Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi melalui Mindfulness sebelum Pembelajaran pada Siswa Kelas X SMA Cendana Pekanbaru Aria Wiraja1*. Amy Mardhatillah Asyraf2. Bhayu Utama Putra3. Julia Sari4. Shynta Sari Uli Purba Tanjung5. Sumarno6. Wilda7 1,2,3,4,5,6 Universitas Riau. Pekanbaru. Indonesia SMA Cendana Pekanbaru. Pekanbaru. Indonesia *Coresponding Author: peserta. 05148@ppg. Dikirim: 04-05-2025. Direvisi: 03-06-2025. Diterima: 05-06-2025 Abstrak: Dalam proses pembelajaran, manajemen emosi berguna untuk siswa, agar proses penerimaan pengetahuan atau proses belajarnya berjalan dengan baik. Sejatinya, siswa yang memiliki tingkat kemampuan manajemen emosi yang baik akan mengurangi stress akademik pada dirinya, begitupun sebaliknya. Penelitian ini bertujuan meningkatkan manajemen emosi siswa melalui mindfulness sebelum pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), melalui intervensi mindfulness dengan setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi, selama dua siklus yang berlangsung selama satu minggu. Proses mindfulness dimulai dari latihan pernapasan, dilanjutkan dengan meditasi singkat yang dilakukan sebelum pelajaran dimulai dengan panduan untuk tetap fokus pada momen saat ini tanpa menghakimi, serta peran guru sebagai fasilitator dalam memastikan konsistensi latihan. Penelitian dilaksanakan pada siswa kelas X di SMAS Cendana Pekanbaru dengan jumlah subjek penelitian 46 orang. Hasil penelitian, menemukan bahwa penerapan mindfulness sebelum pembelajaran efektif meningkatkan kemampuan manajemen emosi siswa dalam hal kesadaran emosi, pengelolaan emosi, konsentrasi dan kesiapan belajar siswa. Maka dari itu, diharapkan guru harus mampu untuk mengoptimalkan penerapan mindfulness ini dalam proses pembelajaran. Kata Kunci: manajemen emosi. Abstract: In the learning process, emotional management is essential for students to ensure the effective reception of knowledge and smooth learning. Essentially, students with good emotional regulation skills tend to experience less academic stress, and vice versa. This study aims to enhance studentsAo emotional management through mindfulness practices conducted before class. Using a Classroom Action Research (CAR) approach, the intervention was implemented in two cycles over one week, with each cycle consisting of planning, action, observation, and reflection. The mindfulness activity began with breathing exercises, followed by short guided meditation sessions before the lesson started. These guided practices focused on helping students stay present and nonjudgmental, with the teacher acting as a facilitator to maintain consistency. The research was conducted with 46 tenth-grade students at SMAS Cendana Pekanbaru. The findings showed that mindfulness practiced before class effectively improved studentsAo emotional management, particularly in emotional awareness, emotion regulation, concentration, and learning readiness. Therefore, teachers are expected to optimize the integration of mindfulness in the learning process. Keywords: emotional management. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek yang penting dalam pembentukan cara berpikir dan kepribadian seseorang. Dalam pendidikan terdapat kegiatan belajar dan mengajar @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. yang merupakan proses yang melibatkan kemampuan berpikir secara bertahap dan berlatih secara berulang-ulang (Hurit, 2. Salah satu jenjang pendidikan yang wajib ditempuh di Indonesia adalah Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada masa ini, tahapan pencaharian jati diri, maka dari itu masa ini menjadi masa yang indah dalam kehidupan seseorang, namun pada masa ini juga banyak permasalahan yang terjadi. Menurut Bawono . , masa remaja merupakan masa transisi dalam rentang kehidupan manusia, yang merupakan penghubung masa kanak-kanak dengan masa dewasa, untuk tingkatan siswa SMA adalah masa remaja pertengahan antara umur 15 tahun sampai dengan 18 tahun, pada masa ini juga ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir dan keterampilan yang baru, kemudian rekan sejawat memiliki peranan penting, tetapi individu sudah mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Pada masa ini juga sudah mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, mengendalikan impulsivitas, dan membuat keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh setiap individu. Masa remaja ini sering kali menjadi masa yang stress, karena terjadinya berbagai pengalaman emosional. Maka dari itu, penting bagi remaja untuk menyadari dan mengelola emosinya, seperti menyadari bentuk perubahan yang akan terjadi dan mempersiapkan dirinya terhadap dampak positif atau negatif dari tindakan yang Pemahaman dan pengendalian emosi mencakup pembelajaran terkait dengan cara mengelola stres, mengatur emosi, mengenali emosi sendiri dan orang lain, serta menumbuhkan kesejahteraan emosional (Safarina et al. , 2. Manajemen emosi merupakan strategi untuk mengendalikan perasaan dan mencegah perasaan yang tidak menyenangkan yang terus berlanjut dalam diri seseorang (Niman, 2. Manajemen emosi pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosinya, dan mampu terampil dalam mengelola emosinya sendiri (Prasetya & Gunawan, 2. Maka dari itu, remaja atau siswa harus terus berupaya mengembangkan keterampilan manajemen emosi didalam dirinya, agar bisa menangani keadaan yang tidak menyenangkan didalam dirinya dengan cara yang lebih konstruktif dan positif. Dalam proses pembelajaran, manajemen emosi berguna agar proses penerimaan pengetahuan atau proses belajarnya berjalan dengan semestinya. Salah satu cara untuk meningkatkan manajemen emosi didalam pembelajaran adalah dengan latihan mindfulness sebelum pembelajaran. Mindfulness merupakan teknik untuk mengamati pikiran dan perasaan sendiri sebagai peristiwa sementara dalam pikiran yang tidak perlu ditanggapi atau dinilai atau dihakimi (Saputro et al. , 2. Dengan adanya mindfulness akan membantu seseorang yang menderita stress, nyeri atau disfungsional emosional yang parah (Ruth, 2. Penelitian yang dilakukan Rahmawatia . , menunjukan bahwa siswa yang memiliki mindfulness yang baik akan mengurangi stress akademik, sebaliknya siswa yang memiliki kemampuan mindfulness yang rendah akan menyebabkan stress akademik dalam proses pembelajarannya. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada kelas 10 SMA Cendana Pekanbaru, ditemukan bahawasanya rata-rata siswa memiliki kemampuan manajemen emosi yang rendah. Hal ini ditandai dengan perasaan cemas sebelum pembelajaran dimulai seperti cemas tidak mampu memahami materi dengan baik, cemas tidak mampu mengerjakan tugas serta cemas tidak mendapatkan nilai ujian dengan Selanjutnya mengalami kesulitan dalam mengontrol emosinya seperti @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. mudahnya terpancing emosi oleh sesama siswa, serta murung jika tidak mencapai hasil maksimal selama proses pembelajara. Dan kurangnya fokus dalam proses pembelajaran, seperti mudahnya terganggu fokus oleh lingkungan sekitar dan rekan Sehingga, dengan kurangnya manajemen emosi ini, siswa tidak siap untuk menerima pembelajaran, dan tidak dapat berkonsentrasi selama proses pembelajaran. Yang pada akhirnya penerimaan informasi atau proses pembelajaran pada siswa dapat berjalan dengan baik, yang berdampak pada hasil akademik siswa. Oleh karena itu, peneliti mengusulkan penggunaan praktek mindfulness sebelum pembelajaran dalam rangka meningkatkan manajemen emosi pada siswa. Dengan adanya mindfulness ini diharapkan dapat meningkatnya kesadaran emosi, pengelolaan emosi, konsentrasi dan kesiapan belajar siswa. Sehingga proses penerimaan informasi atau proses pembelajaran pada siswa dapat berjalan dengan baik. KAJIAN TEORI Manajemen Emosi Manajemen emosi merujuk pada kemampuan seseorang dalam mengenali, memahami, dan mengendalikan emosi secara efektif dalam berbagai situasi. Dalam dunia pendidikan, keterampilan ini sangat penting karena membantu siswa mengatasi tekanan akademik, meningkatkan fokus, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman (Ma & Fang, 2. Siswa yang mengelola emosinya dengan baik, akan lebih optimal dalam proses belajar serta memiliki hubungan sosial yang lebih harmonis (Fourianalistyawati. Listiyandini, & Fitriana, 2. Hanafi . , menekankan bahwa praktik regulasi emosi tidak hanya mendukung kesejahteraan psikologis, tetapi juga memperkuat hubungan interpersonal dengan teman sebaya dan guru. Adapun indikator manajamen emosi menurut Goleman . , adalah mampu mengenal emosi yakni kemampuan untuk mengenali perasaannya sendiri ketika perasaan itu muncul dan mampu mengelola emosi yakni kemampuan sesorang untuk menghadapi perasaannya sehingga dapat diekspresikan secara tepat. Selanjutnya aspek-aspek kecerdsan manajemen emosi atau kecerdasan emosional yakni berupa kemampuan mengenali emosi diri, mengelola dan mengekpresikan diri, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain (Mashar, 2. Maka dari itu, adapun indikator manajemen emosi dalam penelitian ini adalah kesadaran emosi yakni kemampuan untuk mengenali perasaannya sendiri ketika perasaan itu muncul, selanjutnya pengelolaan emosi yakni kemampuan sesorang untuk menghadapi perasaannya sehingga dapat diekspresikan secara tepat. Mindfulness Hidayati . menyatakan bahwa mindfulness merupakan strategi yang efektif dalam membantu siswa mengatasi tekanan tersebut. Mindfulness merupakan praktik kesadaran penuh terhadap peristiwa sementara dalam pikiran yang tidak perlu ditanggapi atau dinilai atau dihakimi tanpa memberikan penilaian. Dalam dunia pendidikan, mindfulness telah terbukti berkontribusi pada peningkatan regulasi emosi, konsentrasi, dan kesejahteraan mental siswa. Berbagai teknik, seperti meditasi, pernapasan terfokus, dan pengamatan pikiran, dapat membantu siswa dalam mengembangkan kesadaran diri yang lebih baik (Putri. Hardi. Alghiffari, & Siswanto. Studi yang dilakukan oleh Kirana . , juga mengungkapkan bahwa @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. penerapan mindfulness dalam proses pembelajaran berpotensi meningkatkan fokus serta kemampuan siswa dalam mengelola stres. Mindfulness berperan penting dalam meningkatkan kemampuan regulasi emosi pada remaja. Penelitian oleh Ma & Fang . menunjukkan bahwa seseorang dengan tingkat mindfulness yang baik, akan mengalami tekanan psikologis yang lebih rendah serta memiliki keterampilan pengelolaan emosi yang lebih baik. Selanjutnya. Fourianalistyawati et al. mengungkapkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan kualitas hidup melalui pengendalian emosi yang lebih efektif. Dalam dunia pendidikan, penerapan mindfulness membantu siswa menghadapi stres akademik dengan lebih tenang dan bijaksana (Hidayati, 2. Penelitian Ameliana . , meneliti pengaruh mindfulness dengan teknik breathing terhadap tingkat kecemasan akademik peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan mindfulness breathing secara signifikan efektif dalam menurunkan kecemasan akademik peserta didik. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan Hayati . , mengeksplorasi penerapan program mindfulness dalam meningkatkan konsentrasi dan prestasi belajar pelajar. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti pelatihan mindfulness mengalami peningkatan signifikan dalam tingkat fokus dan atensi, yang berdampak pada perbaikan prestasi akademik, khususnya dalam mata pelajaran yang menuntut pemecahan masalah dan daya ingat Program mindfulness juga membantu siswa dalam mengelola stres akademik, sehingga mereka dapat memahami materi pelajaran dengan lebih efektif. Kemudian penelitian Nasihudin. Prafitasari. Mudayanti. Sari, & Fauzi . , menemukan bahwa setelah pendekatan mindfulness diterapkan, siswa menjadi lebih fokus dan aktif dalam pembelajaran, sehingga proses diskusi berlangsung lebih lancar, interaktif, dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan kritis. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), yakni penelitian berupa tindakan atau intervensi yang dilakukan oleh guru dalam kelas dengan tujuan untuk memperbaikki kualitas pembelajaran didalam kelas (Kemmis dan Taggart dalam Purba, 2. Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan manajamen emosi siswa, dengan cara melaksanakan, merencanakan, dan merefleksikan tindakan secara partisipatif dan kolaboratif selama dua siklus tindakan. Metode penelitian yang digunakan adalah Mixed Method. Menurut Aramoimmonen dalam Pane . , metode campuran . ixed metho. merupakan suatu pendekatan yang menggabungkan hasil data bentuk kuantitatif dan kualitatif dalam satu rangkaian penelitian, metode ini memberikan para peneliti pada seluruh disiplin penelitian keluasan dalam mendalami masalah penelitian. Tujuan menggunakan metode mixed method adalah untuk menemukan hasil penelitian yang lebih baik, sehingga dengan menggunakan metode ini akan diperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliabel dan objektif, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik bila dibandingkan dengan satu metode (Ismail Pane, 2. Penelitian dilaksanakan di SMAS Cendana Pekanbaru yang berlokasi di Komp. Palem. PT. Pertamina Hulu Rokan. Lembah Damai. Kec. Rumbai Pesisir. Kota @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. Pekanbaru. Riau. Waktu pelaksanaan dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2024/2025, dengan perkiraan pelaksanaan antara bulan April hingga Mei 2025. Dan subjek penelitian merupakan siswa SMA Cendana Pekanbaru untuk kelas X1 dan X2 dengan jumlah siswa 46 orang Penelitian ini dibagi ke dalam dua siklus, setiap siklus direncanakan berlangsung selama 1 minggu, dengan setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun pembagian siklus yang mencakup tahapan sebagai Tabel 1. Perencanaan Tindakan Kelas Siklus 1 Perencanaan Menyiapkan skenario pembelajaran dengan latihan mindfulness sebelum belajar. Menyiapkan pre-test mengetahui tingkat manajemen emosi siswa sebelum intervensi. Tindakan Guru memandu siswa mengisi angket pretest Guru memandu siswa melakukan latihan mindfulness sebelum pelajaran dimulai. Melaksanakan pembelajaran seperti biasa. Memandu siswa melakukan post-test Observasi Mengamati kesiapan siswa sebelum Mengamati respons siswa saat latihan Mengamati Refleksi Menganalisis hasil pretest, post-test 1 dan lembar observasi Jika hasil kurang efektif, sesi mindfulness diperbaiki untuk pertemuan kedua. Siklus 2 Perencanaan Menyiapkan musik relaksasi positif ditujukan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan membantu siswa lebih cepat masuk ke dalam kondisi mindfulness. Tindakan Menyesuaikan latihan mindfulness, dengan menambahkan musik relaksasi positif. Mengulang latihan mindfulness dan Melaksanakan pembelajaran seperti biasa Meminta siswa mengisi angket post-test Observasi Mengamati kesiapan siswa sebelum Mengamati respons siswa saat latihan mindfulness dan pembelajaran Mengamati apakah ada perubahan dalam manajemen emosi siswa dibandingkan pertemuan pertama. Refleksi Menganalisis perbedaan hasil post-test 1 dan 2 untuk melihat apakah ada peningkatan manajemen emosi. Menarik kesimpulan apakah mindfulness efektif meningkatkan manajemen emosi Pengumpulan data dalam penelitian ini, menggunakan angket dan lembar Angket digunakan untuk mendapatkan data tentang manajemen emosi siswa dengan indikator kasadaran emosi, pengelolaan emosi, konsentrasi dan kesiapan belajar siswa. Angket diberikan sebelum pembelajaran dimulai dan diakhir Observasi dilakukan pada saat proses mindfulness yang dilakukan oleh observer sebelum, selama, setelah kegiatan mindfulness dilakukan. Selain itu observasi juga memuat refleksi terkait kegiatan mindfulness dilakukan. Data yang digunakan terdiri atas dua jenis data, yakni kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor dari pre-test dan pos-test yang dikumpulkan melalui angket, sedangkan data kualitatif berupa informasi dari lembar observasi yang dilakukan oleh observer. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. Kemudian, teknik analisis data dibagi atas dua yakni teknik analisis data kuantatif dan teknik analisis data kualitatif. Data kuantitatif, digunakan untuk mengukur efektivitas mindfulness sebelum pembelajaran untuk manajemen emosi siswa dengan membadingkan skor post-test dengan pre-test. Dengan rumusan sebagai Skor Post Test Ae Skor Pre Test Peningkatan = X 100% Skor Pre Test Untuk mengetahui presentase efektivitas mindfulness sebelum pembelajaran untuk manajemen emosi siswa, dilihat dari presentasi peningkatan. Jika rata-rata peningkatan skor manajemen siswa yakni memiliki skor 40 Ae 50, maka mindfulness efektif dalam meningkatkan manajemen emosi Selanjutnya, data kualitatif merupakan hasil data yang berasal dari lembar observasi dari observer untuk merefleksikan efektivitas mindfullnes terhadap manajamen emosi siswa. Tahapan analisis data kualitatif pada penelitian ini, digunakan untuk pembahasan hasil dan penarikan kesimpulan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Intervensi yang dilakukan dalam penelitian ini yakni mindfulness. Penerapan mindfulness dilakukan sebelum pembelajaran selama lima menit. Penelitian ini dibagi menjadi dua siklus, setiap siklus direncanakan berlangsung selama 1 minggu yang terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Adapun rentang skor manajemen emosi siswa yang digunakan untuk mengukur peningkatan manajemen emosi siswa adalah pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Rentang Skor Peningkatan Manajemen Emosi Siswa Skor 40 - 50 30 - 39 20 - 29 10 - 19 Klasifikasi Manajemen emosi meningkat dengan baik Ada peningkatan, tapi masih bisa ditingkatkan Peningkatan masih rendah, butuh latihan lebih lanjut Tidak ada peningkatan, perlu pendekatan lain Sebelum melakukan mindfulness pada siklus 1, terlebih dahulu dilakukan pretest, untuk mengetahui skor tingkat manajemen emosi siswa. Tabel 3. Skor Pre-Test Tingkat Manajemen Emosi Siswa Pre-Test Klasifikasi Kurang baik, perlu intervensi mindfulness Dari skor pre-test pada tabel 3 menunjukkan skor rata-rata sebesar 29,2, yang mengindikasikan bahwa manajemen emosi siswa berada pada kategori rendah. Kondisi ini diperkuat oleh hasil observasi observer yang menyatakan bahwa sebagian besar siswa tampak lesu, tidak bersemangat, serta menunjukkan kegelisahan dan ketidaknyamanan dalam memulai pembelajaran. Kelas juga cenderung gaduh karena banyak siswa yang saling berbincang, menandakan rendahnya kesiapan dan kontrol emosi mereka. Menanggapi permasalahan tersebut, dilakukan tindakan berupa latihan mindfulness yang melibatkan seluruh siswa kelas X. Dalam pelaksanaannya, guru @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. memberikan instruksi sederhana mengenai teknik mindfulness seperti memperhatikan pernapasan dan menenangkan pikiran. Siklus 1 Pelaksanaan mindfulness pada siklus 1, mendapatkan hasil post-test seperti pada Tabel 4 berikut. Tabel 4. Skor Post-Test Siklus 1 Tingkat Manajemen Emosi Siswa Post-Test Peningkatan Klasifikasi 20,5% Ada peningkatan, tapi masih bisa ditingkatkan Hasil skor post-test siklus 1, menunjukkan rata-rata siswa memliki skor manajemen emosi 35,2 yang berarti ada peningkatan kemampuan manajemen emosi, dari skor sebelumnya 29,2 yang berarti meningkat sebesar 20,5%, tetapi kemampuan manajemen emosi siswa ini masih bisa ditingkatkan. Hal ini menandakan adanya peningkatan dalam manajemen emosi, meskipun belum optimal. Hasil observasi dari observer selama kegiatan menunjukkan bahwa sebagian siswa mulai terlihat lebih fokus dan rileks, serta suasana kelas menjadi lebih tenang. Namun demikian, masih ditemukan beberapa siswa yang belum serius dan kurang konsisten dalam mengikuti kegiatan ini. Oleh karena itu, dilakukan tindakan lanjutan. Siklus 2 Siklus kedua dilakukan dengan menambahkan elemen musik relaksasi dalam kegiatan mindfulness. Musik ini ditujukan untuk menciptakan suasana yang lebih nyaman dan membantu siswa lebih cepat masuk ke dalam kondisi mindfulness. Tabel 5. Skor Post-Test Siklus 2 Tingkat Manajemen Emosi Siswa Post-Test Peningkatan Klasifikasi Manajemen emosi meningkat dengan baik Dari skor post-test kedua yang terdapat pada tabel 5 diatas, kemampuan manajemen emosi siswa meningkat menjadi 40,3 yang berarti kemampuan manajemen emosi meningkat menjadi 38% daripada hasil pre-test yakni 29,2 menunjukkan bahwa kegiatan mindfulness, terutama dengan tambahan musik, sangat efektif dalam meningkatkan manajemen emosi siswa. Data ini juga diperkuat oleh hasil pengamatan observer yang mencatat adanya perbedaan signifikan pada ekspresi dan perilaku siswa sebelum dan sesudah mengikuti Siswa yang sebelumnya gelisah dan tidak fokus menjadi lebih tenang dan siap menerima pembelajaran. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan mindfulness, khususnya dengan penambahan musik, terbukti efektif dalam meningkatkan manajemen emosi siswa, menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif, serta mendukung proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan Pembahasan Berdasarkan hasil skor post-test, ditemukan bahwa manajemen emosi siswa meningkat menjadi 40,3 yang berarti kemampuan manajemen emosi meningkat sebesar 38% daripada hasil pre-test yakni 29,2. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan mindfulness, terutama dengan tambahan musik, sangat efektif dalam meningkatkan manajemen emosi siswa siswa kelas X SMA Cendana Pekanbaru. Hasil ini sejalan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. dengan penelitian yang dilakukan oleh Saputra . , menemukan bahwa mindfulness dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu meningkatkan kemampuan fokus. Kemudian, hasil penerapan menemukan bahwa mindfulness sebelum pembelajaran juga meningkatkan kesadaran emosi siswa. Hal ini juga sesuai dengan penelitian Khairanis . , menemukan penerapan mindfulness secara signifikan meningkatkan kesadaran diri, pengurangan stres dan kecemasan, peningkatan rasa syukur, serta penguatan dukungan sosial di antara siswa. Dan penelitian yang dilakukan oleh Luthfiyah . , menemukan bahwa mindfulness yang dilatih kepada siswa, dapat meningkatkan kontrol diri, memusatkan perhatian, meningkatkan kesadaran emosi, meningkatkan kemampuan menjalin hubungan dan persahabatan, serta mampu untuk meningkatkan kemampuan dalam mengembangkan potensi diri dengan maksimal dan optimal Selanjutnya, dari penerapan juga ditemukan bahwa mindfulness sebelum pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan emosi siswa. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Setiawan . , dengan melalui pembelajaran sosial emosional berbasis mindfulness dengan praktik teknik STOP, siswa dapat mengendalikan emosinya, bersikap tenang dan dapat mengambil keputusan bertanggung jawab. Dan penelitian Manan . , menemukan bahwa intervensi mindfulness menunjukkan peningkatan yang lebih besar dalam kemampuan mengelola stres, mengendalikan impuls, serta meningkatkan ketenangan dan kesejahteraan emosional dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kemudian, dari penerapan juga menemukan hasil bahwa mindfulness sebelum pembelajaran efekif untuk meningkatkan konsentrasi dan kesiapan belajar siswa. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Nasihudin . , menyebutkan bahwa pelatihan mindfulness yang efektif dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, membantu meningkatkan kemampuan fokus sehingga meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Dan penelitian oleh Suryaputra et al. , penerapan mindfulness dalam pembelajaran siswa sekolah dasar, menemukan bahwa 80 % siswa mampu menunjukkan konsentrasi selaam proses pembelajaran, ditandai dengan siswa yang lebih fokus dan tidak terganggunya fokus siswa oleh lingkungan sekitarnya. KESIMPULAN Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan pada siswa kelas X SMA Cendana Pekanbaru. Ditemukan bahwa pada siklus 1, penerapan mindfulness sebelum pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan manajemen emosi siswa tetapi belum Pada tindakan siklus 2, dengan ditambahkan musik, penerapan mindfulness sebelum pembelajaran terbukti efektif dalam meningkatkan manajemen emosi siswa, yang menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif, serta mendukung proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan produktif. Maka dapat disimpulkan bawah, penerapan mindfulness sebelum pembelajaran, efektif dalam meningkatkan manajemen emosi siswa kelas X SMA Cendana Pekanbaru, yang ditandai dengan meningkatnya kesadaran emosi, pengelolaan emosi, konsentrasi dan kesiapan belajar Maka dari itu, diharapkan guru mampu untuk mengoptimalkan penerapan mindfulness ini dalam proses pembelajaran, agar nantinya emosi siswa mampu untuk @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Wiraja dkk. Meningkatkan Kemampuan Manajemen Emosi Melalui Mindfulness. termanajemen dengan baik, memberikan dampak baik terhadap proses penerimaan informasi atau proses belejaran dan pada akhirnya berdampak baik terhadap hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA