Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 JURNAL TEKNIK INDUSTRI MANAJEMEN DAN MANUFAKTUR JURNAL TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 https://ejournal. id/index. php/jtim Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Lem Pada Pt. Xyz Dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) Gema mahardika1, suryo sulistyo2 Teknik industri Universitas Muhammadiyah A. R fachrudin gemamahardika2001@gmail. ABSTRAK PT XYZ adalah perusahaan industri alas kaki yang menghadapi masalah dalam pengendalian persediaan bahan baku lem akibat fluktuasi permintaan konsumen. Ketidakseimbangan antara jumlah pemesanan dan pemakaian menyebabkan pemborosan biaya persediaan dan gangguan dalam proses produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian persediaan bahan baku lem dengan menggunakan metode Min-Max dan Economic Order Quantity (EOQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan metode EOQ, jumlah pemesanan optimal adalah 64 kaleng dengan reorder point (ROP) sebesar 16 kaleng dan total biaya persediaan Rp11. 832 per tahun. Sementara itu, metode Min-Max menghasilkan kuantitas pemesanan sebesar 26 kaleng dengan ROP 14 kaleng dan biaya tahunan Rp41. Dibandingkan kebijakan perusahaan saat ini, metode EOQ lebih efisien dan mampu menghemat hingga Rp111. 280 per tahun. Kata kunci: Persediaan1. Economic Order Quantity2. Min-Max 3. Reorder Point 4. Biaya Total Persediaan 5 ABSTRACT PT XYZ, a footwear manufacturing company, faces challenges in controlling its glue raw material inventory due to fluctuations in consumer demand. The imbalance between order quantities and usage leads to wasteful inventory costs and disruptions in the production process. This study aims to analyze glue raw material inventory control using the Min-Max and Economic Order Quantity (EOQ) methods. The results show that using the EOQ method, the optimal order quantity is 64 cans with a reorder point (ROP) of 16 cans and a total inventory cost of Rp11,459,832 per year. Meanwhile, the Min-Max method results in an order quantity of 26 cans with an ROP of 14 cans and an annual cost of Rp41,699,190. Compared to the company's current policy, the EOQ method is more efficient and can save up to Rp111,467,280 per year. Keywords: Inventory 1. Economic Order Quantity 2. Min-Max 3. Reorder Point 4. Total Inventory Cost 5 Diterima Redaksi: 07 Agustus 2025 Selesai Revisi: 25 Oktober 2025 Diterbitkan Online: 31 Oktober 2025 A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 PENDAHULUAN Dengan seiring waktu sebuah perusahaan wajib mempunyai strategi untuk bersaing dengan perusahaan lain, perusahaan dituntut untuk memenuhi kebutuhan konsumen agar bersaing dengan yang lain, untuk memenuhi kebutuhan konsumen perusahaan harus mempunyai strategi pengelolaan ketersediaan bahan baku. Menurut (Sari & Saputro, 2. tujuannya adalah untuk mencukupi kebutuhan pelanggan dengan tetap menjaga kualitas produk, menciptakan keuntungan loyalitas Persediaan merupakan masalah operasional yang sering dihadapi bisnis. Perusahaan memerlukan sistem pengendalian persediaan yang optimal untuk memenuhi permintaan konsumen dengan efisien. PT XYZ sebagai produsen alas kaki sehari-hari, sangat bergantung pada ketersediaan lem sebagai bahan baku utama. Saat ini, sistem persediaan mereka belum optimal karena tidak mempertimbangkan fluktuasi permintaan, sehingga terjadi overstock atau Hal ini menimbulkan kerugian biaya tambahan dan mengganggu proses produksi. Tabel 1. Data pembelian dan pemakaian bahan baku lem oktober 2023 Ae september 2024 Bulan Pembelian Pemakaian Oktober November Desember Januari Febuari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Jumlah Berdasarkan data tersebut pemesanan dan pemakaian terlihat mengalami selisih yang jelas yaitu jumlah pemebelian senilai 1512 kalelng dan jumlah pemakaian senilai 1520 kaelng. Maka perusahaan perlu memiliki sistem manajemen inventaris yang baik sehingga dapat mengoptimalakan pasokan bahan baku. Tujuan penelitian ini adalah menentukan: . Nilai reorder point (ROP), . Kuantitas pemesanan optimal (Q), dan . Efektivitas metode Min-Max dan EOQ dalam menekan Total Inventory Cost (TIC). METODE PENELITIAN 1 Persediaan Persediaan bahan baku adalah material yang diperuntukan dipakai kebutuhan produksi, yang dapat bersumber dari alamiah atau memesan dari pemasok yang memproduksi bahan baku bagi perusahan yang memakai bahan baku tersebut dan sebagai kelancaran proses(Setiawan & Setiafindari, 2 Jenis-jenis persediaan Menurut(Ova Novi Irama & Murni Dahlena, 2. Persediaan mempunyai empat jenis, yaitu: Persediaan Bahan Mentah . aw material stoc. Merupakan bahan dasar yang dipergunakan untuk tahapan produksi dan akan dilanjutkan untuk bahan awal tahapan produksi. Persediaan Bahan Setengah Jadi . ork in proces. Persediaan produk sedang menunggu dalam tahap selanjutnya dan sudah melewati proses A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 Persediaan pemeliharaan . aintenance supplie. Persediaan bahan habis pakai diperuntuk sebagai pemeliharaan,perbaikan dan pengoperasian mesin agar tetap berjalan. Persediaan Barang Jadi . inished goods stoc. Inventaris produk dimana proses produksinya telah usai. Dalam keadaan ini produk sedang menunggu untuk proses distribusi. 3 Titik pemesanan kembali . eorde poin. Titik pembelian ulang adalah batas kuantitas persediaan di inventori yang perlu dipesan ulang. Poin ini menunjukan bahwa departemen pembelian perlu melakukan pemesanan lain untuk mengisi kembali persediaan yang dikonsumsi. (Tiurlan & Wicaksono, 2. 4 Waktu tunggu . ead tim. waktu tungu adalah waktu atau durasi yang dibutuhkan dari perusahaan melakukan pembelian sampai dengan bahan baku diterima oleh perusahaan. Waktu tunggu mengacu durasi yang dibutuhkan dari titik pembelian dan waktu penerimaan barang, atau dari pembelian bahan dasar/produk sampai bahan dasar tiba di perusahaan(Audina & Bakhtiar, 2. 5 Min max Metode min-max stock merupakan pengelolaan material peyimpanan pengaman yang harus dimiliki dan dilakukan. Metode ini diterapkan dengan mengatur nilai minimum dan maksimum penyimpanan dengan mengendalikan penjadwalan pemesanan persediaan sehingga dapat meminimalkan kekurangan material dan kelebihan material(Widiyanto, 2. Menurut (Rachmawati & Lentari, 2. akan halnya perhitungan metode minimum dan maximum memiliki proses dalam mengendalikan persediaan, yaitu: SS = . aks pemakaian Ae T) x LT Stok minimum = (T ycu LT) SS Stok maksimum = 2 x (T ycu LT) . Q = 2 x T x LT ROP = maximum stock Ae minimum stock TIC = ( x S) ( x H) . 6 Economic order quantity (EOQ) EOQ adalah proses yang digunakan untuk dapat mengetahui jumlah barang . uantitas maksimu. yang akan dipesan dari setiap pembelian . proses EOQ ini diharapkan bisa menghilangkan kelebihan dan kekurangan persediaan serta meminimalkan total biaya persediaan (Handayani & Afrianandra, 2. EOQ = Oo SS = Z x Sd x LT ROP = (T ycu LT) SS TIC = ( x S) ( x H) . HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2. Data persediaan bahan baku lem oktober 2023 - september 2024 A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 Bulan Pembelian Pemakaian Satuan Oktober Kaleng November Kaleng Desember Kaleng Januari Kaleng Febuari Kaleng Maret Kaleng April Kaleng Mei Kaleng Juni Kaleng Juli Kaleng Agustus Kaleng September Kaleng Jumlah Kaleng Rata-rata 126,67 Kaleng 6,23 Kaleng Data utama meliputi total pemesanan 1. 512 kaleng, total pemakaian 1. 520 kaleng, rata-rata pembelian 126 kaleng, rata-rata pemakaian 126,67 kaleng. Standar deviasi 6,23 kaelng, harga lem Rp750. 000/kaleng, biaya simpan Rp7. 500/kaleng, dan biaya pesan Rp10. 000 dengan waktu tunggu 0,1 1 Analisis penelitian 1 Total inventory cost kebijakan perusahan TICperusahaan = ( x S) ( x H) . 000 ) ( x 7. = 1. = Rp 1. 214/Pembelian TIC Perusahaan pertahun: TICPerusahaan = Rp. 214 x Frekuensi pemesanan pertahun = Rp. 214 x 108 = Rp. 112 per tahun 2 Min max Safety Stock (SS) SS = (Maks Pemakaian Ae T) x LT = . Ae 126,. Ae 0,1 = 1,133 OO 2 kaleng Minimum stock Minimum Stock = (T x LT) SS = . ,67 x 0,. 1,133 = 13,8 OO 14 kaleng Maximum stock Maximum stock = 2 (T x LT) SS = 2 . ,67 x 0,. 1,133 = 2 x 13,8 = 27,6 OO 28 Kaleng Kuantitas pemesanan (Q) A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 Q = 2 x T x LT = 2 x 126,67 x 0,1 = 25, 334 OO 26 Kaleng Titik Pemesanan kembali (ROP) ROP = Max Ae Min = 27,6 Ae 13,8 = 13,8 OO 14 Kaleng Frekuensi pembelian dalam satu tahun (F) ya ya= ycE 25,334 = 59. 998 OO 60 kali/bulan . Total inventory cost (TIC) TIC = ( x S) ( x H) 25,334 . ( 25,334 = Rp. 984 Rp. = Rp. 986,5/Pesan TIC Pertahun: TIC = Rp. 986,5 x Frekuensi pemesanan pertahun = Rp. 986,5 x 60 = Rp. 190/Tahun . 3 EOQ Economic order quantity (EOQ) EOQ = Oo ycI. ya ya =Oo = Oo4. 053,33 = 63,66 OO 64 Kaleng/pesan . Frekuensi pemesanan bahan baku dalam satu tahun (F) EOQ 63,66 = 23,87 OO 24/tahun . Kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan konsumen adalah 90%. Tingkat layanan 90% menentukan besarnya nilai Z, dengan menggunakan tabel distribusi normal, nilai Z pada daerah dibawah kurva normal 90% atau . ,5 Ae . dapat diketahui nilai Z sebesar 1,28. SS = Z x Sd x LT = 1,28 x 6,23 x 0,1 = 2,521 OO 3 Kaleng. Reorder point (ROP) ROP = (T x LT) SS = . ,67 x 0,. 2,521 = 15,188 OO 16 Kaleng. Total inventory cost (TIC) TIC = ( x S) ( x H) A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 63,66 63,66 = Rp. 768 Rp. = Rp. 493/Pesan TIC Pertahun: TIC = Rp. 493 x Frekuensi pemesanan pertahun = Rp. 493 x 24 = Rp. 832/Tahun . 2 Hasil pembahasan 1 Analisis perbandingan persediaan Tabel 3 Hasil Perbandingan Persediaan Metode ROP Perusahaan 14 Min-Max EOQ Sumber: Pengolahan data Hasil yang diperoleh menunjukan selisih nilai persediaan antara kebijakan perusahaan, metode min max, dan metode EOQ. Kuantitas pemesanan (Q) menggunakan kebijakan perusahaan adalah 14 kaleng per pemesanan, metode min max 25 kaleng per pemesanan, dan metode EOQ 64 kaleng per Frekuensi pembelian (F) menggunakan kebijakan perusahaan adalah 108 kali per periode, metode min max 60 kali per periode, dan metode EOQ 24 kali per tahun. Untuk stok pengaman (SS) dan titik pembelian kembali (ROP), kebijakan perusahaan tidak mencamtukannya, yang beresiko mengganggu produksi akibat kehabisan bahan baku atau keterlambatan pengiriman. Dengan pendekatan min max, stok pengaman adalah 12 kaleng dan ROP adalah 14 kaleng. Dengan pendekatan EOQ, stok pengaman adalah 3 kaleng dan ROP adalah 15 kaleng. Berdasarkan hasil analisis, metode EOQ terbukti lebih efektif dalam pengendalian persediaan dibandingkan kebijakan perusahaan dan pendekatan min max. Pendekatan EOQ membantu menentukan jumlah pembelian yang optimal dan waktu pemesanan yang tepat, sehingga perusahaan dapat menghindari kekurangan atau kelebihan bahan baku, menjaga kelancaran produksi, dan memenuhi permintaan konsumen dengan baik. 2 Analisis perbandingan TIC Tabel 4 Hasil Perbandingan Biaya Persediaan TIC per pesan TIC per tahun Selisih per (R. (R. tahun (R. Perusahaan Min-max EOQ Metode Sumber: pengolahan data Berdasarkan hasil perbandingan diatas total biaya persediaan terkecil adalah metode EOQ sebesar Rp. 493 per pesan dan Rp. 832 per tahun. Maka metode yang tepat untuk dipilih adalah pendekatan EOQ dimana pendekatan tersebut memilki selisih yang besar dengan kebijakan perusahaan yaitu sebesar Rp. 280 per tahun untuk biaya persediaan. Sehingga dapat mengalokasikan biaya tersebut untuk kebutuhan lainnya. KESIMPULAN Hasil dari pengendalian persediaan menggunakan metode Min Max didapatkan nilai titik pemesanan kembali (ROP) sebesar 14 kaleng, selanjutnya menggunakan metode EOQ didapatkan nilai titik pemesanan kembali (ROP) sebesar 15 kaleng, dan sedangkan kebijakan perusahaan tidak A2025 Diterbitkan oleh Program Studi Teknik Industri UP45 Jurnal JTIM 2iCNo. 1iC166-172iC2025 memiliki titik pemesanan kembali. Kuantitas pemesanan bahan baku (Q) kebijakan perusahaan sebanyak 14 kaleng, kuantitas pembelian (Q) menggunakan metode Min Max sebanyak 25 kaleng selanjutnya menggunakan metode EOQ didapatkan kuantitas pembelian optimal (Q) sebesar 64 kaleng. TIC dengan menggunakan kebijakan perusahaan didapatkan sebesar Rp. 214 per pemesanan dan TIC dalam satu tahun sebesar Rp. TIC pendekatan Min Max didapatkan sebesar Rp. 986,5 per pemesanan dan TIC dalam satu tahun sebesar Rp. 190 dan TIC sengan menggunakan metode EOQ sebesar Rp. 493 dan dalam setahun didapatkan hasil sebesar Rp. UCAPAN TERIMAKASIH