Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 Peran Kohesivitas Kelompok Dalam Membangun Prestasi Tim Basket Putri Sma 1 PSKD Jakarta Desta Nirmala Putr. Davis Roganda Parlindungan . Ilmu Komunikasi. Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis Jalan Pulomas Selatan Kav. Jakarta 13210 Email: davis@kalbis. Email: desta. nirmalaputri@gmail. Abstract: This study aimed to determine the role of cohesiveness in Women Basketball Team of PSKD 1 Jakarta Senior High School in encouraging group achievements. Researcher used the concept of group communication, cohesiveness and group achievement theory. A qualitative research approach was employed in this research. Data have been collected by participant observation, in-depth interview with four key informants in Women Basket Ball in PSKD high school, and literature review. Findings showed that: . cohesiveness plays an important role to strengthen and unite team members so that they gain the strength to attained achievements. Therefore obstacles in cohesiveness are communication problems, evaluation, monitoring and internal group problems. Keywords: group achievement, group communication, the role of cohesiveness Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran kohesivitas tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta dalam membangun prestasi kelompok. Penelitian ini menggunakan kajian teori tentang komunikasi kelompok, kohesivitas dan teori prestasi kelompok. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara, observasi dan Berdasarkan analisis data, penulis memperoleh hasil sebagai berikut: . kohesivitas berperan penting dalam membangun tujuan tim ini yaitu menghasilkan prestasi dengan menguatkan tim dan menyatukan tim sehingga mereka mendapatkan kekuatan tersendiri untuk menghasilkan prestasi . adapun hambatan dalam kohesivitas yaitu masalah komunikasi, evaluasi, pengawasan dan masalah internal kelompok. Kata Kunci: komunikasi kelompok, peran kohesivitas, prestasi kelompok PENDAHULUAN Manusia merupakan mahluk sosial yaitu manusia tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Manusia juga mempunyai dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain maka dari itu ada kebutuhan sosial untuk hidup berkelompok dengan orang lain. Hal tersebut seringkali didasari oleh kesamaan ciri dan kesamaan tujuan atau kepentingan. Di dalam kehidupan masyarakat terdapat adanya kelompok-kelompok tertentu yang jumlahnya cukup Kelompok-kelompok ini biasanya terdiri dari anggota yang saling berinteraksi dan memiliki kesukaan dan tujuan yang sama. Setiap individu menemukan suatu kenyamanan dengan bergabung di dalam kelompok, karena di dalam kelompok seseorang akan merasa disukai dan diterima oleh orang disekitarnya. Perasaan diterima dan disukai ini sangat penting bagi semua usia di dalam kehidupan. Solidaritas kelompok merupakan faktor yang sangat penting untuk menjaga keutuhan kelompok. Namun, kelompok yang memiliki kohesi tinggi juga kadang bisa berbentuk negatif. Karena tingkat solidaritas mereka yang terlalu tinggi, maka ada yang merasa bahwa cara apapun bisa benar dilakukan demi menjaga keutuhan kelompok dan demi membela anggota lain di kelompok tersebut. Hal tersebut juga mereka lakukan karena kohesivitas berdampak pada perasaan saling memiliki yang kuat antar anggota. Dalam hal ini, kasus tawuran antar kelompok bisa dijadikan fenomena yang sudah sering terjadi di kehidupan Kasus tawuran antar kelompok ini dilakukan antar kelompok suporter tim sepakbola di Indonesia. Kasus yang sering terjadi biasanya karena adanya fanatisme yang berlebihan terhadap klub yang mereka dukung, kinerja wasit, dan masih banyak lagi. Kenyataanya dampak dari tawuran tersebut adalah menimbulkan korban jiwa. Hal itu disebabkan oleh rasa solidaritas dan kohesi tersebut yang tinggi. Dibalik kohesivitas yang tinggi bisa berdampak negatif, kohesivitas juga bisa berdampak positif dalam penerapannya. Suatu kelompok yang memiliki kohesivitas yang tinggi maka dapat mencapai tujuan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 Kelompok tersebut yang bisa dijadikan contoh adalah sebuah tim di cabang olahraga. dalam olahraga sebuah tim merupakan sekelompok individu yang memiliki tujuan bersama untuk memenangkan kejuaraan, mempertahankan, dan meningkatkan kemampuan yang didasari oleh interaksi dengan pemain dan pelatih. Dimana kohesi yang tinggi dapat membuat sebuah kelompok atau tim lebih mudah dalam mencapai tujuannya yang dalam hal tim olahraga yaitu memenangkan kejuaraan bersama-sama. Sebuah tim orlahraga membutuhkan kekompakan enjadi hal yang penting agar mendapatkan kesuksesan tim. Hal ini menunjukkan bahwa kohesi yang tinggi dapat berbentuk positif juga dalam mencapai tujuan bersama. Kohesivitas itu penting di dalam sebuah kelompok karena ia dapat menyatukan beragam karakter setiap anggota menjadi satu kelompok dalam tim. Kohesivitas dapat menjadi alat pemersatu dan dapat membantu kelompok mencapai tujuannya karena rasa kohesi yang tinggi. Kohesivitas yang tinggi juga penting karena dapat membuat anggotanya memiliki rasa ingin terus berada di kelompok tersebut sehingga menimbulkan adanya keutuhan kelompok. Suatu kohesivitas dirasa sangat penting karena anggota tersebut akan memiliki rasa suatu kepemilikan terhadap kelompoknya sehingga dapat memunculkan motivasi yang besar untuk dapat memperoleh hasil yang maksimal atas tujuan yang ingin mereka capai bersama. Muslihah . 6:56-. menyebutkan bahwa . mempengaruhi produktivitas dalam hal ini adalah kinerja dari anggota kelompok atau tim. Artinya makin anggota berinteraksi satu sama lainnya, maka tujuan kelompok makin sejalan dengan tujuan individu. Salah satu tujuan dari terbentuknya kelompok atau tim ialah agar para anggota tim tertarik satu sama lainnya dan dapat bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan. Kekompakan kelompok sangat mempengaruhi kinerja kelompok atau tim tersebut, jika dalam suatu tim ada anggota yang merasa tidak senang bekerja dalam kelompok atau tim tentu saja ini sangat mempengaruhi padahasil kerja dari tim Oleh karena itu kekompakan dan kerjasama yang baik sangat berarti untuk memperbaiki kinerja dari anggota-anggota tim dalam mencapai tujuannya. Dalam hal ini, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana peran kohesivitas kelompok dapat membangun prestasi dari tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta. Mengingat tujuan dari dibentuknya tim ini adalah setiap anggotanya harus mampu menghasilkan hasil prestasi yang bagus, baik itu dari sisi akademik maupun sisi olahraganya. Tabel 1. Data Prestasi Basket Tim Putri PSKD 1 Tabel 1. Data Prestasi Basket JakartaTim Putri PSKD 1 Jakarta No. Nama Kompetisi DBL SMA 8 Cup Labschool Kebayoran Cup Menpora Cup (Kementrian Olahrag. Penabur Internasional School Cup Pekan Olahraga Remaja Tahun Juara 3 Nasional Juara 1 Tahun 2016 8 Besar Juara 1 Juara 2 Juara 1 Juara 2 Juara 1 Juara 2 Juara 1 Juara 2 Juara 3 Tabel 1. 3 menunjukkan bahwa terlihat ada penurunan tingkat juara yang diperoleh oleh tim basket putri SMA 1 PSKD. Dalam hal ini, dilihat dari perbandingan juara yang didapatkan di tahun 2014 ke Berdasarkan penjelasan dan data masalah di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana peran kohesivitas dalam kelompok dapat membangun prestasi tim basket putri SMA 1 PSKD Jakata. Bungin . dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Komunikasi menjelaskan di dalam konteks komunikasi, terdapat komunikasi kelompok yang merupakan salah satu bentuk komunikasi yang melibatkan lebih dari dua individu. Komunikasi kelompok memiliki hubungan yang intensif di antara mereka satu sama lainnya, terutama kelompok primer, intensitas hubungan di antara mereka merupakan persyaratan utama yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. Kelompok memiliki tujuan dan aturan-aturan yang dibuat sendiri dan merupakan kontribusi arus informasi di antara mereka sehingga mampu menciptakan atribut kelompok sebagai bentuk karakteristik yang khas dan melekat pada kelompok Kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif di antara anggota kelompok, serta tatap muka itu pula akan mengatur sirkulasi komunikasi makna di antara mereka, sehingga mampu melahirkan sentimensentimen kelompok serta kerinduan di antara mereka. Kelompok juga memiliki tujuan-tujuan yang diperjuangkan bersama, sehingga kehadiran setiap orang dalam kelompok diikuti dengan tujuan-tujuan Dengan demikian, kelompok memiliki dua tujuan mereka, yaitu tujuan masing-masing Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 pribadi dalam kelompok dan tujuan kelompok itu Setiap tujuan individu harus sejalan dengan tujuan kelompok, sedangkan tujuan kelompok harus memberi kepastian kepada tercapainya tujuantujuan individu. Sebuah kelompok akan bertahan lama apabila dapat memberi kepastian bahwa tujuan individu dapat dicapai melalui kelompok, sebaliknya individu setiap saat dapat meninggalkan kelompok apabila ia menganggap kelompok tidak memberi kontribusi bagi tujuan pribadinya. Bungin . 6: . menjelaskan ada empat elemen kelompok yang dikemukakan oleh yaitu pertama, interaksi dimana dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terikat dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagi kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain. Kedua, waktu yaitu sekumpulan orang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat sebagai Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat Ketiga, ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Keempat, tujuan yaitu mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya. Armando . 4:8. memaparkan bahwa kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang membangun anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan McDavid dan Harari Jalaluddin . menyarankan bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain, ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok, sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal. Rakhmat . menguraikan kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan anggota kelompok. Makin kohesif kelompok makin besar tingkat kepuasan anggota Dalam kelompok yang kohesif, anggota merasa aman dan terlindungi, sehingga komunikasi menjadi bebas, lebih terbuka, dan lebih sering. Pada kelompok yang kohesifitasnya tinggi, para anggota terikat kuat dengan kelompoknya, maka mereka makin mudah melakukan konformitas. Makin kohesif kelompok, makin mudah anggota-anggotanya tunduk pada norma kelompok, dan makin tidak toleran pada anggota yang deviant. Kohesi kelompok juga dapat diartikan kekompakan kelompok yang dapat didefinisikan sebagai kekompakan kelompok yang menunjukkan tingkat rasa untuk tetap tinggal di dalam kelompok yang merupakan salah satu hasil dari saling Anggota kelompok yang tingkat kekompakan kelompoknya tinggi lebih terangsang untuk aktif mencapai tujuan kelompok, dibandingkan anggota kelompok yang tingkat kekompakannya Kekompakan meningkatkan potensi kelompok dan meningkatkan rasa memiliki kelompok pada diri anggota kelompok. Semakin kompak suatu kelompok maka rasa loyalitas, keterlibatan, dan rasa keterikatan akan semakin erat. Seluruh anggota kelompok akan selalu mengadakan interaksi sehingga memudahkan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan. Morisan . 0:202-. menjelaskan salah satu faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok adalah kepemimpinan kelompok, dimana memiliki dua jenis pemimpin yang berbeda yaitu pertama, pemimpin pekerjaan . ask leade. adalah anggota kelompok yang memfasilitasi dan mengkoordinasikan berbagai pandangan atau komentar anggota yang terkait dengan pekerjaan dan mengarahkan energi dan upaya bersama untuk menyelesaikan Dalam contoh kelompok mahasiswa yang mengerjakan tugas penelitian, biasanya akan terdapat satu orang yang rajin memberitahu anggota lainnya mengenai adanya rencana rapat kelompok, ia memastikan semua orang hadir, mempersiapkan topik-topik yang perlu dibahas, mengambil inisiatif untuk memulai pekerjaan . isalnya menghubungi orang-orang yang perlu ditanya terkait dengan tuga. , pokoknya ia menunjukkan perhatiannya yang besar terhadap kualitas pekerjaan kelompok. Orang semacam ini masuk ke dalam kategori pemimpin pekerjaan atau task leader. Kedua, pemimpin sosioemosional . ocioemotional leade. yaitu anggota kelompok yang bekerja untuk memperbaiki hubungan dalam kelompok, ia memfokuskan perhatiannya pada interaksi dalam sektor positif dan negatif sebagaimana yang terdapat dalam skema. Ia adalah orang yang memberikan perhatian pada hubungan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 dalam kelompok. Ia selalu memberikan semangat kepada anggota lainnya, berupaya meredakan konflik dan ketegangan, memuji keberhasilan seseorang dan ia secara umum membangun terciptanya hubungan yang positif. Orang semacam ini masuk ke dalam kategori pemimpin emosional. Teori Prestasi kelompok dikemukakan oleh Stogdill (Santoso, 2010: . yang menganggap teori-teori tentang kelompok pada umumnya didasarkan pada konsep tentang interaksi yang memiliki kelemahan teoritis tertentu. Maka dari itu. Stogdill mengajukan teori prestasi kelompok. Teori yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan masukan . , variabel media, danprestasi . dari suatu kelompok. Stogdill berpendapat bahwa kelompok merupakan sistem hubungan terbuka di mana tiap-tiap anggota kelompok mempunyai tingkah laku yang saling mempengaruhi satu sama lain dan di mana tingkah laku anggota bertujuan untuk mencapai tujuan kelompok yakni prestasi kelompok. Konsep dan prosedur teori prestasi kelompok tersebut adalah input yang terdiri dari interaksi, tingkah laku, dan Harapan. Sedangkan media dalam struktur dan operasi kelompok yang terdiri dari struktur formal. fungsi dan status, struktur peran yakni tanggung jawab dan otoritas, serta output produktivitas, moral, dan kesatuan. Santoso . 0: 213-. menjabarkan teori prestasi kelompok, yaitu yaitu input ini adalah segala sesuatu yang berasal dari masing-masing anggota sebagai masukan dan input ini terdiri dari yaitu interaksi sosial, yakni tingkah laku masing-masing anggota kelompok yang berupa tingkah laku aksi dan reaksi, yang saling mempengaruhi. Misal, si A mengajak si B berlatih dan si B ikut serta dalam Tingkah laku, yakni segala aktivitas dari tiaptiap anggota kelompok yang merupakan bagian dari interaksi sosial. Misal, si A mengajak si B berlatih. Harapan, yakni kesediaan tiap-tiap anggota kelompok untuk mendapatkan penguat, yang berupa fungsi dorongan, perkiraan hasil yang menyenangkan/tidak dan perkiraan tentang kemungkinan hasil-hasil itu benar-benar terjadi. Misal, si A ingin berlatih keras dan mengajak si B berlatih . ungsi doronga. karena si B dapat diajak bermain dengan baik . erkiraan hasil menyenangka. dan ternyata saat berlatih berjalan baik dan lancar . erkiraan hasil yang benarbenar terjad. Stogdill (Santoso, 2010: . menyebutkan posisi adalah kedudukan serta tingkah laku yang diharapkan dan hubungan antar anggota yang di dalam struktur formal ini meliputi fungsi yaitu sumbangan yang diharapkan dari tiap-tiap anggota dalam posisi tertentu dalam rangka pencapaian tujuan kelompok. Misal, si A harus cepat menendang bola pada si B, si B membaca bola sebentar kemudian diberikan si C, dan si C membelokkan bola untuk ditendang ke arah Status yakni kebenaran seseorang untuk berinisiatif dalam posisi tertentu dalam mencapai tujuan kelompok. Misal, si A kadang-kadang maju ke tengah, si B berpindah ke kanan/kiri, dan si C menendang bola sambil berlari. Stuktur pesan adalah perkiraan tentang tingkah laku yang diharapkan dari tiap-tiap anggota kelompok dalam posisi tertentu, yang dihubungkan dengan sifat pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Misal, si B diberikan posisi pemain tengah karena si B kuat berlari dan mempunyai ketahanan fisik serta kemampuan prestasi tinggi. Dalam peran tersebut, tercakup dua hal pokok yaitu tanggung jawab yakni serangkaian hasil kegiatan yang diharapkan dari tiap-tiap anggota kelompok dalam batas-batas posisinya. Misal, si B diharapkan mampu mengejar bola di seluruh bagian lapangan tengah. Otoritas adalah tingkat kebebasan yang diharapkan untuk mempraktikkan kegiatan bagi tiap anggota kelompok dalam posisinya. Misal, si B dapat berpindah-pindah tempat dengan pemain tengah lainnya, dan saling menerjang, bertahan, dan menyerang bagi kesebelasannya. Hubungan antara status dan fungsi di satu pihak dengan tanggung jawab dan otoritas di lain pihak adalah makin tinggi status seorang anggota makin besar otoritasnya. Misal, si b berkemampuan mengolah bola, maka si B diizinkan membawa bola sampai garis gawang lawan. Tanggung jawab seorang anggota diharapkan agar berhubungan dengan fungsi yang bersangkutan dalam Misal, si B yang meliuk-liuk menggiring bola, diharapkan memudahkan si C mengolah bola ke gawanglawan dan dengan bebas menendang bola. Segala efektifitas kelompok dalam mencapai tujuannya dalam arti luas. Oleh karena itu, prestasi kelompok meliputi produktivitas, yakni derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh tingkah laku kelompok, baik ke arah nilai positif maupun nilai negatif. Misal, si A, si B dan si C semakin giat berlatih dan dapat menciptakan tim kerja yang baik/kompak bagi kesebelasannya. Moral kelompok, yakni kebebasan individu anggota kelompok untuk bertindak, berinteraksi, menguatkan harapan dan menunjukkan tingkah laku yang mengarah pada tujuan Misal, setiap pemain suatu kesebelasan saling berinisiatif dalam tingkah laku, saling menunjang, saling membangun, dan makin saling kompak agar kesebelasannya menjadi kuat. Kesatuan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 kelompok adalah tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasi tiap-tiap anggota kelompok dalam kondisi yang optimal. Misal, setiap anggota kelompok tampak puas, saling menyukai satu sama lain, saling mendukung dan kerjasama, serta menyukai pimpinan Bales (Dalam Morisan 2010: 200-. analisis proses interaksi terdiri atas enam kategori sebagai berikut pertama, jika masing-masing anggota kelompok tidak saling berbagi informasi, maka kelompok akan mengalami masalah komunikasi. Kedua, jika masing-masing anggota kelompok tidak saling berbagi pendapat maka kelompok akan mengalami masalah evaluasi. Ketiga, jika masingmasing anggota kelompok tidak saling bertanya dan memberikan saran, maka kelompok akan mengalami masalah pengawasan. Keempat, jika masing-masing anggota kelompok tidak bias mencapai kesepakatan maka mereka akan mendapatkan masalah keputusan. Kelima, jika tidak terdapat cukup dramatisasi dalam kelompok akan muncul masalahketegangan. Keenam, jika anggota kelompok berperilaku tidak ramah atau bersahabat maka akan terdapat masalah reintegrasi yang berarti kelompok tidak akan mampu membangun perasaan kita atau kesatuan dalam kelompok. Dalam membuat tugas kelompok atau tugas bersama, adapun masalah yang muncul jika masingmasing anggota kelompok menyimpan informasi dan tidak memberitahukannya kepada anggota lainnya maka mereka tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan masing- masing anggota untuk mencapai tujuan Masing-masing anggota kelompok tidak mampu memberikan pendapat maka mereka tidak akan mampu mengevaluasi ide dan gagasan, dan kelompok itu akan berakhir nasibnya dengan hasil yang buruk. Masing-masing anggota kelompok tidak ada yang memberikan saran, maka kelompok tidak memiliki elemen pengawasan karena tidak ada anggota yang mengatakan mengenai apa yang harus dilakukan Semua anggota kelompok bersikap setuju saja, yang penting cepat selesai, maka idea tau gagasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan tidak teruji sehingga kelompok menghasilkan keputusan yang buruk, sebaliknya seluruh anggota memiliki perbedaan pendapat pendapat maka akan terdapat banyak konflik, dan kelompok tidak akan mampu membuat keputusan sama sekali. Anggota kelompok tidak memiliki sifat santai atau rileks sama sekali, misalnya tidak ada humor atau canda tawa, maka muncullah ketegangan sehingga menghasilkan kelompok yang tidak produktif. II. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif yang menyiratkan penekanan pada proses dan makna yang tidak dikaji secara ketat atau belum diukur dari sisi kuantitas, jumlah, intensitas, atau Penelitian kuantitatif menekankan sifat realita yang terbangun secara sosial, hubungan erat antara peneliti dengan subjek yang diteliti, dan tekanan situasi yang membentuk penyelidikan. Penelitian ini mementingkan sifat penyelidikan yang sarat-nilai. Peneliti mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menyoroti cara munculnya pengalaman sosial sekaligus perolehan maknanya. (Denzin dan Lincoln, 2009: . Dalam pendekatan kualitatif pada penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati pada subjek penelitian. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu secara holistik. Selain itu pendekatan kualitatif memungkinkan dan memfasilitasi seorang peneliti untuk mempelajari suatu objek kajian secara mendalam dan detail. Kegiatan lapangan, prosedur dan pendekatannya, tidak dibatasi dan ditentukan sbelum kegiatan penelitian Hal ini memungkinkan terjadinya penyesuaian selama kegiatan penelitian berlangsung. Peneliti dapat mengajukan pertanyaan bebas terbuka untuk menjelajahi pemikiran para interviewers tentang objek kajian. Sehingga pendekatan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dimana peneliti menggunakan jenis penelitian ini karena peneliti ingin mendeskripsikan hasil penelitian secara sistematis, faktual, akurat tentang fakta-fakta di dalam tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta. Narasumber dalam penelitian ini adalah pelatih dari tim basket SMA 1 PSKD Jakarta yang cukup lama melatih dan mengatur anggota-anggota di tim basket ini. Narasumber lainnya juga adalah staff di tim tersebut yang mengurus dan mengatur juga kegiatan latihan dan semua kegiatan di dalam asrama tim basket putri tersebut. Peneliti juga memiliki satu orang anggota dari tim tersebut, yakni kapten tim basket tersebut. Serta ketua program dari basket SMA 1 PSKD Jakarta yang mengetahui seluk beluk dari tim ini dan mengetahui keadaan prestasi akademik dari anggota di dalam tim ini. Selain itu ada pelatih lapangan tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta yang memiliki peran dalam mengatur dan menjaga kemampuan atau skill dari anggota di dalam tim Selain itu, beliau juga paham betul bagaimana menjaga kekompakan itu sendiri di dalam tim ini. Selain itu kapten dari tim basket putri SMA 1 PSKD Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 Jakarta. Beliau menjabat sebagai kapten sejak tahun 2016 lalu. Beliau memiliki peran dalam mengatur anggota-anggota nya di dalam tim dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga kekompakan di dalam tim. Teknik pengumpulan data di dalam penelitian ini yaitu melalui data primer dan sekunder. Data primer melalui wawancara mendalam dan obervasi. Sedangkan data sekunder melalui teori-teori dari buku yang sesuai dengan objek penelitian, data dari media, data dari tim basket putri dan hasil penelitian dari jurnal-jurnal. Pengumpulan data juga akan disertai dokumentasi sebagai bukti bahwa penulis melakukan wawancara langsung dengan narasumbernya. Dalam penelitian ini, peneliti akan menggali lebih dalam bagaimana komunikasi kelompok yang terjadi di dalam tim basket putri SMA 1 PSKD serta bagaimana kemudian komunikasi kelompok tersebut dapat membentuk kohesivitas. Kemudian, peneliti melakukan observasi partisipan karena ikut juga berperan sebagai anggota di tim basket tersebut dalam mengamati atau mengobervasi penelitian. Teknik-teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yng memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara, seperti ditegaskan oleh Lincoln dan Guba . 5: . , antara lain mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain kebulatan, merekonstruksi kebulatankebulatan demikian sebagai yang dialami masa lalu, memproyeksikan kebulatan-kebulatan sebagai yang telah diharapkan untuk dialami pada masa yang akan datang, memverifikasi, mengubah dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekan anggota. Dan jenis wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara terstruktur. Moleong . 2: . wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan- pertanyaan yang akan diajukan. Untuk itu pertanyaan-pertanyaan disusun dengan ketat. Jenis ini dilakukan pada situasi jika sejumlah sampel yang representatif ditanyai dengan pertanyaan yang sama dan hal ini penting sekali. Semua subjek dipandang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan-pertanyaan itu disusun sebelumnya dan didasarkan atas masalah dalam desain penelitian. Peneliti menggunakan jenis wawancara terstruktur karena peneliti membutuhkan panduan pertanyaan yang akan diajukan kepada Selain itu, semua subjek juga memiliki kesempatan yang sama dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. Maka dari itu, peneliti memilih jenis wawancara tersebut. Tahap berikutnya pengamatan atau observasi yaitu pengamatan memungkinkan peneliti melihat dan mengamati sendiri, kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi pada keadaan sebenarnya. Pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan dan sebagainya, pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana yang dilihat oleh subjek penelitian, hidup pada saat itu, menangkap arti fenomena dari segi pengertian subjek, menangkap kehidupan budaya dari segi pandangan dan anutan para subjek pada keadaan waktu itu (Moleong, 2002: 125-. Dalam metode penelitian observasi yang digunakan peneliti adalah Observasi Partisipan. Denzin dan Lincoln . 9: 316-. menyebutkan bahwa observasi partisipan adalah pengamatan yang peneliti nya berhasil berperan menjadi partisipan di lokasi penelitian. Maka dari itu, peneliti perlu melakukan pengamatan langsung terhadap kegiatan atau tingkah laku yang terjadi di dalam tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta. Teknik analisis data menurut Moleong . 2: . adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data. Pekerjaan analisis data adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, dan mengkategorikan semua data yang telah terkumpul (Moleong, 2002: . Metode analisis data yang digunakan peneliti adalah metode oleh Miles dan Huberman. Peneliti menggunakan metode ini karena peneliti ingin menganalisis data yang dikumpulkan melalui tahaptahap yang dapat memudahkan peneliti menjawab rumusan masalah dari penelitiam ini. Adapun yang membagi menjadi tiga sub proses yang saling terkait dalam metode Miles dan Huberman, yaitu tahap pertama, reduksi data yang artinya potensi yang dimiliki oleh data disederhanakan. Hal ini dilakukan ketika peneliti menentukan kerangka kerja konseptual, pertanyaan penelitian, kasus, dan instrument penelitian yang digunakan. Jika hasil catatan lapangan, wawancara, rekaman, dan data lain telah tersedia, tahap seleksi data berikutnya adalah Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 perangkuman data . ata summar. , pengodean . , merumuskan tema-tema, pengelompokan . , dan penyajian cerita secara tertulis. Di dalam tahap ini, peneliti mereduksi data-data yang tidak perlu, memilih hal-hal yang penting saja untuk dimasukkan ke dalam analisis. Datadata yang direduksi biasanya gangguan-gangguan yang terjadi di dalam wawancara serta data-data yang tidak penting. Tahap kedua, penyajian data secara terstruktur yang memungkinkan pengambilan kesimpulan dan penerapan aksi. Penyajian data merupakan bagian kedua dari tahap analisis. Peneliti perlu mengkaji proses reduksi data sebagai dasar pemaknaan. Penyajian data yang lebih terfokus meliputi ringkasan terstruktur dan Di dalam tahap ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk uraian singkat, bagan, atau hubungan antar kategori. Peneliti melakukan hal tersebut hingga memahami apa yang terjadi dari penelitian ini. Tahap ketiga, penarikan kesimpulan. Tahap ini melibatkan peneliti dalam proses interpretasi, penetapan makna dari data yang tersaji. Cara yang bisa digunakan akan semakin metode komparasi, merumuskan pola dan tema, pengelompokkan . , dan penggunaan metafora tentang metode konfirmasi seperti triangulasi, mencari kasus-kasus negatif, menindaklanjuti temuan-temuan, dan cek silang hasilnya dengan responden. Di dalam tahap ini, peneliti menarik kesimpulan dari data yang sudah Peneliti dapat menyimpulkan kesimpulan yang kredibel setelah didukung oleh bukti-bukti valid dan konsisten. Melalui ketiga tahapan tersebut, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai hasil dari penelitian yang dilaksanakan dan dapat menemukan jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini tentang peran kohesivitas kelompok dalam membangun prestasi kelompok khususnya tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta yang berlokasi di Jl. Diponegoro No. Jakarta Pusat. Di sekolah ini memiliki sebuah program beasiswa olahraga basket yang dibentuk pada awal tahun 2000. Program ini memiliki konsep untuk mengembangkan anak-anak di dalam program tersebut dan menyiapkan mereka untuk siap ke dunia luar serta dapat mengembangkan Dari program ini, tentunya juga diharapkan ada prestasi yang dihasilkan seperti prestasi basket dari tim dan juga diseimbangkan dengan prestasi akademik oleh masing-masing anak di dalam program Pendiri program merasa olahraga basket yang dapat menjadi media mereka dalam mewujudkan semua itu. Anak-anak yang berada di program beasiswa ini harus menjalankan beberapa kewajiban mereka juga seperti latihan rutin, ikut bertanding, dan tinggal di asrama atau mess basket, serta wajib mengikuti dan mematuhi peraturan-peraturan program yang telah dibuat. Anak-anak tersebut akan mendapatkan beberapa fasilitas atau haknya seperti tempat tinggal atau asrama, sepatu basket, kostum basket, uang saku per minggu, makanan dan minuman di asrama. Dengan berjalannya program tersebut di SMA 1 PSKD Jakarta mengalami peningkatan prestasi, pendiri merasa secara konseptual berhasil. Dengan berjalannya waktu, basket putra juga menjadi dilibatkan dan dimasukkan ke dalam program ini. Dari program yang dibuat ini menjadi jalur promosi. Selain itu terlihat dari akademik meningkat, perilaku anak-anak membaik, kasus- kasus seperti tawuran dari dulu juga lama-lama tidak ada lagi. Jadi ada efek positifnya dari program tersebut. Perlu diketahui juga bahwa semua biaya untukoperasioanal program ini dibiayai oleh pusat perkumpulan semua PSKD. Menurut Bungin . 6: . komunikasi kelompok yang merupakan salah satu bentuk komunikasi yang melibatkan lebih dari dua individu. Komunikasi kelompok memiliki hubungan yang intensif di antara mereka satu sama lainnya, terutama kelompok primer, intensitas hubungan di antara mereka merupakan persyaratan utama yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. Berdasarkan hasil observasi peneliti di lapangan, peneliti menemukan adanya hubungan yang intensif di antara mereka serta adanya intensitas hubungan juga di dalam tim tersebut karena mereka selalu menjalankan segala kegiatan bersama seperti latihan bersama, mengikuti kegiatan sekolah bersama, serta melakukan berbagai kegiatan di asrama bersama karena mereka berada di tempat tinggal yang sama. Hubungan yang intensif tersebut juga tercipta karena faktor mereka tinggal di tempat tinggal yang sama sehingga intensitas hubungan mereka di antara anggota juga semakin tinggi. Sebagai koordinator atau staff di mess/asrama tim basket putri ini menyatakan bahwa hubungan mereka dinilai intensif dan memiliki intensitas yang tinggi karena faktor mereka berada di satu tempat tinggal yang sama. Kegiatan yang mereka lakukan juga banyak sekali di dalam asrama tersebut, sehingga mereka pun selalu berinteraksi dan bersama. Kelompok memiliki tujuan dan aturan-aturan yang dibuat sendiri dan merupakan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 kontribusi arus informasi di antara mereka sehingga mampu menciptakan atribut kelompok sebagai bentuk karakteristik yang khas dan melekat pada kelompok Di dalam tim basket ini, terdapat aturan-aturan yang dibuat baik untuk akademik dan juga untuk basket nya itu. Sedangkan pelatih utama dan asisten pelatih dari tim ini mengatakan bahwa aturan-aturan di dalam tim ini seperti semua anggota di dalam tim ini harus memiliki nilai disiplin, jujur, bertanggung jawab dan respek dengan semua. Aturan ini juga dibuat untuk membuat tim di dalamnya solid. Kapten dari tim ini juga menilai bahwa aturan yang dibuat tidak hanya aturan baku seperti di sekolah atau aturan seperti harus latihan dan belajar melainkan ada aturan-aturan untuk membuat tim nya dapat mencapai tujuan mereka seperti hal sama yang dijelaskan pelatih mereka juga seperti disiplin, respek dan saling berkomunikasi untuk setiap masalah apapun harus dibicarakan bersama. Selain itu juga seperti yang sudah disebutkan bahwa kelompok memiliki tujuan dan aturan-aturan yang dibuat sendiri dan merupakan kontribusi arus informasi di antara mereka sehingga mampu menciptakan atribut kelompok sebagai bentuk karakteristik yang khas dan melekat pada kelompok Berdasarakan hasil wawancara dan observasi ke dalam tim basket ini, semua aturan tersebut serta arus informasi di antara mereka telah menciptakan atribut tim sebagai karakteristik khas yang melekat di dalam tim ini. Pelatih utama dan pendiri program beasiswa basket ini mengatakan bahwa semua standar tinggi yang ditetapkan oleh beliau seperti akademik, perilaku, dan latihan merupakan hal yang beliau bentuk untuk mendapatkan karakteristik khas yang baik bagi tim ini. Kelompok yang baik adalah kelompok yang dapat mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif di antara anggota kelompok, serta tatap muka itu pula akan mengatur sirkulasi komunikasi makna di antara mereka, sehingga mampu melahirkan sentimensentimen kelompok serta kerinduan di antara mereka. Berdasarkan hasil observasi dan hasil wawancara yang dilakukan peneliti adalah semua anggota di dalam tim ini mengatur sirkulasi tatap muka yang intensif di antara mereka karena adanya kegiatan-kegiatan yang harus mereka lakukan bersama seperti latihan dan belajar di sekolah. Dengan begitu, tim basket putri ini dapat dinyatakan sebuah kelompok yang Bungin . menjelaskan kelompok juga memiliki tujuan-tujuan yang diperjuangkan bersama, sehingga kehadiran setiap orang dalam kelompok diikuti dengan tujuan-tujuan pribadinya. Dengan demikian, kelompok memiliki dua tujuan mereka, yaitu tujuan masing-masing pribadi dalam kelompok dan tujuan kelompok itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan di dalam tim ini, mereka memang mempunyai tujuan pribadi masingmasing seperti harus menghasilkan akademik yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Selain menjadi anggota di tim basket, mereka juga merupakan murid di SMA 1 PSKD Jakarta yang diharuskan menyelesaikan semua tugas, ujian dan mendapatkan nilai yang baik di sekolah. Selain itu, mereka juga memiliki tujuan bersama atau tujuan kelompok yaitu mendapatkan prestasi basket untuk tim mereka. Setiap tujuan individu harus sejalan dengan tujuan kelompok, sedangkan tujuan kelompok harus memberi kepastian kepada tercapainya tujuantujuan individu. Sebuah kelompok akan bertahan lama apabila dapat memberi kepastian bahwa tujuan individu dapat dicapai melalui kelompok, sebaliknya individu setiap saat dapat meninggalkan kelompok apabila ia menganggap kelompok tidak memberi kontribusi bagi tujuan pribadinya. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan staff mess di tim ini adalah tujuan tim ini telah dapat memberi kepastian dengan tercapainya tujuan anggota dan ada kepastian bahwa tujuan anggota dapat dicapai melalui kelompok. Hal ini dapat dijelaskan melalui pendapat Steviana sebagai staff mess dan Grace sebagai Kapten dari tim ini bahwa mereka dapat melalui semua tugas dari sekolah dan menyelesaikan nilai di sekolah yang merupakan tujuan individu dari mereka juga karena tim mereka yang membantu. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan individu mereka juga dapat dicapai melalui kelompok yang dalam hal ini mereka dapat mencapainya melalui bantuan dan kinerja dari tim Hal seperti itu juga menunjukkan bahwa ada kekompakan yang terbentuk di dalam tim ini. Bungin . menjelaskan bahwa ada empat elemen kelompok yang dikemukakan oleh Adler dan Rodman (Sendjaja, 2002:3. , yaitu pertama, interaksi dalam komunikasi kelompok merupakan faktor yang penting, karena melalui interaksi inilah, kita dapat melihat perbedaan antara kelompok dengan istilah yang disebut dengan coact. Coact adalah sekumpulan orang yang secara serentak terikat dalam aktivitas yang sama namun tanpa komunikasi satu sama lain. Misalnya, mahasiswa yang hanya secara pasif mendengarkan suatu perkuliahan, secara teknis belum dapat disebut sebagi kelompok. Mereka dapat dikatakan sebagai kelompok apabila Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 sudah mulai mempertukarkan pesan dengan dosen atau rekan mahasiswa yang lain. Di dalam tim ini terjadi proses pertukaran pesan atau informasi baik di antara anggota maupun dengan pelatih atau staff mess. Pertukaran pesan atau informasi tersebut dilakukan baik melalui media maupun secara tatap muka. Semua informan mengganggap bahwa pertukaran informasi secara tatap muka lebih efektif dan lebih bagus dilakukan karena baik yang memberikan pesan maupun yang menerima pesan lebih mengerti yang disampaikan. Pertukaran pesan atau informasi melalui media yang biasa mereka lakukan adalah di dalam grup media sosial mereka yaitu grup line. dalam grup tersebut biasanya mereka bertukar pesan mengenai pertandingan dan latihan. Di dalam grup tersebut juga biasanya ada pengumuman atau pemberitahuan dari pelatih. Pelatih utama juga mengatakan bahwa jika interaksinya bertujuan untuk membicarakan suatu masalah, mencari solusi, atau melatih pasti mereka akan bertatap muka. Beliau merasa untuk hal-hal seperti itu, si pemberi dan penerima pesan harus melihat dan mendengar pesan non verbal seperti gestur, intonasi dan merasakan feedbacknya langsung. Kedua. Sekumpulan orang berinteraksi untuk jangka waktu yang singkat, tidak dapat sebagai kelompok. Kelompok mempersyaratkan interaksi dalam jangka waktu yang panjang, karena dengan interaksi ini akan dimiliki karakteristik atau ciri yang tidak dipunyai oleh kumpulan yang bersifat sementara. Tim ini jelas berinteraksi dalam jangka waktu yang panjang karena mereka terikat beasiswadi dalam tim ini sampai dengan lulus dari bangku SMA yaitu selama 3 tahun. Ketiga, ukuran atau jumlah partisipan dalam komunikasi kelompok. Tidak ada ukuran yang pasti mengenai jumlah anggota dalam suatu kelompok. Jumlah partisipan atau jumlah anggota di dalam tim ini tidak pasti karena setiap tahunnya jumlah mereka akan bertambah dan berkurang dengan beberapa faktor seperti lulusnya angkatan kelas 3 setiap tahun dan bertambahnya anak yang akan masuk ke dalam tim ini sebagai angkatan kelas 1 SMA. Selain itu juga ada faktor seperti keluarnya anggota karena banyak faktor atau masuknya anggota baru dari pindahan sekolah lain. Jadi, tidak ada ukuran pasti mengenai jumlah anggota di dalam tim ini. Keempat, elemen terakhir adalah tujuan yang mengandung pengertian bahwa keanggotaan dalam suatu kelompok akan membantu individu yang menjadi anggota kelompok tersebut dapat mewujudkan satu atau lebih tujuannya. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti dengan tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta, keanggotaan mereka di dalam tim membuat masing masing anggota di dalam tim ini juga lebih mudah mewujudkan tujuan mereka masing-masing. Misalnya adalah pada saat waktu penyelesaian nilai di waktu- waktu dekat ke pengambilan rapor atau waktu kenaikan kelas ada beberapa anggota di dalam tim ini yang mengalami masalah dalam nilai. Karena keanggotaan mereka di dalam tim, maka hal tersebut dapat mudah dilalui dengan bantuan dari anggota lain di tim tersebut. Menurut Armando . 4: 8. kohesi kelompok didefinisikan sebagai kekuatan yang membangun anggota kelompok untuk tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan McDavid dan Harari Jalaluddin . menyarankan bahwa kohesi diukur dari beberapa faktor sebagai berikut yakni ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu sama lain, ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok, sejauh mana anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personal. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pelatih, staff mess, kapten tim ini dan asisten pelatih adalah pertama, ketertarikan anggota secara interpersonal satu sama lain. Menurut pelatih, di dalam tim ini sebuah ketertarikan secara interpersonal itu penting karena dapat membuat tim lebih fleksibel, dapat membuat tim beradaptasi dengan hal-hal baru dan dapat memulai strategibaru. Sedangkan menurut staff di mess, kapten dari tim dan asisten pelatih dari tim ini, ketertarikan secara interpersonal merupakan hal yang penting karena basket merupakan olahraga tim yang membuat hal tersebut harus ada di dalam sebuah tim. Karena kalau hal tersebut tidak ada maka akan mempersulit semua anggota di dalam tim ini untuk mencapai tujuan mereka. Menurut mereka jugaketertarikan dan kecocokan secara personal sudah terbentuk karena faktormereka berada disatu tempat tinggal sehingga mereka sering melakukan segala kegiatan bersama. Selain itu semua kegiatan di dalam mess tersebut dinilai dapat membantu meningkatkan ketertarikan atau kecocokan satu sama lain antar individunya. Dalam hal ini, ketertarikan secara interpersonal di dalam tim ini masuk ke dalam tahap hubungan interpersonal yang sudah masuk ke intimacy atau keintiman. Hal tersebut dinilai karena kedekatan yang sangat intim tersebut sudah terbentuk dari faktor tinggal di tempat yang sama dan melakukan semua kegiatan Sehingga mereka sudah melalui tahaptahap perkembangan sebelumnya seperti kesadaran pra interaksi, kenalan, eksplorasi, dan intensifikasi. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 Namun, mereka akan mengalami penurunan dalam tahap perkembangan hubungan interpersonal dari efek pemisahan sampai kekacauan jika mereka sedang mengalami masalah atau hambatan- hambatan dalam kohesivitas seperti masalah komunikasi, pengawasan, evaluasi, dan sebagainya. Kedua, ketertarikan anggota dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Menurut pelatih di dalam tim ini, ketertarikan anggota pada kegiatan juga sangat penting karena kegiatan mereka tidak akan berjalan lancar dan berjalan jika tidak ada ketertarikan mereka dengan kegiatan tersebut. Sedangkan staff mess juga mengatakan bahwa hal tersebut sangat penting karena yang akan mereka lakukan akan berantakan dan asal jika tidak ada ketertarikan dengan kegiatan tersebut. Di samping itu, kapten dari tim ini juga mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas mereka akan susah dijalankan jika tidak ada ketertarikan dengan kegiatan-kegiatan mereka. Sedangkan asisten pelatih juga menyatakan bahwa ketertarikan anggota dengan kegiatan mereka seperti latihan dan tanding itu sangat penting. Karena dengan begitu akan memaksimalkan performa mereka di setiap kegiatan Kegiatan-kegiatan tersebut seperti latihan, bertanding, kegiatan belajar di sekolah, dan kegiatankegiatan di asrama mereka. Kohesi kelompok juga dapat diartikan kekompakan kelompok yang dapat didefinisikan sebagai berikut bahwa kekompakan kelompok menunjukkan tingkat rasa untuk tetap tinggal di dalam kelompok yang merupakan salah satu hasil dari saling ketergantungan positif. Anggota kelompok yang tingkat kekompakan kelompoknya tinggi lebih terangsang untuk aktif mencapai tujuan kelompok, dibandingkan anggota kelompok yang tingkat kekompakannya rendah. Kekompakan meningkatkan potensi kelompok dan meningkatkan rasa memiliki kelompok pada diri anggota kelompok. Semakin kompak suatu kelompok maa rasa loyalitas, keterlibatan, dan rasa keterikatan akan semakin erat. Seluruh anggota kelompok akan selalu mengadakan interaksi sehingga memudahkan pelaksanaan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pelatih, asisten pelatih, kapten dari tim ini dan staff di mess yaitu pertama, pentingnya sebuah kekompakan di dalam tim ini. Menurut pelatih dari tim ini kekompakan merupakan hal yang sangat penting. Karena kalau tidak ada kekompakan maka programnya pun tidak akan berhasil. Beliau menganggap bahwa kekompakan sangat penting untuk mencapai prestasi tim. Prestasi tim dapat dicapai jika tidak ada kekompakan hanya pada level tertentu misalnya tim professional seperti WNBA atau NBA. Menurut staff mess kekompakan merupakan hal yang sangat penting dan beliau menganggap bahwa kekompakan merupakan modal lebih dibandingkan skill. Menurutnya tim yang kompak dengan skill yang kurang akan lebih baik dibandingkan denga tim yang skill yang bagus tetapi tidak ada kekompakannya. Sedangkan menurut asisten pelatih, kekompakan dirasa sangat penting karena basket merupakan olahraga beregu maka kekompakan sangat Lalu menurut kapten sendiri adalah kekompakan juga merupakan hal yang sangat penting di dalam tim ini dan ditambah lagi dengan kegiatankegiatan mereka yang ada di asrama juga membentuk dan mengandalkan kekompakan di antara mereka. Menurut Zulkarnian . 3: 60-. ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok yaitu kepemimpinan Kelompok dimana dapat menumbuhkan rasa kebersamaan di antara anggota kelompok serta dapat menetralisasi setiap perbedaan yang terdapat dalam kelompok. Dengan demikian, rasa memiliki dan kekompakan kelompok semakin Sehingga kepemimpinan kelompok yang baik akan menghasilkan kekompakan kelompok yang semakin kuat. Menurut pelatih tim basket putri SMA 1 PSKD Jakarta mengenai hal ini adalah kepemimpinan di dalam tim ini sangat penting. Beliau merasa bahwa semua anggota mempunyai peran pemimpin yang Beliau juga menjelaskan bahwa kepemimpinan yang diterapkan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang mencontoh kepada anggotanya. Sedangkan menurut staff di mess, kepemimpinan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang mengandalkan kepercayaan kepada bawahan. Beliau mengatakan bahwa dari kepercayaan itulah akan membangun tim nya jauh lebih baik. Sedangkan menurut Sani sebagai asisten pelatih, kepemimpinan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang satu arah yaitu aturan yang diberikan oleh beliau harus dilakukan oleh semua anggota di dalam tim. Beliau juga menjelaskan bahwa kapten dari tim harus dapat menjembatani dan menyatukan antara pelatih ke anggota-anggota di dalam tim ini. Sedangkan grace sebagai kapten dari tim ini menyatakan bahwa kepemimpinan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang fleksibel dan terbuka kepada anggota-anggotanya. Kedua, keanggotaan kelompok dimana tingkat kekompakan kelompok akan semakin tinggi bila semua anggota kelompok mempunyai kemauan untuk saling menghormati. Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 mempercayai, memiliki, mengasihi sehingga terasa bahwa kelompok adalah milik mereka bersama dan bukan milik pribadi atau milik sebagian anggota. Dari konsep tersebut dapat dijelaskan dari hasil penelitian bahwa sikap saling menghormati, keanggotaan mereka di dalam tim ini sangat dijunjung Hal ini dapat dinyatakan seperti itu karena menurut pelatih, asisten pelatih, staff mess dan kapten dari tim ini sikap saling menghormati, menghargai dan mengasihi harus mereka terapkan di dalam tim Mereka harus menerapkan hal tersebut baik ke sesama anggota, kepada pelatih dan kepada semua Semua informan menganggap hal itu sangat penting dan mendasar yang harus mereka terapkan selain karena sebagai anggota di dalam tim juga karena sebagai manusia juga memang harus begitu. Ketiga, nilai tujuan kelompok yakni setiap anggota kelompok pasti mempunyai penilaian terhadap tujuan Kelompok akan semakin kompak jika semakin banyak anggota kelompok yang mempunyai penilaian tinggi terhadap tujuan kelompok. Penilaian tinggi terhadap tujuan kelompok mengakibatkan para anggota kelompok merasa bahwa tujuan kelompok tersebut harus dicapai. Hal inilah yang dapat menyebabkan kekompakan kelompok semakin kuat. Dari hasil wawancara peneliti dengan informan, ditemukan bahwa semua anggota di dalam tim ini cukup mempunyai penilaian tinggi terhadap tujuan mereka. Seperti yang sudah dijelaskan juga adalah mereka mempunyai tujuan pribadi yaitu tujuan mereka di akademik dan tujuan tim yaitu tujuan mereka terhadap prestasi basket. Pelatih, asisten pelatih, staff mess dan kapten mengatakan bahwa sampai saat ini mereka menilai semua itu adalah hal yang penting dan hal yang harus dikejar atau diusahakan. Mereka menilai juga saat ini semua anggota dilihat sangat berusaha dalam mencapai tujuan tersebut. Namun, tidak dipungkiri juga dari usaha-usaha tersebut memang masih ada yang menghasilkan nilai di akademik yang buruk dan masih ada beberapa kejuaraan basket juga yang Tetapi untuk dalam penilaian mereka terhadap tujuan tim maupun pribadi masih sangat tinggi. Keempat, homogenitas anggota kelompok artinya apabila perbedaan di antara anggota kelompok semakin menipis dan semakin tidak dirasakan, maka kelompok akan semakin kompak. Sebaliknya kekompakan kelompok akan semakin lemah jika perbedaan di antara anggota kelompok semakin dirasakan oleh anggota tersebut. Dari hasil wawancarapeneliti dengan semua informan terkait konsep ini adalah mereka menganggap bahwa ada banyak perbedaan di dalam tim ini dari perbedaan agama, budaya, daerah, suku, umur, sosial, dan lainlain. Namun mereka mengganggap bahwa semua perbedaan itu tidak membuat kekompakan mereka Walaupun dari semua perbedaan tersebut menimbulkan sedikit konflik tetapi justru dari perbedaan-perbedaan tersebut membuat mereka semakin saling menghargai dan menghormati akan semua perbedaan tersebut. Kelima, keterpaduan kegiatan kelompok yaitu keterpaduan anggota kelompok di dalam mencapai tujuan kelompok adalah penting karena setiap anggota yang merasa melebur menjadi satu di dalam setiap kegiatan kelompok akan memperkuat kekompakan kelompok. Sebaliknya kelompok akan semakin kurang kompak jika kerjasama di antara anggota kelompok semakin Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan pelatih telah ditemukan bahwa semua anggota dinilai sangat menyatu kebersamaannya dalam mencapai tujuan mereka dilihat dari ada beberapaanggota yang nilai sekolahnya bermasalah dan anggota lainnya membantu mengerjakan tugas anggota lainnya dan ada kebersamaan di dalam kegiatan tersebut. Hal itu dinilai oleh staff mess sangat memperkuat kekompakan juga. Keenam, jumlah anggota kelompok yaitu besar kecilnya jumlah anggota kelompok juga dapat mempengaruhi kekompakan kelompok. Kelompok dengan jumlah anggota yang relatif kecil cenderung lebih kompak dibanding dengan kelompok yang jumlah anggotanya lebih Semakin besar jumlah anggota kelompok mengakibatkan semakin berkurangnya kemungkinan anggota kelompok mengadakan interaksi sehingga kekompakan anggota semakin lemah. Terkait dengan konsep ini, peneliti menemukan hal yang berbeda. Berdasarkan hasil wawancara dan hasil observasi peneliti, dengan jumlah anggota di dalam tim ini yang sejumlah 15 orang tidak mengurangi kekompakan di antara mereka. Grace sebagai kapten dari tim ini juga menjelaskan bahwa jumlah yang tidak sedikit itu tidak mempengaruhi kekompakan dan komunikasi di antara mereka. Morisan . 0: 202-. menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kekompakan kelompok adalah kepemimpinan kelompok. Dari hasil temuan dilapangan jenis kepemimpinan yang ada di dalam tim ini adalah pelatih dari tim ini mengatakan bahwa kepemimpinan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang mencontoh. Kepemimpinan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 dengan cara tersebut adalah cara yang efektif. Cara ini adalah cara yang efektifkarena beliau percaya bahwa manusia akan cepat melakukan apa yang mereka lihat atau mereka contoh dari orang lain. Dalam hal ini baik pelatih, staff mess, asisten pelatih, alumni, dan semua anggota di dalam program tersebut harus bisa mencontoh segala sesuatunya yang baik dan benar. Maka dari itu, beliau merasa semua orang di dalam program ini memiliki peran pemimpin yang sama dan Jadi, menurut beliau kepemimpinan di dalam tim ini bukan termasuk ke kedua konsep yang di atas, melainkan menerapkan kepemimpinan lain. Steviana sebagai staff di mess merasa bahwa jenis kepemimpinan di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang pendapat atau masukannya dikordinasi oleh pemimpin atau atasannya. Dalam hal ini berarti dapat menunjukkan juga bahwa Steviana merasa bahwa kepemimpinan di dalam tim ini adalah pemimpin pekerjaan. Sani sebagai asisten pelatih mengatakan bahwa tipe kepemimpinan di dalam tim ini yang beliau sendiri terapkan adalah kepemimpinan satu arah yaitu semua anggotanya harus mengikuti dan melakukan yang beliau perintahkan. Dalam hal ini, beliau tidak meminta pendapat dari semua anggota di dalam tim ini karena beliau merasa anggotanya masih SMA dan belum bisa diajak diskusi untuk pengetahuan tentang basket. Jadi, dari sudut pandang Sani sebagai asisten pelatih basket kepemimpinan di dalam tim ini dari beliau adalah kepemimpinan yang satu arah dan bukan termasuk ke kedua tipe kepemimpinan yang sudah dijelaskan di atas. Sedangkan menurut Grace sebagai kapten dari tim ini menganggap bahwa kepemimpinan dari semua pemimpin dari tim basket ini adalah pemimpin yang mengkordinasi semua pendapat anggota dan juga pemimpin yang memberikan semangat, perhatian, dan memperhatikan hal-hal detail dari anggota-anggotanya. Dari pernyataan beliau mengganggap bahwa kepemimpinan di dalam tim ini termasuk ke kedua tipe kepemimpinan yang sudah dipaparkan di atas. Santoso . 0: . yang dikemukakan oleh Stogdill ini, menyertakan masukan . , variabel media, dan prestasi . dari suatu kelompok. Stogdill berpendapat bahwa kelompok merupakan sistem hubungan terbuka di mana tiap- tiap anggota kelompok mempunyai tingkah laku yang saling mempengaruhi satu sama lain dan di mana tingkah laku anggota bertujuan untuk mencapai tujuan kelompok yakni prestasi kelompok. Di dalam tim ini, semua anggota melakukan kegiatan rutin seperti latihan, bertanding dan belajar untuk mencapai tujuan individu dan tujuan tim Konsep dan prosedur teori prestasi kelompok tersebut adalah sebagaimana yang dijelaskan di bawah pertama, input ini adalah segala sesuatu yang berasal dari masing-masing anggota sebagai masukan dan input ini terdiri dari interaksi sosial, yakni tingkah laku masing-masing anggota kelompok yang berupa tingkah laku aksi dan reaksi, yang saling Misal, si A mengajak si B berlatih dan si B ikut serta dalam latihan. Dari hasil observasi peneliti ke lapangan, peneliti melihat kapten dari tim ini yaitu Grace mengajak anggota-anggota lainnya untuk latihan. Grace sebagai kapten juga memiliki kewajiban untuk mengajak anggotanya latihan baik itu latihan rutin maupun latihan tambahan. Kedua, tingkah laku yakni segala aktivitas dari tiap-tiap anggota kelompok yang merupakan bagian dari interaksi sosial. Misal, si A mengajak si B berlatih. Dari konsep ini, dapat dikaitkan dengan hasil wawancara dan observasi peneliti ketika semua anggota di dalam tim ini melakukan segala aktivitasnya yang mengandung interaksi sosial seperti kerja bakti, piket kebersihan dan piket masak, latihan, dan belajar bersama di dalam satu ruangan. Ketiga, harapan, yakni kesediaan tiap-tiap anggota kelompok untuk mendapatkan penguat, yang berupa fungsi dorongan, perkiraan hasil yang menyenangkan / tidak dan perkiraan tentang kemungkinan hasil-hasil itu benar-benar terjadi. Misal, si A ingin berlatih keras dan mengajak si B berlatih . ungsi doronga. karena si B dapat diajak bermain dengan baik . erkiraan hasil menyenangka. dan ternyata saat berlatih berjalan baik dan lancar . erkiraan hasil yang benarbenar terjad. Dari konsep yang sudah dijelaskan di atas, peneliti dapat mengaitkan hal ini dengan hasil observasi peneliti bahwa ada anggota dari tim yang bernama Syifa sering mengajak adik kelasnya yaitu Vian untuk berlatih tambahan. Vian yang sering diajak latihan tambahan di mess merasa memiliki dorongan untuk menjadi lebih baik. Vian pun dapat bermain lebih baik di setiap pertandingan karena latihan tambahan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa ada kesediaan oleh Vian untuk mendapatkan dorongan atau penguat dari kakak kelasnya sehingga dapat menjadi lebih baik. Kegiatan kelompok adalah tiap-tiap anggota kelompok berbuat sesuai dengan tingkah laku, harapan, dan interaksi mereka masing-masing sesuai dengan prinsip guna mencapai tujuan. Misal, si A sebagai pemain belakang, si B pemain tengah, dan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 si C pemain depan. Inilah yang oleh Stogdill disebut dengan posisi, yakni kedudukan, tingkah laku yang diharapkan, dan hubungan antar anggota dari tiaptiap kedudukan. Dari hasil observasi dan hasil wawancara peneliti ke lapangan adalah di dalam tim ini memiliki beberapa posisi pemain yang berbeda- beda. Sani sebagai asisten pelatih menyatakan bahwa di dalam tim ini memiliki 5 posisi pemain yang berbeda. Setiap anggota di dalam tim ini memiliki posisi yang berbeda-beda dan setiap posisi memiliki fungsi yang berbeda-beda. Dalam struktur formal ini meliputi: Fungsi, yaitu sumbangan yang diharapkan dari tiap-tiap anggota dalam posisi tertentu dalam rangka pencapaian tujuan kelompok. Misal, si A harus cepat menendang bola pada si B, si B membaca bola sebentar kemudian diberikan si C, dan si C membelokkan bola untuk ditendang ke arah gawang. Dari hasil observasi peneliti ke lapangan dilihat saat berlatih bahwa tiap posisi dari mereka memiliki perannya masing- masing. Setiap posisi menjalankan perannya sehingga timbul kerjasama di dalam permainan . Status, yakni kebenaran seseorang untuk berinisiatif dalam posisi tertentu dalam mencapai tujuan kelompok. Misal, si A kadang-kadang maju ke tengah, si B berpindah ke kanan/kiri, dan si C menendang bola sambil berlari. Dari hasil observasi peneliti di lapangan menemukan adanya inisiatif di setiap anggota dalam bermain di lapangan. Struktur peran yang dimaksud adalah perkiraan tentang tingkah laku yang diharapkan dari tiaptiap anggota kelompok dalam posisi tertentu, yang dihubungkan dengan sifat pribadi anggota kelompok yang bersangkutan. Misal, si B diberikan posisi pemain tengah karena si B kuat berlari dan mempunyai ketahanan fisik serta kemampuan prestasi tinggi. Dari konsep di atas, dapat dikaitkan dengan hasil observasi peneliti adalah setiap pemain diperankan dengan posisi tertentu berdasarkan sifat pribadi Contohnya Grace sebagai Playmaker, beliau memerankan posisi tersebut karena beliau memunyai kemampuan berlari cepat dan kemampuan bertahan yang kuat. Dalam peran tersebut, tercakup dua hal pokok yaitu: Tanggung jawab, yakni serangkaian hasil kegiatan yang diharapkan dari tiap-tiap anggota kelompok dalam batas-batas posisinya. Misal, si B diharapkan mampu mengejar bola di seluruh bagian lapangan tengah. Dari konsep ini dapat dikaitkan dengan anggota di dalam tim ini yaitu mereka memiliki tanggungjawab masing-masing dari posisi main mereka. Otoritas adalah tingkat kebebasan yang diharapkan untuk mempraktikkan kegiatan bagi tiap anggota kelompok dalam posisinya Misal, si B dapat berpindah-pindah tempat dengan pemain tengah lainnya, dan saling menerjang, bertahan, dan menyerang bagi kesebelasannya. Di dalam tim ini, semua pemain memiliki kebebasan untuk mengembangkan semua gerakan mereka di setiap posisi bermain mereka. Hubungan antara status dan fungsi di satu pihak dengan tanggung jawab dan otoritas di lain pihak adalah . Makin tinggi status seorang anggota makin besar Di dalam konsep ini dapat dikaitkan dengan kapten dari tim ini yang semakin tinggi status beliau maka semakin besar juga otoritas beliau di dalam mengatur timnya. Tanggung jawab seorang anggota diharapkan agar berhubungan dengan fungsi yang bersangkutan dalam posisinya. Di dalam konsep ini, setiap anggota yang melakukan peran di dalam posisi mainnya dinilai memudahkan peran posisi teman mainnya. Output Segala efektifitas kelompok dalam mencapai tujuannya dalam arti luas. Oleh karena itu, prestasi kelompok meliputi Produktivitas, yakni derajat perubahan harapan tentang nilai-nilai yang dihasilkan oleh tingkah laku kelompok. Dari hasil observasi peneliti, semua anggota di dalam tim ini giat berlatih bersama dan belajar bersama sehingga membentuk kekompakan di antara Moral kelompok, yakni kebebasan individu anggota kelompok untuk bertindak, berinteraksi, menguatkan harapan dan menunjukkan tingkah laku yang mengarah pada tujuan kelompok. Misal, setiap pemain suatu kesebelasan saling berinisiatif dalam tingkah laku, saling menunjang, saling membangun, dan makin saling kompak agar kesebelasannya menjadi kuat. Di dalam tim ini, semua anggota memiliki kebebasan untuk bertindak, berinteraksi, menguatkan harapan masing-masing anggota untuk mencapai prestasi individu dan prestasi kelompok. Kesatuan kelompok adalah tingkat kemampuan kelompok untuk mempertahankan struktur dan mekanisme operasi tiap-tiap anggota kelompok dalam kondisi yang optimal. Misal, setiap anggota kelompok tampak puas, saling menyukai satu sama lain, saling mendukung dan kerja sama, serta menyukai pimpinan Di dalam tim ini, semua anggota dinilai saling menyukai dan mempunyai ketertarikan satu sama lain, saling mendukung, dan bekerjasama di semua kegiatan mereka baik itu pada saat latihan, tanding, belajar atau kegiatan di mess. Masalah dan gangguan di dalam komunikasi kelompok Morisan . 0:200-. Menurut Bales Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 (Morissan 2010:200-. analisis proses interaksi terdiri atas enam kategori sebagai berikut: . Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling berbagi informasi, maka kelompok akan mengalami Aumasalah komunikasiAy. Dari hasil wawancara peneliti dengan asisten pelatih mengatakan bahwa masih terdapat anggota yang tidak berbagi informasi sehingga mengalami masalah komunikasi. Halini terjadi pada saat ada satu anggota yang tidak memberikan informasi tentang pertandingan kepada pelatih dan asisten pelatih sehingga mereka tidak datang ke pertandingan. Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling berbagi pendapat maka kelompok akan mengalami Aumasalah evaluasiAy. Dari hasil wawancara peneliti dengan Grace sebagai kapten adalah ada anggota yang tidak saling berbagi pendapat pada saat evaluasi tim. Hal ini terjadi pada saat selesai pertandingan, masih terdapat satu sampai dua anggota yang tidak memberikan . Jika masing-masing anggota kelompok tidak saling bertanya dan memberikan saran, maka kelompok akan mengalami Aumasalah pengawasanAy. Dari hasil wawancara peneliti dengan pelatih adalah masih banyak anggota di dalam tim yang tidak saling bertanya dan tidak memberikan Hal ini terjadi pada saat bertanding dan pada saat mereka mengalami masalah. Jika masingmasing anggota kelompok tidak bias mencapai kesepakatan maka mereka akan mendapatkan Aumasalah keputusanAy. Dari hasil wawancara peneliti dengan pelatih dijelaskan bahwa jarang sekali terjadi tidak bias mencapai kesepakatan. Karena biasanya jika ingin mengambil keputusan besar, yang mengambil keputusan adalah pimpinan atas seperti pelatih dan staff mess. Jika tidak terdapat cukup AdramatisasiA dalam kelompok akan muncul Aumasalah keteganganAy. Di dalam tim ini masih terjadi AdramatisasiA di antara anggota, hal ini biasanya berhubungan dengan masalah percintaan anggota di dalam tim dengan anak sekolah lain atau dengan anggota di tim basket . Jika anggota kelompok berperilaku tidak ramah atau bersahabat maka akan terdapat masalah reintegrasi yang berarti kelompok tidak akan mampu membangun Auperasaan kitaAy atau kesatuan . dalam kelompok. Dari hasil wawancara peneliti dengan semua informan mengatakan untukawal-awal mereka masuk ke dalam tim ini pasti masih ada yang berperilaku tidak ramah atau tidak bersahabat. Namun dengan melewati proses adaptasi, maka hal itu dapat segera Dalam membuat tugas kelompok atau tugas bersama, adapun masalah yang muncul jika masing-masing anggota kelompok menyimpan informasi dan tidak memberitahukannya kepada anggota lainnya maka mereka tidak akan mampu berkomunikasi dengan baik dan tidak tahu apa yang dapat dilakukan masing- masing anggota untuk mencapai tujuan kelompok. Dari hasil wawancara peneliti dengan kapten di dalam tim ini, ada anggota yang menyimpan informasi tentang pertandingan sendiri dan tidak diberitahukan kepada yang lain sehingga akhirnya mereka tidak dapat mengikuti pertandingan Masing-masing anggota kelompok tidak mampu memberikan pendapat maka mereka tidak akan mampu mengevaluasi ide dan gagasan, dan kelompok itu akan berakhir nasibnya dengan hasil yang buruk. Masing-masing anggota kelompok tidak ada yang memberikan saran, maka kelompok tidak memiliki elemen pengawasan karena tidak ada anggota yang mengatakan mengenai apa yang harus dilakukan kelompok. Dari hasil wawancara peneliti dengan pelatih dan kapten di dalam tim ini adalah ada anggota tim yang tidak mampu memberikan pendapatnya untuk tim, orang ini biasanya cenderung mempunyai karakter yang pendiam dan pemalu. Semua anggota kelompok bersikap setuju saja, yang penting cepat selesai, maka idea tau gagasan yang digunakan dalam pengambilan keputusan tidak teruji sehingga kelompok menghasilkan keputusan yang buruk, sebaliknya. Dari hasil wawancara peneliti dengan kapten juga mengatakan bahwa banyak anggota yang hanya bersikap setuju saja pada sebuah ide sehingga terkadang membuat keputusan yang diambil itu salah. Contohnya pada saat memilih pertandingan atau tetap sekolah. Biasanya dalam memilih tersebut suka terjadi masalah karena hal tersebut. Seluruh anggota memiliki perbedaan pendapat pendapat maka akan terdapat banyak konflik, dan kelompok tidak akan mampu membuat keputusan sama sekali. Di dalam tim ini. Grace sebagai kapten tidak memungkiri banyak perbedaan pendapat dan biasanya hanya terjadi konflik kecil. Anggota kelompok tidak memiliki sifat santai atau rileks sama sekali, misalnya tidak ada humor atau canda tawa, maka muncullah ketegangan sehingga menghasilkan kelompok yang tidak produktif. Dari hasil wawamcara peneliti dengan kapten dan staff mess mengatakan bahwa untuk anak seumuran mereka seharusnya ada yang memiliki rasa humor supaya lebih rileks dan lebih fleksibel juga dalam bergaul. Di dalam tim ini semua Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Agustus 2021 anggota tidak ada yang tidak memiliki rasa humor atau canda tawa. IV. SIMPULAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian yang sudah diformasikan oleh peneliti pada bab terdahulu sebagai berikut: Dalam mencapai prestasi tim, mereka menganggap bahwa kohesivitas cukup berperan penting dalam membangun prestasi tersebut. Mereka menjelaskan bahwa kohesivitas berperan untuk menguatkan tim, membuat tim menyatu, sehingga timbul juga rasa saling menghargai di antara mereka. Dengan begitu, mereka pun mampu mencapai prestasi baik prestasi akademik maupun prestasi basket. Mereka juga menilai bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kekompakan tim hanya 4 hal yaitu kepemimpinan kelompok, keanggotaan kelompok, nilai tujuan kelompok, dan keterpaduan kegiatan kelompok. Kepemimpinan kelompok yang ada di dalam tim ini adalah kepemimpinan yang mencontoh/ pemimpin emosional. Selain itu, di dalam penelitian ini juga ditemukan adanya hambatan atau masalah di dalam kohesivitas adalah masalah komunikasi, masalah evaluasi, pengawasan, dan masalah internal Saran Akademis peneliti menyarankan bahwa perlunya kajian mengenai komunikasi pimpinan kelompok terhadap anggota dalam menciptakan kohesivitas agar tercapainya prestasi kelompok dengan metode yang lebih spesifik dan mendalam misalnya fenomenologi atau studi kasus pada peneliian selanjutnya. Saran praktis peneliti berharap bahwa tim basket putri terus mengembangkan kesatuan diantara mereka sehingga menjadi tim yang kuat dan dapat terus menghasilkan Selain itu, peneliti juga berharap tim basket ini sebaiknya terus mengadakan evaluasi untuk mengetahui masalah yang menghambat atau yang menyebabkan prestasi mereka menurun akibat yang menjadi hambatankohesivitas kelompok. DAFTAR PUSTAKA