RITORNERA: JURNAL TEOLOGI PENTAKOSTA INDONESIA Vol 05. No 02. Agustus 2025. Hal: 199-212 ISSN (Online: 2797-717X) (Print:2797-7. Available at: pspindonesia. Keteladanan Kepemimpinan Paulus sebagai Strategi Teologi Pemimpin Kristen Era Digital dan Post Truth Elisa Nimbo Sumual Sekolah Tinggi Alkitab Batu esumual@yahoo. Yonatan Alex Arifianto Sekolah Tinggi Teologi Sangkakala. Salatiga alex@gmail. ABSTRACT Christian leadership in the digital age faces serious challenges due to the rapid flow of information, rapid social change, and the weakening of truth due to subjectivity in the midst of a post-truth culture. Moreover. Christian leaders are often caught up in digital image-building that is oriented towards popularity, thereby neglecting the spiritual dimension and role models that should be the basis of leadership. In this study, the exemplary nature of biblical figures is important as a foundation for a solid and relevant theology of leadership. Moreover, the phenomenon of hoaxes, ethical crises, and social polarisation further emphasises the need for Christian leadership and role models. This study aims to examine Paul's leadership example as a theological strategy for Christian leaders in facing the dynamics of the digital age. The study was conducted using a qualitative approach through literature review, leading to the conclusion that Paul's integrity is the theological foundation that strengthens Christian leadership in the digital age, because from it springs spiritual honesty that keeps leaders faithful to the Gospel. From this integrity. Paul's ministry presents a paradigm of transformative leadership that is relevant in the midst of a posttruth culture, while his perseverance in suffering sets an example of spiritual resilience for contextual Christian leaders. All of these examples emphasise the relevance of Paul's theological strategy for today's Christian leaders, namely to build leadership that is integrity-based, transformative, and resilient in facing the challenges of the digital age. Keywords: Paul's Leadership. Theology. Christian Leaders. Digital Age. Post-Truth ABSTRAK Kepemimpinan Kristen pada era digital menghadapi tantangan serius akibat derasnya arus informasi, perubahan sosial yang cepat, serta melemahnya kebenaran akibat dari subjektivitas di tengah budaya post-truth. Terlebih pemimpin Kristen sering kali terjebak dalam pencitraan digital yang berorientasi pada popularitas, sehingga mengabaikan dimensi kerohanian dan teladan yang seharusnya menjadi dasar kepemimpinan. Dalam penelitian ini, keteladanan tokoh Alkitab menjadi penting sebagai fondasi teologi kepemimpinan yang kokoh dan relevan. Apalagi fenomena penyebaran hoaks, krisis etika, serta polarisasi sosial semakin menegaskan perlunya CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia model kepemimpinan dan keteladanan Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keteladanan kepemimpinan Paulus sebagai strategi teologi bagi pemimpin Kristen dalam menghadapi dinamika era digital. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi Adapun kesimpulan tulisan ini bahwa integritas Paulus menjadi fondasi teologis yang meneguhkan kepemimpinan Kristen di era digital, sebab darinya lahir kejujuran rohani yang menjaga pemimpin tetap setia pada Injil. Dari integritas itu, pelayanan Paulus menghadirkan paradigma kepemimpinan transformatif yang relevan di tengah budaya post-truth, sementara ketekunannya dalam penderitaan menunjukkan teladan ketangguhan spiritual bagi pemimpin Kristen kontekstual. Keseluruhan teladan tersebut menegaskan relevansi strategi teologi Paulus bagi pemimpin Kristen masa kini, yakni membangun kepemimpinan yang berintegritas, transformatif, dan tangguh dalam menghadapi tantangan zaman digital. Kata Kunci: Kepemimpinan Paulus. Teologi. Pemimpin Kristen. Era Digital. Post-Truth PENDAHULUAN Fenomena kepemimpinan Kristen pada era digital menghadapi tantangan yang semakin kompleks, di mana arus informasi yang cepat, penetrasi teknologi komunikasi, serta disrupsi nilainilai kebenaran menghadirkan tekanan yang signifikan bagi para pemimpin gereja dan pemimpin Kristen di berbagai sektor sosial. Sebab di era digital, terutama dalam peralihan menuju Society 0, membawa tantangan baru bagi pemimpin gereja dalam melaksanakan bimbingan rohani sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. 1 Memang faktanya di era digital telah membuka akses luas bagi masyarakat terhadap berbagai sumber informasi, namun di saat yang sama memunculkan realitas post-truth, yakni kondisi ketika kebenaran objektif cenderung diabaikan dan digantikan oleh opini emosional. Bahkan di era post truth ini mencerminkan manipulasi informasi secara strategis, di mana kebohongan diproyeksikan sebagai fakta tandingan. Pola ini melemahkan posisi kebenaran objektif dalam ruang publik dan membuka jalan bagi penyebaran misinformasi atau informasi palsu yang cepat. 2 Dengan demikian, kepemimpinan Kristen di era digital dan post-truth dituntut menghadirkan model kepemimpinan yang berintegritas, kritis, dan adaptif agar mampu menjaga otoritas rohani serta menuntun jemaat di tengah derasnya arus informasi yang manipulatif. Melihat keberadaan era tersebut maka kepemimpinan Kristen dituntut tidak hanya untuk mampu memimpin dengan keterampilan teknologis, tetapi juga untuk menampilkan otoritas moral dan spiritual yang berakar pada Injil. Di mana penggunaan teknologi dalam era digital yang dapat bermanfaat positif realitanya masih belum dapat tercapai dengan baik dalam setiap pribadi Manusia yang cenderung hidup berdasarkan keinginan-keinginan mereka justru bermegah dalam pencapaian dan kekuasaan mereka. Tanpa di sadari bahwa kepemimpinan mereka tidak dapat muncul jika tidak berasal dari tanggungjawab dan anugerah Allah yang dipercayakan terhadap seseorang. Seorang pemimpin harus dapat berjalan sesuai dengan apa yang Allah Semuel Linggi Topayung. AuUrgensi Kepemimpinan Kristen Di Era Society 5. 0,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 3, no. : 111Ae24, https://doi. org/10. 34307/kinaa. Erkan T. Demirel. AuPost-Truth: Is It Managing or Mismanaging Information? (There Is One Truth, but There Are a Thousand Post-Truths!),Ay Journal of Academic Value Studies 5, no. : 880Ae88, https://openaccess. tr/xmlui/handle/11508/20912. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kehendaki dan bukan apa yang mereka kehendaki. 3 Karena ini berkaitan dengan derasnya arus digital, pemimpin Kristen kerap kehilangan arah dalam menjaga otentisitas iman serta integritas kepemimpinan mereka. Sehingga gereja mengalami kemunduran karena tidak siap menghadapi setiap perubahan. 4 Krisis kepemimpinan yang muncul di tengah era digital post-truth dapat dilihat dari berbagai kasus, seperti manipulasi informasi, penyebaran hoaks, polarisasi sosial. Pemimpin Kristen tidak jarang terjebak dalam arus popularitas media sosial, mengejar jumlah pengikut, atau sekadar menampilkan citra tanpa diiringi kualitas spiritual yang mendalam. Maka itu, kepemimpinan Kristen di era digital post-truth menuntut pemimpin yang berakar pada Injil, berintegritas, serta setia pada kehendak Allah agar tidak terjebak dalam arus popularitas semu dan mampu menjaga otentisitas iman di tengah perubahan zaman. Fenomena ini memunculkan konflik mendasar antara panggilan pemimpin Kristen yang seharusnya berakar pada teladan Kristus dan kenyataan praktik kepemimpinan digital yang sering kali menekankan citra semu. Apalagi kepemimpinan saat ini bahwa ambisi untuk terkenal tersebut didapat dengan sangat mudah di era digital saat ini melalui media sosial, namun pencapaian untuk membranding dirinya haruslah sesuai dengan norma dan etika yang harus dijunjung. 5 Dengan demikian, diperlukan rekonstruksi paradigma kepemimpinan yang tidak hanya kontekstual, tetapi juga teologis, agar pemimpin Kristen mampu bertahan dalam nilai integitas dan keteladanan yang sekaligus memberikan dampak yang nyata di era digital ini. Sebab seorang pemimpin Kristen yang tidak memiliki karakteristik spiritualitas akan terjebak pada sifat keduniawian. Apabila tidak memiliki kredibilitas maka akan menjadi pemimpin yang memiliki karakter buruk. Ketika tidak memiliki kapabilitas maka seorang pemimpin Kristen kurang mampu menjalankan kepemimpinan dengan baik. 6 Maka itu rasul Paulus menjadi figur yang menampilkan gaya kepemimpinan unik, sekaligus relevan untuk dijadikan model bagi pemimpin Kristen masa kini. Paulus bukan hanya seorang rasul dan pengajar, melainkan juga pemimpin rohani yang menghadapi berbagai konteks sosial, budaya, dan politik yang penuh tantangan. Model kepemimpinan Paulus relevan untuk dikaji ulang, karena dalam keteladanannya terdapat prinsip-prinsip dasar yang dapat dijadikan strategi teologi bagi pemimpin Kristen di era digital yang tengah menghadapi krisis post-truth. Berkaitan dengan penelitian ini, memang pernah diteliti oleh Noh Asbanu, dalam penelitiannya membahas tentang kepemimpinan dalam perspektif Kristen merupakan bagian integral dari eksistensi manusia yang tidak hanya terbatas pada dimensi antropologis, tetapi juga Nofrianus Zalukhu. Claudia Angelina, and Monica Santosa. AuKonsep Kepemimpinan Musa Terhadap Pola Kepemimpinan Kristen Di Era Digital,Ay HARVESTER: Jurnal Teologi Dan Kepemimpinan Kristen 7, no. , https://doi. org/10. 52104/harvester. Jozethian Watta. Yudhy Sanjaya, and Talizaro Tafonao. AuPeran Pemimpin Kristen Dalam Meregenerasi Dan Memperlengkapi Para Pemimpin Muda Di Era Globalisasi,Ay MANTHANO: Jurnal Pendidikan Kristen, 2023, https://doi. org/10. 55967/manthano. Matius I Totok Dwikoryanto and Yonatan Alex Arifianto. AuPersonal Branding Dan Pemimpin Kristen: Kepemimpinan Dalam Era Internet Of Things,Ay Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kriste. 5, no. (August 14, 2. : 142Ae51, https://doi. org/10. 59177/veritas. Gordon Simaremare. AuKarakteristik Pemimpin Kristen Menurut Kitab 2 Timotius Dan Relevansinya Bagi Pelayan Generasi Milenial,Ay Angelion: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 36Ae52. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia berakar pada panggilan ilahi untuk menjadi terang dan garam bagi dunia. 7 Paulus menjadi teladan kepemimpinan yang transformatif melalui integritas, pengajaran, serta penguasaan Kitab Suci yang mendalam, sehingga ia mampu meneguhkan iman jemaat di tengah berbagai tantangan. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen menemukan maknanya bukan sekadar pada kemampuan teknis atau organisatoris, melainkan pada keteladanan iman dan spiritualitas yang berakar pada Kristus dan Firman Allah. 8 penelitian lain yang juga dikaitakan dengan penelitian ini, diteliti oleh Boyman Aspirasi Zebua. Claudia Angelina dan Monica Santosa, yang menekankan bahwa keteladanan kepemimpinan Paulus tampak dalam kualifikasi, kompetensi, dan orientasi pelayanannya yang berpusat pada Kristus, di mana ia bukan hanya mengajar dengan penguasaan Kitab Suci, tetapi juga merekrut dan memuridkan demi kelanjutan Injil. 9 Ia menjadi teladan melalui cara hidupnya yang sederhana, saleh, rendah hati, serta bijaksana, menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah pelayanan dalam kerendahan hati seperti Kristus. Lebih dari itu, iman Paulus yang berpusat pada Kristus memperlihatkan keberanian menghadapi risiko dan kesetiaannya meninggalkan segala kenikmatan duniawi demi mengejar persekutuan sejati dengan Kristus. 10 Dari penelitian terdahulu ini maka research gap dalam kajian ini terlihat jelas dari minimnya literatur yang secara mendalam mengintegrasikan antara keteladanan kepemimpinan Paulus dengan tantangan kepemimpinan Kristen di era digital post-truth. Sementara itu, studi mengenai kepemimpinan Kristen di era digital lebih banyak berfokus hal normatif terkait sisi dari Namun dengan demikian, terdapat kekosongan penelitian yang menautkan teladan kepemimpinan Paulus sebagai dasar teologi dengan realitas kepemimpinan Kristen yang tengah berhadapan dengan budaya digital dan krisis sosial akibat post-truth. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif,11 dengan pendekatan studi pustaka, karena fokus kajian adalah menelaah keteladanan kepemimpinan Paulus sebagai strategi teologi bagi pemimpin Kristen di era digital. Sumber penelitian meliputi Alkitab sebagai sumber utama, karyakarya teologi mengenai teologi dan keteladanan Paulus, serta adanya literatur kepemimpinan Kristen, serta jurnal-jurnal ilmiah baik SInta maupun Non Sinta yang relevan dengan konteks kepemimpinan di era digital. Langkah-langkah penelitian dilakukan dengan mengumpulkan dan mengkaji literatur terkait, menganalisis prinsip-prinsip kepemimpinan Paulus dalam pengajaran, cara hidup, dan iman, kemudian mengaitkannya dengan tantangan serta peluang kepemimpinan Kristen di era digital, hingga menghasilkan sintesis strategi teologis yang relevan dan aplikatif bagi pemimpin Kristen masa kini. HASIL DAN PEMBAHASAN Noh Asbanu. AuKeteladanan Kepemimpinan Rasul Paulus Berdasarkan Kisah Para Rasul,Ay LOGON ZOES: Jurnal Teologi. Sosial Dan Budaya 5, no. : 14Ae25, https://doi. org/10. 53827/lz. Asbanu. Boyman Aspirasi Zebua. Claudia Angelina, and Monica Santosa. AuKeteladanan Kepemimpinan Paulus Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Masa Kini,Ay Philoxenia: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 2, no. : 11Ae24. Zebua. Angelina, and Santosa. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif Dan R & D (Bandung: Alfabeta, 2. , 90. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Integritas Paulus sebagai Fondasi Teologis Kepemimpinan Kristen di Era Digital Integritas merupakan salah satu fondasi utama dalam kepemimpinan Kristen. Integritas juga merupakan landasan utama yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin Kristen. Dalam berbagai dimensi kehidupan masa kini yang penuh tantangan, nilai-nilai integritas kepemimpinan Kristen menjadi penopang untuk menjaga arah dan kualitas kepemimpinan. Oleh sebab itu, dapat ditegaskan bahwa integritas adalah modal esensial yang harus melekat pada setiap individu yang terpanggil menduduki posisi kepemimpinan, khususnya dalam lingkup kepemimpinan Kristen. Memang ada beberapa dari para pemimpin beberapa organisasi Kristen memperlihatkan perilaku dan karakter yang tidak patuh mencerminkan integritas yang diharapkan dari para pemimpin gereja sebagaimana kata Alkitab. 13 Ini mengakibatkan integritas seorang pemimpin rapuh, maka ketika gelombang tekanan menghantam, kepemimpinan yang telah dibangun akan mudah runtuh. Namun, jika integritas itu kokoh, seberat apa pun badai yang menerpa, ia akan tetap berdiri teguh sebagai pemimpin yang dapat dipercaya dan diandalkan. 14 Apalagi dewasa ini keberadaan kepemimpinan Kristen di tengah arus globalisasi dan transformasi teknologi menuju era digital, kepemimpinan Kristen dituntut untuk menampilkan keaslian iman yang tidak tergoyahkan oleh perubahan zaman. Kepemimpinan Kristen dengan fenomena seperti ini maka rasul Paulus dapat dijadikan teladan yang kuat, sebab sepanjang pelayanannya ia menunjukkan integritas yang konsisten baik dalam ajaran, cara hidup, maupun iman. Apa yang dikemukakan rasul Paulus dalam salah satu suratnya Auaku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapia garis akhir dan aku tela memelihara imanAy . Tim. Ini merupakan keteladan yang ditunjukkan oleh rasul Paulus dalam tangung jawabnya sebagai rasul, menunjukkan integritas diri sebagai seorang hambah Tuhan dalam melaksankan tangung jawab yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya. 15 Di mana nilai integritas yang dapat ditemukan pada seorang hamba Tuhan yang dapat dipercaya karena antara perkataan yang dikeluarkan dan tindakan memiliki kesamaan. Integritas seorang hamba Tuhan harus terlihat nyata dalam kehidupan pelayanannya dan kehidupan pribadi. 16 Apalagi integritas Paulus bukan hanya konsep moral atau etis semata, melainkan sebuah fondasi teologis yang berakar pada relasi yang mendalam dengan Kristus. Paulus hidup sebagai pribadi yang menyadari panggilannya, menjaga kesetiaan kepada Injil, dan menolak kompromi dengan nilainilai dunia yang bertentangan dengan kebenaran Allah. Paulus menunjukkan integritas melalui keteladanan hidupnya yang sejalan dengan Ia tidak hanya mengajar, tetapi terlebih dahulu mempraktikkan apa yang ia sampaikan Yefta Arisma. Josanti, and Rita Evimalinda. AuNilai - Nilai Integritas Seorang Pemimpin Kristen,Ay Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 57Ae66. Kornelius Gulo. AuPemimpin Kristen Berintegritas Dan Aplikasinya Pada Proses Pembelajaran Hamba Tuhan,Ay Inculco Journal of Christian Education 3, no. : 1Ae15, https://doi. org/10. 59404/ijce. Ferdinan Pasaribu. AuSignifikansi Pemimpin Kristen Yang Berintegritas Di Era-Postmodern Dalam Menumbuhkan Pemahaman Integritas Hidup Dalam Kepemimpinan Kristen,Ay Open Sciense Jurnal, 2019, 2Ae20, https://osf. io/preprints/agrixiv/qy5fx. A Dan Kia. AuKajian Teologis-Pedagogis Keteladanan Rasul Paulus Dalam Penginjilan Dan Relevansinya Bagi Pendidik Kristen Masa Kini,Ay Shanan Jurnal Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 74Ae102. Josina Mariana Riruma. AuINTEGRITAS HAMBA TUHAN MENURUT 1 TIMOTIUS 4:11-16,Ay Missio Ecclesiae 6, no. 1 (April 2. : 56Ae96, https://doi. org/10. 52157/me. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia kepada jemaat. Dalam 1 Korintus 11:1. Paulus dengan berani berkata. AuJadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus. Ay Pernyataan ini menunjukkan tingkat integritas yang tinggi, di mana kehidupan pribadi dan pelayanannya tidak dipisahkan dari pengajaran yang ia Paulus menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan, sehingga ia layak menjadi teladan yang dapat ditiru oleh jemaat. Integritasnya tampak dalam kesederhanaan hidup, kerja keras, kerendahan hati, dan kesediaan menderita demi Injil. Semua ini menunjukkan bahwa Paulus memandang kepemimpinan bukan sebagai sarana kekuasaan, melainkan sebagai pelayanan yang mengutamakan kehendak Allah. Maka itu teladan rasul Paulus jelas dapat diterapkan oleh para gembala di dalam melayani jemaat Tuhan pada era digital. 17 Yang mana rasul Paulus seorang rasul yang dipakai Allah secara luar biasa serta berdampak, baik itu kepada pribadi-pribadi maupun kelompok-kelompok besar jemaat yang dilayaninya. 18 Rasul Paulus, juga membangun kesetiaan dalam kepemimpinan melalui komitmen tanpa syarat, rasa tanggung jawab, dan kasih yang tulus. Kesetiaan itu tampak nyata lewat cara pemimpin jemaat menjalani hidupnya dan kekuatan yang ia tunjukkan sebagai teladan bagi orang lain. 19 Oleh sebab itu integritas dan kesetiaan Paulus menjadi fondasi teologis yang relevan bagi pemimpin Kristen masa kini untuk menampilkan kepemimpinan yang otentik, berlandaskan kasih, serta mampu memberi teladan di tengah tantangan era digital. Dalam era digital, kepemimpinan Kristen menghadapi tantangan besar, munculnya budaya post truth dan hoaks, serta beredarnya manipulasi informasi menuntut pemimpin Kristen untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan iman dalam membangun rohani. Bahkan era posttruth sedang jadi gejala mutakhir secara global. Fenomena ini membawa serta tiga gejala yakni hoaks, emosi sosial dan populisme agama. 20 Namun keberadaan itu tidak membawa pada kelemahan dalam memimpin, sebab berkaca pada integritas Paulus menjadi fondasi yang harus Seperti Paulus yang setia pada kebenaran Injil tanpa kompromi, pemimpin Kristen era digital harus menampilkan iman dan keteladanan dalam penggunaan teknologi serta media digital. Lebih jauh, integritas Paulus juga tampak dalam keberaniannya menghadapi risiko demi Ia rela menderita, dipenjara, bahkan menghadapi kematian demi Injil. Bagi Paulus, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Fil 1:. Sikap ini memperlihatkan bahwa integritas seorang pemimpin Kristen bukan sekadar menjaga citra, tetapi mewujudkan kesetiaan mutlak kepada Kristus dalam segala situasi. 21 Hal ini sangat relevan dengan tantangan kepemimpinan di era digital, di mana tekanan budaya populer, godaan materialisme, serta disrupsi Petrus Antonius Usmanij. AuKeutamaan Hidup Gembala Yang Alkitabiah Di Era Digital: Belajar Dari Teladan Rasul Paulus,Ay Jurnal Gamaliel : Teologi Praktika 4, no. 2 (September 27, 2. : 95Ae107, https://doi. org/10. 38052/gamaliel. Franky Tambuh. AuKompetensi Interpersonal Paulus Sebagai Pemimpin Pastoral,Ay HUPERETES: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 2022, https://doi. org/10. 46817/huperetes. Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi and Carolina Etnasari Anjaya. AuKesetiaan Kristus Sebagai Model Spiritualitas Kepemimpinan Jemaat: Kajian Teologis 2 Tesalonika 3:1-7,Ay EPIGRAPHE: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kristiani, 2022, https://doi. org/10. 33991/epigraphe. Marz Wera Mofferz and others. AuMeretas Makna Post-Truth: Analisis Kontekstual Hoaks. Emosi Sosial Dan Populisme Agama,Ay Societas Dei: Jurnal Agama Dan Masyarakat 7, no. : 3Ae34. Romianna Magdalena Sitompul. AuMakna Perkataan Paulus Tentang Hidup Adalah Kristus Dan Mati Adalah Keuntungan Berdasarkan Filipi 1:12-26,Ay Jurnal Jaffray, 2017, https://doi. org/10. 25278/jj71. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia nilai moral sering kali menggoyahkan komitmen rohani. Integritas menjadi benteng yang menjaga agar pemimpin Kristen tetap berdiri teguh pada kebenaran Injil. Dengan demikian, integritas Paulus dapat dipahami sebagai fondasi teologis yang sangat relevan untuk kepemimpinan Kristen di era digital. Ia menunjukkan konsistensi antara ajaran dan tindakan. Di tengah derasnya arus digitalisasi yang sering kali mengaburkan nilai dan identitas, kepemimpinan Kristen yang berlandaskan integritas seperti Paulus akan mampu menjadi terang dan garam bagi dunia. Pelayanan Paulus sebagai Paradigma Kepemimpinan Transformatif di Tengah Budaya PostTruth Pelayanan Paulus dalam sejarah gereja perdana memberikan suatu model kepemimpinan transformatif yang relevan bagi konteks masa kini, khususnya di tengah budaya post-truth. Paulus bukan hanya seorang teolog yang piawai dalam menafsirkan Kitab Suci, tetapi juga seorang pemimpin rohani yang menghidupi Injil secara nyata dalam perilaku, pengajaran, dan strategi 22 Kepemimpinan Paulus tidak dibangun atas dasar popularitas atau retorika kosong, melainkan pada otoritas spiritual yang berakar pada relasinya dengan Kristus. Kepemimpinan Paulus juga pada dasarnya bersifat spiritual, didorong oleh kehadiran Roh Kudus yang 23 Rasul Paulus juga berani menekankan bahwa integritas pribadi dan akuntabilitas, yang sangat dominan untuk kepemimpinan yang berkelanjutan. 24 Maka itu dalam setiap pelayanannya. Paulus menekankan pentingnya transformasi hidup, baik secara pribadi maupun komunitas, melalui ketaatan kepada Injil. Hal ini tercermin dari surat-suratnya yang sarat dengan ajakan untuk hidup baru dalam Kristus, meninggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru (Ef 4:22Ae. Dengan demikian, pelayanan Paulus menjadi paradigma kepemimpinan transformatif yang menegaskan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin Kristen terletak pada integritas, ketaatan kepada Injil, dan keberanian untuk hidup dalam kebenaran di tengah budaya post-truth. Fenomena dan budaya di era post-truth, yang ditandai dengan dominasi emosi, manipulasi informasi, dan pengaburan kebenaran objektif, sejatinya mengancam otentisitas kepemimpinan Kristen. Secara umum, manusia memiliki dorongan untuk mencari kebenaran dan memperluas Internet yang dahulu dipandang sebagai sarana memperoleh informasi yang akurat, kini sering kali justru menjadi sumber berita yang tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dan penyaringan dalam mengonsumsi informasi yang tersebar di dunia Maraknya hoaks tidak terlepas dari kecenderungan manusia yang menganggap pendapatnya sendiri sebagai kebenaran mutlak. Penyebaran informasi palsu pun semakin sulit dikendalikan Yonatan Alex Arifianto. AuPeran Kepemimpinan Misi Paulus Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Misi Masa Kini,Ay Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3. 4, no. : 67Ae88, https://doi. org/10. 54345/jta. Rev. Samuel Otieno Oketch. AuPaul As the Prototype for Mission and Motives As a Means of Spiritual Transformational Leadership,Ay EPH - International Journal of Humanities and Social Science 5, no. : 1Ae15, https://doi. org/10. 53555/eijhss. Jaime V Cortez. AuDominant Leadership Themes in the Pauline Epistles,Ay The Journal of Values-Based Leadership 16, no. 2 (June 23, 2. , https://doi. org/10. 22543/1948-0733. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia karena rendahnya kesadaran etis dalam menggunakan media sosial, sehingga banyak orang menyalahgunakan kebebasan berpendapat dan pada akhirnya melanggengkan kebohongan. Dalam penelitian ini, keteladanan Paulus menjadi paradigma untuk membangun kepemimpinan yang tidak terjebak pada pencitraan semu, melainkan berfokus pada perubahan hidup jemaat, sebab pemimpin adalah agen perubahan. 26 Paulus sendiri menghadapi tantangan serupa di masanya, ketika ajaran-ajaran palsu, manipulasi opini, dan tekanan budaya berusaha melemahkan Injil. Dalam perjalanan pelayanannya. Rasul Paulus menghadapi tantangan filsafat yang berkembang di tengah jemaat Kolose. Pencampuran filsafat yang sia-sia dan menyesatkan dengan ajaran tentang Yesus Kristus menjadi persoalan iman yang serius, sehingga harus segera ditangani agar keyakinan orang percaya di Kolose tidak tergoyahkan dari Injil Kristus. 27 Namun, ia tetap berpegang pada kebenaran Kristus, menolak kompromi dengan kepalsuan, serta berani menderita demi mempertahankan Injil. Dengan demikian, pola kepemimpinan Paulus menunjukkan bahwa transformasi sejati tidak lahir dari strategi pragmatis atau manipulasi publik, tetapi dari kuasa Injil yang bekerja melalui kehidupan seorang pemimpin yang berintegritas. Kepemimpinan transformatif ala Paulus ditunjukkan melalui pendekatan pastoral dengan tindakan Paulus merekrut, membina, dan mengutus para pemimpin baru, seperti Timotius dan Titus, untuk memastikan kesinambungan pelayanan. Ia memahami bahwa perubahan komunitas tidak dapat dicapai hanya dengan instruksi verbal, melainkan melalui pendampingan dan teladan Hal ini selaras dengan kebutuhan kepemimpinan Kristen di era post-truth, di mana jemaat membutuhkan figur yang mampu menampilkan kebenaran Injil secara nyata di tengah derasnya arus kebohongan dan disinformasi. Dan tentunya ini berakibat dari teknologi yang dapat merenggut kesaksian iman Kristen. 28 Dengan demikian, pelayanan Paulus menghadirkan paradigma kepemimpinan transformatif yang menegaskan pentingnya integritas, kesetiaan pada Injil, serta keberanian menghadapi tantangan budaya. Tentunya kepemimpinan Paulus berakar kuat dalam transformasi pribadinya, yang dimulai dengan pertobatannya di jalan menuju Damsyik. Peristiwa ini menandai pergeseran dari penganiaya orang Kristen menjadi pendukung ajaran Kristen, didorong oleh cinta agape dan kehadiran Roh Kudus yang memberdayakan. 29 Paradigma ini menuntun pemimpin Kristen masa kini untuk tidak sekadar menjadi komunikator kebenaran, tetapi juga agen transformasi yang menghadirkan kehidupan baru di tengah budaya yang mengabaikan kebenaran objektif. Cika Anugrah Septiyadi et al. AuTruth Dan Post-Truth Dalam Perspektif Al-Kindi Pada Era Milenial,Ay Jurnal Intelektualita: Keislaman. Sosial Dan Sains, 2020, https://doi. org/10. 19109/intelektualita. Suhadi. Yonathan Alex Arifianto. AuPemimpin Kristen Sebagai Agen Perubahan Di Era Milenial,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 1, no. 2 (December 2. : 129Ae47, https://doi. org/10. 47530/edulead. Arieli Harefa. AuMakna Filsafat Yang Kosong Dan Palsu Berdasarkan Kolose 2:8 Dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya,Ay Jurnal Pendidikan Agama Dan Teologi, 2023, https://doi. org/10. 59581/jpat-widyakarya. Evilina Thea Polnaya. AuEtika Teknologi VS Etika Kristen : AuSebuah Lompatan Iman Dan Penantang KeEksisan Iman Kristen Di Era Post-Truth,Ay Sekolah Tinggi Theologia Ebenhaezer, 2021. Fred Guyette. AuThe Apostle Paul: A Transformed Heart. A Transformational Leader,Ay The Asbury Journal 74, no. : 8, https://place. edu/cgi/viewcontent. cgi?article=2474&context=asburyjournal. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Ketekunan Paulus dalam Penderitaan sebagai Keteladanan Pemimpin Kristen Kontekstual Rasul Paulus adalah figur yang menampilkan teladan kepemimpinan Kristen yang kontekstual melalui ketekunannya dalam menghadapi penderitaan. Rasul Paulus adalah teladan pemimpin Kristen yang setia meski hidupnya dipenuhi penderitaan, mulai dari penjara, siksaan, hingga ancaman maut . Kor 11:23Ae. Ia menyadari bahwa penderitaan adalah bagian dari pelayanan Injil dan tetap teguh menjalankan panggilannya (Kis 20:23Ae. Paulus mengajarkan bahwa penderitaan bukanlah kelemahan, melainkan karunia untuk bersekutu dengan Kristus (Fil 1:29Ae. , serta bukti pemeliharaan Allah di tengah tekanan hidup . Kor 4:8Ae. Ia menegaskan bahwa semua orang yang hidup dalam Kristus akan menghadapi aniaya . Tim 3:11Ae. , tetapi penderitaan itu tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan oleh Allah (Rom 8:. Paulus yang begitu banyak menanggung banyak penderitaan dalam pelayanannya. 30 Dengan pandangan ini. Paulus menunjukkan bahwa kesetiaan dan pengharapan harus menjadi dasar kepemimpinan dan iman Kristen. Tentunya nilai penderitaan bagi orang percaya dipanggil bukan saja untuk percaya kepadaNya tetapi juga untuk mengalami penderitaan karena Dia sebagai bagian kesaksian iman Kristen. 31 Paulus dan kehidupannya dipenuhi dengan berbagai ujian, mulai dari penolakan, penganiayaan, penjara, hingga ancaman kematian. Namun, semua penderitaan tersebut tidak membuatnya mundur, justru menjadi bagian integral dari pelayanannya dalam memberitakan Injil. Dalam surat-suratnya. Paulus berulang kali menegaskan bahwa penderitaan adalah konsekuensi dari panggilan sebagai pengikut Kristus, tetapi juga kesempatan untuk memperlihatkan iman yang kokoh. Bagi Paulus, penderitaan bukanlah penghalang, melainkan sarana untuk memurnikan iman dan menunjukkan kesetiaan kepada Allah. Teladan ketekunan Paulus ini sangat relevan dalam konteks kepemimpinan Kristen masa Pemimpin Kristen di era modern, termasuk era digital, menghadapi tantangan yang berbeda, seperti tekanan sosial, polarisasi, bahkan adanya manipulasi informasi, hingga tantangan moral dan spiritual. Meski bentuk penderitaannya tidak selalu fisik seperti yang dialami Paulus, namun tekanannya tetap nyata dan dapat menggoyahkan integritas pemimpin. Apalagi penderitaan bukan saja coba dihindari manusia oleh karena menyakitkan, tetapi juga karena di tengah penderitaan yang dialami, manusia mungkin dipenuhi kebinggungan oleh karena tidak memahami penyebab Allah mengizinkan penderitaan tersebut. 32 Namun ketekunan yang diperlihatkan Paulus menjadi inspirasi bagi pemimpin Kristen untuk tidak menyerah dalam menghadapi tekanan, tetapi tetap setia pada panggilan Tuhan. Ketekunan Paulus juga menekankan dimensi rohani dari Ia menunjukkan bahwa kekuatan untuk bertahan bukan berasal dari kemampuan manusiawi semata, melainkan dari relasi yang erat dengan Kristus. Paulus mampu bertahan karena Benget parningotan Siregar. AuKajian Biblika 2 Korintus 6:4-10: Makna Penderitaan Bagi Hamba Tuhan Dalam Pelayanan,Ay Phronesis: Jurnal Teologi Dan Misi 4, no. : 100Ae113, https://doi. org/10. 47457/phr. Djone Georges Nicolas. R K Timothy Amien, and Soneta Sang Surya Siahaan. AuAnalisis Penderitaan Orang Yang Beriman Kepada Kristus: Kasih Karunia Allah Atau Kutuk?,Ay Asian Journal of Philosophy and Religion (AJPR) 1, no. : 51Ae58. Djone Georges Nicolas. AuAnalisis Penyingkapan Rahasia Di Balik Penderitaan Ayub Di Dalam Kitab Ayub,Ay Syntax Literate . Jurnal Ilmiah Indonesia 6, no. : 1137, https://doi. org/10. 36418/syntaxliterate. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia ia menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya, sehingga penderitaan yang dialaminya dianggap ringan dibandingkan kemuliaan yang akan datang . Kor. Paulus menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang tidak hanya siap memimpin di masa nyaman, tetapi juga sanggup tetap teguh di masa sulit. Ketekunan dalam penderitaan bukan sekadar sikap pasif menerima kesulitan, melainkan kemampuan untuk tetap berpegang pada iman. Dengan demikian, ketekunan Paulus menjadi model kepemimpinan kontekstual yang tidak lekang oleh waktu, relevan bagi gereja maupun masyarakat Kristen yang ingin tetap setia dan berakar dalam Kristus meski berada di tengah tekanan kehidupan modern. Relevansi Strategi Teologi Paulus bagi Pemimpin Kristen Era Digital Strategi teologi Paulus dalam kepemimpinan memiliki relevansi yang bagi pemimpin Kristen di era digital. Paulus bukan hanya seorang rasul yang memberitakan Injil, tetapi juga seorang pemimpin rohani yang membangun pola kepemimpinan berlandaskan integritas, kesetiaan, dan visi-visi transformatif. Dan juga Paulus adalah seorang pemimpin teladan baik secara jasmani dan rohani. 33 Dalam surat-suratnya. Paulus selalu menekankan pentingnya meneladani Kristus sebagai pusat kepemimpinan. 34 Prinsip ini tetap relevan di tengah arus digital yang sarat dengan tantangan, seperti derasnya informasi, penyebaran hoaks, budaya post-truth, serta godaan popularitas di media sosial. Pemimpin Kristen masa kini dapat belajar dari Paulus bagaimana memimpin dengan hati yang berpusat pada Kristus, bukan pada pencitraan atau kepentingan pribadi. Paulus juga menunjukkan strategi misi yang adaptif dengan konteks. Misalnya, ia mampu bergaul dengan orang Yahudi maupun non-Yahudi, menggunakan pendekatan yang berbeda sesuai audiensnya . Kor 9:20Ae. Hal ini memberi teladan bagi pemimpin Kristen di era digital untuk menggunakan teknologi sebagai sarana penginjilan dan pembinaan, namun tetap menjaga esensi Injil agar tidak tercemar oleh arus dunia. Adaptabilitas Paulus mengajarkan bahwa pemimpin Kristen perlu kreatif dalam memanfaatkan platform digital, tetapi tidak boleh kehilangan arah rohani. Paulus menekankan pentingnya integritas pribadi dan konsistensi antara perkataan dan perbuatan . Kor 11:. Maka itu Paulus menekankan bahwa untuk menjadi hamba Tuhan yang berintegritas maka ada beberapa nasehat yang harus dilakukan berkenaan dengan kehidupan umum dan kehidupan pribadi. Tiga hal yang utama yang harus dilakukan oleh Timotius berkenaan dengan kehidupan umum yaitu memberikan pengajaran yang sehat, memelihara rasa hormat dan memiliki keseimbangan dalam pelayanan. 35 Dalam konteks digital, hal ini menjadi sangat krusial karena pemimpin dapat dengan mudah tergoda untuk hanya menampilkan citra rohani secara virtual tanpa kesesuaian dalam kehidupan nyata. Paulus mengingatkan bahwa kepemimpinan Kristen adalah pelayanan, bukan sarana mengejar kekuasaan atau popularitas. Zebua. Angelina, and Santosa. AuKeteladanan Kepemimpinan Paulus Dan Implikasinya Bagi Pemimpin Masa Kini. Ay Jerry Rumahlatu. AuKeteladanan Kepemimpinan Paulus Dalam Surat Tesalonika,Ay Jurnal Pembaharu. Josina Mariana Riruma. AuIntegritas Hamba Tuhan,Ay Missio Ecclesiae, 2017. CopyrightA 2025. Ritorner: Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Kesederhanaan hidup, kerendahan hati, dan pengorbanan demi Injil harus tetap menjadi fondasi kepemimpinan. Sebab dalam kepemimpinan Kristen perlu memiliki kesetiaan, memiliki integritas, dan memiliki kualitas rohani. 36 Paulus juga menegaskan pentingnya membangun komunitas iman yang sehat. Surat-suratnya penuh dengan ajaran tentang kesatuan, kasih, dan saling membangun tubuh Kristus. Bagi pemimpin Kristen di era digital, hal ini berarti menjaga agar teknologi tidak memecah belah jemaat, melainkan menjadi alat untuk mempererat Dengan demikian, komunitas gereja tetap berakar pada firman Tuhan, bukan pada algoritma media sosial. Dengan melihat strategi Paulus, jelas bahwa kepemimpinan Kristen di era digital membutuhkan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan otoritas spiritual yang berakar pada Kristus. KESIMPULAN Dari keseluruhan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan Paulus memberikan fondasi teologis yang kuat bagi kepemimpinan Kristen di era digital. Integritas, ketekunan dalam penderitaan, serta keteladanan hidupnya yang sejalan dengan ajaran menjadi prinsip dasar yang perlu dihidupi oleh setiap pemimpin Kristen. Paulus menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukanlah tentang kekuasaan, popularitas, atau pencitraan, melainkan tentang kesetiaan pada Injil, keberanian untuk menderita demi kebenaran, serta kerendahan hati untuk Nilai-nilai inilah yang membangun otoritas spiritual Paulus dan menjadikannya teladan yang tetap relevan sepanjang zaman. Dalam konteks era digital dan budaya post-truth yang sarat dengan hoaks, manipulasi informasi, serta godaan materialisme, teladan Paulus menjadi semakin Pemimpin Kristen masa kini dituntut untuk menghadirkan kepemimpinan yang otentik, transformatif, dan berakar dalam Kristus. Dengan memegang teguh integritas, adaptif terhadap perubahan tanpa mengorbankan esensi Injil, serta berkomitmen membangun komunitas iman yang sehat, pemimpin Kristen akan mampu menghadapi tantangan zaman. Dengan demikian, strategi teologi Paulus bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga pedoman praktis untuk membangun kepemimpinan Kristen yang relevan, kuat, dan berdampak di era digital. DAFTAR PUSTAKA