Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja Available online http://journal. stt-abdiel. id/JA Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas Pengalaman Pendeta Gereja Masehi Injili di Timor-Klasis Kupang Barat Endang Damaris Koli1. Arly E. de Haan2. Alma Lukas3, & Irmayati Ngongo4 DOI: https://doi. org/10. 37368/ja. Program Studi Teologi Agama Kristen Universitas Kristen Artha Wacana endangkoli@gmail. Abstrak Pelayanan pastoral di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berlangsung dalam konteks sosial dan spiritual yang penuh dinamika, yang menuntut pendeta untuk memelihara kehidupan rohani di tengah beban pelayanan yang kompleks. Artikel ini menyelidiki dinamika spiritualitas para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat dalam konteks pelayanan yang kompleks dan menantang. Berdasarkan metode kuantitatif deskriptif dengan dukungan data kualitatif, penelitian ini mengeksplorasi pemahaman, pengalaman, dan nilai-nilai spiritualitas yang menghidupkan para pendeta. Hasilnya menunjukkan bahwa spiritualitas mereka berakar kuat pada relasi personal dengan Allah, namun tetap mengalami tekanan dan kelelahan spiritual akibat beban pelayanan dan struktur gerejawi. Dengan pendekatan teologis Andrew Root, spiritualitas dipahami sebagai partisipasi relasional dalam kehidupan Allah, bukan sekadar performa institusional. Temuan juga menunjukkan bahwa ibadah keluarga dan nilai-nilai seperti kesetiaan, kerendahan hati, dan relasi yang otentik menjadi sumber kekuatan rohani yang signifikan. Artikel ini mengusulkan perlunya reformasi spiritual menyeluruh, pendampingan keluarga, pembaruan budaya jemaat, serta reformasi struktural gereja untuk menopang pelayanan pastoral yang hidup dan berkelanjutan. Kata Kunci: GMIT. Abstract Pastoral ministry in the Evangelical Christian Church in Timor (GMIT) takes place within a social and spiritual context filled with pressure, demanding pastors to sustain their spiritual life amid complex ministerial burdens. This article explores the dynamics of spirituality among pastors of the GMIT in the Kupang Barat Classis, within a complex and demanding pastoral context. Utilizing a descriptive quantitative method supported by limited qualitative data, the study examines the pastors understanding, experience, and lifeAegiving spiritual values. The findings reveal that their spirituality is deeply rooted in a personal relationship with God, yet challenged by spiritual fatigue due to ministerial burdens and ecclesial structures. Through Andrew RootAos theological lens, spirituality is understood as relational participation in the life of God, rather than institutional performance. The study also highlights that family worship and values such as faithfulness, humility, and authentic relationships serve as significant sources of spiritual vitality. The article calls for a holistic approach to spiritual formation, family support, communal renewal, and structural reform within the church to sustain a lifeAegiving pastoral ministry. Keywords: GMIT. How to Cite: Koli. Endang Damaris. Haan. Arly E. Lukas. Alma. , & Ngongo. Irmayati. AuSpiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas Pengalaman Pendeta Gereja Masehi Injili di TimorKlasis Kupang Barat. Ay Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, no. : 109-131. ISSN 2685-1253 (Onlin. ISSN 2579-7565 (Prin. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Pendahuluan Pelayanan pastoral merupakan inti dari kehidupan gereja yang hidup, dan pendeta bukan hanya pemimpin liturgi atau administrator gerejawi, tetapi sosok yang menghadirkan spiritualitas Kristus di tengah jemaat. Dalam konteks itu, spiritualitas pendeta menjadi elemen yang menentukan kualitas pelayananAibaik dalam dimensi relasi dengan Tuhan, interaksi dengan jemaat, maupun refleksi atas panggilan itu sendiri. Namun demikian, tidak sedikit pengalaman di lapangan yang menunjukkan bahwa spiritualitas pendeta sering kali mengalami ketergerusan. Dalam penelitian ini, spiritualitas dipahami sebagai dinamika hidup yang menandai relasi manusia dengan Allah dan sesama, yang diwujudkan dalam kesadaran akan kehadiran Allah di tengah kehidupan dan 2 Spiritualitas tidak terbatas pada praktik ritual, tetapi mencakup cara seseorang menghidupi imannya dalam konteks relasional dan praksis pastoral sehari-hari. Di berbagai wilayah pelayanan, terdapat kasus-kasus pendeta yang mengalami kelelahan spiritual . piritual fatigu. , kebekuan relasi rohani, atau bahkan kehilangan rasa makna dalam panggilan mereka. 4 Penelitian di Kanada dan di Ghana menunjukkan bahwa fenomena kelelahan spiritual tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis pendeta, tetapi juga menyebabkan stigma dan stagnasi dalam kepemimpinan gerejawi dengan konsekuensi turunnya kualitas pelayanan, konflik internal jemaat, dan krisis moral. Studi terhadap pendeta Kanada mengungkapkan hubungan langsung antara tekanan pelayanan, isolasi, dan burnout dengan menurunnya kepuasan pelayanan dan efek negatif pada 5 Sementara studi di Ghana menyoroti bagaimana gaya kepemimpinan serta beban peran tanpa refleksi spiritual memicu krisis konflik dan disengagement jemaat. Kasus-kasus pendeta yang menarik diri dari pelayanan, terlibat dalam relasi yang rusak dengan warga gereja, atau merasa tidak lagi menemukan kekuatan dalam doa dan ibadah Margaret Clarke et al. AuThe Well Ac Being and Resilience of Canadian Christian Clergy,Ay Pastoral Psychology 71, no. : 597Ae613, https://doi. org/10. 1007/s11089-022-01023-1. Howard A Snyder. Liberating the Church: The Ecology of Church and Kingdom. (Downers Grove. IL: IVP. Andrew Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves (Downwers Grove. IL: InterVarsity Press, 2. Vicki Squires Margaret Allison Clarke. Keith D Walker. AuRole-Related Stress and Adversity Impacting Christian Clergy Resilience: A Pan-Canadian Study,Ay Journal of Pastoral Care and Counseling 77, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. 1177/15423050221133033. Amy L Benton and Angela P Girdley. AuClergy and Compassionate Leadership: A Tightrope of Fatigue and Satisfaction During COVID-19,Ay Journal of Psychology and Theology 51, no. https://doi. org/10. 1177/00916471231182735. Hayford Asamoah. AuA Qualitative Study Examining the Styles of Leadership and Clergy Burnout in Pentecostal Churches in GhanaAy (Carolina University, 2. , https://doi. org/10. 13140/RG. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . pribadi menjadi bukti bahwa spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari keberlangsungan pelayanan yang sehat. Dalam konteks di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT). John Campbell Nelson mengingatkan bahwa ketika pendeta menjalani pelayanan demi memenuhi ekspektasi jemaat dan masyarakat, maka identitasnya sebagai hamba Kristus berpotensi bergeser menjadi hamba seribu tuan. 8 Dalam situasi ini, pendeta kehilangan kapasitas untuk menetapkan prioritas spiritual sejati karena terjebak dalam permintaan yang terus menerus dari luar dirinya. Nelson bahkan menggambarkan kondisi ini seperti Aumenunggang kuda liar,Ay yaitu realitas pelayanan yang tak terkendali dan penuh tekanan sosial, di mana pendeta kehilangan ruang untuk kontemplasi dan pemurnian panggilan. 9 Pandangan ini sejalan dengan keprihatinan J. Inabuy yang menyoroti kecenderungan pragmatisme dan hedonisme di kalangan pelayan, yakni dorongan untuk mencari keuntungan dan kesenangan pribadi dalam pelayanan. 10 Keduanya menekankan bahwa spiritualitas yang terdistorsi oleh tuntutan eksternal dan kepentingan diri justru membahayakan keberlangsungan pelayanan dan melemahkan kesaksian gereja. Dari penjelasan di atas, perlu suatu kajian serius untuk memahami bagaimana para pendeta membentuk, menghidupi, dan mengalami spiritualitas mereka dalam konteks pelayanan yang nyata dan kompleks. Penelitian ini menjadi penting untuk menyuarakan pengalaman-pengalaman para pendeta, khususnya mereka yang telah bertahun-tahun melayani, agar suara mereka dapat terdengar secara akademik dan pastoral. Penelitian Robert C. Rogers menunjukkan bahwa kualitas spiritual well-being sangat memengaruhi kemampuan pendeta dalam mengelola stres dan keseimbangan hidup. Meskipun spiritualitas tidak secara langsung meningkatkan kepuasan hidup, ia terbukti berperan penting dalam menjaga keberlanjutan pelayanan di tengah tekanan. 11 Penelitian lain oleh Bickerton et al. menekankan bahwa spiritual resources merupakan prediktor utama dalam mempertahankan semangat pelayanan dan mencegah keinginan untuk mundur dari jabatan Allison K Hamm and David E Eagle. AuClergy Who Leave Congregational Ministry: A Review of the Literature,Ay Journal of Psychology and Theology 49, no. : 291Ae307, https://doi. org/10. 1177/00916471211011597. John Campbell Nelson. AuHamba Seribu Tuan,Ay Sinode GMIT (Kupang, 2. , https://sinodegmit. id/hamba-seribu-tuan-pdt-dr-john-campbell-nelson/. John Campbell Nelson. AuKuda Liar,Ay GMIT (Kupang, 2. , https://sinodegmit. id/kuda-liar-pdt-dr-johncampbell-nelson/. Junus E. Inabuy. AuPresentia Gereja Profetis: Gereja Yang Gelisah,Ay in Hidup Dalam Kebenaran Allah, et al. Yudas D. Hawu Haba (Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2. , 111Ae25. Robert C Rogers. AuExamining the Relationship of Clergy Distress. Spiritual Well-Being. Stress Management and Irritation to Life Satisfaction among Black Pastors in the USA,Ay Journal of Religion and Health 62, no. : 1578Ae96, https://doi. org/10. 1007/s10943-022-01715-1. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Studi ini menegaskan bahwa dimensi spiritual bukan pelengkap, tetapi fondasi dari keberlanjutan pelayanan pendeta. Meski demikian, kebanyakan studi terdahulu berfokus pada pengaruh spiritualitas terhadap variabel psikologis seperti pengelolaan stres atau kepuasan kerja. Berbeda dari itu, penelitian ini justru berangkat dari pengalaman konkret para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat, dengan menelaah bagaimana mereka memahami spiritualitas, apa yang menghidupkan mereka secara rohani, dan bagaimana mereka bertahan di tengah dinamika pelayanan yang menantang. Penelitian ini tidak hanya menggali data statistik, tetapi juga mencoba mengaitkan narasi pengalaman spiritual para pendeta dengan pemikiran teologis Andrew Root, khususnya tentang spiritualitas relasional dalam pelayanan. 13 Pendekatan ini memberikan kedalaman analitis yang berbeda dari studi-studi sebelumnya yang cenderung bersifat kuantitatif-psikometrik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara lebih mendalam bentuk-bentuk spiritualitas yang hidup dalam diri para pendeta, baik dalam dimensi relasi dengan Tuhan maupun dalam respons terhadap dinamika pelayanan. Selain itu, penelitian ini juga berusaha menginterpretasi ulang pengalaman spiritual para pendeta melalui dialog dengan pemikiran teolog Andrew Root, guna menawarkan suatu perspektif pembaruan pelayanan pastoral yang lebih relasional, inkarnasional, dan partisipatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif yang dipadukan dengan data kualitatif terbatas. 14 Tujuannya adalah untuk menggambarkan kecenderungan pemahaman dan pengalaman spiritualitas para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat. Subjek penelitian adalah 25 orang pendeta aktif dengan masa pelayanan lebih dari 10 tahun, yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui instrumen kuesioner yang terdiri dari 13 pernyataan tertutup berbasis skala Likert empat tingkat,15 serta satu pertanyaan terbuka reflektif mengenai bentuk spiritualitas yang paling menghidupkan. Data kuantitatif dianalisis secara statistik deskriptif . rekuensi dan persentas. , sementara data kualitatif dianalisis tematik. Grant R Bickerton et al. AuSpiritual Resources as Antecedents of Clergy Well-Being: The Importance of Occupationally Speci Fi c Variables,Ay Journal of Vocational Behavior 87 . : 123Ae33, https://doi. org/10. 1016/j. Andrew Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves (Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 2. Rakesh Aggarwal and Priya Ranganathan. AuStudy Design: Part 2 Ae Descriptive Studies,Ay Perspectives in Clinical Research 10, no. : 34Ae36, https://doi. org/10. 4103/picr. PICR. Assessment & Research University of Arizona. AuLikert Survey Questions Guidelines for Likert Survey QuestionsAy (Tucson. Arizona, 2. , https://assessmentresearch. edu/sites/default/files/2021-08/Likert Scale Guide_2. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . Hasil penelitian kemudian diperdalam melalui dialog dengan pemikiran Andrew Root tentang spiritualitas pastoral relasional. Pembahasan Bagian ini menyajikan hasil temuan penelitian secara tematik dan dialogis, mengintegrasikan data kuantitatif dari kuesioner dengan refleksi teologis berdasarkan pemikiran para teolog kontemporer seperti Andrew Root. Untuk memperkaya pembacaan, beberapa gagasan pendukung dari Howard Snyder dan John of the Cross turut digunakan secara komparatif, guna menajamkan dimensi relasional dan mistik dari spiritualitas Selain itu, konteks sosialAepelayanan Klasis Kupang Barat sebagai latar utama kehidupan para pendeta turut disoroti, untuk menunjukkan bagaimana spiritualitas dipraktekkan dan diuji dalam realitas pastoral. Kerangka Teoritis: Spiritualitas Pastoral dalam Pandangan Teolog Kontemporer Istilah kelelahan spiritual . piritual fatigu. dalam konteks ini mengacu pada kondisi kehilangan vitalitas rohani yang ditandai oleh menurunnya rasa makna, semangat doa, dan koneksi dengan sumber transendensi. 16 Berbeda dari kelelahan fisik yang disebabkan oleh beban kerja, kelelahan spiritual muncul ketika pelayanan kehilangan dimensi relasional dan reflektifnya terhadap Allah. Karena itu, spiritualitas pastoral tidak hanya bicara tentang performa atau fungsi, tetapi tentang keberadaan relasional pelayanan di hadapan Allah dan umat. Pertama. Andrew Root memahami spiritualitas sebagai relasi di mana kasih dan kehadiran Allah menjadi nyata di tengah kehidupan manusia. Relasi itu menjadi ruang dimana Allah berjumpa dengan manusia melalui kasih yang saling berbagi. 17 Dalam kerangka ini, pelayanan pastoral tidak berpusat pada efektivitas institusional, melainkan pada being with others, kehadiran yang pastisipatif dalam kehidupan orang lain sebagaimana Kristus hadir dalam kehidupan manusia. 18 Bagi Root esensi pelayanan pastoral bukanlah melakukan, tetapi menjadi bersama . eingAewit. , dimana pendeta hadir dalam penderitaan, sukacita, dan pergumulan jemaat sebagai perwujudan kasih Allah yang Ia menulis bahwa pelayanan pastoral bukanlah tentang menjalankan Amy L Benton and Angela P Girdley. AuClergy and Compassionate Leadership: A Tightrope of Fatigue and Satisfaction During COVID-19,Ay Journal of Psychology and Theology 51, no. https://doi. org/10. 1177/00916471231182735. Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Root. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 program atau mengelola orang, melainkan tentang berbagi kemanusiaan orang lain sebagai tempat dimana kehadiran Kristus dinyatakan. 19 Dalam perjumpaan semacam itu, pendeta berpartisipasi dalam kehidupan Allah yang membagikan diri bagi dunia. Lebih lanjut. Root mengatakan bahwa kelelahan spiritual banyak muncul ketika pelayanan kehilangan orientasi relasionalnya dan berubah menjadi performatif, ketika pendeta lebih berfokus pada produktivitas daripada partisipasi. Ia mengingatkan bahwa ketika pelayanan menjadi tentang kesuksesan atau kinerja, kita berhenti berpartisipasi dalam kehidupan Allah dan mulai melakukan tugas kita sendiri. 20 Dengan demikian, pemulihan spiritual bagi pendeta bergantung pada pemulihan relasi yang sejati dengan Allah dan sesama, dimana identitas pelayanan dipahami sebagai Aoberbagi dalam Kristus dengan berbagi diri kita sendiri. Ao21 Dalam kerangka Root, spiritualitas pastoral berarti partisipasi relasional dalam kehidupan Allah, yang diekspresikan melalui kehidupan empatik dan solidaritas dengan Spiritualitas seperti ini bukan hanya sumber ketahanan pastoral, tetapi juga menjadi bentuk resiliensi teologi, suatu daya tahan yang tumbuh dari kesadaran Allah yang hadir dalam kemanusiaan yang rapuh dan saling menopang. Dalam Faith Formation in a Secular Age. Root mengembangkan konsep pelayanan yang setia hadir di tengah krisis modern. Ia melihat banyak pelayan gereja mengalami spiritual fatigue karena hidup dalam ritme waktu produktivitas modern yang terpisah dari ritme kehadiran Allah. 22 Ketika pelayanan diukur dari capaian dan program, bukan dari kedalaman kehadiran, maka spiritualitas menjadi dangkal dan kehilangan daya Karena itu bagi Root, ketahanan spiritual hanya mungkin ketika pendeta belajar untuk tinggal dalam waktu sebagaimana Tuhan tinggal dengan kesabaran, kerentanan dan kehadiran. Root juga berbicara tentang krisis disenchantment, suatu keadaan dimana kehidupan iman kehilangan rasa kudus karena semua hal direduksi menjadi fungsi dan Ia menulis bahwa pelayanan runtuh di bawah beban kinerja ketika yang transenden dikalahkan oleh manajerial. 24 Di sini, kelelahan spiritual bukan sekedar akibat fisik,melainkan gejala dari kehilangan makna ilahi dalam tindakan sehari-hari, maka Root. Root. Root. Andrew Root. Faith Formation in a Secular Age (Washington. DC: Baker Academy, 2. Root. Andrew Root. The Congregation in a Secular Age (Michigan: Baker Academic, 2. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . pemulihan spiritual bagi pendeta bukan sekedar istirahat atau efisiensi, tetapi pemulihan kehadiran ilahi dalam relasi, waktu, dan tindakan pastoral yang sederhana. Dengan demikian, spiritualitas relasional menurut Root membentuk dasar teologi ketahanan pastoral . esiliensi pastora. , dimana pendeta menjadi resilien bukan karena kuat secara psikologis, tetapi karena berpartisipasi dalam kehidupan Allah yang terus menghidupkan, bahkan di tengah kerapuhannya. Root mengatakan resiliensi atau ketahanan tidak datang dari kekuatan batin, tetapi dari keterlibatan dalam kehidupan Allah yang berkelanjutan. Kedua. Howard A. Snyder yang berbicara mengenai spiritualitas dan visi gereja Dalam Liberating Church. Snyder menggarisbawahi pentingnya spiritualitas yang bersumber pada visi gereja sebagai komunitas pelayanan yang membebaskan, bukan hirarkis. 26 Ia menyebutkan bahwa panggilan gereja bukanlah untuk mendominasi dunia, tetapi untuk mewujudkan kerajaan dalam pelayanan. 27 Meskipun ditulis lebih awal, pemikiran Snyder memberi koreksi penting terhadap kecenderungan pelayanan yang transaksional dan birokratis. Dalam konteks penelitian ini, spiritualitas yang menghidupkan pendeta bukan bersumber dari kekuasaan struktural, melainkan dari pembentukan komunitas yang setia dan penuh kasih. Ketiga. John of the Cross seorang mistikus Kristen, ia berbicara tentang spiritualitas dalam keheningan dan pengosongan diri. Sebagai seorang mistikus. John of the Cross berbicara tentang spiritualitas sebagai jalan sunyi untuk bersatu dengan Allah melalui keheningan dan pengosongan diri. Dalam The Ascent of Mount Carmel, ia mengatakan bahwa untuk memiliki segalanya, jangan menginginkan kepemilikan apapun. Untuk mengetahui segalanya, janganlah menginginkan pengetahuan apapun. 28 Pemikiran ini memperkaya dimensi spiritualitas pastoral sebagai bentuk kemiskinan rohani . overty of spiri. yang membebaskan pelayan dari kelekatan pada pengakuan publik atau hasil kerja, dan mengarahkan pada kesatuan dengan Allah yang transenden. Konteks Sosial Pelayanan GMIT-Klasis Kupang Barat Klasis Kupang Barat adalah bagian dari wilayah pelayanan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang mencakup dua kecamatan utama yakni kecamatan Kupang Barat dan Root. Snyder. Liberating the Church: The Ecology of Church and Kingdom. Snyder. John of the Cross. The Ascent of Mount Carmel, ed. Translated by E. Allison Peers. (London: Burns Oates, 1. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Kecamatan Nekamese. Terletak di Kabupaten Kupang, wilayah ini membawahi 45 jemaat mandiri dan 12 mata jemaat yang tersebar di daerah pedesaan, pesisir, dan semi perkotaan, termasuk Pulau Semau. 29 Menurut data dari BPS Kabupaten Kupang, kecamatan Kupang Barat memiliki populasi penduduk sekitar 19. 849 jiwa pada 2024. Ini menandakan komunitas yang relatif kecil namun tersebar luas dan heterogen secara geografis. Wilayah Klasis Kupang Barat dilayani oleh 45 orang pendeta. 31 Menjadi tantangan tersendiri, ketika para pendeta tersebut harus bergumul dengan konteks masyarakat pedesaan dan masyarakat pesisir. 32 Dalam relasi sosialAeekonomi, jemaat Klasis Kupang Barat hidup dalam komunitas yang erat, namun dibebani juga oleh situasi kemiskinan,33 dan stunting. 34 Publikasi statistik daerah Kabupaten Kupang 2023-2024 menyebutkan bahwa persentase rumah tangga miskin dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) masih signifikan. 35 Data PMKS menunjukkan adanya kelompok masyarakat rentan seperti lansia terlantar, anak cacat, dan perempuan sebagai korban kekerasan. Selain itu publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kupang 2023-2024 menyajikan data Susenas mengenai tingkat pendidikan rendah, daya beli terbatas, dan pengangguran yang tinggi, berdampak pada keterbatasan peluang ekonomi untuk masyarakat desa dan pesisir. 37 Belum lagi infrastruktur desa yang terbatas, turut menambah beban mobilisasi dalam pelayanan pastoral. Untuk konteks inilah, pendeta dipanggil untuk ada dalam pelayanan lintas jemaat dengan tuntutan relasi sosial yang intens, serta beban pastoral yang tidak mudah. Wajah Spiritualitas dalam Realitas Pelayanan Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner dengan 14 pertanyaan skala Likert yang dibagikan kepada 25 pendeta GMIT di Klasis Kupang barat yang bersedia menjadi Pdt. yft Hb. AuPentahapan Pembentukan Gmit Klasis Nekamese,Ay GMIT Klasis Kupang Barat, 2025, https://rb. gy/4nka45. BPS kabupaten Kupang. AuKecamatan Kupang Barat Dalam Angka 2024Ay (Kabupaten Kupang, 2. , https://shorturl. fm/HUaPe. GMIT Klasis Kupang Barat. AuData Pendeta Klasis Kupang Barat 2021,Ay 2021, https://shorturl. fm/8inpE. AuProfil Klasis Kupang Barat,Ay GMIT Klasis Kupang Barat, 2025, https://shorturl. fm/tR4TP. Rdt/Ab. AuNTT Jadi Pilot Project Nasional Penurunan Stunting Dan Kemiskinan Ekstrim Di Indonesia,Ay KoranNTT. Com, 2025, https://shorturl. fm/4kccV. Benediktus Sridin Sulu Jahang. AuPemkab Kupang Target Penurunan Stunting Hingga 10 Persen Pada 2024,Ay Antaranews. Com. November 22, 2023, https://shorturl. fm/ZS70d. BPS kabupaten Kupang. AuKecamatan Kupang Barat Dalam Angka 2024. Ay BPS Provinsi NTT. AuJumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) (Jiw. ,Ay BPS Propinsi NTT, 2017, https://shorturl. fm/4AD7s. BPS Kabupaten Kupang. AuIndikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kupang 2024,Ay BPS Kabupaten Kupang, 2024, https://shorturl. fm/keQgn. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . Data yang terkumpul dianalisis dan dikategorikan ke dalam lima tema utama yang mencerminkan dinamika spiritualitas dalam pelayanan pastoral. Kelima tema tersebut disajikan untuk memperlihatkan keragaman dan kedalaman pengalaman spiritual para Nomor pernyataan dalam tabel tetap merujuk pada instrumen asli demi menjaga akurasi pelacakan data. Spiritualitas Sebagai Relasi dengan Tuhan dan Panggilan Sebagian besar pendeta menunjukkan pemahaman yang kuat bahwa spiritualitas mereka bersumber dari relasi personal dengan Allah dan keterpanggilan dalam pelayanan. Tabel berikut menunjukkan tanggapan atas lima pernyataan yang menggambarkan dimensi teologis ini. Tabel 1. Persepsi Pendeta tentang Spiritualitas sebagai Relasi dengan Tuhan Pernyataan Saya memahami spiritualitas kependetaan sebagai kualitas relasi dengan Tuhan Saya menemukan spiritualitas saya menjadi kuat melalui pelayanan saya Saya selalu memiliki waktu khusus dengan Tuhan Pekerjaan saya adalah pemberian Tuhan Dengan bekerja, saya menunjukkan kecintaan kepada Tuhan Kalau saya bukan seorang pendeta, relasi saya dengan Tuhan tidak sedekat ini STS Jumlah *sumber: Koli, dkk . Ket: STS: Sangat Tidak Setuju. TS: Tidak Setuju. S: Setuju. SS: Sangat Setuju Sebanyak 8488% responden menyatakan sangat setuju bahwa pelayanan mereka merupakan ekspresi dari spiritualitas dan relasi dengan Allah. Temuan ini menarik bahwa para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat secara konsisten memahami spiritualitas mereka sebagai relasi personal dengan Allah yang tidak bersifat artifisial atau semata karena jabatan. Hal ini terlihat dari pernyataan nomor 10, di mana mayoritas tidak setuju bahwa relasi Tuhan hanya bergantung pada status Ini memperlihatkan bahwa mereka bertumbuh dari kesadaran eksistensial yang otentik, bukan dari tekanan struktural. Konteks Kupang Barat dengan tantangan kemiskinan, stunting, dan kebutuhan pastoral bagi komunitas rentan justru memperkuat dimensi spiritual yang membumi. Dalam lingkungan seperti ini, spiritualitas tidak bisa bersandar pada simbolisme institusional saja. Para pendeta perlu menghadirkan iman mereka secara konkret dalam kerja keras sehari-hari, di tengah pergumulan jemaat. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Andrew Root melihat pelayanan sejati bukan sebagai pekerjaan profesional, tetapi sebagai partisipasi manusia atau keikutsertaan manusia dalam kehidupan Allah, demi kehidupan dunia . articipating in the life of God for the life of the worl. Dalam konteks ini, spiritualitas pendeta di Kupang Barat adalah bentuk nyata dari partisipasi dalam penderitaan, harapan dan perjuangan umat. Root mengatakan, pelayanan bukanlah sekedar pelaksanaan kewajiban agama, melainkan penghayatan akan keberadaan Allah sendiri, ketika seseorang hidup bersama orang lain dalam penderitaan dan harapan mereka. 38 Hal ini sejalan dengan pandangan Howard Thurman seorang teolog kulit hitam Amerika bahwa agama Yesus menjadikan etika kasih sebagai pusat. Ia menegaskan bahwa orang-orang tertindas bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek persekutuan. 39 Dengan demikian, spiritualitas pendeta di Kupang Barat dapat dibaca sebagai bentuk persekutuan dengan Allah . ivine communio. yang hidup. Spiritualitas itu berakar dalam praksis dan bukan sekadar konsep. Meskipun demikian, ketika mayoritas pendeta menyatakan bahwa relasi mereka dengan Tuhan cukup kuat dan otentik, ada potensi tersembunyi untuk memaknai spiritualitas hanya sebagai respon personal atau pengalaman individual, tanpa secara kritis mengevaluasi bagaimana struktur pelayanan, budaya organisasi gereja, dan kondisi sosial jemaat turut membentuk atau malah mengaburkan relasi tersebut. Bahkan bisa berujung pada spiritualitas yang bersifat pribadi, yang terkesan mendalam secara personal, tetapi minim refleksi terhadap ketidakadilan sosial, relasi kuasa dalam jemaat, atau kebutuhan transformasi kontekstual. Thurman mengingatkan bahwa spiritualitas sejati harus bersifat konkret, kontekstual, dan membebaskan, terutama bagi mereka yang hidup dalam berbagai tantangan yang tidak mudah. 40 Jika para pendeta di Klasis Kupang Barat memahami relasi dengan Tuhan secara mendalam, maka relasi tersebut harus bertumbuh dalam panggilan keberpihakan kepada mereka yang miskin, kecil dan tertindas. Data tabel 1 juga menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap kecenderungan menyamakan relasi dengan Tuhan secara eksklusif dengan fungsi kependetaan. Hal ini nampak pada hasil nomor 10, dimana mayoritas pendeta tidak setuju bahwa relasi mereka dengan Tuhan akan berbeda jika mereka bukan pendeta. Di satu sisi ini positif, namun di sisi lain, ada bahaya tersembunyi jika relasi dengan Tuhan tetap dianggap utuh hanya karena status kependetaan melekat. Menurut Root, jabatan pastoral dapat menjadi topeng Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Howard Thurman. Jesus and the Disinherited (Boston: Beacon Press, 1. Thurman. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . yang menyembunyikan kerapuhan spiritual pribadi, jika pelayanan dijalankan sebagai peran sosial belaka. Ia mengatakan bahwa ketika pelayanan menjadi sebuah pertunjukan atau peran dari pada berbagi secara pribadi, maka individu tersebut perlahan-lahan 41 Nouwen juga pernah berkata bahwa alih-alih menjadi seorang tokoh yang nyata, pelayan bisa menjadi pemeran dalam drama birokrasi. 42 Root juga mengingatkan bahwa pelayanan harus berakar dalam partisipasi otentik pada kehidupan Kristus, bukan dalam ekspektasi institusional. Realitas Kelelahan dan Jenuh dalam Pelayanan Meskipun pemahaman teologis tentang panggilan kuat, data menunjukkan bahwa banyak pendeta mengalami kejenuhan dan tekanan spiritual. Hal ini tampak dari dua pernyataan berikut: Tabel 2. Realitas Kelelahan dan Rasa Jenuh dalam Pelayanan Pernyataan Kadang saya merasa jenuh dengan kehidupan spiritual saya Dinamika pelayanan di jemaat bisa melemahkan spiritualitas saya Spiritualitas saya ditentukan oleh penerimaan STS Jumlah *sumber: Koli, dkk . Data menunjukkan bahwa 76% responden . awaban S SS) mengalami kejenuhan spiritual, dan 56% mengakui bahwa dinamika pelayanan di jemaat bisa melemahkan spiritualitas mereka. Kondisi ini bukanlah hal yang aneh dalam kehidupan pastoral. Hal ini mengindikasikan adanya jurang antara keyakinan teologis dan realitas emosional. Hal ini berpotensi munculnya kelelahan rohani . piritual exhaustio. yang berlangsung secara diam-diam. Berpotensi juga menimbulkan pelayanan yang mekanis, kehilangan vitalitas rohani, dan akhirnya berdampak pada relasi pendeta dengan jemaat maupun dengan Tuhan. Root menegaskan bahwa ketika pelayanan dipisahkan dari kehidupan relasional yang otentik dan berubah menjadi rutinitas institusional, maka sang pelayan perlahan bisa kehilangan dirinya secara perlahan. Dengan kata lain, kelelahan bukan sekedar soal pekerjaan yang berat, tetapi juga tanda krisis identitas dan spiritualitas yang mengalami John of the Cross yang berbicara mengenai the dark night of the soul sebagai fase penting dalam perjalanan rohani dimana seseorang merasa kehilangan rasa kehadiran Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Henri J. Nouwen. The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society (New York: Image Books . division of Doubleda. , 1. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Allah, menurutnya orang tersebut sedang diproses menuju kedewasaan iman. 43 Situasi ini dapat menjadi refleksi bagi para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat bahwa kelelahan tidak selalu berarti kemunduran spiritual, tetapi sebaliknya menjadi pintu masuk ke dalam relasi yang lebih mendalam dengan Allah. Hal ini sangat relevan dalam konteks pelayanan di daerah dengan tantangan sosial dan emosional yang tinggi. Di sisi lain. Snyder mengingatkan bahwa gereja harus menjadi komunitas yang mendukung, bukan membebani pelayannya. Ia menulis bahwa kekuatan spiritual harus ditumbuhkan dalam komunitas, bukan dikuras olehnya. 44 Ketika gereja gagal menjadi ruang pembinaan spiritual, pelayanan menjadi beban yang menumpuk. Mother Teresa dalam surat-surat pribadinya pun mengakui pergumulan batin dan kekosongan spiritual dalam pelayanannya kepada kaum miskin, namun ia menulis bahwa dalam kegelapannya, ia melihat cahaya Tuhan lebih jelas (Auin my darkness. I see His light more clearlyA. Pada pernyataan nomor 9, walaupun mayoritas pendeta menolak bahwa spiritualitas mereka ditentukan oleh penerimaan orang lain, sikap ini perlu dicermati agar tidak berkembang menjadi isolasi rohani atau ketahanan semu yang mengabaikan kebutuhan akan komunitas. Root mengingatkan bahwa pelayanan pastoral bukan soal menjaga performa atau citra diri, melainkan partisipasi dalam relasi yang otentik dan saling Oleh karena itu, spiritualitas yang sehat perlu terus dibina dalam kejujuran relasional, bukan hanya keteguhan pribadi. Komitmen pada Panggilan di Tengah Kelelahan Menariknya, meskipun banyak pendeta merasa jenuh, sebagian besar tetap menyatakan komitmen tinggi terhadap panggilan mereka. Tiga pernyataan berikut mengungkapkan sikap terhadap kemungkinan mundur dari kependetaan. John of the Cross. Dark Night of the Soul, ed. Allison Peers (Translato. Reprint Ed (Image Books . riginally published by Burns. Oates & Washbourn. , 1. Howard A. Snyder. The Radical Wesley and Patterns for Church Renewal (Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 1. Brian Kolodiejchuk. Come Be My Light: The Private Writings of the Saint of Calcutta, ed. Brian Kolodiejchuk (New York: Doubleday, 2. Antonio Ariza-montes and Antonio L Leal-Roder. AuSafeguarding Health at the Workplace: A Study of Work Engagement. Authenticity and Subjective Wellbeing among Religious Workers,Ay International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) 16, no. : 3016, https://doi. org/10. 3390/ijerph16163016. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . Tabel 3. Persepsi Pendeta tentang Kemungkinan Mundur dan Penyesalan atas Panggilan Pernyataan Wajar jika saya pernah menyesali pilihan hidup sebagai pendeta Saya bisa mengundurkan diri kapan pun sebagai karyawan GMIT jika hidup tidak Saya bisa mengundurkan diri kapan pun sebagai pendeta jika tidak menguntungkan STS Jumlah *sumber: Koli, dkk . Data dalam tabel 3 menunjukkan bahwa mayoritas pendeta di Klasis Kupang Barat tetap menunjukkan komitmen tinggi terhadap panggilan mereka, meskipun menghadapi kelelahan dan tekanan pelayanan. Sebagian besar menolak kemungkinan mundur dari kependetaan atau menyatakan menyesal atas pilihan hidup tersebut. Temuan ini mengindikasikan adanya spiritualitas ketekunan yang kuat, yaitu keberanian untuk tetap berada dalam panggilan meskipun menghadapi situasi yang sulit dan melelahkan. Selaras dengan pernyataan Root, bahwa inti pelayanan pastoral adalah untuk turut merasakan penderitaan orang lain, sebagaimana Kristus turut merasakan penderitaan kita. 47 Dengan demikian pelayanan bukanlah soal efisiensi atau keberhasilan, tetapi partisipasi dalam pergumulan jemaat secara rasional dan teologis. Namun demikian, komitmen tinggi ini perlu dibaca secara kritis. Bisa saja keteguhan yang nampak dalam data disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti tekanan institusional, ekspektasi sosial, atau keterbatasan alternatif kehidupan. Root sendiri mengingatkan bahwa jabatan pastoral bisa menjadi topeng yang menyembunyikan kelelahan dan kerentanan, jika tidak dihidupi dalam relasi otentik dengan Allah dan Oleh karena itu, spiritualitas kesetiaan harus dibedakan dari ketekunan semu yaitu bertahan karena keterpaksaan, rasa bersalah, atau tekanan struktural. Dua responden yang menyatakan sikap berbeda yakni pernah menyesali atau membuka kemungkinan mundur, menjadi pengingat bahwa di balik angka mayoritas terdapat pengalaman personal yang mungkin sarat dengan kekecewaan atau kehilangan Meski minoritas, tapi suara mereka penting dibaca sebagai sinyal bahwa tidak semua pendeta mampu bertahan secara utuh. Gereja perlu peka, bukan hanya pada angka Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Joey J. Fung HsiuAcChi Lee. AuA Cross-Lagged Longitudinal Model of the Relationships Between SelfCompassion. Spiritual Well-Being, and Burnout Among Taiwanese Clergy,Ay Journal of Psychology and Theology 53, no. : 3Ae18, https://doi. org/10. 1177/00916471241300156. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 loyalitas, tetapi juga pada pergumulan konkret para pendeta yang memerlukan perhatian, pendampingan dan tindak lanjut yang nyata. Spiritualitas dalam Kehidupan Keluarga Salah satu dimensi yang seringkali terabaikan dalam pembahasan tentang spiritualitas kependetaan adalah peran ibadah keluarga sebagai sumber dukungan rohani yang stabil dan berkelanjutan. Dalam penelitian ini, pendeta diminta merespon pernyataan tentang bagaimana praktik ibadah rutin di keluarga mendukung kehidupan spiritual Tabel 4. Persepsi Pendeta tentang Peran Ibadah Keluarga dalam Spiritualitas Pernyataan Ibadah rutin dalam keluarga mendukung kehidupan spiritual saya STS Jumlah *sumber: Koli, dkk . Data menunjukkan bahwa 91% pendeta sangat setuju, dan 9 % setuju bahwa ibadah keluarga berperan penting dalam menunjang kehidupan spiritual mereka. Ini adalah temuan yang sangat kuat dan konsisten, yang memperlihatkan bahwa dimensi spiritual dalam lingkup keluarga atau rumah tangga menjadi fondasi yang kuat bagi pelayanan. Namun demikian, dua dari 25 orang pendeta tidak memberikan jawaban terhadap pernyataan ini. Ketidakhadiran tanggapan bisa diinterpretasikan sebagai bentuk ambiguitas, kemungkinan tidak terlibat dalam praktik ibadah keluarga, atau bahkan adanya jarak antara kehidupan spiritual personal dan kehidupan domestik pendeta. Hal ini membuka pemikiran bahwa tidak semua pendeta memiliki pengalaman ibadah keluarga yang relevan dalam kehidupan mereka. Bisa saja dipengaruhi oleh kesibukan, struktur keluarga, atau bahkan problematika spiritual yang belum tersentuh. Dalam kerangka pemikiran Root, temuan ini memperkuat gagasannya bahwa pelayanan pastoral yang sejati tidak bisa dilepaskan dari relasi-relasi manusiawi yang Termasuk di dalamnya keluarga inti. Bagi Root, pengalaman akan kehadiran Kristus justru terjadi dalam keseharian yang biasa dan dalam ikatan relasional yang otentik dan terbuka. Hal ini dikuatkan dalam penelitian Erwin Sasmito dan Gilda Dans Lopez yang menemukan bahwa kasih relasional dan pengalaman spiritual harian memiliki pengaruh signifikan terhadap afeksi para imam Katolik di Indonesia terhadap pelayanan pastoral Chan. Kara K. Chen. AuExperience of Stress and Burnout among Pastors in China,Ay Journal of Pastoral Care & Counseling 73, no. : 232Ae37, https://doi. org/10. 1177/1542305019886533. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . 50 Studi ini menunjukkan bahwa kualitas kehidupan spiritual dan ketahanan pelayanan para pendeta berkaitan erat dengan konteks relasi yang mendukung, khususnya dalam keluarga yang menjadi ruang pertama bagi pendeta untuk mengalami kasih, penerimaan dan pemulihan. Hal ini mendukung gagasan spiritualitas relasional Root, bahwa pengalaman relasi yang otentik merupakan tempat di mana kehadiran Allah menjadi nyata dan menghidupkan pelayanan. Dengan demikian, penelitian ini menantang gereja untuk memberi perhatian serius pada pendampingan keluarga sebagai bagian integral dari formasi dan ketahanan spiritual para pendeta. Meskipun temuan ini sangat positif, perlu juga diberikan catatan kritis. Tidak semua pendeta memiliki kondisi keluarga yang suportif secara spiritual, dan tidak semua pasangan pendeta terlibat aktif dalam pelayanan. 51 Oleh karena itu, gereja perlu berhatihati agar tidak menjadikan keluarga rohani sebagai standar tunggal kesalehan pastoral. Gereja perlu memfasilitasi pembinaan spiritual yang mencakup juga dinamika keluarga, bukan hanya individu pendeta. Keluarga memang bisa menjadi tempat pembentukan spiritual, namun jika tidak didukung secara holistik, keluarga juga bisa menjadi sumber tekanan atau bahkan trauma yang tersembunyi dalam pelayanan. Dalam dinamika tersebut, muncul sejumlah nilai spiritual yang berperan penting antara lain kesetiaan, kerendahan hati, pengampunan dan ketulusan dalam relasi. Nilainilai ini mencerminkan spiritualitas relasional yang menempatkan kasih dan kehadiran Allah sebagai pusat kehidupan bersama. Kesetiaan tampak dalam komitmen pendeta dan keluarga untuk saling menopang di tengah tekanan pelayanan. Kerendahan hati terlihat dalam kesediaan untuk belajar dan saling menerima kelemahan. Sedangkan pengampunan dan ketulusan menjadi jalan pemulihan dari luka-luka ralsional yang tak terhindarkan dalam kehidupan pelayanan. Nilai-nilai inilah yang memperlihatkan bahwa formasi spiritual tidak hanya berlangsung dalam ruang ibadah, namun juga di tengah kehidupan keluarga yang terus berproses dalam kasih Allah. Erwin Sasmito and Gilda Dans Lopez. AuCompassionate Love among Catholic Priests: Its Antecedents and Its Influence on Affect toward Pastoral Ministry in Indonesia,Ay Journal of Religion and Health 59, no. : 47Ae67. Ching-ying Lin and Kenneth T Wang. AuClergy Wives and Well-Being: The Impact of Perceived Congregational Perfectionism and Protective Factors,Ay Religions (MDPI) 15, no. : 965, https://doi. org/10. 3390/rel15080965 MDPI 3. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Nilai-Nilai Spiritualitas yang Menghidupkan Pertanyaan terbuka tentang spiritualitas yang paling menghidupkan menghasilkan jawaban yang sangat beragam, namun dapat dikategorikan ke dalam sejumlah nilai utama Diagram 1. Nilai-nilai Spiritualitas yang Paling Menghidupkan Pendeta *Sumber: Koli, dkk . Data dalam chart ini menunjukkan bahwa para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat memaknai spiritualitas yang menghidupkan sebagai nilai-nilai relasional seperti relasi dengan Tuhan dan sesama . , kesetiaan . , dan kerendahan hati . Menarik bahwa nilai-nilai ini lebih banyak diangkat dibanding praktik-praktik ritual seperti doa atau puasa. Ini mengindikasikan bahwa spiritualitas mereka tidak bersifat seremonial, melainkan bersumber dari pengalaman konkret yang mempertemukan mereka dengan Allah dan sesama. Rendahnya frekuensi respon terhadap aspek ritual bisa diartikan bahwa dalam realitas pelayanan mereka yang padat, kualitas relasi menjadi lebih signifikan. Akan tetapi, temuan ini juga menimbulkan pertanyaan apakah praktik ritual memang diabaikan ataukah sudah dianggap sebagai dasar sehingga tidak perlu disinggung secara eksplisit. Dalam lensa pemikiran Root, temuan ini sejalan dengan pemahamannya bahwa pelayanan pastoral bukan tentang keahlian fungsional, tetapi tentang pribadi pendeta itu sendiri sebagai tempat terjadinya pelayanan . he person of the pastor as the location of Artinya, spiritualitas pendeta yang bersumber dari nilai relasional dan etis adalah bentuk paling otentik dari partisipasi dalam kehidupan Kristus. 52 Nilai-nilai seperti kerendahan hati, kesetiaan, dan relasi dengan sesama menunjukkan pelayanan sebagai Root. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . partisipasi dalam kasih Allah dalam relasi nyata. 53 Dalam kacamata John of the Cross, nilai seperti penyerahan diri, kerendahan hati dan ketulusan sebagai buah dari proses spiritual yang dalam, di mana jiwa belajar untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah. Dia mengatakan, penyerahan diri total kepada kehendak Allah merupakan inti dari 54 Dengan demikian nilai-nilai dalam tabel tersebut tidak hanya bersifat etis, tetapi mencerminkan dinamika kenosis yang membuka jalan bagi kesatuan dengan Kristus. Dalam perspektif teologi kenotik, penyerahan diri total kepada kehendak Allah merupakan proses pengosongan diri . yang menuntun seseorang pada kesatuan dengan Kristus. 55 Nilai-nilai seperti kesetiaan, kerendahan hati, pengampunan, dan kasih bukan hanya tuntutan etis, tetapi ekspresi konkret dari spiritualitas yang berpartisipasi dalam pola hidup Kristus yang rela mengosongkan diri demi kasih kepada Allah dan sesama . Filipi 2:5-. Dengan demikian, spiritualitas relasional menemukan bentuk terdalamnya dalam kenosis, ketika relasi dengan sesama menjadi sarana perjumpaan Allah yang hadir dalam kelemahlembutan dan pengorbanan. Meskipun temuan ini memperlihatkan nilai-nilai spiritual yang kuat, perlu dicermati bahwa sebagian besar bersifat personal dan etis, tanpa banyak menyinggung aspek struktural atau sosial dari pelayanan. Jika spiritualitas dipahami sebagai kualitas moral individu, ada resiko bahwa dimensi profetik dan transformatif dari pelayanan pastoral menjadi terpinggirkan. Gereja perlu mendorong agar nilai-nilai ini tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif dalam membangun komunitas yang adil, empatik dan saling membantu. Refleksi Teologis dan Implikasi Pastoral Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa spiritualitas para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat bertumbuh dalam dinamika relasi yang kompleks antara panggilan yang luhur dan kenyataan pelayanan yang penuh pergumulan. Meskipun menghadapi tantangan geografis, tekanan administratif, dan beban psikospiritual, para pendeta tetap menunjukkan spiritualitas yang hidup, bersumber dari relasi personal dengan Allah dan dimanifestasikan dalam kesetiaan, kerendahan hati, serta relasi empatik dengan jemaat. Steven J. Sandage Elizabeth G. Ruffing. Dottie Oleson. James Tomlinson. Seong Hyun Park. AuHumility and Relational Spirituality as Predictors of WellAcBeing among Christian Seminary Students,Ay Journal of Psychology and Theology 49, no. : 419Ae35, https://doi. org/10. 1177/0091647121988968. Cross. The Ascent of Mount Carmel. John of the Cross. The Ascent of Mount Carmel, ed. Translated by E. Allison Peers. (London: Burns Oates, 1. Ch. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Secara teologis, pengalaman ini dapat dipahami dalam kerangka pemikiran Root yang menekankan bahwa esensi pelayanan pastoral tidak terletak pada pencapaian institusional, melainkan pada kedekatan eksistensial antara pendeta dan umat, sebagai wujud partisipasi dalam kehidupan Allah. Dalam perspektif Root, pendeta diutus bukan sekedar untuk memimpin atau mengatur, melainkan untuk menjadi perpanjangan kehadiran Allah dalam relasi, terutama dalam penderitaan, keletihan dan pergumulan jemaat. Spiritualitas para pendeta GMIT tidak hanya dibaca dalam kerangka relasional Root, tapi juga perlu dipahami dalam perspektif gereja sebagai keluarga Allah (Familia De. yang menjadi bagian pokok eklesiologi GMIT. Digambarkan dalam pokok-pokok Eklesiologi GMIT bahwa gereja adalah persekutuan yang hidup dari dan untuk kasih, bukan sekedar organisasi. 56 Gereja adalah komunitas iman yang saling menopang, membangun dan menerima dalam terang karya keselamatan Allah. Metafora ini memberi pemahaman bahwa pendeta bukan hanya seorang pemimpin atau pengajar saja, tetapi anggota yang hidup dalam persekutuan. Pendeta ada bersama seluruh umat belajar menghidupi kasih, mengakui keterbatasan, dan bertumbuh dalam iman. Dalam pemahaman ini, pendeta pun berhak mengalami kelelahan, bahkan krisis, tanpa kehilangan identitasnya sebagai bagian dari keluarga Allah. Pendeta tidak dipanggil untuk menjadi penopang utama secara mutlak, tetapi berjalan bersama, berbagi beban, dan menghidupi spiritualitas yang tulus dan saling percaya. Dalam teks 2 Korintus 4: 7-12. Paulus menggambarkan pelayanan sebagai sesuatu yang dijalani dalam kerapuhan manusiawi, seperti bejana tanah liat yang mudah retak. Namun justru dalam kelemahan itu kuasa Allah bekerja. 58 Spiritualitas para pendeta dalam penghayatan ini, bukanlah kemampuan untuk selalu kuat, tetapi kesetiaan yang dijalani dalam kerapuhan dan kesediaan untuk dibentuk oleh Allah. Pengalaman para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat memperlihatkan bahwa kekuatan spiritual mereka berakar pada relasi personal dengan Allah dan diwujudkan dalam relasi yang otentik dengan jemaat dan keluarga. Dalam kerangka pemikiran Andrew Root, spiritualitas semacam ini dapat dipahami sebagai partisipasi dalam kehidupan Allah yang hadir melalui relasi manusiawi. Bagi Root, pelayanan pastoral adalah tentang menghadirkan kasih Allah melalui kebersamaan dengan sesama. Spiritualitas para pendeta Sinode GMIT. Pokok - Pokok Eklesiologi GMIT, 2015. Innocentina-marie Obi et al. AuServant Leadership Stimulates Spiritual Well-Being Through Team Trust in a Female Religious Context,Ay Frontiers in Psychology 12, no. September . : 630978, https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Eric Mclaughlin. AuStrength in Weakness: A Mystery of Hope,Ay Christian Journal and Global Health 11, 1 . , https://doi. org/10. 15566/cjgh. Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . GMIT menunjukkan bentuk konkret dari teologi ini, di mana kehadiran, kesetiaan, dan empati menjadi sarana inkarnasional bagi kehadiran Allah di tengah jemaat yang mereka Namun data juhga menunjukkan kelelahan spiritual dan tekanan sturktural yang membatasi ruang relasi ini, sehingga partisipasi dalam kehidupan Allah sering terdistorsi oleh tuntutan administratif dan ekspektasi sosial. Dalam konteks ini, gagasan Howard Snyder memberi kedalaman tambahan. Syder mengatakan bahwa gereja yang hidup adalah komunitas pelayanan yang membebaskan, bukan struktur hirarkis yang menindas. Dari perspektif ini, ketahanan spiritual para pendeta tidak dapat dipisahkan dari kualitas eklesiologi GMIT itu sendiri. Spiritualitas relasional akan terus rapuh apabila gereja tidak menata ulang budaya organisasinya agar mendukung relasi yang saling menghidupkan. Dukungan komunitas, keadilan struktural, dan budaya kasih dalam jemaat menjadi bagian integral dari pembinaan spiritualitas Lebih dalam lagi, pengalaman kelelahan dan penyerahan diri para pendeta menemukan maknanya dalam teologi kenotik John of the Cross. Ia menegaskan bahwa kesatuan dengan Allah hanya mungkin melalui proses pengosongan diri . dan penyerahan total kepada kehendak Allah. Dari sini, kesetiaan, kerendahan hati, dan pengampunan yang muncul dari data penelitian bukan hanya nilai etis, tetapi ekspresi dari spiritualitas kenosis yang meneladani Kristus, yang mengosongkan diri demi kasih. tengah tekanan pelayanan dan keterbatasan struktural, para pendeta menunjukkan bentuk nyata dari partisipasi dalam kasih Allah yang rela menderita bagi dunia. Karena itu, spiritualitas pastoral di GMIT dapat dibaca sebagai spiritualitas relasional (Roo. , komunal (Snyde. , dan kenotik (John of the Cros. yang resilien, membebaskan dan memulihkan. Terlepas dari itu, ada hal yang perlu juga dicermati dari pendekatan Andrew Root. Melalui pemikiran Richard Osmer, kita juga diingatkan bahwa fokus yang terlalu sempit pada relasi personal akan beresiko mengabaikan dimensi struktural pelayanan. Osmer mengatakan bahwa struktur gerejawi, sistem kelembagaan, dan budaya organisasi juga dapat mempengaruhi spiritualitas pelayanan, dan tidak dapat diabaikan dalam refleksi teologis yang utuh. 59 Dalam konteks GMIT, seorang pendeta tidak bisa lepas dari tanggung jawab dalam jabatan pelayanan dan jabatan organisatoris. 60 Dalam jabatan organisatoris, beban administratif, ekspektasi jemaat, dan struktur birokrasi yang penuh dengan Richard R. Osmer. Practical Theology: An Introduction (Grand Rapids. MI: Wm. Eerdmans Publishing Co, 2. 27 - 33 Sinode GMIT. Tata Dasar GMIT, 2015. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 dinamikanya turut membentuk dan membatasi spiritualitas seorang pendeta. Oleh karena itu, refleksi teologis atas spiritualitas pendeta meliputi dimensi personal, relasional dan struktural sekaligus. Spiritualitas yang menghidupkan akhirnya bukan hanya tentang kehadiran yang otentik, tetapi juga menuntut pembenahan sistemik, agar pendeta benarbenar dapat mewujudkan semangat sebagai rekan sekerja Allah dalam persekutuan. Ada beberapa implikasi pastoral yang relevan pada penelitian ini, antara lain . Perlu adanya pembinaan spiritualitas sebagai formasi kehidupan. Spiritualitas pendeta perlu dikembangkan bukan sekedar melalui program pelatihan formal, tetapi melalui proses formasi hidup yang menyeluruh, yang mendorong keterbukaan, kejujuran spiritual, dan pertumbuhan di tengah tantangan nyata pelayanan. Perlunya pendampingan keluarga sebagai basis ketahanan spiritualitas-pastoral. GMIT perlu menyadari bahwa ketahanan spiritual pendeta tidak bisa dilepaskan dari keharmonisan, doa bersama, dan relasi yang sehat dalam keluarga mereka. Perlunya penguatan budaya jemaat sebagai komunitas kasih. Gereja sebagai Familia Dei perlu membangun budaya saling peduli, saling menguatkan, dan berbagi tanggung jawab pelayanan. Pendeta bukan satu-satunya motor penggerak gereja, melainkan bagian dari tubuh Kristus yang saling menopang. Perlu adanya evaluasi dan reformasi struktural dalam gereja. Kelelahan spiritual yang disebabkan oleh tekanan birokratis atau tumpukan beban administrasi menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang berjalan. Gereja perlu membuka jalan bagi perubahan struktural yang memungkinkan pelayanan yang lebih berfokus pada relasi, pemulihan, dan spiritualitas yang mendalam. Kesimpulan Spiritualitas para pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat menunjukkan kekuatan yang bersumber dari relasi personal dengan Allah, namun juga berhadapan dengan tantangan berupa kelelahan, tekanan struktural, dan ekspektasi sosial. Spiritualitas yang menghidupkan mereka tidak hanya lahir dari praktik ritual, melainkan dari nilai Ae nilai relasional seperti kesetiaan, kerendahan hati, dan kehadiran otentik dalam pelayanan. Dalam teologi Andrew Root, spiritualitas ini dapat dipahami sebagai partisipasi dalam kehidupan Allah yang hadir melalui relasi manusiawi. Sementara gagasan Howard Snyder menyatakan perlunya gereja yang membebaskan dan mendukung relasi kasih itu dalam struktur dan budaya jemaat. Di sisi lain, pengalaman kerapuhan dan kesetiaan para pendeta Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . mencerminkan dinamika kenosis, sebagaimana dijelaskan oleh John of the Cross, dimana pengosongan diri menjadi jalan menuju kesatuan dengan Kristus. Dengan membaca pengalaman ini secara integratif, spiritualitas pendeta GMIT di Klasis Kupang Barat dapat dipahami sebagai spiritualitas relasional, komunal dan kenotik. Ini sebuah bentuk spiritualitas yang tumbuh dari relasi kasih dengan Allah, berakar dalam komunitas gereja, dan dimurnikan melalui kesediaan untuk melayani dalam kelemahan. Karena itu dibutuhkan pembinaan spiritual menyeluruh, pendampingan pastoral keluarga pendeta, penguatan budaya kasih dalam jemaat, serta reformasi struktural yang memungkinkan pelayanan pastoral tetap hidup, otentik, serta berdampak bagi jemaat dan Kepustakaan Aggarwal. Rakesh, and Priya Ranganathan. AuStudy Design: Part 2 Ae Descriptive Studies. Ay Perspectives in Clinical Research 10, no. : 34Ae36. https://doi. org/10. 4103/picr. PICR. Ariza-montes. Antonio, and Antonio L Leal-Roder. AuSafeguarding Health at the Workplace: A Study of Work Engagement. Authenticity and Subjective Wellbeing among Religious Workers. Ay International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) 16, no. : 3016. https://doi. org/10. 3390/ijerph16163016. Asamoah. Hayford. AuA Qualitative Study Examining the Styles of Leadership and Clergy Burnout in Pentecostal Churches in Ghana. Ay Carolina University, 2023. https://doi. org/10. 13140/RG. Benton. Amy L, and Angela P Girdley. AuClergy and Compassionate Leadership: A Tightrope of Fatigue and Satisfaction During COVID-19. Ay Journal of Psychology and Theology 51, no. https://doi. org/10. 1177/00916471231182735. Bickerton. Grant R. Maureen H Miner. Martin Dowson, and Barbara Grif. AuSpiritual Resources as Antecedents of Clergy Well-Being : The Importance of Occupationally Speci Fi c Variables. Ay Journal of Vocational Behavior 87 . : 123Ae33. https://doi. org/10. 1016/j. BPS kabupaten Kupang. AuKecamatan Kupang Barat Dalam Angka 2024. Ay Kabupaten Kupang, 2024. https://shorturl. fm/HUaPe. BPS Kabupaten Kupang. AuIndikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Kupang 2024. Ay BPS Kabupaten Kupang, 2024. https://shorturl. fm/keQgn. BPS Provinsi NTT. AuJumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) (Jiw. Ay BPS Provinsi NTT, 2017. https://shorturl. fm/4AD7s. Chan. Kara K. Chen. AuExperience of Stress and Burnout among Pastors in China. Ay Journal of Pastoral Care & Counseling 73, no. : 232Ae37. https://doi. org/10. 1177/1542305019886533. Jurnal Abdiel: Khazanah Pemikiran Teologi. Pendidikan Agama Kristen dan Musik Gereja 9, 2 . : 109-131 Clarke. Margaret. Shelley Spurr. Keith Walker, and Margaret Clarke. AuThe Well Ac Being and Resilience of Canadian Christian Clergy. Ay Pastoral Psychology 71, no. 597Ae613. https://doi. org/10. 1007/s11089-022-01023-1. Cross. John of the. The Ascent of Mount Carmel. Edited by Translated by E. Allison Peers. London: Burns Oates, 1953. Cross. John of the. Dark Night of the Soul. Edited by E. Allison Peers (Translato. Reprint Ed. Image Books . riginally published by Burns. Oates & Washbourn. , 1959. Elizabeth G. Ruffing. Dottie Oleson. James Tomlinson. Seong Hyun Park. Steven J. Sandage. AuHumility and Relational Spirituality as Predictors of WellAcBeing among Christian Seminary Students. Ay Journal of Psychology and Theology 49, no. 419Ae35. https://doi. org/10. 1177/0091647121988968. GMIT Klasis Kupang Barat. AuData Pendeta Klasis Kupang Barat 2021,Ay 2021. https://shorturl. fm/8inpE. GMIT. Sinode. Pokok - Pokok Eklesiologi GMIT, 2015. Hamm. Allison K, and David E Eagle. AuClergy Who Leave Congregational Ministry: A Review of the Literature. Ay Journal of Psychology and Theology 49, no. 291Ae307. https://doi. org/10. 1177/00916471211011597. Hb. Pdt. AuPentahapan Pembentukan Gmit Klasis Nekamese. Ay GMIT Klasis Kupang Barat, 2025. https://rb. gy/4nka45. HsiuAcChi Lee. Joey J. Fung. AuA Cross-Lagged Longitudinal Model of the Relationships Between Self-Compassion. Spiritual Well-Being, and Burnout Among Taiwanese Clergy. Ay Journal of Psychology and Theology 53, no. : 3Ae18. https://doi. org/10. 1177/00916471241300156. Inabuy. Junus E. AuPresensia Gereja Profetis: Gereja Yang Gelisah. Ay In Hidup Dalam Kebenaran Allah, edited by et al. Yudas D. Hawu Haba, 111Ae25. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2023. Jahang. Benediktus Saridin Sulu. AuPemkab Kupang Target Penurunan Stunting Hingga 10 Persen Pada 2024. Ay Antaranews. Com. November 22, 2023. https://shorturl. fm/ZS70d. Kolodiejchuk. Brian. Come Be My Light: The Private Writings of the Saint of Calcutta. Edited by Brian Kolodiejchuk. New York: Doubleday, 2007. Lin. Ching-ying, and Kenneth T Wang. AuClergy Wives and Well-Being: The Impact of Perceived Congregational Perfectionism and Protective Factors. Ay Religions (MDPI) 15, no. : 965. https://doi. org/10. 3390/rel15080965 MDPI 3. Margaret Allison Clarke. Keith D Walker. Vicki Squires. AuRole-Related Stress and Adversity Impacting Christian Clergy Resilience: A Pan-Canadian Study. Ay Journal of Pastoral Care and Counseling 77, no. https://doi. org/https://doi. org/10. 1177/15423050221133033. Mclaughlin. Eric. AuStrength in Weakness: A Mystery of Hope. Ay Christian Journal and Global Health 11, no. https://doi. org/10. 15566/cjgh. Nelson. John Campbell. AuHamba Seribu Tuan. Ay Sinode GMIT. Kupang, 2017. https://sinodegmit. id/hamba-seribu-tuan-pdt-dr-john-campbell-nelson/. AiAiAi. AuKuda Liar. Ay GMIT. Kupang, 2017. https://sinodegmit. id/kuda-liar-pdt-dr-john130 Endang Damaris Koli, dkk: Spiritualitas Relasional dan Ketahanan Pastoral: Studi Empiris atas . campbell-nelson/. Nouwen. Henri J. The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society. New York: Image Books . division of Doubleda. , 1972. Obi. Innocentia-marie. Hillie Aaldering. Katalien Bollen, and Martin Claes Euwema. AuServant Leadership Stimulates Spiritual Well-Being Through Team Trust in a Female Religious Context. Ay Frontiers in Psychology 12, no. September . https://doi. org/10. 3389/fpsyg. Osmer. Richard R. Practical Theology: An Introduction. Grand Rapids. MI: Wm. Eerdmans Publishing Co, 2008. GMIT Klasis Kupang Barat. AuProfil Klasis Kupang Barat,Ay 2025. https://shorturl. fm/tR4TP. Rdt/Ab. AuNTT Jadi Pilot Project Nasional Penurunan Stunting Dan Kemiskinan Ekstrim Di Indonesia. Ay Koran NTT. Com. https://shorturl. fm/4kccV. Rogers. Robert C. AuExamining the Relationship of Clergy Distress . Spiritual Well Ac Being . Stress Management and Irritation to Life Satisfaction among Black Pastors in the USA. Ay Journal of Religion and Health 62, no. : 1578Ae96. https://doi. org/10. 1007/s10943-022-01715-1. Root. Andrew. The Relational Pastor. Sharing in Christ by Sharing Ourselves. Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 2012. ___________. Faith Formation in a Secular Age. Washington. DC: Baker Academy, 2017. ___________. The Congregation in a Secular Age. Michigan: Baker Academic, 2021. Sasmito. Erwin, and Gilda Dans Lopez. AuCompassionate Love among Catholic Priests : Its Antecedents and Its Influence on Affect toward Pastoral Ministry in Indonesia. Ay Journal of Religion and Health 59, no. : 47Ae67. Sinode GMIT. Tata Dasar GMIT, 2015. Snyder. Howard A. The Radical Wesley and Patterns for Church Renewal. Downers Grove. IL: InterVarsity Press, 1980. Snyder. Howard A. Liberating the Church: The Ecology of Church and Kingdom. Downers Grove. IL: IVP, 1983. Thurman. Howard. Jesus and the Disinherited. Boston: Beacon Press, 1996. University of Arizona. Assessment & Research. AuLikert Survey Questions Guidelines for Likert Survey Questions. Ay Tucson. Arizona, 2021. https://assessmentresearch. edu/sites/default/files/2021-08/Likert Scale Guide_2.