https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X Volume 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Page 70-76 Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis di Dusun Sodong Desa Gelangkulon Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Oleh: Fitria Johanitasari Agus Subandi Ngadat Jurusan Kepanditaan. Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya Wonogiri Jawa Tengah jhsrfitria@gmail. com, uppalasubandi@gmail. wonogiri@gmail Proses Review 1-27 September, dinyatakan lolos 28 September Abstract This research aims to determine the role of parents in shaping the religious behavior of adolescents in Buddhist families. Parents have a role in educating and shaping adolescent religious behavior, so that youth have good behavior based on Buddhist values. This research is qualitative research using a case study approach. Data validity using data triangulation. The results of the research are that parents in shaping teenagersAo religious behavior have a role as educators, namely instilling and implementing the Buddhist values AUAUof Pancasila, reminding Buddhist teenagers to attend Sunday school and training teenagers to be active in religious activities. Apart from that, parents act as supervisors, namely parents who monitor every behavior and social environment of teenagers, such as prohibiting teenagers from hanging out with friends who have bad habits, such as drinking intoxicants, brawling and consuming illegal drugs. Keywords: The role of parents. Religious behavior. Buddhist youth Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada keluarga Buddhis. Orang tua memiliki peranan dalam mendidik dan membentuk perilaku keagamaan remaja, sehingga remaja memiliki perilaku yang baik yang didasari oleh niali-nilai ajaran Buddha. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 pendekatan studi kasus. Keabsahan data menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian yaitu orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja memiliki peran sebagai pendidik, yaitu menanamkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila Buddhis, mengingatkan remaja Buddhis untuk ikut sekolah Minggu dan menganjurkan remaja untuk aktif dalam kegiatan keagamaan. Selain itu, orang tua berperan sebagai pengawas, yaitu orang tua mengawasi setiap perilaku dan lingkungan pergaulan remaja seperti melarang remaja untuk berkumpul dengan teman yang memiliki tabiat buruk seperti minum-minuman memabukkan, tawuran serta mengkonsumsi obat terlarang. Kata kunci: Peran orang tua. Perilaku keagamaan, remaja Buddhis PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan globalisasi yang semakin meluas dapat membawa berbagai dampak, baik secara negatif maupun positif. Dampak dari adanya globalisasi dapat meliputi berbagai bidang yakni bidang politik, pendidikan, sosial dan budaya. Efek dari adanya kemajuan zaman dan teknologi dapat memberikan dampak yang kurang baik khususnya bagi anak di usia remaja, yang dinilai masih beresiko terpengaruh oleh lingkungan dan memicu terjadinya perubahan sikap sosial budaya seseorang ke arah yang negative (Husaini, 2. Dalam hal ini, orang tua tentunya memiliki peranan dalam mempersiapkan anaknya untuk memasuki tingkatan usia remaja, terlebih lagi dalam menyikapi perkembangan zaman dan teknologi dengan cara memberikan bimbingan dan bekal ilmu pengetahuan yang cukup dalam menghadapi kemajuan zaman dan teknologi (Rumaharbo, 2. Selain bekal ilmu pengetahuan, seorang anak yang menginjak usia remaja juga perlu diberikan pendidikan agama, hal tersebut dikarenakan dengan adanya pendidikan agama diharapkan anak dapat memiliki nilai moral yang baik serta tidak terpengaruh dari dampak buruk yang ditimbulkan dari adanya globalisasi (Latifah, 2. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak-anak mulai menerima pendidikan (Santi & Sani, 2. Orang tua sebagai peran utama dan pertama dalam keluarga, dikatakan sebagai pendidik pertama karena di dalam keluarga anak mendapatkan bimbingan dan kasih sayang untuk pertama kalinya. Orang tua menjadi sosok pertama yang membimbing, mengasuh, membesarkan dan mendidik, sehingga memiliki pengaruh yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Selain itu, orang tua juga harus bertanggung jawab secara kodrat baik dilihat dari segi sosiologis, pedagogis dan psikologis. Orang tua juga harus menjadi panutan bagi anak-anaknya, karena orang tua merupakan contoh ideal dalam pandangan anaknya yang dimana tingkah laku, sopan dan santunnya akan ditiru. Sehingga di dalam keluarga, orang tua selayaknya memberikan teladan tingkah laku serta perilaku yang sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Remaja diartikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan menuju masa dewasa yang dituntut memiliki kemandirian (Ramdhan, 2. Serta pada tahap ini terjadi berbagai perkembangan baik fisik, psikis maupun sosial. Remaja merupakan masa transisi perkembangan dari usia anak-anak menuju usia dewasa yang umumnya dimulai dari usia 12-13 tahun serta akan berakhir pada usia belasan tahun atau awal dua puluh tahun (Putro, 2. Masa remaja dinilai sebagai masa seseorang dalam mencari jati diri, pada masa ini seseorang akan mencoba berbagai hal baru. Sehingga pada masa remaja, dinilai sebagai masa dimana seseorang dapat beresiko memperoleh pengaruh yang kurang baik dari lingkungannya apabila tidak mendapatkan bekal ilmu pengetahuan dan agama dari orang Hal ini dikarenakan anak remaja masih memiliki perilaku yang labil serta belum menemukan jati diri yang sebenarnya (Siahaan & Rantung, 2. Orang tua merupakan guru pertama dan utama sehingga orang tua dituntut untuk mampu mendidik serta meningkatkan perkembangan dan pengetahuan anak (Zakari- Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis di Dusun Sodong Desa Gelangkulon Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Fitria Johanitasari | Agus Subandi | Ngadat Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 yah & Hamid, 2. Dalam Kitab Suci Sutta Pitaka bagian Digha Nikaya. Sigalovadda Sutta Sang Buddha menjelaskan tentang 5 kewajiban orang tua terhadap anaknya: . Mencegah anaknnya berbuat jahat, . Senantiasa menganjurkan anaknya untuk berbuat baik, . Melatih anaknya untuk bekerja mandiri, . Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anaknya, . Menyerahkan warisan kepada anaknya diwaktu yang tepat (Walshe, 2. Lima kewajiban orang tua terhadap anak di atas lebih menitik beratkan kepada memberikan pendidikan yang layak kepada anak. Orang tua dapat memberikan pendidikan keagamaan dalam lingkungan keluarga, dengan menanamkan nilai-nilai sila dan moralitas, sebagai wujud nyata membentuk karakter yang baik dan sesuai tujuan keluarga (Sadtyadi. Salah satu bimbingan keagamaan yang patut diajarkan oleh orang tua adalah menanamkan dan mengamalkan Pancasila Buddhis . menghindari pembunuhan makhluk hidup, . menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan, . menghindari perbuatan asusila, . menghindari ucapan yang tidak benar, . menghindari minuman memabukkan. Sehingga diharapkan kelak anak memiliki tingkah laku yang sesuai dengan Pancasila Buddhis. Akan tetapi, tidak sedikit remaja masa kini yang melanggar Pancasila Buddhis dikarenakan pengaruh kemajuan teknologi, perkembangan zaman dan kurangnya dampingan dari orang Hal ini ditandai dengan perilaku remaja buddhis yang sering minum-minuman memabukkan. Selain itu, terdapat beberapa remaja yang malas pergi ke vihara karena lebih senang menghabiskan waktunya untuk bermain game online dengan teman-temannya. Hal ini berpengaruh terhadap perilaku keagamaan remaja yang tidak sesuai dengan ajaran Buddha Dhamma dan Pancasila Buddhis. Perhatian orang tua merupakan faktor yang dapat mempengaruhi perilaku keagamaan Akan tetapi terdapat faktor lain yang dapat mempengarhi perilaku keagamaan remaja, faktor lain tersebut adalah lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah. Dikarenakan masa remaja merupakan masa perkembangan, sehingga orang tua hendaknya memberikan pengawasan yang lebih mengenai lingkungan ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X pergaulan remaja, dikarenakan pengaruh negatif dari pergaulan remaja juga dapat menghambat perilaku keagamaan. Lingkungan dapat mempengaruhi perilaku seseorang, apabila bergaul dengan orang yang benar akan menjadi orang benar dan sebaliknya. Seperti yang tertera pada syair Dhammapadda. VI. 78 yaitu: AuNa bhaje pypake mitte na bhaje purisydhame bhajetha mitte kalyyne bhajetha purisuttameAy Yang artinya: AuJangan bergaul dengan kawan yang jahat, atau orang yang tercela Bergaulah dengan kawan yang baik dan orang mulia. Ay (Dhammadhiro, 2. Perilaku keagamaan merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam melakukan respon terhadap sesuatu yang kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini. Perilaku keagamaan merupakan suatu pola keyakinan yang ditunjukan seseorang pada kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmani, rohani, sosial serta emosional (Sukardi, 2. Sehingga perilaku keagamaan dapat diartikan sebagai tingkah laku seseorang yang didasari nilai-nilai moral yang sesuai dengan ajaran agama. Upaya yang dapat dilakukan dalam membentuk perilaku keagamaan remaja adalah orang tua dapat membimbing anak dan memberikan contoh yang benar dalam bertindak yang didasari oleh ajaran agama. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus (Sugiyono, 2. Penelitian studi kasus merupakan penelitian yang memungkinkan peneliti untuk mempertahankan karakteristik holistik dan bermakna dari berbagai fenomena kehidupan yang terjadi pada masyarakat (Yin, 2. Penelitian ini dilakukan di Dusun Sodong. Desa Gelang Kulon. Kecamatan Sampung. Kabupaten Ponorogo. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah masyarakat yang beragama Buddha di Dusun Sodong terutama Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis di Dusun Sodong Desa Gelangkulon Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Fitria Johanitasari | Agus Subandi | Ngadat ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X orang tua dengan menggunakan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian, keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan teknik analisis data yaitu menggunakan reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis Peran orang tua pada remaja sangat penting diberikan sejak dini dalam keluarga, hal tersebut dikarenakan orang tua merupakan peran utama yang dapat memberikan pengaruh besar dalam masa tumbuh kembang anak khususnya pada masa remaja. Sebagai orang tua tentunya menginginkan anaknya kelak memiliki perilaku moralitas yang baik, sehingga orang tua memiliki cara yang berbeda-beda dalam membina dan mendidik anak supaya memiliki moralitas yang baik sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan masing-masing orang tua (Pujiyanto, 2. Sesuai yang terdapat pada Kitab Suci Sutta Pitaka bagian Digha Nikaya. Sigalovadda Sutta menjelaskan mengenai kewajiban orang tua kepada seorang anak. Sang Buddha menerangkan dalam Sigalovada Sutta tentang kewajiban orang tua terhadap anaknya. Terdapat 5 cara orang tua menunjukkan rasa cinta terhadap anaknya yakni : . Mencegah anaknnya berbuat jahat, . Senantiasa menganjurkan anaknya untuk berbuat baik, . Melatih anaknya untuk bekerja mandiri, . Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anaknya, . Menyerahkan warisan kepada anaknya diwaktu yang tepat (Walshe, 2. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwasannya peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja sudah dilaksanakan dengan baik, yakni dengan dengan memberikan pendidikan serta pengawasan. Orang tua diharapkan mampu mendidik remaja, dikarenakan remaja menghabiskan waktu lebih banyak bersma dengan orang tua disbanding dengan guru di sekolah. Sedangkan sebagai pengawas, orang tua diharapkan mampu mengawasi lingkungan pergaulan remaja supaya tidak https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 terpengaruh oleh dampak negatif pergaulan yang salah. Berikut merupakan merupakan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada masyarakat Buddhis di Dusun Sodong dapat diperinci sebagai berikut: Sebagai Pendidik Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi kehidupan anak-anaknya, sehingga orang tua bertanggung jawab atas perkembangan ilmu pengetahuan anaknya. Sebagai pendidik utama, orang tua di Dusun Sodong telah melaksanakan tugasnya dengan cukup Hal ini berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti sebagian besar orang tua telah memberikan pendidikan atau binaan mengenai perilaku keagamaan terhadap remaja. Menanamkan nilai-nilai keagamaan pada remaja, khususnya Pancasila Buddhis. Orang tua menekankan pada remaja supaya senantiasa mengamalkan sila yang terkandung dalam Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya melalui lisan, akan tetapi orang tua memberikan contoh secara langsung kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Selalu mengingatkan Remaja untuk rajin bersekolah minggu, dikarenakan dengan sekolah minggu anak akan mendapat pengetahuan lebih mengenai ajaran yang terkandung dalam agama. Menganjurkan remaja untuk aktif dalam berbagai kegaitan keagamaan, baik yang diselenggarakan oleh vihara maupun kementerian agama. Hal tersebut dapat menambah wawasan remaja, selain itu dapat memperbanyak relasi dan menambah keyakinan remaja terhadap Buddha Dhamma. Berdasarkan pembahasan diatas dapat diketahui bahwa peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja sudah cukup baik. Hal tersebut sesuai dengan salah satu point dalam landasan teori, dimana orang tua merupakan pendidik utama dan pertama sehingga orang tua bertanggung jawab atas perkembangan diri dan pengetahuan anak. Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis di Dusun Sodong Desa Gelangkulon Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Fitria Johanitasari | Agus Subandi | Ngadat Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 Sebagai Pengawas Selain sebagai pendidik dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja, orang tua berperan dalam mengawasi remaja. Sehingga orang tua memiliki tugas mengawasi segala Tindakan yang dilakukan oleh remaja. Pengawasan yang dilakukan oleh orang tua tidak bermaksud merenggut kebebasan pada remaja, akan tetapi bertujuan untuk membatasi dan tetap memberikan kebebasan pada remaja dengan Batasan yang sesuai dengan aturan moralitas agama. Hal tersebut dikarenakan usia remaja merupakan usia yang sangat rentan akan pengaruh-pengaruh lingkungan sekitar, seperti halnya lingkungan pergaulan Masyarakat dan sekolah. Berdasarkan pada hasil penelitian, peneliti menemukan tindakan yang dilakukan oleh orang tua dalam memberikan pengawasan terhadap remaja. Orang tua mengawasi lingkungan pergaulan remaja baik pada saat berkumpul dengan masyarakat maupun pada saat disekolah. Orang tua mengawasi lingkungan pergaulan remaja diantaranya: melarang remaja untuk berkumpul dengan teman yang memiliki tabiat buruk seperti minum-minuman memabukkan, tawuran serta mengkonsumsi obat terlarang. Akan tetapi apabila orang tua sedang berjauhan dengan anak, mereka selalu berpesan boleh berteman dengan siapapun asalkan dapat menyaring baik dan buruknya. Berdasarkan uraian di atas maka diketahui bahwa peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada keluarga Buddhis sudah dilaksanakan dengan baik. Hal tersebut dikarenakan orang tua merupakan induk keluarga sehingga memiliki tugas dan tanggung jawab dalam melindungi remaja dari berbagai macam hal negatif, salah satunya yakni dengan mengawasi lingkungan pergaulan remaja. Hal tersebut perlu dilakukan orang tua supaya remaja memiliki moralitas yang baik serta tidak terpengaruh oleh keburukan lingkungan atau Faktor Pendukung Dan Faktor Penghambat Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Dalam membentuk perilaku keagamaan remaja orang tua memiliki faktor pendukung ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X serta faktor penghambat yang menjadikan orang tua berhasil atau tidaknya dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja. Berikut merupakan faktor pendukung dan penghambat orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja: Faktor Pendukung Dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja terdapat beberapa faktor yang mempermudah bagi orang tua, yaitu: Pengarahan dari guru sekolah minggu atau guru agama di sekolah remaja, beliau menambah ilmu pengetahuan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Kegiatan yang diselenggarakan oleh vihara setempat ataupun kementrian agama, seperti Sippa Dhamma Samajja ataupun musyawarah yang diikuti oleh remaja. Dengan adanya kegiatan tersebut dapat menambah wawasan bagi remaja, menambah keyakinan remaja mengenai Buddha Dhamma serta menambah relasi Timbulnya kesadaran pada remaja, yang merupakan bukti kematangan dalam berpikir remaja. Hal tersebut dapat mempermudah orang tua dalam mengendalikan diri remaja. Hidupnya kegiatan keagamaan di lingkungan rumah serta adanya lingkungan pergaulan yang baik bagi remaja. Berdasarkan faktor pendukung di atas, dapat dianalisa bahwa dengan adanya faktorfaktor pendukung dapat memperlancar dan mempermudah orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja. Faktor Penghambat Terdapat faktor penghambat bagi orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada keluarga Buddhis, yaitu: Timbulnya rasa egois dan pergaulan remaja, sehingga dapat mempengaruhi keadaan psikis remaja. Sehingga dapat mempersulit dan menghambat orang tua untuk membina remaja. Orang tua yang kesulitan membagi waktu Peran Orang Tua Dalam Membentuk Perilaku Keagamaan Remaja Pada Masyarakat Buddhis di Dusun Sodong Desa Gelangkulon Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo Vol. 23 Nomor 2 Oktober 2023 Fitria Johanitasari | Agus Subandi | Ngadat ISSN: . 1693 - 0304 . 2620 - 827X https://ejournal. id/index. php/dharmasmrti/issue/view/23 antara anak dengan pekerjaan, hal tersebut dikarenakan mayoritas orang tua di Dusun Sodong merupakan petani sehingga orang tua bisa berkumpul dengan anak hanya pada saat malam hari itupun ketika hamper istirahat. Sehingga orang tua kurang maksimal dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja. Orang tua yang menitipkan remaja kepada keluarga, hal tersebut membuat remaja kurang perhatian dan kurangnya dampingan oleh orang tua. Orang tua yang sudah berumur, sehingga kurangnya pemahaman orang tua mengenai nilai Buddha Dhamma serta kurangnya pemahaman tentang cara bagaimana menyampaikan ajaran agama kepada Faktor-faktor penghambat tersebut berasal dari dalam diri remaja dan dari orang tua, faktor penghambat tersebut dapat menyebabkan terganggunya efektivitas dalam membentuk perilaku keagamaan pada remaja. IV. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data serta pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya, maka penelitian ini menghasilkan beberapa kesimpulan sebagai berikut: Peran orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada keluarga Buddhis sudah dilaksanakan dengan baik, peran tersebut diantaranya adalah: seb- agai pendidik, orang tua memberikan pemahaman serta pengetahuan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama, memberikan contoh teladan bagi remaja, mengingatkan remaja untuk aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan. Sebagai pengawas, orang tua senantiasa mengawasi lingkungan pergaulan remaja supaya remaja tidak terpengaruhi oleh hal buruk yang ada di lingkungan tersebut. Terdapat faktor pendukung dan penghambat bagi orang tua dalam membentuk perilaku keagamaan remaja pada keluarga Buddhis. Faktor pendukung dalam membentuk perilaku keagamaan yaitu adanya dukungan dan dorongan dari pengurus sekolah minggu baik guru maupun penyuluh dan guru agama di sekolah, banyaknya kegiatan yang diselenggarakan oleh vihara setempat maupun kementerian agama, timbulnya kesadaran diri remaja, aktifnya kegiatan keagamaan di lingkungan dan lingkungan yang baik serta mendukung terbentuknya perilaku keagamaan pada remaja. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu timbulnya rasa egois dan lingkungan pergaulan yang kurang mendukung, orang tua yang sulit membagi waktu antara pekerjaan dan membina perilaku keagamaan remaja, orang tua yang menitipkan remaja pada keluarga lain dan minimnya pengetahuan orang tua mengenai perilaku keagamaan dan cara menyampaikannya pada remaja. DAFTAR PUSTAKA