Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 ANALISIS HISTORIS SISTEM PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA Moh Yusuf Saepuloh Jamal1. Bilal Ahmad Zaenal Mushtofa2. Hema Nuryani3. Resa Saumanti4 Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah Jl. Suryalaya Pagerageung. Desa Tanjungkerta. Kec. Pagerageung. Kab. Tasikmalaya. Jawa Barat Email: 1 mohyusupsj@gmail. com, 2 niszar98@gmail. hemanuryani18@gmail. com, 4 resasaumanti2@gmail. Abstrak Pendidikan Islam di Indonesia memiliki rekam jejak historis yang panjang dan dinamis, khususnya sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses masuknya Islam, peran tokoh ulama, pusat-pusat pertumbuhan, serta sistem dan lembaga pendidikan Islam yang berkembang pada masa kerajaan Islam di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah . dengan pendekatan studi pustaka terhadap literatur dan manuskrip relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyebaran Islam yang berlangsung secara damai melalui jalur perdagangan dan dakwah kultural berhasil mengintegrasikan ajaran syariat ke dalam budaya lokal. Tokoh penting seperti Wali Songo di Jawa dan para ulama di Sumatra. Kalimantan, hingga Sulawesi memiliki peran ganda sebagai pendidik, penulis kitab, dan penasihat raja. Pusat-pusat pendidikan tumbuh pesat di lingkungan masjid dan istana, yang kemudian bertransformasi menjadi lembaga terstruktur seperti pesantren di Jawa, meunasah/dayah di Aceh, serta institusi syaraAo di Sulawesi. Proses pembelajaran pada masa ini menerapkan metode tradisional yang efektif seperti sorogan, bandongan, dan halaqah, sebelum akhirnya berkembang menuju sistem klasikal formal. Kontribusi sistem pendidikan era kerajaan ini menjadi fondasi fundamental bagi penguatan karakter, moral, dan perkembangan kebudayaan religius masyarakat Indonesia di masa modern. Kata Kunci: Pendidikan Islam. Kerajaan Islam. Sejarah Nusantara. Wali Songo. Lembaga Tradisional. ABSTRACT Islamic education in Indonesia has a long and dynamic historical track record, especially since the establishment of Islamic kingdoms in the Archipelago. This study aims to analyze the process of the arrival of Islam, the role of Islamic scholars . , the centers of growth, as well as the system and institutions of Islamic education that developed during the Islamic kingdom era in Indonesia. The research method used is the historical method with a literature review approach to relevant literature and The results show that the spread of Islam, which took place peacefully through trade routes and cultural dawah, successfully integrated sharia teachings into Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 local cultures. Prominent figures such as the Wali Songo in Java and the ulema in Sumatra. Kalimantan, and Sulawesi held dual roles as educators, book authors, and royal Educational centers grew rapidly within mosques and palaces, which later transformed into structured institutions such as pesantren in Java, meunasah/dayah in Aceh, and syara' institutions in Sulawesi. The learning process during this era implemented effective traditional methods such as sorogan, bandongan, and halaqah, before eventually evolving into a formal classical system. The contributions of the kingdom-era educational system became a fundamental foundation for character building, moral reinforcement, and the development of religious culture among Indonesian society in the modern era. Keywords: Islamic Education. Islamic Kingdom. Archipelago History. Wali Songo. Traditional Institution PENDAHULUAN Pendidikan Islam merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan peradaban Islam di Indonesia. Sejak masuknya Islam ke Nusantara, pendidikan menjadi sarana utama dalam proses penyebaran ajaran agama, pembentukan karakter, serta pengembangan ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Perkembangan pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan dari peran kerajaan-kerajaan Islam yang muncul di berbagai wilayah Indonesia, seperti Samudera Pasai. Aceh Darussalam. Demak. Banten. Banjar. Ternate. Gowa-Tallo, dan beberapa kerajaan Islam lainnya. Melalui dukungan para penguasa dan ulama, pendidikan Islam berkembang secara luas dan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat. Pada masa kerajaan Islam, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai media penyebaran ajaran agama, tetapi juga sebagai sarana pembentukan moral, etika, dan budaya masyarakat. Berbagai lembaga pendidikan seperti masjid, surau, pesantren, meunasah, dayah, dan madrasah berkembang sebagai pusat pembelajaran Islam. 2 Di lembaga-lembaga tersebut diajarkan berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti Al-QurAoan, hadis, fikih, tauhid, tasawuf, serta ilmu pengetahuan lainnya yang mendukung kehidupan Sistem pendidikan yang berkembang pada masa tersebut menunjukkan 1 Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam. Ed. 1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. , 2 Aisyah Nursyarif. AoPendidikan Islam di Indonesia dalam Lintasan Sejarah (Perspektif Kerajaan Isla. Ao. Lentera Pendidikan. Vol. No. , 256Ae271. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 adanya proses transformasi dari pembelajaran yang sederhana menuju sistem yang lebih terorganisasi dan terstruktur. Perkembangan pendidikan Islam pada masa kerajaan juga tidak terlepas dari peran para ulama dan tokoh penyebar Islam. Wali Songo di Pulau Jawa. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari di Kalimantan, serta berbagai ulama di wilayah Sumatra. Sulawesi, dan Maluku memiliki kontribusi besar dalam mengembangkan pendidikan Islam melalui dakwah, pengajaran, dan pendirian lembaga pendidikan. 3 Melalui pendekatan yang menyesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat, para ulama berhasil menjadikan pendidikan sebagai instrumen penting dalam proses Islamisasi di Nusantara. Kajian mengenai sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam menjadi penting karena memberikan pemahaman tentang akar historis perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Berbagai sistem, metode, dan lembaga pendidikan yang berkembang pada masa tersebut telah memberikan kontribusi besar terhadap terbentuknya tradisi pendidikan Islam yang masih bertahan hingga saat ini. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk mengkaji secara lebih mendalam mengenai perkembangan sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara historis sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam di Indonesia, meliputi proses perkembangannya, peran tokohtokoh pendidikan Islam, pusat-pusat pendidikan yang berkembang, serta sistem dan lembaga pendidikan yang digunakan dalam proses pembelajaran. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kontribusi kerajaan Islam terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan . ibrary researc. dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan historis . istorical approac. digunakan untuk merekonstruksi, menganalisis, dan memberikan gambaran secara sistematis mengenai perkembangan sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam di 3 Hasnida. AoSejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme (Belanda. Jepang. Sekut. Ao. Kordinat. Vol. No 2 . , h. 237Ae256. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Indonesia. 4 Fokus utama dari metode ini adalah mengumpulkan, menguji, dan mensintesis bukti-bukti sejarah guna menarik kesimpulan yang kuat mengenai fenomena pendidikan masa lampau. Sumber data dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh dari data sekunder, yaitu literatur-literatur yang relevan dengan kajian sejarah pendidikan Islam di Nusantara. Data dikumpulkan melalui penelusuran berbagai dokumen historis, buku-buku teks sejarah, serta artikel jurnal ilmiah yang membahas perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di berbagai wilayah Indonesia. Proses pengumpulan data dilakukan secara selektif dengan memprioritaskan sumber pustaka yang memiliki kredibilitas dan relevansi tinggi terhadap objek formal penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi . ontent analysi. dan analisis deskriptif-kualitatif. Langkah-langkah analisis dimulai dengan mereduksi data yang diperoleh dari berbagai literatur, mengelompokkannya berdasarkan fokus masalahAiseperti peran tokoh, pusat-pusat kerajaan, lembaga, dan metode pembelajaranAidan kemudian melakukan interpretasi historis secara kritis. Melalui penafsiran data tersebut, fakta-fakta sejarah yang ditemukan kemudian disajikan secara deskriptif dan ditarik kesimpulan secara induktif guna memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai kontribusi kerajaan Islam terhadap fondasi pendidikan Islam di Indonesia. PEMBAHASAN Awal Masuknya Islam dan Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Proses masuknya Islam ke Indonesia memiliki keunikan tersendiri karena penyebarannya berlangsung secara damai melalui peran para pedagang dan mubaligh, bukan melalui penaklukan militer. Kedatangan Islam juga tidak terjadi secara serentak di seluruh wilayah. 6 Para sejarawan umumnya sepakat bahwa wilayah pertama yang menerima kedatangan Islam adalah Aceh pada abad ke-7 Masehi, yang dibawa langsung oleh para pedagang dari Arab. Kehadiran agama 4 Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam. Ed. 1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. 5 Susmihara. AoPendidikan Islam Masa Kerajaan Islam Di NusantaraAo. Jurnal Rihlah. Vol. No. , h. 6 Susmihara. AoPendidikan Islam Masa Kerajaan Islam Di NusantaraAo. Jurnal Rihlah. Vol. No1 . , h. 13Ae14. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Islam ini membawa perubahan besar menuju peradaban yang lebih maju dan ikut meningkatkan kecerdasan serta karakter bangsa Indonesia. Seiring berjalannya waktu, proses dakwah para dai berhasil membentuk kelompok-kelompok masyarakat Muslim di berbagai daerah. Dari komunitas inilah kemudian lahir kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, seperti Samudera Pasai dan Kesultanan Aceh di Sumatra. Kesultanan Demak di Jawa. Kerajaan Banjar di Kalimantan. Kesultanan Ternate di Maluku, serta kerajaan Gowa-Tallo. Bone. Wajo. Soppeng, dan Luwu di Sulawesi. Kerajaan-kerajaan ini memegang peran yang sangat penting dalam memperluas ajaran Islam dan memfasilitasi perkembangan pendidikan keagamaan masyarakat. Pendidikan Islam pada masa kerajaan ini awalnya berlangsung secara informal melalui kegiatan majelis taklim dan halaqah . elajar melingka. Samudera Pasai, misalnya, materi pembelajaran berfokus pada ilmu syariat, khususnya fikih mazhab Syafi'i, di mana pemerintah ikut membiayai kegiatan pendidikan tersebut. Di Pulau Jawa. Kesultanan Demak juga menerapkan sistem serupa dengan menjadikan masjid sebagai pusat utama pengajaran agama di bawah bimbingan guru atau ulama. Tokoh-Tokoh yang Berperan dalam Pendidikan Islam Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia didorong oleh peran besar para ulama dan penyebar agama yang berdedikasi tinggi. Di Pulau Jawa, tokoh utama yang menggerakkan pendidikan adalah Wali Songo. Maulana Malik Ibrahim memulainya dengan mendirikan pondok pesantren untuk mendidik calon Perjuangan ini dilanjutkan oleh Sunan Ampel yang berhasil mendidik tokoh-tokoh besar seperti Raden Fatah . endiri Kesultanan Dema. dan Sunan Bonang. Para wali memiliki keahlian yang beragam dan menggunakan metode yang cerdas agar ajaran Islam mudah diterima masyarakat. Sunan Bonang dan 7 Ari Dwianto and Nurul Hidayati Murtafiah. AoPenyelenggaraan Pendidikan Islam Pada Masa Pra KolonialismeAo. Jurnal Tarbiyah - SyariAoah Islamiyah. Vol. 29 No. , h. 25Ae26. 8 Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam. Ed. 1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. , 9 Ari Dwianto and Nurul Hidayati Murtafiah. AoPenyelenggaraan Pendidikan Islam Pada Masa Pra KolonialismeAo. Jurnal Tarbiyah - SyariAoah Islamiyah. Vol. 29 No. : 29. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Sunan Kalijaga, misalnya, menggunakan pendekatan seni budaya seperti tembang macapat, gamelan, dan wayang kulit sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai Sementara itu. Sunan Giri berfokus pada jalur pendidikan dengan membangun pesantren yang berkembang pesat mengikuti mazhab Syafi'i. Sunan Kudus mendalami ilmu syariat dan hukum. Sunan Muria mengajarkan ilmu tasawuf dan akhlak, serta Sunan Gunung Jati memimpin pesantren sekaligus mengendalikan pemerintahan di Cirebon. Selain Wali Songo, para ulama di luar Jawa juga memiliki kontribusi yang tidak kalah besar. Di Kesultanan Aceh, muncul tokoh-tokoh ulama besar seperti Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Syamsuddin al-Sumatrani yang menulis banyak kitab ilmu tasawuf. Ada juga Syekh Nuruddin ar-Raniri yang menekankan pentingnya ilmu syariat, serta Syekh Abdur Rauf as-Singkili 11 yang berjasa menerjemahkan Tafsir Al-Qur'an ke dalam bahasa Arab-Melayu (Tarjuman alMustafi. agar mudah dipelajari oleh masyarakat luas. Di Kesultanan Banjar. Kalimantan Selatan. Syekh Muhammad Arsyad alBanjari menjadi pelopor dengan mendirikan lembaga pendidikan menyerupai Ia mengajarkan Al-Qur'an, bahasa Arab, serta ilmu nahwu dan sharaf untuk mencetak kader ulama. Tokoh lain seperti Syekh Muhammad Nafis alBanjari turut memperkaya ilmu tasawuf melalui kitabnya yang terkenal, ad-Durr an-Nafis. 12 Sementara itu, sejarah Islam di Sulawesi Selatan digerakkan oleh tiga ulama dari Minangkabau, yaitu Datuk ri Bandang yang mengajarkan ilmu syariat di Gowa-Tallo. Datuk ri Tiro yang mengajarkan tasawuf, dan Datuk ri Pattimang, sehingga Islam resmi menjadi agama kerajaan pada awal abad ke-17. Pusat-Pusat Pendidikan Islam di Berbagai Kerajaan Nusantara 10 Hasnida. AoSejarah Perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia Pada Masa Pra Kolonialisme dan Masa Kolonialisme (Belanda. Jepang. Sekut. Ao. Kordinat. Vol. No 2 . : 240-241. 11 Titi Mildawati and Bahaking Rama. AoSejarah Perkembangan Islam Pada Masa Awal Hingga Munculnya Kerajaan Islam Di AcehAo. Vol. No. : 1Ae27. 12 Alfrida Dyah Miranti and Lutfiah Ayundasari. AoKesultanan Banjar : Peranan Dalam Persebaran Islam Di Kalimantan ( Abad XVI M - XIX M )Ao. Vol. No. : 227Ae237. 13 Abdul Mukti and others. AoSejarah Masuknya Ajaran Islam Dan Pendidikan Islam Di Masa Kesultanan GowaAo. Jurnal Ilmiah Hospitality. Vol. 11No. : 365. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Aktivitas pendidikan Islam berkembang di berbagai pusat kerajaan di seluruh wilayah Nusantara, antara lain: Wilayah Sumatra: Berpusat di Kerajaan Samudera Pasai sebagai pusat awal pengajaran fikih mazhab Syafi'i. Selanjutnya. Kesultanan Aceh Darussalam berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat maju pada masa Sultan Iskandar Muda. Di Aceh, jenjang pendidikan diatur secara rapi, mulai dari meunasah . endidikan dasa. , rangkang . ingkat lanjuta. , hingga dayah . endidikan tingg. yang mempelajari kitab-kitab klasik. Wilayah Jawa: Kesultanan Demak memelopori pendidikan berbasis pesantren dan menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pembelajaran karakter Tradisi ini dilanjutkan oleh Kesultanan Pajang melalui pendekatan budaya,15 serta Kerajaan Mataram yang menyatukan ajaran Islam dengan adat Jawa melalui karya sastra seperti Sastra Gending. 16 Di Jawa Barat. Kerajaan Cirebon17 dan Kesultanan Banten juga menjadi pusat pendidikan Islam yang besar dengan melahirkan pesantren-pesantren yang ramai dikunjungi pelajar dari berbagai daerah. Wilayah Kalimantan: Kerajaan Banjar mengembangkan pusat-pusat pengajian nonklasikal di mesjid, langgar, dan rumah-rumah di wilayah Martapura. Amuntai, dan Negara di bawah bimbingan Syekh Muhammad Arsyad alBanjari. 19 Sementara di Kerajaan Kutai (Kalti. , perkembangan ilmu pengetahuan awalnya berpusat di lingkungan istana melalui aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta sebelum masuknya pengaruh Islam. 14 Titi Mildawati and Bahaking Rama. AoSejarah Perkembangan Islam Pada Masa Awal Hingga Munculnya Kerajaan Islam Di AcehAo. Vol. No. : 10-13 . 15 Chinanti Safa Camilia and Hudaidah. AoSejarah Kesultanan Pajang Masa Pemerintahan Sultan Hadiwijaya . Ao. Jurnal Pendidikan Sejarah Dan Kajian Sejarah. Vol. No. : 58-65. 16 Siti Tiara Maulia. Hendra and Muhammad Ichsan. AoJejak Perkembangan Islam Pada KerajaanKerajaan Islam Di IndonesiaAo. Jurnal Pendidikan & Sejarah FKIP UNJA. Vol. No. : 77Ae84. 17 Heru Erwanto. AoSejarah Singkat Kerajaan CirebonAo. Potanjala: Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya Vol. No. : 170Ae183. 18 Muslimah and Abdulazis. AoSejarah Masuknya Islam Dan Pendidikan Islam Masa Kerajaan Banten Periode 1552-1935Ao. Jurnal Studi Agama dan Masyarakat. Vol. No. : 136Ae162. 19 Mila Hasanah. AoPendidikan Islam Pada Masa Kerajaan BanjarAo. Jurnal Ta'lim . akultas tarbiya. , . : 1Ae14. 20 Muhammad Sarip. AoKajian Etimologis Kerajaan (Kuta. Martapura Kaman. Kalimantan TimurAo. Vol. No. : 50Ae61. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 Wilayah Maluku: Kesultanan Ternate dan Tidore menjadi pusat penting pendidikan Islam di Indonesia timur, terutama setelah Sultan Zainal Abidin mendalami Islam di Giri (Jaw. dan memboyong ilmunya ke Maluku. 21 Di Ternate bahkan dibentuk lembaga keagamaan bernama Bobato Akhirat untuk membantu urusan pendidikan agama. Wilayah Sulawesi: Kesultanan Gowa-Tallo menjadi pusat utama penyebaran Islam di Sulawesi Selatan melalui fasilitas masjid dan pesantren tradisional. Di Kerajaan Bone, sistem pendidikan menyatu dengan adat . melalui metode mangaji tudang di Masjid Al-Mujahidin, sebelum akhirnya berubah menjadi sistem madrasah klasikal pada tahun 1933 dengan berdirinya Madrasah Amiriyah Islamiyah (MAI). 24 Di Kerajaan Wajo, fokus pendidikan mengarah pada penguasaan ilmu hukum praktis . eperti kodifikasi hukum pelayaran oleh Amanna Gapp. dan nilai kebebasan individu (Maradeka To WajoAo. 25 Adapun di Kerajaan Soppeng26 dan Luwu, masjid jami dan istana dijadikan pusat bimbingan keagamaan yang dipimpin oleh para ulama seperti Datuk Sulaiman. Sistem. Lembaga, dan Metode Pembelajaran Islam Sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan di Indonesia tumbuh dan diatur sesuai dengan kebutuhan zamannya. Pada tahap awal, sistem pembelajaran bersifat sederhana melalui pengajian di rumah, surau, atau masjid. Namun pada 21 Abuddin Nata. Sejarah Pendidikan Islam. Ed. 1 (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2. , 22 Rusdiyanto. AoKesultanan Ternate Dan TidoreAo. Aqlam: Journal of Islam and Plurality. Vol. No. : 48. 23 Mukti. Abdul. Yusnaili Budianti. Faisal. Muhammad Nazri, and Muhammad Amran. AoSejarah Masuknya Ajaran Islam Dan Pendidikan Islam Di Masa Kesultanan GowaAo. Jurnal Ilmiah Hospitality. Vol. No. : 365-372. 24 Rofia Masrifah and others. AoPerkembangan Pendidikan Islam Masa Awal Di Pulau SulawesiAo. Jurnal Bahasa Indonesia. Vol. No. : 1Ae10. 25 Rosdiana Hafid. AoBudaya Politik Kerajaan WajoAo. Walasuji: Jurnal Sejarah dan Budaya. Vol. No. 2 2016: 505. 26 Muhammad AsAoad. AoEksistensi Institusi SyaraAo Dan Peranannya Dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Di Kabupaten SoppengAo. Al-Qalam, vol. No. : 39Ae51. 27 Muhammad AsAoad. AoEksistensi Institusi SyaraAo Dan Peranannya Dalam Kehidupan Beragama Masyarakat Di Kabupaten SoppengAo. Al-Qalam. V0l. No. : 44 Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 beberapa kerajaan besar seperti Aceh, sistemnya berkembang menjadi lebih terstruktur dan memiliki jenjang yang jelas. Lembaga pendidikan tradisional seperti masjid, surau, meunasah, dayah, madrasah, dan pesantren memegang peran yang sangat penting. Lembagalembaga ini tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu keagamaan, tetapi juga menjadi sarana utama dalam membentuk karakter dan moral peserta didik. Para santri dibiasakan hidup disiplin, mandiri . elalui pertanian atau perdaganga. , bertanggung jawab, serta diajarkan adab sopan santun untuk menghormati Seiring waktu, fasilitas lembaga ini semakin maju dengan adanya asrama dan perpustakaan. Dalam proses belajar mengajar, terdapat tiga metode tradisional utama yang diterapkan dan terbukti sangat efektif, yaitu: Sorogan: Metode pembelajaran individual di mana santri membaca atau menyetorkan kitab secara langsung di hadapan guru atau kiai. Metode ini menuntut ketekunan yang tinggi karena kemampuan membaca dan pemahaman setiap santri akan dikoreksi secara mendalam satu per satu. Bandongan: Metode pembelajaran kelompok atau klasikal di mana para santri duduk melingkar untuk mendengarkan, menyimak, dan mencatat penjelasan kitab yang dibacakan oleh guru. Metode ini biasanya diikuti oleh santri yang sudah memiliki dasar pengetahuan yang cukup. Halaqah: Sistem belajar dengan posisi duduk melingkar di sekeliling guru, di mana proses pembelajaran tidak hanya mendengarkan teks kitab, tetapi juga melibatkan diskusi, analisis, dan penafsiran isi kitab secara mendalam. Melalui kombinasi lembaga dan metode tersebut, sistem pendidikan Islam pada masa kerajaan berhasil melahirkan generasi masyarakat yang kokoh secara 28 Aisyah Nursyarif. AoPendidikan Islam di Indonesia dalam Lintasan Sejarah (Perspektif Kerajaan Isla. Ao. Lentera Pendidikan. Vol. No. , 265. 29 Risna Iris. AoPeran Lembaga Pendidikan Islam Tradisional Dalam Menyebarkan Ilmu Pengetahuan Di Masa Kejayaan IslamAo. Journal of Islamic Education. Vol. No. , 1Ae11. Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan (Tarbiyatul Misba. Volume XIX No. 01, edisi Juni 2026, hal. P-IISN : 2089-4724 E-ISSN : 2722-6093 spiritual, mandiri secara ekonomi, serta memiliki karakter sosial yang selaras dengan nilai-nilai kebudayaan Nusantara. SIMPULAN Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia memiliki keterkaitan erat dengan proses islamisasi Nusantara yang berlangsung secara damai melalui jaringan perdagangan dan dakwah para ulama. Kehadiran kerajaan-kerajaan Islam seperti Samudera Pasai. Aceh Darussalam. Demak, hingga kesultanan di wilayah Kalimantan. Maluku, dan Sulawesi, menjadi katalisator utama dalam mentransformasikan pendidikan Islam dari sistem personal menjadi lebih terstruktur dan berjenjang. Institusi pendidikan tradisional seperti masjid, meunasah, dayah, dan pesantren terbukti efektif tidak hanya sebagai pusat transfer ilmu-ilmu syariat, fikih, tasawuf, dan Al-Qur'an, tetapi juga sebagai ruang penanaman nilai moral dan kemandirian sosial-ekonomi. Keberhasilan penyiaran dan institusionalisasi pendidikan Islam pada masa prakolonial ini sangat ditentukan oleh kemampuan para tokoh, seperti Wali Songo dan ulama regional, dalam menerapkan metode pembelajaran berbasis kultural. Pendekatan dialogis, tasawuf, dan integrasi ajaran Islam ke dalam tradisi serta seni lokal memungkinkan nilainilai keagamaan diterima secara inklusif tanpa menimbulkan resistensi budaya. Ditopang oleh metode pembelajaran yang adaptif terhadap kapasitas individu seperti sorogan, bandongan, dan halaqah, model pendidikan masa kerajaan Islam berhasil meletakkan fondasi peradaban dan karakter masyarakat Nusantara yang religius namun tetap menghargai kearifan lokal. Warisan metodologis dan institusional ini menjadi basis historis yang esensial bagi perkembangan sistem pendidikan Islam di Indonesia era DAFTAR PUSTAKA