Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. Diserahkan Direvisi DIterima Histori Naskah 7 Oktober 2025 21 Oktober 2025 23 Desember 2025 PENGEMBANGAN UMKM BUDIDAYA OKRA DAN CACING ANC BERBASIS LOKAL DALAM MENDORONG KEMANDIRIAN EKONOMI KELUARGA Rista Widiyawati1. Syilviana Putri Zuwita2. Muhammad Khowiyul Amin3. Tia Destiana4 . Siti NurAoaini5. Kaji Kaswari6 1,2,3,4,5 STAI Muhammadiyah Blora. Jawa tengah Indonesia 6IAI Al Muhammad Cepu Blora. Jawa Tengah Indonesia *Corresponding Author: nurainimuthia24@gmail. ABSTRACT This study aims to examine first-hand how locally-based businesses, such as okra cultivation and African Night Crawler (ANC) worms, can be a driver of family economic independence in rural areas. This study was carried out through a field visit to Mrs. Aslami in Duwet Hamlet and Mr. Fahri's ANC worm cultivation site in Gedebeg Hamlet. The results of the observation show that the two businesses make optimal use of local resources with a simple but effective technical approach. Okra cultivation makes a real contribution in terms of food security and diversification of horticultural farming businesses, while ANC worm cultivation shows high potential as a provider of environmentally friendly high-protein animal In addition to increasing family income, these efforts also encourage the realization of an independent, innovative, and environmentally conscious mindset among the village community, including students involved in field activities. This research confirms that the development of local agribusiness is not only an economic effort, but also an important part of social empowerment and strengthening the sustainable business ecosystem at the family level. Keywords: Okra cultivation, independence, family economy ANC ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara langsung bagaimana usaha berbasis lokal, seperti budidaya okra dan cacing African Night Crawler (ANC), dapat menjadi pendorong kemandirian ekonomi keluarga di pedesaan. Studi ini dilaksanakan melalui kunjungan lapangan ke Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx kebun okra milik Ibu Aslami di Dusun Duwet dan tempat budidaya cacing ANC milik Bapak Fahri di Dusun Gedebeg. Hasil observasi menunjukkan bahwa kedua usaha tersebut memanfaatkan sumber daya lokal secara optimal dengan pendekatan teknis yang sederhana namun Budidaya okra memberikan kontribusi nyata dalam hal ketahanan pangan dan diversifikasi usaha tani hortikultura, sementara budidaya cacing ANC menunjukkan potensi tinggi sebagai penyedia pakan ternak berprotein tinggi yang ramah lingkungan. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, usaha-usaha ini juga mendorong terwujudnya pola pikir mandiri, inovatif, dan berwawasan lingkungan di kalangan masyarakat desa, termasuk mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan lapangan. Penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan agribisnis lokal bukan hanya upaya ekonomi, tetapi juga bagian penting dari pemberdayaan sosial dan penguatan ekosistem usaha berkelanjutan di tingkat keluarga. Kata Kunci: Budidaya Okra. Cacing ANC. Agribisnis Lokal. Kemandirian. Ekonomi Keluarga PENDAHULUAN Desa Gedebeg Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora merupakan wilayah agraris yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, dengan komoditas utama seperti jagung (Zea may. , tebu (Saccharum officinaru. , dan kacang hijau (Vigna radiat. Ketiga komoditas tersebut telah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat desa selama bertahun-tahun. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, petani mulai menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga pasar, biaya produksi yang meningkat, serta degradasi kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Sebagai upaya mencari solusi, dilakukan observasi ke lokasi budidaya alternatif yang tengah dikembangkan di desa, yaitu budidaya cacing tanah milik Bapak Fahri di Dusun Gedebeg dan tanaman okra milik Ibu Aslami di Dusun Duwet. Meskipun berskala rumah tangga dan dijalankan secara sederhana, kedua usaha ini terbukti mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga pelakunya. Dua jenis budidaya ini dipilih karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, serta mendukung prinsip pertanian berkelanjutan. Budidaya cacing tanah, selain menghasilkan vermicompos sebagai pupuk organik yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesuburan tanah, juga dimanfaatkan sebagai pakan alami bagi udang, yang membuka peluang integrasi dengan sektor perikanan (Faroh et al. Sementara itu, tanaman okra termasuk dalam komoditas hortikultura yang memiliki pasar yang tumbuh pesat, baik sebagai bahan pangan lokal maupun sebagai sayuran sehat bernilai jual tinggi. Budidaya okra, dengan masa panen yang cepat, teknik pengelolaan yang relatif mudah, serta tingginya nilai gizi dan permintaan pasar, menjadi Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx pilihan strategis bagi petani kecil untuk mendiversifikasi usaha mereka. Sementara itu, budidaya cacing African Night Crawler (ANC) menunjukkan bahwa inovasi berbasis pemanfaatan limbah organik dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi yang dibutuhkan dalam sektor perikanan dan pertanian organik (Chilmawati et al. , 2. Melalui observasi ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh wawasan praktis tentang teknik budidaya dan manajemen usaha, mulai dari pembibitan, perawatan, hingga pemasaran, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana ketekunan, pemanfaatan sumber daya lokal, serta pemahaman pasar dapat menjadikan sebuah usaha kecil sebagai penopang utama ekonomi keluarga (Murtyaningsih et al. , 2. Kedua usaha ini menjadi bukti konkret bahwa pengembangan agribisnis lokal yang berkelanjutan dapat menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi masyarakat desa (Ibrahim, 2. TAHAPAN DAN METODE KEGIATAN Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif (Munawar et al. , 2. yang bertujuan untuk menggambarkan secara mendalam proses budidaya okra dan cacing African Night Crawler (ANC) serta dampaknya terhadap ekonomi keluarga berbasis potensi lokal dengan metode kunjungan lapang . ield visi. dan observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi. Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan di Desa Gedebeg tepatnya didusun Duwet dan Dusun Gedebeg itu sendiri, sebuah desa agraris yang terletak di Kecamatan Ngawen. Kabupaten Blora. Jawa Tengah yang dilakukan pada tanggal 7 Agustus 2025 dan 13 Agustus 2025. Lokasi dipilih secara purposif karena desa ini mulai mengembangkan sistem pertanian alternatif berbasis budidaya cacing dan okra di tengah dominasi komoditas jagung, tebu, dan kacang hijau. Subjek dan Informan Penelitian Subjek penelitian meliputi: A Pelaku usaha (Ibu Aslami dan Bapak Fahr. A Mahasiswa KKN STAI Muhammadiyah Blora yang mengikuti Teknik Pengumpulan Data Data dikumpulkan melalui beberapa teknik sebagai berikut: A Observasi langsung. Mahasiswa terlibat dalam proses budidaya dan panen secara langsung di lokasi. A Wawancara semi-terstruktur dengan petani dan pelaku usaha tani untuk menggali informasi mendalam mengenai pengalaman, strategi pengelolaan budidaya serta tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx Dokumentasi berupa foto kegiatan, catatan lapangan, volume produksi, dan distribusi hasil panen. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis tematik (Utami et al. , 2. , yaitu mengidentifikasi tema-tema utama dari hasil observasi dan wawancara yang berkaitan dengan: A Teknik budidaya. A Pemanfaatan sumber daya lokal. A Dampak terhadap ekonomi keluarga A Pengaruh terhadap motivasi dan pembelajaran mahasiswa. Hasil mengedepankan aspek praktis, sosial, dan edukatif dari masing-masing HASIL DAN PEMBAHASAN Observasi Ke Kebun Okra Pada tanggal 7 Agustus 2025. Mahasiswa melakukan observasi ke kebun okra milik Ibu Aslami yang ada di Dusun Duwet. Observasi ini bertujuan memberikan wawasan praktis yang komprehensif tentang teknik budidaya okra. Selain itu Kunjungan ini mendapatkan sambutan hangat dari pemilik kebun yang membuat para mahasiswa menjadi lebih semangat untuk belajar dan memperoleh wawasan Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa untuk memahami langsung praktik pertanian hortikultura di Tanaman okra (Abelmoschus esculentu. dikenal memiliki nilai gizi tinggi, yang kaya akan nutrisi, termasuk serat, vitamin, dan Sehingga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pangan sehat. Tanaman ini bisa diolah menjadi berbagai hidangan, seperti tumisan, sayur, gorengan serta lalapan. Dalam proses pengolahannya untuk mengatasi lendir yang dihasilkan oleh okra, terdapat dua metode efektif yang dapat diterapkan saat pengolahan yaitu memasak dengan suhu tinggi atau merendamnya terlebih dahulu dengan garam. Ibu Aslami juga menekankan pentingnya panen tepat waktu, yaitu saat buah okra mencapai panjang 5Ae9 cm, untuk menjaga kualitas produk. Dalam penjelasan Ibu Aslami, proses budidaya okra dimulai dari: Persiapan lahan. Proses awal untuk memastikan lahan siap tanam mulai dari membajak sawah untuk menggemburkan tanah, membersihkan gulma dan sisa tanaman sebelumnya serta memberikan dasar pupuk / pupuk kandang. Pemilihan bibit unggul. Pentingnya memilih bibit berkualitas untuk hasil optimal salah satunya dengan menggunakan varietas unggul, daya tumbuh tinggi, tahan penyakit. Teknik penanaman yang tepat. Menggunakan metode penanaman yang efektif dengan Menanam 2Ae3 biji/lubang dengan jarak 40 cm62 Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx 60 cm yang ditutup tanah, serta siram secukupnya (Indriana et , 2. Perawatan tanaman. Untuk pengairannya Tanaman Okra menyukai tanah yang lembap tapi tidak becek, jika musim kemarau biasanya dilakukan 2-3 kali penyiraman yang dilakukan dipagi hari dekat pangkal batang tanaman Okra tanpa membasahi daun serta polong untuk mencegah penyakit. Untuk pemupukan Periksa tanaman secara rutin untuk mendeteksi hama dan penyakit sejak dini. Panen. Proses memanen atau mengambil hasil dari tanaman yang telah mencapai tingkat kematangan atau siap untuk dikonsumsi atau dijual. Panen buah okra digolongkan berdasarkan Grade ukuran panjang dan tingkat kematangan buah, karena hal ini berpengaruh langsung terhadap kualitas dan harga jual di pasar. Panen dilakukan setiap hari, karena buah okra tumbuh dan matang dengan cepat. Setelah bunga mekar, buah okra bisa dipanen dalam waktu 3Ae5 hari. Jika dibiarkan terlalu lama, buah akan menjadi keras dan berserat. Berikut penggolongan panen okra berdasarkan ukurannya: Grade A (Mud. A 7Ae9 cm : Sangat muda, empuk, tidak berserat Rp 000 Paling diminati, cocok untuk ekspor atau pasar modern. Grade B A 10Ae12 cm Agak tua, masih cukup empuk Rp 4. 500Ae 000 Umum dijual di pasar lokal. Grade D (Tu. >13 cm Tua dan berserat, tekstur keras Rp 3. Kurang laku, biasanya untuk olahan khusus atau dijadikan benih (Abdullah et al. , 2. Gambar 1. Proses pemanenan Buah Okra milik Ibu Aslami Wawasan tambahan yang disampaikan mengenai teknik pengolahan okra untuk mengurangi lendir seperti. dalam garam atau memasak dengan suhu tinggi memperkuat sisi edukatif kegiatan ini, terutama dari perspektif hilirisasi produk Okra dipasarkan secara lokal, dengan potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut ke pasar luar desa. Dengan masa panen yang cepat . ekitar 45Ae60 har. dan rendahnya risiko gagal Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx panen, okra menjadi komoditas strategis untuk mendiversifikasi usaha petani kecil (Ode Lisma et al. , 2. Mahasiswa menyimak penjelasan dengan antusiasme dan berkesempatan memanen buah okra yang sudah memasuki masa Kegiatan ini tidak hanya menawarkan pengalaman belajar di lapangan yang bertepatan dengan masa panen, tetapi juga menjadi platform untuk diskusi interaktif. Mahasiswa memperoleh wawasan mendalam mengenai manfaat kesehatan okra, teknik budidaya, dan strategi pemasaran hasil panen ke pasar lokal. Observasi ini menegaskan bahwa pengetahuan tidak hanya didapat dari pembelajaran teoretis di ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman langsung dan kearifan lokal. Observasi Ke Tempat Budidaya Cacing African Night Crawler (ANC) Pada tanggal 11 Agustus 2025, mahasiswa melakukan observasi ke tempat budidaya cacing milik Bapak Fahri yang berlokasi di Dusun Gedebeg. Bapak Fahri telah merintis usaha budidaya cacing ini selama kurang lebih satu tahun. Meskipun masih tergolong baru . ekitar satu tahun berjala. , budidaya ini telah memiliki skala produksi yang signifikan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan praktis kepada mahasiswa mengenai sistem usaha berbasis sumber daya lokal yang mampu memberikan hasil nyata dalam waktu relatif singkat serta memberikan pembelajaran teknis tentang budidaya African Night Crawler (ANC), mulai dari kebutuhan media, teknik perawatan, manajemen kelembapan, hingga teknik pemanenan dan pemisahan cacing dari media (Aini et al. Berikut ini adalah penjelasan dari bapak Fahri. Media budidaya berfungsi sebagai tempat hidup, makanan, dan lingkungan untuk berkembang biaknya cacing. Media yang baik harus mengandung bahan organik tinggi, lembap, dan gembur. Media budidaya cacing African Night Crawler (ANC) yang ideal meliputi kompos tebu, kotoran ternak . hususnya sap. , dan limbah organik rumah tangga yang telah difermentasi. Media harus memiliki pH netral . ,5Ae7,. , bebas zat kimia berbahaya, dan kelembapan 60Ae80% untuk mendukung pertumbuhan cacing secara optimal. Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx Gambar 2. Proses budidaya cacing milik Bapak Fahri di Dusun Gedebeg. Bapak Fahri Teknik Perawatan dalam budidaya cacing African Night Crawler (ANC) sangat penting agar cacing dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Perawatan budidaya cacing African Night Crawler (ANC) meliputi pemberian pakan limbah organik yang sudah terdekomposisi setiap 2Ae3 hari, pengadukan media secara berkala untuk menjaga sirkulasi udara,serta pengontrolan pH dan bau. Perawatan yang rutin penting untuk menjaga kualitas dan mempercepat produksi cacing. Manajemen Kelembapan keberhasilan budidaya cacing African Night Crawler (ANC). Kelembapan 60Ae80% sangat penting untuk budidaya cacing African Night Crawler (ANC). Kelembapan rendah menyebabkan cacing kering dan mati, sedangkan kelembapan tinggi membuat media anaerob dan berbau busuk. Pengontrolan kelembapan dilakukan dengan metode genggam, menambah air jika media kering, atau menambah bahan kering jika terlalu basah, agar cacing tumbuh Teknik Pemanenan dan pemisahan cacing dari media merupakan tahap akhir dari budidaya dan penting dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak media atau mencederai cacing. Proses pemanenan merupakan tahap akhir dari budidaya dan penting dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak media atau mencederai cacing. Cacing African Night Crawler (ANC) siap dipanen pada usia 60Ae90 hari dan panen bisa dilakukan secara total atau Pemisahan cacing dari media dilakukan dengan penyaringan menggunakan ayakan atau dengan memindahkan media baru agar cacing bermigrasi ke media tersebut, sedangkan media yang lama dapat diambil. Setelah dipanen, cacing dapat langsung dijual hidup maupun sudah gilingan, atau dijadikan bibit untuk pembudidayaan berikutnya. Sementara itu, media bekas budidaya . dapat dijual sebagai pupuk organik berkualitas Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx Budidaya cacing tanah, khususnya jenis African Night Crawler (ANC), yang dikenal sebagai salah satu alternatif usaha agribisnis yang menjanjikan, baik dari sisi ekonomi maupun keberlanjutan lingkungan yang memanfaatkan mikroorganisme hidup . sebagai komoditas utama (Lisanty et al. , 2. Cacing ANC (African Night Crawle. adalah spesies cacing tanah yang memiliki keunggulan sebagai berikut: Kemampuan Reproduksi Cepat: Seekor indukan cacing African Night Crawler (ANC) mampu berkembang biak dengan laju yang tinggi, mempercepat siklus produksi. Produksi Biomassa Tinggi: cacing African Night Crawler (ANC) dikenal mampu menghasilkan massa tubuh yang besar dalam waktu singkat, sehingga cocok untuk produksi massal. Kandungan Protein Tinggi: Cacing African Night Crawler (ANC) memiliki kadar protein yang tinggi, menjadikannya alternatif ideal untuk pakan alami ternak seperti ikan dan udang. Peternakan ini fokus pada produksi cacing ANC, yang dikenal karena kemampuannya dalam menghasilkan biomassa dalam jumlah besar dan laju reproduksi yang cepat. Bibit Cacing African Night Crawler (ANC) diperoleh dari daerah Pati dan Rembang dengan harga Rp160. 000/kg. Hal ini menunjukkan adanya keterkaitan antara peternakan lokal dengan sentra pembibitan di daerah lain. Sedangkan Media budidayanya menggunakan kompos tebu yang dibeli dari Todanan. Pemilihan media ini selain karena kandungan organiknya yang tinggi, juga merupakan bentuk pemanfaatan limbah pertanian yang ramah lingkungan. Meskipun masih tergolong baru . ekitar satu tahun berjala. , budidaya ini telah memiliki skala produksi yang signifikan, yaitu dengan rata-rata penjualan 4 ton cacing setiap tiga bulan sekali dengan harga Rp 30. 000 Ae Rp 35. 000 per kilogramnya. Ini merupakan jumlah yang besar untuk ukuran budidaya lokal dan menunjukkan bahwa sistem manajemen yang diterapkan cukup efektif. Hasil produksi utama berupa cacing yang sudah digiling dan dikemas menggunakan jeriken yang dipasarkan ke daerah Lampung untuk memenuhi kebutuhan pakan tambak Udang dan Bandeng. Udang membutuhkan pakan alami berprotein tinggi agar pertumbuhannya optimal dan bebas dari residu bahan kimia, sehingga cacing African Night Crawler (ANC) menjadi pilihan yang ideal (Suharno Zen, 2. Kegiatan observasi ini memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan wawasan dan keterampilan mahasiswa, khususnya dalam bidang agribisnis berbasis sumber daya lokal. Melalui interaksi langsung dengan pelaku usaha, mahasiswa tidak hanya memahami konsep manajemen agrikultur secara teoritis, tetapi juga melihat implementasinya dalam konteks nyata. Pengalaman ini menjadi landasan penting dalam membentuk karakter wirausaha yang inovatif, adaptif, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx Dampak Positif Usaha Berbasis Lokal terhadap Kemandirian Ekonomi Keluarga Usaha berbasis lokal, seperti budidaya okra dan cacing African Night Crawler (ANC) yang dilakukan oleh Ibu Aslami dan Bapak Fahri, secara nyata memberikan dampak positif terhadap kemandirian ekonomi keluarga. Kedua jenis usaha tersebut menjadi contoh konkret bagaimana pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif yang berkelanjutan. Secara ekonomi, usaha ini mampu meningkatkan pendapatan keluarga, baik dari hasil penjualan produk segar . eperti okr. maupun olahan bernilai tinggi . eperti cacing giling untuk pakan terna. Dengan biaya produksi yang relatif rendah dan risiko kegagalan usaha yang minim, aktivitas agribisnis ini menjadi pilihan tepat bagi masyarakat desa yang ingin memperkuat ketahanan ekonomi keluarga tanpa tergantung pada pihak luar. Lebih dari sekadar aspek finansial, usaha berbasis lokal juga menjadi modal sosial dan pemberdayaan. Dalam konteks ini, keluarga tidak hanya berperan sebagai konsumen pasif, tetapi juga sebagai produsen aktif yang mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam lokal. Dari sisi teknis, pengetahuan yang diperoleh pelaku usaha, baik melalui pengalaman langsung maupun edukasi nonformal seperti pelatihan atau diskusi dengan mahasiswa menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha. Misalnya, dengan memahami teknik panen okra yang tepat waktu atau manajemen kelembapan dalam budidaya cacing, para pelaku usaha dapat menjaga kualitas produk, memperluas pasar, dan meraih harga jual yang lebih tinggi. Tidak kalah penting, usaha ini mendorong semangat inovasi dan kemandirian, terutama di kalangan generasi Melalui kunjungan lapangan, mahasiswa secara langsung menyaksikan bagaimana usaha sederhana dapat menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Mereka belajar bahwa inovasi tidak harus datang dari kota besar atau teknologi tinggi, tetapi bisa dimulai dari desa, dari tanah yang digarap, dan dari limbah organik yang diolah secara bijak. Lebih jauh, usaha-usaha seperti ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan limbah organik, menjaga keseimbangan ekosistem, dan menerapkan sistem pertanian terpadu, pelaku usaha berkontribusi pada pelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan. Secara keseluruhan, budidaya okra dan cacing African Night Crawler (ANC) merupakan bukti nyata bahwa usaha berbasis lokal memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian ekonomi Tidak hanya memberikan penghasilan tambahan, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem ekonomi desa yang tangguh, kreatif, dan berdaya saing. Kegiatan ini menjadi cerminan bahwa ketika sumber daya lokal dikelola dengan ilmu, ketekunan, dan Vol. 01 No. 02 Desember 2025, hal. x-xx inovasi, maka kemandirian ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan kenyataan yang dapat dicapai dan diwariskan kepada generasi berikutnya (Lusianti et al. , 2. PENUTUP Budidaya cacing African Night Crawler (ANC) milik Bapak Fahri di Dusun Gedebeg dan Budidaya okra milik Ibu Aslami Dususn Gedebeg memberikan gambaran nyata mengenai potensi besar dari usaha agribisnis berbasis lokal dalam mendorong kemandirian ekonomi Melalui pengelolaan sumber daya lokal yang sederhana namun efisien, kedua pelaku usaha berhasil menciptakan sistem produksi yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memberikan dampak sosial, edukatif, dan lingkungan yang positif. Budidaya okra terbukti mampu menjadi alternatif pertanian hortikultura dengan masa panen singkat, teknik sederhana, dan permintaan pasar yang cukup Sementara itu, budidaya cacing African Night Crawler (ANC) menjadi solusi agribisnis yang menjanjikan dalam pemanfaatan limbah organik serta penyediaan pakan alami berprotein tinggi bagi industri Kedua jenis usaha ini tidak hanya menambah penghasilan keluarga, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat desa Gedebeg sebagai produsen aktif, serta menjadi sumber pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk memahami praktik pertanian berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal. REKOMENDASI Untuk mendorong kemandirian ekonomi berbasis lokal, direkomendasikan agar masyarakat terus mengembangkan usaha yang memanfaatkan potensi alam sekitar secara berkelanjutan. Mahasiswa sebagai generasi muda juga perlu aktif belajar dari praktik langsung di lapangan agar mampu menciptakan inovasi agribisnis yang relevan. Pemerintah dan lembaga terkait sebaiknya memberikan dukungan melalui pelatihan, pendampingan, serta akses permodalan dan Dengan kolaborasi antara pelaku usaha lokal, akademisi, dan pemerintah, diharapkan tercipta ekosistem ekonomi desa yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA