PREVALENSI PASIEN STOMATITIS AFTOSA REKUREN (SAR) DI RSGM PROFESI SARASWATI DENPASAR TAHUN 2022 Intan Kemala Dewi1. I Gusti Ngurah Putra Dermawan2. Rahni Wijiantini Sari 3 Departemen Ilmu Penyakit Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Email Korespondensi: Rahni Wijiantini Sari. Email: rahnisari@gmail. ABSTRACT Introduction: One of the oral mucosal diseases that is often encountered in the community is recurrent aphthous stomatitis or commonly called SAR. SAR is an inflammatory ulcerative condition that most commonly occurs on the oral mucosa An estimated 20% of the general population has SAR during childhood or early adulthood. These lesions appear clinically as nonspecific low round or oval ulcerations covered by a grayish-white fibrin pseudomembrane surrounded by a firm erythematous halo. The aim of this study was to determine the prevalence of recurrent aphthous stomatitis (SAR) patients at RSGM Profesi Saraswati Denpasar in 2022. Method: The method used is a descriptive observational method by making observations in the field of medical records at the same time. Research results: The results of this study show that the prevalence of SAR is 0. Conclusion: Based on the results of this study, it was found that SAR was more frequently encountered at the age of 21-25 years, namely 69%. And women are more susceptible to SAR, namely 67%. Keywords: Medical records, prevalence, recurrent aphthous stomatitis. ABSTRAK Pendahuluan: Salah satu penyakit mukosa rongga mulut yang sering ditemui di masyarakat adalah Stomatitis Aftosa Rekuren atau biasa disebut SAR. SAR merupakan suatu kondisi ulseratif inflamasi yang paling umum terjadi pada mukosa rongga mulut secara berulang. Diperkirakan 20% dari populasi umum memiliki SAR selama masa kanak-kanak atau dewasa awal. Lesi ini muncul secara klinis sebagai ulserasi bulat rendah atau oval tidak spesifik yang ditutupi oleh pseudomembran fibrin putih keabu-abuan yang dikelilingi oleh halo eritematosa yang tegas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi pasien stomatitis aftosa rekuren (SAR) di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022. Metode: Metode yang digunakan adalah metode observasional deskriptif dengan melakukan pengamatan di bidang rekam medis pada saat bersamaan. Hasil penelitian: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi SAR sebesar 0,66%. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini didapat bahwa SAR lebih sering ditemui pada umur 21-25 tahun yaitu sebesar 69%. Serta jenis kelamin perempuan lebih rentan terkena SAR yaitu sebesar 67%. Kata Kunci: Prevalensi, rekam medis, stomatitis aftosa rekuren. PENDAHULUAN Kesehatan merupakan suatu kondisi fisik, mental dan sosial yang sejahtera secara utuh, dan tidak hanya terbebas dari suatu penyakit. Kesehatan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang, sehingga diperlukan upaya dalam hal meningkatkan kesehatan. Perawatan dalam menjaga kesehatan rongga mulut sangat penting untuk dilakukan, apabila tidak dirawat dengan baik maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi berbagai penyakit di dalam rongga mulut salah satunya yang sering ditemui di masyarakat adalah stomatitis aftosa rekuren atau biasa disebut dengan sariawan. 1 Stomatitis aftosa rekuren (SAR) adalah penyakit mukosa umum yang terasa menyakitkan, dan mempengaruhi sekitar 20% dari populasi. SAR juga dapat disebut sebagai recurrent aphthous ulcers atau istilah awam yang lebih umum digunakan adalah sariawan. 2 Ulserasi mulut dapat 2 memiliki karakteristik awal yaitu hadir di dekade pertama atau kedua kehidupan, sehingga menyebabkan satu dari beberapa inflamasi oral yang dimediasi imun tubuh dapat terlihat pada anak-anak dan orang dewasa. Lesi ini muncul secara klinis yaitu sebagai ulserasi bulat rendah atau oval tidak spesifik yang ditutupi oleh pseudomembran fibrin putih keabu-abuan yang dikelilingi oleh halo eritematosa yang tegas. Ulkus aphthous paling sering muncul sebagai lesi soliter yang terbatas pada mukosa tidak berkeratin seperti mukosa bukal, labial, lidah, palatum lunak, dan dasar mulut. Dalam mengetahui prevalensi terjadinya SAR di suatu tempat atau sarana pelayanan kesehatan dapat diketahui melalui rekam medis. Menurut RISKESDAS pada tahun 2018, salah satu penyakit di dalam rongga mulut yang umum dan sering ditemui di masyarakat adalah stomatitis aftosa rekuren (SAR) atau disebut sariawan. Di Indonesia prevalensi SAR mencapai 8% yang mana disetiap daerah memiliki presentase yang berbeda-beda. Prevalensi SAR di Bali yaitu mencapai 10%. Perbandingan prevalensi SAR dapat juga dilihat dari kelompok umur dan jenis kelamin. 4 Hipotesis dalam penelitian ini yaitu tingkat prevalensi pasien stomatitis aftosa rekuren (SAR) di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 lebih banyak ditemukan pada usia 15-24 tahun dan jenis kelamin Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai AuPrevalensi Pasien Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) di RSGM Profesi Saraswati Denpasar Tahun 2022Ay. Dari data Rikesdas . , tersebut dapat dilihat bahwa adanya perbedaan tingkat prevalensi SAR antara usia dan jenis kelamin, sehingga penelitian ini penting dilakukan untuk mengetahui bagaimana perbandingan tingkat prevalensi SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022 berdasarkan usia dan jenis kelamin, serta untuk mengetahui hubungan antara usia dan jenis kelamin terhadap terjadinya SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022. METODE Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional untuk menggambarkan prevalensi gambaran stomatitis aftosa rekuren (SAR) tahun 2022. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu berupa data prevalensi dalam bentuk persentase. Populasi merupakan keseluruhan elemen atau satuan yang ingin diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien yang datang ke RSGM Profesi Saraswati Denpasar. Sampel merupakan bagian dari populasi yang diperoleh dengan cara tertentu hingga dianggap mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian ini adalah semua pasien yang terdapat pada rekam medis di RSGM Profesi Saraswati Denpasar setiap harinya pada tahun 2022. Variabel terikat dan variabel bebas dalam penelitian ini yaitu SAR dan Rekam medis RSGM Profesi Saraswati Denpasar. Dalam penelitian ini menggunakan instrumen penelitian yaitu berupa rekam medis yang terdapat di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medis RSGM Profesi Saraswati Denpasar. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 19-25 Juli 2023. Alur penelitian yaitu pertama peneliti meminta surat ijin penelitian dan ethical clearance di kantor FKG Universitas Mahasaraswati Denpasar, kemudian memberikan surat ijin penelitian ke Direktur RSGM Profesi Saraswati Denpasar, dosen pembimbing 1 dan dosen pembimbing 2. Selanjutnya penelitian dilakukan dengan meminta data jumlah pasien 2022 dan jumlah pasien SAR yang datang kepada petugas rekam medis di RSGM Profesi Saraswati Denpasar. Kemudian peneliti menganalisis isi rekam medis dan mengelompokkan data pasien yang memiliki riwayat SAR berdasarkan usia dan jenis kelamin pasien. Terakhir peneliti memaparkan data yang diperoleh ke dalam bentuk tabel hasil penelitian. Dalam penelitian ini digunakan ukuran prevalensi yang ditunjukan dengan rumus: OcA ycu 100% OcB HASIL Prevalensi pasien SAR berdasarkan rekam medis pada kunjungan pasien di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 adalah 2%. Kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022 berdasarkan usia ditemukan lebih banyak pada rentang usia 20-24 tahun yaitu sebanyak 41 orang . %). Sedangkan kelompok umur 04 tahun, 5-9 tahun, 50-54 tahun, 60-64 tahun, 65-69 tahun, 70-74 tahun, 75-79 tahun, 8084 tahun, 85-89 tahun, 90-94 tahun, 95-99 tahun, dan 100 tahun merupakan kelompok umur dengan prevalensi SAR paling rendah, yaitu 0%. Kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022 berdasarkan jenis kelamin ditemukan lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki yaitu sebanyak 42 kasus . %) pada perempuan dan 23 kasus . %) pada laki-laki. DISKUSI Prevalensi pasien SAR berdasarkan rekam medis pada kunjungan pasien di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 adalah 2%. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Sulistiani dkk. 5 di RSGM FKG Universitas Jember, yaitu ditemukan sebanyak 146 penderita SAR . %) dari 1037 pasien yang datang ke Klinik Penyakit Mulut RSGM FKG Universitas Jember tahun 2014. Angka prevalensi SAR didapatkan tergantung pada daerah atau tempat yang diteliti. Penelitian yang dilakukan oleh Soenoe6 di Kelurahan Puger Wetan. Jember didapatkan prevalensi SAR sebesar 41,9% dan di Kelurahan Kemuning Lor. Jember sebesar 35,9%. Penelitian oleh Banuarea7 di Universitas Sumatera Utara didapatkan prevalensi SAR sebesar 64,4%. Selain adanya perbedaan daerah atau tempat yang diteliti, jumlah populasi dan jangka waktu yang digunakan dalam penelitian, serta metodelogi penelitian yang digunakan dapat menyebabkan adanya angka prevalensi yang bervariasi tersebut. Kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022 berdasarkan usia ditemukan lebih banyak pada rentang usia 20-24 tahun yaitu sebanyak 41 orang . %). Sedangkan kelompok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun, 50-54 tahun, 60-64 tahun, 65-69 tahun, 70-74 tahun, 75-79 tahun, 80-84 tahun, 85-89 tahun, 90-94 tahun, 9599 tahun, dan 100 tahun merupakan kelompok umur dengan prevalensi SAR paling rendah, yaitu 0%. Penelitian yang dilakukan oleh Sulistiani dkk. 5 yaitu didapatkan data bahwa kelompok usia 20-24 tahun mempunyai prevalensi SAR yang paling tinggi, yaitu sebesar 54%. Usia tersebut termasuk ke dalam kelompok usia dekade ketiga. Banyaknya kelompok usia 20-24 tahun yang terkena SAR diduga karena usia tersebut masuk ke dalam usia remaja dan sebagian besar orang pada usia tersebut adalah mahasiswa. Tingkat pendidikan mahasiswa mempunyai prevalensi SAR paling tinggi dibandingkan pendidikan lainnya. Penelitian ini juga sesuai dengan teori yang disebutkan oleh Scully 8 bahwa besarnya persentase penyakit SAR pada rentang usia 20Ae29 tahun karena usia tersebut merupakan usia produktif dengan beban pikiran yang semakin berat, sehingga dapat menimbulkan berbagai faktor pemicu, seperti kurangnya asupan nutrisi dan stress yang dapat menimbulkan SAR. Pada saat stress hormon glukokortikoid yang merupakan mediator utama respon terhadap stres menyebabkan peningkatan katabolisme protein sehingga menurunkan sintesis protein, yang mengakibatkan metabolisme sel terganggu sehingga rentan terhadap rangsangan atau mudah menyebabkan lesi. Kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar pada tahun 2022 berdasarkan jenis kelamin ditemukan lebih banyak pada perempuan daripada laki-laki yaitu sebanyak 42 kasus . %) pada perempuan dan 23 kasus . %) pada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Safely dkk. 9 yang dilakukan di RSGM Unpad yang menemukan dari 163 pasien SAR, 121 orang . ,23%) di antaranya adalah pasien dengan jenis kelamin perempuan dan laki-laki berjumlah 42 orang atau 25,77%. Penelitian yang dilakukan oleh Sewow dkk. 10 di RSGM PSPDG UNSRAT tahun 2015 didapatkan bahwa dari 24 rekam medik yang diperoleh, terdapat 8 orang . ,33%) pasien berjenis kelamin laki-laki dan 16 orang . ,67%) pasien berjenis kelamin perempuan. Cawson11 yang menyatakan bahwa perempuan lebih cenderung mengalami SAR dari pada laki-laki. Hal ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdullah12 juga menunjukkan bahwa prevalensi SAR tertinggi adalah pada perempuan, yaitu sebesar 55,4% dan lakilaki hanya sebesar 44,6%. Tingginya angka kejadian SAR pada perempuan sering dihubungkan dengan faktor predisposisi ketidakseimbangan hormonal pada saat terjadinya siklus menstruasi, yaitu pada fase luteal. Menurunnya kadar hormon progesterone dan estrogen pada fase luteal diduga menyebabkan perempuan rentan terkena SAR. Pengaruh ini disebabkan karena fluktuasi kadar estrogen dan progesterone yang reseptornya juga dapat dijumpai di dalam rongga mulut, khususnya pada gingiva. Estrogen berpengaruh untuk merangsang maturasi lengkap sel epitel mukosa rongga mulut, yaitu peningkatan sel epitel superfisial dan keratin. Apabila terjadi penurunan estrogen maka derajat keratinisasi epitel cenderung menurun dan bisa menyebabkan proses timbulnya SAR meningkat. SIMPULAN Prevalensi pasien SAR berdasarkan rekam medis pada kunjungan pasien di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 adalah 2%. Kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 lebih banyak ditemukan pada rentang usia 20-24 tahun yaitu sebanyak 41 orang . %), sedangkan kelompok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun, 50-54 tahun, 60-64 tahun, 65-69 tahun, 70-74 tahun, 75-79 tahun, 80-84 tahun, 85-89 tahun, 9094 tahun, 95-99 tahun, dan 100 tahun merupakan kelompok umur dengan prevalensi SAR paling rendah, yaitu 0%. Pada jenis kelamin perempuan lebih banyak ditemukan kasus pasien SAR di RSGM Profesi Saraswati Denpasar tahun 2022 yaitu sebanyak 42 kasus . %), sedangkan pada laki-laki sebanyak 23 orang . %). DAFTAR PUSTAKA