Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Website: ojs. itb-ad. id/index. php/LQ/ p-ISSN: 1829-5150, e-ISSN: 2615-4846. DETERMINAN PROFITABILITAS PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN TAHUN 2019-2023 Selvia Febrianti1. Siti Sundari2 (*) 1-2 Program Studi Akuntansi. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Abstract This research investigates the effect of receivables turnover, inventory turnover, and working capital turnover on the profitability of companies operating in the food and beverage sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange between 2019 and 2023. A total of 16 companies were chosen as the sample using purposive sampling based on predetermined criteria. Utilizing a quantitative method with panel data, the analysis was carried out through a fixed effect panel regression model using EViews software. The findings reveal that receivables turnover significantly and positively contributes to profitability, indicating that improved receivables efficiency can enhance a firmAos earnings. On the other hand, inventory turnover and working capital turnover were found to have no meaningful impact on profitability, likely due to unstable management practices and considerable fluctuations observed during the study period. Kata Kunci: Perputaran Piutang. Perputaran Persediaan. Perputaran Modal Kerja. Profitabilitas Juli Ae Desember 2025. Vol 14 . : hlm 260-274 A2025 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. All rights reserved. (*) Korespondensi: ak@upnjatim. id (Siti Sundar. PENDAHULUAN Meningkatnya intensitas persaingan di dunia bisnis mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan beradaptasi terhadap dinamika ekonomi, kebijakan pemerintah, perubahan preferensi konsumen, serta strategi yang diterapkan oleh para pesaing (Putri dkk. , 2. Dalam kondisi tersebut, kesuksesan perusahaan sangat bergantung pada manajemen yang mampu bekerja secara optimal, efisien, dan produktif untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu memperoleh laba (Puspita, 2. Tiap jenis bisnis, baik itu yang beroperasi di sektor perdagangan, layanan, atau manufaktur, punya sasaran yang tidak berbeda jauh, yaitu meraih laba serta mempertahankan kelangsungan operasional dalam jangka waktu panjang (Prastiwi & Sarjana, 2. Meskipun keuntungan merupakan salah satu indikator utama untuk menilai keberhasilan perusahaan, hal tersebut tidak cukup untuk menunjukkan tingkat efektivitas dan efisiensi operasional secara menyeluruh. Oleh karena itu, untuk mengukur kinerja finansialnya, perusahaan kerap memanfaatkan laporan keuangan beserta berbagai indikator rasio, termasuk Return on Assets (ROA) dan Return on Equity (ROE), sekaligus menjadi sarana komunikasi dengan para pemangku kepentingan (Maruta & Hidayatullah, 2. Dalam industri manufaktur, subsektor makanan dan minuman memegang peranan penting dalam menunjang perekonomian negara. Meskipun memiliki tingkat permintaan yang tinggi, sektor ini menghadapi ketidakpastian keuntungan akibat fluktuasi pasar, naik turunnya biaya produksi, serta perubahan daya beli konsumen (Aprianingsih & AsAoari, 2. Menurut Kementerian Perindustrian, subsektor makanan dan minuman memiliki potensi yang sangat besar dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). dari sektor industri nonmigas, dengan kontribusi sebesar 39,10% pada tahun 2023, serta memberikan andil sebesar 6,55% terhadap PDB nasional (Deny. Berdasarkan data dari BPS, subsektor ini mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang periode 2019 hingga 2023, meskipun sempat mengalami perlambatan yang cukup besar pada tahun 2020 akibat pandemi. Faktor utama yang menentukan keberhasilan finansial perusahaan adalah profitabilitas dan likuiditas. Return on Assets (ROA) berfungsi sebagai tolok ukur profitabilitas karena merefleksikan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan asetnya guna menghasilkan laba (Sulastia & Sari, 2. Selama lima tahun terakhir . 9Ae2. , informasi ROA untuk perusahaan yang berada di subsektor makanan dan minuman menunjukkan adanya perubahan yang tidak stabil, dengan rata-rata nilai mencapai 10,52%. Dari total enam belas perusahaan, hanya empat yang mampu mencatat ROA di atas rata-rata, yang menandakan bahwa sebagian besar perusahaan belum mengelola aset secara optimal. Tabel 1. Return On Asset Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Rata-rata No. KODE ADES BUDI CAMP CEKA CLEO DLTA GOOD ICBP INDF MLBI MYOR ROTI SKBM STTP TBLA ULTJ Rata-rata Sumber: w. Profitabilitas perusahaan dapat berubah dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yakni perputaran piutang, persediaan, dan modal kerja. Rasio perputaran piutang digunakan untuk menentukan frekuensi konversi piutang menjadi kas dalam satu siklus serta mengukur durasi rata-rata yang dibutuhkan untuk penagihan, sekaligus menggambarkan kecepatan piutang diubah menjadi kas. Rasio yang tinggi menandakan modal kerja yang cepat cair dan penagihan yang efisien, sedangkan rasio rendah mengindikasikan modal kerja terikat lebih lama, menghambat likuiditas, meningkatkan risiko piutang tak tertagih, dan berpengaruh negatif terhadap laba perusahaan (Novika & Siswanti, 2. Perputaran persediaan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola stok secara efisien agar cepat terjual, yang berdampak langsung terhadap peningkatan kinerja. kelebihan persediaan dapat menimbulkan pemborosan dan kerusakan, sementara kekurangan persediaan dapat menghambat efisiensi operasional, keduanya berdampak pada penurunan laba. Oleh sebab itu, efisiensi dalam perputaran persediaan sangat penting untuk mempercepat pengembalian kas, sehingga perusahaan harus mempercepat penjualan stok (Astuti & Aprianti, 2. Rasio perputaran modal kerja mengindikasikan frekuensi penggunaan aset lancar dalam mendukung penjualan, di mana rasio yang tinggi mencerminkan kontribusi lebih besar terhadap profitabilitas. Proses ini melibatkan penggunaan kas untuk modal kerja hingga kas tersebut kembali, dengan periode perputaran yang lebih pendek menunjukkan perputaran modal kerja yang lebih cepat, tergantung pada lama perputaran setiap komponennya (Rahmaita & Nini, 2. TUJUAN PENELITIAN Studi ini dilakukan untuk menganalisis dan menilai dampak perputaran piutang, persediaan dan modal kerja terhadap profitabilitas pada perusahaan subsektor makanan dan minuman yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama rentang waktu 2019 hingga 2023. METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Data yang dimanfaatkan bersumber dari laporan keuangan sebagai data sekunder, yang diperoleh melalui situs web resmi Bursa Efek Indonesia (BEI). Dari total 30 perusahaan yang tercatat di sejak 2019 hingga 2023, peneliti menentukan sampel menggunakan teknik purposive Berikut kriterianya: Tabel 2. Penarikan Sampel Keterangan Perusahaan Manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI Perusahaan Manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI secara berturut turut selama periode Perusahaan mengunggah laporan keuangannya selama periode penelitian 2019-2023 Perusahaan yang membukukan laba sepanjang periode penelitian 2019- 2023 Jumlah sampel yang memenuhi kriteria Total sampel yang memenuhi kriteria Jumlah Perusahaan Definisi Operasional Variabel Perputaran Piutang Rasio ini menilai efektivitas dan kecepatan konversi piutang menjadi kas selama satu periode (Kasmir, 2. Rumus: Penjualan Perputaran Piutang : Rata-rata Piutang Perputaran Persediaan Rasio ini menunjukkan seberapa sering persediaan diputar dalam suatu periode untuk mendukung kelancaran penjualan dan pengelolaan stok yang efisien (Nidiana & Zaki, 2. Rumus: Penjualan Perputaran Persediaan : Rata-rata Persediaan Perputaran Modal Kerja Efektivitas suatu perusahaan dalam memanfaatkan modal kerjanya untuk menciptakan omzet penjualan digambarkan oleh rasio perputaran modal kerja. Semakin besar rasio ini, semakin cepat modal kerja tersebut berputar dan tergantikan melalui aktivitas penjualan. (Ibbar & Hasdianti, 2. Rumus: Penjualan Perputaran Modal Kerja : y 100% Aset Lancar - Utang Lancar Profitabilitas Kemampuan perusahaan untuk menciptakan keuntungan dari aset yang dimiliki tercermin dalam profitabilitas, yang kemudian dapat berdampak pada kebijakan dividen dan investasi (Irwanti. Rinaldi & Eriswanto, 2. Rumus: Laba Bersih ycIycCya = y 100% Total Aset Penelitian ini memperoleh data sekunder melalui sumber-sumber terdokumentasi, utamanya dari laporan keuangan entitas bisnis. Data yang digunakan berupa data panel yang akan dianalisis menggunakan perangkat lunak Eviews. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Analisis Statistik Deskriptif Tabel 3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Perputaran Perputaran Piutang Persediaan Mean Maximum Minimum Std. Dev. Observations Perputaran Modal Kerja Profitabilitas Sumber: output eviews 12 Data ini berasal dari 75 sampel untuk setiap variabel setelah dilakukan tranformasi data. Dimana rata-rata perputaran piutang adalah 8,13 dengan nilai tertinggi 16,19 dan terendah 1,42, menunjukkan variasi sedang dengan standar deviasi sebesar 3,13. Perputaran persediaan memiliki rata-rata 10,16, namun dengan rentang yang cukup luas dari 0,98 sampai 44,87 dan standar deviasi 7,05, yang menandakan fluktuasi yang besar. Perputaran modal kerja rata-ratanya 1,46, dengan nilai terendah -1,66 dan tertinggi 6,02 serta standar deviasi 1,04, mengindikasikan adanya variasi dan kemungkinan ketidakstabilan modal kerja pada beberapa kasus. Profitabilitas menunjukkan rata-rata 9,45 dengan nilai maksimal 22,29 dan minimal 0,05, serta standar deviasi 5,55, yang mencerminkan perbedaan cukup signifikan antar Uji Pemilihan Model Uji Chow Tabel 4. Hasil Uji Chow Effects Test Statistic Prob. Cross-section F Cross-section Chi-square . Sumber: output eviews 12 Berdasarkan tabel 4, prob. 0,0000 (< 0,. , yang mengindikasikan kelayakan penggunaan model fixed effect (FEM). Uji Hausman Tabel 5. Hasil Uji Hausman Test Summary Chi-Sq. Statistic Chi-Sq. Prob. Cross-section random Sumber: output eviews 12 Merujuk pada data di tabel 5, nilai prob. yang tercatat 0,0364 (< 0,. , yang menegaskan model fixed effect (FEM) untuk diaplikasikan. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Series: Standardized Residuals Sample 2019 2023 Observations 75 Mean Median Maximum Minimum Std. Dev. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability Sumber: output eviews 12 Pada studi ini uji normalitas mengadopsi pendekatan Jarque-Bera, dengan kriteria distribusi normal terpenuhi jika nilai probabilitas > 0,05. Temuan awal mengungkapkan probabilitas sebesar 0,000000 (< 0,. , mengindikasikan ketidaknormalan distribusi data penelitian yang berimplikasi pada kebutuhan Pasca-transformasi, sebagaimana tercantum pada tabel 6, nilai profitabilitasnya mencapai sebesar 0,1450 (> 0,. , merepresentasikan bahwa data telah memenuhi asumsi distribusi normal. Uji Multikolinearitas Tabel 7. Hasil Uji Multikolinearitas Perputaran Piutang Perputaran Piutang Perputaran Persediaan Perputaran Modal Kerja Perputaran Modal Kerja Perputaran Persediaan Sumber: output eviews 12 Pengujian ini menunjukkan jika nilai korelasi < 0,90, maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinearitas. Dari tabel 7 terlihat bahwa semua nilai korelasi berada di bawah 0,90, sehingga tidak ditemukan indikasi Uji Heteroskedastisitas Tabel 8. Hasil Uji Heteroskedastisitas F-statistic Obs*R-squared Scaled explained SS Prob. Prob. Chi-Square. Prob. Chi-Square. Sumber: output eviews 12 Heteroskedastisitas tidak terdeteksi dalam suatu model apabila probabilitasnya di atas 0,05. Berdasarkan tabel 8, probabilitas sebesar 0,7591 menunjukkan bahwa model tersebut bebas dari heteroskedastisitas. Analisis Regresi Data Panel Tabel 9. Hasil Uji Statistik t Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. Perputaran Piutang Perputaran Persediaan Perputaran Modal Kerja Effects Specification Cross-section fixed . ummy variable. Root MSE Mean dependent var dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. Durbin-Watson stat R-squared Adjusted R-squared of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statisti. Sumber: output eviews 12 Mengacu pada tabel 9, model regresi menunjukkan temuan sebagai berikut: Konstanta sebesar -0,127326 mengindikasikan bahwa apabila semua variabel bebas berada pada angka nol, profitabilitas diperkirakan sebesar -0,127326. Perputaran piutang menunjukkan korelasi positif terhadap profitabilitas, setiap peningkatan satu satuan pada variabel ini diperkirakan akan menaikkan profitabilitas sebesar 0,872434. Perputaran menurunkannya profitabilitas sebesar 0,353990 untuk setiap peningkatan satu Perputaran modal kerja juga tidak menunjukkan pengaruh yang berarti, kenaikan satu satuan justru menurunkan profitabilitas sebesar -0,003355. Uji Hipotesis Uji Statistik t Uji t diterapkan untuk mengidentifikasi sejauh mana masing-masing variabel independen memengaruhi variabel dependen secara parsial. Berdasarkan informasi pada tabel 9, diperoleh hasil sebagai berikut: Perputaran piutang terbukti memiliki dampak signifikan terhadap profitabilitas, dengan nilai probabilitas sebesar 0,0049 < 0,05. Semntara itu, perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas, karena nilai probabilitasanya mencapai 0,5441 > 0,05. Perputaran modal kerja juga tidak menunjukkan efek signifikan terhadap profitabilitas, sebagaimana diindikasikan oleh nilai probibalitas 0,6534 > 0,05. Koefisien Determinasi (RA) Mengacu pada tabel 9. Adjusted RA tercatat 0,745818 menunjukkan bahawa sekitar 74,5% variasi profitabilitas mampu dijelaskan oleh variabel perputaran piutang, persediaan, dan modal kerja. Sementara itu, 25,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model, seperti efisiensi operasional dan struktur permodalan. Efisiensi operasional menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aset untuk meningkatkan penjualan dan mengelola modal kerja (Febriana, 2. Selain itu, struktur modal yang direpresentasikan oleh rasio Debt to Equity (DER) menunjukkan perbandingan antara keseluruhan utang dan ekuitas. DER yang tinggi berpotensi meningkatkan ketidakmampuan membayar utang dan menurunkan tingkat kepercayaan dari para investor (Darmawan dkk. , 2. PEMBAHASAN Pengaruh Perputaran Piutang Terhadap Profitabilitas Perputaran piutang memiliki keterkaitan dengan profitabilitas perusahaan. Pengelolaan piutang yang optimal mempercepat penerimaan kas dari pelanggan, sehingga dana tersebut dapat segera dimanfaatkan untuk kegiatan operasional maupun investasi. Selama tahun 2019 hingga 2023, perputaran piutang menunjukkan tren stabil dengan kecenderungan meningkat, dengan rata-rata lebih dari 7 kali per tahun. Nilai tertinggi, seperti 16,19 dan 14,75 kali, mencerminkan percepatan dalam proses penagihan, yang kemungkinan dipengaruhi oleh penerapan kebijakan kredit yang lebih ketat atau peningkatan efisiensi dalam penagihan. Peningkatan ini menunjukkan pengelolaan kas yang lebih baik, yang berdampak pada berkurangnya kebutuhan pembiayaan eksternal dan meningkatnya efektivitas penggunaan modal kerja. Berdasarkan teori sinyal (Spence, 1. , perputaran piutang dapat digunakan sebagai indikator kualitas pengelolaan keuangan perusahaan dan menjadi sinyal positif bagi investor terkait kemampuan manajerial serta rendahnya risiko keuangan. Tingginya rasio perputaran piutang menunjukkan arus kas yang stabil dan penggunaan aset yang efektif, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek laba perusahaan. Hasil ini diperkuat oleh sejumlah penelitian sebelumnya. Lusgiannivia . Rinofah dan Sari . , serta Hadi . , yang menemukan bahwa profitabilitas dipengaruhi perputaran piutang. Pengaruh Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas Tingkat profitabilitas perusahaan tidak dipengaruhi oleh perputaran persediaan, sebagaimana ditunjukkan oleh temuan penelitian. Sepanjang 2019 hingga 2023, angka perputaran bervariasi secara ekstrem, mulai dari 0,98 hingga 44,87 kali dalam setahun. Sebagian besar berada di kisaran 4Ae15 kali, namun lonjakan seperti 26,12, 34,55, dan 44,87 kali diduga dipengaruhi oleh program promosi atau faktor musiman. Sebaliknya, angka yang sangat rendah mencerminkan tingginya akumulasi stok atau lemahnya permintaan pasar. Ketidakstabilan ini menunjukkan belum terbangunnya sistem manajemen persediaan yang konsisten, sehingga tidak selalu berdampak positif terhadap laba Dalam perspektif teori sinyal (Spence, 1. , perusahaan menyampaikan kondisi internal kepada pihak luar melalui indikator keuangan. Namun, jika indikator seperti perputaran persediaan tidak secara langsung berkaitan dengan profitabilitas, maka sinyal tersebut dinilai lemah dan kurang diperhatikan Pasar cenderung merespons indikator yang memiliki pengaruh nyata terhadap nilai perusahaan, seperti laba bersih atau rasio pengembalian aset. Oleh sebab itu, perputaran persediaan bukanlah tolok ukur utama dalam mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan. Temuan ini didukung oleh studi dari Khairani . Hia & Kurniati . , dan Erdianto & Lisnawaty . , yang semuanya menyimpulkan bahwa perputaran persediaan tidak berdampak pada profitabilitas. Pengaruh Perputaran Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Profitabilitas perusahaan tidak dipengaruhi oleh perputaran modal kerja, sebagaimana temuan dalam studi ini. Data periode 2019Ae2023 menunjukkan variasi yang sangat besar, mulai dari 0,19 hingga 410,13, bahkan terdapat nilai negatif antara Ae8,71 hingga Ae24,21. Ketidakteraturan tersebut menggambarkan kondisi keuangan yang tidak stabil dan pengelolaan modal kerja yang kurang Nilai perputaran yang tinggi belum tentu menunjukkan efisiensi karena bisa mencerminkan operasional dengan modal kerja yang minim, sementara nilai negatif mengindikasikan kekurangan modal kerja yang memperburuk likuiditas perusahaan (Mariana, 2. Menurut teori sinyal (Spence, 1. , indikator perputaran modal kerja mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengelola sumber daya Apabila indikator ini mencerminkan efisiensi dan kestabilan, hal tersebut bisa dianggap sebagai tanda positif bagi investor mengenai kualitas manajemen serta rendahnya risiko operasional. Oleh karena itu, perputaran modal kerja berfungsi tidak hanya sebagai ukuran aktivitas operasional, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang memperkuat persepsi pasar terhadap kinerja dan nilai perusahaan. Temuan ini diperkuat oleh berbagai studi sebelumnya seperti Hidayat . Lestari & hazmi . , dan Anjelia . menyatakan jika perputaran modal kerja tidak mempengaruhi nilai profitabilitas Pengaruh Variabel Lain Terhadap Profitabilitas Efisiensi operasional memainkan peran penting dalam meningkatkan profitabilitas dengan mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, waktu, dan modal tanpa menurunkan kualitas. Efisiensi membantu menekan biaya, mempercepat perputaran aset, dan mendorong peningkatan ROA serta ROE, terutama bila ditunjang oleh struktur modal yang baik (Mustika, 2023. Gobay. Studi yang relevan seperti studi dari Sparta . Sono dkk. dan Ariani . menegaskan bahwa efisiensi operasional berpengaruh terhadap Perbandingan antara utang dan ekuitas yang dipakai perusahaan untuk membiayai kegiatan operasional dan investasi dikenal sebagai struktur modal. Pemilihan struktur modal yang tepat sangat krusial karena dapat memengaruhi risiko keuangan, keuntungan pemegang saham, dan berkontribusi pada peningkatan profitabilitas serta nilai perusahaan dalam jangka panjang (Nufyar. Susdianty, 2. Beberapa penelitian terkait, seperti oleh Djuaeriah & Winarta . Fadmala . , dan Gilang & Feriyanto . , menunjukkan bahwa struktur modal memiliki pengaruh terhadap profitabilitas. KESIMPULAN Penelitian ini mengindikasikan adanya hubungan positif dan signifikan antara perputaran piutang dengan profitabilitas perusahaan di subsektor makanan dan Artinya, semakin efektif perusahaan dalam mengubah piutang menjadi kas, semakin besar pula peningkatan laba yang dapat diraih. Di sisi lain, perputaran persediaan dan modal kerja tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap profitabilitas, yang disebabkan oleh tingginya fluktuasi dan ketidakstabilan dalam pengelolaan kedua variabel tersebut sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan laba secara konsisten. Secara keseluruhan, ketiga variabel ini menjelaskan sebesar 74,5% variasi profitabilitas, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model, seperti efisiensi operasional dan struktur modal. DAFTAR PUSTAKA