Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted :12/08/2025 Reviewed : 20/08/2025 Accepted : 28/10/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu FORMASI IMAN DAN MODERASI BERAGAMA: TEOLOGISAcPEDAGOGIS MEMBANGUN SIKAP TOLERAN DALAM KEKRISTENAN DI ERA PLURALISTIK Ventje Adri Politon1*). Olivia Cherly Wuwung2 Santi Yanti Kalangi3 1,2,3Institut Agama Kristen Negeri Manado *Email Correspondence: adriventjepoliton@gmail. Abstract: This study examines the integration of faith formation and religious moderation within the context of Christianity as a theological-pedagogical approach to fostering tolerant attitudes in a pluralistic society. Employing a qualitative-descriptive approach based on library research, this paper identifies the theological principles of faith formation such as love . , respect for human dignity . mago De. , and prophetic responsibility alongside the pedagogical principles of religious moderation emphasizing balance, openness, reflection, and dialogue. The integration of these principles produces a conceptual framework applicable to church practices, family life, and Christian educational communities, nurturing faith that is both steadfast and open to The novelty of this research lies in highlighting the theological dimension of religious moderation within the Christian tradition and its relevance for character formation in todayAos digital and multicultural context. Furthermore, the study offers practical directions for developing an inclusive and peace-oriented faith culture within church and social life. Keywords: Faith Formation. Religious Moderation. Christian Theology. Abstraksi : Penelitian ini menelaah integrasi antara formasi iman dan moderasi beragama dalam konteks Kekristenan sebagai pendekatan teologis-pedagogis untuk membentuk sikap toleran di tengah masyarakat pluralistik. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, kajian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip teologis formasi iman seperti kasih . , penghormatan terhadap martabat manusia . mago De. , dan tanggung jawab profetik serta prinsip-prinsip pedagogis moderasi beragama yang menekankan keseimbangan, keterbukaan, refleksi, dan dialog. Integrasi kedua prinsip ini menghasilkan kerangka konseptual yang dapat diterapkan dalam praksis gerejawi, keluarga, dan komunitas pendidikan Kristen untuk menumbuhkan iman yang teguh sekaligus terbuka terhadap keberagaman. Kebaruan penelitian ini terletak pada penegasan dimensi teologis dari moderasi beragama dalam tradisi Kristen serta relevansinya bagi pembentukan karakter toleran di era digital dan multikultural. Kajian ini juga menawarkan arah praktis bagi pengembangan budaya iman yang inklusif dan damai dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat. Kata kunci: Formasi Iman. Moderasi Beragama. Teologi Kristen. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 270 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Masyarakat menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga harmoni sosial di tengah konflik identitas, dan gejala intoleransi. Kondisi ini menuntut adanya strategi pendidikan agama yang tidak hanya mempertahankan integritas iman, tetapi juga membangun keterbukaan terhadap keberagaman sebagai kompetensi dasar warga negara global. 1 Pendidikan Kristen, yang berakar pada nilai kasih, kebenaran, dan penghargaan terhadap sesama sebagaimana diajarkan dalam Injil, memiliki tanggung jawab strategis untuk menanamkan nilai-nilai etis dan spiritual yang mendorong sikap toleran. Pendidikan Kristen berdirinya memikul mandat ganda: mentransmisikan pengetahuan akademis dan membentuk iman yang kokoh. banyak lembaga pendidikan tinggi Kristen, konsep Integration of Faith and Learning (IFL) menjadi kerangka pembelajaran akademis dengan nilainilai iman sehingga proses pendidikan tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga 3 Namun, sejumlah kajian menunjukkan bahwa di beberapa sekolah Kristen, integrasi iman masih ditempatkan sebagai aktivitas tambahan seperti ibadah atau renungan, bukan bagian inti dari kurikulum pembelajaran. Pendekatan teologis menekankan bahwa iman seharusnya menjadi pusat yang mengarahkan seluruh proses A Azra. AuModerasi Beragama Dalam Konteks Keindonesiaan,Ay Kementerian Agama RI, 2020. Yosua Yan Heriyanto. AuModerasi Beragama Dalam Perspektif Etika Kristen: Menemukan Titik Temu Dalam Perbedaan,Ay Innovative: Journal Of Social Science Research 5, no. : 3843Ae57. Terry Anne Lawrence. Larry D. Burton, and Constance C. Nwosu. AuRefocusing on the Learning in AuIntegration of Faith and Learning",Ay Journal of Research on Christian Education 14, no. 1 (March 2. : 17Ae50, https://doi. org/10. 1080/10656210509484979. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Integrasi iman tidak hanya berarti menyelipkan ayat Alkitab dalam materi pelajaran, tetapi membentuk cara pandang dunia peserta didik secara Formasi iman . aith formatio. mencakup pembentukan spiritualitas, moralitas, dan karakter yang selaras dengan ajaran Kristus. Model ini memiliki irisan yang kuat dengan praktik pendidikan klasik Kristen (Classical Christian Educatio. , yang memadukan pembelajaran kritis dan formasi moral melalui tahapan grammar, logic, dan rhetoric. 6 Secara analitis, pendekatan ini menegaskan bahwa teologi pendidikan Kristen bukan sekadar sistem doktrinal, melainkan fondasi epistemologis yang menentukan arah dan tujuan seluruh proses belajar. Ketika iman ditempatkan sebagai pusat pendidikan, seluruh dimensi intelektual, etis, dan sosial peserta didik diarahkan pada transformasi diri yang berorientasi kepada Kristus. Dengan demikian, integrasi iman tidak hanya menambah unsur religius pada kegiatan belajar, tetapi menegaskan paradigma baru bahwa seluruh ilmu pengetahuan dan praktik kehidupan perlu ditafsirkan dalam terang Injil. Pendekatan teologis ini juga mengoreksi kecenderungan pendidikan Kristen sebatas transmisi doktrin, dengan menegaskan kembali peran formasi iman sebagai proses pembentukan identitas dan tanggung Chelsea Ahliwati Rindi et al. AuMEWUJUDKAN IMAN YANG HIDUP: INTEGRASI TEOLOGI KRISTEN DALAM PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN UNTUK PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA,Ay HUMANITIS: Jurnal Homaniora. Sosial Dan Bisnis 3, no. : 133Ae42. Muhammad Aditya Firdaus. AuDevelopment of Assessment Instruments for Fiqh Learning Based on Religious Moderation at Madrasah Tsanawiyah in West Java,Ay Didaktika: Jurnal Kependidikan 13, no. : 515Ae24. Ahmad Badrun. AuImplementasi NilaiNilai Moderasi Beragama Melalui Pengembangan Program Pendidikan Pesantren Modern (Studi Kasus Pada Pesantren Modern Darussalam Ciamis Jawa Bara. Ay (Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah jakarta, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 271 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf jawab sosial yang berakar pada kasih Allah. Seiring perkembangan zaman, masyarakat modern yang semakin plural dan terkoneksi secara digital menuntut hadirnya moderasi beragama sebagai sikap dasar warga negara. Moderasi beragama dalam pendidikan dipahami keseimbangan antara komitmen terhadap keyakinan sendiri dan keterbukaan terhadap perbedaan. 7 Konsep Moderate Christianity menggarisbawahi prinsip menjauhi ekstremisme dan menjalani iman dengan hikmat, kasih, serta keterbukaan terhadap dialog. 8 Dalam pendidikan Kristen, prinsip ini dapat diintegrasikan ke dalam proses formasi iman sehingga siswa tidak hanya memahami doktrin, tetapi juga mampu mempraktikkan kasih dan toleransi Dengan demikian, penggabungan formasi iman dan moderasi beragama dalam kerangka pedagogis menawarkan jalan strategis untuk membentuk karakter Kristiani yang kuat sekaligus toleran. Penelitian-penelitian terdahulu pendidikan Kristen umumnya berfokus moralitas, dan karakter peserta didik (Pazmiyo, 2016. Estep. Anthony, & Allison, 2008. Harkness, 2. Sejumlah studi kontemporer juga menyoroti pentingnya integrasi iman dalam pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada transformasi karakter (Wolf, 2021. Rindi et al. , 2. Di sisi lain, kajian tentang moderasi beragama lebih dominan dilakukan pada konteks pendidikan Islam dan kebijakan publik (Badrun, 2023. Firdaus, 2024. Mukhibat, 2024. Munif, 2. , dengan fokus pada pembentukan sikap toleran dan penanaman nilai keseimbangan dalam kehidupan sosial. Namun, hingga Azra. AuModerasi Beragama Dalam Konteks Keindonesiaan. Ay Rowan Williams. Faith in the Public Square (A&C Black, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 kini masih terbatas penelitian yang secara eksplisit mengintegrasikan kedua konsep tersebutAiyakni formasi iman beragamaAidalam kerangka pendidikan Kristen, khususnya melalui analisis teologis-pedagogis yang Keterbatasan ini menunjukkan adanya celah penelitian . esearch ga. yang perlu dijembatani, yaitu perlunya pengembangan model konseptual yang mampu mengintegrasikan kedalaman iman Kristen dengan nilai keterbukaan terhadap keberagaman. Pendekatan integratif ini menjadi penting untuk Kristen di era pluralistik, agar mampu menumbuhkan peserta didik yang beriman teguh, reflektif, serta memiliki kesadaran sosial yang toleran dan Artikel ini bertujuan untuk menganalisis integrasi formasi iman dan moderasi beragama dalam pendidikan Kristen dari perspektif teologis dan pedagogis sebagai strategi pembentukan sikap toleran. Studi ini menawarkan kerangka integratif yang memadukan prinsip-prinsip teologi Kristen dengan pendekatan pedagogis yang kontekstual, reflektif, dan dialogis. Diharapkan, kerangka ini dapat menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum dan praktik pendidikan Kristen yang relevan di era pluralistik, sehingga mampu membentuk pribadi beriman teguh, inklusif, dan berkomitmen terhadap perdamaian. Hasil kajian menunjukkan bahwa formasi iman yang dirancang secara reflektif, kontekstual, dan berbasis kasih dapat berkontribusi signifikan dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki integritas spiritual, tetapi juga mampu menghargai keberagaman secara positif. Penelitian ini menawarkan kebaruan berupa kerangka integratif yang memadukan aspek teologis dan pedagogis dalam membentuk sikap toleran melalui pendidikan iman Kristen, yang relevan untuk pengembangan kurikulum pendidikan agama di era pluralistik saat ini melalui Pendekatan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 272 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf teologis-pedagogis menyatukan kerangka formasi iman dengan prinsip moderasi beragama serta Kontekstualisasi di era pluralisme digital, menjawab tantangan interaksi lintas agama di ruang fisik dan virtual dan Pendekatan empiris pada sikap toleran, sehingga hasilnya dapat menjadi acuan pengembangan kurikulum dan modul pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberi pendidikan Kristen dan kontribusi praktis bagi pembentukan karakter siswa yang beriman teguh sekaligus toleran. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan desain studi kepustakaan . ibrary keterkaitan formasi iman dan moderasi beragama dalam kerangka teologispedagogis pendidikan Kristen yang Fokus penelitian diarahkan pada prinsip-prinsip Kristen dan strategi pedagogis yang dapat diintegrasikan guna membentuk sikap toleran peserta didik. Pendekatan kualitatif dipilih karena tujuan penelitian adalah memahami secara mendalam konsep integrasi formasi iman dan moderasi beragama dalam pendidikan Kristen, bukan untuk mengukur variabel secara kuantitatif. Sumber data mencakup literatur akademik yang relevan dari dua ranah Pertama, sumber teologis seperti teks Alkitab, dokumen resmi gereja, karya teologi sistematik, dan literatur tentang faith formation. Kedua, sumber pendidikan Kristen, filsafat pendidikan, dokumen kurikulum, serta penelitian terdahulu terkait moderasi beragama. Untuk memastikan relevansi, data diperoleh dari jurnal bereputasi yang diindeks di Scopus. Web of Science. John W Creswell. Desain Penelitian : Pendekatan Kualitatif. Kuantitatif. Dan Metode Campuran (Sage publications, 2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 DOAJ, dan Google Scholar, dengan fokus pada publikasi sepuluh tahun beragama, sementara referensi teologis klasik digunakan tanpa batasan tahun. Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan kata kunci seperti faith formation, integration of faith and learning, religious moderation. Christian education, dan tolerance. Hasil analisis kemudian disusun dalam bentuk narasi analitis yang sistematis dan integratif, sehingga mampu merepresentasikan keterkaitan antara dimensi teologis dan pedagogis Pendekatan merumuskan bagaimana formasi iman dalam pendidikan Kristen dapat menjadi landasan teologis dan integrasi formasi iman dan moderasi beragama dalam pendidikan Kristen. Proses seleksi literatur dilakukan secara ketat berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Literatur yang dipilih adalah yang relevan secara langsung beragama, dan pendidikan Kristen, serta memuat analisis teologis dan/atau pedagogis yang dapat diintegrasikan. Sumber-sumber yang hanya membahas salah satu topik tanpa keterkaitan dengan fokus penelitian, atau yang bersifat populer dan non-akademik, dikeluarkan dari analisis. HASIL Hasil menunjukkan adanya tiga temuan utama yang menjadi landasan integrasi antara formasi iman dan moderasi beragama dalam konteks Kekristenan. Pertama, dari sisi teologis, ditemukan bahwa inti formasi iman terletak pada kasih Allah . yang mengarahkan kehidupan orang percaya untuk menghargai martabat manusia sebagai imago Dei (Kej. Prinsip ini menjadi dasar bagi pengembangan sikap toleran dan keterbukaan terhadap sesama yang berbeda keyakinan. Kedua, dari sisi pedagogis, penelitian menunjukkan Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 273 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf bahwa proses formasi iman yang mendorong moderasi beragama perlu pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dialogis, dan partisipatif. Pendekatan ini memungkinkan umat Kristen memahami kebenaran Injil secara mendalam sambil belajar hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain. Ketiga, dari sisi praksis gerejawi, hasil penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan komunitas iman. Gereja dipandang sebagai ruang pembentukan karakter Kristiani yang berorientasi pada kasih, perdamaian, dan penghormatan terhadap keberagaman Dengan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi formasi iman dan moderasi beragama dapat membentuk kerangka teologis-pedagogis yang menuntun gereja dan komunitas Kristen untuk menumbuhkan iman yang teguh sekaligus terbuka. Integrasi ini menjadi alternatif model konseptual bagi Kristen kontekstual di era pluralistik. PEMBAHASAN Dimensi Teologis: Formasi Iman sebagai Dasar Moderasi Beragama Dimensi teologis menempatkan iman sebagai pusat kehidupan Kristen yang memancar melalui kasih, keadilan, dan penghargaan terhadap sesama. Penciptaan manusia menurut imago Dei menegaskan bahwa setiap individu memiliki nilai yang sama di hadapan Tuhan (Kej. Oleh karena itu, segala bentuk intoleransi, diskriminasi, dan kekerasan atas nama agama merupakan penyimpangan dari hakikat iman Kristen. Nilai kasih . beragama, karena di dalam kasih Allah terkandung semangat penerimaan dan rekonsiliasi lintas batas (Mat. 22:37Ae P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 10 Secara teologis, moderasi beragama bukan kompromi terhadap iman, tetapi perwujudan kedewasaan spiritual iman yang kuat sekaligus penuh Dalam konteks inilah, formasi iman berfungsi membentuk orientasi batin orang percaya agar mampu menghadirkan kasih Kristus dalam relasi sosial yang beragam. Formasi iman . aith formatio. dalam pendidikan Kristen merupakan proses pembentukan kognitif, afektif, dan psikomotor peserta Estep menegaskan bahwa formasi pengetahuan teologis, tetapi merupakan proses yang mengubah seluruh aspek kehidupan sehingga individu semakin serupa dengan Kristus. 11 Proses ini berlangsung melalui integrasi antara pengalaman rohani yang kontekstual. Perspektif ini sejalan dengan pandangan Tung menyatakan bahwa perspektif Kristen bahwa iman seharusnya menjadi lensa utama dalam memahami dunia, kehidupan, sehingga pendidikan Kristen menempatkan iman sebagai pusat yang mengarahkan seluruh proses belajar. Dengan demikian, pendidikan Kristen bukan hanya menambahkan unsur iman menempatkannya sebagai pusat yang memberi arah bagi seluruh proses Moderasi beragama, di sisi lain, merupakan pendekatan yang menolak ekstremisme dan eksklusivisme atas agama, serta keseimbangan dalam memahami dan Christopher J H Wright. AuThe Mission of God: Unlocking the BibleAos Grand Narrative. Nottingham,Ay Inter Varsity, 2006. James R Estep. Michael Anthony, and Gregg Allison. A Theology for Christian Education (B&H Publishing Group, 2. Khoe Yao Tung. Menuju Sekolah Kristen Impian Masa Kini: Isu-Isu Filsafat. Kurikulum. Strategi Dalam Pelayanan Sekolah Kristen (PBMR ANDI, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 274 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf masyarakat majemuk. 13 Dalam konteks pendidikan Kristen, nilai-nilai moderasi beragama seperti kasih, keadilan, penghargaan terhadap martabat manusia, dan pengakuan akan keberagaman selaras dengan prinsip-prinsip formasi Integrasi keduanya memastikan bahwa peserta didik tidak hanya memahami doktrin, tetapi juga mampu menerapkan kasih dan toleransi dalam Pendekatan menegaskan pentingnya keseimbangan dalam memahami, mengamalkan, dan mengekspresikan iman keagamaan, terutama dalam konteks masyarakat majemuk yang sarat dengan perbedaan identitas dan keyakinan. Konsep moderasi beragama dalam pendidikan bukanlah bentuk kompromi terhadap nilai-nilai kebenaran agama, melainkan bentuk afirmasi terhadap prinsip-prinsip etis universal yang diajarkan oleh agama-agama Kekristenan. Prinsip-prinsip seperti kasih, keadilan, penghargaan terhadap martabat manusia, dan pengakuan atas keberagaman adalah nilai-nilai yang tertanam kuat dalam tradisi iman Kristen. 14 Dalam pendidikan Kristen, nilai-nilai ini telah menjadi bagian integral dari proses formasi iman, khususnya dalam upaya membentuk karakter Kristiani yang mampu hidup berdampingan secara damai dan Namun tantangan serius ketika pendidikan agama direduksi menjadi transmisi dogma semata, tanpa menyertakan pemahaman kontekstual dan refleksi Dalam situasi demikian, agama justru dapat terdistorsi menjadi identitas Azra. AuModerasi Beragama Dalam Konteks Keindonesiaan. Ay Rezeki Putra Gulo. Nelci Mbelanggedo, and Seprianus Padakari. AuMembentuk Identitas Kristen Yang Toleran: Pendidikan Moderasi Beragama Sebagai Pilar Kebhinekaan,Ay Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 8, no. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 eksklusif yang membedakan dan memisahkan, bukan menjadi kekuatan etis yang menyatukan. Oleh karena itu, pendidikan Kristen perlu mereposisi dirinya sebagai ruang pembentukan iman yang juga membangun kesadaran intersubjektif, dialogis, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Hal ini selaras dengan mandat moderasi beragama yang menuntut sikap terbuka, dialogis, dan menghargai perbedaan tanpa kehilangan identitas iman. Dengan demikian, prinsip teologis formasi iman tidak hanya menekankan pengajaran doktrin yang benar, tetapi juga pembentukan hati yang mampu mengasihi sesama, berpikir kritis, dan bersikap toleran dalam konteks global yang plural. Formasi iman dalam pendidikan Kristen adalah proses pembentukan pribadi yang mencakup dimensi kognitif, afektif, dan praksis yang berakar pada iman kepada Kristus. Proses ini tidak hanya mentransfer pengetahuan teologis, tetapi juga mentransformasi kehidupan Kristus. Pazmiyo menegaskan bahwa pendidikan Kristen sejati adalah upaya mengembangkan hubungan pribadi dengan Allah yang terwujud dalam pola pikir, karakter, dan tindakan nyata. Dengan demikian, formasi iman menuntut integrasi antara kebenaran Alkitabiah dan praktik kehidupan seharihari. Prinsip dalam formasi iman adalah integrasi iman dan pembelajaran . aithAelearning integratio. , di mana seluruh bidang ilmu dan pengalaman hidup dipahami melalui lensa iman Kristen. rima scriptur. , namun juga memberi tempat bagi tradisi gereja, akal budi, dan pengalaman sebagai sumber refleksi teologis adalah sifatnya yang holistik dan transformatif, di mana menghasilkan murid yang hidup dalam kebenaran, menjadi agen shalom di Robert W. Pazmino. Fondasi Pendidikan Kristen, ed. Denny Pranolo dan Yanti, cetakan ke (Bandung: Sekolah Tinggi Teologi Bandung dan BPK Gunung Mulia. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 275 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf tengah masyarakat. 16 Formasi iman tidak nilai-nilai moderasi beragama. Moderasi pendidikan Kristen mencakup penerapan prinsip keseimbangan dalam tiga dimensi utama: cara berpikir keagamaan . eligious mindse. , cara menjalankan praktik iman . eligious praxi. , dan cara berinteraksi sosial . elational ethic. Pendidikan Kristen mengintegrasikan ketiga dimensi ini diharapkan tidak hanya membentuk kesadaran kritis, empati sosial, dan kerendahan hati yang berakar pada kasih Injili. 17 Integrasi formasi iman dan moderasi beragama ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus yang menekankan kasih, belas kasih, pengampunan, dan pelayanan kepada sesama . Matius 22:37Ae40. Lukas 10:25Ae. Dalam kerangka ini, iman Kristen menjadi fondasi etis untuk merespons perbedaan secara inklusif dan transformatif. Moderasi beragama juga menjadi respon teologis-pedagogis terhadap tantangan global seperti polarisasi ideologis. Secara beragama dalam pendidikan Kristen harus diarusutamakan dalam desain pengembangan budaya sekolah yang Guru Kristen berperan sebagai fasilitator dialog iman, bukan sekadar pengajar doktrin. 18 Dengan demikian, pendidikan Kristen dapat menjadi ruang Arthur F Holmes. The Idea of a Christian College (Wm. Eerdmans Publishing, 1. Taufik Nugroho et al. AuPendampingan Pengembangan Materi Ajar PAI Moderasi Beragama Di TPA Taman Bocah Permata Hati Sleman,Ay Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat 9, no. : 235Ae46. Parker J. Palmer. The Courage to Teach: Exploring the Inner Landscape of a TeacherAos Life. Anniversar (Jossey-Bass Inc Pub. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 formasi yang mempersiapkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang beriman teguh, terbuka terhadap dialog, dan berkomitmen pada rekonsiliasi Dengan demikian, integrasi formasi iman dan moderasi beragama bukanlah bentuk kompromi teologis atau pelemahan iman, melainkan manifestasi iman yang matang dan relevan berakar pada kasih Kristus dan diwujudkan dalam rekonsiliasi, pembaruan sosial, serta kesaksian Injil di tengah masyarakat plural Dimensi Pedagogis: Pembentukan Sikap Toleran melalui Proses Belajar Iman Formasi iman dalam tradisi Kristen menekankan relasi pribadi dengan Kristus sebagai pusat kehidupan, di pelayanan menjadi kerangka hidup. Pendidikan Kristen yang sehat tidak bersifat indoktrinatif, tetapi partisipatif, reflektif, dan kontekstual. 19 Peran komunitas sangat penting sebagai ruang pertumbuhan iman, baik melalui ibadah, pelayanan, maupun persekutuan yang Disiplin rohani seperti doa, membentuk kepekaan etis dan empati Formasi iman dalam tradisi Kristen merupakan proses pendidikan membentuk pribadi yang hidup seturut ajaran Yesus Kristus. Proses ini melampaui sekadar penyampaian doktrin atau pemahaman dogma, karena menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia akal budi, hati, dan tindakan. Proses formasi iman bersifat holistik, pembentukan karakter, partisipasi dalam kehidupan komunitas, serta tanggung jawab sosial. Salah satu karakteristik esensial dari formasi iman Kristen Thomas H. Groome. Christian Religious Education (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 276 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf adalah penekanan pada relasi pribadi dan eksistensial dengan Kristus sebagai pusat kehidupan. Iman bukan hanya hasil dari proses intelektual, tetapi merupakan respons spiritual yang melibatkan kasih, pengabdian, dan keselamatan Allah di dunia. Dalam Kristen, menginternalisasi nilai-nilai Injil agar menjadi dasar pembentukan karakter Kristiani yang nyata dalam kehidupan. Kasih, keadilan, kerendahan hati, pengampunan, dan pelayanan bukan sekadar materi ajar, tetapi menjadi kerangka hidup. Pendidikan iman yang sehat tidak hanya bersifat indoktrinatif, melainkan partisipatif, reflektif, dan Groome melibatkan peserta didik secara aktif dalam merefleksikan pengalaman hidup mereka dan menghubungkannya dengan pesan Injil, agar iman tidak terlepas dari kenyataan sosial. 20 Dimensi komunitas juga memegang peranan sentral dalam proses formasi iman. Gereja, sebagai tubuh Kristus . Korintus 12:12Ae. , merupakan ruang belajar iman secara kolektif melalui ibadah, persekutuan, pelayanan, dan kesaksian bersama. Pendidikan Kristen yang menekankan pembentukan iman harus menciptakan ruang komunitas yang mendukung pertumbuhan spiritual yang saling Komunitas menjadi tempat di mana iman diuji, dipertajam, dan dimaknai ulang dalam relasi nyata dengan sesama. Disiplin rohani adalah sarana kasih yang mengarahkan manusia kepada transformasi batin dan keintiman Allah. Dalam pendidikan, pembiasaan rohani ini dapat diintegrasikan melalui kegiatan-kegiatan seperti retret, kelompok doa, mentoring Thomas Groome. Sharing Faith: A Comprehensive Approach to Religious Education and Pastoral Ministry: The Way of Shared Praxis (Wipf and Stock Publishers. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 spiritual, dan refleksi pribadi yang membentuk kepekaan spiritual dan etika Aspek sosial dari formasi iman juga sangat penting. Iman Kristen yang otentik selalu melahirkan kepekaan terhadap keadilan, perdamaian, dan Wright menggarisbawahi bahwa spiritualitas Kristen yang sehat tidak hanya bercorak individualistik, tetapi harus berdampak pada kehidupan publik sebagai ekspresi kasih Allah yang menyeluruh. Pendidikan Kristen, oleh karena itu, harus mempersiapkan peserta didik untuk menjadi pelaku perubahan sosial yang didorong oleh motivasi iman yang Formasi iman dalam tradisi Kristen merupakan proses pendidikan membentuk pribadi yang hidup seturut ajaran Yesus Kristus. Proses ini melampaui sekadar penyampaian doktrin atau pemahaman dogma, karena menyentuh seluruh aspek kehidupan manusiaAiakal Tindakan. 22 Dalam pendidikan Kristen, menginternalisasi nilai-nilai Injil agar menjadi dasar pembentukan karakter Kristiani yang nyata dalam kehidupan. Kasih, keadilan, kerendahan hati, pengampunan, dan pelayanan bukan sekadar materi ajar, tetapi menjadi kerangka hidup. Pendidikan iman yang sehat tidak hanya bersifat indoktrinatif, melainkan partisipatif, reflektif, dan 23 Formasi iman menuntut N T Wright. The Last Word: Beyond the Bible Wars to a New Understanding of the Authority of Scripture (HarperCollins, 2. , https://books. id/books?id=8odYQiry4 T0C. David W Johnson. Roger T Johnson, and Karl A Smith. AuCooperative Learning: Improving University Instruction by Basing Practice on Validated Theory,Ay Journal on Excellence in College Teaching 25, no. Jeff Astley. Ordinary Theology: Looking. Listening and Learning in Theology (Routledge, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 277 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf integrasi antara kurikulum, pedagogi, dan kultur sekolah. Sekolah Kristen bukan sekadar tempat untuk belajar teologi, tetapi harus menjadi ekosistem spiritual yang mendukung pertumbuhan holistik peserta didik. Guru Kristen memiliki peran strategis sebagai teladan pembentuk budaya sekolah yang mencerminkan nilai-nilai Injil melalui Di tengah arus sekularisasi dan fragmentasi sosial, formasi iman pendidikan Kristen yang relevan, inklusif, dan berdaya ubah. Secara khusus, formasi iman yang sejati memiliki kontribusi besar dalam membentuk sikap toleran. Ketika iman ditanamkan dalam semangat kasih dan pengakuan akan nilai kemanusiaan universal sebagai bagian dari citra Allah. Astley bahwa pendidikan iman yang mendalam justru menjadi penangkal eksklusivisme dan fanatisme, karena membentuk individu yang kokoh dalam iman tetapi rendah hati dalam relasi sosial. Dengan demikian, formasi iman dalam tradisi Kristen merupakan proses integral yang melibatkan aspek teologis, pedagogis, spiritual, komunal, dan Pendidikan Kristen menempatkan formasi iman sebagai pusat misi pendidikannya akan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya religius secara nominal, tetapi juga memiliki kapasitas moral dan spiritual untuk menjadi agen perdamaian dan transformasi dalam masyarakat Di tengah arus sekularisasi dan fragmentasi sosial, formasi iman pendidikan Kristen yang relevan, inklusif, dan berdaya ubah. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Implementasi Moderasi Beragama dalam Komunitas Iman Toleransi dalam pendidikan Kristen bukan sekadar membiarkan perbedaan, melainkan sikap aktif untuk membangun relasi yang damai dan Hal keterampilan sosial-emosional seperti komunikasi empatik, resolusi konflik, dan kerja sama lintas perbedaan. Strategi project-based learning dan simulasi dialog antariman dapat menjadi sarana efektif untuk menginternalisasikan nilai toleransi. Toleransi dalam konteks pendidikan Kristen merupakan hasil dari proses pedagogis yang transformatif, berkesinambungan, dan berakar pada spiritualitas kasih. Salah satu pilar penting dalam pedagogi keterampilan sosial-emosional yang Peserta didik perlu dilatih untuk mampu berkomunikasi secara empatik, konstruktif, dan membangun kerja sama dengan individu yang berbeda latar Pendidikan Kristen tidak boleh hanya berhenti pada penyampaian doktrin teologis, tetapi harus membekali peserta didik dengan keterampilan membangun jembatan dan menciptakan ruang rekonsiliasi. Metode seperti project-based learning dan simulasi dialog antariman menjadi sarana efektif dalam mewujudkan pembelajaran nilai dalam situasi nyata. Dalam kerangka teologi Kristen, toleransi bukanlah bentuk relativisme moral atau kompromi terhadap iman, melainkan ekspresi kasih . yang batas-batas Kasih Kristus menjadi fondasi spiritual bagi penerimaan yang radikal terhadap sesama, seperti yang diteladankan Yesus kepada perempuan Astley. Gay Geneva. Culturally Responsive Teaching: Theory. Research, and Practice (Multicultural Education Series, ed. James A. Banks, 2nd ed. (London: Teachers College Press. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 278 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Samaria dan Zakheus sang pemungut cukai (Yohanes 4. Lukas 19:1Ae. Oleh karena itu, pedagogi Kristen harus membentuk peserta didik untuk berdiri teguh dalam iman sekaligus menjangkau penghormatan yang tulus. Toleransi tidak bisa diajarkan secara teoritis Oleh karena itu, sekolah Kristen harus menjadi laboratorium kehidupan yang mencerminkan inklusivitas dalam praktik sehari-hari. Budaya sekolah harus menampilkan sikap terbuka dan penghargaan terhadap seluruh peserta didik tanpa diskriminasi. Keteladanan dari guru, kepala sekolah, dan staf pendidikan menjadi kunci dalam nilai-nilai Lickona menegaskan bahwa pendidikan karakter yang efektif selalu menuntut keteladanan yang konsisten dan otentik dari lingkungan sekitar. Pendidikan Kristen pedagogis toleransi tidak hanya akan menghasilkan lulusan yang beriman, tetapi juga berkepribadian matang dan menjadi agen perdamaian dalam Sikap toleran bukan hasil dari indoktrinasi sempit, melainkan buah Dalam terfragmentasi oleh ideologi dan identitas, pendidikan Kristen yang mempraktikkan pedagogi toleran akan menjadi pilar penting bagi pembaruan sosial yang adil dan damai. Dengan pedagogis toleransi dalam pendidikan Kristen bukanlah elemen tambahan, melainkan bagian integral dari formasi iman yang sejati. Pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa memperhatikan dimensi afektif dan moral tidak akan sanggup menjawab tantangan zaman yang menuntut kepekaan, keadilan, dan belarasa. Hanya Thomas Lickona. Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility (Bantam, 1. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 melalui pendekatan pedagogis yang menyeluruh dan kontekstual, pendidikan Kristen pembentukan pribadi yang beriman, inklusif, dan transformatif. Integrasi Prinsip Teologis dan Pedagogis Integrasi formasi iman dan pendekatan pendidikan Kristen yang Prinsip teologis memastikan nilainilai toleransi berakar pada iman yang autentik, sementara prinsip pedagogis menyediakan metode praktis agar nilai tersebut tertanam dalam perilaku peserta Kombinasi keduanya membentuk pribadi yang beriman teguh, berpikiran kritis, memiliki empati sosial, dan mampu menjadi agen rekonsiliasi di tengah masyarakat plural (Matius 5:13Ae Integrasi prinsip teologis dan pendidikan Kristen yang utuh untuk menumbuhkan sikap toleran. Prinsip teologis memastikan bahwa nilai-nilai toleransi berakar pada iman yang autentik, sedangkan prinsip pedagogis menyediakan metode dan strategi praktis agar nilai tersebut tertanam dan terwujud dalam perilaku nyata. Kombinasi keduanya menghasilkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga transformasi karakter. Peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang kokoh dalam iman, tetapi juga mampu hidup berdampingan secara damai dengan pihak yang berbeda keyakinan, sejalan dengan mandat Kristus untuk menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13Ae Relevansi Teologis dalam Pendidikan Kristen Teologi Kristen menyediakan landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis bagi pendidikan iman yang Pemahaman manusia sebagai ciptaan Allah menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 279 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf memandang latar belakang agama atau Prinsip kasih sebagai inti teologi Kristen menjadi pendorong bagi berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan tindakan yang mencerminkan nilainilai Injil. Pendidikan Kristen tidak dapat dilepaskan dari kerangka teologisnya karena teologi menjadi landasan ontologis, epistemologis, dan aksiologis dalam seluruh dimensi pendidikan iman. Teologi Kristen bukan sekadar wacana Allah, merupakan sumber nilai, makna, dan arah bagi praktik pendidikan yang mengupayakan transformasi manusia seutuhnya baik secara spiritual, moral, maupun sosial. 27 Oleh karena itu, relevansi teologis menjadi aspek fundamental dalam membentuk peserta didik yang tidak hanya cakap intelektual, tetapi juga dewasa secara iman, mampu hidup dalam kasih, dan sanggup membangun relasi yang adil dalam Dasar dari relevansi ini terletak pada doktrin tentang manusia sebagai ciptaan Allah menurut gambar dan rupaNya . mago De. ditegaskan dalam Kejadian 1:27. Konsekuensinya, memiliki martabat yang luhur dan nilai yang tak tergantikan, tanpa memandang latar belakang agama, budaya, atau status sosial. Dalam terang teologi penciptaan ini, pendidikan Kristen dituntut untuk mengembangkan sistem menumbuhkan penghormatan terhadap perbedaan, sebagai bentuk praksis dari iman yang hidup. Harro W Van Brummelen. Steppingstones to Curriculum: A Biblical Path (Purposeful Design Publications, 2. Wright. AuThe Mission of God: Unlocking the BibleAos Grand Narrative. Nottingham. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Prinsip kasih sebagai inti dari teologi Kristen, yang dikatakan oleh Yesus sebagai hukum utama (Mat. 22:37Ae. , menjadi pusat gravitasi dalam seluruh aktivitas pendidikan. Pendidikan yang tidak berakar dalam kasih akan mudah terjebak dalam legalisme, eksklusivisme, atau bahkan kontraproduktif terhadap semangat Injil. Oleh karena itu, relevansi teologis dalam pendidikan Kristen menuntut bahwa pembelajaran mengarahkan peserta didik mengaktualisasikan kasih Allah dalam relasi dengan sesama. Dalam Kristus, dinding pemisah di antara bangsabangsa dipersatukan dalam satu tubuh (Ef. 2:14Ae. Relevansi teologi dalam pendidikan Kristen berarti membuka pluralitas dan menempatkan dialog antariman sebagai bagian dari kesaksian gereja terhadap dunia yang majemuk. Dalam hal ini, pendidikan Kristen tidak lagi eksklusif, melainkan menjadi bagian dari misi rekonsiliasi dan pembaruan Relevansi pendidikan Kristen juga menantang dikotomi antara iman dan ilmu. Pendidikan Kristen yang sejati tidak memisahkan antara kehidupan spiritual dengan realitas duniawi, melainkan terang Kristus. Sebagaimana ditegaskan dalam Kolose 3:17, seluruh aspek kehidupan, termasuk belajar dan mengajar, harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus, sebagai bentuk ibadah Dengan pendidikan Kristen dipanggil untuk membentuk peserta didik yang memiliki visi dunia yang berakar dalam iman dan kehidupan sebagai medan pelayanan. David J. Bosch. Transformasi Misi: Pergeseran Paradigma Dalam Teologi Misi (Buku Orbis, 2. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 280 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Pendidikan yang berlandaskan teologi tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif. Iman yang diajarkan dalam ruang kelas harus menjadi dasar bagi kesadaran sosial dan Pendidikan Kristen yang relevan secara teologis akan memampukan peserta didik menjadi pelaku perubahan yang berpihak pada keadilan, pembela martabat manusia, dan agen perdamaian di tengah masyarakat plural (Mat. 5:13Ae Dalam hal ini, pendidikan menjadi media pewartaan Injil melalui tindakan nyata yang membela kehidupan. Dengan pedagogis, pendidikan Kristen mampu menjawab tantangan pluralisme dan membentuk peserta didik yang siap menjadi pelaku perdamaian, pembaru sosial, dan saksi Kristus yang relevan di era global. KESIMPULAN Kajian ini menegaskan bahwa integrasi antara formasi iman dan kebutuhan teologis dan pedagogis yang mendesak bagi Kekristenan di era Secara teologis, iman Kristen dipahami bukan sekadar keyakinan dogmatis, tetapi panggilan untuk mengasihi dan menghargai martabat setiap manusia sebagai imago Dei. Perspektif ini menempatkan kasih . sebagai pusat formasi iman yang menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab sosial dan penghargaan terhadap Secara pedagogis, proses formasi iman perlu dikembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang reflektif, dialogis, dan partisipatif. Pembelajaran iman yang demikian tidak hanya menanamkan doktrin, tetapi juga melatih keterbukaan hati dan kemampuan berdialog dengan yang berbeda. Dalam kerangka ini, moderasi beragama bukan bentuk kompromi terhadap iman, melainkan wujud kedewasaan rohani yang memampukan umat Kristen untuk menghadirkan kasih Kristus dalam P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 konteks sosial yang majemuk. Secara praksis, integrasi teologis-pedagogis ini menuntun gereja dan lembaga Kristen untuk memulihkan fungsi formasi iman sebagai sarana transformasi kehidupan. Gereja dipanggil menjadi komunitas pembelajar yang menumbuhkan iman membangun budaya damai, dan menampilkan kesaksian Injil yang relevan di tengah masyarakat pluralistik. Dengan demikian, formasi iman dan moderasi beragama bukanlah dua gagasan yang terpisah, melainkan dua spiritualitas Kristen yang utuhAiiman yang berakar pada Kristus dan berbuah dalam sikap toleran, inklusif, serta cinta kasih terhadap sesama. DAFTAR PUSTAKA