Excellent Midwifery Journal Volume 7 No. Oktober 2024 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 PENGARUH EDUKASI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU IBU DALAM PENCEGAHAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SENTOSA BARU MEDAN Sri Rolastri Saragih1,*. Harsudianto Silaen2,* Program Studi Sarjana Ilmu Keperawatan. Universitas Murni Teguh Medan Email: saragihrolas6@gmail. antosilaen4@gmail. ABSTRACT Background: Several types of complaints are felt by children with diarrhea, one of which is when defecation is more frequent and the stool is more watery than usual or a state of abnormal stool excretion, this is characterized by an increase in volume, wateriness, and frequency of bowel movements > 3 times a day and can be seen in toddlers if the frequency of urinating is more than 4 times a day with or without mucus and blood, it can be called diarrhea. Purpose: To determine the frequency distribution of mothers' knowledge at the Sentosa Baru Health Center in Medan Method: The type of design used in this research is quantitative, with the research design using the Quasi Experimental method with a one group pre-test and post test approach. In this design, there is also no comparison group . Results: The results of this study indicate that there is an influence of maternal behavior in preventing diarrhea in toddlers. The pre-test and post-test that have been carried out by the Wilcoxon signed test give significant results where the effect of health education on diarrhea prevention in the working area of the Sentosa Baru Medan Health Center is indicated by the value p=0. 005 is smaller than . Conclusion: There is an influence before and after health education on maternal behavior. Keywords: Toddler. Knowledge. Attitudes dan Mother's Behavior LATAR BELAKANG Menurut data badan kesehatan dunia atau World Health Organization . penyakit diare setiap tahunnya ada sekitar 1. 7 miliar dengan angka kematian 760. 000 anak di bawah 5 tahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia di bawah 3 tahun rata-rata mengalami 3 episode diare per tahun. Kemenkes RI . menyatakan bahwa pada tahun 2020 angka penderita diare 277 . ada semua kelompok umu. sedangkan angka kesakitan diare pada kelompok balita mencapai 1. Cakupan pelayanan penderita diare pada semua umur sebesar 44,4% dan pada balita sebesar 28,9% dari sasaran yang ditetapkan dan penderita diare pada balita di Sumatera Utara sebanyak 24,4 % (Dinkes Provsu, 2. Berdasarkan survey pendahuluan di Puskesmas Sentosa Baru sebanyak 44 balita yang menderita diare. Beberapa jenis keluhan yang dirasakan oleh anak yang diare, salah satunya di saat buang air besar lebih sering dan feses lebih encer dari biasanya atau keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal, hal ini ditandai dengan adanya peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi buang air besar >3 kali sehari dan dapat dilihat pada balita jika frekuensi BAK lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah, maka dapat disebut dengan diare (Rahmaniu dkk. , 2. Diare sangat berbahaya dan dapat menyerang semua kelompok usia terutama pada balita, kebanyakan kejadian kematian pada balita akibat diare disebabkan karena kekurangan cairan atau dehidrasi, juga disebabkan karena kurangnya kesadaran dari ibu menjaga sanitasi serta personal hygiene balita (Rianti dkk. Diare disebabkan oleh faktor pengetahuan ibu yang dapat mempengaruhi sikap ibu dalam penanganan pertama diare pada balita (Sawitri, 2. Diare yang tidak ditangani dengan cepat akan berakibat langsung pada gangguan keseimbangan cairan, dan elektrolit. Unsur makanan seperti sorbitol, fruktosa, magnesium yang sukar diserap bersifat aktif di usus halus sehingga dapat menarik cairan ke lumen usus, diikuti dengan masuknya natrium dalam kadar normal, hal inilah yang akhirnya menimbulkan diare (Purnamiasih & Putriyanti, 2. Menurut Haslin. et al . , faktor yang kurangnya pemeliharaan kesehatan anak, kebersihan memberi makan, makanan yang kurang bersih, kurangnya pengetahuan ibu dan penerapan hidup sehat. Penerapan pengetahuan ibu berkaitan dengan kejadian dan pencegahan diare serta mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan pada bayi. Diare dapat menyebar dan menginfeksi anak melalui empat faktor, yaitu food . , feces . , air . , dan hand . Sama halnya dalam Rianti dkk. , penyebab utama diare pada balita yaitu kurangnya kesadaran dan pengetahuan ibu menjaga sanitasi serta personal hygiene balita. Diare menyebabkan morbiditas . ngka kesakita. dan mortalitas . ngka kematia. pada usia di bawah 5 tahun (Istiqomah, 2. Diare dapat menyebabkan dehidrasi berat bahkan menyebabkan kematian jika tidak diobati dengan segera. Diare yang tidak segera ditangani akan menyebabkan tinja balita semakin lama berubah warna menjadi kehijauan disertai darah. Anus dan daerah sekitar menjadi lecet akibat dari asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare (Haslin dkk. Diare juga dapat memicu terjadinya komplikasi ketika balita mengalami dehidrasi maka akan terjadi asidosis metabolik yang berupa malnutrisi dan gangguan sirkulasi darah yang dapat berupa hipovolemia (Yayuk, 2. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang singkat jika tidak segera mendapat penanganan yang tepat (Sawitri. Salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi angka kejadian dan kematian akibat diare yaitu program tatalaksana penderita diare di tatanan rumah tangga dengan lima langkah yaitu rehidrasi, pengobatan dengan zink, pemberian ASI dan makanan tambahan, antibiotik selektif dan (Kemenkes RI, 2. Penanganan awal untuk mencegah mempercepat proses penyembuhan dengan memberikan rehidrasi oral berupa cairan elektrolit . arutan gula dan gara. atau pemberian oralit (Indawati, 2. Pemerintah juga menciptakan program untuk bayi sakit yaitu Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu dengan pemberian pendidikan kesehatan (Kemenkes RI, 2. Keberhasilan dalam pencegahan ke dalam kondisi yang lebih berat karena diare pada anak tidak lepas dari pengetahuan ibu tentang pengenalan tandatanda dehidrasi akibat diare serta penanganan awal yang dilakukan di rumah. Ibu yang memiliki pengetahuan tentang diare dapat melakukan penanganan diare pada anak daripada ibu yang tidak memiliki pengetahuan tentang diare (Oktiawati & Julianti, 2. METODE PENELITIAN Jenis rancangan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat Kuantitatif, dengan desain penelitian menggunakan metode Quasi Eksperimen dengan pendekatan one group pretest and post test. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita di wilayah Kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan, sebanyak 44 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Non probability sampling yaitu Total Sampling atau sampel jenuh dimana mengambil semua populasi sebagai sampel karena populasi 44 orang. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer dari kuesioner yang diperoleh langsung dari jawaban responden sebelum dan setelah pemberian edukasi kesehatan. Data sekunder dari Puskesmas Sentosa Baru. Analisa bivariat dilakukan dengan melakukan uji normalitas data untuk melihat apakah data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Shapiro Wilk karena jumlah responden <50 jika data berdistribusi normal maka uji statistic yang digunakan adalah uji parametric yaitu uji parametrik yaitu uji T test. Jika data tidak berdistribusi normal maka uji statistik yang dipakai adalah non parametrik yaitu Uji Wilcoxson. HASIL Karakteristik Responden Berdasarkan tabel di atas sebelum diberikan edukasi kesehatan, tingkat perilaku responden dalam kategori baik . 1%), cukup . 8%), dan kurang . 1%) dan setelah diberi edukasi (Post-tes. yang berperilaku baik . 4%), cukup . 5%), dan kurang . Selanjutnya, data deskriptif perilaku responden sebelum dan sesudah diberikan edukasi sebagai berikut : Tabel 3. Data Deskriptif Perilaku Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Edukasi (Pretest-Posttes. Std. MeanA Standar Deskriptif Error Deviation Mean Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Karakteristik Umur 22-31 tahun 32-40 tahun Total Pendidikan Terakhir SMP SMA/SMK D3,S1,S2 . Total Pekerjaan Ibu rumah tangga Wiraswasta 3 PNS Total Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas kelompok umur responden 32-40 tahun . %) dan kelompok umur 22-31 tahun . %). Berdasarkan pendidikan, mayoritas berpendidikan SD . %) dan berpendidikan SMP . %) dan responden SMA/SMK . %) dan responden Sarjana (D3,S1,S. %). Berdasarkan pekerjaan, mayoritas pekerjaan Ibu Rumah Tangga . %) dan wiraswasta . %) dan pegawai Negeri Sipil / PNS . %). Analisis Univariat Perilaku Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Edukasi Tabel 2. Distribusi Perilaku Responden Sebelum dan Sesudah Diberikan Edukasi Pretest Posttest Perilaku Ibu (%) (%) Baik Cukup Kurang Total Perilaku (Pretes. 57,27A11,687 1,762 Perilaku (Posttes. 76,14A15,091 2,275 Tabel 3. memperlihatkan bahwa secara deskriptif nilai rata-rata . perilaku responden sebelum diberikan edukasi . yaitu 57,27, simpangan baku . tandar deviatio. yaitu 11,687, standar error mean yaitu 1,762. Selanjutnya, secara deskriptif nilai rata-rata . perilaku responden setelah diberikan edukasi . yaitu 76,14, simpangan baku . tandar deviatio. yaitu 15,091, dan standard error mean yaitu 2,275. Analisis Bivariat Pengujian keabsahan hipotesis dilakukan dengan melihat perbedaan skor pretest dengan Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan uji Wilcoxon. Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Perilaku Responden Sebelum dan Setelah Diberikan Edukasi Test Statisticsa Sesudah Ae Sebelum -5,174b Asymp. Sig. 0,000 Wilcoxon Signed Ranks Test Based on negative ranks Berdasarkan hasil uji Wilcoxon dengan membandingkan skor pretest dan posttest, diperoleh p-value 0,000 <0,05 dan nilai Z yaitu -5,174. Data tersebut disimpulkan bahwa terdapat perbedaan skor perilaku ibu sebelum dan sesudah diberikan edukasi terhadap perilaku ibu dalam pencegahan diare pada PEMBAHASAN Karakteristik Responden Usia Dari hasil penelitian diperoleh Perilaku ibu yang responden berjumlah 44 orang dengan variasi usia dari 22 tahun sampai 40 Tahun. Usia merupakan satu faktor yang memengaruhi individu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Semakin cukup usia tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Usia juga mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan yang diperoleh semakin baik (Mubarak dkk. , 2. Dari segi kepercayaan masyarakat, seseorang yang lebih dewasa maka akan memiliki banyak pengalaman sehingga memiliki pengetahuan yang luas (Yunita, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan yang menyatakan bahwa semakin matang usia seseorang, maka semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang dia dapatkan (Rosalia, 2. pendidikan seseorang semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya semakin rendah pendidikan maka akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Mubarak dkk. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang Widyastuti . mendapatkan hasil bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku pencegahan diare pada anak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengetahuan ibu yang kurang mempunyai risiko yang tinggi untuk terjadinya diare dibandingkan dengan ibu yang mempunyai pengetahuan baik seperti cara pencegahan diare pada anak, ibu dengan pengetahuan baik akan segera cepat tanggap dalam hal pertolongan pertama pada anak yang menderita diare akan tetapi untuk ibu yang berpengetahuan kurang akan sulit pula menangani anak yang menderita diare. Jadi, pengetahuan saja masih belum cukup untuk merubah perilaku seorang ibu karena perubahan perilaku merupakan proses yang kompleks dan memerlukan waktu yang Oleh karena itu, dengan memberikan informasi dan edukasi mengenai diare kepada ibu dapat membantu pengetahuan ibu dalam tindakan dan perilaku pencegahan diare pada anak. Pendidikan Menurut karakteristik pendidikan terakhir responden mayoritas adalah SD . %). Pendidikan transformasi sikap dan perilaku individu atau sekumpulan kelompok sebagai upaya untuk mendewasakan individu melalui suatu proses pengajaran dan pelatihan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk memengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat untuk melakukan suatu perilaku yang diharapkan melalui pelaku pendidikan (Saptari & Sudiarti, 2. Tingkat pendidikan SMA cenderung mampu menerima dan memahami informasi yang masuk lebih bagus, lebih mampu dibandingkan dengan tingkat pendidikan di bawahnya (Wilson dkk. , 2. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa semakin tinggi tingkat Pekerjaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 44 responden, dapat diketahui bahwa rata-rata pekerjaan responden sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) . %). Pekerjaan merupakan aktifitas yang dilakukan seseorang untuk Lingkungan pekerjaan membuat seseorang memperoleh pengalaman dan pengetahuan dari berbagai Lingkungan pekerjaan dapat dijadikan pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak langsung sebab status pekerjaan akan berpengaruh pada pengetahuan ibu dalam merawat bayinya (Ahmad, 2. dapat dijadikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya dehidrasi baik ringan, sedang, maupun berat. Jika terjadi dehidrasi dan tidak segera ditangani maka akan menyebabkan Hasil penelitian didukung oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Nugraha . bahwa ada hubungan yang signifikan antara perilaku ibu dalam pencegahan diare dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Kalikajar I Kabupaten Wonosobo, yang hasilnya terdapat ada hubungan yang signifikan antara perilaku ibu dalam pencegahan diare dengan kejadian diare pada balita di Puskesmas Kalikajar I Kabupaten Wonosobo. Perilaku. Sikap dan Tindakan Ibu Sebelum dan Sesudah diberikan Edukasi Kesehatan Perilaku ibu sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi kesehatan perilaku ibu dalam pencegahan diare memiliki pengetahuan Kurang . ,1%). Cukup . ,8%). Baik . ,1%). Perilaku merupakan seperangkat perbuatan atau tindakan seseorang dalam respon terhadap sesuatu dan kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini (Adventus, 2. Diare dapat menyebar dan menginfeksi anak melalui empat faktor, yaitu food . , feces . , fly . , dan finger . Oleh karena itu, untuk mencegah penyakit ini tidak menyebar dan menular, cara yang paling praktis adalah memutuskan rantai penularan tersebut. Faktor kebersihan menjadi faktor yang penting untuk menghindari anak dari penyakit diare. Perilaku pencegahan diare merupakan tindakan yang dilakukan oleh ibu untuk mencegah terjadinya diare pada anak. Perilaku ibu yang positif dalam pencegahan diare ditandai dengan menyediakan air minum yang bersih, menjaga kebersihan perorangan, membiasakan mencuci tangan sebelum makan, buang air besar pada tempatnya, menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai, memberantas lalat dan menjaga kebersihan lingkungan (Hidayat. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah diberikan edukasi kesehatan perilaku ibu dalam pencegahan diare memiliki pengetahuan Kurang . ,2%). Cukup . ,5%). Baik . ,4%). Maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan perilaku ibu dengan pencegahan diare pada anak, karena perilaku negatif dapat menjadi penyebab terjadinya diare. Faktor lainnya adalah tingkat pengetahuan yang kurang, diare membutuhkan penanganan yang cepat agar tidak terjadi dehidrasi. Pengetahuan mengenai pencegahan dan penanganan diare sangat penting untuk diketahui oleh ibu yang Pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi kesehatan pengetahuan ibu dalam pencegahan diare memiliki pengetahuan Kurang . ,1%). Cukup . ,8%). Baik . ,1%). Notoatmodjo . menjelaskan bahwa pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Banyaknya ibu yang memiliki pengetahuan kurang, disebabkan oleh banyak faktor salah satunya adalah tingkat pendidikan dari ibu itu Semakin tinggi Pendidikan formal yang ditempuh maka semakin baik pula Ibu yang berpendidikan tinggi mempunyai akses informasi yang lebih luas dibandingkan ibu yang berpendidikan lebih rendah. Selain itu, ibu yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah menyerap informasi kesehatan. atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan ibu tentang diare sangat penting dalam pencegahan diare pada anak. Pengetahuan mempengaruhi sikap ibu dalam mengambil keputusan yang cepat dan tepat untuk meminimalisir risiko atau hal-hal yang menyebabkan diare (Arindari & Yulianto. Beberapa mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu diantaranya yaitu usia dan pendidikan ibu (Yayuk, 2. Ibu dengan pengetahuan yang baik akan cenderung mampu untuk memberikan penatalaksanaan yang tepat (Sawitri, 2. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa sesudah diberikan edukasi kesehatan perilaku ibu dalam pencegahan diare memiliki pengetahuan Kurang . ,2%). Cukup . ,5%). Baik . ,4%). diperoleh hasil bahwa penyampaian edukasi atau pendidikan kesehatan menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab memberikan pengaruh yang baik dalam menyampaikan informasi kepada orang tua. Hasil penelitian ini menunjukkan bukti bahwa setelah diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan diare, perilaku ibu balita peningkatan karena edukasi kesehatan yang diberikan akan memberikan efek terhadap perubahan . ibu terhadap pencegahan Ibu akan memiliki perilaku yang lebih baik jika diberikan pendidikan kesehatan melalui ceramah atau tanya jawab atau melakukan penyuluhan, maupun lewat kegiatan posyandu. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan hal itu terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu Pengetahuan dan tindakan orang tua merupakan faktor yang mempengaruhi kejadian diare, dikarenakan perilaku orang tua dalam menjaga kebersihan dan pengolahan dan penyimpanan makanan yang higienis (Dharma. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap pencegahan diare pada anak, semakin baik peran orang tua semakin jarang anak terkena diare, sedangkan semakin kurang peran orang tua maka semakin sering anak terkena diare (Arifah, 2. Sikap ibu sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan Menurut Notoatmodjo . sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan . enang- tidak senang, setujutidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainy. Dalam menentukan sikap yang utuh, pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting. Pendidikan kesehatan perawatan anak diare merupakan salah satu sumber informasi untuk responden sehingga mengetahui tentang penyakit diare . enyebab, bahaya, pencegahan, perawatan selama di rumah sakit, dan lain-lai. Pengetahuan ini akan membuat ibu berfikir dan berupaya agar anaknya cepat sembuh dan terhindar dari diare lagi dengan melakukan perawatan dan upaya-upaya pencegahan sesuai KESIMPULAN Karakteristik umur responden dan pendidikan responden yaitu terhadap umur 22-40 tahun dan rata-rata berpendidikan SD. Pengetahuan responden rendah sebelum mendapatkan edukasi kesehatan tentang pencegahan diare di wilaya kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan. Pengetahuan responden baik, setelah diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan diare di wilaya kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan. Terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan diare di wilaya kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan. Pengaruh Edukasi Kesehatan Terhadap Perilaku Ibu dalam Pencegahan Diare pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Sentosa Baru Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perilaku ibu dalam pencegahan diare pre test dan post test yang telah dilakukan uji Wilcoxon signed test memberikan hasil yang bermakna dimana pengaruh edukasi kesehatan terhadap perilaku ibu dalam pencegahan diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan yang ditunjukkan dengan nilai p=0,00 lebih kecil nilai dari . Hal ini menunjukkan ada perbedaan nyata antara sebelum dan sesudah pemberian edukasi kesehatan terhadap perilaku ibu dalam pencegahan diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sentosa Baru Medan. Penelitian ini Hidayat. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1 (Cetakan . Jakarta: Salemba Medika. Indawati. Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Penyakit Diare Pada Balita Di Rt 02/08 Kelurahan Kalibaru Kecamatan Medan Satria Bekasi Tahun Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi Nusantara. Jakarta. Istiqomah. Tingkat Pengetahuan Ibu Terhadap Penyakit Diare Pada Balita di Puskesmas Gunungsari . Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Mataram. Mataram. Diambil https://repository. id/158/ Kemenkes RI. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Mubarak. Indrawati. , & Susanto. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar (Cetakan . Jakarta: Salemba Medika. Notoatmodjo. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan (Cetakan . Jakarta: Rineka Cipta. Nugraha. Hubungan Perilaku Ibu Dalam Pencegahan Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Puskesmas Kalikajar I Kabupaten Wonosobo. Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah. Yogyakarta. Oktiawati. , & Julianti. Konsep dan Aplikasi Keperawatan Anak (Cetakan Jakarta: Trans Info Media (TIM). Purnamiasih. , & Putriyanti. Tinjauan Literatur: Pengaruh Pemberian Madu untuk Anak Diare. Jurnal Kesehatan, 11. , 141Ae147. https://doi. org/10. 46815/jk. Rahmaniu. Dangnga. , & Madjid. Hubungan Pengetahuan Ibu Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Lapaddekota Parepare. Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan, 5. , 217Ae224. https://doi. org/10. 31850/makes. Rianti. Apriliawati. , & Sulaiman. Pengaruh Edukasi menggunakan Leaflet. Audiovisual Terhadap Pengetahuan. Sikap Perilaku Orangtua Dalam Pencegahan Diare di Puskesmas Jaya Tangerang. Journal of SARAN Peneliti Diharapkan dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan media lainnya seperti Video, booklet, dan lainlain untuk meningkatkan pengetahuan tentang diare dan pencegahannya. Puskesmas Diharapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi, dan menjadi bahan penanganan masalah pencegahan diare bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kota Medan dan meningkatkan peran tenaga kesehatan untuk lebih baik dalam memberikan informasi. DAFTAR PUSTAKA