CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Peningkatan Kapasitas Peternak Itik melalui Pelatihan Fermentasi Azolla dan Ampas Sagu untuk Inovasi Pakan Ramah Lingkungan Andi Tenri Bau Astuti Mahmud1*. Santi2. Agustina3. Muhammad Arman Yamin Pagala4. Sri Nengsih5 Kata Kunci: Azolla pinnata,. ampas sagu. pakan fermentasi. peternak itik. Keywords : Azolla pinnata. sago pulp. fermented feed. duck farmers Corespondensi Author Ilmu Peternakan. Universitas Al Asyariah Mandar Email: santipeternakan@gmail. Article History Received: 20-09-2025. Reviewed: 22-10-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak itik dalam memanfaatkan bahan lokal seperti Azolla pinnata dan ampas sagu sebagai bahan pakan fermentasi alternatif di Desa Bakka-Bakka. Kecamatan Wonomulyo. Kabupaten Polewali Mandar. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan penelitian tindakan partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan teori dan praktik pembuatan pakan fermentasi, pendampingan penerapan di lapangan, serta evaluasi hasil menggunakan metode pre-test dan post-test terhadap 25 peternak itik di Desa Bakka-Bakka. Evaluasi dilakukan untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam penerapan teknologi fermentasi pakan berbasis bahan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peternak dari 78% sebelum pelatihan menjadi 96% setelah pelatihan, dengan kategori sangat Produk pakan fermentasi yang dihasilkan memiliki kandungan protein antara 15%-18% dengan biaya produksi yang lebih rendah dibandingkan pakan Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis peternak, tetapi juga mendorong terbentuknya kelompok peternak mandiri yang berkomitmen menerapkan inovasi pakan ramah Secara keseluruhan, kegiatan ini efektif dalam mendukung pengembangan peternakan itik berkelanjutan berbasis sumber daya lokal serta berkontribusi terhadap terwujudnya kemandirian pangan dan ekonomi sirkular di tingkat desa Abstract. This community engagement program aimed to enhance the knowledge and technical skills of duck farmers in utilizing locally available resources such as Azolla pinnata and sago pulp as alternative fermented feed ingredients in Bakka-Bakka Village. Wonomulyo District. Polewali Mandar Regency. The activity was implemented using a participatory action research approach through four stages: socialization, theoretical and practical training on fermented feed production, field mentoring, and evaluation. The evaluation employed a pre-test and post-test design involving 25 duck farmers to Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 assess their improvement in knowledge and practical skills related to local feed fermentation technology. The results indicated a significant increase in farmersAo knowledge, from 78% before the training to 96% after the training, categorized as very good. The fermented feed produced contained 15Ae18% crude protein and demonstrated improved biological relevance by enhancing feed efficiency and duck growth while reducing production costs compared to commercial feed. The program not only strengthened farmersAo technical competence but also fostered the establishment of independent farmer groups committed to implementing environmentally friendly feed innovations. Overall, this activity effectively supported the development of sustainable duck farming systems based on local resources and contributed to achieving food selfsufficiency and a circular rural economy. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author Keterbatasan kemampuan ini menyebabkan diimplementasikan secara optimal di tingkat Kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan dan praktik, sehingga diperlukan intervensi berbasis Kegiatan pelatihan berbasis teknologi tepat guna menjadi langkah strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut dan memperkuat kapasitas peternak dalam penerapan inovasi pakan. Beberapa menunjukkan bahwa fermentasi bahan lokal Azolla kecernaan protein dan efisiensi pakan itik hingga 20% (Suryani. Amir, et al. , 2. sementara ampas sagu yang difermentasi mampu menambah kandungan protein kasar dari 8% menjadi 15% (Rahman et al. , 2. Inovasi pakan fermentasi ini tidak hanya meningkatkan performa ternak, tetapi juga berkontribusi terhadap pengelolaan limbah pertanian yang lebih berkelanjutan. Kegiatan pengabdian ini memiliki ketahanan pangan lokal melalui peningkatan kapasitas peternak dalam pemanfaatan sumber daya alam secara efisien dan Teknologi fermentasi pakan berbasis Azolla pinnata dan ampas sagu dipilih karena bahan ini mudah diperoleh. PENDAHULUAN Industri khususnya peternakan itik, berperan penting dalam penyediaan protein hewani bagi masyarakat pedesaan, namun biaya pakan yang mencapai lebih dari 70% dari total produksi menjadi kendala utama bagi peternak kecil. Pemanfaatan bahan lokal seperti Azolla pinnata dan ampas sagu terbukti dapat menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi pakan. Penelitian menunjukkan bahwa Azolla memiliki kandungan protein tinggi dan dapat digunakan sebagai substitusi bahan pakan tanpa menurunkan performa itik maupun ayam kampung (Asrul & Ndolu, 2022. Mazarina et al. , 2. Sementara itu, menurunkan serat kasar sehingga layak dijadikan bahan pakan alternative (Suebu et , 2. Dengan demikian, kombinasi kedua bahan ini dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk menekan biaya pakan dan meningkatkan efisiensi usaha peternakan itik di pedesaan. Sebagian besar peternak di wilayah Desa Bakka-Bakka telah mengetahui potensi Azolla dan ampas sagu sebagai bahan pakan alternatif, namun tingkat keterampilan teknis dalam proses fermentasi masih rendah. Mahmud, et al. Peningkatan Kapasitas Peternak Itik. berbiaya rendah, dan terbukti meningkatkan nilai nutrisi pakan melalui peningkatan protein serta penurunan serat kasar (Suryani. Iskandar, et al. , 2. Kandungan protein Azolla pinnata mencapai 23Ae30% dan dapat menggantikan sebagian sumber protein konvensional seperti bungkil kedelai (Indah et al. , 2. Dengan menyandingkan permasalahan tingginya biaya pakan, inovasi ini menjadi solusi tepat guna untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan efisiensi peternakan rakyat. teknologi fermentasi. Kegiatan ini mencakup penjelasan teoritis mengenai pengenalan alat dan bahan, serta praktik langsung pembuatan pakan fermentasi berbasis Azolla dan ampas sagu. Proses inokulan Lactobacillus sp. dari sumber alami dedak untuk menunjukkan konsep bioteknologi sederhana yang dapat diterapkan secara mandiri. Evaluasi dan Refleksi Bersama. Evaluasi pengukuran peningkatan pengetahuan instrumen pre-test dan post-test serta keterlibatan mitra selama kegiatan METODE Kegiatan ini menggunakan metode Participatory Action Research (PAR), yaitu pendekatan partisipatif yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, hingga Metode ini berlandaskan konsep pemberdayaan dan refleksi kolaboratif antara peneliti dan masyarakat sebagaimana dikemukakan oleh (Chambers, 1994a. Kemmis & McTaggart, 1. , menegaskan bahwa pembelajaran partisipatif mampu membangun kapasitas dan kemandirian komunitas secara berkelanjutan. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik mitra peternak yang telah memiliki pengetahuan dasar tentang pemanfaatan bahan pakan lokal, namun memerlukan peningkatan kemampuan teknis dalam penerapan teknologi fermentasi. Subjek kegiatan ini adalah kelompok peternak itik di Desa Bakka-Bakka. Kecamatan Mapilli. Kabupaten Polewali Mandar, yang berjumlah 25 orang dan tergabung dalam komunitas peternak skala Kelompok ini dipilih berdasarkan kriteria: . telah melakukan budidaya itik secara aktif, . memiliki akses terhadap bahan lokal seperti Azolla dan ampas sagu, serta . menunjukkan minat terhadap inovasi pakan alternatif yang ramah Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi tiga tahap utama yaitu sebagai berikut : Identifikasi dan analisis kebutuhan mitra. Tahap ini dilakukan melalui survei dan wawancara terstruktur untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan kendala peternak terkait pakan fermentasi. Pelaksanaan pelatihan dan demonstrasi Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi partisipatif, dan catatan lapangan untuk menggambarkan persepsi, motivasi, dan hambatan peternak. Sementara itu, data kuantitatif diperoleh dari hasil survei skala likert mengenai tingkat pengetahuan dan keterampilan sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif komparatif, yaitu membandingkan nilai rata-rata dan persentase peningkatan skor pre-test dan post-test untuk menilai Visualisai menggunakan software R_Studio. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan masyarakat dilaksanakan di Desa BakkaBakka. Kecamatan Mapilli. Kabupaten Polewali Mandar, dengan melibatkan 25 orang peternak itik sebagai peserta aktif. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas peternak dalam memanfaatkan bahan lokal seperti Azolla pinnata dan ampas sagu sebagai bahan pakan fermentasi alternatif yang bernilai gizi tinggi dan berbiaya rendah. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), di mana masyarakat menjadi subjek aktif dalam seluruh tahapan kegiatan mulai dari identifikasi kebutuhan, pelatihan, hingga evaluasi hasil. Pendekatan ini terbukti efektif untuk memastikan proses transfer teknologi berjalan secara partisipatif Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 dan aplikatif sesuai konteks local. Karakteristik disajikan pada Gambar 1, di mana mayoritas responden berusia 41Ae50 tahun . %), diikuti oleh kelompok usia 31Ae40 tahun . %), usia di atas 50 tahun . %), dan usia 21Ae30 tahun . %). Komposisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada pada usia produktif yang adaptif terhadap inovasi dan teknologi baru, sehingga mendukung efektivitas kegiatan pelatihan. Karakteristik usia peserta pelatihan sangat menentukan keberhasilan adopsi teknologi, dan mayoritas responden berada pada usia produktif yakni 41Ae50 tahun . %). Karena usia produktif umumnya lebih terbuka terhadap inovasi dan teknologi baru, maka kelompok usia ini memiliki keunggulan dalam proses pembelajaran dan penerapan teknologi (Brihandhono, 2. Penelitian juga menunjukkan bahwa pelatihan dengan peserta usia produktif lebih efektif dalam peningkatan kompetensi peternak dibanding kelompok usia lebih lanjut (Hidayat et al. , 2. Dengan demikian, komposisi usia peserta yang dominan berada pada rentang produktif mendukung efektivitas kegiatan pelatihan melalui pendekatan partisipatif dan praktik Kondisi ini memperkuat asumsi bahwa pemilihan peserta berdasarkan usia dapat menjadi salah satu strategi dalam perancangan pelatihan teknologi pakan. Dengan peserta yang adaptif dan berada pada terjadinya transfer perubahan perilaku secara nyata menjadi lebih besar. Suasana pelatihan dan partisipasi aktif peserta ditunjukkan pada Gambar 2, yang memperlihatkan sesi pemaparan materi oleh tim pelaksana dan interaksi langsung antara dosen, mahasiswa, dan peternak. Kegiatan dilakukan di balai desa dengan metode hands-on training agar peserta dapat memahami langsung konsep fermentasi Gambar 2. Pelaksanaan pelatihan teknologi fermentasi pakan berbasis Azolla pinnata dan ampas sagu Hasil pengetahuan peternak sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan peningkatan yang signifikan di seluruh kelompok umur. Sebagaimana terlihat pada Gambar 3, menunjukkan adanya peningkatan dalam tingkat pengetahuan peternak setelah pelatihan di seluruh kelompok umur. Seperti ditunjukkan pada Gambar 3, empat kelompok umur . Ae30, 31Ae40, 41Ae50, dan di atas 51 tahu. diklasifikasikan berdasarkan tingkat pengetahuan AuSedangAy dan AuTinggi. Ay Kelompok usia 21Ae30 tahun serta 41Ae50 tahun menunjukkan dominasi pada kategori AuTinggi,Ay menandakan pemahaman yang kuat terhadap materi fermentasi pakan. Sementara itu, kelompok 31Ae40 tahun dan di atas 51 tahun masih memiliki sebagian kecil peserta dengan kategori AuSedang,Ay namun mayoritas tetap berada pada kategori AuTinggi. Ay Secara keseluruhan, seluruh kelompok umur memperlihatkan tingkat antarkelompok yang relatif kecil. Gambar 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur Mahmud, et al. Peningkatan Kapasitas Peternak Itik. hasil yang signifikan dalam meningkatkan diaplikasikan secara lebih luas. Gambar 3. Tingkat Pengetahuan Berdasarkan Kelompok Umur Pendekatan pelatihan dengan metode praktik langsung dan interaksi aktif terbukti meningkatkan pengetahuan peternak secara pengetahuan pasca-pelatihan di berbagai kelompok peternak (Syamsu, 2. dan bahwa strategi pelatihan partisipatif mampu memperkuat pemahaman peserta tentang manajemen ternak (Hidayat et al. , 2. serta evaluasi lain membuktikan bahwa peningkatan pengetahuan menjadi dasar penting bagi penerapan teknologi pakan unggas berkelanjutan (Mardi, 2. Dengan mayoritas peserta berada pada usia produktif yang mudah beradaptasi terhadap inovasi, maka hasil pelatihan yang dominan menunjukkan kategori AuTinggiAy di seluruh kelompok usia menjadi sangat wajar dan mendukung efektivitas pelatihan Peningkatan efektivitas kegiatan pelatihan secara keseluruhan digambarkan pada Gambar 4, yang memperlihatkan kenaikan Indeks Pengetahuan Peternak (IKP) dari 78% . re-tes. menjadi 96% . , atau terjadi peningkatan sebesar 18%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa metode pelatihan berbasis praktik . ands-on trainin. dan pendekatan partisipatif sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta terhadap teknologi fermentasi pakan (Meirezaldi et al. , 2. , serta memperkuat temuan bahwa pelatihan partisipatif dan praktik langsung mampu meningkatkan kompetensi peserta hingga 41% (Zulkifli et , 2. dan 38,88% pada program pakan ternak berbahan lokal (Gultom et al. , 2. Dengan demikian, pendekatan pelatihan yang mengkombinasikan praktik langsung dan partisipasi aktif komunitas memberikan Gambar 4. Peningkatan Rata-Rata Indeks Pengetahuan Peternak Setelah Pelatihan Teknologi Fermentasi Pakan Temuan ini sejalan dengan penelitian Suryani et al. yang menyatakan bahwa pendekatan participatory learning dalam pelatihan teknologi tepat guna mampu meningkatkan pengetahuan petani hingga lebih dari 80%. Partisipasi aktif peserta mendorong proses pembelajaran dua arah dan meningkatkan kepercayaan diri peternak dalam mencoba teknologi baru. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi praktik pembuatan pakan fermentasi. Peserta pencampuran bahan, pengukuran dosis inokulan, dan penutupan wadah fermentasi. Dokumentasi kegiatan praktik disajikan pada Gambar 5. Gambar 5. Peternak melakukan praktik pembuatan pakan fermentasi dengan campuran Azolla pinnata, ampas sagu. Produk Pakan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 berbasis Azolla pinnata dan ampas sagu memiliki warna hijau kecoklatan, aroma asam segar, tekstur lembut, serta tidak berjamur hingga tuj uh hari penyimpanan. Analisis proksimat sederhana menunjukkan bahwa kadar protein kasar mencapai 15Ae 18%, dengan biaya produksi sekitar Rp700Ae 000/kg, jauh lebih rendah dibandingkan pakan komersial. Hasil ini sejalan dengan Rahman et al. , . yang menjelaskan bahwa fermentasi ampas sagu meningkatkan kadar protein dari 8% menjadi 15%, serta (Hartati, 2. menjelaskan bahwa Azolla pinnata dapat menggantikan sebagian bahan pakan konvensional tanpa menurunkan performa unggas. Selain itu. Azolla memiliki biomassa yang tinggi dan mudah dibudidayakan (Santi et al. , 2. Evaluasi lebih lanjut terhadap aspek pengetahuan dan keterampilan peserta disajikan pada Gambar 6. Rata-rata skor pengetahuan terhadap manfaat Azolla mencapai 4,00 . ategori sangat bai. , sementara keterampilan teknis fermentasi seperti persiapan bahan dan pengaturan inokulan berada pada skor 3,52 . ategori keterampilan secara signifikan melalui peningkatan rata-rata 41%. zulkifli et al. menjelaskan dukungan terhadap aspek teknis dan pengetahuan ini juga dibuktikan dalam penelitian pelatihan teknologi yang menunjukkan bahwa kombinasi teori dan praktik mempercepat adopsi inovasi peternakan (Mardi, 2. Oleh karena itu, hasil evaluasi pelatihan yang menunjukkan skor rata-rata pengetahuan 4,00 . ategori sangat bai. dan keterampilan teknis 3,52 . ategori bai. mencerminkan bahwa program pelatihan berhasil dalam aspek pengetahuan dan cukup berhasil dalam aspek keterampilan, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil membangun dasar pemahaman konseptual, namun dibutuhkan pendampingan lanjutan untuk memperkuat keterampilan teknis peternak. Dalam konteks teori pembelajaran, hal ini menggambarkan prinsip experiential learning (Kolb, 1. , di mana pengalaman langsung melalui praktik berulang menjadi fondasi pembentukan kompetensi yang berkelanjutan. Selain hasil pelatihan, kegiatan ini juga menghasilkan produk inovatif berupa pakan fermentasi berbasis Azolla pinnata dan ampas sagu. Dari sisi sosial, kegiatan ini berdampak positif terhadap pemberdayaan Partisipasi mendorong terbentuknya kelompok peternak mandiri yang berkomitmen melanjutkan Hal ini memperkuat prinsip empowerment sebagaimana dijelaskan oleh (Chambers, 1994. bahwa peningkatan kapasitas masyarakat akan menumbuhkan kemandirian dan keberlanjutan usaha. Gambar 6. Rata-Rata Skor Pengetahuan dan Keterampilan Peternak terhadap Pemanfaatan Azolla dan Ampas Sagu Metode pelatihan yang menekankan praktik langsung dan partisipasi aktif terbukti efektif dalam meningkatkan kompetensi menunjukkan bahwa pelatihan partisipatif di bidang pakan fermentasi meningkatkan skor pengetahuan peserta hingga rata-rata 31 % (Sofieyudin et al. , 2. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa pendekatan dengan hands-on training pada peternak organik berhasil meningkatkan pengetahuan dan Gambar . Foto bersama tim dosen pendamping, mahasiswa, perangkat Desa Mahmud, et al. Peningkatan Kapasitas Peternak Itik. Bakka-Bakka, dan peserta pelatihan setelah sesi evaluasi kegiatan teknologi fermentasi berbasis desa, termasuk fasilitasi alat fermentasi sederhana, akses permodalan, dan sertifikasi produk pakan. Pendekatan kolaboratif antara peternak, akademisi, dan pemerintah akan mempercepat terwujudnya sistem peternakan rakyat yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. Secara menunjukkan bahwa transfer teknologi tepat guna berbasis bahan lokal mampu meningkatkan kompetensi peternak baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, maupun kemandirian ekonomi. Secara praktis, kegiatan ini menghasilkan tiga luaran utama: peningkatan pengetahuan peternak hingga kategori AuSangat BaikAy. terciptanya produk pakan fermentasi yang efisien dan ramah lingkungan. terbentuknya jejaring sosial-ekonomi baru yang memperkuat kemandirian kelompok peternak di tingkat desa. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. , khususnya SDG 2 (Tanpa Kelapara. dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawa. Melalui inovasi berbasis sumber daya lokal, pelatihan ini tidak hanya menjawab tantangan biaya pakan yang tinggi, tetapi juga menjadi model penerapan peternakan berkelanjutan dan ekonomi sirkular di wilayah pedesaan. UCAPAN TERIMAKASIH