Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya GENDING IDENTITAS DESA WARU. KECAMATAN KEBAKKRAMAT. KABUPATEN KARANGANYAR SEBAGAI DESA SENI BUDAYA Suyoto1. Nanang Bayu Aji2 Institut Seni Indonesia Surakarta suyoto@isi-ska. id1, bayuaji@isi-ska. ABSTRAK Penelitian Pengabdian Kepada Masyarakat Karya Seni yang berjudul AuGending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar Sebagai Desa Seni BudayaAy, adalah bentuk kegiatan yang menghasilkan gending identitas Desa Waru yang selama ini belum dimiliki oleh Desa Waru. Hal ini merupakan sebuah inovasi dalam penggarapan gending identitas Desa Waru. Setelah menganalisis situasi dan permasalahan mitra, maka peneliti menggarap gending identitas Desa Waru. Kegiatan ini menjelaskan tentang pentingnya gending identitas. Peneliti menyusun materi, melatih yang berkaitan dengan gending identitas, sekaligus memberikan wawasan kepada Desa Waru agar ilmu yang diberikan dan gending yang telah dibuat dapat diimplementasikan, serta bermanfaat untuk Desa Waru khususnya, masyarakat pada umumnya. Dalam kegiatan pelatihan ini digunakan metode drill, yakni dengan melakukan latihan secara rutin sesuai dengan yang Tidak kalah pentingnya adalah pembuatan karya musik identitas Desa Waru sebagai gending tetap. Hasil dari pelatihan ini adalah wujud rekaman gending identitas Desa Waru, sehingga Desa Waru yang dinobatkan sebagai Desa Seni Budaya oleh Bupati Karanganyar telah memiliki gending sebagai identitas Desa. Kata Kunci: gending, identitas, seni budaya ABSTRACT The Community Service Research Artwork entitled "The Identity Song of Waru Village. Kebakkramat District. Karanganyar Regency as an Arts and Culture Village" is a form of activity that produces a song that Waru Village has not had before. This is an innovation in developing a song that gives Waru Village an identity. After analyzing the partner's situation and problems, the researchers worked on the Waru Village identity song. This activity explained the importance of the identity song. The researchers developed materials, provided training related to identity song, and provided insights to Waru Village so that the knowledge provided and the songs created could be implemented and benefit Waru Village in particular and the community in general. This training used a drill method, involving regular practice according to the plan. Equally important was the creation of Waru Village's identity music as a permanent song. The result of this training was a recording of Waru Village's identity song, enabling Waru Village, which had been designated an Arts and Culture Village by the Regent of Karanganyar, to have a song as its official identity. Keywords: music, identity, arts and culture Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENDAHULUAN Desa Waru adalah satu satunya desa di wilayah Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar yang dinobatkan oleh Bupati Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya. Obyek materi yang dipelajari di Desa Waru adalah seni karawitan termasuk tembang, seni tari, kethoprak, dan pambiwara. Desa Waru dinobatkan sebagai Desa Seni Budaya pada tahun 2022, sampai sekarang belum memiki gending sebagai identitasnya. Di wilayah Kecamatan Kebakkramat yang terdiri dari 10 desa, antara lain Desa Banjarharjo. Desa Malanggaten. Desa Kaliwuluh. Desa Nangsri. Desa Kemiri. Desa Alastuwa. Desa Macanan. Desa Pulosari. Desa Kebak, dan Desa Waru (Ismardani, 2. Diantara 10 desa di wilayah Kecamatan Kebakkramat ini yang memiliki kemampuan di bidang seni seperti tersebut di atas hanya Desa Waru. Seni karawitan, seni pedalangan, seni tari, kethoprak, dan pambiwara berkembang di Desa Waru cukup pesat, dan tokohnya ada di Desa Waru. Oleh karena itulah Desa Waru dinobatkan oleh pemerintah Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya (Bram, 2. Desa Waru telah memiliki sarana dan prasarana yang cukup memadahi untuk pengembangan seni budayanya. Prasarana yang dimiliki yakni berujud beberapa bangunan yang telah berdiri kokoh di atas tanah seluas kurang lebih 3000 m2. Bangunan dimaksud adalah Kantor Desa. Pendapa, dan gedung olahraga. Pendapa ini digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan latihan seni dan pentas seni, terutama pentas dalam rangka peringatan HUT Republik Indonesia. Sarana yang dimiliki adalah satu set gamelan pylog pemberian dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar karena Desa Waru dinobatkan sebagai Desa Seni Budaya. Dalam penobatan tersebut, oleh Bupati Karanganyar Desa Waru mendapatkan hibah seperangkat gamelan laras pylog. Hibah gamelan ini oleh Desa Waru digunakan untuk kegiatan berkesenian masyarakat, yaitu pelatihan karawitan, tari, dan kethoprak. Perlu diketahui bahwa kehidupan kesenian di wilayah Desa Waru dan sekitarnya cukup subur. Hal ini ditandai pada tiap perhelatan hampir selalu melibatkan karawitan, atau nanggap AugongAy. Bagi orang Jawa nanggap gong, nggantung gong ini benar-benar telah mendarah daging, dan seni merupakan bagian dari hidupnya. Orang Jawa merasa belum sempurna kiranya ketika menyelenggarakan hajatan tidak Aunggantung gongAy terutama hajatan mantu (Waridi. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya Artinya merasa belum lengkap kiranya orang Jawa ketika mempunyai hajat tidak menggelar gamelan sebagai kelengkapan acaranya. Menggelar gamelan dalam sebuah perhelatan bagi orang Jawa adalah sebuah kepuasan tersendiri, bahkan merupakan suatu kebanggaan dan merasa berwibawa (Rustopo et al. , 2. Gambar 1. Gamelan Pylog pemberian dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar (Foto: Suyoto, 2. Perlu diketahui bahwa setiap perhelatan diperlukan orang yang mengatur jalannya acara . , dan sambutan-sambutan . Selain pambiwara dalam perhelatan mantu ada hamicara, seperti misalnya: pasrah tinampi . , ucapan selamat datang . tur pambagy. Hal ini di masyarakat menjadi penting oleh karena itu di Desa Waru selain pelatihan karawitan juga diadakan pelatihan hamicara. Tidak kalah pentingnya juga diadakan pelatihan kethoprak. Semua kegiatan tersebut dibiayai oleh Desa yang dianggarkan dalam RAPBDes. Desa Waru benar-benar memperhatikan seni Karawitan dapat menunjukkan simbol kemasyarakatan di suatu suku bangsa (Yudha & Setyowati, 2017, p. , terutama suku Jawa. Hal ini terbukti dari keberadaan karawitan yang terdiri dari beberapa ricikan dengan tabuhan yang berbeda, bunyi yang berbeda, ketika disajikan terdengar sangat indah. Kendatipun demikian sajian karawitan kurang indah tanpa hadirnya vokal, baik sindhynan maupun gyrong. Gyrong menjadi penting kehadirannya dalam sebuah gending, sekaligus memberi bekal kepada masyarakat untuk menguasai dan memahami titilaras gamelan Jawa. Penelitian kali ini bekerjasama dengan Desa Waru untuk membuat gending identitas sebagai Desa Seni Budaya. Penelitian ini adalah penelitian Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 perdana di Desa Waru yang sampai sekarang belum memiliki gending sebagai identitas desa. Selama ini Desa Waru belum memiliki gending identitas, sebagai penciri desa seni budaya. Mengingat pentingnya gending identitas, kemudian Desa Waru meminta kepada peneliti untuk membuatkan gending identitas yang disajikan oleh pengrawit/seniman Desa Waru. Manusia mengenal kebudayaan dan menciptakan berbagai wujud ide, aktivitas, hingga artefak dalam kehidupan sehari-harinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (Sedyawati, 1. Seni menjadi salah satu unsur penting yang dapat mempengaruhi kehidupan maupun kebudayaan manusia (Simatupang, 2010, p. Manusia sebagai mahkluk sosial yang harus berinteraksi dengan sesamanya dalam memenuhi berbagai kebutuhan Karawitan memiliki peran penting bagi seni yang lain seperti kethoprak, tari, dan wayang, karena karawitan menjadi alat utama ketika berkaitan dengan pergelaran seni yang lain (Fatimah, 2020, p. Peran karawitan dalam kehidupan masyarakat berdasarkan pengertiannya, termasuk sistem perlambang yang dipakai secara timbal balik, dan dibentuk atas unsur-unsur bunyi dan suara manusia. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan pentingnya gending identitas desa. Pada tahap ini, peneliti ingin memberikan pengetahuan secara masif dan terstruktur mengenai pentingnya gending identitas desa, sekaligus sebagai pelestari seni budaya Jawa yang selama ini belum memiliki gending METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Ae etnografi. Tujuan pendekatan ini adalah untuk menjabarkan secara komprehensif terkait proses penciptaan gending sebagai identitas suatu desa dari perspektif masyarakat (Winarno, 2. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi (Kutha Ratna, 2. Observasi dilakukan secara partisipatif, di mana peneliti terlibat langsung dalam proses penciptaan gending identitas tersebut. Langkah prtama dimulai dari tahap penentuan konsep, penentuan laras, melodi, serta proses latihan yang dilakukan dengan teknik drill. Wawancara dilakukan untuk memperoleh data mengenai unsur-unsur budaya, sejarah, maupun filosofi desa yang dijadikan materi utama gending identitas. Studi dokumen dilakukan untuk mendukung data Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya pada proses wawancara. Data yang didapatkan kemudian dilakukan proses reduksi data . , kemudian dilakukan penyajian data, dan terakhir dilakukan penarikan kesimpulan (Miles et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyusunan gending identitas desa tidak terlepas dari implementasi kompetensi dasar dalam penciptaan seni. Tentunya, diperlukan penemuan momen estetik yang terdapat di Desa Waru untuk dijadikan material gending identitas sebagai ungkapan artistik pencipta (Sunarto, 2020, p. Momen estetik yang dimaksud tentunya didapatkan dari kondisi alam, sosial, dan budaya yang ada di Desa Waru. Dalam pengimplementasian kompetensi dasar penciptaan gending identitas diperlukan beberapa tahapan, antara lain proses berfikir, adeg-adeg . , dan kompetensi dasar pencipta. Pembuatan Cakepan Pada tahapan pembuatan cakepan, dimulai dengan berkonsultasi bersama tokoh adat, serta sesepuh desa yang memahami makna dan filosofi budaya Desa Waru. Konsultasi dilakukan bersama-sama merumuskan tema yang akan diangkat, seperti kondisi geografis desa, nilai-nilai religius, sosial budaya, dan kebanggaan lokus budaya lokal. Selain itu, berusaha mensinergikan apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Desa Waru sebelumnya oleh pihak lain, seperti adanya pemberdayaan berbahasa Jawa (Supardjo et al. , 2. Selanjutnya, proses penciptaan cakepan dilakukan melalui diskusi dan musyawarah secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kaidah bahasa lokal dan unsur keindahan serta kedalaman makna. Tradisi lisan dan syair merupakan basis utama dalam penciptaan cakepan, dimana setiap kata dan kalimat disusun secara sistematis dan bermakna mendalam, agar mudah dipahami, diucapkan, dan diingat, serta dinyanyikan oleh masyarakat dari berbagai umur. Penggarapan cakepan tidak lepas dari proses latihan melodi dan nada yang sesuai, sehingga tercipta keharmonisan antara cakepan dan musik gending. Hasil akhir dari proses ini adalah cakepan gending yang tidak hanya berisi pesan moral dan pendidikan, namun juga Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 mampu memperkuat identitas budaya desa Waru. Melalui cakepan gending, nilai-nilai lokal terus ditransmisikan dan dikenalkan kepada generasi berikutnya sebagai bentuk pelestarian budaya yang berkelanjutan. Berikut cakepan yang dihasilkan. Waru-waru desa seni budaya Desa Waru asri lamun kadulu tentrem kerta raharja kurang sandhang pangan gemah ripah loh jinawi nora kendhat nggynnya amarsudi Waru bisany kuncara Waru desa seni budaya Desa Waru indah ketika dilihat kabyh brayat Semua warga tenteram dan sejahtera tan Tidak kurang sandang pangan, bahagia subur makmur Tanpa henti dalam berusaha agar Desa Waru bisa tersohor. Desa waru wus kaloka kabyh seni wus katon ngrembaka seni tari ana, pedhalangan ana karawitan wus tumata Kethoprak wus sumarak campursari wus nyawiji tata basa lan suwara leres laras yyn micara Desa Waru sudah terkenal Semua seni sudah kelihatan berkembang Seni tari ada, pedalangan ada Karawitan telah berhasil Kethoprak telah terkenal Campursari telah menyatu Tata bahasa Jawa dan olah tembang. Baik dan benar dalam berbicara. Penentuan dan Pembuatan Melodi Proses penentuan dan pembuatan melodi, prosesnya tidak hanya sekadar menyusun nada, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual dan artistik yang mendalam. Gending ini harus mampu merangkum esensi dari sebuah desa dari keindahan alamnya, nilai-nilai budayanya, dan semangat gotong royong yang menjadi napas kehidupannya. Gending identitas Desa Waru ini dalam peyajiannya ditentukan menggunakan laras pelog. Hal tersebut merupakan langkah optimalisasi dan kontinuitas terhadap fasilitas yang dihibahkan oleh pemerintah berupa gamelan laras pelog. Setelah penentuan laras, langkah selanjutnya yaitu pembuatan melodi. Pada proses pembuatan melodi, mempertimbangkan padhang-ulihan gending dan kesan dari sebuah frasa yang menggambarkan kebersamaan dan gotong royong (Sumarsam, 2. Pembuatan melodi juga dipertimbangkan kepada orientasi tempo . yang digunakan dalam gending Kecuali itu lagu dibuat sederhana, karena mempertimbangkan bahwa pelaku maupun pengguna adalah masyarakat desa yang kemampuan kesenimanannya masih minim. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya Notasi 1. Notasi Vokal Lancaran dan Langgam Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2. Latihan Vokal Lancaran dan Langgam Waru Desa Seni Budaya (Foto: Suyoto, 2. Penyusunan Balungan Pada tahap penyusunan balungan dalam konteks gending identitas suatu desa, didasarkan pada orientasi penyajinya. Hal tersebut bertujuan agar dalam penyajian dinilai mudah untuk disajikan. Selain itu, mempertimbangkan juga mengenai padhang-ulihan. Dalam karawitan terdapat beberapa macam jenis balungan yaitu balungan mlaku, balungan nibani, balungan nggantung, balungan tikel, dsb (Supanggah, 2. Dari sekian banyak macam jenis balungan sengaja dipilih balungan mlaku. Bentuk gending juga dipilih yang paling sederhana yaitu bentuk lancaran, dengan pertimbangan mudah dilakukan. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya Notasi 2. Notasi Balungan Lancaran dan Langgam Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 3. Latihan Lancaran dan Langgam Waru Desa Seni Budaya (Foto: Suyoto, 2. Penentuan Garap Gending ini dimulai dari intro yang diawali dari sajian kethuk, kemudian diteruskan balungan dan disusul vokal bersama ditampani oleh kendang, menuju lancaran garap semacam Mars. Sajian intro ini sebagai pembuka untuk menunjukkan penuh semangat masyarakat Desa Waru. Lancaran disajikan dengan volume keras . atau semacam lagu Mars dua kali rambahan kemudian disajikan berlagu. Mars disajikan dengan karakter tegas bergelora, tidak patah semangat. Penggunaan vokal dua kali rambahan, kemudian kembali Lancaran disajikan dua kali rambahan disertai vokal. Lancaran pada rambahan ke dua menjelang akhir beralih garap langgam satu Sajian langgam sebagai simbol kedamaian, kesejahteran, dan kebahagiaan masyarakat Desa Waru, bahwasanya Desa Waru telah terwujud masyarakat yang gemah ripah loh jinawi, murah sandhang pangan, didukung seni budaya yang tumbuh subur di Desa Waru ini. Akhir dari sajian gending ini adalah dari langgam kembali ke lancaran kemudian Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Suyoto. Nanang Bayu Aji Gending Identitas Desa Waru. Kecamatan Kebakkramat. Kabupaten Karanganyar sebagai Desa Seni Budaya PENUTUP Penyusunan gending identitas desa merupakan proses kreatif yang mendalam, tidak hanya sekadar membuat melodi, tetapi juga mengungkapkan momen estetik yang ada di desa Berdasarkan konsep dari Sunarto . , penyusunan gending identitas Desa Waru harus didasarkan pada kondisi alam, sosial, dan budaya desa itu sendiri. Pada tahapan penciptaan cakepan . gending identitas Desa Waru, prosesnya sangat kolaboratif dan berlandaskan kearifan lokal. Tahap ini diawali dengan konsultasi dan musyawarah bersama tokoh adat dan sesepuh desa. Tujuannya adalah untuk menggali dan merumuskan tema yang mencerminkan esensi desa, seperti kondisi geografis, nilai religius, sosial, dan kebanggaan lokal. Selain itu, proses ini juga menyinergikan upaya pelestarian budaya yang sudah ada, seperti pemberdayaan bahasa Jawa. Penciptaan cakepan selanjutnya dilakukan secara berkelanjutan, dengan memperhatikan kaidah bahasa lokal dan unsur estetika serta makna mendalam. Proses penyusunan balungan . erangka melod. dalam gending identitas desa dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan penyajian. Dengan fokus pada orientasi penyajinya, tujuannya adalah agar gending tersebut mudah dimainkan. Dari berbagai jenis balungan yang ada, seperti balungan mlaku, nibani, dan nggantung, diputuskan hanya menggunakan balungan mlaku. Selain itu, penyusunannya juga tetap mempertimbangkan konsep padhang-ulihan, yang memberikan kesan cerah pada melodi. DAFTAR PUSTAKA Bram. Pemkab Karanganyar Kukuhkan Waru Sebagai Desa Seni Budaya. Jawa Pos RADAR SOLO. https://radarsolo. com/karanganyar/841694011/pemkabkaranganyar-kukuhkan-waru-sebagai-desa-seni-budaya Fatimah. Eksistensi Karawitan Putri Di Kota Budaya (Studi Kasus Karawitan Sekar Praja Putri. Pemerintah Kota Surakart. Acintya Jurnal Penelitian Seni Budaya, 11. , 151Ae164. https://doi. org/10. 33153/acy. Ismardani. Kecamatan Kebakkramat Dalam Angka 2024 (Issue . https://doi. org/10. Kutha Ratna. Metodologi Penelitian: Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora pada Umumnya. Pustaka Pelajar. Miles. Huberman. , & Saldana. Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook . rd ed. SAGE Publications. Volume 17 Nomor 1 Juni 2026 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Rustopo. Slamet Suparno. , & Waridi. Kehidupan Karawitan pada Masa Pemerintahan Paku Buwana X. Mangkunagara IV, dan Informasi Oral . st ed. ISI Press. Sedyawati. Pertumbuhan Seni Pertunjukan . st ed. Sinar Harapan. Simatupang. Perspektif Antropologi dalam Seni dan Estetika. Acintya Jurnal Penelitian Seni Budaya, 2. , 1Ae6. Sumarsam. Gamelan: Interaksi Budaya dan Perkembangan Musikal di Jawa. Pustaka