RASIO JUMLAH PASIEN PERIKORONITIS OLEH KARENA GIGI IMPAKSI ANTARA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN SELAMA DI POLI GIGI PUSKESMAS TABANAN I Ni Putu Idaryati1. Anak Agung Windari Kamala Santhi 2 Bagian Ilmu Kedokteran Gigi Masyarakat dan Pencegahan. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Korespondensi : windarikamalaa@gmail. ABSTRAK Gigi impaksi adalah suatu keadaan gigi yang mengalami erupsi sebagian atau gagal erupsi ke dalam lengkung gigi. Kelainan yang dapat ditimbulkan akibat terjadinya gigi impaksi adalah terjadinya pembentukan kista, menimbulkan karies gigi dan perikoronitis. Perikoronitis merupakan infeksi pada jaringan lunak yang menutupi sekitar gigi dengan kondisi gigi erupsi sebagian. Daerah yang paling sering terjadi perikoronitis adalah pada molar ketiga bawah yang erupsi sebagian. Berdasarkan data catatan registrasi pasien di Poli Gigi Puskesmas Tabanan I, diperoleh bahwa perikoronitis oleh karena gigi impaksi termasuk dalam 10 kasus penyakit tertinggi selama kurun waktu Desember 2023-Maret Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah consecutive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh data registrasi pasien yang mengalami perikoronitis berjumlah 13 dengan total populasi 31. Hasil data menunjukkan bahwa rasio jumlah kasus perikoronitis pada bulan Desember 2023 yaitu 1:4 kasus, pada bulan Januari 2024 yaitu 0:3 kasus, pada bulan februari yaitu 3:1 kasus dan pada bulan Maret yaitu 0:1 Kemudian untuk total kasus perikoronitis yang ditemukan pada pasien laki-laki yaitu 4 kasus dan pada pasien perempuan sebanyak 9 kasus. Kata Kunci : Perikoronitis. Gigi Impaksi. Infeksi Jaringan Lunak. Puskesmas ABSTRACT An impacted tooth is a condition where a tooth partially erupts or fails to erupt into the dental arch. Abnormalities that can result from impacted teeth are the formation of cysts, causing dental caries and pericoronitis. Pericoronitis is an infection of the soft tissue that covers the teeth with partially erupted teeth. The most common area where pericoronitis occurs is in partially erupted lower third molars. Based on data from patient registration records at the Tabanan I Community Health Center Dental Clinic, it was found that pericoronitis due to impacted teeth was included in the 10 highest cases of disease during the period December 2023-March 2024. The sampling technique in this study was consecutive sampling. The sample in this study was all registration data for 13 patients who experienced pericoronitis with a total population of 31. The data results show that the ratio of the number of pericoronitis cases in December 2023 was 1:4 cases, in January 2024 it was 0:3 cases, in February namely 3:1 cases and in March it was 0:1 Then, the total cases of pericoronitis found in male patients were 4 cases and 9 cases in female patients. Keywords: Pericoronitis. Impacted Tooth . Soft Tissue Infection. Public Health Center PENDAHULUAN Kesehatan gigi dan mulut adalah hal yang sangat penting dan merupakan suatu masalah kesehatan 718eknik718an718 yang masih sangat memerlukan penanganan yang lebih lanjut karena memiliki dampak yang luas sehingga perlu penanganan cepat sebelum 1 Para ahli sepakat bahwa penyakit gigi dan mulut merupakan Aubehavioral diseaseAy atau penyakit terkait perilaku. Derajat kesehatan gigi dan mulut yang prima adalah cerminan pengalaman perilaku perawatan gigi dan mulut yang baik. Dalam hal ini, pemerintah bertanggung jawab untuk merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, menggalakkan, dan memantau pelaksanaan pekerjaan kesehatan yang merata dan terjangkau oleh 718eknik718an718. Puskesmas adalah unit organisasi fungsional yang memberikan kesehatan yang komprehensif, terpadu, dan merata yang 719eknik719an719 secara aktif dan memanfaatkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya 719eknik719an719. Di Indonesia, penyakit gigi dan mulut termasuk dalam sepuluh besar penyakit terbanyak di pusat pelayanan kesehatan primer (Puskesma. 4, salah satunya yaitu impaksi gigi. Namun, dalam hal ini pada Puskesmas Tabanan I merujuk kasus impaksi gigi ke RSUD Tabanan. Erupsi gigi pada rongga mulut jelas hal yang biasa atau dapat dikatakan normal, namun pada beberapa kasus proses erupsi bisa juga mengalami gangguan seperti impaksi. 17 Gigi impaksi adalah gigi yang tidak dapat atau tidak akan dapat erupsi ke posisi fungsional normal karena adanya hambatan dari gigi sebelahnya, tulang atau jaringan patologis di Keadaan tersebut dapat memicu terjadinya kondisi patologis yang membutuhkan perawatan lebih lanjut. Gigi dinyatakan impaksi apabila pembentukan akar gigi telah sempurna, tetapi gigi tersebut mengalami kegagalan erupsi ke bidang oklusal. Gigi impaksi dibedakan menjadi dua keadaan yaitu impaksi penuh atau impaksi total . ompleted impacte. dan impaksi 719eknik719a . artially erupte. 5 Gigi molar ketiga rahang bawah impaksi dapat menggangu fungsi pengunyahan dan sering menyebabkan berbagai komplikasi sehingga perlu dilakukan 719eknik719a pencabutan. Upaya pengeluaran gigi impaksi terutama pada gigi molar ketiga rahang bawah dilakukan dengan 719eknik719a pembedahan yang disebut dengan odontektomi. Tanda dan gejala yang paling umum terjadinya gigi impaksi adalah rasa sakit disekitar gusi atau rahang, pada telinga serta kepala dengan durasi yang lama, susah untuk membuka mulut, resorpsi gigi tetangga karena posisi benih gigi yang tidak normal, kista, fraktur rahang dan 719eknik719an719tis. 7 Gigi impaksi dapat terjadi pada semua usia, baik pada anak-anak maupun dewasa. Berdasarkan data didapatkan jumlah kasus masalah gigi di Indonesia mencapai 45,3% dan dari 45% tersebut, 14 % dengan keluhan gusi bengkak, salah satu penyebab gusi bengkak yaitu 719eknik719an719tis. Perikoronitis adalah salah satu peradangan yang dapat terjadi disekeliling gigi yang mengalami impaksi. Perikoronitis disebabkan oleh akumulasi sisa-sisa makanan di bawah 719eknik719an yang mengelilingi gigi yang erupsi 719eknik719a, yang menyediakan tempat untuk berbagai macam flora polimikroba, terutama terdiri dari bakteri piogenik anaerob. Daerah yang paling sering terjadi 720eknik720an720tis adalah pada molar ketiga bawah yang erupsi 720eknik720a. Keadaan ini dapat berkembang menjadi infeksi yang berbahaya, bahkan fatal. Berdasarkan data yang diperoleh pada 4 bulan terakhir yaitu bulan desember 2023. Januari 2024. Februari 2024 dan Maret 2024 di Poli gigi Puskesmas Tabanan I, 720eknik720an720tis oleh karena gigi impaksi merupakan salah satu dari 10 kejadian dengan prevalensi kasus tertinggi yang dialami oleh pasien yang berkunjung. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian observasional deskriptif dan menggunakan data sekunder berupa catatan registrasi pasien di Poli Gigi Puskesmas Tabanan I. Penelitian ini dilakukan di Poli Gigi Puskesmas Tabanan I yang dilaksanakan pada bulan 18- 30 Maret 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data registrasi pasien yang mengalami 720eknik720an720tis oleh karena impaksi berjumlah 13. Penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan tujuan utama yaitu membandingkan jumlah antara pasien laki-laki dan 720eknik720an pada kejadian 720eknik720an720tis di Poli Gigi Puskesmas Tabanan I. Tahapan yang dilakukan dimulai dari pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan data, lalu pembuatan Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa data sekunder yang didapatkan dari data kunjungan pasien yang berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Tabanan I pada bulan Desember tahun 2023. Januari 2024. Februari 2024 dan Maret 2024. Kemudian dilakukan pengelompokkan berdasarkan kategori pasien laki-laki dan 720eknik720an. Setelah itu diklasifikasikan 720eknik720 kasus 720eknik720an720tis berdasarkan jenis kelamin lakilaki dan 720eknik720an untuk melihat perbandingan jumlah pasien setiap bulannya. Dalam penelitian ini 720eknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Consecutive Consecutive sampling adalah salah satu 720eknik pengambilan sampel yaitu pengambilan sampel dengan memilih sampel yang sesuai kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu hingga memenuhi jumlah sampel . HASIL Berikut adalah hasil data sekunder kunjungan pasien di Poli Gigi UPTD Puskemas Tabanan I yang diperoleh. Hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut: Tabel 1. Distribusi Kasus Gigi Impaksi Berdasarkan Jenis Kelamin yang Berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Tabanan I Jenis Kelamin Frekuensi Persentase Laki-laki Perempuan 41,9% 58,1% Total Tabel 1 menunjukkan bahwa pasien berjenis kelamin perempuan dari catatan registrasi yang mengalami impaksi memiliki persentase terbanyak yang berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Tabanan I yaitu dengan persentase 58,1 %. Beberapa penelitian sebelumnya juga mendapatkan hasil yang serupa bahwa gigi impaksi lebih sering pada Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ruwaeda Outbi pada tahun 2018 menunjukkan hasil dari 200 pasien terdapat frekuensi laki-laki 94 . %) dan frekuensi perempuan sebanyak 106 . %). Dilanjutkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Safira Khairunnisa pada tahun 2020 menunjukkan hasil dari 220 kasus, ditemukan frekuensi laki-laki 81 . ,9%) dan frekuensi perempuan sebanyak 139 . ,1%). Tabel 2. Perbandingan Jumlah Kasus Perikoronitis Oleh Karena Gigi Impaksi Antara Lakilaki dan Perempuan yang Berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Tabanan I Jenis Desember Januari Februari Maret Kelamin Laki-laki Perempuan Total Total Persentase Tabel 2 menunjukkan bahwa kasus perikoronitis oleh karena gigi impaksi lebih banyak ditemui pada pasien perempuan daripada pasien laki-laki di Poli Gigi Puskesmas Tabanan I dari bulan Desember 2023 Ae Maret 2024. Rasio jumlah kasus perikoronitis oleh karena impaksi pada bulan Desember 2023 yaitu 1:4 kasus, pada bulan Januari 2024 yaitu 0:3 kasus, pada bulan februari yaitu 3:1 kasus dan pada bulan Maret yaitu 0:1 kasus. Kemudian untuk total kasus perikoronitis oleh karena gigi impaksi yang ditemukan pada pasien laki-laki yaitu 3 kasus dan pada pasien perempuan sebanyak 10 kasus. PEMBAHASAN Kecenderungan kejadian frekuensi impaksi molar ketiga pada perempuan dapat disebabkan oleh pola pertumbuhan yang berbeda antara kedua jenis kelamin. Durasi pertumbuhan rahang perempuan lebih singkat dibandingkan laki-laki. Pada perempuan, pertumbuhan rahang berakhir pada saat gigi molar ketiga erupsi, sedangkan pertumbuhan rahang pada laki-laki bertahan selama erupsi gigi molar ketiga sehingga memberikan ruang yang cukup bagi gigi molar ketiga untuk erupsi. 11 Gigi molar ketiga impaksi sering menyebabkan gigi anterior berjejal yang akan mengganggu perawatan ortodonti. Selain itu, gigi molar ketiga impaksi pada mandibula juga dapat menjadi hambatan pergerakan gigi molar pertama dan kedua ke arah distal. 16 Selain itu beberapa faktor penyebab seperti daya tekanan akibat pengunyahan, bentuk makanan, proporsi besar gigi dan rahang dan tekanan kunyah lakilaki cenderung lebih besar dibandingkan dengan perempuan sehingga akan berpengaruh pada tumbuh kembang rahang nantinya, bentuk makanan juga dapat berpengaruh pada perkembangan dimana perempuan lebih suka makan makanan yang lembut dan tidak membutuhkan tenaga atau tekanan kunyah yang besar dibandingkan dengan laki-laki. Perikoronitis adalah infeksi jaringan lunak di sekitar mahkota gigi yang erupsi sebagian paling sering terjadi pada gigi molar ketiga mandibula. Sering ditemukan pada pasien dewasa dan dewasa muda. Mikroflora yang berkembang di celah antara mahkota dan operculum disebut menjadi penyebab utama terjadinya perikoronitis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikroflora yang berhubungan dengan perikoronitis adalah bakteri anaerob yaitu Streptococcus. Staphylococcus, dan Fusobacterium sp. Impaksi makanan yang terperangkap di celah antara mahkota dan operkulum gigi menjadi tempat bekumpulnya mikroflora sehingga menyebabkan terjadinya peradangan pada operkulum. Trauma akibat kontak antara gigi geraham ketiga bawah dengan gigi geraham ketiga atas yang erupsi sempurna dapat memperparah keadaan peradangan yang dapat menyebabkan pembesaran operkulum akibat cairan dan seluler inflamasi eksudat sehingga penutupan rahang menjadi tidak sempurna. Menurut perikoronitis akut dan kronis. Perikoronitis akut ditandai dengan onset yang mendadak, durasinya singkat dan gejalanya terlihat jelas. Perikoronitis akut ditandai oleh lesi merah, bengkak, bernanah yang nyeri tekan, dengan nyeri berdenyut parah yang menjalar ke telinga, tenggorokan, dasar mulut, sendi temporomandibular, dan daerah submandibular Kemungkinan juga terdapat rasa sakit saat menggigit. 8 Perikoronitis juga dapat diklasifikasikan sebagai kronis. Jenis ini sebagian besar terlihat dengan kebersihan mulut yang baik atau sedang. Perikoronitis kronis ditandai dengan nyeri tumpul dengan ketidaknyamanan ringan selama satu atau dua hari yang berlangsung selama berbulanbulan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Saputri dkk. pada tahun 2022 menjelaskan bahwa di antara 313 gigi molar ketiga impaksi yang dievaluasi, 9,06% gigi molar ketiga menunjukkan terjadinya kelainan yaitu perikoronitis dan dijelaskan bahwa perikoronitis adalah patologi yang paling banyak terjadi saat ini, dengan gigi molar ketiga rahang bawah memiliki proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan gigi molar ketiga rahang atas. Dan ditemukan lebih banyak angka kasus pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. 14 Dilanjutkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jefry tahun 2019 diambil kesimpulan bahwa deskripsi gigi impaksi molar ke tiga rahang bawah dengan perikoronitis memperlihat frekuensi lebih banyak terjadi pada perempuan dan usia O25 tahun yang paling sering mengalami gigi impaksi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yunus dkk. pada tahun 2023 dengan hasil penelitian yaitu lebih banyak dialami perempuan . ,5%) dibandingkan laki-laki . ,0%) kemudian dinyatakan bahwa perbandingan hasil antara kejadian gigi impaksi antara laki-laki dan perempuan dapat disebabkan oleh karena perbedaan kebudayaan dan pola makan dari tiap wilayah. Ketika diet beralih pada makanan olahan yang lebih lunak, ada kecenderungan atrofi rahang yang tidak digunakan sebagai matriks fungsional yang diperlukan untuk pertumbuhan ehingga perkembangan rahang tidak maksimal. Kelanjutan dari hal ini adalah perbedaan lengkung gigi dan ukuran gigi yang menyebabkan crowding dan impaksi. Diet berserat merangsang aktivitas otot yang lebih besar, yang pada gilirannya merangsang pertumbuhan rahang yang mengarah pada ketersediaan ruang di rahang untuk erupsi gigi molar ketiga sehingga mengurangi kejadian impaksi. Teori matriks fungsional menyataka n bahwa pertumbuhan tulang rahang atas dan rahang bawah bergantung pada kebutuhan fungsional jaringan disekitar tulang. Oleh karena itu, fungsi normal sangat penting untuk pertumbuhan rahang atas dan rahang bawah. SIMPULAN Perbandingan jumlah kasus perikoronitis oleh karena gigi impaksi yang berkunjung ke Poli Gigi Puskesmas Tabanan I berdasarkan jenis kelamin menunjukkan bahwa lebih banyak terjadi pada perempuan. Hal ini sejalan dengan persentase kasus impaksi gigi terbanyak yang terjadi pada pasien berjenis kelamin perempuan. Pada perempuan, pertumbuhan rahang berakhir pada saat gigi molar ketiga erupsi, sedangkan pertumbuhan rahang pada laki-laki bertahan selama erupsi gigi molar ketiga sehingga memberikan ruang yang cukup bagi gigi molar ketiga untuk erupsi DAFTAR PUSTAKA