatkan informasi tentang imunisasi dari kader-kader Selain itu, keseluruhan ibu balita mengatakan bahwa responden sering mencari tahu tentang kesehatan melalui media masa dan sosial. Keaktifan ibu dalam meningkatkan literasi mengenai imunisasi kemungkinan dipengaruhi dari keingintahuan ibu terhadap imunisasi dan dampaknya pada anak selain itu informasi yang didapat dari media sosial lebih singkat dan mudah untuk dipahami serta lebih menarik dalam penyampaiannya. Kemudian, mengenai pengetahuan ibu yang termasuk dalam kategori cukup hingga kurang, hal ini dikarenakan, terdapat beberapa ibu yang kurang peduli mengenai hal-hal yang berkaitan tentang kesehatan anaknya khususnya imunisasi. Kemungkinan hal ini disebabkan pengalaman ibu dalam mengasuh anak, masalah ekonomi yang membutuhkan peran ibu dalam membantu keluarga dan kegiatan-kegiatan lain yang lebih menarik focus ibu dalam menggunakan media sosial seperti lebih menggunakan untuk hiburan tidak untuk literasi dan edukasi tentang perkembangan anak. Hal ini terjadi salah satunya disebabkan oleh faktor internal dan eksternal ibu. Peneliti menyimpulkan bahwa dengan tingkat pengetahuan ibu yang baik maka ibu akan dapat dengan lebih baik memahami dan mengaplikasikan program maupun intervensi imunisasi DPT-Hib serta KIPI dari imunisasi tersebut dengan baik dan tepat. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pengetahuan ibu yang memadai tentang imunisasi dan kejadian KIPI akan membentuk kepercayaan diri ibu dan menurunkan tingkat kecemasan ibu pasca imunisasi yang dilakukan pada bayinya (Musfiroh & Pradina, 2. Namun, dalam hal ini petugas kesehatan memiliki peran penting sebagai edukator guna pemberian informasi tentang proses dan dampak imunisasi, sehingga mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, serta ibu dapat melaporkan kejadian KIPI yang dialami anak pasca imunisasi, segera pelayanan kesehatan jika terdapat halhal yang tidak wajar. Penting pula bagi petugas kesehatan untuk memberikan P- ISSN: 2527-5798. E-ISSN: 2580-7633 Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI) Vol. No. Januari-Juni 2022 informasi/ promosi kesehatan yang benar dan sesuai bagi para ibu, dengan pendekatan sosial, sesuai usia, tingkat pendidikan dan kondisi ibu terkait KIPI dan imunisasi, agar ibu dapat memahami/ meningkatkan pengetahuannya dari segi fasilitas, media dan manajemen informasi yang diterima untuk mengikuti program imunisasi sesuai anjuran pemerintah/ petugas kesehatan secara berkelanjutan, menyeluruh, aman dan nyaman. Kemenkes RI. Program Imunisasi. Jakarta. Diakses pada tanggal 22 Oktober 2020. KESIMPULAN Mardiana. Skripsi Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Pada Bayi Di Puskesmas Bara-Baraya Makassar. Naskah dipublikasikan http://repositori. id/11434/ pada tanggal 02 November 2020. Hasil penelitian mengenai gambaran pengetahuan Ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-Hib di Puskesmas Asam-asam adalah pengetahuan ibu mayoritas dalam kategori baik sebanyak 65 responden . %), sedangkan 8 responden masuk kategori cukup . %) dan 3 responden termasuk dalam kategori kurang . %). Sehingga, gambaran pengetahuan Ibu tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-Hib di Puskesmas Asam-asam Tahun 2021 termasuk dalam kategori baik. Perawat perlu mempertahankan dan meningkatkan pendidikan kesehatan dengan pendekatan per individu agar para ibu dapat lebih fokus memperhatikan dan mencerna informasi yang diberikan dengan pendekatan per-individu agar para ibu dapat lebih fokus memperhatikan dan memahami informasi yang diberikan. Serta perawat selalu mengajarkan secara langsung bagaimana cara menangani demam dan bengkak pada area bekas suntikan imunisasi. ACKNOWLEDGEMENT Terimakasih kepada Puskesmas Asam-Asam. Responden penelitian, dan STIKES Suaka Insan yang telah membantu dan mendukung terlaksananya penelitian dan publikasi ini. DAFTAR PUSTAKA