KONSEP PENAMAAN MAKANAN TRADISIONAL DALAM LEKSIKON RITUAL ARUH BAHARIN SUKU DAYAK HALONG: SEBUAH KAJIAN ETNOLINGUISTIK CONCEPT OF NAMING TRADITIONAL FOODS IN ARUH BAHARIN RITUAL LEXICON DAYAK HALONG: THE STUDY OF ETHNOLINGUISTICS Hestiyana Balai Bahasa Kalimantan Selatan Jalan Ahmad Yani KM 32. Loktabat Utara. Banjarbaru Utara. Kota Banjar Baru. Kalimantan Selatan 70712 Pos-el:hestiyana21@gmail. com Ponsel 082156614445 (Makalah diterima tanggal 29 Maret 2020AiDisetujui tanggal 30 November 2. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong dan mendeskripsikan makna semiotis makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan etnolinguistik. Data dalam penelitian ini berupa leksikon nama-nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin suku Dayak Halong dan makna semiotis makanan tradisional tersebut yang diperoleh dari tatuha adat suku Dayak Halong di Kabupaten Balangan. Penyediaan data diperoleh melalui metode simak, metode catat, studi dokumen, dan pustaka. Analisis data mencakup pendeskripsian konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin berdasarkan warna, bahan, dan pinjaman dari bahasa lain. Makna semiotis makanan tradisional dianalisis dari aspek bentuk dan aspek arti serta dilihat dari sudut pandang sistem kepercayaan dan praktik aturan budaya suku Dayak Halong. Penyajian hasil analisis data menggunakan metode Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan 27 leksikon nama makanan tradisional. Dari 27 leksikon nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin tersebut, pemberian konsep penamaan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan warna, berdasarkan bahan . uah pisang, parutan kelapa muda, serta tepung beras dan tepung beras keta. , dan berdasarkan pinjaman dari bahasa lain. Adapun makna semiotis makanan tradisional dalam ritual aruh baharin mengacu kepada bahan-bahan dasar yang digunakan dan diperoleh dari hasil alam. Gula merah dimaknai sebagai makanan untuk darah manusia atau dianggap sebagai pengganti darah manusia. Air santan dimaknai sebagai lambang kesucian yang mengalir dalam darah manusia. Beras ketan dimaknai sebagai simbol kedekatan hubungan sesama manusia. Kemudian, daun pisang dan daun kelapa muda dimaknai sebagai lambang kehidupan suku Dayak Halong yang akan menuntun kehidupan manusia sebelum menuju kematian atau menghadap Sang Bahatara. Kata Kunci: leksikon, makna semiotis, makanan tradisional, aruh baharin Abstract: This study aims to describe the concept of naming traditional foods in the ritual lexicon of aruh baharin Dayak Halong tribe and describe the semiotic meaning of traditional food in the ritual lexicon of aruh baharin Dayak Halong tribe. The method used is a descriptive qualitative method with ethnolinguistic approach. The data in this study were the lexicon of traditional food names in the ritual lexicon of aruh baharin Dayak Halong tribe and the semiotic meaning of the traditional food obtained from the custom of the Dayak Halong tribe in Balangan Regency. Provision of data is obtained through listening, note taking, document study and literature. Data analysis includes describing the concept of naming traditional food in the ritual lexicon of aruh baharin based on colors, materials, and loans from other languages. The semiotic meaning of traditional food is analyzed from the aspect of form and aspect of meaning and viewed from the perspective of the belief system and the practice of Dayak Halong culture. Presentation of the results of data analysis using informal methods. Based on the results of data analysis found 27 lexicon names of traditional foods. Of the 27 traditional food lexicon names in the aruh baharin ritual, the naming concept can be classified into three categories, namely: based on color. based on ingredients . ananas, grated young coconut, and rice flour and glutinous rice flou. and based on loans from other languages. Meanwhile, the semiotic meaning of traditional food in the aruh baharin ritual refers to the basic ingredients used and obtained from natural products. Brown sugar is interpreted as food for human blood or considered as a substitute for human blood. Coconut water is believed to be a symbol of purity that flows in human blood. Sticky rice is a symbol of the closeness of human relations. Then, banana leaves and young coconut leaves are interpreted as a symbol of the life of the Dayak Halong tribe that will guide human life before dying or facing the Bahatara. Keywords: lexicon, semiotic meaning, traditional food, aruh baharin. JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 religi dan peralatan serta perlengkapan PENDAHULUAN Bahasa berfungsi sebagai alat hidup suatu masyarakat. Dengan kata Hal ini seperti yang mengandung gagasan dan pesan serta dikemukakan Mahadi & Jafari . Pamungkas merupakan satu kesatuan yang dapat . diibaratkan sebagai selembar mata mengungkapkan bahwa kebudayaan uang dengan dua sisi, yakni satu sisi mencakup segala perbuatan manusia, sebagai bahasa dan sisi lainnya sebagai seperti upacara kematian, kelahiran. Hubungan cara-cara kebudayaan juga disampaikan Chaer pertanian, perburuan, cara membuat . 3: . yang menyatakan bahwa alat-alat, bala pecah, pakaian, cara-cara dalam menganalisis makna sebuah menghias rumah dan badannya. Nama makanan dapat berfungsi bahasa dapat diketahui juga klasifikasi sebagai penanda sistem kepercayaan. Aji . alam Rostanawa, agama, dan praktik-praktik aturan serta 2018: . juga mengatakan bahwa kompleks ideologi dari orang atau kelompok masyarakat tertentu yang terkait dengan budayanya (Noor, et. terhadap budaya tertentu. Bahasa 2013: . Dengan demikian, makanan tradisional merupakan salah satu wujud cerminan masyarakat pendukungnya. kebudayaan yang diwariskan secara Alfarisi Kiki . menyatakan bahwa dalam identitas tatanan masyarakatnya. bangsa terdapat beragam keyakinan Salah satu wujud kebudayaan yang bersifat spiritual yang menjadi yang masih terus dipelihara suku ukuran sikap budaya sosial dalam Dayak Halong adalah ritual aruh. Aruh Kebudayaan itu sendiri merupakan selamatan atau pesta adat mencakup sistem kepercayaan atau suku Dayak. Suku Dayak identik Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. dengan Pulau Kalimantan. Hal ini seperti yang dikatakan Laksono, dkk. penuh persiapan jauh hari sebelumnya. 6: . bahwa bumi Kalimantan Wasiati . 5: . mengatakan bahwa merupakan tempat tinggal komunitas ritual kehidupan yang membutuhkan Dayak Di Kalimantan Selatan adalah aruh baharin. terdapat suku Dayak Halong atau Dalam pelaksanaan ritual aruh disebut juga suku Dayak Balangan. Hal baharin terdapat beragam sesajian. ini seperti yang diungkapkan Nabiring Salah satunya sajian kue dan makanan . Dayak tradisional khas suku Dayak Halong. Balangan lazim juga disebut Dayak Tentunya, dalam konsep penamaan Halong makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong Pegunungan Meratus. Di samping makna semiotis melaksanakan beberapa ritual adat dari nama-nama makanan tradisional yang berkaitan dengan berladang, salah satunya adalah ritual aruh baharin. kultural suku Dayak Halong. Hal inilah Nabiring . 5: . menjelaskan ritual yang melatarbelakangi dilakukannya aruh baharin dilaksanakan dengan penelitian ini. Suku Dayak Halong Penelitian yang relevan dilakukan beberapa tujuan, yakni hajat paantuhan . ajat telah terkabu. , hajat huang Saputri, . engalami sengsara dan kesusaha. AuKosakata dalam Makanan Tradisional dan pertanda tangan memperoleh padi Masyarakat Melayu PontianakAy. Dari melimpah . eyah pare. Hal ini dipertegas lagi oleh Hartatik . 7: . yang menyatakan bahwa aruh baharin tradisional berupa bahan, 23 kosakata merupakan aruh ganal atau hajatan makanan tradisional berupa alat, 16 besar sebagai ungkapan rasa syukur kosakata makanan tradisional berupa karena diberikan panen pertama di cara membuat, 14 kosakata makanan ladang yang baru digarap. Dalam makanan tradisional berupa warna, . JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 tradisional menjadi warisan budaya Melayu yang pelestariannya harus selalu dijaga. Berdasarkan uraian sebelumnya. Pontianak. Berdasarkan penelitian tersebut, fokus masalah dalam penelitian ini, terdapat persamaan dan perbedaan yakni . bagaimana konsep penamaan makanan tradisional dalam leksikon Persamaan penelitian ini terdapat pada objek kajian, yakni kosakata atau leksikon Halong? dan . bagaimana makna nama-nama makanan yang terdapat di semiotis makanan tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku yakni terdapat pada fokus masalah Dayak Halong? Tujuan penelitian ini, yang akan diteliti serta pendekatan yang diterapkan. Dalam penelitian ini, penamaan makanan tradisional dalam digunakan pendekatan etnolinguistik leksikon ritual aruh baharin suku untuk memahami secara keseluruhan Dayak Halong dan . mendeskripsikan pemberian konsep penamaan makanan makna semiotis makanan tradisional tradisional suku Dayak Halong. dalam leksikon ritual aruh baharin Adapun Penelitian ini memfokuskan pada . Dayak suku Dayak Halong. Hasil penelitian ini bermanfaat tradisional dalam leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong serta melakukan penelitian selanjutnya serta makna semiotis makanan tradisional menambah wawasan dan pengetahuan yang disajikan dalam prosesi ritual tentang penamaan makanan tradisional aruh baharin tersebut. Mengingat suku dan makna semiotisnya dalam leksikon Dayak Halong yang sangat kental ritual aruh baharin. Hasil penelitian ini dengan kearifan lokalnya serta masih juga sebagai bentuk kekayaan kuliner warisan leluhur yang patut dilestarikan penelitian ini, terutama terkait dengan makanan-makanan disajikan dalam prosesi ritual adat. Selain makanan-makanan Dalam dijelaskan mengenai dua konsep yang Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. Konsep penamaan itu sendiri menjadi landasan teori, yakni leksikon dan makna semiotis. berupa leksikon-leksikon. Chaer . Leksikon . menyatakan bahwa kata leksikon Wujud dari kebudayaan dapat berasal dari Yunani kuno lexicon yang diketahui dari konsep penamaan berupa memiliki arti AokataAo. AoucapanAo, dan istilah atau leksikon yang diberi label. Aoacara berbicaraAo. Lebih lanjut. Chaer Djajasudarma . 3: . terdapatnya nama-nama yang diberikan leksikon . okabuler, kosakata, dan oleh manusia. Lebih lanjut. Wierzbicka . 9: . menjelaskan bahwa manusia dipertegas lagi oleh Pateda . 0: . termasuk classifying animals, yakni manusia memberikan kategori terhadap leksikal . exical meanin. merupakan hal-hal dan peristiwa serta memberikan makna kata yang berdiri sendiri, baik dalam bentuk leksem maupun bentuk tersebut bersifat culture-specific, yakni berimbuhan yang maknanya kurang lebih tetap, seperti ada dalam kamus Pelabelan . , shared belief yang ada di sekitarnya. Chaer . 3: . memberikan proses perlambangan konsep Hal Wijana . memiliki kemampuan untuk mengacu dan memprediksi. Lebih lanjut. Wijana . mengenai referen yang berada di luar leksikon bahasa merupakan kumpulan- Lebih lanjut. Chaer . 3: . kumpulan leksem yang dimiliki oleh membedakan penamaan berdasarkan peniruan bunyi, penyebutan bagian, dikonsepsi sebagai leksem yang telah penyebutan sifat khas, penemu dan mengalami proses morfologis atau sebagai hasil akhir proses morfologis Penyebutan (Setiawan, 2015: . penamaan baru. JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 Kreidler . alam Budhiono, 2017: merupakan susunan kata atau daftar . mengemukakan kalau sebuah kata yang mengandung makna singkat leksem memiliki relasi makna dengan sesuatu hal di luar bahasa serta menjadi berkaitan dengan informasi linguistik. kombinasi antara bentuk dan makna. Kemudian. Chaer . keterangan-keterangan Dengan mengemukakan bahwa setiap kata, mempunyai makna serta kombinasi antara bentuk dan makna. Kemudian, memiliki makna dari setiap kata yang leksikon terdiri atas kumpulan leksem terdiri atas sejumlah komponen yang yang dimiliki oleh sebuah bahasa. membantu keseluruhan makna tersebut. Leksikon Komponen makna dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Penelitian ini akan menggunakan pengertian yang dimilikinya. landasan pemahaman tentang konsep . leksikon didefinisikan sebagai penamaan makanan tradisional berupa Menurut Kridalaksana didalamnya terdapat informasi tentang dikemukakan Chaer . 7 dan 2. makna serta pemakaian kata dalam Penamaan makanan tradisional akan kekayaan kata yang dimiliki dipaparkan dan diklasifikasikan sesuai dengan konsep penamaan berdasarkan dimiliki suatu bahasa. kosakata atau perbendaharaan kata. daftar kata seperti pinjaman dari bahasa lain. Dasar kamus, dengan penjelasan singkat dan penamaan konsep makanan tradisional Spencer Suktiningsih . 6: . menyatakan bahwa the warna sajian makanan tersebut. Begitu term lexicon means simply dictionary is a list of words together with their meaning and other useful bits of pemberian konsep penamaan makanan linguistic information. Dari pernyataan tradisional dalam leksikon ritual aruh tersebut, diketahui bahwa leksikon baharin suku Dayak Halong akan Tentunya. Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. dikupas sesuai dengan bahan-bahan tanda lingual terdiri atas aspek bentuk yang digunakan dan aspek arti. Hal ini dapat dilihat makanan tradisional tersebut. Adapun, pada gambar berikut yang disebut segitiga semantik. pinjaman dari bahasa lain merupakan tradisional tersebut dengan meminjam istilah di luar bahasa Dayak Halong. Makna Semiotis Pemahaman tentu tidak lepas dari pemahaman mengenai tanda linguistik. Dalam hal ini. Wijana . 5: . mendefinisikan makna sebagai hubungan antara kata dan objek-objek yang ditunjuknya. Bentuk kata . orm of the wor. Kemudian. Konsep . Subroto . Reference merupakan arti yang dimiliki sebuah Dari kata . karena hubungannya dengan makna leksem lain dalam diketahui bahwa relasi antara A dan B bersifat asosiatif. relasi antara B dan C semantik, istilah yang biasa digunakan bersifat referensial. dan relasi antara A untuk tanda linguistik adalah leksem. dan C adalah arti. Pada hakikatnya. Dalam bahasa merupakan hubungan tanda bagian dari studi semiotik. Ferdinand lingual dengan sesuatu yang diacu oleh . alam Studi Subroto. Relasi mengemukakan bahwa studi mengenai digambarkan dengan garis patah-patah arti lingual merupakan bagian dari karena tidak terdapat hubungan spesifik studi umum penggunaan sistem tanda antara tanda itu dengan sesuatu yang diacu oleh tanda itu. Selanjutnya, dijelaskan Richards & Ogden dalam Subroto . 1: . bahwa Dengan demikian, penganalisisan JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 Richards Adapun Ogden diterapkan dalam penelitian ini adalah . alam Subroto, 2. Hal ini juga . Foley penamaan makanan tradisional dalam antropologis merupakan cabang ilmu leksikon ritual aruh baharin suku linguistik yang mengkaji bahasa dalam Dayak Halong sebagai penanda sistem konteks sosial dan budaya yang lebih kepercayaan dan praktik aturan yang Istilah-istilah yang muncul dalam terkait dengan budaya setempat (Noor, kajian kebahasaan dan kebudayaan , 2. memandang bahasa sebagai kajian utama dengan kebudayaan sebagai DATA DAN METODE Penelitian media analisisnya. metode deskriptif kualitatif dengan Kemudian. Baehaqie . 3: . pendekatan linguistik antropologis atau mengemukakan bahwa etnolinguistik lebih dikenal dengan etnolinguistik. merupakan cabang linguistik yang Djajasudarma mempelajari struktur atau kosakata . mengemukakan bahwa penelitian yang berdasarkan sudut pandang dan budaya menekankan pada kualitas data dan yang dimiliki masyarakat penuturnya bukan angka-angka serta memiliki ciri- Pendapat disampaikan Emzir . 6: . bahwa dalam penelitian kualitatif, data yang Penelitian ini dilakukan dengan dikumpulkan terdiri atas bentuk kata- tiga tahap, yakni pengumpulan data, kata atau gambar, bukan berupa angka- analisis data, dan penyajian hasil analisis data. Pertama, dalam tahap fenomena berdasarkan fakta yang ada pengumpulan data yang menjadi data di masyarakat sehingga mengambil penelitian ini adalah konsep penamaan data berupa kata atau leksikon serta makanan tradisional berupa leksikon makna semiotisnya. nama-nama makanan tradisional dalam Penelitian ritual aruh baharin suku Dayak Halong Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. referensi dan memperkuat data temuan tradisional tersebut yang diperoleh dari di lapangan. Teknik ini dilakukan tatuha adat suku Dayak Halong di Kabupaten Balangan. penelitian-penelitian terdahulu sebagai pijakan dalam melakukan penelitian ini melalui metode simak, metode catat, serta teori yang digunakan dalam serta studi dokumen dan pustaka. Sudaryanto . 5: . menyatakan makanan tradisional. bahwa metode simak atau penyimakan Tahap Penyediaan menyimak penggunaan bahasa. Dalam diperoleh diklasifikasikan, kemudian metode simak ini, peneliti menyimak langsung dan mengamati pemberian makanan tradisional dalam leksikon tradisional oleh suku Dayak Halong. Setelah melakukan penyimakan Setelah Setelah dilakukan dengan menyimak, yakni nama-nama ritual aruh baharin sesuai dengan konsep penamaan berdasarkan warna sesuai dengan warna sajian makanan digunakan selanjutnya adalah teknik tersebut, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan makanan tradisional. Mahsun . mengemukakan bahwa teknik catat adalah teknik lanjutan yang dilakukan Selanjutnya, makna semiotis makanan tradisional akan dianalisis dari aspek dengan teknik lanjutan. Teknik catat bentuk dan aspek arti serta akan dilihat dilakukan dengan mencatat data berupa dari sudut pandang sistem kepercayaan leksikon-leksikon nama-nama makanan dan praktik aturan budaya suku Dayak Data yang sudah terkumpul Halong. Dari kedua fokus masalah akan diklasifikasikan sesuai dengan yang sudah terjawab, konsep penamaan berdasarkan warna, kesimpulan secara menyeluruh. bahan yang digunakan, dan pinjaman Selanjutnya, studi dokumen dan Tahap lalu dibuat penyajian hasil analisis data. Dalam dari bahasa lain. disajikan dengan menggunakan metode JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 selalu digunakan dalam setiap resep mendeskripsikan hasil kajian dalam Dayak bentuk kata-kata atau uraian kalimat. Halong dalam ritual adat. Bahan-bahan Penyajian hasil analisis data akan tersebut adalah gula merah, santan dipaparkan sesuai dengan fokus dan kelapa, beras ketan, dan telur. Suku tujuan penelitian ini. Dayak Halong mempercayai bahwa keempat bahan tersebut adalah sebagai HASIL DAN PEMBAHASAN bahan pengganti atau tuturan dari tubuh Hasil Dari hasil temuan di lapangan. Suku Dayak Halong memiliki ritual adat yang berkaitan dengan berladang, yakni ritual aruh baharin. konsep penamaan makanan tradisional Ritual aruh baharin merupakan ucapan dalam leksikon ritual aruh baharin atas rasa syukur karena panen pertama di ladang baru. Suku Dayak Halong warna, bahan yang digunakan, dan melaksanakannya dari bulan September pinjaman dari bahasa lain. Berikut hasil temuan leksikon dalam ritual aruh Oktober Balai Adat. Pelaksanaan ritual aruh baharin ini Dayak Halong dilakukan secara bersama-sama per Tabel 1 kelompok adat atau yang disebut Leksikon Nama Makanan dalam Prosesi ritual aruh baharin Ritual Aruh Baharin yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam ini mengundang 20Ai25 orang balian atau wadian . rang-orang Leksikon Kue Keping Kue Putih dicampur dengan air khusus yang memiliki kemampuan dan air santan. berkomunikasi dengan roh leluhu. , para patati . ang membantu balian atau wadia. , dan penabuh alat ritual. Dalam tradisional khas suku Dayak Halong. Ada empat jenis bahan dasar yang Kue Keping Kue Hijau dicampur air dan air Gloss Kue Keping Kue Kuning yang dicampur air Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. dan air kunyit. telur ayam kampung. Kue Dodol Kue Putih dengan santan kental Kue Bahinti Kue Dodol Kue Hijau gula merah, garam, dan parutan kelapa dengan santan kental. Parutan kelapa muda diaduk dengan Kue Dodol Kue Kuning gula merah. Gayam Kue serta garam. Gayam Kue Bagangan dari bahan atepung Kue dengan santan kental, gula merah, garam, dan parutan kelapa Kue ini juga Kue Dodol Kue Sarikaya menggunakan santan sebagai kuahnya. dengan santan kental. Kue Bahinti air, gula merah, telur, dan garam. Kue Bubur Kue Hancur Putih merah, garam, dan parutan kelapa muda. Pais Kue dengan santal kental. Kue telur ayam kampung, dan garam. Bubur Kue Hancur yang sudah diolesi Merah Kue minyak kelapa. dengan santan kental. Kue Kue JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 Bambalungan Kue Cucur Kue Wajik yang sudah diolesi parutan kelapa muda. minyak kelapa. Kue Kue Gumpal Kue Pisang dengan air, pisang garam, dan manurun, dan garam. Kue Pisang dicampur dengan air, pisang manurun, dan Kue Telur Kue . bi kay. dicampur menyatu dan garam Tumpi Pisang Kue terigu dicampur air manurun, dan garam. yang sudah diolesi minyak kelapa. Dodol Merah Kue yang dibuat dari Nunuman bahan beras Pais Kue dicampur dengan air, kelapa, gula merah, serta garam. Kue ini Kue Pisang Kue parutan kelapa muda. Kue Goreng Kue merah, garam, dan Pais Kue Gumbili Kayu santan kental. Kue merah, garam, dan santan kental. pisang manurun, dan kelapa muda yang Kue Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. Lemang pembungkus ketupat. dengan air, santan Kue kental, gula merah, parutan kelapa muda, dengan air, santan kental, dan garam. Kue Kue Nyabang dicampur dengan air, santan kental, gula merah, serta garam. Kemudian dalam buluh bambu dan dibakar. Kue Ketan dengan air, kelapa, dan garam. Kue ini Pembahasan Berdasarkan data yang diperoleh. Ketupat terdapat 27 leksikon nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin. Semua makanan tradisional tersebut sebagai perlengkapan dalam prosesi pelaksanaan ritual adat. Selain itu, kelapa muda yang dibentuk ketupat lalu diperjualbelikan sehari-hari. Konsep direbus dengan air penamaan makanan tradisional tersebut Bubur Kue diwariskan secara turun temurun. BaAoayak Konsep beras ketan dicampur dengan air, santan kental, gula merah. Bubur Dite Penamaan Tradisional Makanan Leksikon Ritual Aruh Baharin Berdasarkan Warna. Bahan, dan Pinjaman dari Bahasa Lain Dari 27 leksikon nama makanan Nasi serta garam. Kue tradisional dalam ritual aruh baharin, pemberian konsep penamaan dapat beras ketan dicampur diklasifikasikan menjadi tiga kategori. JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 Konsep berdasarkan bahan, dan . berdasarkan Bahan . Dalam pinjaman dari bahasa lain. Berikut hasil Konsep Penamaan Berdasarkan Penamaan Berdasarkan baharin, digunakan empat jenis bahan dasar yang selalu digunakan dalam Warna setiap resep masakan tradisional suku tradisional berdasarkan warna sesuai Dayak Halong dalam ritual adat. dengan warna sajian makanan tersebut. Bahan-bahan Dalam ritual aruh baharin, ada yang merah, santan kelapa, beras ketan, dan disebut berdasarkan warna, yakni kue Akan tetapi, pemberian konsep keping putih, kue keping hijau, kue keping kuning, kue dodol putih, kue berdasarkan bahan yang digunakan dodol hijau, kue dodol kuning, kue bubur hancur putih, kue bubur hancur merah, dan dodol merah nunuman. berdasarkan bahan dari buah pisang. Penamaan . berdasarkan bahan dari parutan tradisional yang menyertakan warna, kelapa muda, dan . berdasarkan seperti kue keping putih, kue dodol bahan dari tepung beras dan tepung putih, dan kue bubur hancur putih tidak beras ketan. dicampur dengan warna lain, tetapi Konsep Konsep warna dasar yang didapat dari air tradisional berdasarkan bahan dari buah santan dan tepung. Kue keping hijau pisang, yakni kue pais pisang, kue dan kue dodol hijau menggunakan air gumpal pisang, kue goreng pisang, dan tayum untuk memberi warna hijau pada Begitu pun dengan kue keping kuning dan kue dodol kuning yang berdasarkan bahan dari parutan kelapa menggunakan pewarna dari air kunyit. muda, yakni kue gayam bahinti, kue Selanjutnya, nama kue bubur hancur gayam bagangan, kue pais bahinti, kue merah dan dodol merah nunuman yang bambalungan, kue pais gumbili, dan pewarna alami. Kemudian. Selanjutnya. Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. berdasarkan bahan dari tepung beras lain ini mampu menjadi cerminan dan tepung beras ketan, yakni kue dodol sarikaya, kue cucur, kue wajik, yang masih memegang kearifan lokal lemang, ketupat ketan, bubur baAoayak, serta memegang teguh adat istiadat dan nasi nyabang. yang diwariskan para leluhur. Bahan-bahan dalam pembuatan makanan tradisional juga mengambil dari alam dan tidak dicampur dengan pewarna buatan. Meskipun suku Dayak Halong mengambil hasil alam, mereka berhati-hati sumber daya alam tersebut. Mereka pantang mengambil hasil hutan yang berada di luar wilayahnya karena kalau melanggar akan dikenai denda adat. Konsep Penamaan Berdasarkan Pinjaman dari Bahasa Lain Penamaan makanan tradisional dalam ritual aruh baharin ada yang meminjam istilah dari bahasa lain, seperti pada konsep pemberian nama kue telur. Jadi, dari 27 leksikon penamaan makanan tradisional dalam ritual aruh baharin hanya terdapat satu leksikon saja konsep penamaan yang meminjam istilah dari bahasa lain. Dengan penamaan makanan tradisional dalam ritual aruh baharin suku Dayak Halong berdasarkan warna, berdasarkan bahan, dan berdasarkan pinjaman dari bahasa Makna Semiotis Nama Makanan Tradisional Ritual Aruh Baharin Ritual merupakan sebuah ritual kehidupan tradisional sebagai sesaji. Ritual adat ini dilaksanakan selama 7 hari 7 malam dengan memotong kerbau 2 hingga 5 ekor, kambing 10 hingga 15 ekor, serta ayam kampung 10 hingga 15 ekor. Selain masakan dari daging kerbau, kambing, dan ayam kampung yang tradisional yang dimasak sendiri oleh Dayak Halong. Tentunya, masakan tradisional tersebut bukanlah sembarang makanan, tetapi memiliki makna sendiri sebagai bahan sesajian Bahan digunakan pun terdiri atas bahan dasar Aubahan penggantiAy atau tuturan dari tubuh manusia, yakni gula merah, santan kelapa, beras ketan, dan telur. Semua makanan tradisional yang JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 menuntun manusia menjadi pribadi diambil dari alam. Dalam ritual aruh yang lebih baik. Makanan tradisional baharin, masakan tradisional yang berwarna putih, seperti kue keping menggunakan bahan dari gula putih. putih, kue dodol putih, kue bubur Suku Dayak bahan-bahan Halong bahwa gula putih merupakan produk merupakan simbol pembersih pikiran- gula yang diperkenalkan dari luar pikiran negatif yang terdapat dalam Selain itu, gula putih pikiran manusia. Setiap orang yang mengikuti ritual adat aruh baharin ini simbolis seperti layaknya gula merah. Dalam tata ritual adat suku Dayak Halong tradisional tersebut. Hal ini dimaknai sebagai kembalinya jiwa manusia yang putih bersih sehingga pikiran dan bahannya diambil dari gula merah atau tingkah lakunya pun menjadi baik serta dari air santan kental. Gula merah dalam tradisi suku Dayak Halong dijauhkan dari pikiran yang bersifat dipercayai sebagai makanan untuk Dalam darah manusia atau dianggap sebagai Dayak pengganti darah manusia. Hal ini Halong, beras ketan merupakan simbol dimaknai agar manusia tidak menjadi kedekatan hubungan sesama manusia, jahat atau ganas, selalu ingin mencari masalah, dan berkelahi dengan orang lambang persaudaraan. Beras ketan Pada saat pelaksanaan ritual adat yang lengket melambangkan tradisi ini, makanan seperti kue bubur hancur komunitas suku Dayak Halong yang merah, kue pais bahinti, kue gayam bersama daripada kepentingan pribadi merah nunuman, ataupun makanan atau perorangan. Di samping itu, beras yang berbahan ketan juga memiliki makna untuk gula merah diminta untuk memakannya. Air santan itu sendiri dipercayai mengalir dalam darah manusia dan antarsesama sehingga mengukuhkan persatuan dan kesatuan. Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. Penyajian makanan tradisional dodol putih, kue dodol hijau, kue dodol kuning, kue bubur hancur putih, kue mengambil dari alam, seperti daun bubur hancur merah, dan dodol merah pisang dan daun kelapa muda. Daun Konsep penamaan makanan pisang dan daun kelapa muda ini tradisional berdasarkan bahan dari buah pisang, yakni kue pais pisang, kue makanan tradisional yang disajikan saat gumpal pisang, kue goreng pisang, dan Daun pisang dan daun kelapa ini dimaknai sebagai lambang kehidupan makanan tradisional berdasarkan bahan dari parutan kelapa muda, yakni kue menuntun kehidupan manusia sebelum gayam bahinti, kue gayam bagangan, menuju kematian atau menghadap Sang kue pais bahinti, kue bambalungan, kue Bahatara. pais gumbili, dan bubur dite. Dayak Halong Konsep Selanjutnya, konsep penamaan makanan tradisional berdasarkan bahan SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data, dari tepung beras dan tepung beras ketan, yakni kue dodol sarikaya, kue penamaan makanan tradisional dalam cucur, kue wajik, lemang, ketupat leksikon ritual aruh baharin suku Dayak Halong terdiri atas 27 leksikon. Adapun penamaan makanan Dari nama makanan tradisional dalam ritual aruh baharin tradisional dalam ritual aruh baharin yang meminjam istilah dari bahasa lain, tersebut, pemberian konsep penamaan yakni konsep pemberian nama kue dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan warna. Makna baAoayak, tradisional dalam ritual aruh baharin parutan kelapa muda, serta tepung mengacu kepada bahan-bahan dasar beras dan tepung beras keta. , dan yang digunakan dan diperoleh dari berdasarkan pinjaman dari bahasa lain. hasil alam. Gula merah dimaknai Konsep penamaan berdasarkan sebagai makanan untuk darah manusia warna, yakni kue keping putih, kue atau dianggap sebagai pengganti darah keping hijau, kue keping kuning, kue Air santan dipercayai sebagai . uah JURNAL ByOBASAN. Vol. No. Edisi Desember 2020: 102Ai120 lambang kesucian yang mengalir dalam darah manusia dan menuntun manusia menjadi pribadi yang lebih baik atau kembalinya jiwa manusia yang putih Beras ketan merupakan simbol kedekatan hubungan sesama manusia, lambang persaudaraan. Selanjutnya, daun pisang dan daun kelapa muda dimaknai sebagai lambang kehidupan Dayak Halong menuntun kehidupan manusia sebelum menuju kematian atau menghadap Sang Bahatara. DAFTAR PUSTAKA Alfarisi. T & Kiki. AuLegenda Gua Tan Tik Siu di Desa Sumberagung sebagai PrinsipPrinsip Nilai Kebudayaan Masyarakat Sekitar (Analisis Struktur. Nilai Budaya, dan Fungs. Ay. Dalam Bebasan. Volume 5 . , hlm. 117Ai124. Baehaqie. Imam. Etnolinguistik: Telaah Teoritis Praktis. Surakarta: Cakrawala Media. Budhiono. AuLeksikon Alat dan Aktivitas Bertanam Padi dalam Bahasa JawaAy. Dalam Kandai. Volume 13 . , hlm. 235Ai248. Chaer. Abdul. Leksikologi dan Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. -----------------. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. -----------------. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Djajasudarma. Metode Linguistik. Bandung: Refika Aditama. Emzir. Metodologi Penelitian Kualitatif Analisis Data. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Foley. Antropological Linguistics. Massacchusetts: Blackwell Publisher Inc. Hartatik. Jejak Budaya Dayak Meratus Persfektif Etnoreligi. Yogyakarta: Ombak. Kridalaksana. Harimurti. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Laksono. M, dkk. Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia Belajar dari Tjilik Riwut. Yogyakarta: Galangpress. Mahadi. T & S. Jafari. AuLanguage CultureAy. International Journal Humanities and Social Science. Volume 2 . 230Ai235. Mahsun, . Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi. Metode, dan Tekniknya. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Nabiring. Eter. Kamus Populer Dayak Balangan. Balangan: Dewan Adat Dayak Balangan. --------------------. Populer Dayak BalanganAy. Dalam Komunitas Dayak AuKamus HalongPustaka Halong Konsep Penamaan Makanan Tradisional (Hestiyan. Balangan Merawat Tradisi Leluhur Menjaga yang Tersisa, 72Ai103. Jakarta: YABN. Noor, et. AuPulut Kuning in Malay Society: The Beliefs and Practices Then and NowAy. Asian Social Science. Volume 9 . 29Ai40. Canadian Center of Science and Education. Pamungkas. Sri. Bahasa Indonesia Berbagai Perspektif. Yogyakarta: ANDI. Pateda. Mansoer. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta. Rostanawa. Gaby. AuPenggunaan Nama Jajanan Tradisional pada Masyarakat di Kabupaten Jember Sebuah Kajian EtnolinguistikAy. Prosiding Setali Bahasa di Era Digital: Peluang atau Ancaman?, hlm. 271Ai273. Bandung: Program Studi Linguistik Sps UPI. Suktiningsih. AuLeksikon Fauna Masyarakat Sunda: Kajian EkolinguistikAy. Dalam Retorika. Volume 2 . , hlm. 138Ai156. Wasiati. AuKuliner Dayak Halong BalanganAy. Dalam Pustaka