Journal of Science and Clinical Pharmacy Research (JSCPR) Vol. No. Februari 2025 Original Article HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI Puti Munyati Thahirah1. Devahimer Harsep Rosi2. Khairil Armal3 1,2,3 Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi Jln. Tan Malaka RT 01 RW 05 Kel. Bukit Canggang Kayu Ramang Kec. Guguak Panjang Bukittinggi Email: puti. munyati315@gmail. com, devaochie@gmail. com, armalazis71@gmail. Journal of Science and Clinical Pharmacy Research. Vol. 1 No. 1 Edisi Februari 2025 Hal 24-36 https://journal. id/index. php/JSCPR Received: 14 Oktober 2024 :: Accepted: 15 Januari 2025 :: Published: 18 Maret 2025 ABSTRAK Tingkat ketidakrasionalan masyarakat dalam melakukan swamedikasi cukup tinggi. Tingginya prevalensi penggunaan obat yang tidak rasional pada swamedikasi menyebabkan jumlah masyarakat yang tidak mendapatkan perawatan dengan bantuan tenaga kesehatan sebesar 68,9%. Ketidak rasionalan pengobatan ini dapat terjadi karena kurangnya tingkat pengetahuan Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan penggunaan obat swamedikasi batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Pendekatan yang digunakan adalah cross sectional. Populasi pasien swamedikasi batuk pada bulan September 2024, teknik sampling yang digunakan adalah teknik purpose sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu dengan jumlah sampel yaitu 50 Metode pengumpulan data menggunakan kuisioner. Uji Statistik menggunakan uji chisquare. Dari penelitian disimpulkan tingkat pengetahuan pasien Apotek Nusantara Kota Bukittinggi memiliki kategori Baik. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan rasionalitas penggunaan obat batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Dengan hasil uji statistik tingkat pengetahuan pasien didapat p value 0,00 < 0,05 dan terdapat hubungan tingkat pengetahuan pasien dengan rasionalitas penggunaan obat batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Kata kunci: Swamedikasi. Batuk. Rasionalitas. Pengetahuan ABSTRACT The level of irrationality of society in carrying out self-medication is quite high. The high prevalence of irrational use of drugs in self-medication causes the number of people who do not receive treatment with the help of health workers to be 68. This irrationality of treatment can occur due to the lack of patient knowledge. This study aims to see the relationship between the level of patient knowledge and the use of self-medication for coughs at Nusantara Pharmacy. Bukittinggi City. The approach used is cross-sectional. Population of self-medication cough patients in September 2024, the sampling technique used is the purpose sampling technique, namely the technique of determining samples with certain considerations HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI with a sample size of 50 patients. The data collection method uses a questionnaire. Statistical tests use the chi-square test. From the study, it was concluded that the level of knowledge of patients at Apotek Nusantara Bukittinggi City was in the Good category. There is a relationship between the level of knowledge and the rationality of the use of cough medicine at Apotek Nusantara Bukittinggi City. With the results of the statistical test, the level of patient knowledge obtained a p value of 0. 00 <0. 05 and there is a relationship between the level of patient knowledge and the rationality of the use of cough medicine at Apotek Nusantara Bukittinggi City. Keywords: Self-medication. Rational Cough. Knowledge Pendahuluan Batuk merupakan suatu gerakan tiba-tiba atau tanpa disadari dari tubuh dalam usaha melindungi tubuh yang berguna untuk membersihkan dan mengeluarkan benda asing seperti dahak, debu, zat perangsang asing yang terhirup, dan unsur-unsur infeksi dari saluran pernafasan (Laksono, 2. Di pasaran obat batuk ada dua jenis yaitu ekspektoran dan antitusif. Secara teori obat batuk tidak sama untuk jenis batuk yang berbeda, jadi beda jenis batuk berbeda pula obatnya. Untuk batuk kering obat batuk yang digunakan adalah antitusif yang bekerja dengan cara menekan pusat dari reflex Untuk batuk berdahak dapat digunakan mukolitik dan ekspektoran yang bekerja dengan cara memecah dahak dan merangsang keluarnya dahak dari saluran pernafasan (Meriati dkk, 2. Penggunaan obat batuk sering digunakan secara bebas, hal ini menyebabkan ketergan tungan dan diperkirakan sebagai penyebab penyakit gagal ginjal kronis di masyarakat saat periode tahun 1900 (WHO, 2. Keluhan yang seringkali mendorong pasien untuk menggunakan obat batuk secara swamedikasi, antara lain : batuk berdahak dan batuk kering (Depkes RI, 2. Jenis obat batuk terdiri dari ekspek toran dan antitusif yang keduanya memiliki kegunaan yang berbeda dalam mengatasi batuk (Ikatan Apoteker Indonesia, 2. Karena banyaknya pilihan obat, masyarakat sering kali justru menjadi bingung untuk memilih produk yang tepat. Hal ini ditunjukkan pada penelitian Asmoro yang dilakukan di Kabupaten Sukoharjo pada tahun 2014 dengan jumlah 165 responden dian taranya tingkat SMP. SMA. D1. D3, dan Sarjana, yang memilih pengobatan secara rasional sebanyak 47,3% responden, sedangkan yang memilih pengobatan secara tidak rasional sebanyak 52,7% responden. Berdasarkan data tabulasi penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang berpengetahuan dalam kategori tinggi lebih banyak melakukan pengobatan yang rasional, sedangkan responden dengan kategori pengetahuan rendah cenderung tidak rasional. Sehi ngga, dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya hubungan yang signifikan an tara pengetahuan dengan pemilihan obat, semakin tinggi penge tahuan seseorang maka akan mempengaruhi pemilihan obat yang lebih rasional terhadap batuk yang diderita (Asmoro, 2. Akibat pengobatan batuk yang tidak rasional, maka akan meningkatkan risiko terja dinya infeksi bakteri maupun virus. Ketidaksesuaian penggunaan obat batuk dapat menimbulkan dampak yang tidak baik bagi kesehatan. Jadi pengobatan batuk yang rasional adalah berdasarkan jenis batuknya jika jenis batuknya berdahak dapat JSCPR Puti Munyati Thahirah. Devahimer Harsep Rosi. Khairil Armal digunakan Mukolitik dan Ekspektoran sedangkan untuk batuk yang kering dapat diberikan antitusif dan anti alergi (Ramsay dkk, 2. Di Indonesia perilaku pengobatan sendiri sudah banyak dilakukan oleh masyarakat. Salah satu ciri adanya swamedikasi adalah dengan perilaku masyarakat yang menyimpan obat untuk pengobatan diri sendiri. Data menunjukkan sebesar 35,2% masyarakat telah menyimpan obat hasil swamedikasi. Dalam hal ini adanya obat keras dan antibiotika untuk swamedikasi menunjukkan adanya penggunaan obat yang tidak rasional (KEMENKES RI, 2. Swamedikasi harus dilakukan sesuai dengan penyakit yang dialami, pelaksanaannya sedapat mungkin harus memenuhi kriteria penggunaan obat yang rasional. Kriteria obat yang rasional antara lain ketepatan pemilihan obat, ketepatan dosis obat, tidak adanya efek samping, tidak adanya kontra indikasi, tidak adanya interaksi, dan tidak adanya polifarmasi (Septi Muharni, 2. Tingkat ketidakrasionalan masyarakat dalam melakukan swamedikasi cukup tinggi. Tingginya prevalensi penggunaan obat yang tidak rasional pada swamedikasi menyebabkan jumlah masyarakat yang tidak mendapatkan perawatan dengan bantuan tenaga kesehatan sebesar 68,9% (KEMENKES RI, 2. Apotek Nusantara merupakan salah satu apotek terletak dikota Bukittinggi dan memiliki pasien swamedikasi obat batuk. Sejauh ini belum diketahui tingkat kerasio nalan penggunaan obat swamedikasi batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian di Apotek Nusantara Kota Bukit tinggi dengan judul AuHubungan Tingkat Pengetahuan Pasien Dengan Rasionalitas Peng gunaan Obat Swamedikasi Batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi Periode September 2024. Metoda Penelitian Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasi. Penelitian korelasi adalah metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel 1 dengan variabel lainnya. Penelitian ini mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi dari obat batuk. Dengan menggunakan metode kuisioner (Notoatmodjo, 2. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi dan dilaksanakan bulan September 2024. Variabel Penelitian Variabel Independen atau variabel bebas merupakan variabel yang mem pengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variable dependen. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan (Masturoh dan Anggita. Variabel Dependen Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variable yang dipengaruhi atau menjadi akibat dari variabel bebas. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk (Imas Masturoh. JSCPR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI Populasi dan Sampel Populasi Populasi adalah subyek atau golongan yang menjadi sasaran penelitian (Notoatmodjo, 2. Populasi dari penelitian ini adalah pasien Apotek Nusantara Kota Bukittinggi dengan swamedikasi obat batuk dalam satu bulan terakhir. Kunjungan jumlah pasien yang melakukan swamedikasi obat batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi di bulan September tahun 2024 sebanyak 100. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2. Kriteria Inklusi dalam penelitian ini adalah: Pasien yang melakukan swamedikasi obat batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi pada bulan September 2024. Pasien laki-laki dan perempuan berusia 17-55 tahun. Bersedia menjadi responden. Mampu berkomunikasi dengan baik. Kriteria Eksklusi Sedangkan kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sampel (Notoatmodjo, 2. Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: Pasien yang menggunakan obat batuk dengan resep Pasien yang memenuhi kriteria inklusi tapi tidak bersedia menjadi Pasien berusia dibawah 17 tahun dan diatas 55 tahun. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang melakukan swamedikasi obat batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi periode September 2024. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin, hal ini dikarenakan jumlah populasi diketahui. Berikut rumus Slovin Nurulita, 2023. Buku Ajar Metode Penelitian. Penerbit UNIPMA Press Universitas PGRI Madiun. (Nurulita, 2. Keterangan: n = Ukuran besaran minimal sampel. N = Ukuran besaran populasi, = Tingkat kesalahan yang diharapkan . %) Berdasarkan rumus, = 49,89 digenapkan = 50 sampel Penarikan sampel diambil dengan menggu nakan teknik purposive sampling yaitu pena rikan sampel berdasarkan kriteria tertentu dibu at oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kriteria inklusi dan eks klusi (Notoatmodjo, 2. Prosedur Kerja Penelitian Penelitian dilaksanakan dengan prosedur kerja sebagai berikut: Peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi. Peneliti melakukan pendekatan, menjelaskan tentang penelitian dan tujuan dari penelitian kepada responden. Bila responden bersedia, responden akan menandatangani lembar informed consent, peneliti membagikan lembar kuisioner kepada responden dan mendampingi responden dalam pengisian kuisioner serta peneliti akan membantu membacakan pertanyaanAepertanyaan yang ada dikusioner kepada responden yang kesuli tan dalam pengisian kusioner dan menuliskan jawabannya ke lembar kusioner sesuai dengan jawaban dari responden. Peneliti akan memeriksa kembali kelengkapan dan JSCPR Puti Munyati Thahirah. Devahimer Harsep Rosi. Khairil Armal memastikan data lengkap dan terkumpul. Data yang didapat kemudian dianalisis. Membuat pembahasan dan kesimpulan. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengukur rasionalitas swamedikasi dalam penelitian ini menggunakan kuisioner yang pernah digu nakan pada penelitian sebelumnya oleh Alinda Puspitasari berjudul AuTingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Rasionalitas Penggu naan Obat Swamedikasi Analgetik di RW 04 Kelurahan Palasari Kecamatan Cibiru Kota Bandung Tahun 2019Ay (Puspitasari, 2. Selanjutnya diujikan validitas dan reliabilitas kuisioner dengan menggunakan 30 pasien di apotek Al-Insyirah. Alat ukur ini setelah di ujikan validitas dan reliabilitasnya dan dinyatakan valid dilanjutkan dengan pengujian hubungan tingkat pengetahuan dengan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk. Jika hasil uji validitas dan realibilitas pada 16 pertanyaan dinyatakan valid dan reliable. Maka setiap jawaban yang benar diberi nilai 1, untuk jawaban yang salah diberi nilai 0. Jumlah nilai yang diperoleh akan dibagi dengan nilai maksimal jika jawaban benar semua yaitu 16, lalu dikali dengan 100%. Sehingga hasil yang didapat akan disesuaikan dengan nilai hasil ukur tingkat pengetahuan pada tabel definisi operasional. Uji Validitas Kuisioner validitas merupakan uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam mengukur apa yang diukur. Untuk mengetahui validitas intrumen seperti kuesioner, digunakan uji korelasi antar-item dengan skor total kuesioner (Sanaky et al. , 2. Penentuan kevalidan suatu kuisioner diukur dengan membandingkan r-hitung dengan r-tabel. Adapun penentuan disajikan sebagai berikut : r-hitung r-tabel atau nilai sig r < 0,05 : valid, r- hitung < r-tabel atau nilai sig r > 0,05 : tidak valid. Validitas Instrumen pada sampel sekitar 30 responden dari populasi yang akan dipakai menggunakan program komputer dengan uji SPSS (Statistical Program For Social Scienc. dengan uji statistic square. Berdasarkan hasil pengumpulan data kuisioner, data yang diperoleh secara deskriptif dengan menghi tung persentase tingkat pengetahuan Uji Reliabilitas Kuisioner Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur yang digunakan dapat di percaya. Suatu kuesioner dikatakan reliabel jika didapatkan nilai yang konsisten atau stabil ketika dilakukan pemeriksaan berulang (Sanaky et al. , 2. Pengujiannya dilakukan dengan menggunakan CrombachAo s Alpha dimana jika nilai alpha crombach lebih dari 0,6 maka kuisioner dapat dinyatakan reliabel. Teknik Pengolahan Data Pengolahan data merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang dilakukan setelah pengumpulan data. Langkah-langkah pengolahan data meliputi editing, coding, entry, dan analizing (Notoatmodjo, 2. Tahapan pengolahan data, diantaranya: Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh. JSCPR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI Editing dalam penelitian ini setelah data terkumpul, yaitu kelengkapan jawaban Coding, adalah mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Coding dalam penelitian disini memberikan kode angka pada jawaban responden untuk memudahkan analisis data. Entry, adalah proses memasukan data yang telah dikumpulkan kedalam program atau software komputer. Dalam penelitian ini, entry data dilakukan dengan memasukkan data jawaban dan kemudian di masukkan ke dalam program atau software komputer. Analizing, yaitu proses analisis, data ditabulasi dan diberi skor . Selanjutnya dilakukan perhitungan dan uji statistik terhadap data. Kemudian dilanjutkan dengan analisis Bivariat mengacu pada analisis 2 variabel untuk menentukan hubungan tingkat pengetahuan dan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk dengan menggunakan uji Chi Square yang tingkat kemaknaannya a < 0,05 maka H1 diterima dan H0 ditolak artinya ada Bila tingkat kemaknaan a > 0,05 maka antara H1 dan H0 tidak ada hubungan yang signifikan. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dan Analisis Demografi Responden Bagian pertama dari kuesioner adalah data pribadi responden yang berupa jawaban singkat terdiri dari nama responden, jenis kelamin, usia dan pendidikan terakhir. Pada bagian ini dilakukan analisis secara Analisis Penggunaan Obat Swamedikasi Batuk Bagian kedua terdiri dari pertanyaan seputar penggunaan obat swamedikasi batuk berjumlah 6 Pada pertanyaan ini penilaian dihitung berdasarkan distribusi frekuensi persentase (%) jumlah responden dengan jawaban yang. Analisis Tingkat Pengetahuan dan Rasionalitas Obat Swamedikasi Batuk Bagian ketiga terdiri dari 16 pertanyaan tingkat pengetahuan dan rasionalitas obat swamedikasi batuk yang berupa pilihan ganda . engan 2 - 4 pilihan Responden yang telah menjawab pertanyaan dengan akan diberi nilai, yaitu: -1: untuk jawaban benar, jika menjawab benar maka dinilai rasional 0: untuk jawaban salah atau tidak tahu, jika menjawab salah atau tidak tahu maka dinilai tidak rasional. Sehingga diperoleh total skor untuk pertanyaan seputar pengetahuan tentang penggunaan obat swamedikasi batuk adalah: Maximum: 1x 16 = 16. Minimum: 0 x 16 = 0. Ketentuan skor total pertanyaan kuesioner tentang pengetahuan dan rasionalitas obat swamedikasi batuk: C < 50% dengan skor 0 Ae 8 : Tingkat pengetahuan kurang C 56-69% dengan skor 9 Ae 11 : Tingkat pengetahuan cukup C > 75 % dengan skor 12 Ae 16 : Tingkat pengetahuan baik (Budiman. Tingkat Rasionalitas Berbagai kriteria telah ditetapkan untuk menentukan kerasio nalan penggunaan suatu obat. Rasionalitas penggunaan obat dalam JSCPR Puti Munyati Thahirah. Devahimer Harsep Rosi. Khairil Armal swamedikasi ber dasarkan hasil penilaian mengenai rasionalitas penggunaan obat yang di dapat dari mayoritas responden. Penggunaan obat di kategorikan tidak rasional jika ada kriteria rasionalitas penggunaan obat yang tidak terpenuhi (WHO, 2. Hubungan tingkat pengetahuan dengan rasionalitas Untuk menyimpulkan hubungan tingkat penge tahuan terhadap rasionalitas penggunaan obat oleh responden adalah dengan menggunakan hasil uji Chi-Square Test (Noto atmodjo, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini, pengambilan data dilakukan di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Metode pemilihan subjek pasien Batuk dilakukan dengan secara purpose sampling yang sesuai dengan kriteria inklusi yang telah ditentukan oleh peneliti. Jumlah subjek yang diteliti 50 pasien. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan diperoleh informasi mengenai karakteristik subjek seperti jenis kelamin, usia, dan pendi dikan terakhir, serta skor jawaban Hasil Uji Validitas Penelitian ini diawali dengan melakukan uji validitas dan reliabilitas kuisioner Tingkat pengetahuan yang terdiri dari 16 pertanyaan dilakukan di Apotek Al-Insyirah sebanyak 30 responden. Uji validitas pada pengujian ini menggunakan program SPSS IBM 26. Instrumen dinyatakan valid jika r tabel untuk = 30 responden adalah 0,361 sehingga r hitung > r tabel sehingga dapat disimpulkan bahwa 16 pertanyaan yang digunakan oleh peneliti merupakan pertanyaan yang valid Tabel 1. Hasil Uji Validitas kuisioner Item TP1 r Hitung 0,466 r Tabel 0,361 Keterangan Valid TP2 TP3 TP4 0,491 0,393 0,411 0,361 0,361 0,361 Valid Valid Valid TP5 TP6 0,407 0,406 0,361 0,361 Valid Valid TP7 TP8 TP9 0,407 0,402 0,575 0,361 0,361 0,361 Valid Valid Valid TP10 TP11 TP12 TP13 TP14 0,407 0,430 0,395 0,530 0,441 0,361 0,361 0,361 0,361 0,361 Valid Valid Valid Valid Valid TP15 TP16 0,494 0,466 0,361 0,361 Valid Valid JSCPR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI Uji Reliabilitas Uji reliabilitas juga dilakukan pada kuisioner tingkat pengetahuan dengan menggunakan program SPSS IBM 26. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Kuisioner Variabel Kuisioner penelitian Alpha 0,726 r Tabel 0,361 Hasil Reliabel Dari tabel diatas uji reliabilitas untuk pertanyaan kuisioner penelitian ini sebesar 0,726 dan hasil ujinya dinyatakan reliabel. Maka dapat dilihat bahwa pertanyaan pada kuisioner yang digunakan pada penelitian ini dinyatakan sangat handal. Tabel 3. Distribusi Responden Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Laki-laki Perempuan Total Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 3 pasien batuk lebih banyak berjenis kelamin perempuan 68% . dan laki-laki 32% . Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Puspitasari, 2. dimana sebagian besar pasien batuk adalah berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan beresiko lebih besar terserang batuk dari pada laki-laki. Faktor yang dapat memperbesar resiko atau kecendrungan seseorang penderita batuk yaitu faktor lingkungan. Perempuan akan mengalami resiko batuk setelah usia tua. (Meriati, 2. Sejalan dengan penelitian Fadli rizal menunjukan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan atau ibu pasien . ,38%). Seorang perempuan biasanya lebih teliti dalam merawat dan memperhatikan penya kit yang diderita anak perempuan dibandingkan laki-laki. Sebagian usia anak yang mengalami batuk pilek adalah usia 2-6 tahun 67,69%. (Fadli Rizal, 2. Tabel 4. Distribusi Umur Pasien Swamedikasi Batuk Umur Frekuensi . Persentase (%) Total Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4 diperoleh data rentang usia pasien terbanyak adalah 46-55 tahun sebesar 48% . Hasil penelitian ini diperkuat oleh penelitian (Meriati, 2. dimana batuk meningkat dan mudah menyerang usia lansia awal seiring dengan bertambahnya usia dikarenakan pada usia tersebut daya tahan dan fungsi organ tubuh mulai menurun. JSCPR Puti Munyati Thahirah. Devahimer Harsep Rosi. Khairil Armal Tabel 5. Swamedikasi Batuk Pendidikan Frekuensi . Persentase (%) SMP SMA Total Tabel 6. Distribusi Tempat Melakukan Swamedikasi Batuk Tempat Apotek Mini Market Toko Obat Warung Total Frekuensi Persentase(%) Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 6 didapatkan data responden terbanyak adalah pasien yang melakukan swamedikasi obat di Apotek dengan persentase 86% . kemudian diikuti dengan Toko obat dengan persentase 12% . , berikut mini market 2% . dan di warung tidak ada 0%. Hal ini menunjukkan tingkat pengetahuan pasien kepada tempat memperoleh obat sudah meningkat karena lebih banyak membelinya di apotek yang secara langsung ada petugas kesehatan yang menyerahkan obat dan jika tidak mengerti cara penggunaan atau aturan pakai obat tidak diketahui bisa bertanya lang sung pada petugas yang ada di apotek ter sebut dibandingkan dengan membeli obat di mini market ataupun warung. (Rikesdas, 2. Tabel 7. Distribusi Jenis Batuk Jenis Batuk Batuk Berdahak Batuk Kering Total Frekuensi Persentase (%) Menurut hasil penelitian pada tabel 7 dari data hasil ini, responden terbanyak adalah pasien dengan jenis batuk berdahak melakukan swamedikasi dengan persentase 52% . kemudian diikuti dengan batuk kering dengan persentase 48% . Hal ini menunjukkan banyak pasien yang mengalami gangguan batuk yang produktif disebabkan karena meningkatnya sekret dari mucosa. Batuk berdahak ditandai dengan adanya lendir pada tenggorokan, batuk berdahak dapat terjadi karena adanya infeksi pada saluran nafas seperti influenza, bronkhitis, dan sebagainya. Batuk berdahak juga bisa disebabkan karena seseorang peka terhadap debu, asap rokok, dan polusi udara (Chandrasoma, 2. Batuk non produktif disebabkan karena faktor alergi respondennya lebih sedikit dari yang batuk berdahak. JSCPR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI Tabel 8. Distribusi Hasil Tingkat Pengetahuan Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Frekuensi Persentase (%) Penelitian oleh (Meriati, 2. < 0,. menyimpulkan bahwa ada perbedaan nyata secara rata-rata pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyuluhan, peneliti tersebut menyimpulkan dari hasil pembahasan di atas diketahui bahwa untuk meningkatkan rasionalitas penggunaan obat diperlukan peningkatan pengetahuan. Salah satu cara yang biasa dilakukan adalah dengan melakukan penyuluhan, diperlukan penyuluhan dan edukasi masyarakat sebelum menggunakan obat batuk secara Tabel 9. Distribusi dan Frekuensi Jawaban Kuisioner Responden Keterangan Tepat Indikasi Jumlah Tepat Obat Jumlah Tepat Pemakaian Jumlah Tepat Efek Samping Jumlah Tepat Dosis Jumlah Tepat Interaksi Jumlah Tepat Kontraindikasi Jumlah Tepat Tidak Tepat Tabel 10. Rata-rata Rasionalitas Penggunaan obat Swamedikasi Batuk Penge Baik Cukup Kurang Total Rasionalitas Swamedikasi Tidak Rasio Rasio Nal Total % Value 38 0,000 JSCPR Puti Munyati Thahirah. Devahimer Harsep Rosi. Khairil Armal Tabel 11. Tabulasi Silang Pengetahuan Dengan Rasionalitas Swamedikasi Aspek Pernyataan Tepat Indikasi Tepat Obat Tepat Pemakaian Tepat Efek Samping Tepat Dosis Tepat Interaksi Tepat Kontra Indikasi Rata-rata Benar Salah Nomor Sumber Pernyataan 1,2,4,5,7 11,12 13,14,16 Dari hasil tabel rata-rata rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk, hasil dari kuisioner menunjukkan 77% responden menggunakan obat secara tepat indikasi, 23% responden memiliki nilai salah dan tidak memperhatikan indikasi obat sebelum meminum obat batuk. Hasil dari kuisioner menunjukkan 77% responden menggunakan jenis obat batuk yang tepat, 23% responden menggunakan jenis obat yang tidak tepat. Hasil dari kuisioner menunjuk kan 88% responden melakukan swamedikasi obat batuk secara rasional ketepatan cara pemakaian obat, 12% responden memiliki nilai salah dan tidak memperhatikan nama obat sebelum meminum obat batuk. Sebanyak 62% responden mengerti dengan efek samping obat yang digunakan dan yang 38% lagi 89% pasien melakukan penggunaan obat dengan dosis yang benar, sedangkan 11% orang salah menggunakan dosis karena kurang memahami dosis yang akan Sebanyak 84% pasien sudah memahami interaksi obat sedang kan 16% belum memahami interaksi obat. Untuk 84% pasien sudah menggunakan obat dengan memperhatikan kontra indikasi sedangkan yang 16% belum menggunakan obat dengan memperhatikan kontra indikasi. Uji bivariat dilakukan terhadap kuisioner dengan menggunakan program SPSS IBM 26. Hasil uji statistik dengan menggunakanchi-square menunjukkan bahwa nilai p value sebesar 0,000 < 0,05 sehingga terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk di Apotek Nusantara Kota Bukittinggi. Berdasarkan tabel 9 hasil penelitian diperoleh data tingkat pengetahuan pasien. Faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri sendiri meliputi aspek fisikologis dan psikologis, sedangkan eksternal terdiri atas faktor lingkungan dan non lingkungan. Hasil tabulasi silang, pengetahuan deng an rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk, sebanyak 29 pasien yang berpengetahuan tinggi dan penggunaan obat sebanyak 19 pasien dan yang berpengetahuan sedang, dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 2 pasien. Pengetahuan sangat erat hubungan nya dengan kerasionalan penggunaan obat. Sema kin tinggi pengetahuan seseorang sehingga kesadaran seseorang dari serangan penyakit bangkit untuk mencari informasi untuk kesembuhannya. Berapa hal yang menjadi dasar peni laian ketepatan dalam interaksi obat adalah obat lain yang dikonsumsi selain obat batuk membolehkan meminum obat lain dan memi num obat dengan kopi atau susu. Interaksi dapat terjadi antara obat dengan obat atau JSCPR HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN OBAT SWAMEDIKASI BATUK DI APOTEK NUSANTARA KOTA BUKITTINGGI obat dengan makanan, contoh ketidak tepatan interaksi obat adalah menggunakan obat batuk berdahak dengan obat anti alergi. Berdasarkan tabel 11 hasil uji bivariat untuk kuisioner tingkat pengetahuan denga ra sionalitas penggunaan obat samedikasi batuk didapatkan hasil analisa data diketahui nilai p value 0,000 < 0,05 dan memiliki makna bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahu an dengan rasionalitas penggunaan obat swamedikasi batuk pada pasien batuk di apotek Nusantara. Kesimpulan Berdasarakan penelitian tentang Hubungan tingkat pengetahuan dengan rasio nalitas penggunaan obat swamedikasi batuk di apotek Nusantara dapat disimpulkan: Tingkat pengetahuan pasien dan Rasio nalitas dalam penggunaan obat batuk di Apotek Nusantara kategori Baik Ada hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan obat swamedikasi batuk di apotek Nusantara Saran