Jurnal Bina Akuntansi Volume 12. Number 2, 2025 pp. ISSN: 2338-1132 E-ISSN : 2656-9515 Open Access: https://jurnal. id/JBA PENGARUH DIGITALISASI DAN CSR TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN GCG SEBAGAI VARIABEL MODERASI Ivan Leonardo1*. Fitrini Mansur2. Riski Hernando3 ivanjambi03@gmail. Universitas Jambi. Indonesia fitrinimansur@unja. Universitas Jambi. Indonesia riskihernando@unja. Universitas Jambi. Indonesia INFO ARTIKEL Riwayat Artikel: Pengajuan : 26/04/2025 Revisi : 28/04/2025 Penerimaan : 30/04/2025 Kata Kunci: Digitalisasi. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Tata Kelola Perusahaan. Nilai Perusahaan ABSTRAK Penelitian ini mengkaji pengaruh pengungkapan digitalisasi dan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai perusahaan, serta peran Good Corporate Governance (GCG) sebagai variabel moderasi pada perusahaan teknologi yang terdaftar di BEI periode 2021-2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data dari laporan tahunan dan keberlanjutan 20 perusahaan, dipilih melalui purposive sampling. Analisis dilakukan menggunakan PLS-SEM dengan SmartPLS 4. Hasilnya, pengungkapan digitalisasi dan GCG berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sementara CSR tidak berpengaruh. GCG juga tidak berperan sebagai moderator dalam hubungan tersebut. Penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan memberikan kontribusi baru terkait pengungkapan digitalisasi yang masih jarang dieksplorasi. Keywords: Digitalization. Corporate Social Responsibility. Good Corporate Governance. Firm Value ABSTRACT This study examines the influence of digitalization disclosure and Corporate Social Responsibility (CSR) on firm value, as well as the role of Good Corporate Governance (GCG) as a moderating variable in technology companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2021-2023 period. A quantitative approach was employed using data from the annual and sustainability reports of 20 companies DOI: selected through purposive sampling. Data analysis was conducted using PLS-SEM 52859/jba. with SmartPLS 4. The results show that digitalization disclosure and GCG have a significant effect on firm value, while CSR does not. Additionally. GCG does not moderate the relationship between these variables and firm value. This study fills a gap in the literature by contributing new insights into the relatively unexplored area of digitalization disclosure. Pendahuluan Perkembangan teknologi mendorong perusahaan untuk menghadapi tantangan digitalisasi dengan terus berinovasi pada produk dan layanan yang ditawarkan. Selain itu, perusahaan dituntut untuk meningkatkan kinerja keuangan guna menghasilkan nilai perusahaan yang baik. Nilai perusahaan yang positif menjadi faktor penting bagi pihak eksternal, seperti investor dan kreditor, dalam mengambil keputusan ekonomi (Zulkifli et al. , 2. Dalam perspektif teori sinyal, perusahaan perlu menyampaikan informasi yang kredibel kepada investor melalui laporan keuangan dan informasi lainnya. Penyampaian sinyal yang kuat dari manajemen kepada investor menunjukkan kualitas perusahaan, baik dalam prospek maupun kinerjanya (Rima, 2. Nilai perusahaan yang tinggi menjadi indikator penting dalam mendapatkan kepercayaan investor dan kreditor, serta menjadi tujuan utama perusahaan dalam rangka memaksimalkan laba dan kemakmuran pemegang saham (Sembiring, 2. Kondisi pasar modal Indonesia, khususnya melalui pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), menunjukkan pemulihan sesuai Covid-19. Meski sempat turun drastis pada awal tahun 2020. IHSG berhasil pulih secara bertahap hingga mencapai angka 7. 207,94 pada paruh pertama tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwasanya investor kembali optimis terhadap pertumbuhan pasar modal di Indonesia (Bursa Efek Indonesia, 2. Namun demikian, tidak semua sektor mengalami pemulihan yang sama. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sektor teknologi justru menunjukkan * Penulis Korespondensi: Ivan Leonardo / ivanjambi03@gmail. Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. penurunan signifikan pada akhir tahun 2023 dengan indeks sebesar -14,07%, menjadikannya sektor dengan performa terlemah di Bursa Efek Indonesia. Fenomena ini kontras dengan tahun 2021, ketika sektor teknologi mencatatkan lonjakan tajam (Otoritas Jasa Keuangan, 2. Gambar 1. Grafik Indeks Pasar Modal Tahun 2023 Penurunan ini menandakan perlunya perhatian khusus terhadap sektor teknologi. Perusahaan teknologi mengalami masa yang dikenal dengan istilah AyTech WinterAy, ditandai dengan penurunan aktivitas bisnis, pemutusan hubungan kerja massal, serta ketidakpastian ekonomi. Misalnya, perusahaan GOTO melakukan PHK terhadap 1. 300 karyawan pada 2022. Data CNBC menunjukkan bahwasanya lebih 000 pekerja terdampak PHK di sektor ini sepanjang 2022 . id, 2. Kondisi saham perusahaan teknologi juga mencerminkan tekanan tersebut. Performa saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Bukalapak. com Tbk (BUKA) menunjukkan penurunan harga yang cukup signifikan sepanjang 2024 . id, 2. Sentimen negatif terhadap sektor ini diperparah oleh ketidakpastian ekonomi dan menurunnya minat investor pada sektor dengan risiko tinggi. Ironisnya. Indonesia memiliki potensi besar dalam hal penggunaan teknologi. Dengan lebih dari 278 juta penduduk, sekitar 66,5% di antaranya menggunakan internet, dan hampir 50% aktif di media sosial (Meltwater, 2. Potensi ini seharusnya menjadi peluang bagi perusahaan teknologi untuk meningkatkan nilai perusahaannya melalui pemanfaatan digitalisasi secara optimal. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai pengaruh digitalisasi dan CSR terhadap nilai perusahaan. Beberapa studi menunjukkan adanya pengaruh positif, sedangkan studi lainnya tidak menemukan pengaruh yang signifikan. Ketidak konsistenan ini mendorong peneliti untuk meneliti lebih lanjut dengan menambahkan variabel moderasi Good Corporate Governance (GCG). Penerapan GCG diyakini bisa memperkuat pengaruh CSR atas nilai perusahaan (Karina & Setiadi. Wijaya & Wirawati, 2. Sejalan dengan isu yang diidentifikasi, penelitian ini mengupayakan penilaian terhadap apakah GCG mampu memoderasi pengaruh pengungkapan digitalisasi dan CSR atas nilai perusahaan. Objek penelitian difokuskan pada perusahaan sektor teknologi yang terdaftarkan di BEI selama periode 2021-2023. Penelitian ini memperkaya literatur dengan pendekatan yang bersifat diferensiatif dibandingkan studi-studi sebelumnya, baik dari segi variabel, periode, objek, maupun alat ukur yang digunakan. Penelitian ini mengukur tingkat pengungkapan digitalisasi menggunakan 28 indikator dengan fourway numerical coding system dan pengungkapan CSR berdasarkan 89 indikator GRI Standards 2016. Nilai perusahaan diukur melalui Price Book Value (PBV) dan Price Earning Ratio (PER), dengan Good Corporate Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Governance (GCG) sebagai variabel moderasi untuk mengevaluasi pengaruh hubungan antar variabel terhadap nilai perusahaan. Berbeda dari studi sebelumnya yang belum menguji peran moderasi GCG pada perusahaan sektor teknologi periode 2021-2023, penelitian ini menekankan pentingnya mekanisme tata kelola untuk mengurangi risiko agensi yang dapat menurunkan nilai perusahaan, dengan landasan teori sinyal dan teori keagenan. Objek penelitian adalah perusahaan teknologi yang terdaftar di BEI selama 2021-2023. Penelitian ini menggunakan SmartPLS 4 sebagai alat analisis, berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan SPSS versi 26. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pengungkapan digitalisasi dan Corporate Social Responsibility (CSR) terhadap nilai perusahaan, serta peran Good Corporate Governance (GCG) sebagai variabel moderasi pada perusahaan sektor teknologi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode Telaah Literatur Teori Sinyal Teori sinyal yang disampaikan oleh Spence . menjabarkan bahwasanya keterangan yang diberi manajemen, seperti prospek dan kinerja perusahaan, dapat memengaruhi persepsi investor. Sinyal tersebut mencerminkan upaya manajemen dalam mewujudkan tujuan pemilik dan membedakan perusahaan berkualitas baik dari yang buruk (Ghozali et al. , 2. Dalam teori ini, terdapat dua entitas utama, yaitu pengirim sinyal . rang dalam perusahaa. dan penerima sinyal . ihak eksterna. , dengan fokus pada penyampaian informasi positif secara sengaja. Namun, penyampaian informasi negatif juga dapat terjadi (Subroto & Endaryati, 2. Teori sinyal menjelaskan bahwa manajer yang memiliki informasi positif tentang perusahaannya terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada investor guna meningkatkan nilai perusahaan melalui laporan tahunan (Adang, 2. Teori Agensi Teori ini dijabarkan oleh Jensen & Meckling . , menguraikan mengenai relasi diantara manajemen . dan pemegang sahamnya . , dengan fokus pada potensi konflik kepentingan akibat perbedaan tujuan. Prinsipal mengharapkan imbal hasil dari dana yang telah diinvestasikan, sementara agen sebagai pihak pelaksana menginginkan kompensasi berupa insentif atau bonus atas kesepakatan kerja yang telah disetujui (Luthfiana & Dewi, 2. Manajemen cenderung bertindak untuk kepentingan pribadi, sedangkan pemegang saham mengharapkan peningkatan nilai perusahaan, yang dapat menimbulkan konflik keagenan (Ghozali et al. Menurut Arniwita et al. , hal ini berpijak pada tiga landasan utama: sifat dasar manusia yang egois dan menghindari risiko, potensi konflik organisasi serta ketidakseimbangan informasi, dan informasi sebagai komoditas. Pengaruh Tingkat Pengungkapan Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan Pengungkapan digitalisasi mempermudah akses terhadap informasi, termasuk laporan mengenai aktivitas perusahaan, yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, khususnya oleh investor. Menurut teori sinyal, digitalisasi membantu menyampaikan informasi perusahaan secara efisien untuk mengurangi asimetri informasi (Haq, 2024. Firmansyah & Helmy, 2. Penelitian Salvi . menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan digitalisasi memengaruhi nilai perusahaan, karena informasi tersebut dianggap sebagai sinyal penting yang dapat memengaruhi persepsi investor terhadap arus kas dan risiko, serta menurunkan ekspektasi tingkat pengembalian ekuitas. Maka, hipotesis yang dikembangkan yaitu: Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. H1: Tingkat Pengungkapan Digitalisasi berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan Menurut WBCSD, perusahaan memiliki komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara Komitmen ini melibatkan kolaborasi dengan karyawan, keluarga mereka, masyarakat lokal, dan masyarakat luas, dengan tujuan meningkatkan standar hidup secara keseluruhan (Kholis. Penelitian oleh Huang & Liu . menemukan bahwa perusahaan yang lebih aktif dalam kegiatan CSR mengalami risiko penurunan harga saham yang lebih rendah setelah pandemi COVID-19 dibandingkan perusahaan yang kurang aktif dalam CSR. Demikian pula. Kong . menemukan bahwa CSR berpengaruh positif terhadap perilaku investor selama peristiwa yang mengandung risiko. Studi lain menunjukkan bahwa aktivitas CSR meningkatkan imbal hasil saham dan menarik perhatian pemangku kepentingan selama pandemi, di mana perusahaan yang berinvestasi dalam CSR untuk melindungi masyarakat, pelanggan, dan karyawan memperoleh kesadaran yang lebih tinggi di mata para pemangku kepentingan (Charles et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya et al. menunjukkan hal sebaliknya yaitu CSR memiliki pengaruh negatif tidak signifikan pada nilai Maka, hipotesis yang dikembangkan yaitu: H2: Corporate Social Responsibility berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan. Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan Perusahaan harus menyadari pentingnya menjaga keberlanjutan operasional, yang dapat dicapai melalui penerapan Good Corporate Governance (GCG). Menurut Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG). GCG merupakan pilar utama dalam perekonomian berbasis pasar, yang meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan maupun lingkungan bisnis (Mutmainah, 2. Menurut teori agensi. GCG berperan sebagai mekanisme kontrol agar manajemen bertindak sesuai kepentingan pemilik (Sylvia et al. , 2. Penelitian oleh Gusriandari et al. menemukan bahwa kepemilikan manajerial, dewan komisaris independen, dan keberadaan komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Penelitian tersebut konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Micheal & Wijaya . bahwa kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial belum mampu berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sementara penelitian oleh Cahyaningrum et . menunjukkan bahwa GCG berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Maka, hipotesis yang dikembangkan yaitu: H3: Good Corporate Governance berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan. Good Corporate Governance Memoderasi Pengaruh Tingkat Pengungkapan Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan Tujuan utama digitalisasi dalam perusahaan adalah untuk meningkatkan akses informasi bagi para pemangku kepentingan mengenai kondisi perusahaan. Lebih dari sekadar penggunaan teknologi internet, digitalisasi telah menjadi indikator utama kemajuan masyarakat dan kinerja organisasi dalam menjaga keberlanjutan di tengah disrupsi. Digitalisasi juga memainkan peran penting dalam pencapaian tujuan bisnis. Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan akibat pemanfaatan teknologi digital yang buruk dalam tata kelola, yang berdampak pada daya saing mereka (Pajung, 2. Hal ini sejalan dengan teori agensi, di mana pengungkapan digitalisasi yang efektif menghasilkan tata kelola perusahaan yang optimal dan mengurangi asimetri informasi antara agen dan prinsipal. Maka, hipotesis yang dikembangkan yaitu: Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. H4: Good Corporate Governance mampu memoderasi pengaruh Tingkat Pengungkapan Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan. Good Corporate Governance Memoderasi Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan CSR merupakan bagian integral dari prinsip-prinsip GCG, khususnya yang berkaitan dengan CSR. Meskipun keduanya saling terkait, pemeringkatan CGPI (Corporate Governance Perception Inde. di Indonesia masih bersifat sukarela dan belum menunjukkan dampak signifikan terhadap pelaksanaan CSR, sehingga menimbulkan kekhawatiran terkait kredibilitasnya (Karina & Setiadi, 2. Hasil penelitian mengenai peran GCG dalam memperkuat hubungan antara CSR dan nilai perusahaan menunjukkan variasi yang signifikan (Wijaya & Wirawati, 2. menemukan bahwa GCG berpengaruh signifikan, sedangkan Ajo Putri et al. serta penelitian dari Elisabet dan Mulyani . menemukan Maka, hipotesis yang dikembangkan yaitu: H5: Good Corporate Governance mampu memoderasi pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan. Metode Populasi dan Sampel Populasi merujuk pada seluruh variabel yang terkait dengan bidang minat ilmiah dan merupakan keseluruhan subjek penelitian (Priadana, 2. Seluruh perusahaan yang terdaftar dalam sektor teknologi di BEI hingga tahun 2023, yang berjumlah 47 perusahaan, menjadi populasi dalam penelitian Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan beberapa kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti, yaitu: Perusahaan di sektor teknologi yang terdaftar di BEI selama periode 2021-2023. Perusahaan di sektor teknologi yang secara konsisten menerbitkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan secara lengkap dari tahun 2021-2023. Perusahaan di sektor teknologi yang memiliki struktur kepemilikan institusional. Tabel 1. Proses Purposive Sampling pada Perusahaan Kriteria Sampel Jumlah Populasi: Perusahaan sektor teknologi yang terdaftar di BEI selama periode 2021-2023. Perusahaan sektor teknologi yang tidak konsisten terdaftar di BEI selama periode 2021-2023. Perusahaan sektor teknologi yang tidak konsisten menerbitkan laporan tahunan dan laporan keberlanjutan secara lengkap dari tahun 2021-2023. Perusahaan sektor teknologi yang tidak memiliki struktur kepemilikan institusional. Total Perusahaan Sektor Teknologi yang Memenuhi Kriteria Sampel . Tahun x 20 Sampe. Sumber: Data diolah peneliti . Variabel Operasional Penelitian Dalam analisis saat ini, variabel dependen (Y) adalah Nilai Perusahaan, sedangkan variabel independen (X) meliputi Tingkat Pengungkapan Digitalisasi dan CSR. Selain itu. GCG berperan sebagai variabel moderasi (Z) yang memengaruhi kekuatan dan sifat hubungan antara variabel independen dan variabel Tabel 2 berikut menyajikan pengukuran variabel dalam penelitian ini: Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Tabel 2. Pengukuran Variabel Variabel Penelitian Dependen Definisi Variabel Indikator Skala Nilai Perusahaan (Firm Valu. (Y) Nilai perusahaan sebagai ukuran memperoleh kepercayaan kreditur dan investor. (Sembiring, 2. Harga Pasar Per Lembar Saham Laba Per Lembar Saham (Pujarini, 2. Harga Pasar Per Lembar Saham PBV = Nilai Buku Saham (Franita, 2. Rasio Independen Tingkat Pengungkapan Digitalisasi (Digitalization Disclosure Rat. (X1 ) Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibilit. (X2 ) Moderasi Tata kelola mengenai informasi dan digitalisasi termasuk pengetahuan tentang sistem manajemen yang informasi dan teknologi. (Suti dkk. , 2. CSR merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar perusahaan beroperasi. (Situmeang, 2. PER = TID = Total Skor Pengungkapan Total Maksimal Skor (Ulum, 2. y 100% (Wardoyo dkk. , 2. Jml Saham Manajerial y 100% Jml Saham Beredar (Endang dkk. , 2. Jml Saham Dimiliki Institusi KI = Jml Saham Beredar y 100% (Wardhani & Samrotun, 2. Rasio Rasio KM = Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governanc. (Z) GCG adalah prinsip pengaturan dan perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas tata kelola dan memperkuat nilai perusahaan. (Purwantoro, 2. Rasio PDKI Jumlah Komisaris Independen Jumlah Anggota Dewan Komisaris (Franita, 2. KA = Anggota Komite Audit (Franita, 2. Sumber: Data diolah peneliti . Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan data sekunder yang sebagian besar diperoleh dari laporan keuangan tahunan dan laporan keberlanjutan yang tersedia secara publik dari perusahaan sektor teknologi yang terdaftar di BEI untuk periode 2021 hingga 2023. Laporan-laporan tersebut memberikan wawasan berharga mengenai kinerja keuangan dan aktivitas CSR perusahaan. Data diperoleh melalui situs resmi BEI, yang menyediakan pengungkapan keuangan yang komprehensif dan andal. Selain itu, situs web masing-masing perusahaan juga dikunjungi untuk memperoleh laporan keberlanjutan yang memuat inisiatif ESG mereka. Pendekatan multi-sumber ini memastikan ketersediaan data yang kuat, sehingga memungkinkan penilaian yang lebih rinci terhadap korelasi antara praktik korporasi dan nilai perusahaan di sektor teknologi. Pendekatan analisis dalam penelitian ini melibatkan statistik deskriptif dan analisis PLS dengan metode PLS-SEM, menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4. Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Hasil dan Pembahasan Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif berfungsi sebagai alat untuk mengorganisasi dan merangkum data secara terstruktur, sehingga informasi yang kompleks dapat disajikan secara ringkas, jelas, dan mudah untuk Hasil analisis statistik deskriptif untuk setiap variabel, yang meliputi nilai minimum, maksimum, rata-rata, dan standar deviasi, disajikan dengan menggunakan perangkat lunak SmartPLS 4. Tabel 3. Hasil Analisis Statistik Deskriptif Variabel Indikator Digitalisasi TID Ekonomi Lingkungan Sosial PER PBV PDKI CSR Nilai Perusahaan GCG Mean Minimum 0,567 0,345 0,165 0,059 0,168 0,000 0,228 0,000 161,698 -255,411 3,058 -7,869 0,061 0,000 0,500 0,060 0,449 0,000 3,250 2,000 Sumber: Data diolah peneliti . Maximum 0,619 0,529 0,469 0,750 7016,129 35,828 0,399 0,926 1,000 5,000 Standard Deviation 0,059 0,114 0,115 0,158 910,197 5,494 0,099 0,251 0,183 0,698 Tabel 3 menyajikan data untuk empat variabel utama, yang mencakup dua variabel eksogen yaitu Tingkat Pengungkapan Digitalisasi dan CSR, satu variabel endogen yaitu Nilai Perusahaan, serta satu variabel moderasi yaitu GCG. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 60 data yang dikumpulkan dari 20 perusahaan yang beroperasi di sektor teknologi dan terdaftar di BEI. Data tersebut mencakup periode tahun 2021 hingga 2023, sehingga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai hubungan antara variabel-variabel tersebut dalam konteks perusahaan di sektor ini. Evaluasi Outer Model Validitas Konvergen (Convergent Validit. Dua indikator utama yang digunakan adalah outer loading . tau loading facto. dan AVE. Outer loading mengukur seberapa akurat indikator mencerminkan konsep yang mendasarinya. Dalam penelitian ini, ambang batas untuk outer loading adalah 0,70. Indikator dengan nilai dibawah ambang batas ini harus dihapus dari model pengukuran. Sebuah indikator dianggap mencapai validitas konvergen yang memadai jika outer loading lebih besar dari 0,70. Gambar 2 dan Tabel 4 menyajikan hasil outer loading: Gambar 2. Model Struktural Setelah di Run PLS-SEM Algorithm Sumber: Data diolah peneliti . Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Tabel 4. Hasil Outer Loading Variabel Digitalisasi Indikator TID Lingkungan CSR Sosial Nilai Perusahaan PBV GCG PDKI GCG x Digitalisasi Ie Nilai Perusahaan GCG x CSR Ie Nilai Perusahaan Sumber: Data diolah peneliti . Outer Loading 1,000 0,945 0,814 0,918 0,851 1,000 1,000 Berdasarkan Tabel 4, setiap variabel laten menunjukkan nilai outer loading yang bervariasi, baik yang di atas maupun di bawah 0,70. Indikator dengan outer loading di atas 0,70 secara signifikan merepresentasikan konstruk nilai perusahaan. Oleh karena itu, semua indikator yang memiliki nilai di atas 0,70 dipertahankan dan tidak dihilangkan. Validitas konvergen untuk suatu variabel umumnya juga dievaluasi menggunakan ukuran AVE. AVE mengukur jumlah rata-rata variansi yang dijelaskan oleh konstruk pada indikator-indikatornya. Secara garis besar. AVE menggambarkan sejauh mana konstruk tersebut menjelaskan variasi pada indikatorindikator individu. Nilai AVE yang lebih tinggi menunjukkan bahwa konstruk memiliki kekuatan penjelas yang kuat terhadap indikator-indikator terkait. Ketika AVE melebihi 0,50, umumnya dianggap menunjukkan validitas konvergen yang cukup, yang menegaskan bahwa konstruk tersebut secara andal merepresentasikan indikator-indikator yang dimaksudkan untuk diukur. Tabel 5 menyajikan hasil AVE dari penelitian ini. Tabel 5. Hasil AVE Variabel Average Variance Extracted (AVE) CSR 0,785 Digitalisasi 1,000 Nilai Perusahaan 1,000 GCG 1,000 GCG x Digitalisasi 1,000 GCG x CSR 1,000 Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan Tabel 5. AVE untuk CSR adalah 0,785, yang menunjukkan bahwa 78,5% dari variansi pada indikator-indikator, yaitu lingkungan dan sosial, dijelaskan oleh konstruk CSR. Variabel lainnya memiliki nilai AVE sebesar 1,000. Dengan demikian, semua variabel dalam model memenuhi kriteria validitas konvergen, karena nilai AVE melebihi ambang batas 0,50. Validitas Diskriminan (Discriminant Validit. Validitas diskriminan bergantung pada cross loadings dan Fornell-Larcker criterion. Cross loadings membantu memastikan apakah suatu indikator lebih terkait dengan konstruk yang dimaksud dibandingkan dengan konstruk lainnya. Di sisi lain. Fornell-Larcker criterion melibatkan perbandingan akar kuadrat AVE untuk setiap konstruk dengan nilai korelasi antara konstruk-konstruk tersebut. Validitas diskriminan yang memadai dianggap tercapai ketika akar kuadrat AVE suatu konstruk melebihi nilai korelasi antara konstruk tersebut dengan konstruk lainnya. Perbandingan ini memastikan bahwa konstruk-konstruk tersebut berbeda dan bahwa model secara akurat menggambarkan hubungan antar variabel tanpa tumpang tindih yang berlebihan. Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Tabel 6. Hasil Cross Loadings Digitalisasi TID Lingkungan Sosial PDKI PBV GCG x Digitalisasi GCG x CSR 1,000 -0,438 -0,418 0,259 0,098 -0,287 0,227 Nilai Perusahaan -0,481 0,259 0,098 0,930 -0,137 0,146 0,839 -0,079 0,098 -0,128 1,000 -0,269 0,142 -0,269 1,000 0,157 0,011 -0,105 -0,295 -0,104 0,059 Sumber: Data diolah peneliti . CSR GCG GCG x Digitalisasi -0,287 0,185 0,075 0,011 -0,105 1,000 -0,619 GCG x CSR 0,227 -0,351 -0,134 -0,104 0,059 -0,619 1,000 Berdasarkan Tabel 6, semua indikator menunjukkan cross loadings tertinggi pada konstruk masingmasing, yang mengindikasikan validitas diskriminan yang baik. Tabel 7. Hasil Fornell-Larcker criterion CSR Digitalisasi GCG Nilai Perusahaan CSR Digitalisasi GCG 0,886 -0,481 1,000 -0,128 0,259 1,000 0,142 0,098 -0,269 Sumber: Data diolah peneliti . Nilai Perusahaan 1,000 Berdasarkan Tabel 7, akar kuadrat dari nilai Average Variance Extracted (AVE) untuk variabel CSR . lebih besar dibandingkan korelasinya dengan variabel lain, yang menunjukkan bahwa validitas diskriminan telah terpenuhi. Hal yang sama juga berlaku untuk variabel lainnya, sehingga secara keseluruhan model telah memenuhi kriteria validitas diskriminan. Uji Reliabilitas Uji Reliabilitas dilakukan dengan memeriksa skor CronbachAos Alpha dan Composite Reliability. Suatu konstruk dianggap reliabel apabila nilai dari kedua ukuran tersebut mencapai atau melebihi batas minimum sebesar 0,70. Jika nilai-nilai ini cukup tinggi, hal tersebut menunjukkan bahwa konstruk tersebut memiliki tingkat reliabilitas yang memadai, yang menjamin konsistensi dan stabilitas dalam pengukuran pada penelitian ini. Tabel 8 menyajikan hasilnya. Tabel 8. Hasil CronbachAos Alpha dan Composite Reliability Cronbach's Alpha Composite Reliability CSR 0,735 0,879 Digitalisasi 1,000 1,000 Nilai Perusahaan 1,000 1,000 GCG 1,000 1,000 GCG x Digitalisasi 1,000 1,000 GCG x CSR 1,000 1,000 Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan Tabel 8, semua variabel dalam penelitian ini menunjukkan nilai CronbachAos Alpha yang CSR memiliki skor sebesar 0,735, sedangkan tingkat pengungkapan digitalisasi, nilai perusahaan, dan GCG masing-masing memiliki skor sempurna sebesar 1,000. Hal ini menunjukkan reliabilitas yang sangat baik, karena semua nilai melebihi batas ambang 0,70. Selain itu, semua variabel dalam penelitian ini juga menunjukkan nilai Composite Reliability yang tinggi, yaitu 0,879 untuk CSR, serta 1,000 untuk tingkat pengungkapan digitalisasi, nilai perusahaan. GCG, dan variabel moderasi (GCG x tingkat pengungkapan digitalisasi dan GCG x CSR). Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa seluruh variabel memenuhi kriteria reliabilitas, karena memiliki nilai lebih besar dari 0,70. Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Evaluasi Inner Model R-square R-square mewakili proporsi varians dalam variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen maupun variabel dependen lainnya dalam suatu model. Pengujian ini berfungsi sebagai indikator utama kecocokan model, yang menunjukkan seberapa baik prediktor model menjelaskan perubahan pada variabel hasil. Nilai R-square biasanya dikategorikan ke dalam tiga tingkat: tinggi . ,75 atau lebi. , sedang . , dan rendah . Nilai R-square yang lebih tinggi menunjukkan bahwa sebagian besar varians berhasil dijelaskan oleh model, sedangkan nilai yang lebih rendah menunjukkan bahwa model hanya mampu menjelaskan sebagian kecil dari variabilitas variabel dependen, yang mengindikasikan adanya potensi perbaikan (Ghozali, 2. Tabel 9. Hasil R-square R-square R-square adjusted Nilai Perusahaan 0,152 0,073 Sumber: Data diolah peneliti . Berdasarkan Tabel 9, nilai R-square untuk konstruk nilai perusahaan adalah sebesar 0,152, yang menunjukkan bahwa 15,2% nilai perusahaan dapat dijelaskan oleh tingkat pengungkapan digitalisasi. CSR, dan GCG, sedangkan 84,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Nilai yang rendah ini menunjukkan bahwa variabel eksogen memiliki daya jelaskan yang terbatas, dan struktur model belum F-square Ukuran efek moderasi dapat dilihat dari hasil tabel F-square, berdasarkan kriteria untuk efek langsung maupun efek moderasi. Tabel 10. Hasil F-square Digitalisasi Ie Nilai Perusahaan CSR Ie Nilai Perusahaan GCG Ie Nilai Perusahaan GCG x Digitalisasi Ie Nilai Perusahaan GCG x CSR Ie Nilai Perusahaan Sumber: Data diolah peneliti . F-square 0,063 0,051 0,102 0,002 0,000 Berdasarkan data yang disajikan dalam Tabel 10, pengaruh masing-masing variabel pada tingkat struktural terhadap nilai perusahaan relatif kecil, sebagaimana dibuktikan oleh nilai F-square yang Tingkat pengungkapan digitalisasi menunjukkan dampak yang kecil dengan nilai F-square sebesar 0,063, diikuti oleh CSR dengan nilai 0,051. GCG menunjukkan pengaruh yang sedikit lebih kuat, meskipun masih terbatas, dengan nilai F-square sebesar 0,102. Selain itu, efek moderasi GCG terhadap hubungan antara tingkat pengungkapan digitalisasi dan nilai perusahaan sangat minimal, sebagaimana tercermin dari nilai F-square sebesar 0,002. Demikian pula, pengaruh moderasi GCG terhadap hubungan antara CSR dan nilai perusahaan hampir tidak ada, dengan nilai F-square sebesar 0,000. Temuan ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang diteliti memiliki pengaruh yang relatif lemah terhadap nilai perusahaan dalam konteks penelitian ini. Pengujian Hipotesis Hipotesis adalah suatu proposisi atau asumsi sementara yang diajukan untuk menjelaskan suatu fenomena, berdasarkan bukti yang terbatas, dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Hipotesis berfungsi sebagai dasar bagi penelitian, mengarahkan jalannya studi dengan mengusulkan hubungan Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. antar variabel yang dapat diuji dan kemudian dikonfirmasi atau ditolak melalui analisis data. Dalam penelitian ini, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan output koefisien jalur . ath coefficient. , yang berfungsi sebagai alat analisis untuk menilai pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Pendekatan ini secara kuantitatif menguji hubungan kausal dengan memeriksa nilai original sample (O), t-statistics, dan p-values sebagai indikator signifikansi (Ghozali, 2. Berdasarkan hasil koefisien jalur, suatu pengaruh dianggap signifikan apabila t-statistic > t-table pada tingkat signifikansi 5%. Berdasarkan nilai probabilitas atau skor signifikansi . -value. , jika p-values < 0,05 maka pengaruh tersebut signifikan dan hipotesis diterima. Sebaliknya, jika p-values > 0,05 maka pengaruh tersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Tabel 11. Hasil Path Coefficients Hipotesis Original t-statistics sample (O) Digitalisasi Ie Nilai Perusahaan 0,280 2,108 CSR Ie Nilai Perusahaan 0,246 1,578 GCG Ie Nilai Perusahaan -0,310 2,672 GCG x Digitalisasi Ie Nilai Perusahaan -0,045 0,267 GCG x CSR Ie Nilai Perusahaan -0,001 0,005 Sumber: Data diolah peneliti . Variabel p-values Kesimpulan 0,035 0,115 0,008 0,790 0,996 Diterima Ditolak Diterima Ditolak Ditolak Berdasarkan koefisien jalur pada Tabel 11, dapat disimpulkan hal-hal berikut: Hipotesis pertama menunjukkan bahwa skor original sample (O) pengungkapan digitalisasi terhadap nilai perusahaan bernilai positif sebesar 0,280 dan signifikan pada tingkat 0,05 . ,108 > 2,00. , dengan p-values sebesar 0,035 < 0,05. Oleh karena itu, tingkat pengungkapan digitalisasi berpengaruh signifikan secara parsial terhadap nilai perusahaan, dan H 1 diterima. Hipotesis kedua menunjukkan bahwa nilai original sample (O) CSR terhadap nilai perusahaan bernilai positif sebesar 0,246 namun tidak signifikan pada tingkat 0,05 . ,578 < 2,00. , dengan p-values sebesar 0,115 > 0,05. Dengan demikian. CSR tidak berpengaruh signifikan secara parsial terhadap nilai perusahaan, dan H2 ditolak. Hipotesis ketiga menunjukkan bahwa skor original sample (O) GCG terhadap nilai perusahaan bernilai negatif sebesar 0,310 dan signifikan pada tingkat 0,05 . ,672 > 2,00. , dengan p-values sebesar 0,008 < 0,05. Oleh karena itu. GCG berpengaruh signifikan secara parsial terhadap nilai perusahaan, dan H3 diterima. Hipotesis keempat menunjukkan bahwa skor original sample (O) interaksi antara GCG dan pengungkapan digitalisasi terhadap nilai perusahaan bernilai negatif sebesar 0,045 dan tidak signifikan pada tingkat 0,05 . ,267 < 2,00. , dengan p-values sebesar 0,790 > 0,05. Dengan demikian. GCG tidak memoderasi pengaruh pengungkapan digitalisasi terhadap nilai perusahaan, dan H4 ditolak. Hipotesis kelima menunjukkan bahwa skor original sample (O) interaksi antara GCG dan CSR terhadap nilai perusahaan bernilai negatif sebesar 0,001 dan tidak signifikan pada tingkat 0,05 . ,005 < 2,00. , dengan p-values sebesar 0,996 > 0,05. Oleh karena itu. GCG tidak memoderasi pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan, dan H 5 ditolak. Pembahasan Pengaruh Tingkat Pengungkapan Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan Hasil evaluasi hipotesis pertama (H. menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan digitalisasi berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, dengan koefisien jalur positif sebesar 0,280, tstatistics sebesar 2,108 (>2,00. , dan p-values sebesar 0,035 (<0,. , yang menunjukkan bahwa H 1 Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Temuan ini mengindikasikan bahwa tingkat pengungkapan digitalisasi, yang diukur melalui indikator-indikator tertentu, memberikan sinyal positif kepada investor mengenai potensi aliran kas masa depan dan persepsi risiko yang berkurang, yang pada akhirnya meningkatkan nilai perusahaan seperti yang tercermin dalam rasio PBV untuk periode 2021-2023. Hal ini terutama terlihat pada perusahaan sektor teknologi yang sangat bergantung pada proses digital, seperti PT Digital Mediatama Maxima Tbk, yang memiliki tingkat pengungkapan digitalisasi sebesar 0,61 dan nilai perusahaan sebesar 18,61, dibandingkan dengan PT Quantum Clovera Investama Tbk dengan tingkat pengungkapan 0,35 dan nilai perusahaan -0,03. Hasil ini sejalan dengan temuan Safitri . dan Salvi . yang mengidentifikasi pengaruh positif digitalisasi terhadap nilai perusahaan, tetapi bertentangan dengan temuan Firmansyah dan Helmy . serta penelitian dari Haq . yang melaporkan tidak ada pengaruh signifikan. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan Evaluasi hipotesis kedua (H. menunjukkan bahwa CSR tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, dengan t-statistics sebesar 1,578 dan p-values sebesar 0,115. Pengungkapan CSR yang diukur dengan CSRI tidak mempengaruhi nilai perusahaan yang diukur dengan PBV selama periode 2021-2023, karena investor di sektor teknologi cenderung lebih fokus pada kinerja keuangan, inovasi, dan pertumbuhan pengguna. Dampak sosial dari perusahaan teknologi tidak terlihat secara langsung, sehingga CSR menjadi kurang diperhitungkan dalam penilaian. Selain itu, pengungkapan CSR belum sepenuhnya sesuai dengan standar GRI, misalnya PT Global Sukses Solusi Tbk telah memenuhi kurang dari 50% item GRI. Temuan ini konsisten dengan studi oleh Kristanti . dan Rasyid et al. namun berbeda dengan penelitian Pratama dan Serly . serta penelitian dari Muhlis dan Gultom . Pengaruh Good Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan Hasil evaluasi hipotesis ketiga (H. menunjukkan bahwa GCG memiliki pengaruh yang signifikan namun negatif terhadap nilai perusahaan, dengan koefisien -0,310, t-statistics 2,672, dan p-values 0,008. GCG, yang diukur dengan proporsi komisaris independen, menunjukkan hubungan terbalik dengan nilai perusahaan, seperti yang terlihat pada PT Envy Technologies Indonesia Tbk, yang memiliki tingkat GCG yang tinggi tetapi nilai perusahaan yang rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerapan GCG cenderung bersifat simbolis atau berlebihan, yang mengarah pada ketidakefisienan dan persepsi negatif dari investor. Hasil ini konsisten dengan beberapa studi sebelumnya, namun bertentangan dengan temuan Susilo et al. , yang menyatakan bahwa GCG tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Good Corporate Governance Memoderasi Pengaruh Tingkat Pengungkapan Digitalisasi terhadap Nilai Perusahaan Hasil evaluasi hipotesis keempat (H. menunjukkan bahwa GCG tidak mampu memoderasi pengaruh pengungkapan digitalisasi terhadap nilai perusahaan, dengan nilai t-statistics sebesar 0,267 dan p-values sebesar 0,790. Hubungan antara pengungkapan digitalisasi dan nilai perusahaan, yang diukur dengan PBV selama periode 2021-2023, tidak diperkuat oleh GCG yang diproksikan dengan proporsi komisaris Sebagai contoh. PT Envy Technologies Indonesia Tbk menunjukkan skor GCG dan pengungkapan digitalisasi yang tinggi, namun nilai perusahaannya tetap rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa GCG belum efektif dalam memperkuat sinyal positif dari pengungkapan Kualitas pengungkapan yang kurang substansial atau sekadar simbolis dapat menyebabkan sinyal tersebut diabaikan oleh pasar. Temuan ini mendukung teori sinyal, namun menunjukkan bahwa sinyal digitalisasi menjadi tidak efektif tanpa implementasi yang nyata. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ivan Leonardo. Fitrini Mansur & Riski Hernando . - Pengaruh Digitalisasi dan CSR terhadap Nilai Perusahaan dengan GCG sebagai Variabel Moderasi Jurnal Bina Akuntansi Vol. 12 No. 2 (Jul. Kristanti . , namun berbeda dengan penelitian Ajo Putri et al. serta penelitian dari Siregar dan Br Bukit . Good Corporate Governance Memoderasi Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan Hasil evaluasi hipotesis kelima (H. menunjukkan bahwa GCG tidak memoderasi pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan. Uji koefisien parameter menunjukkan adanya hubungan negatif (-0,. antara CSR dan nilai perusahaan dengan GCG sebagai variabel moderasi. namun, hasil ini tidak signifikan secara statistik . -statistics 0,005, p-values 0,. Dengan demikian, hipotesis kelima (H. GCG yang diproksikan dengan proporsi komisaris independen tidak mampu memoderasi hubungan antara CSR dan nilai perusahaan yang diukur dengan rasio Price Book Value (PBV). Temuan ini mengindikasikan bahwa GCG tidak cukup efektif sebagai mekanisme kontrol untuk memastikan bahwa CSR memberikan manfaat ekonomi jangka panjang. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ajo Putri et al. serta Elisabet dan Mulyani . yang menyatakan bahwa GCG tidak memperkuat hubungan antara CSR dan nilai perusahaan, namun bertentangan dengan temuan Wijaya & Wirawati . yang menemukan hasil Simpulan Merujuk pada output penelitian, hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat pengungkapan digitalisasi memiliki implikasi signifikan terhadap nilai perusahaan, sementara Corporate Social Responsibility (CSR) tidak memberikan dampak yang berarti. Good Corporate Governance (GCG) berkontribusi terhadap peningkatan nilai perusahaan, namun tidak berfungsi sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara tingkat pengungkapan digitalisasi maupun CSR terhadap nilai perusahaan. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya literatur tentang pengaruh pengungkapan digitalisasi terhadap nilai perusahaan, khususnya pada sektor teknologi yang masih jarang diteliti. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi perusahaan untuk meningkatkan pengungkapan digitalisasi dan praktik GCG guna mendorong nilai perusahaan. Terdapat keterbatasan dalam penelitian ini yang membuka peluang untuk penelitian lanjutan, seperti mengkaji sektor lain . anufaktur, perbankan, atau energ. guna melihat apakah hasil ini bersifat sektoral atau dapat digeneralisasi. Penelitian mendatang juga disarankan mengeksplorasi lebih jauh aspek-aspek lain dari GCG, seperti independensi dewan, pengendalian internal, dan transparansi, dalam hubungannya dengan pengungkapan digitalisasi dan CSR terhadap nilai perusahaan. Referensi