16-28 PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah PGMI: JURNAL PENDIDIKAN GURU MADARASAH IBTIDAIYAH VOLUME: 3 NO: 1 TAHUN 2024 E-ISSN https://ejournal. id/index. php/pgmi/index PENINGKATAN KECERDASAN SPIRITUAL PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN TAHFIDZ JUZ AMMA Kamim Tohari1. Umi Nahdiyatun Nafiah2 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung1. Indonesia MI Manbaul AUlum Buntaran2 . Indonesia Email: toharikamim94@gmail. Email: uminahdiya@gmail. Article history Submitted 15 /11/2024 Accepted 15/12/2024 Published 30/12/2024 ABSTRACT In fact, education does not only produce cognitively proficient students. However, it needs to be balanced with affective aspects to complement the life skills of students in the future. For this reason, this study reviews how the improvement of studentsA spiritual intelligence can be obtained by learning tahfidz juz amma through the wahdah method, tasmiA method, and murajah method. Thus, increasing the spiritual intelligence of students in the form of planting noble morals that can be implemented in everyday life. So that in the future our education can produce knowledgeable people with noble morals based on the values of the QurAan. This study aims to describe the improvement of studentsA spiritual intelligence through the tahfidz juz amma program. In this study, a qualitative approach with descriptive research was applied. In the process of collecting data, researchers used observation methods and direct interviews with teachers and students. The results showed an increase in the spiritual intelligence of students after the implementation of tahfidz juz amma learning through the wahdah method, namely realizing that the ability gained is a gift from Allah which gives birth to an attitude of gratitude. With the tasmiA method, students have an attitude of caring, cooperation, and honestly in interacting both at school and in the environment. While through the murajah method has a patient and istikamah soul in repeating positive behavior such as reading the QurAan. Key Words: Spiritual Intelligence. Learning Tahfidz Juz Amma. Students ABSTRAK Sejatinya pendidikan tidak hanya mencetak peserta didik yang cakap secara kognitif. Akan tetapi perlu diimbangi dengan aspek afektif guna melengkapi kecakapan hidup peserta didik di kemudian Untuk itu penelitian ini mengulas bagaimana peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik bisa diperoleh dengan pembelajaran tahfidz juz amma melalui metode wahdah, metode tasmiA, dan metode murajah. Dengan demikian, peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik berupa penanaman akhlak mulia yang mampu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga ke depan pendidikan kita dapat mencetak insan berilmu berhiaskan akhlak mulia berbasis nilai-nilai Al-QurAan. Penelitian ini bertujuan menguraikan peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik melalui program tahfidz juz amma. Dalam penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan metode observasi dan wawancara langsung kepada guru dan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik setelah diterapkannya pembelajaran tahfidz juz amma melalui PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah metode wahdah yakni menyadari bahwa kemampuan yang didapat adalah anugerah Allah yang melahirkan sikap syukur. Dengan metode tasmiA peserta didik memiliki sikap peduli, kerja sama, dan jurur dalam berinteraksi baik di sekolah maupun lingkungan. Sementara melalui metode murajah memiliki jiwa yang sabar dan istikamah dalam mengulang-ulang perilaku yang positif seperti membaca Al-QurAan. Kata Kunci: Kecerdasan Spiritual. Pembelajaran Tahfidz Juz Amma. Peserta Didik PENDAHULUAN Pendidikan dalam kacamata Islam merupakan aktivitas yang sangat luhur. Dalam ayat pertama Al-QurAan yang turun telah disebutkan bahwa umat manusia diperintahkan untuk Hal ini dapat menjadi panduan bahwa sejatinya substansi kehidupan adalah belajar dan mengajarkan. Maka dapat dipahami bahwa membaca merupakan perwujudan daripada aktivitas belajar dalam konteks pendidikan. (Tohari, 2023: . Pendidikan kegamaan tepat diaktualisasikan bagi peserta didik yang masih berada di usia sekolah dasar. Karena pendidikan keagamaan mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menjadi pondasi dalam menjalani kehidupan. Seorang anak yang dididik dengan nilai agama tentu akan berimplikasi besar dalam kehidupan anak saat dewasa nanti. Perkembangan secara lahiriah dan batiniah akan turut menyertai keberhasilan peserta didik di kemudian hari. Maka salah satu bekal itu adalah mengimplementasikan kegiatan tahfidz Al-QurAan juz amma dalam pembelajaran. Al-QurAan merupakan pedoman terpenting dan tidak terpisahkan dalam keberlangsungan kehidupan umat muslim. Sebagaimana diwahyukan kepada Nabi Muhammad. Al-QurAan harus dijadikan pandangan hidup agar kehidupan penuh dengan Untuk itu, salah satu bentuk kecintaan terhadap Al-QurAan yakani senantiasa membaca, memahami kandungannya, mengajarkan, dan sebisa mungkin mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan Al-QurAan seharusnya menjadi inspirasi terbesar untuk menjalani kompleksitas kehidupan. Kalau kita mau merenungi, sebagai umat muslim harusnya kita merasa beruntung karena memiliki panduan hidup berupa Al-QurAan. Dengan membacanya hati merasa tenang dan tenteram, sebab ayat-ayat Al-QurAan penuh nuansa sastrawi sehingga mendengar bacaan Al-QurAan sudah sangat menenangkan jiwa. Secara entitas Al-QurAan dapat diketahui secara verbal maupun tulisan. Secara verbal Al-QurAan dapat dimengerti dari bacaannya maupun teks yang dibaca secara lisan. Sedangkan dalam bentuk tulisan Al-QurAan mewujud dalam lembara-lembaran atau mushaf. (Madyan, 2008: . Penanaman karakter mulia pada peserta didik di tingkat dasar amatlah penting untuk Dalam pembelajaran di sekolah, selain melatih anak untuk memiliki kecerdasan intelektual dan emosional, anak juga perlu dibekali dengan kecerdasan spiritual. Karena kecerdasan spiritual inilah yang nantinya mampu menjadikan diri peserta didik menjadi manusia yang paripurna. Sebab pendidikan harus sepenuhnya mendidik peserta didik untuk memiliki kepercayaan, ketakwan, dan mampu mengaplikasikan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. (Arifin, 2005: . Dalam hal pendidikan agama, pemerintah sudah hadir lewat Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama pasal 1 ayat 24 yang menyatakan pengajaran Al-QurAan merupakan bagian dari kurikulum pendidikan Al-QurAan PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah yang mencakup aktivitas membaca, menulis, dan menghafal ayat-ayatnya, mempelajari tajwidnya, serta menghafalkan doa-doa khusus yang ada dalam Al-QurAan. berbunyi kurikulum pendidikan Al-QurAan adalah membaca, menulis, dan menghafal ayat-ayat Al-QurAan, tajwid, serta menghafal doa-doa utama. Pasal ini menujukkan pengertian bahwa mengajarkan Al-QurAan dapat dilakukan melalui membaca, menulis, dan menghafal Al-QurAan. Maka kurikulum pendidikan Islam yang utama yaitu mengajarkan AlQurAan. (Jalaluddin, 2001: . Salah satu wujud nyata yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memiliki kecerdasan spiritual yang mewujud dalam akhlak mulia yaitu dengan mengupayakan mempelajari Al-QurAan. Dengan mempelajari Al-QurAan diharapkan menjadi salah satu jalan untuk mengembangkan kecerdasan spiritual peserta didik. Pembelajaran tahfidz pada anak sekolah dasar kebanyakan dimulai dari juz 30 yang berisikan ayat-ayat Sejalan dengan pandangan Muhammad Nur Abdul Hafidz Suwais, bahwa anak-anak akan lebih mudah menghafal karena dalam juz 30 berisi ayat-ayat yang pendek dan kata yang (Abdul Hafidz, 2010: . Selain dipelajari. Allah Swt juga memerintahkan manusia untuk memahami dan mengamalkan intisari Al-QurAan dalam interaksi sosial serta menghafalkannya sebagai bukti kecintaan terhadap Al-QurAan. Penelitian terdahulu yang juga mengulas kaitan penelitian yang sama dilakukan oleh Nur AAini 2018 dengan judul Penerapan Metode Tahfidz Dalam Meningkatkan Hafalan Al QurAan Siswa Di MAN 3 Tulungagung. Yang kedua penelitian yang dilakukan oleh Eka Dwi Ermawati dengan judul Strategi Guru Dalam Pembelajaran Tahfidz Al QurAan Di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Plosorejo Kademangan Blitar. Kedua penelitian terdahulu berfokus pada peningkatan hafalan siswa dan strategi guru dalam pembelajaran tahfidz. Adapun kebaruan dalam penelitian yang peneliti usung dan membedakan dari penelitian terdahulu yakni objeknya adalah peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kecerdasan spiritual peserta didik yang terwujud dalam sikap jujur, kerja sama, peduli, syukur, dan sabar melalui pembelajaran juz amma dengan metode wahdah, murajah, dan tasmiA serta implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. METODE PENELITIAN Peneliti dalam penelitian ini memakai penelitian kualitatif dengan pendekatan Bogdan dan Taylor sebagaimana dikutip Moleong mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang biasanya berupa kata-kata yang tertulis maupun lisan dari subjek dan perilaku yang tengah diamati. (Tanzeh, 2009: . Sementara pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif sendiri merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan beragam fenomena alamiah ataupun rekayasa manusia. (Moloeng, 2008: . Adapun tahap-tahap penelitian yang peneliti tempuh pertama, mulai dari persiapan dengan membuat rancangan penelitian, menentukan informan penelitian, dan menyiapkan perlengkapan penelitian. Kedua, pelaksanaan yang merupakan tahap inti penelitian dengan melakukan pengumpulan data, wawancara terhadap kepala madrasah, guru pembimbing PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah tahfidz dan seluruh informan yang dianggap perlu informasinya dalam memperoleh kelengkapan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Berikutnya mengecek kembali temuan data hasil penelitian agar dapat diketahui hal-hal yang belum terungkap. Selanjutnya melakukan tahap penyelesaian dengan penyusunan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di lapangan. Ketiga, peneliti melakukan analisis terhadap semua data hasil temuan di Keempat, melaksanakan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan hasil penelitian yang diolah secara sistematis. Kemudian dilakukan verifikasi data dan informasi yang diperoleh dari kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan, wali kelas, guru pembimbing tahfidz, dan peserta didik untuk mengonfirmasi kebenaran maupun mendapatkan kepercayaan dari pemberi data . Sementara pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain pengamatan langsung, wawancara yang mendalam, dan menganalisa dokumen-dokumen yang relevan. Proses pengumpulan data dilakukan kepada para partisipan atau informan antara lain kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan, wali kelas, guru pembimbing tahfidz, dan peserta didik. Sementara dalam teknik analisis data memakai model Miles dan Huberman, yang menjelaskan bahwa analisis data di lapangan melibatkan tiga langkah, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan melalui kredibilitas, yang merupakan tingkat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan, sehingga dapat dipastikan data yang didapat sesuai yang ada di lapangan (Saadah et al. , 2. Adapun dalam memastikan keabsahan temuan ada beragam teknik yang dapat diimplementasikan mulai dari pengamatan dengan tekun dan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Peneliti dalam penelitian ini memakai penelitian kualitatif dengan pendekatan Bogdan dan Taylor sebagaimana dikutip Moleong mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan data deskriptif yang biasanya berupa kata-kata yang tertulis maupun lisan dari subjek dan perilaku yang tengah diamati. (Tanzeh, 2009: . Sementara pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif sendiri merupakan bentuk penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan beragam fenomena alamiah ataupun rekayasa manusia. (Moloeng, 2008: . Adapun tahap-tahap penelitian yang peneliti tempuh pertama, mulai dari persiapan dengan membuat rancangan penelitian, menentukan informan penelitian, dan menyiapkan perlengkapan penelitian. Kedua, pelaksanaan yang merupakan tahap inti penelitian dengan melakukan pengumpulan data, wawancara terhadap kepala madrasah, guru pembimbing tahfidz dan seluruh informan yang dianggap perlu informasinya dalam memperoleh kelengkapan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Berikutnya mengecek kembali temuan data hasil penelitian agar dapat diketahui hal-hal yang belum terungkap. Selanjutnya melakukan tahap penyelesaian dengan penyusunan hasil penelitian yang telah dilaksanakan di lapangan. Ketiga, peneliti melakukan analisis terhadap semua data hasil temuan di Keempat, melaksanakan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan hasil penelitian yang diolah secara sistematis. Kemudian dilakukan verifikasi data dan informasi yang diperoleh dari kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan, wali PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah kelas, guru pembimbing tahfidz, dan peserta didik untuk mengonfirmasi kebenaran maupun mendapatkan kepercayaan dari pemberi data . Sementara pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain pengamatan langsung, wawancara yang mendalam, dan menganalisa dokumen-dokumen yang relevan. Proses pengumpulan data dilakukan kepada para partisipan atau informan antara lain kepala Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan, wali kelas, guru pembimbing tahfidz, dan peserta didik. Sementara dalam teknik analisis data memakai model Miles dan Huberman, yang menjelaskan bahwa analisis data di lapangan melibatkan tiga langkah, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data dilakukan melalui kredibilitas, yang merupakan tingkat kepercayaan terhadap data yang dikumpulkan, sehingga dapat dipastikan data yang didapat sesuai yang ada di lapangan (Saadah et al. , 2. Adapun dalam memastikan keabsahan temuan ada beragam teknik yang dapat diimplementasikan mulai dari pengamatan dengan tekun dan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengertian Al-QurAoan Juz Amma Sebagai kitab suci umat Islam. Al-QurAan menjadi pedoman dan bacaan wajib umat muslim di seluruh dunia dengan harapan mendapatkan hidayah dari Allah Swt. Sebagai dasar-dasar etik bagi umat Islam. Al-QurAan dapat dijadikan rujukan untuk menyelesaikan problematika kehidupan. Atas dasar tersebut Al-QurAan dapat dijadikan tuntunan hidup dan dapat menyebarluaskan pesan-pesan yang terkandung dalam Al-QurAan. Dalam pengertian lain. Al-QurAan diturunkan kepada Nabi Muhammad secara mutawatir, lafalnya bertuliskan bahasa Arab, dan umat Islam diperintah untuk membacanya. (Aminuddin, 2005: . Sementara M. Quraish Shihab berpendapat Al-QurAan merupakan kalamullah yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad lewat perantara Malaikat Jibril yang mana lafadz dan maknanya langsung dari Allah. Yang diturunkan dengan bertahap, dan siapa yang membacanya bernilai ibadah yang urutannya diawali dengan surat Al-Fatihah dan dipungkasi surat An-Naas. (Shihab, 2008: . Sementara Abdul Wahhab khallaf berpendapat yang dikutip oleh Ngainun Naim AlQurAan yang merupakan kalam-kalam Allah yang lewat perantara Malaikat Jibril diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan berbahasa Arab dan bermakna kebenaran untuk dijadikan hujjah bagi Nabi Muhammad. Selian itu sebagai sarana beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, yang isinya dihimpun dalam mushaf dan disampaikan bertahap dari satu generasi ke generasi berikutnya baik lewat lisan maupun tulisan serta isinya dipastikan terjaga dalam segala bentuk perubahan maupun pergantian. (Naim, 2011: 47-. Menurut periodesasi sejarah turunnya Al-QurAan terbagi menjadi dua yakni pertama, periode sebelum Nabi Muhammad hijrah kisaran tahun 611 M, maka ayat-ayat yang turun disebut makkiyah. Ayat-ayat makkiyah lebih banyak membincangkan kepercayaan yang kala itu untuk meluruskan keyakinan masyarakat yang masih jahiliyah. Kedua, periode Madinah yakni di mana setelah Nabi Muhammad hijrah di tahun 633 M, maka ayat yang turun di sana disebut madaniyah. Secara umum ayat-ayat Al-QurAan berisi petunjuk berupa ajaran akidah, ajaran berkaitan tentang akhlak, dan hukum-hukum amaliah. Al-QurAan menjadi kitab suci umat beragama yang terjaga kesahihannya dan keauntentikan isinya. (Effendi, 2009: . PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Dapat disimpulkan dari beragam pendapat di atas bahwa Al-QurAan adalah kalamkalam suci dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat perantara Malaikat Jibril dan menjadi mukjizat daripada Nabi Muhammad. Yang pada perkembangannya dapat dijadikan petunjuk hidup umat muslim dengan jalan mempelajarinya. Pembelajaran Tahfidz Al-QurAoan Juz Amma Kata tahfidz diambil dari bahasa Arab yang memiliki arti menghafal. Menghafal sendiri berakar dari kata hafidza- yahfadzu-hifdzan yang merupakan lawan dari lupa. (Yunus, 1999: Sementara Abdul Aziz Rauf berpendapat bahwa menghafal merupakan proses mengulang-ulang sesuatu baik dengan membaca maupun mendengar. Sebab suatu pekerjaan jika dilakukan secara kontinu akan mudah dihafal oleh yang mengerjakannya. (Rauf, 2004: Juz Amma sendiri merupakan ayat-ayat Al-QurAan yang berisikan surat dengan karakteristik ayat-ayatnya yang pendek. Dan umumnya ayat-ayat yang terdapat dalam juz 30 jumlah katanya sedikit dan mudah untuk dihafalkan oleh anak-anak. (Suwais, 2010: . Dalam pendapat lain. SaAdullah mengatakan berkaitan dengan tahapan-tahapan menghafal Al-QurAan alangkah bijaknya dimulai sedari tingkat dasar yakni juz amma dan bisa dilanjutkan dengan menghafal surat-surat pilihan seperti surat Al-Mulk. Ar-Rahman. AlWaqiAah dan sebagainya. (SaAdullah, 2008: . Program pembelajaran tahfidz juz amma pada Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan diampu oleh guru khusus tahfidz. Program tahfidz dilaksanakan setiap hari Senin sampai JumAat di jam pertama atau sebelum masuk kegiatan belajar mengajar. Program ini diikuti semua peserta didik Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Tentu dengan pembagian tingkatan surat yang berbeda untuk dihafalkan. Dalam pembelajaran tahfidz juz amma ini pastinya guru sudah merancang suatu perencanaan pembelajaran agar beban capaian yang hendak dicapai dapat terwujud. Dalam proses pembelajarannya dimulai dengan menganalisis situasi dan kebutuhan peserta didik yang dijadikan pedoman pengembangan rencana pembelajaran tahfidz. Lewat perencanaan pembelajaran yang terstruktur wali kelas dapat memahami cara-cara dan tujuan untuk mencapai keberhasilan pembelajaran. (Supratihaningrum, 2014: . Guna mencapai target hafalan dan keberhasilan pembelajaran tahfidz juz amma yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan menerapkan setidaknya tiga metode hafalan. Metode merupakan suatu cara yang dipakai guna mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dicanangkan. (Armizi, 2015: . Adapun metode hafalan yang dipakai Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan antara lain metode wahdah, tasmiA, dan murajah. Metode Wahdah. TasmiAo, dan MurajaAoah Dalam Tahfidz Juz Amma Metode Wahdah Pengertian metode wahdah adalah melakukan hafalan dengan cara menghafalkan satupersatu ayat yang menjadi fokus untuk dihafalkan. Langkahnya dengan menghafal ayat dan dibaca sepuluh kali atau lebih, sehingga dalam proses ini dapat membentuk pola bayangan ayat yang sedang dihafal. (Umar, 2017: . PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Dalam pendapat lain, metode wahdah berupa upaya menghafalkan ayat satu demi satu atas ayat yang hendak ditargetkan untuk dihafalkan. Sederhananya metode ini efektif untuk menghafalkan Al-QurAan dengan cara ayat-perayat lalu diulang-ulang hingga benar-benar hafal, kemudian dilanjutkan keayat-ayat berikutnya dengan langkah yang sama. (Sandi, 2020: Adapun kelebihan metode wahdah adalah pertama mudah dilakukan oleh peserta didik. Kedua, cara ini juga banyak dipakai para penghafal Al-QurAan. Ketiga, metode ini cukup mudah untuk dipahami peserta didik usia sekolah dasar. Keempat, dapat mempermudah penguatan ingatan terhadap hafalan yang telah dilakukan. Kelima, kaidah membaca AlQurAan secara baik dan benar dapat terjaga. Adapun kelemahan dalam metode wahdah acapkali terasa sulit membedakan ayat-ayat yang mirip serta membutuhkan ketelatenan dalam melakukan pengulangan. Dari pelbagai pendapat yang ada, bisa dipahami bahwa metode wahdah ini menerapkan hafalan perayat kemudian diulang-ulang secara kontinu. Sehingga akan terbentuk pola hafalan dalam diri peserta didik. Di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan sendiri dalam melaksanakan program tahfidz juz amma melalui metode wahdah menjadi salah satu strategi yang dipakai agar peserta didik mudah untuk menghafal. Selain itu, konsentrasi peserta didik akan terlatih dan harapannya dengan metode wahdah dapat membentuk kepribadian peserta didik yang cinta dengan Al-QurAan serta memotivasi mereka agar bersemangat dalam menghafalkan juz amma. Metode TasmiAo Metode berikutnya yang dipakai di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan adalah metode tasmiA. Metode tasmi ini sering dipakai dalam menghafal AlQurAan dengan cara menyimakkan ayat-ayat yang sudah dihafalkan kepada guru tahfidz maupun orang lain. Sehingga dapat diketahui bila ada kesalahan setelah disimak, dengan demikian dapat menimbulkan dorongan bagi peserta didik untuk melancarkan dan meningkatkan kualitas hafalannya. (Suardi, 2018: . Secara umum metode tasmiA ini memperdengarkan secara langsung ayat yang sudah dihafalkan kepada pembimbing tahfidz. Pengaplikasian metode tasmiA ini dapat mengetahui kekurangan-kekurangan dari hafalan peserta didik oleh guru tahfidz. (Sari, 2. Langkahlangkahnya yaitu dengan menyetorkan hafalan kepada guru tahfidz atau orang lain yang cakap mengenai Al-QurAan dengan menyimaknya dengan rutin, sementara penyimak melihat mushaf agar tidak terjadi kesalahan dalam pelafalan. (Fatimah, 2. Dengan demikian peserta didik memiliki keyakinan terhadap hafalan yang telah disimakkan. Dalam setiap pelaksanaan tahfidz juz amma di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan dengan metode tasmiA ternyata dapat memupuk hafalan juz amma peserta didik lebih bersemangat dan berkualitas. Kalaupun terjadi kesalahan mudah dibenarkan secara langsung karena cara ini menyimakkan ayat yang dihafalkan secara Harapannya peserta didik dalam mengahafal semakin semangat dan tingkat kebenarannya meningkat. (Saputra, 2. Penerapan metode tasmiA sendiri memerlukan beberapa faktor pendukung agar pelaksanaanya bisa sesuai dan mencapai tujuan yang diharapkan. Beberapa faktor pendukung di antaranya pertama, mendapatkan motivasi utamanya dari guru pembimbing tahfidz sehingga menimbulkan efek semangat dalam diri peserta didik untuk menghafal. (Anggarini. PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Kedua, peserta didik memiliki keinginan yang kokoh dalam merampungkan target Apresiasi perlu diberikan terhadap peserta didik karena kemauan yang kuat dan tanggung jawab atas target hafalannya. (Imron, 2. Ketiga, faktor lingkungan juga turut berpengaruh, lingkungan peserta didik yang kondusif, mendukung, dan jadwal yang terstruktur dengan baik dapat membuat peserta didik lebih mudah dalam menghafal. (Syarnubi, 2. Sementara faktor penghambat dalam peneraoan metode tasmiA ini adalah rasa malas yang acapkali timbul karena kebosanan dengan rutin mengulang kegiatan yang sama. Selain itu tentang manajemen waktu juga berpengaruh, di mana biasanya peserta didik sudah banyak beban dalam pembelajaran formalnya. Berikutnya kurangnya percaya diri dalam diri peserta Terlebih metode tasmiA ini biasanya peserta didik saling memperdengarkan hafalannya ke guru pembimbing tahfidz maupun teman lainnya. Metode MurajaAoah Metode lainnya yang dipakai dalam program tahfidz di Madrasah Ibtidaiyah AlWathoniyah Tegalrejo Rejotangan yakni murajah. Metode ini lebih kepada merawat hafalan agar tetap terjaga. Murajah sendiri menjadi cara yang populer di kalangan para penghafal Al-QurAan. Sebagai contoh, ketika hafalan kita bertambah maka menjadwalkan murajah secara sistematis agar hafalan dapat terjaga dengan baik. (Fattah, 2010: . Pada kenyataannya merawat hafalan lebih berat dibandingkan dengan Untuk itu perlu kiranya mengulang-ulang hafalan lebih intens daripada hafalan sebelumnya. (Wahyudi, 2017: 44-. Seperti Nabi Muhammad yang hafalannya kuat karena rajin dan semangatnya tak pernah padam dalam melakukan murajah. Dalam pengertian lain, murajah yang berarti pengulangan hafalan secara kontinu. Dengan sikap kontinuitas ini yang pada hakikatnya lebih penting dari hafalan itu sendiri dapat menjaga hafalan dari peserta didik. (Ubaid, 2014: . Sehingga penerapan murajah yang mana dimaksudkan untuk menjaga hafalan dari lupa dan kesalahan. (Abdulwaly, 2020: 30-. Hafalan yang diperdengarkan kepada guru pembimbing tahfidz yang diulang secara konsisten dapat pula mengetahui kesalahan yang didapati selama murajah. (Qamariah, 2016: 48-. Dari beragam pemahaman mengenai murajah dapat disimpulkan bahwa metode murajah yang diperuntukkan dalam halafan juz amma merupakan salah satu cara mengulang-ulang halafan atau istilah lainnya menyegarkan hafalan. Praktiknya di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan yakni peserta didik melakukan murajah bersama-sama wali kelasnya masing-masing pada jam pertama sebelum kegiatan belajar mengajar dilaksanakan. Peningkatan Kecerdasan Spiritual Kata kecerdasan berasal dari bahasa Inggris Intelligence dan bahasa Arab Al-AdzkaAo yang memiliki makna pemahaman, kecepatan dan kesempurnaan dalam memahami sesuatu secara tepat dan sempurna. (Mujib, 2002: . Kecerdasan yang dimaksud di sini berupa kemampuan akal atau aspek kognitif dalam menangkap sesuatu. Sementara kata spiritual berasal dari kata spirit yang memiliki arti ruh. Kata sprititual dapat dipahami sebagai sesuatu hal yang sifatnya murni atau dalam pemaknaan lain berupa sesuatu yang berada di luar diri, bisa berupa karakter diri, perasaan, dan pemikiran. (Suprajitno, 2010: . PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Sebenarnya pendidikan tidak hanya mencetak peserta didik cakap secara kognitif, melainkan juga membekali mereka dengan aspek afektif sehingga dapat mengaktualisasikan pengetahuan yang sudah didapat dengan cara yang bijaksana. Hal demikian akan berimplikasi pada kepribadian peserta didik yang stabil, dapat berinteraksi secara sosial dengan baik, matang secara emosional, dan terbuka terhadap perbedaan. (Sulaiman, 2. Pembentukan kecerdasan spiritual perlu kiranya digalakkan sejak dini, sebab terbentuknya kecerdasan spiritual merupakan akumulasi dari hasil pengetahuan, pengalaman, dan pemikrian yang dilatih sejak dini. Danah Zohar berpendapat sebagaimana dikutip oleh Ahmad Muhaimin Azzet bahwa kecerdasan spiritual adalah kecerdasan tertinggi yang ada dalam diri seseorang. Karena dalam kecerdasan spiritual ini mengintegrasikan antara kecerdasan emosional dan intelektual. Dengan kecerdasan spiritual seseorang memiliki kemampuan untuk memahami diri maupun orang lain dan senantiasa merasa bahagia. (Azzet, 2. Kecerdasan spiritual melibatkan jiwa sebagai perangkat internal dalam diri manusia yang mempunyai kecakapan dan kepekaan dalam memandang suatu makna baik yang tersurat maupun tersirat. (Naim, 2014: . Sementara itu Ary Ginanjar berpendapat bahwa kecerdasan spiritual ini sebagai pemberi makna dalam setiap gerak langkah ataupun pemikiran yang bersih dalam rangka menuju manusia yang memiliki keperibadian paripurna sehingga mengedepankan pola pikir hidup hanya karena Tuhan. (Ginanjar, 2001: . Kesimpulannya, kecerdasan spiritual dari beragam pandangan di atas adalah kecerdasan yang dapat membentuk diri manusia secara paripurna dalam rangka menghadapi maupun memecahkan segala problematika hidup yang berkaitan dengan makna, nilai, dan moral bahwa segala tindakan yang dilakukan seseorang lebih utama daripada yang lain. Adapun sikap dan indikator kecerdasan spiritual yang peneliti pakai untuk mengukur tingkat kecerdasan spiritual peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan sebagai berikut: Kerja sama Peserta didik perlu kiranya memiliki sikap suka menolong antar sesama, saling menghargai, saling menghormati, dan senantiasa berbuat kebaikan agar menjadi habituasi yang lama-kelamaan menjadi karakter. Selain itu merasa dirinya bagian dari makhluk sosial yang saling membutuhkan dan memiliki tanggung jawab kepada lingkungan sekitarnya. Kejujuran Menanamkan sikap jujur sejak usia anak-anak begitu penting dilakukan. Karena segala macam tindakan yang tanpa dilandasi kejujuran jatuhnya akan negatif. Kejujuran sendiri merupakan cerminan integritas diri yang mana setiap ucapan dan tindakan harus selaras dengan menjunjung tinggi nilai kebenaran. Sikap jujur penting diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena dapat membangun kepercayaan dan menjaga hubungan tetap harmonis. Kepedulian Kepedulian dengan kata lain empati merupakan kemampuan yang harus dimiliki seseorang untuk merasa apa yang sedang dirasakan orang lain. Peserta didik yang mempunyai kemampuan berempati akan berdampak positif pada tingkah laku anak terhadap orang lain, mendukung hubungan sosial, dan meningkatkan interaksi sosial di lingkungan Berempati juga berkontribusi pada ketaatan anak terhadap norma, aturan, dan memperkokoh kecenderungan untuk membantu sesama. (Tohari, 2024: . PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah . Syukur Peserta didik diharapkan senantiasa mengedepankan rasa syukur atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Dengan anugerah berupa kemampuan baik secara fisik dan psikis sehingga mendapatkan kesempatan untuk menghafalkan kalam-kalam Allah. Juga membangun kesadaran bahwa segalan kemampuan yang kita miliki semata-mata anugerah dan titipan dari-Nya. Sabar Dengan menghafalkan Al-QurAan juz amma peserta didik benar-benar dilatih dan diuji Mulai dari mulai mengahafal, mengulang-ulang hafalan, hingga menghayati kandungan Al-QurAan. Melatih kesabaran dalam diri amatlah penting dalam rangka mengasah kemampuan diri untuk menahan diri, mengendalikan emosi, serta tetap tenang dalam menghadapi berbagai situasi baik yang menyenangkan maupun sebaliknya. Relevansi penelitian ini dengan penelitian terdahulu sebagaimana di pendahuluan bahwa sama-sama fokus pada peningkatan hafalan peserta didik dan strategi yang dipakai dalam pembelajaran tahfidz. Adapun kebaruan dalam dalam penelitian ini tidak hanya berfokus pada hafalan Al-QurAan, namun juga bertujuan untuk mengkaji kecerdasan spiritual peserta didik lewat pembelajaran tahfidz juz amma dengan metode wahdah, murajah, dan tasmiA. Penelitian ini juga mengeksplorasi implementasi kecerdasan spiritual dalam kehidupan sehari-hari, yang tercermin dalam sikap jujur, kerja sama, peduli, syukur, dan Hal demikianlah yang menjadi kebaruan dan membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya. PENUTUP Dalam rangka meningkatkan kecerdasan spiritual peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah Al-Wathoniyah Tegalrejo Rejotangan melalui program pembelajaran tahfidz juz amma dilaksanakan dengan beragam metode. Pertama, metode wahdah yakni dengan cara menghafalkan ayat satu persatu ayat yang hendak dihafalkan dan diulang secara persisten. Hal demikian dapat membentuk pola bayangan hafalan diri peserta didik. Adapun kecerdasan spiritual yang muncul yaitu peserta didik senantiasa merasa bersyukur atas karunia Allah Swt dan tumbuh kesadaran bahwa kemudahan untuk menghafal juz amma berkat pertolongan Allah semata. Kedua, penerapan metode tasmiA yakni guru pembimbing tahfidz terlebih dahulu membacakan ayat yang diulang biasanya tiga kali lalu peserta didik menirukannya secara bergantian dan kemudian bersama-sama. Adapun kecerdasan spiritual yang muncul dalam penerapan metode ini adalah peserta didik saling bekerjasama dan peduli. Selain itu peserta didik dapat memperlihatkan sikap saling menghormati dan menghargai sesama. Ketiga, penerepan metode murajah dilaksanakan dengan cara peserta didik mengulang kembali hafalan yang sebelumnya telah disampaikan oleh guru pembimbing tahfidz. Tujuan daripada murajah agar hafalan-hafalan sebelumnya tidak mudah lupa dan menghindari kesalahan Kecerdasan spiritual yang muncul yakni peserta didik memiliki kesabaran untuk senantiasa mengulang-ulang kebiasaan yang baik dan memiliki kesabaran untuk istikamah dalam hal kebaikan baik di lingkungan madrasah maupun di rumah PGMI : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah DAFTAR PUSTAKA