Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Dengan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri Di Sman 5 Cimahi Gianti Asni Fauziyah1*. Riana Pascawati2. Wiwin Widayani3 1,2,3 Poltekkes Kemenkes Bandung *Email korespondensi: giantiasni@gmail. Info Artikel Dikirim: 30 August 2024 Diterima: 16 September 2024 Diterbitkan: September 2024 Kata Kunci: Anemia. Kadar Hemoglobin. Remaja Putri. Pengetahuan Keywords: Anaemia. Hemoglobin Level. Young Women. Knowledge Abstrak Anemia merupakan salah satu isu kesehatan global yang masih tinggi angka tiga sampai empat dari sepuluh remaja di Indonesia mengalami anemia. Ketidaktahuan remaja tentang risiko bahaya anemia mengakibatkan kurangnya upaya untuk menghindari kebiasaan perilaku yang dapat menyebabkan anemia. Dampak jangka panjang anemia pada remaja putri yaitu memperbesar resiko kematian ibu dan bayi, lahir prematur, dan berat badan bayi lahir rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang anemia, kadar hemoglobin dan hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan status anemia Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Pengambilan sampel dengan menggunakan random sampling dengan jumlah 81 responden. Tempat penelitian dilakukan di SMAN 5 Cimahi. Hasil rata Ae rata tingkat pengetahuan remaja tentang anemia dengan hasil yang baik sebanyak 45 orang . 5%), pengetahuan cukup 25 . 9%) dan yang paling sedikit yaitu tingkat pengetahuan yang kurang yaitu 11 orang . 6%). Disamping itu diperoleh hasil bahwa sebanyak 65 orang . 2%) remaja putri memiliki nilai kadar hemoglobin tidak anemia, dan sebanyak 16 orang . 8%) remaja putri mengalami anemia. terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan kadar hemoglobin remaja putri dengan hasil p-value sebesar 0,03 (< 0,. Diharapkan kepada remaja putri untuk selalu mencari informasi terbaru terkait permasalahan kesehatan seperti anemia. Abstract Anaemia is a global health issue that still has a high incidence. Three to four out of ten adolescents in Indonesia experience anaemia. Ignorance of adolescents about the dangers of anaemia results in a lack of effort to avoid behaviour habits that can cause anaemia. The long-term impact of anaemia on young women is to increase the risk of maternal and infant mortality, premature birth, and low birth weight babies. This study aims to determine the level of knowledge about anaemia and haemoglobin levels and the relationship between the level of expertise about anaemia and anaemia status. This research is quantitative research with a cross-sectional research design. Sampling using random sampling with a total of 81 respondents. The place of research was conducted at SMAN 5 Cimahi. Results - the average level of knowledge of adolescents about anaemia with good results is as many as 45 people . 5%), sufficient knowledge of 25 . 9%) and the slightest knowledge is the level of expertise that is lacking, namely 11 people . 6%). In addition, the results showed that 65 girls . 2%) had non-anaemic haemoglobin levels, and 16 girls . 8%) had anaemia. There is a relationship between the level of knowledge and the haemoglobin level of female adolescents with a pvalue of 0. 03 (<0. Young women should always seek the latest information regarding health problems such as anaemia. PENDAHULUAN Di negara berkembang seperti Indonesia. Anemia merupakan salah satu isu kesehatan global yang masih tinggi angka Menurut Kemenkes RI pada tahun 2018 sebanyak 32% remaja di Indonesia mengalami anemia dimana berarti 3 sampai 4 dari 10 remaja di Indonesia mengalami anemia(Elmardi et al. , 2. Dimana angka tersebut terus mengalami kenaikan dibanding tahun 2013 sebesar 18,40%, dan tahun 2007 sebesar 6,90%. Dilihat dari jenis kelamin,pada tahun 2018 prevalensi anemia pada perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki . ,2% vs 20,3%)(Kementerian Kesehatan RI, 2. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Prevalensi anemia pada remaja putri SMP dan SMA di Cimahi tahun 2016 berdasarkan data dari Dinas Kesehatan sebesar 70% (Kementerian Kesehatan RI. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan pada remaja putri SMAN 5 Cimahi terdapat 6 dari 10 remaja yang mengalami anemia. Remaja merupakan fase dimana terjadinya perkembangan pada tubuh yang dimana diperlukannya zat gizi yang cukup salah satunya zat besi selama masa pertumbuhan dimana zat besi ini digunakan untuk mengangkut oksigen oleh darah ke seluruh tubuh (Mardalena, 2. Jika zat besi tersebut tidak tercukupi maka bisa mengakibatkan terhambatnya perkembangan motorik dan kecerdasan, menurunnya konsentrasi belajar dan menurnnya kebugaran fisik seorang remaja (Yunita et al. , 2. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan atau penghambatan baik sel-sel tubuh maupun sel-sel otak. Kekurangan Hb dalam darah dapat menyebabkan kelesuan, lemas, letih, lesu dan mudah lupa. Kekurangan gizi pada remaja pengetahuan remaja tentang makanan sumber zat besi dan peran zat besi pada remaja (Yunita et al. , 2. Pengetahuan tentang anemia yang kurang baik dapat menyebabkan remaja tidak bisa mengontrol asupan kebutuhan gizi untuk Pengetahuan yang kurang disebabkan karena remaja tidak memahami atau hanya menerima informasi yang tidak menyeluruh (Mularsih, 2. Dengan ketidaktahuan remaja tentang resiko bahaya yang akan terjadi jika mereka mengalami anemia membuat mereka kurang berusaha untuk menghindari kebiasaan atau mencegah perilaku yang dapat menyebabkan anemia Kurangnya pengetahuan remaja tentang anemia menyebabkan remaja sangat rentan terhadap perilaku makan yang negatif (Friska Armynia Subratha, 2. Seperti diet yang terlalu ketat, pola makan yang tidak teratur, dan sering makan makanan cepat (Martini, 2. Tingkat pengetahuan pada remaja akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam memilih makanan disekolah maupun dirumah yang menentukan mudah tidaknya seseorang memahami manfaat tablet Fe. Suplementasi besi atau pemberian tablet Fe merupakan salah satu upaya penting dalam mencegah dan menanggulagi anemia. Pengetahuan tentang manfaat tablet Fe yang baik dapat mempengaruhi konsumsi makanan yang baik sehingga mencapai status gizi yang (Martini, 2. Hal ini juga didukung oleh penelitian Fajirian . remaja putri yang memiliki pengetahuan yang baik akan lebih awas dalam mencegah terjadinya anemia dibandingkan remaja putri yang memiliki pengetahuan buruk Risiko anemia pada remaja akan mengarah nanti pada masalah terjadinya stunting baru . ew stuntin. setelah menikah. Stunting disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah status anemia ibu saat Masa kehamilan merupakan periode yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan, karena tumbuh kembang anak sangat ditentukan oleh kondisinya saat masa janin dalam Akan tetapi perlu diingat bahwa keadaan kesehatan dan status gizi ibu hamil ditentukan juga jauh sebelumnya, yaitu pada saat remaja atau usia sekolah(Branca. Piwoz. Schultink. & Sullivan, 2. Salah satu upaya untuk menanggulangi kejadian anemia pada remaja dalam pelaksanaannya memerlukan bantuan dan peran aktif dari berbagai pihak, seperti bidan, guru juga sosialisasi dari petugas kesehatan. Bidan dalam menjalankan profesinya mempunyai peran dan fungsi yaitu pelaksana. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 pengelola, pendidik dan peneliti. Bidan harus memberikan fasilitas, supervisi, asuhan dan memberikan nasihat yang dibutuhkan dan penyuluhan untuk remaja. Sebagai seorang bidan harus memberikan informasi secara jelas kepada remaja. Dalam hasil observasi pada remaja putri, mereka terkadang sungkan untuk melakukan pemeriksaan atau bertanya langsung pada bidan. Oleh karena itu peran bidan sangat penting dalam hal asuhan dan harus bisa mengayomi/mendekatkan diri pada remaja putri supaya kesehatan reproduksi remaja terutama penanganan anemia pada remaja putri dapat teatasi. Remaja putri adalah calon ibu yang harus sehat agar melahirkan bayi sehat sehingga akan tumbuh dan berkembang menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas (Nisa et al. , 2. METODE Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara pengetahuan dan kadar hemoglobin. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja putri di SMAN 5 CIMAHI. Pengambilan sampel dengan menggunakan simpel random sampling pengambilan sampel dimana tiap anggota populasi diberikan opportunity . yang sama untuk terpilih menjadi sampel (Arieska and Herdiani, 2. Dengan menggunakan Rumus besar sampel Lemeshow di dapatkan hasil 81 orang siswi remaja putri yang menjadi sampel penelitian. Peneliti sudah mendapatkan kode etik dengan No. 61/KEPK/EC/II/2023 untuk dapat melaksanakan penelitian ini. Instrumen yang pengetahuan tentang anemia. Instrumen diambil dari penelitian sebelumnya yaitu AuEfek Penyuluhan Gizi Dengan Media Leaflet Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Pada Remaja Putri Di Smp Kristen 1 SurakartaAy oleh Indah Asyri Rokhmawati. Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini meliputi data primer dan data Data primer berupa Data identitas sampel data identitas sampel meliputi : nama, umur, kelas,dan menarche data diperoleh dari hasil wawancara, juga Data kadar Hb diperoleh dengan menggunakan alat digital Easy touch, pengambilan darah dilakukan dengan penelitian kadar Hb oleh peneliti. Sedangkan data sekunder yaitu data nama siswa-siswi SMAN 5 Cimahi yang di dapatkan dari pihak sekolah. Pada penelitian ini analisis univariate variabel yang digunakan adalah pengetahuan dan kadar hemoglobin. Dan analisis bivariate variabel terikat penelitian ini adalah kadar hemoglobin berupa status anemia pada remaja putri sedangkan variabel bebas yaitu kategori tingkat pengetahuan tentang anemia pada remaja putri. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1 menunjukan rata-rata usia responden yaitu 16 tahun dan rata-rata usia pertama kali menstruasi yaitu 12 tahun. Usia menarche dikelompokan dari usia 9-10 tahun sebanyak 11 responden . ,6%), usia 11-12 sebanyak 39 responden . ,1%) dan usia 1314 tahun sebanyak 31 responden . ,3%). Responden berusia 15- 18 tahun dimana usia 15 tahun sebanyak 12 responden . ,8%), usia 16 tahun sebanyak 29 responden . ,8%), usia 17 tahun sebanyak 36 reponden . ,4%) dan usia 18 tahun sebanyak 4 responden . ,9%). Dan rata-rata usia responden yaitu 16 tahun. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Tabel 1. Karakteristik Responden Remaja Putri Di SMAN 5 Cimahi No Variable Usia 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun Median Rata-rata 0,0801 Menarche 9-10 tahun Median Rata-rata Menstruasi . Tidak . Berdasarkan tabel diatas didapatkan data hasil karakteristik responden saat pengambilan data responden terdapat remaja yang menstruasi sebanyak 17 orang . dan yang sedang tidak menstruasi sebanyak 64 orang . 1%). Tingkat Pengetahuan dan Kadar HB Remaja Putri di SMAN 5 Cimahi Tabel 2. Distribusi Pengetahuan dan Kadar HB Responden Variable Pengetahuan Baik Cukup Kurang Rata-rata Median 3,06 Kadar HB Tidak Anemia Anemia Rata-rata 12,41 Median 2,26 Tabel tersebut menunjukan rata Ae rata tingkat pengetahuan remaja tentang anemia dengan hasil yang baik sebanyak 45 orang atau 5%, pengetahuan cukup 25 orng 9% dan yang paling sedikit yaitu tingkat pengetahuan yang kurang yaitu 11 orang sebesar 13. Pada tabel diperoleh hasil bahwa sebanyak 65 orang . remaja putri memiliki nilai kadar hemoglobin yang bagus/tidak anemia, dan sebanyak 16 orang . 8%) remaja putri mengalami Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Anemia dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri di SMAN 5 Cimahi Tabel 3. Hubungan Pengetahuan dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri di SMAN Negeri 5 Cimahi Anemia Total Nilai p Pengetahuan Tidak anemia Anemia Baik Cukup Kurang Total Remaja dengan rentang usia 15-18 tahun termasuk ke dalam masa remaja iddle adolescen. dimana masa pertumbuhan remaja membutuhkan energi, protein dan zat-zat gizi lainnya yang lebih banyak dibanding dengan kelompok lain Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 (Patimah S. Royani I and AR, 2. Pertumbuhan yang cepat dengan peningkatan dalam massa tubuh tanpa lemak, volume darah, dan massa eritrosit . el darah mera. yang meningkatkan kebutuhan zat besi untuk mioglobin pada otot dan hemoglobin dalam darah (Ersila and Prafitri, 2. Kebutuhan zat besi pada remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki, karena dibutuhkan untuk mengganti zat besi yang hilang pada saat menstruasi. Hal tersebut menyebabkan remaja putri beresiko lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan remaja putra (Madolan, 2. Dari hasil Riskesdas pada tahun 2018, tercatat sebesar 32% remaja usia 15-24 tahun menderita anemia (Elmardi et al. Hasil analisis data rata-rata usia responden yaitu 16 tahun dan rata-rata usia pertama kali menstruasi yaitu 12 tahun. Pada penelitian Priharyanti disebutkan usia menarche dapat dikatakan normal apabila terjadi pada usia 12-14 tahun (Wulandari et , 2. Menstruasi pertama menunjukkan bahwa dirinya telah memproduksi sel telur yang tidak dibuahi, sehingga akan keluar bersama darah menstruasi melalui vagina. Pada remaja putri mulai terjadi menarche . wal menstruas. yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe, oleh sebab itu jika konsumsi makanan khususnya Fe kurang, maka akan terjadi Anemia (Sumini, 2. Hasil pengambilan data sebagian besar remaja putri di sman 5 cimahi saat dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin tidak Saat remaja putri tidak menstruasi berarti tubuh remaja putri tersebut tidak mengakibatkan dirinya mengalami anemia atau kehilangan hemoglobin. Hal tersebut didukung oleh penelitian Heny 2018 dimana kadar hemoglobin saat tidak menstruasi ini merupakan kadar hemoglobin dalam keadaan normal tanpa adanya pengeluaran darah (Sepduwiana. S et al. , 2. Pada penelitian Fitriana 2017 salah satu faktor penyebab anemia pada remaja putri adalah rendahnya kadar hemoglobin dalam darah saat menstruasi, kehilangan darah pada saat menstruasi berarti mengeluarkan zat besi yang ada dalam darah (Fitriana, 2. Semakin lama wanita mengalami menstruasi maka semakin banyak pula darah yang keluar dan semakin banyak kehilangan timbunan zat Kehilangan Zat besi pada remaja putri yang mengalami menstruasi rata- rata sebesar 20 mg bahkan dapat mencapai 58 mg setiap bulannya (Rahmawati. K, 2. Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Anemia Berdasarkan tabel hasil penelitian hasil rata-rata pengetahuan remaja tentang anemia dalam kategori baik dengan nilai >80 . Pengetahuan remaja akan sangat di pengaruhi oleh media informasi, pengaruh teman dan tempat tinggal (Thaha and Yani, 2. Pada era digital saat ini kemudahan dalam mengakses media informasi dan banyaknya informasi yang tersedia baik media informasi cetak, eletronik dan online akan sangat berpengaruh pada remaja (Depkes, 2. Banyak influencer tenaga kesehatan . okter, perawat, bidan, dl. di sosial media seperti Instagram, tiktok ataupun twitter yang mengedukasi menjelaskan tentang anemia. Penelitian Amelia, . juga menjelaskan bahwa Jenis media massa yang paling banyak remaja dapatkan informasi tentang kesehatan remaja adalah internet yaitu sebanyak 52,4 televisi sebanyak 23,8 %, kemudian Koran/majalah 14,3%, dan radio sebanyak 9,5% (Amelia, 2. Hal tersebut memudahkan remaja mendapatkan edukasi mengenai anemia. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pada penelitian Wisdyana dan Tri 2015 didapatkan bahwa remaja sekolah SMA di Cimahi memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang masalah kesehatan reproduksi dimana anemia termasuk kedalam masalah kesehatan reproduksi (Wisdyana and Setiowati, 2. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Laksmita and Yenie, 2. Pengetahuan tentang anemia merupakan suatu proses kognitif karena seseorang tidak hanya dituntut untuk sekedar tahu akan tetapi diperlukan pemahaman dan mengerti kondisi atau keadaan yang berkaitan dengan anemia, misalnya pemahaman bahwa anemia adalah kondisi kekurangan sel darah merah, mengerti tentang tanda dan gejala serta faktor yang dapat menyebabkan terjadinya anemia sehingga apa yang telah dipahami dapat menjadi kebiasaan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai suatu proses kognitif, pengetahuan juga merupakan suatu faktor protektif yang berarti suatu tindakan proteksi berupa perilaku pencegahan anemia sehingga dapat menurunkan kejadian anemia tersebut (Ahdiah et al. , 2. Hal ini juga didukung oleh penelitian Ahmady yang menyatakan bahwa pengetahuan bukan terbatas pada teori ilmu saja melainkan dari perilaku masingmasing individu dalam menyikapi pencegahan suatu penyakit tersebut (Ahmady S, 2. Teori ini dikuatkan oleh pendapat Dewi dan Wawan yang menyatakan bahwa suatu pengetahuan dapat mempengaruhi perilaku Perilaku dapat diartikan sebagai kegiatan atau aktivitas seseorang baik yang dapat kita amati langsung maupun tidak dapat diamati langsung oleh orang lain selain Sebelum mengadopsi suatu perilaku yang baru, dalam diri seseorang tersebut akan terjadi proses yang berurutan yaitu awereness . dalam arti mengetahui stimulus . yang ditiru, kemudian interest . erasa tertarik dan mulai menaruh perhatian terhadap suatu stimulu. , melakukan . empertimbangkan buruknya tindakan tersebut bagi diriny. , dilanjutkan dengan proses trial . ulai mencoba membiasakan perilaku bar. dan berakhir dengan adaption . elah meniru perilaku baru tersebut sesuai dengan kesadaran, pengetahuan, dan sikapnya terhadap stimulu. Akan tetapi, setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda. Tidak semua orang yang berpengetahuan baik mengamalkan pengetahuannya sehingga dalam hal ini responden dengan pengetahuan yang baik masih ada yang anemia meskipun persentasinya hanya sedikit (Wawan A, 2. Kadar Hemoglobin Remaja Putri Hasil penelitian yang dilakukan pemeriksaan kadar hb pada remaja putri di SMAN 5 cimahi terdapat remaja yang masuk kategori tidak anemia yaitu sebanyak 65 orang . 2%) dan yang anemia sebanyak 16 orang . 8%). Menurut WHO, kadar hemoglobin normal untuk wanita dengan usia diatas 15 tahun yakni >12,0 g/dl (>7,5 mmo. (World Health Organization (WHO), 2. Salah satu faktor untuk mengurangi angka kejadian anemia pada remaja diantaranya edukasi terkait anemia, kerjasama puskesmas dengan sekolah setempat untuk melakukan program pemberian tablet tambah darah, dan edukasi terkait kebutuhan nutrisi. Salah satu program kegiatan yang mendukung remaja putri di SMAN 5 Cimahi tidak mengelami anemia yaitu bekerjasama dengan puskesmas cimahi tengah dalam program pemerintah yaitu pemberian edukasi tentang kesehatan remaja dan pemberian tablet tambah darah. Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya penanggulangan anemia remaja melalui strategi antara lain suplementasi besi, pendidikan gizi dan fortifikasi pangan. Program suplementasi yang dilakukan Pencegahan Penanggulangan Anemia Gizi Besi (PPAGB) dengan sasaran kelompok anak sekolah Program bagi remaja putrid dilakukan melalui promosi dan kempanye melalui sekolah secara mandiri dengan cara suplementasi zat besi dosis 1 tablet seminggu sekali minimal selama 16 minggu, dan dianjurkan minum 1 tablet setiap hari selama masa haid (Kemenkes RI, 2. Rekomendasi pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja putri yaitu pada usia 12-18 tahun dengan mengkonsumsi tablet zat besi 60 mg/hari dengan lama pemberian anjuran 2x/minggu selama 3 bulan berturut-turut setiap tahun. Upaya pemberian tablet zat besi (F. ke sekolah/madrasah untuk remaja putri ini dilakukan untuk meminimalisiasi perempuan usia muda mengalami anemia. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Tentang Anemia Dengan Kadar Hemoglobin Berdasarkan hasil analisis data dengan uji chi square didapatkan nilai significancy 03 berdasarkan nilai tersebut karena nilai p <0. 05 dapat diambil kesimpulan bahwa AuTingkat Pengetahuan Berhubungan Dengan Kadar Hemoglobin Remaja PutriAy Pengetahuan berpengaruh terhadap cara seseorang bersikap dan Pengetahuan tentang anemia gambaran kepahaman siswi akan anemia, faktor resiko atau penyebab terjadinya anemia, proses terjadinya, tanda gejala dari anemia dan penanggulangan serta pengobatan anemia (Ngatu ER. Rochmawati L, 2. Sejalan dengan. Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al. Menyatakan bahwa terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Remaja putri yang memiliki pengetahuan yang baik tentang anemia akan cenderung untuk mencukupi konsumsi pangannya guna mencukupi kebutuhan gizi agar terhindar dari masalah anemia (Rahayu A. Yulidasari F. Setiawan MI. Hal ini juga didukung oleh penelitian Fajirian . terdapat hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian anemia pada remaja putri. Remaja putri yang memiliki pengetahuan yang baik akan lebih awas dalam mencegah terjadinya anemia dibandingkan remaja putri yang memiliki pengetahuan buruk (Kusnadi, 2. Penelitian membuktikan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan status anemia pada remaja putri. Pengetahuan oleh tingkat informasi dari media massa, sosial budaya. Keluarga, lingkungan pergaulan dan usia. Latar belakang pendidikan seseorang akan informasi, seseorang yang memiliki tingkat pendidikan tinggi memiliki pengetahuan yang lebih baik. Pengetahuan tanpa pendidikan yang baik akan memungkinkan seseorang untuk melakukan keputusan yang tidak menguntungkan (Yunitasari E. Rachmawati PD, 2. Pengetahuan tentang anemia juga berpengaruh terhadap pemenuhan zat gizi pada remaja putri guna untuk mencegah terjadinya anemia. Penelitian tersebut dilakukan oleh Ngatu dan Rochmawati . yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan anatara tingkat pengetahuan Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 kebutuhan zat gizi pada siswi di SMKN 4 Yogyakarta. Pengetahuan seseorang tersebut akan berpengaruh terhadap cara seseorang tersebut bersikap dan berperilaku seperti cara dalam pemenuhan zat gizi (Ngatu ER. Rochmawati L, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dari penelitian yang berjudul AuHubungan Tingkat Pengetahuan tentang Anemia dengan Kadar Hemoglobin Remaja Putri di SMAN 5 CimahiAy adalah Terdapat hubungan tingkat pengetahuan remaja putri tentang anemia dengan kadar hemoglobin dengan p value 0. Saran bagi siswa diharapkan siswa meningkatkan pengetahuan tentang anemia supaya dapat mencegah kejadian anemia dan menurunkan kasus anemia pada remaja. Saran bagi Pendidikan Diharapkan sekolah menjadi media perantara yang memberikan informasi terkait pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja khususnya anemia. Dan saran bagi peneliti selanjutnya Diharapkan penelitian ini dapat menjadi informasi dan dijadikan sebagai salah satu acuan dalam penelitian serta dapat dikembangkan secara lebih luas, sehingga informasi ini dapat diterima secara nasional oleh Masyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH