Jurnal Kebidanan Besurek ISSN: 2527- 3698 STANDAR PORSI MENU DI BALAI PELAYANAN DAN PENYANTUNAN LANJUT USIA (BPPLU) KOTA BENGKULU Standards Of Portions Menu In The Services And Further Advantages Ages (BPPLU) Bengkulu City Arenga Nucifera. Jumiyati. Meriwati. Poltekes Kemenkes Bengkulu. Jl. Indragiri No. 03 Padang Harapan Bengkulu yatijumi70@yahoo. Abstrak Standar porsi merupakan jumlah bahan makanan dalam berat dan bersih dari suatu hidangan perorangan untuk sekali makan. Makanan yang disajikan hendaknya sesuai dengan kebutuhan seseorang. Porsi bahan makanan yang digunakan harus sesuai dengan standar porsi masing-masing bahan makanan untuk memenuhi gizi. Kesalahan dalam persiapan, pemotongan maupun cara pengolahan menjadi salah satu penyebab ketidak sesuaian porsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran standar porsi menu sehari yang berlaku (Makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur, dan buah-buaha. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia (BPPLU) Kota Bengkulu mulai bulan April 2015. Metode pengambilan data untuk bahan makanan dengan menggunakan food weighing pada bahan makanan yang sudah disajikan lalu ditimbang, dicatat beratnya dan data sekunder berupa menu sehari. Hasil penelitian didapatkan bahwa. Siklus menu yang dipakai siklus menu 7 hari terdiri dari makan pagi, makan siang dan makan sore. Kata kunci : Standar Porsi. Siklus Menu Abstract Standard portion is the amount of food in the weight and net of a single dish for one meal. The food served should suit one's needs. The portion of the foodstuff used should be in accordance with the standard portion of each foodstuff to meet the nutrients. Mistakes in preparation, cutting and processing are one of the causes of non-conformity. This study aims to determine the standard portion of the daily menu that is applicable . taple food, animal side dishes, vegetable side dishes, vegetables, and fruit. This research uses descriptive design. The research was carried out at Balun Service and Speech of Aged (BPPLU) of Bengkulu City starting April 2015. Method of collecting data for foodstuffs using food weighing on foodstuffs that have been presented and then weighed, note the weight and secondary data in the form of menus. The results obtained that, the cycle menu used cycle 7 day menu consists of breakfast, lunch and dinner. Keywords: Standard Servings. Menu Cycle Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 Jurnal Kebidanan Besurek PENDAHULUAN Usia lanjut merupakan proses normal yang akan dialami oleh setiap individu, jika mencapai usia lanjut dan merupakan kenyataan yang tidak dapat Memasuki usia tua berarti kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi ompong, pendengaran kurang jelas, gerakan lambat, dan gerakan tubuh yang tidak proporsional (Nugroho, 2. Penduduk lansia di Indonesia mengalami peningkatan dari 4,48% . ,3 juta jiw. pada tahun 1971 menjadi 9,77% . ,9 juta jiw. pada tahun 2010. Pada tahun 2020 diprediksi akan terjadi ledakan jumlah penduduk lansia sebesar 11,34% atau sekitar 28,8 juta jiwa. Peningkatan jumlah lansia di Indonesia muncul sebagai pergeseran jumlah penduduk yang berusia lanjut dari sekitar 6% selama periode 1950-1990, sekarang mencapai 8%, dan diprediksi akan meningkat menjadi 13% pada tahun 2025, dan menjadi 25% di Ini berarti pada tahun 2025, 1 dari 4 penduduk Indonesia dapat dikelompokkan sebagai orang berusia lanjut dibandingkan 1 dari 12 penduduk Indonesia saat ini (Fatmah, 2. Pemenuhan gizi pada lanjut usia . sangat penting, karena asupan energi sangat mempengaruhi ketahanan Pada usia lanjut dapat terjadi perubahan tingkat berbagai hormon dan penurunan metabolisme sehingga terjadi AupenundaanAy munculan penyakit yang berhubungan dengan bertambah umur (Notoatmodjo, 2. Kecukupan penting bagi para usia lanjut. Lansia yang berusia 70 tahun, kebutuhan gizinya sama dengan saat berusia 50-an, yang mana nafsu makan mereka cenderung terus Sehingga Bertambahnya usia menyebabkan indra pengecapan akan menurun, sebagai Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ISSN: 2527- 3698 kompensasi, banyak para lanjut usia memilih makanan yang rasanya sangat manis atau asin, padahal, penambahan gula hanya memberikan kalori kosong (Azizah, 2. Untuk memenuhi kebutuhan gizi para lansia di panti maka perlu adanya sistim penyelengaraan makanan, agar dapat menyediakan makanan yang kualitasnya baik jumlah yang sesuai dengan kebutuhan serta pelayanan yang layak dan memadai bagi (Aritonang, 2. Sistem penyelenggaraan makanan institusi merupakan suatu rangkaian kegiatan terpadu yang terdiri dari pengadaan, penyimpanan, pemasakan, dan penyajian makanan dan minuman, dan cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dikoordinasikan secara penuh dengan menggunakan tenaga kerja sedikit mungkin, kepuasan langganan dan Penyelenggaraan masyarakat yang diasuhnya, tanpa memperhitungkan keuntungan dari institut secara sosial (Moehyi, 2. Sistem penyelengaraan makannan hendaknya memperhatikan porsi bahan makanan yang digunakan, harus sesuai dengan standar porsi masing-masing bahan makanan untuk memenuhi gizi Standar porsi merupakan standar macam dan jumlah bahan makanan dalam berat dan bersih dari suatu hidangan perorangan untuk sekali Makanan yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan seseorang. Kesalahan dalam persiapan, pemotongan maupun cara pengolahan mungkin potongan dan bentuk, standar porsi (Depkes RI, 2. Besar porsi yaitu banyaknya makanan yang dihidangkan, porsi untuk setiap orang berbeda sesuai dengan kebiasaan makanan sehari-hari. Porsi Jurnal Kebidanan Besurek yang terlalu besar atau terlalu kecil merugikan penampilan makanan, besar porsi bukan hanya penting untuk penampilan waktu disajikan tetapi juga berkaitan dengan perencanaan dan perhitungan pemakaian bahan makanan (Moehyi, 1. Survei dilakukan di Badan pelayanan dan penyantunan lanjut usia Kota Bengkulu yang berfungsi sebagai tempat atau sarana pelayanan kesejahteraan sosial bagi para lanjut usia yang mengalami masalah sosial yang disebabkan oleh kemiskinan, ketidak mampuan fisik dan ekonomi untuk diberikan pembinaan pelayanan sosial serta perlindungan agar dapat Sitem penyelenggaraman makanan di badan pelayanan dan penyantunan lanjut usia ini dikelolah oleh juru masak 1 orang, yang mana setiap harinya melayani untuk 54 orang lansia di antaranya yang berjenis kelamin laki-laki 35 orang, sedangkan berjenis kelamin perempuan 19 orang. Berdasarkan hal ini peneliti tertarik untuk meneliti standar porsi menu di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu. BAHAN DAN METODE Disain penelitian deskriptif yaitu menggambarkan kesesuaian standar porsi makanan yang dihidangkan dengan daftar Penelitian ini dilakukan di instalasi gizi Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu. Populasi adalah semua makanan biasa yang disajikan di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu. Sampel adalah makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayurmayur dan buah-buahan yang disajikan. Data primer yang diambil berupa standar porsi menu sehari yang didapat dengan melakukan pengamatan dan penimbangan langsung . ood weighi. Pada penelitian Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ISSN: 2527- 3698 ini data primer digunakan untuk menghitung kesesuaian porsi pada makanan biasa. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini adalah gambaran umum institusi dan data yang ada dari bagian Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu yaitu menu Teknik pengumpulan data dengan metode penimbangan . ood weighi. dan formulir yaitu makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur dan buah-buahan yang dihidangkan dan dibandingkan dengan daftar penukar bahan makanan. HASIL Gambaran Instalasi Gizi di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia (BPPLU) Kota Bengkulu Instalasi gizi di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu merupakan unsur penunjang pelayanan kesehatan dibidang gizi, tujuan pokok dan fungsi instalasi gizi Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia Kota Bengkulu adalah melaksanakan penyaluran makanan sehingga tersedia makanan yang berkualitas dan tercapai kebutuhan energi untuk para lanjut usia. Balai Pelayanan Penyantunan Lanjut Usia makanan diberikan sebanyak 3 kali dalam sehari yaitu makan pagi, makan siang, dan makan sore. Menu yang diberikan setiap harinya berbeda-beda tidak sesuai dengan yang ada disiklus menunya dikarenakan bahan makanan yang disediakan sesuai dengan stok bahan makanan. Standar porsi makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur dan buah untuk makan pagi, siang, dan sore sama, akan tetapi berat makanan yang dihidangkan berbeda-beda, karena tidak menggunakan standar resep. Jurnal Kebidanan Besurek ISSN: 2527- 3698 Kemudian membandingkannya dengan Jalannya penelitian bahan penukar yang sesuai atau tidak Penelitian ini dilakukan untuk sesuai standar porsi yang ada di Balai mengetahui gambaran tentang kesesuaian Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia. standar porsi menu sehari meliputi : Tahap pengolahan data: Data yang makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, diambil dari instalasi gizi dikumpulan sayur-mayur, dan buah-buahan di Balai kemudian dilakukan analisa secara Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia . Setelah semua data lengkap Penelitian ini di bagi kedalam 3 tahap, dengan tujuan penelitian dapat berjalan dengan sistematis dan efektif. serta kesimpulan penelitian. Adapun tahapan-tahapan penelitian ini adalah sebagai berikut tahap persiapan Siklus Menu di Balai Pelayanan dan penelitian, meliputi: mengurus surat izin Penyantunan Lanjut Usia penelitian dari Poltekkes Kemenkes Bengkulu dan Balai Pelayanan dan Siklus menu yang ada di Balai Penyantunan Lanjut Usia, melakukan Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia koordinasi dengan pihak-pihak yang terdiri dari siklus menu tujuh hari untuk terkait di tempat penelitian yaitu makan pagi, makan siang dan makan sore. penelitian di dapur Balai Pelayanan dan Hanya saja menu yang disajikan berbeda Penyantunan Lanjut Usia, pengadaan dengan siklus menu yang ada. Kesalahan alat-alat penelitian seperti timbangan, dapat disebabkan oleh antara lain: alat-alat tulis yang diperlukan dalam pengawasan yang kurang dari petugas penerimaan bahan makanan pada saat Tahap melihat siklus menu selama tuju hari kemungkinan tidak dilakukan pengamatan yaitu menu makan pagi, makan siang dan makan sore . Lalu pengumpulan data penerimaan bahan makanan pada saat dengan melakukan penimbangan secara penerimaan bahan makanan. langsung berdasarkan standar porsi yaitu makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur dan buah-buahan. Tabel 1 Gambaran Siklus menu BPPLU HARI WAKTU MAKAN MAKAN PAGI Nasi putih Tumis bihun Nasi putih Sambal teri i Nasi putih Bening terong Rebus Sambal teri Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 MAKAN SIANG MAKAN SORE Nasi putih Sambal Telur Tumis Sawi Pepaya Nasi putih Gulai ikan Tumis Buncis Semangka Nasi putih Sambal Ikan Nasi putih Sambal Telur Tumis Sawi Rebus Daun Singkong Pepaya Nasi putih Sambal tahu Bening Bayam Nasi putih Sambal Ikan Rebus Daun Singkong Jurnal Kebidanan Besurek Nasi putih Tumis Bihun Nasi putih Sayur lodeh Semangka Nasi putih Nasi putih Sambal teri Sambal ikan Kentang Rebus Daun Pepaya Nasi putih Nasi putih tumis bayam Sambal telur Tumis bayam Nasi putih Nasi putih VII Tumis bihun Gulai ikan Tempe Tumis bayam Pepaya Sumber: Data Sekunder 2016 Tabel 1 menunjukkan bahwa siklus menu 7 hari dimana yang disajikan menu makan pagi, makan siang dan makan sore yang terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayurmayur dan buah-buahan tanpa snack. ISSN: 2527- 3698 Nasi putih Tahu bacem Tumis sawi Nasi putih Sambal tempe Bening Labu siam Nasi putih Sambal tahu Bening katu Nasi putih Gulai tempe Cah kangkung Standar porsi menu (Makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur, dan buah-buaha. Standar porsi terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur buah-buahan. Tabel 2 Standar Porsi Jenis Makanan Pokok Lauk Hewani Lauk Nabati Sayur-mayur Buah-buahan Bahan Makanan Nasi putih SP . Bihun Kentang Ikan Ikan teri Telur ayam Tempe Tahu Sawi Bayam Daun Katu Kangkung Daun Singkong Buah Terong Labu siam Buncis Kacang panjang Terong ungu Semangka Pepaya Sumber : data Primer 2016 Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 Jurnal Kebidanan Besurek ISSN: 2527- 3698 Tabel 2 diketahui gambaran standar singkong, buah terong, labu siam, buncis, porsi yang ada di Balai Pelayanan dan kacang panjang, dan terong ungu. Penyantunan Lanjut Usia jenis makanan Sedangkan untuk buah-buahan yang pokok yang sering digunakan adalah nasi, dikonsumsi adalah pepaya dan semangka. bihun dan kentang. Jenis lauk hewani Realisasi standar porsi adalah ikan dan telur ayam. Jenis lauk nabati yang sering di konsumsi adalah Realisasi standar porsi dapat tempe dan tahu. Jenis sayur-mayur berupa Sawi, bayam, daun katu, kangkung, daun Tabel 3 Realisasi standar porsi Kelompok Bahan Makanan Makanan Pokok Nasi Bihun Kentang Ikan Ikan teri Telur ayam Tempe Tahu Sawi Bayam Daun Katu Kangkung Daun Singkong Buah Terong Labu siam Buncis Kacang panjang Terong ungu Semangka Lauk Hewani Lauk Nabati Sayurmayur Buahbuahan SP . Pepaya Realisasi . Selisih . Sumber: data primer 2016 Realisasi standar porsi yang disajikan oleh pengelola untuk para lanjut usia, kelompok bahan makanan pokok yaitu bihun, selisih standar porsi dengan realisai adalah 3,4 gr sedangkan makanan pokok lainnya seperti makanan pokok Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 yaitu kentang, selisih standar porsi dengan realisasi adalah 124 gr. Kesesuaian standar realisasi makanan Kesesuaian standar porsi dengan realisasi dapat dilihat pada Grafik Jurnal Kebidanan Besurek ISSN: 2527- 3698 Grafik 1 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi makanan pokok Grafik 1 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi makanan pokok yaitu bihun dengan persentase 50% sedangkan ketidaksesuaian standar porsi dengan realisasi yaitu kentang dengan presentase Grafik 2 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi lauk hewani Grafik 2 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi lauk hewani yaitu ikan teri dengan persentase 50% sedangkan ketidaksesuaian standar porsi dengan realisasi yaitu telur ayam dengan presentase 100%. Grafik 3 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi lauk nabati Grafik 3 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi lauk nabati yaitu tempe dengan persentase 60% sedangkan Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ketidaksesuaian standar porsi dengan realisasi yaitu tahu dengan presentase Jurnal Kebidanan Besurek ISSN: 2527- 3698 Grafik 4 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi sayur-mayur Grafik 4 Kesesuaian standar porsi realisasi sayur-mayur yaitu gambas, kacang panjang, dan terong ungu dengan persentase 100% sedangkan ketidaksesuaian standar porsi dengan realisasi yaitu sawi, bayam, daun katu, kangkung, daun singkong, buah terong, dan buncis dengan presentase 100%. Grafik 5 Kesesuaian standar porsi dengan realisasi buah-buahan Grafik 5 Kesesuaian standar porsi realisasi buah-buahan yaitu pepaya dengan persentase 25% sedangkan ketidaksesuaian standar porsi dengan presentase 100%. PEMBHASAN Siklus Menu Siklus menu yang disajikan di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia berbeda dengan siklus menu sebelumnya diketahui bahwa menu makan pagi, makan siang dan makan sore yaitu makanan biasa yang terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayurVol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 mayur dan buah-buahan tanpa snack. Menu yang disajikan terkadang tidak seimbang, menu yang disusun biasanya makanan pokok dan sayur-mayur sedangkan lauk nabati, lauk hewani dan buah-buahan tidak disajikan. Menu makan pagi berbeda dengan menu makan siang dan menu makan sore, sedangkan menu makan siang dan menu makan sore terkadang sama, dikarenkan pengolah hanya satu kali masak untuk menu makan siang dan makan sore. Bahan makanan yang diterima oleh pengelola sebelum pengolahan merupakan bahan yang dipesan tidak sesuai dengan jumlah para lanjut usia. Menu yang disajikan tidak semua sesuai Jurnal Kebidanan Besurek dengan siklus dikarenakan adanya pergantian pengelola dapur sehingga pengelola dapur memasak sesuai dengan bahan makanan yang Bahan-bahan makanan ini juga tidak sesuai dengan perencan kebutuhan tetapi sesuai dengan anggaran biaya yang ada. Susunan hidangan sekali makan yang secara keseluruhan harmonis dan saling melengkapi untuk kebutuhan makan seseorang. Dalam hal kesehatan, seringkali digunakan istilah menu adekuat yaitu menu yang mengandung semua keseimbangan unsur-unsur gizi yang terkandung di dalamnya (PGRS, 2. Hasil penelitian hampir sama dengan Widyastuti . dapat dilihat bahwa menurut waktu makan, penampilan makan pagi kurang menarik jika dibandingkan dengan makan siang dan makan sore. Makan pagi disajikan dengan menu terbatas jika dibandingkan dengan keragaman menu makan siang dan makan sore kurang menarik dikarenakan menunya sama. Standar Porsi Menu (Makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur-mayur, dan buah-buaha. Gambaran standar porsi yang ada di Balai Pelayanan dan Penyantunan Lanjut Usia jenis makanan pokok yang sering digunakan adalah nasi, bihun dan Jenis lauk hewani adalah ikan dan telur ayam. Jenis lauk nabati yang sering di konsumsi adalah tempe dan tahu. Jenis sayur-mayur adalah Sawi, bayam, daun katu, kangkung, daun singkong, buah terong, labu siam, buncis, kacang panjang, dan terong ungu. Sedangkan untuk buah-buahan yang dikonsumsi adalah pepaya dan semangka. Standar porsi yang digunakan di BPPLU adalah daftar penukar bahan makanan, dikarenakan di BPPLU tidak menggunakan standar porsi Penelitian ini Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ISSN: 2527- 3698 dengan pendapat Moehyi . , dimana porsi yang terlalu besar atau terlalu kecil akan merugikan penampilan Besar porsi bukan hanya penting untuk penampilan waktu disajikan tetapi juga berkaitan dengan perencanaan dan perhitungan pemakaian bahan makanan. Jenis makanan pokok yaitu nasi dengan standar porsi . , bihun . , sedangkan kentang . , jenis lauk hewani yang dipakai ikan dengan standar porsi . , ikan teri . , dan telur ayam . , jenis lauk nabati yang dipakai adalah tempe dengan standar porsi . dan tahu . , jenis sayursayuran yang dipakai sawi, bayam, daun katu, kangkung, daun singkong, buah terong, labu siam, buncis, kacang panjang, dan terong ungu dengan standar porsi . , sedangkan jenis buah-buahan yang dipakai adalah pepaya . dan semangka . Standar porsi merupakan banyaknya makanan yang disajikan dan porsi untuk setiap individu sesuai dengan kebiasaan makanan. Dalam suatu penyelenggaraan makanan, standar porsi sangat berkaitan dengan perhitungan perencanaan standar porsi (Muchatob. Hasil pengolah belum menetapkan standar porsi untuk setiap bahan makanan apabila dilihat dari cara penyajian penimbangan dua porsi nasi tersebut tidak ditakar, porsi makan para lanjut usia tidak sama, dikarenakan semakin tua umur para lanjut usia, semakin sedikit nasi yang disajikan. Inilah yang menimbulkan porsi nasi yang berbedabeda (Dini, 2. Realisasi standar porsi Realisasi standar porsi yang disajikan oleh pengelola untuk para lanjut usia. Dapat dilihat juga selisih antara realisasi dengan standar porsi. Jurnal Kebidanan Besurek Kelompok bahan makanan pokok yaitu nasi (SP 100 . dengan realisasi 100 g, bihun (SP 50 . dengan realisasi 46,6 g, kentang (SP 200 . dengan realisasi 76 g. Kelompok bahan makanan lauk hewani yaitu ikan (SP 50 . dengan realisasi 35 g, ikan teri (SP 25 . dengan realisasi 25 g, telur ayam (SP 60 g. dengan realisasi 56 g. Kelompok bahan makanan lauk nabati yaitu tempe (SP 50 . dengan realisasi 50 g, tahu (SP 100 . dengan realisasi 62,6 g. Kelompok bahan makanan sayur mayur yaitu (SP 100 . dengan realisasi 17,3-64,6 g, kelompok buah-buahan seperti semangka (SP 150 . dengan realisasi 83,6 g, dan pepaya (SP 100 . dengan realisasi 61,3 g. Selisih antara standar porsi dengan realisasi kelompok bahan makanan pokok yang paling terkecil adalah bihun . ,4 g. sedangkan yang paling tertinggi adalah kentang . Kelompok bahan makanan lauk hewani yang paling terkecil adalah telur ayam . dan tertinggi adalah ikan . Kelompok bahan makanan lauk nabati yang mempunyai selisih hanya tahu . ,4 Kelompok bahan makanan sayurmayur paling terkecil adalah . ,5 g. dan yang paling tertinggi adalah buncis . ,4 g. Sedangkan Kelompok bahan seperti buah-buahan yang paling terkecil adalah pepaya . ,7 g. dan yang paling terendah adalah semangka . ,4 g. Jadi, selisih standar porsi dengan disimpulkan kelompok bahan makanan pokok yaitu bihun, selisih standar porsi dengan realisai yang terkecil adalah 3,4 gr sedangkan kelompok bahan makanan pokok lainnya seperti makanan pokok yaitu kentang, selisih standar porsi dengan realisasi yang tertinggi adalah 124 gr. Standar potongan dan bentuk bahan makanan juga ikut berpengaruh pada berat porsi makanan dengan potongan bahan yang berbeda dari biasanya, maka akan banyak bahan yang Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ISSN: 2527- 3698 terbuang dan akhirnya akan berpengaruh terhadap besar porsi yang dihidangkan (PGRS, 2. Kesesuaian Kesesuaian standar porsi dengan realisasi yaitu bahan makanan yang dipakai harus sesuai dengan standar porsi yang ada. Makanan dihidangkan tidak sesuai dengan standar porsi yang ada. Kesesuaian makanan 9,5% ketidaksesuaiannya 90,5%. Kesesuaian bihun 50 % dan ketidaksesuaian 50%, sedangkan kesesuaian kentang 0% dan ketidaksesuaian 100%. Jadi, makanan standar porsi makan pokok yang disajikan banyak yang tidak sesuai. Lauk hewani yang dihidangkan diketahui bahwa dari jumlah tersebut ada yang tidak sesuai dengan standar porsi yang ada. Kesesuaian lauk hewani yaitu ikan ada 25% dan ketidaksesuaian 75%. Kesesuaian ikan teri 50% dan ketidaksesuaiannya 50%. Sedangkan telur ayam kesesuaian 100% adan ketidaksesuaian 0%. Jadi untuk lauk hewani standar porsi yang disajikan tidak sesuai dengan realisasinya. Lauk hewani yang dihidangkan diketahui bahwa dari jumlah tersebut ada yang tidak sesuai dengan standar porsi yang ada. Kesesuaian lauk nabati yaitu tempe 60% dan ketidaksesuaian 40%. Kesesuaian ketidaksesuaian 80%. Jadi untuk nabati standar porsi yang disajikan banyak yang tidak sesuai dengan realisasinya. Sayur-mayur yang dihidangkan diketahui bahwa dari jumlah tersebut ada yang tidak sesuai dengan standar porsi yang ada. Kesesuaian sayur-mayur seperti sawi, bayam, daun katu, kangkung, daun singkong buah terong dan buncis, standar porsi dengan yang disajikan sama2 tidak ada kesesuaian. Kesesuaian labu siam 33,3% dan Jurnal Kebidanan Besurek 66,7%. Sedangkan kesesuaian standar porsi dengan yang disajikan seperti gambas kesesuaiannya ada 100% , kacang panjang 100% dan terong ungu 100%. Jadi dari 11 item sayur-mayur yang ada hanya ada 3 item sayur-mayur yang 100% sesuai standar Buah-buahan yang dihidangkan ada yang tidak sesuai dengan standar Ketidaksesuaian semangka 100% dan kesesuaian pepaya 25% dan ketidaksesuaian 75%. Jadi buah-buahan yang disajikan banyak yang tidak sesuai dengan standar porsi yang Standar potongan dan bentuk bahan makanan juga ikut berpengaruh pada berat porsi makanan yang akan Misalnya pembuatan makanan dengan potongan bahan yang berbeda dari biasanya, maka akan banyak bahan yang terbuang dan akhirnya akan berpengaruh terhadap berat porsi yang dihidangkan (PGRS. Hasil penelitian bahwa bahan makanan digunakan harus sesuai dengan standar porsi masing-masing bahan makanan untuk memenuhi gizi Makanan yang disajikan harus sesuai dengan kebutuhan pasien. Kesalahan dalam persiapan, pemotongan maupun cara pengolahan mungkin menjadi salah satu penyebab ketidak sesuaian porsinya. Kesesuaian porsi itu tergantung pada bahan makanan, peralatan persiapan. Standar potongan dan bentuk (Depkes RI, 2. KESIMPULAN Siklus menu yang digunakan di BPPLU terdiri dari siklus menu 7 hari, menggunakan standar porsi pada makanan pokok (Nasi 100 g. , lauk hewani . kan 50 g. , lauk nabati (Tempe 50 g. , sayurmayur . awi 100 g. dan buah-buahan . epaya 100 g. Realisasi standar porsi yang ada di BPPLU dengan selisih terbesar antara Vol. No. 1 Juni 2017 : 1- 12 ISSN: 2527- 3698 realisasi dengan standar porsi pada makanan pokok . entang 124 g. , lauk hewani . kan 15 g. , lauk nabati . ahu 37,4 g. , sayur-mayur . ayam 82,7 g. dan buah-buahan . emangka 66,4 g. Adanya ketidaksesuaian standar porsi dengan realisasi yang ada di BPPLU. SARAN