e-ISSN: 2721-6632 p-ISSN: 2721-6624 Vol 7. No 1. April 2026 . http://sttmwc. id/e-journal/index. php/haggadah MODEL PEDAGOGI KRISTOSENTRIS BERBASIS PEMIKIRAN CLEMENTUS DAN RELEVANSINYA DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI ERA DIGITAL Lisbet Parulian Simangunsong 1. Afriani Manalu2 Email: ps17@gmail. com 1STT Misi William Carey Afrianimanalu2103@gmail. com 2STT Misi William Carey Correspondence: Afrianimanalu2103@gmail. ABSTRACT Christian Religious Education is rooted in the understanding of humanity as imago Dei (Genesis 1:. , called to grow toward maturity in Christ (Ephesians 4:. However, in contemporary practice. CRE in the digital era faces an epistemological crisis marked by the fragmentation of knowledge, the dominance of cognitive-oriented approaches, and the disintegration of the relationship between faith, reason, and life. Various approaches to faith-based pedagogy have been developed, yet they have not systematically integrated patristic theological foundations with the digital context in a constructive manner. This study aims to reconstruct the pedagogical thought of Clement of Alexandria and formulate it as a Christocentric-Contextual Pedagogical Model. The research employs a qualitative approach through literature study, utilizing historical-theological analysis, theological interpretation, and conceptual reconstruction. The findings reveal that ClementAos pedagogy integrates faith . , reason . , and moral formation . within a Christocentric framework. This model is further contextualized by positioning technology as a space for faith formation that requires a reflective and critical approach. The novelty of this study lies in the formulation of a pedagogical model that simultaneously and operationally integrates ontological, epistemological, pedagogical, and digital dimensions. This model contributes to the development of CRE that is not only oriented toward the transfer of knowledge but also toward the holistic transformation of learnersAo lives in the digital age. Keywords: Christian Religious Education in the Digital Era. Clement of Alexandria. Christocentric pedagogy ABSTRAK Pendidikan Agama Kristen (PAK) berakar pada pemahaman manusia sebagai imago Dei (Kejadian 1:. yang dipanggil menuju kedewasaan di dalam Kristus (Efesus 4:. Namun dalam praktik kontemporer. PAK di era digital menghadapi krisis epistemologis berupa fragmentasi pengetahuan, dominasi pendekatan kognitif, serta terputusnya relasi antara iman, rasio, dan kehidupan. Berbagai pendekatan pedagogi iman telah dikembangkan, namun belum secara sistematis mengintegrasikan fondasi teologis patristik dengan konteks digital secara konstruktif. Studi ini bertujuan merekonstruksi pemikiran pedagogis Clement of Alexandria dan merumuskannya sebagai Model Pedagogi Kristosentris-Kontekstual. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi literatur dengan analisis historisteologis, interpretasi teologis, dan rekonstruksi konseptual. Hasil studi menunjukkan bahwa pedagogi Clementus mengintegrasikan iman . , rasio . , dan pembentukan moral . dalam kerangka Kristosentris. Model ini dikembangkan secara kontekstual dengan menempatkan teknologi sebagai ruang formasi iman yang memerlukan pendekatan reflektif dan kritis. Kebaruan penelitian ini terletak pada formulasi model pedagogi yang mengintegrasikan dimensi ontologis, epistemologis, pedagogis, dan digital secara simultan dan operasional. Model ini berkontribusi pada pengembangan PAK yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi hidup peserta didik secara holistik di era digital. Kata kunci: Pendidikan Agama Kristen Era Digital. Clement of Alexandria, pedagogi Kristosentris PENDAHULUAN Pendidikan Agama Kristen (PAK) pada hakikatnya tidak dapat dipahami hanya sebagai proses transfer pengetahuan religius, melainkan sebagai praksis pembentukan iman yang bersifat holistik dan transformatif. Dalam perspektif teologis, pendidikan Kristen berakar pada konsep manusia sebagai imago Dei (Kejadian 1:. , yang menuntut adanya transformasi intelektual, moral, dan spiritual secara terpadu (Knight, 2006. Pazmiyo, 2. Namun dalam praktik kontemporer. PAK sering kali mengalami reduksi menjadi sekadar penyampaian materi kognitif yang terpisah dari pembentukan karakter dan spiritualitas (Groome, 2. Reduksi ini bertentangan dengan tujuan pendidikan iman sebagaimana ditegaskan dalam Kitab Suci, bahwa manusia dipanggil untuk Aibertumbuh di dalam kasih karunia dan pengenalan akan Yesus KristusAn . Petrus 3:. Dengan demikian, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga pertumbuhan hidup yang semakin menyerupai Kristus (Wilhoit, 2008. Banks & Stevens, 2. Situasi tersebut semakin kompleks dalam konteks era digital. Perkembangan teknologi informasi menghadirkan ekologi belajar baru yang ditandai oleh kecepatan akses informasi, fragmentasi perhatian, dan dominasi visual. Dalam kondisi ini, peserta didik tidak lagi mengalami kekurangan informasi, tetapi kelebihan informasi tanpa kedalaman refleksi (Carr, 2010. Siemens, 2. Hal ini berpotensi mengaburkan kemampuan hikmat sebagaimana ditekankan dalam Amsal 4:7, bahwa Aipermulaan hikmat adalah: perolehlah hikmat, dan dengan segala yang kau peroleh, perolehlah pengertian. An Dalam konteks ini, diperlukan rekonstruksi pedagogi Kristen yang tidak hanya bersifat adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman teologis. Pendidikan Kristen perlu kembali pada fondasi Kristosentris yang menempatkan Kristus sebagai pusat kebenaran, sebagaimana dinyatakan dalam Kolose 2:3 bahwa di dalam Kristus Aitersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuanAn (Holmes, 1987. Dockery, 2. Meskipun berbagai pendekatan pedagogi Kristen telah menekankan dimensi praksis iman dan formasi spiritual, sebagian besar masih berfokus pada konteks pastoral atau liturgis, serta belum secara eksplisit mengintegrasikan pemikiran patristik dengan tantangan epistemologis era digital. Dengan demikian, terdapat kesenjangan konseptual dalam pengembangan model pedagogi yang bersifat teologis sekaligus kontekstual-digital. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi kesenjangan tersebut melalui rekonstruksi pemikiran Clement of Alexandria dalam kerangka pedagogi Kristosentris yang relevan bagi konteks digital kontemporer. METODE PENEITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur sebagai dasar untuk mengeksplorasi dan merekonstruksi pemikiran pedagogis Clement of Alexandria. Secara metodologis, penelitian ini memadukan tiga kerangka analisis yang saling berkaitan. Pertama, analisis historis digunakan untuk menelusuri konteks lahirnya pemikiran Clementus dalam dinamika intelektual gereja mula-mula, khususnya dalam relasinya dengan tradisi filsafat Yunani. Kedua, analisis teologis dilakukan untuk menginterpretasi konsep-konsep kunci seperti Logos. Paedagogus, dan formasi iman, sehingga diperoleh pemahaman yang utuh mengenai dasar teologis pedagoginya. Ketiga, analisis konstruktif digunakan untuk merumuskan model pedagogi yang bersifat kontemporer, terutama dalam era digital. Melalui pendekatan ini, penelitian bersifat interdisipliner dengan mengintegrasikan perspektif teologi, filsafat pendidikan, dan studi budaya digital, sehingga menghasilkan suatu kerangka konseptual yang tidak hanya memiliki kedalaman teologis, tetapi juga relevan secara pedagogis dalam konteks masa kini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Fondasi Pedagogi Clementus: Kritik terhadap Dualisme dan Rekonstruksi Integrasi Iman. Rasio, dan Budaya Pemikiran pedagogis Clement of Alexandria tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan dalam ketegangan intelektual antara iman Kristen dan rasionalitas Yunani. Namun, alih-alih memilih salah satu dan menolak yang lain. Clementus justru mengambil langkah integratif, ia berupaya mengatasi ketegangan tersebut dengan menempatkannya dalam kerangka yang lebih utuh. Ia berangkat dari asumsi ontologis bahwa manusia adalah makhluk yang sekaligus rasional dan spiritual, yang keberadaannya menemukan kepenuhan ketika berpartisipasi dalam kebenaran ilahi. Dalam terang ini, apa yang dalam pembacaan kontemporer dapat dipahami sebagai dualisme epistemologis yakni pemisahan antara iman dan pengetahuan, antara wahyu dan rasio dikritisi secara mendalam. Bagi Clementus, pemisahan tersebut bukan hanya problematis secara filosofis, tetapi juga berimplikasi serius secara pedagogis, karena melahirkan manusia yang terfragmentasi: cakap secara intelektual tetapi dangkal secara spiritual, atau sebaliknya, religius tetapi menolak rasionalitas. Oleh karena itu, pendidikan sejati harus mengarah pada integrasi, bukan pemisahan. Dengan menempatkan Kristus sebagai Logos sekaligus Paidagogos (Guru Ilah. Clementus menggeser pusat epistemologi dari manusia kepada Allah. Pengetahuan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai hasil konstruksi rasio manusia, melainkan sebagai partisipasi dalam terang ilahi yang menyinari akal budi. Dalam terang Logos ini, rasio tidak dihapus, tetapi disempurnakan dan diarahkan. 3 Perspektif ini menjadi kritik yang relevan terhadap kecenderungan pendidikan modern yang sering mengagungkan rasionalitas instrumental, namun kehilangan dimensi transenden dan makna terdalam dari pengetahuan itu sendiri. Lebih jauh, keberanian intelektual Clementus tampak dalam sikapnya terhadap Ia tidak mengambil posisi defensif terhadap filsafat Yunani, tetapi justru mengapropriasinya sebagai praeparatio evangelica, yakni sebagai bentuk persiapan ilahi bagi Injil. 4 Dalam kerangka ini, filsafat Yunani dipahami sebagai karunia Allah yang berfungsi menuntun manusia kepada kebenaran yang lebih penuh di dalam Kristus. Dengan demikian. Clementus tidak sekadar Aimenerima budayaAn, tetapi Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktik Pendidikan Agama Kristen Dari Plato Sampai IG. Loyola. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006, 102-2013. Tony Lane. Runtut Pijar: Sejarah Pemikirn Kristen. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2007, 14 Wellem. Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2003, 50-51. Stephen Bakolan, dkk. Sejarah dan Perluasan Kekristenan Dari Asal Ususlnya ke Abad ke-5. Cambridge Stanford Books. melakukan proses transformasi dan teologisasi budaya secara kritis. Implikasi pedagogis dari pemikiran ini sangat mendalam: pendidikan Kristen tidak boleh bersifat isolatif atau eksklusif, tetapi harus bersifat inkarnasional hadir, berdialog, dan mentransformasi budaya dari dalam. Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi membentuk cara berpikir, cara hidup, dan orientasi nilai peserta didik dalam terang iman. Jika prinsip ini ditarik ke dalam konteks era digital, maka budaya digital tidak dapat dipahami hanya sebagai alat atau bahkan ancaman, melainkan sebagai locus pedagogis baru di mana proses pembelajaran dan pembentukan iman berlangsung. Tantangannya bukan terletak pada keberadaan teknologi itu sendiri, tetapi pada kegagalan pedagogi dalam memberikan kerangka makna teologis Tanpa fondasi tersebut, teknologi berpotensi menjadi sekadar instrumen tanpa arah, bahkan dapat mengaburkan tujuan pendidikan yang sejati. Pada akhirnya, tujuan pedagogi Clementus tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi mengarah pada transformasi eksistensial manusia. Pendidikan dipahami sebagai proses pembentukan karakter dan pemurnian jiwa, di mana manusia tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga hidup di dalamnya. Dengan demikian, fondasi pedagogi Clementus bukan sekadar integrasi iman dan rasio, tetapi juga sebuah rekonstruksi menyeluruh terhadap paradigma pendidikan yang mengembalikan pengetahuan kepada sumber ilahinya, serta mengarahkan seluruh proses belajar pada pembentukan manusia yang utuh, dewasa secara iman, dan bijaksana dalam menghadapi dunia. Struktur Pedagogi Clementus: Teleologi Transformasi dalam Tiga Tahap Formasi Struktur pedagogi Clement of Alexandria menunjukkan suatu arah yang jelas dan bersifat teleologis, yakni berorientasi pada tujuan akhir berupa kesempurnaan hidup dalam Kristus. Meskipun Clementus tidak merumuskan suatu sistem pendidikan dalam bentuk kurikulum formal sebagaimana dalam pengertian modern, karya-karyanya Protreptikos. Paidagogos, dan Stromateis menampilkan suatu pola progresif yang mencerminkan dinamika pertumbuhan iman dan pengetahuan manusia. Perjalanan pedagogis ini diawali melalui Protreptikos, yang dapat dipahami sebagai tahap konversi. Pada fase ini, pendidikan berfungsi sebagai panggilan Richard Niebuhr. Christ and Culture (New York: Harper & Row, 1. , 39Ae44. Craig Dykstra. Growing in the Life of Faith: Education and Christian Practices (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 61Ae75. Clement of Alexandria. Protrepticus. Paedagogus, and Stromata, dalam The Ante-Nicene Fathers. Vol. 2, ed. Alexander Roberts dan James Donaldson (Peabody. MA: Hendrickson, 1. Gonzylez. The Story of Christianity: Volume 1 (New York: HarperOne, 2. , 91Ae95. eksistensial yang mengarahkan manusia untuk berbalik dari ketidaktahuan dan cara hidup lama menuju Kristus sebagai sumber kebenaran. Proses ini tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga menyentuh dimensi afektif dan spiritual, karena melibatkan perubahan orientasi hidup secara menyeluruh. Tahap berikutnya. Paidagogos, merepresentasikan proses formasi moral yang Dalam tahap ini. Kristus dipahami sebagai Guru Ilahi yang menuntun manusia dalam pembentukan karakter dan kebiasaan hidup . yang sesuai dengan kehendak Allah. Pendidikan tidak berhenti pada penerimaan kebenaran, tetapi berlanjut pada internalisasi nilai melalui praktik hidup sehari-hari. Dengan demikian, iman tidak hanya diyakini, tetapi diwujudkan dalam tindakan konkret. Puncak dari proses ini tampak dalam Stromateis, yang mencerminkan tahap Dalam pemahaman Clementus, pengetahuan esoteris sebagaimana dalam tradisi gnostik yang menyimpang, melainkan suatu pengenalan yang matang dan mendalam akan Allah, yang bertumbuh dari iman yang hidup. Pada tahap ini, peserta didik tidak hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga merenungkannya secara reflektif dan menghayatinya dalam relasi yang semakin intim dengan Allah. Keseluruhan struktur ini menunjukkan bahwa pendidikan, dalam pandangan Clementus, merupakan proses yang menyentuh seluruh dimensi manusia rasional, moral, dan spiritual. Oleh karena itu, model ini melampaui pendekatan behavioristik yang menekankan perubahan perilaku semata, maupun kognitivistik yang berfokus pada aspek intelektual. Clementus justru menempatkan transformasi diri secara holistik sebagai tujuan utama pendidikan. Secara teologis, proses ini berakar pada gagasan tentang partisipasi manusia dalam kehidupan ilahi, yang dalam tradisi kemudian dikenal sebagai theosis, yakni proses menuju keserupaan dengan Allah. Dalam kerangka ini, pendidikan tidak hanya dipahami sebagai proses belajar . , tetapi sebagai proses menjadi . , di mana manusia dibentuk untuk hidup dalam kebenaran yang dikenalnya. Dalam konteks pedagogi modern, struktur ini dapat dibaca sebagai suatu integrasi yang utuh antara pembelajaran kognitif, pembentukan karakter, dan refleksi spiritual yang mendalam. Ketiganya tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling terkait dalam membentuk manusia yang utuh. Dengan demikian, pedagogi Clementus Boehlke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktik Pendidikan Agama Kristen Dari Plato Sampai IG. Loyola, 103. Athanasius of Alexandria. On the Incarnation, dalam Nicene and Post-Nicene Fathers, 65. menawarkan suatu paradigma alternatif yang tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga kritis terhadap kecenderungan reduksionistik dalam pendidikan kontemporer. Krisis Pedagogis PAK Kontemporer: Fragmentasi Pengetahuan dan Disrupsi Digital Pendidikan Agama Kristen (PAK) kontemporer sedang menghadapi sebuah krisis yang tidak sederhana, melainkan bersifat ganda: krisis epistemologis sekaligus krisis praksis. Pada tataran epistemologis, pengetahuan mengalami reduksi makna tidak lagi dipahami sebagai proses pencarian kebenaran yang mendalam, melainkan direduksi menjadi sekadar informasi yang bersifat cepat, dangkal, dan terfragmentasi. Pengetahuan kehilangan dimensi reflektif dan transformatifnya, sehingga tidak lagi membentuk cara berpikir maupun cara hidup peserta didik. Sementara itu, pada tataran praksis, terjadi pemisahan yang semakin nyata antara iman dan kehidupan sehari-hari. Iman cenderung diposisikan sebagai ranah privat dan ritualistik, yang tidak terintegrasi dengan realitas konkret, keputusan moral, maupun dinamika kehidupan sosial. Akibatnya, pendidikan iman gagal menghadirkan relevansi eksistensial bagi peserta didik, karena apa yang diketahui tidak terwujud dalam apa yang dijalani. Krisis ini semakin diperparah dalam konteks era digital, yang menghadirkan perubahan radikal dalam cara manusia belajar, berpikir, dan memaknai realitas. Fragmentasi perhatian . ttention fragmentatio. menjadi fenomena yang dominan, di mana peserta didik terbiasa mengonsumsi informasi secara cepat tanpa kedalaman Budaya instan mendorong preferensi terhadap hasil yang segera, tanpa melalui proses pembentukan yang berkelanjutan. Dominasi media visual menggantikan kedalaman teks dan refleksi, sementara relativisme nilai berkembang seiring dengan terbukanya berbagai perspektif yang tidak selalu disertai dengan kemampuan untuk melakukan penilaian kritis. Dalam situasi ini, peserta didik mengalami apa yang dapat disebut sebagai disorientasi makna. Mereka mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami makna dari apa yang mereka ketahui. Pengetahuan tidak lagi menjadi jalan menuju kebijaksanaan, melainkan berhenti pada akumulasi informasi yang tidak terintegrasi dengan identitas dan tujuan hidup. Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W. Norton, 2. , 115Ae120 James K. Smith. Desiring the Kingdom: Worship. Worldview, and Cultural Formation (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 25Ae40 Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (New York: W. Norton, 2. , 125Ae140. Oleh karena itu, pedagogi PAK kontemporer tidak cukup hanya melakukan penyesuaian metode, tetapi membutuhkan suatu pergeseran paradigma yang lebih Pendidikan harus kembali diarahkan pada integrasi, bukan fragmentasi pada refleksi, bukan sekadar kecepatan. serta pada transformasi, bukan hanya penyampaian Paradigma ini menuntut suatu pendekatan pedagogis yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan makna, iman dengan kehidupan, serta teknologi dengan orientasi spiritual. Dalam konteks inilah, pemikiran Clement of Alexandria menemukan relevansinya yang signifikan. Pendekatan pedagogisnya yang integrative yang memadukan iman, rasio, dan pembentukan karakter menawarkan kerangka alternatif yang tidak hanya kritis terhadap krisis pendidikan kontemporer, tetapi juga konstruktif dalam merumuskan kembali tujuan dan arah pendidikan PAK di era digital. Model Pedagogi Kristosentris-Kontekstual: Rekonstruksi Teoretis dan Implikasi Praktis Berdasarkan rekonstruksi kritis atas pemikiran Clement of Alexandria, penelitian ini merumuskan suatu kerangka konseptual yang disebut sebagai Model Pedagogi Kristosentris-Kontekstual. Model ini tidak sekadar merupakan adaptasi historis, melainkan sebuah upaya rekonstruktif untuk menjawab krisis pedagogis kontemporer melalui integrasi antara fondasi teologis dan tuntutan konteks zaman, khususnya dalam era digital. Pada tataran ontologis, model ini menempatkan Kristus sebagai pusat realitas dan sumber segala kebenaran. Dalam kerangka ini, seluruh proses pendidikan tidak bersifat netral, melainkan berakar pada pengakuan bahwa realitas menemukan maknanya di dalam Kristus. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berurusan dengan Aiapa yang diketahuiAn, tetapi juga dengan Aisiapa sumber kebenaran ituAn. Pada dimensi epistemologis, pengetahuan dipahami bukan sebagai akumulasi informasi yang terpisah-pisah, melainkan sebagai partisipasi dalam Logos ilahi. Perspektif ini secara kritis menolak reduksi pengetahuan menjadi sekadar data atau informasi, dan menegaskan bahwa mengetahui berarti terlibat dalam kebenaran yang Dengan demikian, proses belajar tidak berhenti pada pemahaman kognitif, tetapi mengarah pada pengenalan yang transformatif. Thomas H. Groome. Will There Be Faith? (New York: HarperOne, 2. , 45Ae60. James K. Smith. Desiring the Kingdom (Grand Rapids: Baker Academic, 2. , 25Ae40. Lesslie Newbigin. The Gospel in a Pluralist Society (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 45Ae60 Selanjutnya, pada dimensi pedagogis, pembelajaran dipahami sebagai proses transformasi eksistensial. Pendidikan tidak hanya bertujuan membentuk kemampuan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, orientasi hidup, dan kedewasaan iman peserta didik. Dalam kerangka ini, keberhasilan pendidikan tidak diukur semata-mata dari penguasaan materi, tetapi dari perubahan hidup yang nyata. Dalam konteks era digital, model ini juga mengembangkan dimensi kontekstual yang menempatkan teknologi sebagai ruang formasi iman . igital spiritual formatio. Teknologi tidak dipandang secara dikotomis sebagai ancaman atau sekadar alat, tetapi sebagai medan pedagogis baru yang membentuk cara berpikir, berelasi, dan beriman. Oleh karena itu, pendekatan pedagogis harus mampu mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembentukan iman secara kritis dan reflektif. Implikasi praktis dari model ini bersifat signifikan bagi praksis Pendidikan Agama Kristen. Pertama, peran guru direkonstruksi bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai paedagogus pembimbing yang menuntun peserta didik dalam perjalanan iman dan kehidupan. Kedua, proses pembelajaran diarahkan pada refleksi yang mendalam, bukan sekadar penyampaian materi, sehingga peserta didik mampu mengaitkan pengetahuan dengan makna hidupnya. Ketiga, penggunaan teknologi tidak lagi bersifat instrumental semata, tetapi diintegrasikan secara sadar sebagai ruang formasi iman yang membentuk cara berpikir, berelasi, dan memaknai kebenaran, sehingga menjadi sarana pembentukan spiritual, bukan sekadar konsumsi informasi. Dengan demikian, dalam kerangka pedagogi ini, teknologi tidak diposisikan sebagai ancaman yang harus dihindari, melainkan sebagai medium pedagogis yang perlu ditebus . edeemed technolog. Artinya, teknologi diarahkan kembali pada tujuan ilahinya, yakni sebagai sarana yang menolong manusia bertumbuh dalam kebenaran, kedewasaan iman, dan keutuhan hidup. Secara operasional, model ini dapat dipahami sebagai suatu kerangka pedagogis yang bergerak dari fondasi teologis menuju praksis pembelajaran, yang mencakup: . orientasi Kristosentris sebagai dasar pengetahuan, . proses reflektif sebagai metode pembelajaran, dan . transformasi hidup sebagai tujuan akhir. Dengan demikian, model ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memberikan arah implementatif dalam praksis pendidikan. Colin Gunton. The One, the Three and the Many (Cambridge: Cambridge University Press, 1. , 30Ae45. Thomas H. Groome. Will There Be Faith?, 95Ae110. KESIMPULAN Studi ini menegaskan bahwa krisis pedagogis dalam Pendidikan Agama Kristen (PAK) di era digital bukan sekadar persoalan metodologis, melainkan berakar pada problem yang lebih mendasar, yakni fragmentasi epistemologis dan disintegrasi antara iman, pengetahuan, dan kehidupan. Dalam konteks ini, pendidikan kehilangan orientasi transformasionalnya dan tereduksi menjadi sekadar transmisi informasi yang tidak membentuk makna maupun identitas peserta didik. Melalui rekonstruksi pemikiran Clement of Alexandria, studi ini menunjukkan bahwa pedagogi Kristen pada dasarnya bersifat integratif, dengan menempatkan Kristus sebagai Logos sekaligus Paedagogus yang membimbing manusia menuju kepenuhan Pendidikan, dalam kerangka ini, tidak hanya dipahami sebagai proses kognitif, tetapi sebagai perjalanan eksistensial yang mencakup konversi, pembentukan moral, dan pendalaman spiritual. Dengan demikian, tujuan pendidikan tidak berhenti pada AimengetahuiAn, tetapi bergerak menuju AimenjadiAn, yakni transformasi manusia menuju keserupaan dengan Allah. Berdasarkan kerangka tersebut, penelitian ini merumuskan Model Pedagogi Kristosentris-Kontekstual sebagai kontribusi teoretis yang mengintegrasikan dimensi ontologis, epistemologis, pedagogis, dan kontekstual. Model ini menegaskan bahwa pengetahuan adalah partisipasi dalam kebenaran ilahi, pembelajaran adalah proses transformasi eksistensial, dan teknologi merupakan ruang baru bagi formasi iman yang perlu dimaknai secara teologis. Implikasinya. PAK di era digital dituntut untuk melampaui pendekatan instruksional yang reduksionistik menuju pedagogi yang reflektif, inkarnasional, dan Guru tidak lagi dipahami sekadar sebagai penyampai materi, tetapi sebagai paedagogus yang membimbing pertumbuhan iman. pembelajaran tidak lagi berpusat pada informasi, tetapi pada pembentukan makna. dan teknologi tidak lagi diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai medium pedagogis yang harus ditebus dan diarahkan bagi pertumbuhan spiritual. Dengan demikian, studi ini tidak hanya menawarkan pembacaan ulang terhadap pemikiran Clementus, tetapi juga menghadirkan model pedagogi yang secara konseptual integratif dan secara praktis aplikatif dalam menjawab tantangan Pendidikan Agama Kristen di era digital. DAFTAR PUSAKA AiAiAi. AiCatholic Education: From and for Faith. An Journal of Catholic Education 17, no. : 1Ae15. https://doi. org/10. 15365/joce. Clement of Alexandria. Protrepticus. Paedagogus, and Stromata. Dalam The Ante-Nicene Fathers. Vol. 2, diedit oleh Alexander Roberts dan James Donaldson. Peabody. MA: Hendrickson, 1994. Craig Dykstra. Growing in the Life of Faith: Education and Christian Practices. Louisville: Westminster John Knox Press, 2005. George R. Knight. Philosophy & Education: An Introduction in Christian Perspective. 4th ed. Berrien Springs. MI: Andrews University Press, 2006. Herman Sihotang, dan Haposan Sitompul. AiPendidikan Agama Kristen dalam Perspektif Pedagogi dan Spiritualitas. An Didaktika: Jurnal Kependidikan 9, no. : 120Ae135. https://internationalleiden. com/didaktika-pedagogia/article/download/876/674. Richard Niebuhr. Christ and Culture. New York: Harper & Row, 1951. James K. Smith. Desiring the Kingdom: Worship. Worldview, and Cultural Formation. Grand Rapids: Baker Academic, 2009. Justo L. Gonzylez. The Story of Christianity: Volume 1. New York: HarperOne, 2010. Robert R. Boehlke. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktik Pendidikan Agama Kristen dari Plato sampai IG. Loyola. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006. Thomas H. Groome. Will There Be Faith? A New Vision for Educating and Growing Disciples. New York: HarperOne, 2011. Tony Lane. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007. Nicholas Carr. The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. New York: W. Norton, 2010. Wellem. Riwayat Hidup Singkat: Tokoh-Tokoh dalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.