BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu Maria Sindrela Wea*1. Efrida Ita2. Yasinta Maria Fono3. Gde Putu Arya Oka4 1,2,3,4 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. STKIP Citra Bakti Abstract Early childhood socio-emotional behavior plays a crucial role in children's overall development. This study aims to describe the process of controlling socio-emotional behavior in early childhood and the forms of collaboration between teachers and parents at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. A descriptive qualitative method with a case study approach was employed, and data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that the management of children's socio-emotional behavior is carried out through synergistic collaboration between teachers who apply cognitive functions . motional literac. and parents who apply affective functions . motional reassurance and affectio. This collaboration is realized through routine communication during school drop-off and pick-up, the alignment of rules between school and home to prevent value confusion, and periodic meetings as a structured monitoring system. These interventions have proven effective in transforming children's negative behaviors into positive socio-emotional competencies. This study contributes practical strategies for school-family collaboration in early childhood education, while also raising awareness of the vital role of parents as children's primary emotional support figures. Keywords: early childhood, socio-emotional regulation, teacher and parent collaboration, early childhood behavior management Submitted: 3 March 2026. Reviewed: 5 March 2026. Accepted: 17 March 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Pengendalian Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Kolaborasi Guru dan Orang Tua Di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu Abstrak Perilaku sosial emosional anak usia dini memegang peranan penting dalam perkembangan anak secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini serta bentuk-bentuk kolaborasi antara guru dan orang tua di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, dan pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian perilaku sosial emosional anak dilakukan melalui kolaborasi sinergis antara guru yang menerapkan fungsi kognitif . iterasi emos. dan orang tua yang menerapkan fungsi afektif . enenangan dan kasih Kolaborasi diwujudkan melalui komunikasi rutin saat antar-jemput anak, penyelarasan aturan antara sekolah dan rumah untuk mencegah kebingungan nilai, serta pertemuan berkala sebagai sistem pemantauan terstruktur. Intervensi ini terbukti efektif mengubah perilaku negatif anak menjadi kemampuan sosial emosional yang positif. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa strategi praktis kolaborasi sekolah-keluarga dalam pendidikan anak usia dini, sekaligus Corresponding Author: Maria Sindrela Wea, cindiwea99@gmail. Program Studi Pendidikan Guru Pendidika Anak Usia Dini. STKIP Citra Bakti. Kabupaten Ngada. Nusa Tenggara Timur. Indonesia 19 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Maria Sindrela Wea, et. meningkatkan kesadaran akan peran penting orang tua sebagai pendamping emosional utama Kata Kunci: Anak Usia Dini. Regulasi Sosial Emosional. Kolaborasi Guru Dan Orang Tua. Manajemen Perilaku Anak Usia Dini PENDAHULUAN Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi anak usia 0-6 tahun merupakan fase krusial dalam Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 14. PAUD adalah upaya pembinaan melalui rangsangan pendidikan guna mendukung pertumbuhan jasmani dan rohani sebagai persiapan jenjang pendidikan selanjutnya. Menurut (Meo Ngodhu. Meka. , & Oka, 2. fase ini merupakan masa emas sekaligus periode perkembangan yang sangat unik dengan karakteristik pertumbuhan yang Namun pada masa emas ini, anak berada pada kondisi yang sangat rentan. Mengingat anak usia dini sepenuhnya memerlukan pendampingan orang lain, penanganan yang tidak tepat justru dapat merugikan perkembangan mereka. Oleh karena itu, diperlukan sinergi yang harmonis antara lingkungan sekolah dan rumah. Tanpa adanya kolaborasi yang konsisten antara guru dan orang tua, resiko kebingungan nilai dan ketidaksiapan karakter pada anak menjadi ancaman nyata yang harus ditangani sejak dini. Anak usia dini merupakan anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun mental yang sangat pesat. Dalam mewujudkan perkembangan yang optimal, anak sangat membutuhkan dukungan dari semua pihak, seperti orang tua, lingkungan masyarakat negara dan pendidikan. Anak merupakan mutiara paling berharga bagi kehidupan sebuah keluarga. Anak juga merupakan aset bangsa di masa depan. Berbicara tentang anak merupakan bagian yang tidak terpisah dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara (Tia, . Ita. , & Ngura, 2. Menurut (Emerson. , & Nabatchi, 2. kolaborasi adalah proses sosial dimana individu atau organisasi bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ini melibatkan berbagai informasi, sumber daya, dan tanggung jawab untuk mencapai hasil secara individual dan lebih menekankan pentingnya saling membantu, pemahaman bersama, dan komitmen untuk mencapai tujuan yang disepakati (Borkowska. , & Osborne, 2. Kolaborasi anak usia dini adalah kegiatan melibatkan interaksi positif atau kerja sama antara anak atau antara guru, orang tua untuk mencapai tujuan Kolaborasi ini penting untuk mengembangkan keterampilan sosial, kognitif dan fisik motorik anak. Kolaborasi yang baik antara guru dan orang tua menjadi kunci dalam pengendalian perilaku anak agar selaras dengan nilai-nilai positif (McDowall. Tauma. , & Such, 2. Tanpa adanya kerja sama yang efektif, anak dapat mengalami kebingungan nilai dan perilaku yang kurang Pengendalian perilaku anak usia dini melalui kolaborasi guru dan orang tua merupakan upaya penting dalam membentuk karakter anak. Kerja sama antara guru dan orang tua sangat krusial karena keduanya memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi dalam mendidik Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang konsisten dan mendukung perkembangan anak, baik di sekolah maupun di rumah (Epstein, 2. Menurut ((OECD). , 2. , pentingnya kolaborasi untuk anak usia dini dapat membentuk karakter anak melalui penerapan nilai-nilai positif secara konsisten, mengembangkan keterampilan sosial emosional anak untuk belajar berinteraksi dengan baik, memahami norma sosial dan mengembangkan rasa tanggung jawab. Selain itu, pengendalian kolaborasi antara guru dan orang tua dapat meningkatkan prestasi belajar anak dan dapat memenuhi kebutuhan anak agar anak 20 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu saling berbagi informasi dan bekerja sama baik secara akademik maupun non akademik, keterlibatan orang tua dalam kegiatan di sekolah seperti kegiatan parenting, fun cooking atau pentas seni (Sheridan. , & Kim, 2. Untuk itu, dalam kolaborasi ini guru dan orang tua dapat bersama-sama melakukan pemantau terhadap perkembangan anak dan memberikan dukungan yang dibutuhkan oleh anak, dan juga guru melakukan home visit atau melakukan kunjungan ke rumah orang tua untuk membangun hubungan yang lebih dekat dan memahami konteks keluarga dari anak (Garbacz. McDowall. Schaughency. Sheridan. , & Welch, 2. Perkembangan sosial emosional anak usia dini yang optimal sangat krusial dalam membantu anak mengendalikan emosi, berinteraksi secara positif, serta mematuhi aturan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya perbedaan antara tuntutan perkembangan tersebut dengan realitas perilaku anak. Berdasarkan observasi di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu, ditemukan masalah perilaku signifikan, anak sering menangis berlebihan tanpa sebab, berteriak tiba-tiba, melakukan tindakan agresif seperti memukul atau mendorong teman hingga sulit ditenangkan selama proses pembelajaran. Secara analitis, fenomena ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dipengaruhi oleh keterbatasan kemampuan anak dalam mengelola emosi serta adanya perbedaan pola asuh antara rumah dan sekolah. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup penting. Meskipun secara teori kerja sama antara guru dan orang tua dianggap sangat penting dalam pembentukan karakter anak, dalam praktiknya belum ada mekanisme kerja sama yang terstruktur untuk meyelaraskan perbedaan pola pengasuhan tersebut. Akibatnya, upaya dalam menangani perilaku sosial emosional anak masih dilakukan secara terpisah dan belum sepenuhnya menyentuh peyebab utama yang berasal dari perbedaan lingkungan pendidikan anak di rumah dan di sekolah. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi peneliti untuk mengkaji lebih mendalam bagaimana kolaborasi antara guru dan orang tua dapat menjadi upaya yang efektif dalam mengendalikan perilaku sosial emosional anak usia dini di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. Adapun rumusan masalah dari penelitian AuPengendalian Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Kolaborasi Guru dan Orang tuaAy Adalah Bagaimana pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini dilakukan melalui kolaborasi antara guru dan orang tua? Bagaimana bentuk kolaborasi antara guru dan orang tua dalam pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini? Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini melalui kolaborasi guru dan orang tua, untuk mengetahui bentuk-bentuk kolaborasi antara guru dan orang tua dalam upaya pengendalian perilaku sosial emosionak anak usia dini. Berdasarkan masalah di atas, pendekatan pemecahan yang dilakukan peneliti adalah melakukan kolaborasi dengan guru dan orang tua untuk mengendalikan perilaku sosial emosional anak di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. Kolaborasi ini dilakukan melalui komunikasi yang terbuka dan rutin antara guru dan orang tua, keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah, serta memberikan dukungan dan bimbingan pada anak. Melalui metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Dalam hal ini, pendekatan yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi, wawancara, dan Aktivitas yang dilakukan dalam menganalisis data yaitu, redukasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dengan demikian melalui pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya kerja sama antara guru dan 21 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Maria Sindrela Wea, et. orang tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan sosial emosional anak, baik di rumah maupun di sekolah. Berikut adalah state of the art dan kebaruan penelitian yang berjudul Pengendalian Perilaku Sosial Emosional Anak Usia Dini Melalui Kolaborasi Guru dan Orang Tua di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu, dengan penemuan-penemuan terdahulu sebagai berikut: (Sheridan. , & Kim, 2. Fokus pada Regulasi Diri Global. Temuan: Menunjukkan bahwa kemitraan keluarga dan sekolah yang efektif dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri anak dan menurunkan perilaku Kesenjangan: Penelitian ini dilakukan dalam konteks global yang memiliki latar belakang budaya dan sistem pendidikan yang berbeda dengan konteks lokal di Indonesia. Tinjauan terhadap beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan beberapa temuan penting. Penelitian yang dilakukan oleh (Lustiawati, 2. membahas tentang bagaimana guru dan orang tua menyesuaikan komunikasi selama masa pandemi. Namun, penelitian ini lebih berfokus pada situasi darurat sehingga hasilnya kurang dapat diterapkan pada kondisi pendidikan yang normal dan berlangsung secara berkelanjutan. (Aminoh Kiya, 2. mengkaji pengaruh kerja sama yang intensif antara guru dan orang tua terhadap kestabilan emosi anak. Meskipun demikian, penelitian ini masih melihat kerja sama secara umum dan belum membahas secara rinci bagaimana cara menyelaraskan aturan antara sekolah dan (Tjahyaningsih. Dewanti. Yunica, 2. menekankan pentingnya kerja sama atau sinergi antara guru dan orang tua dalam mendukung perkembangan anak pada masa usia yang penting. Akan tetapi, hasil penelitian tersebut masih bersifat umum dan belum menjelaskan langkah-langkah atau strategi yang sistematis untuk diterapkan. (Khadijah. Hasri Adinda. Puspita Naila . Salsabila Putir, 2. meneliti tentang keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Namun penelitian ini belum secara khusus membahas penggunaan kesepakatan aturan bersama antara guru dan orang tua sebagai cara untuk membantu mengendalikan perilaku anak. Penelitin ini memiliki nilai kebaruan yang membedakannya dari penelitian-penelitian sebelumnya, yaitu: Intervensi teknis yang spesifik: Berbeda dengan (Tjahyaningsih. Dewanti. Yunica, 2. yang bersifat umum, penelitian anda mengidentifikasi intervensi teknis yang nyata: Fungsi Kognitif oleh guru . iterasi emos. dan Fungsi Afektif oleh orang tua . Penyelarasan aturan (Dualism of Rules Avoidanc. : Menjawab kekurangan (Aminoh Kiya, 2. dan (Khadijah. Hasri Adinda. Puspita Naila . Salsabila Putir, 2. , penelitian Anda menemukan bahwa strategi utama pengendalian adalah "penyelarasan aturan", di mana aturan sekolah dibawa ke rumah agar anak tidak mengalami kebingungan nilai. Ekosistem monitoring terstruktur jika (Lustiawati, 2. hanya fokus pada adaptasi komunikasi pandemi, temuan Anda menunjukkan monitoring harian yang konsisten saat antar-jemput dan pertemuan rutin sebagai sistem deteksi dini masalah perilaku. Validasi melalui transformasi perilaku: Temuan memberikan bukti valid melalui observasi bahwa intervensi kolaboratif ini mampu mengubah perilaku egosentris menjadi kemampuan berbagi dan sabar secara nyata di 22 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian kualitatif digunakan untuk memperoleh informasi terperinci tentang pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Tujuan utamanya untuk mendapatkan gambaran pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini seperti, kemampuan anak mengelola emosi, mematuhi aturan, berinterkasi dengan orang lain, serta menyelesaikan konflik secara sederhana. Data yang diperoleh disusun secara sistematis kemudian dianalisi secara kualitatif untuk mencapai kejelasan masalah yang di bahas. Deskriptif yang di maksud di sini adalah memaparkan dan menggambarkan secara apa adanya sesuai permasalahan yang di teliti mengenai proses pengendalian perilaku sosial emosional anak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Dari hasil penelitian, kemudian di tarik sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban yang di angkat dari permasalahan penelitian. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Studi kasus adalah tentang kekhususan dan kompleksitas status kasus tunggal dan berusaha untuk mengerti kasus tersebut dalam konteks, situasi, dan waktu tertentu. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: observasi, dokumentasi, dan wawancara. Observasi Observasi yang dilakukan langsung oleh peneliti serta juga terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan mengenai pengendalian perilaku sosial emosional anak oleh sumber data dengan menggunakan pedoman observasi. Wawancara Wawancara yang dilakukan secara langsung oleh peneliti dan terstruktur dengan menggunakan instrumen wawancara kepada guru dan orang tua untuk mengetahui datadata tentang pengendalian perilaku sosial emosional anak. Dokumentasi Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung yang meliputi, catatan kegiatan anak di rumah, foto kegiatan, serta dokumen lain yang relevan dengan penerapan nilai displin Subjek. Lokasi, dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. Subjek penelitin terdiri dari dua orang responden utama yaitu, satu orang guru kelas yang bertanggung jawab atas proses pembelajaran dan satu orang tua murid yang dipilih berdasarkan kriteria keterlibatan aktif dalam kegiatan sekolah serta adanya kebutuhan pendampingan khusus terkait perilaku sosial emosional Waktu penelitian dilaksanakan selama satu bulan yakni dari tanggal 14 Januari Ae 14 Februari Instrumen Penelitian Penelitian menggunakan instrumen berupa pedoman observasi dan pedoman wawancara terstruktur yang ditujukan kepada guru dan orang tua. Pedoman observasi disusun berdasarkan indikator perilaku sosial emosional seperti, peran guru dan orang tua dalam pengendalian sosial emosional anak, bentuk kolaborasi guru dan orang tua, kemandirian dan tanggung jawab anak, kemampuan sosial anak, pengendalian emosi anak. Sementara itu, pedoman wawancara dirancang 23 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Maria Sindrela Wea, et. untuk menggali informasi mendalam mengenai strategi pengendalian emosi dan bentuk kolaborasi antara guru dan orang tua seperti, pengendalian sosial emosional anak, identifikasi permasalahan perilaku anak, strategi penanganan langsung terhadap perilaku anak, penerapan strategi pengendalian secara sistematis, serta pola komunikasi dan kolaborasi guru dan orang tua. Teknik Analisis Analisis data menggunakan model Miles. Huberman, dan Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Guru menjamin keabsahan . data, peneliti melakukan proses triangulasi dan validasi sebagai berikut: . Triangulasi sumber, membandingkan informasi yang diperoleh dari guru dan orang tua untuk melihat kesesuaian pandangan mengenaiperilaku anak. Triangulasi metode, mengonfirmasi data melalui hasil wawancara, observasi langsung, dan dokumentasi pendukung. Member checking, peneliti melakukan konfirmasi kembali kepada responden mengenai hasil interprestasi data untuk memastikan bahwa apa yang disajikan telah sesuai dengan maksud dan kondisi nyata yang dialami oleh responden. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap dua responden, yaitu guru (Responden . dan orang tua (Responden . , serta diperkuat dengan data observasi lapangan. Temuan disajikan berdasarkan lima aspek utama yang mencerminkan proses pengendalian perilaku sosial emosional anak usia dini melalui kolaborasi guru dan orang tua di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu. Aspek Mengetahui Pengendalian Sosial Emosional Anak Hasil wawancara terhadap Responden 1 tersaji dalam kutipan wawancara. Aukami sebagai guru berupaya untuk membimbing, dan mengarahkan anak, agar mampu mengenali, mengelola dan mengekspresikan perasaanya dengan baikAy. Kemudian petikan wawancara responden 2 Aukami sebagai orang tua menangani dengan bersikap tenang, sabar dan penuh perhatian, serta membujuk dengan memberikan kasih sayang dan kenyamananAy. Adapun koding terhadap data yang diperoleh ditemukan beberapa tema seperti pada tabel. Tabel 1 Koding Data Aspek Mengetahui Pengendalian Sosial Emosional Anak Tema Utama Bimbingan Edukatif Kode / Sub-Tema Membimbing, mengenali emosi Regulasi Ekspresi Mengelola Diri Stabilitas Emosi Sikap tenang dan Pendamping Kutipan Pendukung "Berupaya untuk membimbing, dan mengarahkan anak, agar anak mampu mengenali" (R. "mengelola dengan baik" (R. "menangani dengan bersikap tenang, sabar dan penuh perhatian" (R. Komunikasi Duduk bersama, "duduk bersama anak, mengajak Persuasif perlahan, anak berbicara perlahan, dan membujuk anak" (R. Pemberian Afeksi & Kasih sayang dan "memberikan kasih sayang dan Keamanan kenyamanan" (R. 24 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu Dengan demikian hasil koding dari data di atas, strategi pengendalian sosial emosional anak dilakukan melalui Fungsi Kognitif (R. : Fokus pada pemahaman anak terhadap emosi yang mereka rasakan . iterasi emos. Dan Fungsi Afektif (R. : Fokus pada penenangan . melalui kehadiran fisik dan kelembutan suara untuk menciptakan rasa aman. Aspek Identifikasi Permasalahan Perilaku Anak Hasil wawancara terhadap responden 1 tersaji dalam kutipan wawancara Aumenangis atau marah ketika tidak berbagi permainan atau fokus pada anak lain contoh permainan ini ibu kasih ke anak lainAy. Kemudian, petikan wawancara responden 2 Auanak sering marah atau menangis serta tantrum ketika anak merasa perhatian kami orang tua lebih ke adiknya dan anak juga sering menangis ketika situasi dan kondisi di rumah tidak nyaman untuk anakAy. Adapun koding terhadap data yang diperoleh ditemukan beberapa tema seperti pada tabel 2. Tabel 2 Koding Data Aspek Identifikasi Permasalahan Perilaku Anak No Tema Utama Kode / Sub-Tema Kutipan Pendukung Manifestasi Emosi Menangis. Marah, "menangis atau marah" (R. Negatif Tantrum "sering marah atau menangis serta tantrum" (R. Resistensi Berbagi Keberatan berbagi "ketika tidak berbagi permainan (Possessivenes. barang/permainan atau fokus pada anak lain" (R. Kecemburuan Sosial Reaksi terhadap "ibu kasih ke anak lain" (R. (Sibling Rivalr. pengalihan perhatian "perhatian kami orang tua lebih ke adiknya" (R. Kebutuhan Afeksi & Mencari perhatian "fokus pada anak lain" (R. Perhatian "merasa perhatian kami orang tua lebih ke adiknya" (R. Sensitivitas Ketidaknyamanan "menangis ketika situasi dan Lingkungan situasi rumah kondisi di rumah tidak nyaman untuk anak" (R. Berdasarkan koding di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan perilaku anak pada kedua responden berakar pada dua hal utama: Faktor Internal: Kesulitan meregulasi emosi saat merasa kehilangan dominasi atau perhatian . gosentrisme khas anak-ana. Dan Faktor Eksternal: Adanya kehadiran orang lain . dik/anak lai. dan kondisi atmosfer rumah yang dianggap tidak kondusif oleh anak. Aspek Strategi Penanganan Langsung Terhadap Perilaku Anak Hasil wawancara terhadap responden 1 tersaji dalam kutipan wawancara Au saya sebagai guru dekati anak, tenangkan anak,omong baik-baik kepada anak atau memberikan permainan kepada anakAy. Kemudian, petikan wawancara responden 2 Aukami orang tua biasa mengingatkan kepada anak untuk tidak membuat hal-hal tidak baik, selain itu kami memberikan perhatian dengan memeluk dan mencium anakAy. Selanjutnya, dikoding terhadap data yang diperoleh ditemukan beberapa tema seperti pada tabel 3. 25 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Maria Sindrela Wea, et. Tabel 3 Koding Data Aspek Strategi Penanganan Langsung terhadap Perilaku Anak No Tema Utama Pendekatan Persuasif Tenang Teknik Distraksi (Pengaliha. Edukasi Nilai & Norma Kode / Sub-Tema Mendekati, menenangkan, bicara baik-baik Memberikan Mengingatkan perilaku Kutipan Pendukung "dekati anak, tenangkan anak, omong baik-baik kepada anak" (R. "atau kepada anak" (R. "biasa mengingatkan kepada anak untuk tidak membuat hal-hal tidak baik" (R. Pemberian Afeksi Memeluk dan mencium "memberikan perhatian dengan Fisik memeluk dan mencium anak" (R. Intervensi Penanganan langsung saya sebagai guru dekati anak" (R. Responsif saat kejadian "kami mengingatkan" (R. Dari data di atas menunjukkan bahwa perbedaan gaya penanganan yang saling melengkapi: Responden 1 (Gur. : Lebih menekankan pada manajemen situasi . enenangkan dan mengalihkan fokus melalui media permaina. agar suasana kelas tetap kondusif. Dan Responden 2 (Orang Tu. Lebih menekankan pada kedekatan emosional . entuhan fisi. dan penanaman nilai moral secara Aspek Penerapan Strategi Pengendalian Secara Sistematis Hasil wawancara terhadap responden 1 tersaji dalam kutipan wawancara Aukami biasanya melakukan komunikasi mengenai perilaku sosial emosional yang dilakukan anak dengan orang tua saat orang tua mengantar dan menjemput anakAy. Kemudian, petikan wawancara responden 2. Aukami orang tua biasanya menlanjutkan pembiasaan dari sekolah mengenai perilaku sosial emosional anak ketika perilaku tersebut terjadi dirumahAy. Adapun koding terhadap data yang diperoleh ditemukan beberapa tema seperti pada tabel 4. Tabel 4 Koding Data Aspek Penerapan Strategi Pengendalian Secara Sistematis No Tema Utama Komunikasi Interaktif Kode / Sub-Tema Kutipan Pendukung Diskusi rutin saat "melakukan antar/jemput perilaku sosial emosional saat orang tua mengantar dan menjemput" (R. Kolaborasi Guru Koordinasi lintas "komunikasi mengenai perilaku dengan & Orang Tua (R. "melanjutkan pembiasaan dari sekolah" (R. Kontinuitas Melanjutkan pola di "menlanjutkan pembiasaan dari sekolah Pembiasaan mengenai perilaku sosial emosional anak" (R. Konsistensi Penanganan serupa "ketika perilaku tersebut terjadi Penanganan di sekolah & rumah dirumah" (R. 26 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu No Tema Utama Monitoring Perilaku Kode / Sub-Tema Kutipan Pendukung Pemantauan "komunikasi mengenai perilaku yang dilakukan anak" (R. Dari data ini menunjukkan bahwa pengendalian emosi anak tidak dilakukan secara parsial, melainkan melalui Ekosistem Pendukung yaitu Responden 1 (Gur. : Berperan sebagai inisiator data dan penyampai informasi mengenai perkembangan anak di sekolah. Dan Responden 2 (Orang Tu. Berperan sebagai pelaksana lanjutan . ollow-u. agar anak tidak bingung karena mendapatkan perlakuan yang sama . di mana pun mereka berada. Aspek Pola Komunikasi dan Kolaborasi Guru Hasil wawancara terhadap responden 1 tersaji dalam kutipan wawancara Au kami sebagai guru berperan aktif dalam bekerja sama dengan orang tua dengan membiasakan aturan yang dilakukan di sekolah kepada anak dan melakukan pertemuan rutin mengenai perilaku anakAy. Kemudian, petikan wawancara responden 2 Aukami orang tua membiasakan aturan dari sekolah agar perilaku anak dapat diekspresikan dengan baik dan kami orang tua juga selalu hadir dalam pertemuan langsung di sekolah mengenai perilaku anakAy. Adapun koding terhadap data yang diperoleh ditemukan beberapa tema seperti deskripsi temuan koding: . Kemitraan Proaktif: Menunjukkan bahwa kolaborasi bukan sekadar formalitas, melainkan adanya inisiatif nyata dari guru untuk melibatkan keluarga dalam proses pendampingan anak. Sinkronisasi & Konsistensi: Strategi utama yang ditemukan adalah "penyelarasan aturan". Dengan membiasakan aturan sekolah di rumah, anak tidak mengalami kebingungan nilai . ualism of rule. Komitmen Partisipatif: Responden 2 menegaskan bahwa kolaborasi didukung oleh kehadiran fisik orang tua secara konsisten dalam pertemuan di sekolah. Ini menunjukkan adanya keterbukaan jalur komunikasi. Monitoring Terstruktur: Pertemuan rutin berfungsi sebagai wadah untuk mengevaluasi perkembangan sosial emosional anak secara berkala, bukan hanya saat terjadi masalah . Dari koding di atas menunjukkan bahwa, kolaborasi antara guru dan orang tua dalam menangani perilaku anak telah berjalan secara sinergis dan konsisten. Keberhasilan ini didorong oleh adanya komunikasi dua arah melalui pertemuan rutin dan penyelarasan aturan yang sama antara sekolah dan rumah. Dengan dukungan penuh dari orang tua yang hadir secara aktif, anak mendapatkan pola asuh yang berkesinambungan, sehingga mereka tidak mengalami kebingungan nilai dan mampu mengekspresikan emosinya dengan lebih baik. Verifikasi Data Tahap verifikasi dilakukan dengan membandingkan . ross-chec. antara hasil wawancara dan pengamatan langsung di lapangan untuk memastikan validitas temuan. Tabel 5 Verifikasi Data Aspek Pengamatan Temuan Wawancara Temuan Observasi Status Peran Guru Membimbing, memberikan distraksi Guru memberikan arahan, pujian, dan contoh perilaku positif Valid 27 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Maria Sindrela Wea, et. Aspek Pengamatan Temuan Wawancara Temuan Observasi Status Peran Orang Tua Memberikan kasih sayang, ketenangan, sentuhan fisik Orang tua memberikan kasih sayang melalui ucapan/sentuhan dan bersikap sabar Valid Kolaborasi Komunikasi rutin saat antar-jemput dan keterlibatan dalam pertemuan sekolah Guru dan orang tua melakukan komunikasi rutin dan bekerja sama menangani masalah Valid Respons Anak Anak cenderung menangis/marah jika tidak berbagi atau kurang perhatian Anak mampu berbagi, bekerja sama, dan perasaan dengan baik Proses Perbaikan Strategi kognitif dan afektif digunakan untuk menenangkan anak Anak mampu menenangkan diri setelah marah dan menunjukkan sikap Valid Pengendalian Emosi Pembahasan Sinergi Fungsi Kognitif dan Afektif dalam Pengendalian Emosi Temuan penelitian menunjukkan bahwa guru di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu menggunakan strategi kognitif berupa literasi emosi, sedangkan orang tua menerapkan strategi afektif berupa penenangan dan kedekatan fisik. Sinergi ini selaras dengan pendapat (Yusuf, 2. bahwa pengendalian perilaku anak mencakup pemberian kasih sayang dan pengawasan yang Menurut (Denham, 2. , kompetensi emosi pada anak usia dini mencakup kemampuan mengenal, mengekspresikan, dan mengatur emosi, yang berkembang optimal ketika anak mendapatkan dukungan konsisten dari lingkungan sekitarnya. Sinergi fungsi kognitif dan afektif ini memastikan anak tidak hanya memahami emosinya secara intelektual, tetapi juga merasa aman secara emosional. Identifikasi dan Penanganan Masalah Perilaku Akar masalah berupa kesulitan berbagi . dan kecemburuan sosial . ibling rivalr. merupakan bagian dari proses perkembangan sosial emosional yang wajar. Menurut (Hurlock, 2. , perilaku anak perlu diarahkan sesuai nilai dan norma sosial melalui pengendalian yang bersifat membimbing, bukan mengekang. Teknik distraksi yang diterapkan guru mencerminkan peran guru sebagai fasilitator lingkungan belajar yang kondusif (Santrock, 2. , sedangkan tindakan orang tua yang memberikan aturan dan konsekuensi yang konsisten mendukung pembentukan regulasi diri anak. Dibandingkan penelitian (Aminoh Kiya, 2. yang membahas kerja sama secara umum, penelitian ini lebih spesifik mengidentifikasi strategi penyelarasan aturan sebagai mekanisme utama pengendalian perilaku. Kolaborasi sebagai Ekosistem Pendukung yang Sistematis 28 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Regulation of Early Childhood Socio-Emotional Behavior through TeacherAeParent Collaboration at TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu Pengendalian perilaku di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu tidak dilakukan secara terpisah, melainkan melalui ekosistem yang melibatkan komunikasi rutin dan penyelarasan aturan antara sekolah dan rumah. Hal ini mempraktikkan prinsip kolaborasi yang dikemukakan oleh (Goodall. , & Montgomery, 2. , yaitu keterlibatan aktif kedua belah pihak di mana pendidikan di sekolah dan rumah saling melengkapi. Temuan ini memperkuat penelitian (Sheridan. , & Kim, 2. yang menunjukkan bahwa kemitraan keluarga-sekolah yang efektif dapat meningkatkan kemampuan regulasi diri anak dan menurunkan perilaku negatif. Dibandingkan penelitian (Lustiawati, 2. yang berfokus pada komunikasi situasi darurat pandemi, temuan penelitian ini menunjukkan sistem pemantauan harian yang lebih konsisten dan berkelanjutan. Dampak Kolaborasi terhadap Transformasi Perilaku Anak Hasil verifikasi membuktikan bahwa intervensi kolaboratif berhasil mengubah perilaku anak yang semula sulit berbagi menjadi mampu bekerja sama dan bersabar. Temuan ini selaras dengan (Dhiu. , & Fono, 2. yang menyatakan bahwa masa usia dini adalah fase di mana anak perlu dibina agar menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Implikasi praktis bagi pendidikan anak usia dini adalah pentingnya program PAUD yang mengintegrasikan komunikasi rutin dan kegiatan bersama untuk mendukung perkembangan sosial emosional anak secara holistik. SIMPULAN Pengendalian perilaku sosial emosional anak di TKK Bunda Pengantara Rahmat Ngedukelu dilakukan melalui integrasi dua pendekatan yang saling melengkapi: guru menjalankan fungsi kognitif . iterasi emosi dan bimbinga. sementara orang tua menjalankan fungsi afektif . enenangan dan kasih sayan. Keterpaduan dua fungsi ini memastikan anak tidak hanya memahami emosinya, tetapi juga merasa aman secara emosional. Kolaborasi antara guru dan orang tua terwujud melalui ekosistem pendukung yang sistematis, mencakup komunikasi rutin saat antarjemput, penyelarasan aturan sekolah dan rumah, serta pertemuan berkala. Konsistensi penanganan ini terbukti mencegah kebingungan nilai pada anak. Intervensi kolaboratif yang terjalin terbukti efektif mengubah perilaku negatif anak, seperti tantrum dan sulit berbagi, menjadi kemampuan sosial emosional yang positif, di mana anak menjadi lebih sabar, mampu bekerja sama, dan memiliki regulasi diri yang lebih baik. Implikasi praktis penelitian ini bagi guru adalah pentingnya menginisiasi komunikasi dua arah yang konsisten dengan orang tua sebagai bagian dari strategi pengelolaan perilaku anak. Bagi orang tua, hasil ini menegaskan bahwa melanjutkan pembiasaan dari sekolah di rumah merupakan kunci keberhasilan perkembangan sosial emosional anak. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar mengkaji efektivitas kolaborasi guru-orang tua dalam konteks yang lebih luas dengan melibatkan lebih banyak subjek penelitian, atau mengembangkan model kolaborasi yang dapat diterapkan secara formal di satuan PAUD lainnya. DAFTAR PUSTAKA