Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 Jurnal Perikanan Kamasan, 5 . , 2025, 55-64 https://doi. org/10. 58950/jpk. Available online at: https://jurnalperikanankamasan. com/index. php/jpk/index Penggunaan Bubu Lipat untuk Penangkapan Kepiting Bakau (Scylla Sp. ) di Kampung Tanjung Barari AuThe Use of Foldable Crab Traps for Catching Mud Crabs (Scylla sp. ) in Tanjung Barari VillageAy Olivia L. Rumkorem1*. Andriani Widyastuti2. Baren Anggyon Rumanasen3, & Magrid Mambobo4 1*, 2,3,4Akademi Perikanan Kamasan Biak. Papua Email: olivialyr7@gmail. ABSTRAK INFO ARTIKEL Kampung Tanjung Barari. Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor, merupakan wilayah pesisir yang masyarakatnya banyak bergantung pada sektor perikanan. Di daerah ini, alat tangkap bubu telah digunakan secara turun-temurun oleh nelayan setempat untuk menangkap kepiting. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui konstruksi alat tangkap bubu lipat, mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap bubu lipat, mengetahui jenis dan jumlah hasil tangkapan dari alat tangkap bubu lipat, mengetahui daerah penangkapan serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan Kepiting Bakau (Scylla ) dengan menggunakan bubu lipat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret hingga Agustus 2025 dan berlokasi di Kampung Tanjung Barari. Distrik Oridek Kabupaten Biak Numfor. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini yaitu wawancara, observasi dan studi literatur. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu bubu lipat yang digunakan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 60x40x20 cm, dan terdiri dari bagian mulut, engsel, rangka, dinding jaring, pengait umpan, dan pintu. Pengoperasian alat tangkap bubu lipat terdiri dari 4 tahapan yaitu persiapan, pemasangan bubu . , perendaman bubu . dan pengangkatan bubu . Hasil tangkapan yang diperoleh berupa Kepiting Bakau (Syclla sp. dengan jumlah total hasil tangkapan selama 8 trip sebanyak 33 ekor dengan berat 14,84 kg. Daerah penangkapan berada di ekosistem mangrove yang terdapat disekitar kampung Tanjung Barari, dengan kedalaman perairan 1,5 meter. Faktor faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan Kepiting Bakau (Scylla ) dengan menggunakan bubu lipat yaitu lama perendaman, faktor habitat, desain bubu, dan umpan. ABSTRACT Kampung Tanjung Barari, located in Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor, is a coastal area where the local community largely depends on the fisheries sector for their livelihood. In this region. Copyright A 2025. Authors Article History: Received 18/07/2025 Revised 15/08/2025 Accepted 3/09/2025 Published 30/09/2025 Kata Kunci: A Bubu lipat. A kepiting bakau. A Tanjung Barari. Key Words: A folding bubu. A crabs. A tanjung barari Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 crab traps . have been traditionally used by local fishers for generations to catch crabs. The objectives of this study were: . to identify the construction of foldable crab traps. to examine the operational techniques of foldable crab traps. to determine the species composition and quantity of catches obtained using foldable crab traps. to identify the fishing grounds and the factors influencing the success of catching mud crabs (Scylla sp. ) using foldable crab traps. The study was conducted from March to August 2025 in Kampung Tanjung Barari. Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor. Data were collected through interviews, direct observation, and literature review. The results indicate that the foldable crab trap used by local fishers is rectangular in shape, measuring 60 y 40 y 20 cm, and consists of several components, including the entrance . , hinges, frame, net walls, bait holder, and door. The operational procedure of the foldable crab trap comprises four stages: preparation, trap setting, immersion, and hauling. The catch obtained consisted of mud crabs (Scylla sp. ), with a total of 33 individuals weighing 14. 84 kg collected over eight fishing trips. The fishing grounds were located within the mangrove ecosystem surrounding Kampung Tanjung Barari, at an average water depth of approximately 1. 5 meters. The factors influencing the success of mud crab (Scylla sp. ) fishing using foldable crab traps include soaking duration, habitat conditions, trap design, and bait selection. PENDAHULUAN Kepiting bakau merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai jual tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat, baik dalam negeri maupun untuk ekspor. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber daya kepiting secara bijak dan berkelanjutan menjadi sangat penting (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2. Salah satu alat tangkap yang digunakan secara luas dalam penangkapan kepiting adalah bubu lipat. Bubu lipat merupakan alat tangkap yang mudah dioperasikan, dapat dilipat sehingga mudah untuk dibawa di kapal atau perahu dalam jumlah yang banyak dan terbukti efektif untuk menangkap kepiting (Weri dan Sucahyo, 2. Alat tangkap ini bersifat pasif, ramah lingkungan, dan selektif terhadap ukuran hasil tangkapan. Penggunaan bubu dapat meminimalkan by catch . asil tangkapan sampinga. serta kerusakan habitat, sehingga sangat cocok digunakan dalam perikanan skala kecil dan tradisional (Sulistyo et. , 2. Namun, efektivitas penangkapan dengan bubu sangat dipengaruhi oleh teknik pengoperasian seperti pemilihan lokasi pemasangan, jenis umpan, waktu pengoperasian, serta desain alat tangkap itu sendiri. Kampung Tanjung Barari. Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor, merupakan wilayah pesisir yang masyarakatnya banyak bergantung pada sektor perikanan. Di daerah ini, alat tangkap bubu telah digunakan secara turun-temurun oleh nelayan setempat untuk menangkap kepiting. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui konstruksi alat tangkap bubu lipat, mengetahui teknik pengoperasian alat tangkap bubu lipat, mengetahui jenis dan jumlah hasil tangkapan dari alat tangkap bubu lipat, mengetahui daerah penangkapan serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan Kepiting Bakau (Scylla sp. dengan menggunakan bubu lipat. Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2025 di Kampung Tanjung Barari yang berada di Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive dengan pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan daerah pesisir yang masyarakatnya secara aktif memanfaatkan bubu lipat untuk menangkap Kepiting Bakau (Scylla sp. Selain itu, kawasan ini memiliki ekosistem mangrove yang menjadi habitat alami Kepiting Bakau sekaligus daerah penangkapan utama bagi nelayan Rentang waktu penelitian selama enam bulan memungkinkan peneliti melakukan pengamatan secara berulang sehingga data yang diperoleh lebih mendalam dan representatif. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan Pendekatan deskriptif digunakan untuk menggambarkan secara sistematis konstruksi bubu lipat, teknik pengoperasian, serta karakteristik daerah penangkapan. Sementara itu, pendekatan kuantitatif digunakan untuk menghitung jumlah dan berat hasil tangkapan yang diperoleh selama delapan trip penangkapan. Dengan demikian, kedua pendekatan tersebut saling melengkapi dalam memberikan gambaran yang komprehensif mengenai penggunaan bubu lipat dalam penangkapan Kepiting Bakau. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi literatur yang dilaksanakan secara terpadu. Wawancara dilakukan secara terstruktur dan semi-terstruktur kepada nelayan yang berpengalaman dalam penggunaan bubu lipat, dengan tujuan memperoleh informasi mengenai bahan dan ukuran konstruksi alat tangkap, tahapan pengoperasian, lama perendaman, jenis umpan yang digunakan, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan penangkapan. Selanjutnya, observasi lapangan dilakukan untuk mengamati secara langsung bentuk dan bagian-bagian bubu lipat, proses pemasangan . , perendaman, dan pengangkatan . , serta untuk mencatat jumlah dan berat hasil tangkapan pada setiap trip. Pengukuran ukuran bubu dilakukan menggunakan alat ukur, sedangkan penimbangan hasil tangkapan menggunakan timbangan digital. Selain itu, kondisi lingkungan seperti kedalaman perairan dan keadaan ekosistem mangrove juga didokumentasikan guna mendukung analisis data. Studi literatur dilakukan dengan menelaah berbagai sumber ilmiah, seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian yang relevan dengan biologi Kepiting Bakau (Scylla sp. karakteristik ekosistem mangrove, serta teknologi alat tangkap perikanan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif, di mana data kualitatif disajikan dalam bentuk uraian naratif, sedangkan data kuantitatif ditampilkan dalam bentuk tabulasi sederhana berupa jumlah total dan rata-rata hasil tangkapan per trip. Melalui analisis tersebut, diperoleh gambaran yang sistematis dan menyeluruh mengenai efektivitas penggunaan bubu lipat dalam penangkapan Kepiting Bakau di Kampung Tanjung Barari. HASIL DAN PEMBAHASAN Kampung Tanjung Barari merupakan salah satu kampung yang secara administratif termasuk dalam Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor. Kampung dengan luas A 12,87 km2 ini dapat ditempuh dengan jarak A 45 Km dari pusat kota Biak dengan menggunakan Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 transportasi darat. Berdasarkan data administrasi Kampung Tanjung Barari Tahun 2022, terdapat 124 kepala keluarga yang tersebar di 2 dusun, dimana Dusun 1 terdiri dari 2 RT dan Dusun 2 terdiri dari 2 RT. Konstruksi Bubu Lipat Bubu lipat yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk persegi panjang dengan dimensi p x l x t = 60 x 40 x 20 cm. Bubu lipat ini memiliki rangka yang terbuat dari besi berdiameter 4 mm. Selanjutnya bubu ditutup dengan menggunakan jaring Polyetilene multifilament dengan mesh size berukuran 2 x 2 cm. Menurut Subani dan Barus . , umumnya bubu lipat terdiri dari kerangka . , dinding . , mulut . , pintu, dan tempat umpan . ait cas. , celah pelolosan dan pemberat. Sedangkan, konstruksi bubu lipat yang digunakan dalam penelitian terdiri dari mulut, engsel, rangka, dinding jaring, pengait umpan, dan pintu (Gambar . Bubu ini tidak menggunakan pemberat karena diikatkan langsung pada akar pohon mangrove, sehingga tidak mudah berpindah tempat dan mudah Detail Gambar 1. Sketsa Bubu Lipat di Kampung Tanjung Barari Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 Tabel 1. Spesifikasi Bubu Lipat Pengoperasian Bubu Lipat Menurut Zakri et. , . , pengoperasian alat tangkap bubu terdiri dari 5 tahap yaitu persiapan, pencarian daerah penangkapan, pemasangan bubu, perendaman bubu dan pengangkatan bubu. Pengoperasian bubu lipat di Tanjung Barari dilakukan dalam 4 tahapan sebagai berikut: Persiapan Alat tangkap bubu lipat disiapkan sebanyak 11 unit pada setiap trip, perahu dayung dan umpan. Umpan berperan sebagai daya tarik yang menyediakan stimulus fisik dan kimia untuk spesies ikan tertentu selama proses memasuki jebakan (Otremoles, et. , 2. Menurut penelitian Muchlisin dan Azwir . , terdapat lima jenis umpan yang digunakan untuk penangkapan Kepiting Bakau yaitu tetelan kulit sapi, kepala ayam potong, daging kepiting bakau, ikan rucah, dan bungkil kelapa, dengan hasil penelitian membuktikan bahwa makanan hewani lebih disukai oleh kepiting bakau yang terlihat dari hasil tangkapan rerata yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan umpan nabati. Penggunaan umpan alami untuk penangkapan menggunakan alat tangkap bubu di Kampung Tanjung Barari juga dilakukan oleh Pondayar . , berupa potongan ikan cakalang, dengan metode bubu silinder, dan Sroyer . , menggunakan potongan ikan cakalang dengan metode bubu lipat berbentuk payung. Jenis umpan yang digunakan pada penelitian ini adalah umpan alami berupa potongan daging ikan sako (Tylosurus crocodilu. yang dipilih karena memiliki tekstur daging yang keras sehingga tidak mudah hancur saat melakukan perendaman umpan didalam bubu, selain itu umpan ini juga mudah didapatkan di perairan sekitar lokasi penelitian dan harganya murah. Cara pemasangan umpan cukup sederhana namun harus Umpan diikat atau dijepit dengan menggunakan kawat atau tali nilon pada rangka bubu bagian dalam. Umpan ini dipasang pada bagian tengah atau bagian dalam dari pintu masuk bubu agar kepiting terdorong masuk kedalam perangkap sebelum mencapai umpan. Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 Pemasangan Bubu Lipat Pemasangan bubu lipat menggunakan teknik tradisional yang efektif untuk menangkap kepiting bakau (Scylla s. Dengan memanfaatkan perilaku alami kepiting yang aktif mencari makanan disekitar akar- akar bakau saat air pasang. Langkah pertama dalam pemasangan adalah memilih lokasi strategis disekitar pohon bakau yang memiliki alur air atau jalur pergerakan kepiting. Lokasi pemasangan bubu lipat . yaitu pada daerah berlumpur, tenang dan terlindung dari arus deras. Setelah tiba didaerah penangkapan, bubu diturunkan ke perairan. Bubu dilengkapi dengan pelampung tanda yang diikat menggunakan tali. Hal ini dilakukan agar bubu dapat ditemukan dengan mudah saat akan melakukan pengangkatan bubu . Perendaman bubu lipat . Perendaman bubu lipat membutuhkan waktu sekitar A 2-7 jam. Waktu perendaman tidak menentu karena menyesuaikan dengan durasi pasang surut. Waktu penangkapan kepiting bakau yang baik adalah saat air pasang karena kepiting akan keluar dari sarangnya dan bergerak aktif untuk menemukan makanan. Pengangkatan bubu lipat . Pengangkatan bubu lipat . dilakukan saat air pasang. Nelayan kembali menuju titik lokasi pemasangan bubu yang telah diberi pelampung tanda atau diikat pada akar pohon bakau, kemudian tali pengikat bubu lipat ditarik secara perlahan-lahan agar kepiting tetap tenang sehingga kepiting yang terperangkap tidak berusaha untuk meloloskan diri saat bubu ditarik ke 17 permukaan air. Saat proses ini berlangsung, nelayan harus memastikan hasil tangkapan tetap berada didalam bubu. Setelah bubu lipat terangkat ke permukaan air, bubu langsung dibuka dan hasil tangkapannya dipindahkan ke kantong penyimpanan . yang sudah diisikan daun mangrove yang berfungsi sebagai makanan kepiting bakau, sehingga kepiting tetap dalam kondisi hidup sampai tiba di fishing base. Jenis dan Jumlah Hasil Tangkapan Kegiatan penangkapan dengan bubu lipat dilakukan sebanyak 8 trip. Hasil tangkapan yang diperoleh hanya 1 . jenis, yaitu berupa Kepiting Bakau (Scylla sp. Trip Jenis Hasil Tangkapan Produksi Ekor Kepiting Bakau (Scylla sp. 1,785 2,670 Kepiting Bakau (Scylla sp. i Kepiting Bakau (Scylla sp. 2,330 Kepiting Bakau (Scylla sp. 1,650 Kepiting Bakau (Scylla sp. 1,040 Kepiting Bakau (Scylla sp. 1,170 VII Kepiting Bakau (Scylla sp. 1,475 Vi Kepiting Bakau (Scylla sp. 2,720 Total Hasil Tangkapan 14,84 Sumber: Data primer penelitian, 2025 Berdasarkan jumlah, total hasil tangkapan terbanyak diperoleh pada trip ke-2 yaitu sebanyak 6 ekor dan paling sedikit diperoleh pada trip ke-5 dengan hasil tangkapan sebanyak Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 2 ekor. Sedangkan, jika dilihat dari berat hasil tangkapan. Jumlah total hasil tangkapan sebanyak 33 ekor dengan berat 14,84 kg. Daerah Penangkapan Daerah penangkapan berada di ekosistem mangrove yang terdapat disekitar kampung Tanjung Barari, dengan kedalaman perairan 1,5 meter. Daerah penangkapan dapat ditempuh dengan menggunakan perahu dayung, dengan waktu tempuh A5 menit dari fishing Dasar perairan dengan substrat berlumpur dan berarus ketika menjelang pasang maupun surut air laut. Daerah penangkapan kepiting bakau pada umumnya dilakukan pada daerah hutan mangrove. Kepiting bakau memiliki distribusi luas dan hidup dengan cara berasosiasi di hutan mangrove (Butcher et al. Viswanathan et al. Selain itu juga, kepiting bakau menyukai vegetasi mangrove yang memiliki sistem perakaran yang mampu menahan substrat lumpur lebih banyak dan membentuk tutupan perakaran yang padat pada bagian atas, sedangkan pada bagian bawah membentuk seperti gua-gua kecil di bawah perakaran pohon mangrove yang berfungsi sebagai tempat mencari makan dan bersembunyi di dalamnya (Tahmid, et al. , 2. Faktor Keberhasilan Penangkapan Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah hasil tangkapan dengan menggunakan bubu yaitu lama perendaman, faktor habitat, desain bubu, dan umpan (Miller 1990 dalam Najahi et al. Lama Perendaman Penelitian yang dilakukan oleh Tinambunan et. , yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan jumlah hasil tangkapan Kepiting Bakau, yakni pada lama perendaman 4 jam memperoleh hasil lebih banyak dibandingkan dengan lama perendaman 6 jam. Habitat Habitat atau lingkungan yang mempengaruhi hasil tangkapan Kepiting Bakau dengan bubu lipat ialah pasang surut dan kualitas air. Rosyid et al, . menyatakan bahwa waktu penangkapan yang berbeda akan menghasilkan perbedaan pula hasil tangkapan. Beberapa faktor dapat dinyatakan sebagai sebab efektifnya pada pagi hari yaitu: Faktor pasang-surut air pada malam menjelang pagi, keadaan sungai atau pinggiran pantai sedang surut. Hal ini dimanfaatkan oleh kepiting bakau yang merupakan hewan nocturnal atau hewan yang mencari makan pada malam hari untuk mendapatkan makanan, sehingga bubu yang dipasang lebih mudah mendapatkan kepiting. Hal ini berbeda dengan sore hari dimana keadaan sungai atau pinggiran pantai sedang pasang menyebabkan kepiting sangat sedikit yang keluar dari sarangnya untuk mencari makan, sehingga sulit untuk terjebak dalam bubu yang terdapat umpan. Kualitas air sangat penting untuk hasil tangkapan kepiting bakau, karena kondisi air memengaruhi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan ketersediaan Parameter seperti pH, oksigen terlarut (DO), salinitas, dan suhu yang sesuai dengan kebutuhan biologis kepiting bakau akan mendukung peningkatan hasil tangkapan. Kualitas air yang buruk dapat menyebabkan penurunan populasi dan kerusakan ekosistem mangrove, yang berakibat pada hasil tangkapan yang rendah (Rumondang et. al, 2. Desain Bubu Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 Bentuk dan konstruksi bubu, terutama bagian pintu masuk, sangat menentukan keberhasilan penangkapan. Pintu masuk yang dirancang dengan celah sempit atau dilengkapi pintu pemicu . dapat mencegah Kepiting meloloskan diri setelah Desain pintu masuk bubu lipat mempengaruhi efektivitas penangkapan. Desain dengan sudut kemiringan yang tepat akan memudahkan kepiting masuk ke dalam bubu tetapi sulit keluar, seperti desain bubu dengan sudut kemiringan 30A yang dinilai ideal (Karmila, 2. Umpan Umpan berperan sebagai daya tarik yang memberikan stimulus fisik dan kimia untuk spesies ikan tertentu selama memasuki jebakan. Menurut Martasuganda . , kriteria umpan yang ideal mencakup kemampuannya yang efisien dalam menarik ikan, ketersediaan dan kemudahan penyimpanan, ekonomis, serta keawetannya. Umpan yang digunakan harus memenuhi syarat untuk merangsang indra penciuman ikan dan rasa. Bau-bau yang terlarut didalam air dapat merangsang reseptor pada organ olfaktorius yang merupakan bagian dari indera penciuman ikan atau jenis crab. Meskipun demikian, penggunaan pancing ulur dan pancing tonda memiliki keunggulan penting, yakni tingkat selektivitasnya yang tinggi dan dampak minimal terhadap Menurut Hariyanto et al. , . , pancing termasuk alat tangkap yang ramah lingkungan karena hanya menargetkan jenis tertentu dan meminimalkan hasil tangkapan sampingan . Hal ini menjadikan perikanan cakalang dengan pancing sebagai salah satu praktik perikanan yang mendukung prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, keterbatasan armada dan alat tangkap memang memengaruhi jumlah hasil tangkapan, tetapi di sisi lain justru memberikan kontribusi positif terhadap keberlanjutan stok ikan cakalang di Teluk Cenderawasih. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kampung Tanjung Barari. Distrik Oridek. Kabupaten Biak Numfor, dapat disimpulkan bahwa bubu lipat yang digunakan nelayan setempat berbentuk persegi panjang dengan ukuran 60 y 40 y 20 cm dan terdiri atas beberapa bagian utama, yaitu mulut . , engsel, rangka, dinding jaring, pengait umpan, dan pintu. Secara operasional, penggunaan bubu lipat dilakukan melalui empat tahapan utama, yaitu persiapan, pemasangan . , perendaman . , dan pengangkatan . Selama delapan trip penangkapan, diperoleh hasil tangkapan berupa Kepiting Bakau (Scylla sp. ) sebanyak 33 ekor dengan total berat 14,84 kg. Daerah penangkapan berada pada ekosistem mangrove di sekitar Kampung Tanjung Barari dengan kedalaman perairan rata-rata 1,5 meter. Keberhasilan penangkapan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu lama waktu perendaman, kondisi habitat, desain bubu, serta jenis umpan yang digunakan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar nelayan memperhatikan optimalisasi lama perendaman dan pemilihan umpan yang sesuai untuk meningkatkan efektivitas hasil Selain itu, perlu dilakukan evaluasi dan inovasi terhadap desain bubu lipat guna meningkatkan selektivitas alat tangkap serta menjaga keberlanjutan sumber daya Kepiting Bakau (Scylla sp. ) di ekosistem mangrove. Penelitian lanjutan juga disarankan untuk mengkaji aspek musim penangkapan, ukuran layak tangkap, serta dampak ekologis Copyright A 2025. Authors Rumkorem. Widyastuti. Rumanasen & Mambobo / Jurnal Akademi Perikanan Kamasan, 5. , 2025 penggunaan bubu lipat terhadap populasi Kepiting Bakau, sehingga pengelolaan perikanan di wilayah tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan dan berbasis ilmiah. DAFTAR PUSTAKA