Jurnal Teologi Pambelum Volume 5. Nomor 1 (Agustus 2. : 83-94 ISSN: 2088-8767 (Prin. , 2829-0550 (Onlin. Link Jurnal: https://jurnal. stt-gke. id/index. php/pambelumjtp Published by: Unit Penerbitan dan Informasi STT GKE Doi Artikel: https://doi. org/10. 59002/jtp. Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Givenly Talumingan1. Roy Tamaweol2. I Ketut Suwetja3 Fakultas Teologi. Universitas Kristen Indonesia Tomohon talumingangivenly@gmail. Abstract This research discusses building a relationship paradigm according to John CalvinAos teachings on Salvation in the GMIM Alfa Omega Rinegetan Congregation in Tondano Dua Region to answer problems in the congregation that are wrong in understanding the concept of relating as a So, the purpose of this research is so that congregation members can understand how the congregation relates to each other according to John CalvinAos teachings on salvation. From this problem, the researcher uses a qualitative research method, and the researcher conducted observations, interviews, then used sampling techniques and data analysis techniques to achieve the objectives of this research. From the results of this research, it was found that some congregations understand that in establishing relationships with others, what others do, that will also be done back to the person, in positive or negative terms. Keywords: Salvation. Relationship. John Calvin. Abstrak Penelitian ini membahas tentang membangun paradigma relasi menurut ajaran Yohanes Calvin tentang Keselamatan di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Wilayah Tondano Dua untuk menjawab permasalahan dalam jemaat yang keliru dalam memahami akan konsep berelasi sebagai Maka tujuan dari penelitian ini yaitu supaya anggota jemaat dapat memahami bagaimana jemaat berelasi dengan sesama menurut ajaran keselamatan Yohanes Calvin. Dari masalah ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, dan peneliti melakukan observasi, wawancara, kemudian memakai teknik sampling dan teknik analisis data untuk mencapai tujuan dari penelitian Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa sebagian jemaat memahami bahwa dalam menjalin relasi dengan orang lain maka apa yang dilakukan orang lain, itu juga yang akan dilakukan kembali kepada orang tersebut, dalam hal positif ataupun negatif. Kata kunci: Keselamatan. Relasi. Yohanes Calvin. Pendahuluan Pada mulanya, saat manusia dijadikan oleh Allah, maka diciptakan seturut dengan gambar dan rupa Allah. Manusia diciptakan sangat mulia diantara ciptaan Allah yang lain. Namun karena ketidaktaatan manusia akan Allah, maka manusia jatuh ke dalam dosa. Manusia yang telah dilarang Allah untuk tidak makan buah yang ada di tengah taman Eden. Diterima Redaksi: 16-05-2025 | Selesai Revisi: 22-08-2. Diterbitkan Online: 30-08-2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan namun karena keingintahuan, maka manusia tergoda untuk melakukan hal yang dilarang. Akibatnya ialah membuat gambar dan rupa Allah yang ada pada manusia menjadi rusak karena dosa manusia, dan karena kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Dengan kejatuhan manusia pada dosa membuat manusia bukan lagi mengarahkan pandangan matanya kepada Tuhan Allah, namun malahan membelakangi Allah (Hadiwijono, 1992, hlm. Akibat dari kejatuhan manusia akan dosa menyebabkan manusia hidup dikuasai dosa dan menjadi budak dosa. Akibat lain juga yakni manusia mendapatkan murka Allah (Hadiwijono, 1992, hlm. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa tersebut, manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat yang jahat (Situmorang, 2015, hlm. 14Ae. Manusia yang pada awalnya diciptakan sesuai dengan gambar Allah menjadi rusak akibat dari ketidaktaatan dari manusia. Ketika manusia yang ditempatkan di taman Eden, melanggar apa yang telah dilarang oleh Allah, maka secara teologis, manusia sudah dinodai oleh dosa, yaitu kejahatan, kesombongan, dan kekotoran. Dengan dosa-dosa ini yang ada pada manusia membuat manusia tidak mampu lagi melihat Allah, realitas Allah tidak terselami dan tidak dapat dijangkau oleh pemikiran manusia. Pada hakikatnya manusia sudah dicemari oleh dosa. Hal tersebut membuat manusia tidak bisa lagi mendapatkan kebebasan dari dosa. Oleh karena dosa yang sudah ada dalam diri manusia, maka keselamatan harus datang dari sumber di luar manusia, yaitu dari Sang Pencipta yaitu Allah yang di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dan itulah yang disebut dengan tiga sola, yakni sola fide, sola gratia, dan sola scriptura (Sumakul, 2016, hlm. 17Ae. Dosa yang ada dalam diri manusia, membuat manusia sudah tidak lagi layak untuk mendapatkan keselamatan. Dosa menjadikan manusia terpisah dengan Allah, dan relasi antara Allah dan manusia menjadi rusak, yang telah dirusakkan oleh manusia (Abineno, 1989, hlm. Manusia yang melakukan dosa setiap hari, bukan hanya karena ketidaktaatan Adam, tetapi juga karena manusia terus menerus cenderung untuk melakukan dosa dan memberontak kepada Allah (Baan, 2023, hlm. Dosa memisahkan hubungan Allah dengan manusia yang membuat manusia tidak mampu berbuat benar di hadapan Allah dan manusia akan mendapatkan murka Allah. Maka manusia yang sudah jatuh dalam dosa akan mendapatkan penghukuman dari Allah. Sebab upah dosa ialah maut. Sehingga manusia membutuhkan keselamatan, namun manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Manusia tidak bisa mendapatkan keselamatannya sendiri, sebab manusia yang telah berdosa arah hidupnya membelakangi Allah dan jalannya semakin menuju kepada yang bukan keselamatan. Usaha dari manusia tidak akan pernah bisa untuk mencapai keselamatan. Hanya ada satu cara agar manusia mendapatkan keselamatan, yaitu jika Allah sendiri yang berinisiatif untuk menyelamatkan manusia. Karya Allah sebagai jalan keselamatan bagi manusia dinyatakan dalam Yesus Kristus sebagai perantara antara manusia dengan Allah. Allah mengutus Yesus Kristus. Anak-Nya yang Tunggal untuk sengsara, menderita, bahkan mati di salib, namun bangkit dari antara orang mati, dan naik ke sorga, agar supaya manusia mendapatkan keselamatan. Karena yang dapat menjadi perantara dari Allah dan manusia ialah Ia yang merupakan Allah yang sejati dan manusia yang sejati, dan hal tersebut hanya dapat terpenuhi di dalam Yesus Kristus yang adalah Allah dan manusia. Dalam kemanusiaan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Yesus. Ia tidak pernah melakukan dosa, maka Ia dapat menjadi Juruselamat bagi manusia yang berdosa karena Ia adalah yang suci dan kudus, dan Ia dapat menjadi pendamaian bagi manusia kepada Allah. Kasih yang begitu besar dari Allah yang membuat Allah menyatakan karya-Nya bagi manusia ciptaan-Nya. Satu-satunya jalan untuk umat manusia bisa mendapatkan keselamatan yaitu hanya di dalam Yesus Kristus yang adalah Juruselamat. Kasih Allah yang begitu besar bagi manusia sehingga dengan rela memberikan Anak-Nya Yesus Kristus untuk menderita bagi manusia yang berdosa. Karena itu, sebagai jemaat patut melihat kasih Allah tersebut untuk dilakukan kepada sesama manusia. Jemaat meneladani Allah dalam tindakan kasih kepada semua orang, kepada orang-orang yang telah berbuat baik ataupun berbuat jahat. Namun dalam realitas yang terjadi di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan, kasih Allah tersebut belum sepenuhnya dinyatakan karena masih banyak jemaat yang melakukan kasih hanya kepada orang-orang yang telah lebih dahulu menyatakan kasih kepada jemaat tersebut, dan juga ketika ada orang lain yang tidak menyatakan kasih kepada jemaat tersebut, maka itu pun yang dilakukan kepada orang lain (Wawancara ES. Maret Dalam perumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu tentang sejauh mana pemahaman jemaat mengenai ajaran tentang keselamatan dan bagaimana relasi jemaat dengan sesama menurut ajaran keselamatan dari Yohanes Calvin. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemahaman jemaat mengenai ajaran tentang keselamatan dan untuk mengetahui bagaimana jemaat berelasi dengan sesama menurut ajaran keselamatan dari Yohanes Calvin. Dalam bahasan ajaran keselamatan menurut Yohanes Calvin sudah pernah dibahas sebelumnya dalam penelitian tentang Tinjauan Dogmatis Mengenai Keselamatan bayi yang sudah Dibaptis Meninggal diperhadapkan dengan Pandangan Yohanes Calvin dan Implikasinya bagi Anggota Jemaat GBPK Runggun Lau Gunung oleh penulis Emita Ginting dan Pardomuan Munthe. Dalam artikel tersebut lebih membahas mengenai ajaran keselamatan menurut Yohanes Calvin bagi bayi yang sudah dibaptis kemudian meninggal, namun dalam penelitian ini memberikan kebaruan yaitu ajaran keselamatan menurut Yohanes Calvin sebagai perwujudan relasi dari jemaat kepada sesama, yaitu sebagai jemaat untuk mengasihi semua orang, termasuk mengasihi orang-orang yang tidak mengasihi kita, tidak membalas kejahatan yang dilakukan orang lain, dan juga membantu orang lain dengan tidak memandang bulu. Metode Penelitian ini dilaksanakan di jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan, dan menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendapatkan data lapangan. Dalam metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang dalam pemecahan masalahnya menggunakan data empiris dan prosedur penelitiannya memperoleh data deskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan berdasarkan perilaku yang diamati secara teliti. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan studi kepustakaan, selanjutnya observasi . yakni peneliti terlibat langsung dengan subjek penelitian sekaligus mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan pokok penelitian, dan interview . kepada para informan, dalam pelaksanaan wawancara, peneliti sudah menyediakan daftar Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan pertanyaan tentang pokok permasalahan untuk mendapatkan informasi yang mendukung, dan wawancara ini dilakukan dengan bertatap muka dengan informan. Sedangkan untuk pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik Sampling yaitu teknik Purposive Sampling. Alasannya karena tidak semua sampel memiliki kriteria yang sesuai dengan fenomena yang diteliti. Maka peneliti menggunakan teknik Purposive Sampling yang menetapkan pertimbangan-pertimbangan atau kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh sampel-sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini, peneliti mendapatkan informan sebanyak 5 orang yang terdiri dari 1 pendeta, 1 penatua, dan 3 jemaat. Hasil dan Pembahasan Keselamatan Menurut Yohanes Calvin Keselamatan merupakan karunia Allah semata-mata, dan Yesus merupakan jalan dari keselamatan ini. Manusia hanya dapat diselamatkan oleh Allah karena manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Keselamatan tidak akan dapat diperoleh manusia melalui segala perbuatannya, melainkan keselamatan merupakan sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada semua manusia yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dalam iman (Jonge, 1998, hlm. 45Ae. Yesus Kristus merupakan korban yang telah dipersembahkan untuk mendamaikan manusia dengan Allah, sehingga manusia dianggap benar di hadapan Allah. Karena tidak mungkin manusia berkenan kepada Allah dan diangkat menjadi anak-Nya, selain ketika Dia yang mengampuni kesalahan manusia. Maka Yesus Kristus ialah pembasuhan yang menyeluruh dan sempurna, dan bahwa dalam kematian-Nya manusia mempunyai pelunasan menyeluruh sehingga manusia dinyatakan tidak bersalah berhubung dengan pelanggaran dan kejahatan manusia, dan bahwa manusia hanya dapat dibebaskan dengan cara tersebut (End, 2000, hlm. Keselamatan yang Allah berikan kepada manusia yang terpanggil melalui sola gratia dan bukanlah melalui upaya manusia. Bagi Calvin, panggilan iman bukanlah usaha dari manusia, namun semata-mata karena Allah. Usaha manusia tentulah cacat di hadapan Allah. Calvin mengatakan. Tuhan Allah telah meletakkan meterai keselamatan di dalam panggilan, karena sebagaimana keselamatan manusia dipenuhi dalam kematian Kristus, begitu juga Allah oleh Injil menjadikan manusia untuk mengambil bagian dalam panggilan iman itu (Sumakul, 2016, hlm. 108Ae. Keselamatan ialah semata-mata merupakan kasih karunia Allah saja, dan bukan karena amalan dari manusia (Berkhof, 1986, hlm. Calvin mengajarkan bahwa keselamatan itu ditawarkan dengan cuma-cuma, dan itu merupakan janji dari Allah (Gordon, 2009, hlm. Perbuatan baik yang orang percaya lakukan merupakan jawaban atas pembenaran yang telah diterimanya (Jonge, 1993, hlm. Satu-satunya korban yang berkenan kepada Allah ialah korban yang memenuhi tiga tuntutan, yakni: yang pertama ialah korban adalah benar-benar Allah, yang kedua korban adalah benar-benar manusia, dan yang ketiga korban merupakan manusia yang tidak memiliki dosa atau manusia yang benar. Yang menjadi korban tersebut ialah manusia yang sejati dan benar, namun yang kekuatannya dapat melebihi segala makhluk, yang berarti itu adalah Allah yang sejati, yang juga dapat menjadi pengantara sekaligus juga dapat menjadi penebus antara manusia dengan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Allah. Keadilan dari Allah menuntut agar supaya pembayaran untuk dosa dilakukan oleh kodrat manusia yang telah berdosa itu, sedangkan seorang manusia tidak sanggup melakukan pembayaran untuk dosa orang lain karena dirinya sendiri pun telah melakukan Maka korban yang menyenangkan Allah haruslah korban yang benar-benar manusia dan benar-benar sempurna, dan yang lebih terpenting korban tersebut haruslah benar-benar Allah. Agar supaya dengan kuasa keallahan-Nya Dia dapat menanggung beban murka Allah atas kemanusiaan-Nya, memperoleh kebenaran dan kehidupan bagi manusia, dan mengembalikannya kepada manusia. Pengantara yang sejati tersebut yang merupakan Allah yang sejati dan sekaligus manusia yang sejati dan benar ialah Yesus Kristus, yang telah diberikan kepada manusia oleh Allah untuk menjadi hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan yang sempurna bagi manusia. Pada hakikatnya. Kristus memiliki dua natur yakni, pertama Allah yang tetap ada dalam diri-Nya, dan yang kedua ialah manusia yang menjadi pada diri-Nya. Tabiat keallahan-Nya tetap bersatu dengan natur kemanusiaan, bahkan ketika Dia terbaring dalam kubur sekalipun. Dan keallahan-Nya tidak berhenti berada di dalam-Nya. Sebagaimana berada di dalam-Nya waktu Dia kanak-kanak meskipun selama beberapa waktu tidak menyatakan diri-Nya. Kristus yang telah mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia, dengan sungguh-sungguh mengenakkan tabiat manusia yang sejati dengan segala kelemahannya, kecuali melakukan dosa. Karna Dia yang dikandung dari badan anak dara Maria yang berbahagia, oleh kekuatan Roh Kudus, tanpa perbuatan dari seorang lakilaki. Dia yang menggunakan tabiat manusia, tidak hanya sejauh menyangkut tubuh saja, melainkan juga jiwa manusia yang sejati, supaya Dia menjadi manusia yang sejati. Karena jiwa manusia sama binasa dengan tubuh maka perlu Dia dikenakan keduanya supaya dapat menyelamatkan keduanya. Sehingga Dia, yaitu Kristus yang menjadi penyelamat bagi umat manusia merupakan Allah yang sejati dan manusia yang sejati, merupakan Allah yang sejati supaya maut dikalahkan-Nya oleh kekuatan-Nya, dan merupakan manusia sejati supaya Dia dapat mati bagi kita menurut kelemahan daging-Nya (Baan, 2023, hlm. 65Ae. Kristus menjadi manusia dan dalam segala hal Dia rela menderita dan mati. Sehingga Ia bukan hanya taat secara pasif kepada Bapa-Nya ketika Ia turun ke dunia, tetapi juga Dia rela secara aktif untuk menjalaninya. Dari kekekalan. Kristus telah bersuka dalam menyelamatkan orangorang berdosa dan dalam menjadi manusia untuk melakukannya. Betapa dalamnya Ia telah merendahkan diri-Nya sendiri. Ia mengambil kutuk hukum Taurat pada diri-Nya, menanggung dosa-dosa dari umat manusia, dan menjalani penderitaan -penderitaan yang diakibatkan oleh dosa. Namun. Ia yang merupakan Anak Allah yang kekal, yang mengenakan kemuliaan dan kemegahan tertinggi. Hal ini terjadi hanya karena kasih-Nya yang kekal kepada orang-orang berdosa yang terhilang, yang telah diberikan Bapa kepadaNya untuk ditebus. Kasih yang begitu besar sehingga Dia bahkan bersedia untuk menyerahkan hidup-Nya sendiri demi keselamatan dari manusia yang telah berdosa (Baan, 2023, hlm. "Keselamatan datang dari Bapa melalui Anak-Nya yaitu Yesus Kristus yang menjadi penebus bagi umat manusia yang berdosa" (Wawancara DT. Maret 2. "Karya keselamatan melalui Yesus Kristus dikerjakan-Nya melalui pelayanan, penderitaan, salib Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan kematian, dan kebangkitan-Nya bagi manusia, dan berlaku terus-menerus sampai kedatangan-Nya kembali ke dunia sebagai hakim yang adil. " (Wawancara ES (Maret 2. Menurut Calvin, betapapun agungnya Kristus dan betapa banyaknya yang telah Ia lakukan untuk penebusan manusia, namun itu tidak berarti apa-apa jika manusia tetap berada di luar diri-Nya (Thianto, 2. Manusia yang telah diselamatkan harus memelihara kekudusan dalam hidup dan tekun dalam iman. Karena melalui iman itu sendiri, ada penyesalan atas dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya dan bertobat dari dosa. Apabila tidak ada penyesalan akan dosa dan menyerah terhadap dosa, maka manusia tersebut dari semula tidak memiliki iman. Sehingga apabila manusia yang telah dengan sungguh-sungguh memahami akan kebenaran dari alkitab tentang ketekunan orang-orang kudus, maka ia tidak akan mengarah pada dosa, tetapi akan mengarah kepada kekudusan. Manusia yang telah menyadari bahwa ia bukanlah orang yang baik, dan menyadari bahwa iman adalah pemberian Allah, maka percaya bahwa yang membuat ia menjadi tekun yaitu satu-satunya karena Allah yang telah memberikan Roh Kudus dalam hidup, sehingga tidak akan mau berbuat dosa, namun ingin menyatakan syukur kepada Allah (Palmer, 2005, hlm. Bagi umat yang telah menerima keselamatan, hendaklah untuk menjadikan Kristus sebagai teladan, karena sebagaimana Allah telah memperdamaikan umat-Nya di dalam Kristus, dan Kristus telah menjadi pengantara antara umat dan Allah, sehingga umat harus mengikuti teladan dari Kristus. Selanjutnya, bukan dituntut untuk menjadi sempurna, melainkan melakukan firman-Nya dengan ketulusan. Tidak menganggap bahwa perbuatan jahat sebagai sesuatu yang tidak berarti, namun terus berusaha agar dapat melampaui kemampuan diri untuk melakukan hal yang baik. Memang kebaikan bukanlah apa yang dicari selama hidup, akan tetapi hal tersebut baru bisa ditangkap ketika umat telah menanggalkan daging yang lemah dan umat diterima dalam persekutuan sepenuhnya dengan Allah (Calvin & Winarsih, 1999, hlm. 148Ae. Pemahaman Jemaat terkait Ajaran Yohanes Calvin tentang Keselamatan sebagai Implikasi dalam Berelasi Bagi Jemaat Di GMIM Alfa Omega Rinegetan Pemahaman Tentang Ajaran Keselamatan Keselamatan yaitu berasal dari anugerah Allah yang Ia berikan bagi manusia melalui Yesus Kristus yang menjadi penebus dosa bagi manusia yang berdosa. Bagi manusia yang memiliki iman kepada Tuhan Yesus, yang telah mengaku percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat maka akan mendapatkan anugerah keselamatan itu. Karya keselamatan Allah diberikan oleh Allah sejak manusia pertama yaitu Adam dan istrinya Hawa di taman Eden, namun karena mereka melanggar apa yang telah ditetapkan Allah maka membuat gambar Allah dalam diri manusia menjadi rusak, dan sejak saat itu Allah mengusir mereka dari taman Eden, dan bahkan manusia-manusia selanjutnya menjadi berdosa oleh karena dosa Adam, dan memang karena manusia telah memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa. Namun Allah telah merencanakan keselamatan bagi manusia karena kasih-Nya bagi ciptaan-Nya yaitu memberikan Yesus Kristus sebagai pengantara antara Allah dengan manusia. Yesus Kristus menjadi manusia. Ia datang untuk menanggung dosa Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan manusia. Ia rela untuk menderita. Ia mati di kayu salib, dan kemudian Ia bangkit mengalahkan dosa dan maut. Maka karya keselamatan itu hanya karena anugerah dari Allah di dalam Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia. Bukan diperoleh karena kemampuan diri manusia, namun semata-mata karena anugerah Allah saja (Wawancara ES. DT. WW. RR. Maret-April 2. Keselamatan itu tentang apa yang dirasakan manusia setiap hari yang berupa nafas kehidupan, kesehatan, dan kemampuan yang diberikan Tuhan bagi manusia untuk menjalani kehidupan setiap hari (Wawancara RD. April 2. Mengapa Manusia Membutuhkan Keselamatan Manusia telah berdosa sejak manusia pertama, dan karena itu manusia membutuhkan keselamatan (Wawancara ES. RR. RD. April 2. Kehidupan manusia bukan hanya kehidupan di dunia ini, melainkan akan ada juga kehidupan kekal bersama Bapa di sorga nanti, karena itu manusia membutuhkan keselamatan agar bisa mendapatkan kehidupan kekal nantinya, karena apabila tidak pasti manusia akan binasa (Wawancara DT. Maret 2. Apabila manusia tidak diselamatkan, maka manusia akan terus menerus mengikuti kehendak dirinya sendiri, dan karena manusia telah diselamatkan, maka ia pasti akan mengandalkan Tuhan dalam hidupnya (Wawancara WW. April 2. Proses Manusia Mendapatkan Keselamatan Keselamatan itu datang dari anugerah Allah bagi manusia, karena Tuhan Allah tidak ingin agar manusia binasa, karena Ia ingin bahwa manusia sebagai ciptaan-Nya untuk mendapatkan keselamatan. Walaupun manusia telah berbuat yang tidak dikehendaki oleh Tuhan, manusia telah melakukan dosa, namun Allah sangat mengasihi manusia dengan memberikan anugerah kepada manusia yaitu memberikan keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus yang menjadi Juruselamat bagi manusia. Karena itu keselamatan memang hanya anugerah dari Allah saja dan bukan karena usaha manusia, bukan karena kehebatan dalam diri manusia, namun karena kasih Allah yang begitu besar bagi ciptaan-Nya maka Ia memberikan anugerah tersebut. Anugerah keselamatan yang diberikan tersebut seperti hadiah, yakni diberikan secara cuma-cuma bagi manusia, lewat Yesus yang berkorban untuk mengerjakan karya keselamatan itu agar manusia dapat memperoleh keselamatan itu. Maka keselamatan itu harus diterima manusia lewat iman percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi umat manusia, dan juga sebagai buah dari keselamatan itu maka manusia yang diselamatkan melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Tuhan (Wawancara ES. DT. WW. RR. Maret-April 2. Keselamatan itu datang karena manusia telah melakukan yang benar di mata Tuhan, kemudian Allah memberikan keselamatan itu. Manusia yang telah melakukan segala yang diajarkan oleh Tuhan barulah manusia memperoleh keselamatan itu (Wawancara RD. April 2. Perilaku Manusia Yang Telah Diselamatkan Bersyukur bahwa telah diselamatkan oleh Allah, dan keselamatan itu harus diwujudnyatakan lewat perilaku yang mencerminkan sebagai pengikut Kristus yaitu dengan Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan menaati segala yang menjadi ketetapan dan ajaran-ajaran yang telah Allah berikan, dengan mengikuti teladan dari Yesus Kristus saat Ia menjadi manusia, dan juga ada banyak contohcontoh praktis yang diberikan tentang bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh manusia yang telah diselamatkan (Wawancara ES. DT. WW. Maret-April 2. Sebagai manusia yang talah mendapatkan keselamatan, harus melakukan segala perilaku positif yaitu seperti datang beribadah dan terlibat aktif dalam kegiatan jemaat, juga manusia tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak dikehendaki Tuhan (Wawancara RR. April 2. Keselamatan itu tidak memerlukan balasan, karena manusia yang telah diselamatkan oleh Allah, maka tidak perlu untuk melakukan perbuatan baik, karena melakukan atau tidak melakukan perbuatan baik, tetap sama-sama telah diselamatkan oleh Allah (Wawancara RD. April 2. Relasi Jemaat Dengan Sesama Keselamatan sebagai bentuk kasih dari Allah yang Ia berikan bagi manusia yang telah Kasih Allah itu diwujudkan dengan Ia memberikan Yesus Kristus untuk menderita dan menanggung dosa manusia, dan itu diberikan secara cuma-cuma dari Allah kepada manusia karena itu sebagai manusia yang telah diberikan keselamatan harus memiliki relasi yang baik dengan orang lain. Seperti Allah yang memberikan kasih yang cuma-cuma tanpa manusia yang harus lebih dulu melakukan perbuatan baik, maka itu juga yang harus dilakukan manusia yaitu berbuat baik kepada semua orang tanpa melihat apa yang telah dilakukan lebih dahulu orang tersebut (Wawancara ES. DT. WW. Maret-April 2. Dalam berelasi dengan orang lain tidak mungkin untuk berlaku baik kepada semua orang, karena apabila ada orang yang jahat dan harus dibalas dengan kebaikan maka orang tersebut akan melakukan yang seenaknya, dan akan ada kepuasan tersendiri apabila dapat membalas dengan perbuatan yang jahat dari orang yang lebih dahulu berbuat jahat (Wawancara RR. April 2. Sebagai manusia tentu sulit untuk terus berbuat kebaikan dalam relasi kepada semua orang, apalagi kepada orang yang telah berbuat yang jahat, maka dalam relasi dengan orang lain, membalas apa yang telah dilakukan orang lain terlebih dahulu, seperti ketika orang lain berbuat baik, maka dibalas dengan perbuatan baik, namun jika orang lain berbuat jahat, maka dibalas dengan perbuatan yang sama (Wawancara RD. April 2. Relasi Jemaat Dengan Sesama Menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin Menurut ajaran Yohanes Calvin bahwa keselamatan diberikan dari Allah bagi manusia yaitu secara cuma-cuma, dan keselamatan itu diberikan Allah melalui Yesus Kristus yang menjadi korban yang dipersembahkan untuk mendamaikan antara manusia dengan Allah agar supaya manusia dianggap benar di hadapan Allah. Kristus yang mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia, dan Kristus benar-benar menggunakan tabiat manusia yang sejati kecuali dalam melakukan dosa, karena sekalipun Kristus menjadi manusia dan menggunakan tabiat manusia, namun Ia sama sekali tidak melakukan dosa. Karena itu keselamatan dapat diterima oleh manusia yang berdosa apabila manusia tersebut percaya kepada Kristus. Bagi sebagian anggota jemaat yang ada di GMIM Alfa Omega Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Rinegetan telah memahami keselamatan sama seperti ajaran Calvin secara dogmatis, yakni keselamatan yang diterima oleh manusia yaitu hanya karena anugerah yang berasal dari Allah, yang Ia berikan kepada manusia yang berdosa lewat penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan keselamatan itu diterima manusia lewat iman percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun masih ada jemaat yang berpikir tentang keselamatan dalam hal praktis saja yaitu yang menyangkut hal-hal yang mereka rasakan setiap hari seperti kesehatan, nafas kehidupan, dan kemampuan yang diberikan Tuhan untuk melaksanakan aktivitas setiap hari. Manusia tentu membutuhkan keselamatan karena manusia telah dikuasai dosa dan telah menjadi budak dosa. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah dalam diri manusia. Manusia telah terputus hubungannya dengan Allah, dan manusia akan binasa oleh karena dosa yang diperbuat manusia. Manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri karena manusia adalah orang berdosa. Manusia juga tidak akan bisa 100% melakukan firman Allah. Karena itu manusia membutuhkan kasih dari Allah untuk menyelamatkan manusia dari dosadosa yang telah diperbuat. Hal-hal ini juga yang menjadi jawaban dari jemaat yaitu manusia telah berdosa dan karena itu membutuhkan keselamatan, juga agar supaya manusia dapat hidup kekal nantinya. Menurut Calvin, manusia yang berdosa sama sekali tidak melakukan perbuatan baik, namun dengan kasih Allah, maka Ia merangkul manusia yang penuh dengan keberdosaan itu. Yang kemudian Allah memengaruhi orang berdosa untuk menyadari akan kebaikan Allah yang membuat manusia menyerahkan dirinya kepada belas kasihan Allah untuk menerima keselamatan itu. Dan yang selanjutnya, manusia yang berdosa akan menyadari bahwa ketika Allah telah memperbaharui diri mereka, maka manusia tidak boleh lagi mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Keselamatan merupakan anugerah yang diberikan Allah bagi manusia, yakni keselamatan itu diberikan secara cuma-cuma bagi manusia yang berdosa. Keselamatan merupakan inisiatif dari Allah untuk diberikan. Karena manusia telah berdosa dan akan mendapatkan penghukuman, maka Allah berinisiatif untuk memberikan keselamatan itu lewat pengorbanan yang dijalani oleh Yesus Kristus di dunia. Karena manusia pasti tidak akan memperoleh keselamatannya sendiri, apabila bukan Allah yang memberikan keselamatan itu. Hampir semua jemaat telah memahami hal ini, namun ada jemaat yang berpikir bahwa keselamatan itu akan diperoleh apabila melakukan perbuatan baik. Menurutnya, ketika manusia melakukan perbuatan baik, barulah ia akan menerima keselamatan itu. Bagi Calvin, keselamatan itu ditawarkan secara cuma-cuma dan itu merupakan janji Allah kepada manusia yakni umat ciptaan-Nya. Keselamatan yang Allah berikan bagi manusia terpanggil melalui kasih karunia yang Ia berikan kepada manusia dan bukanlah melalui upaya manusia. Karena usaha manusia pastilah cacat di hadapan Allah. dalam diri Kristus segala sesuatu yang diperlukan untuk keselamatan kepada manusia telah dianugerahkan kepada manusia, dan telah dijadikan bagi manusia oleh hikmat, kebenaran, pengudusan, dan penebusan. Menurut Calvin, keselamatan bukanlah dari perbuatan manusia, melainkan dari Allah sendiri, yang diterima manusia melalui iman. Menjadi hal yang keliru apabila seseorang Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan yang telah mendapatkan keselamatan itu, namun tidak berbuah dalam ketaatan untuk melakukan hukum Tuhan. karena orang percaya yang telah memiliki iman kepada Tuhan, haruslah menunjukkan perbuatan baik karena dengan menunjukkan perbuatan baik itu, merupakan realisasi dari iman tersebut. Memang manusia tidak dibenarkan oleh karena perbuatan baik, karena tidak ada manusia yang dapat memperoleh kebenaran atau kekudusan mereka sendiri, karena itu manusia hanya dapat dibenarkan melalui iman. Masih ada jemaat yang tidak memahami seperti ajaran Calvin, karena bagi mereka keselamatan yang telah diperoleh dari Allah tidak memerlukan imbalan, dan mereka berpikir bahwa ketika keselamatan telah diberikan, maka keselamatan itu tetap akan menjadi bagian dari orang percaya, sehingga melakukan perbuatan baik ataupun melakukan dosa, akan sama-sama Namun bagi Calvin ini adalah hal yang keliru, karna bila seseorang telah mengaku percaya kepada Kristus, telah masuk dalam persekutuan dengan Kristus, dan telah mendapatkan keselamatan dari Kristus, maka hidup dalam keberdosaan itu harus di tinggalkan, dan mulai untuk hidup dalam karunia Allah. Dan orang yang telah ada bersamasama dalam persekutuan dengan Kristus, maka dirinya tidak akan lagi diperhamba oleh dosa, dan akan ada penyesalan akan dosa-dosa, dan juga akan melakukan apa yang menjadi ketetapan Allah. Relasi dengan sesama harus menunjukkan seperti yang telah dilakukan Allah bagi Allah telah menyatakan kasih lebih dahulu bagi manusia yang berdosa dengan memberikan keselamatan sekalipun manusia telah berdosa. Maka sebagai manusia yang telah diselamatkan harus menunjukkan kasih itu dalam relasi dengan sesama yakni mengasihi semua orang, orang yang baik, maupun orang yang jahat sebagai perwujudan dari kasih Allah bagi manusia. Dalam berelasi dengan sesama, bagi sebagian jemaat berpendapat bahwa teladan dari kasih yang diberikan Allah bagi manusia, dan teladan Kristus yang menderita bagi manusia berdosa harus diikuti oleh jemaat. Sebagaimana kasih Allah bagi manusia lewat penderitaan Yesus Kristus yang diberikan secara cuma-cuma bagi manusia yang berdosa tanpa manusia yang lebih dahulu berbuat baik, maka itu juga yang harus dilakukan jemaat kepada orang lain tanpa melihat apa yang telah orang lain lakukan, namun harus melakukan kebaikan kepada semua orang, orang yang baik, dan orang yang jahat. Ketika manusia memiliki kasih dalam relasi dengan sesama, maka itu menjadi tanda bahwa ia telah diselamatkan Allah. Sama seperti Kristus yang mengasihi orang berdosa, maka manusia harus saling mengasihi dalam relasinya dengan sesama, dengan tidak memandang mereka yang telah melakukan kesalahan atau tidak. (Telaumbanua & Samangilailai, t. , hlm. 87Ae. Yesus pun memberikan teladan dengan menyerahkan diri-Nya untuk menebus dosa manusia sebagai bentuk kasih-Nya. (Santoso, 2024, hlm. Implikasi Keselamatan telah dianugerahkan Allah kepada manusia diberikan secara cumacuma agar manusia yang berdosa bisa memperoleh keselamatan, walaupun sebenarnya manusia tidak layak menerima anugerah tersebut. Keselamatan diberikan kepada manusia karena Allah yang begitu mengasihi manusia, dan tidak ingin manusia binasa. Karna itu Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan Allah memberikan keselamatan yang secara cuma-cuma kepada manusia agar supaya manusia dapat memperoleh hidup kekal bersama-sama dengan Allah. Keselamatan tidak memerlukan imbalan, karena keselamatan merupakan anugerah. Namun, menjadi hal yang keliru apabila mengatakan bahwa keselamatan didapat dari usaha manusia yang melakukan perbuatan baik, ataupun mengatakan tidak perlu berbuat baik karena telah mendapatkan keselamatan itu. Sebagai umat yang telah diselamatkan dan memiliki iman kepada Yesus Kristus, perlu menunjukkan perbuatan baik karena hal tersebut merupakan realisasi dari panggilan iman. Perbuatan baik yang dilakukan merupakan jawaban atas pembenaran yang telah diterimanya. Umat yang telah diselamatkan harus memelihara kekudusan dalam hidup dan tekun dalam iman. Karena melalui iman itu sendiri, ada penyesalan atas dosa-dosa yang telah diperbuat sebelumnya dan bertobat dari dosa. Apabila tidak ada penyesalan akan dosa dan menyerah terhadap dosa, maka manusia tersebut dari semula tidak memiliki iman. Sehingga apabila manusia yang telah dengan sungguh-sungguh memahami akan kebenaran dari alkitab tentang ketekunan orang-orang kudus, maka ia tidak akan mengarah pada dosa, tetapi akan mengarah kepada kekudusan. Manusia yang telah menyadari bahwa ia bukanlah orang yang baik, dan menyadari bahwa iman adalah pemberian Allah, maka percaya bahwa yang membuat ia menjadi tekun yaitu satu-satunya karena Allah yang telah memberikan Roh Kudus dalam hidup, sehingga tidak akan mau berbuat dosa, namun ingin menyatakan syukur kepada Allah. Sebagai realisasi dari keselamatan yang telah diterima tersebut, manusia dalam relasi dengan orang lain perlu mengambil contoh dari keselamatan yang diberikan Allah. Allah telah memberikan keselamatan kepada manusia secara cuma-cuma walaupun seharusnya manusia tidak layak untuk memperoleh keselamatan karena manusia telah berdosa, namun keselamatan bisa diberikan oleh Allah secara cuma-cuma kepada manusia. Karena itu, dengan mengikuti apa yang telah Allah lakukan terlebih dahulu kepada manusia, maka manusia harus berbuat hal tersebut kepada orang lain. Dalam relasi manusia dengan orang lain, perlu untuk berbuat baik kepada semua orang dengan mengikuti teladan dari Allah, yang Ia nyatakan lewat Yesus Kristus. Dalam berelasi, perlu untuk mengasihi semua orang dengan tidak melihat dahulu apa yang orang lain telah lakukan. Mengasihi semua orang, berarti mengasihi orang yang baik dan orang yang tidak baik. Karna sebagaimana Allah mengasihi manusia berdosa yang tidak layak menerima keselamatan, begitupun manusia harus mengasihi semua orang termasuk orang yang telah berbuat jahat. Kesimpulan Keselamatan yang dari Allah kepada manusia merupakan bentuk kasih dari Allah yang begitu mengasihi manusia. Kasih Allah itu dinyatakan dalam karya pengorbanan Yesus Kristus yang datang ke dunia demi menebus manusia yang berdosa dan memberikan keselamatan kepada manusia. Keselamatan yang merupakan kasih Allah tersebut diberikan kepada manusia yang berdosa secara cuma-cuma agar supaya manusia yang telah berdosa tidak menjadi binasa. Yesus Kristus yang tanpa dosa rela menderita agar supaya manusia Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025 Membangun Paradigma Relasi menurut Ajaran Keselamatan Yohanes Calvin di Jemaat GMIM Alfa Omega Rinegetan bisa memperoleh keselamatan walaupun manusia telah berdosa dan melanggar perintah Allah. Dalam meneladani Yesus Kristus, jemaat seharusnya melakukan kasih kepada semua orang dengan tidak pilih-pilih. Kasih yang dilakukan bukan hanya kepada orang yang telah lebih dahulu menyatakan kasih atau berbuat baik kepada diri sendiri, namun juga kepada orang-orang yang belum atau tidak menyatakan kasih atau orang yang berbuat jahat. Karena dalam teladan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus yaitu dengan kasih yang tak terbatas, walaupun manusia telah berdosa dan melanggar apa yang menjadi ketetapan Allah, namun kasih itu tetap dinyatakan. Allah tidak memberikan keselamatan bagi manusia yang telah berbuat kebaikan dahulu, karena keselamatan yang Allah berikan itu tidak bersifat Bukan berbuat kebaikan dahulu kemudian diselamatkan, namun manusia telah diselamatkan lebih dahulu, sehingga kemudian keselamatan yang telah diperoleh itu dinyatakan lewat perbuatan baik. Sehingga sesuai dengan ajaran Yohanes Calvin tentang keselamatan yakni keselamatan yang dari Allah ialah merupakan kasih karunia Allah saja dan kasih karunia itu diberikan secara cuma-cuma bagi manusia. Dan keselamatan tersebut tidak bersifat transaksional, maka keselamatan yang adalah kasih karunia dari Allah harus diwujudnyatakan bagi orang lain, dengan cara yaitu mengasihi semua orang sebagaimana Allah yang sudah lebuh dahulu mengasihi umat manusia. Daftar Rujukan Abineno. Pokok-pokok penting dari iman Kristen. BPK Gunung Mulia. Baan. Tulip: Lima Pokok Calvinisme. Momentum Christian Literature. Berkhof. Sejarah gereja (I. Enklaar. Penerj. Cet. BPK Gunung Mulia. Calvin. & Winarsih. Institutio: Pengajaran agama Kristen. BPK Gunung Mulia. End. van den. Enam Belas: Dokumen dasar calvinisme. Gunung Mulia. Gordon. Calvin. Yale university press. Hadiwijono. Iman Kristen (Cet. Gunung Mulia. Jonge. Gereja mencari jawab: Kapita selekta sejarah gereja. Gunung Mulia. Jonge. Apa itu Calvinisme? (Cet. BPK Gunung Mulia. Palmer. Lima Pokok Calvinisme . Momentum Christian Literature. Santoso. IMPLEMENTASI MEMBANGUN RELASI BERDASARKAN EFESUS 5:1-2 TERHADAP KEUTUHAN JEMAAT SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS. Manna Rafflesia, 10. Article https://doi. org/10. 38091/man_raf. Situmorang. Soteriologi (Doktrin Keselamata. : Pengajaran Mengenai Karya Allah dalam Keselamatan. ANDI. Sumakul. Panggilan Iman dalam Teologi Luther dan Calvin: Suatu Kajian Etika Sosial Politik dalam Gereja Reformasi (Cet. BPK Gunung Mulia. Telaumbanua. , & Samangilailai. Kajian Teologis: Tentang Konsep Kasih terhadap Sesama dalam Injil 1 Yohanes 4:7-8 dan Relevansinya bagi Umat Kristiani. Thianto. An ExplorerAos Guide to John Calvin. InterVarsity Press. Jurnal Teologi Pambelum Vol. No. Agustus 2025