Jurnal AGRINIKA. September-2022. :161-175 Efektivitas Pelaksanaan Program Bantuan Benih Jagung Hibrida di Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung Agus Gunawan1*. Eliana Wulandari1. Eti Suminartika1 Ekonomi Pertanian/Pertanian. Universitas Padjadjaran. Bandung. Indonesia *Korespondensi: agus19006@mail. Diterima 09 November 2021/ Direvisi 05 September 2022/ Disetujui 25 September 2022 ABSTRAK Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki peran strategis dalam pembangunan nasional. Pencapaian produktivitas jagung masih relatif rendah. Dengan kondisi tersebut pemerintah telah menyalurkan bantuan berupa benih jagung hibrida varietas BISI dengan tujuan meningkatkan produktivitas. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan. Penelitian ini menggunakan metode survey. Pengambilan sampel penelitian menggunakan proportionate stratified random sampling pada sampel sebanyak 73 petani yang tersebar di 32 kelompok tani. Analisis data menggunakan analisis gap untuk menganalisis efektivitas program dan Importance-Performance Analysis (IPA) untuk identifikasi tindakan yang diperlukan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida belum sepenuhnya efektif meningkatkan produktivitas usaha tani jagung. Saran bagi pemerintah agar program bantuan selanjutnya memperhatikan varietas benih yang disalurkan sudah teruji produktivitasnya, memperhatikan time schedule pelaksanaan sehingga penyaluran benih bisa tepat waktu, dan meningkatkan pengawasan di lapangan serta menerapkan sanksi yang tegas jika terjadi keterlambatan penyaluran benih. Kata kunci : Efektivitas bantuan. Jagung. Kecamatan Nagreg ABSTRACT Corn is a food-crop commodity that has a strategic role in national development. Achievement of corn productivity is still relatively low. Under these conditions, the government has distributed assistance in the form of hybrid corn seeds of the BISI variety intending to increase productivity. This research was conducted in Nagreg District. Bandung Regency. This study aimed to analyze the effectiveness of the implementation of the hybrid corn seed assistance program and identify the necessary actions. This research employed a survey method. The research sample was taken using proportionate stratified random sampling on a sample of 73 farmers spread over 32 farmer groups. Data analysis used gap analysis to analyze the effectiveness of the program and Importance Performance Analysis (IPA) to identify the necessary actions. The results of the study indicated that the implementation of the hybrid corn seed assistance program has not been fully effective in increasing the productivity of corn Suggestions for the government that further assistance programs to pay attention to the varieties of seeds distributed have proven productivity, to pay attention to the implementation schedule so that seed distribution can be on time, and to improve supervision in the field and apply strict sanctions for a delay in seed distribution. Keywords: Aid Effectiveness. Maize. Nagreg Sub District Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. PENDAHULUAN Jagung merupakan komoditas tanaman pangan yang memiliki peran Selain untuk bahan pangan, jagung digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pakan dan industri lainnya, . , polymer dan lain-lain (Direktorat Serealia, 2. Sentra Indonesia tersebar di berbagai provinsi salah satunya yaitu Provinsi Jawa Barat, yang produksinya menempati urutan ke enam secara Dalam periode lima tahun terakhir . perkembangan produksi jagung di Jawa Barat positif, yaitu sebesar 13,27% dengan rata-rata 404 ton per tahun (Dinas Tanaman Pangan Jawa Barat, 2. Berdasarkan produktivitasnya. Provinsi Jawa Barat produktivitas jagung tertinggi di antara provinsi-provinsi sentra jagung lainnya, yaitu sebesar 7,25 ton per hektar (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2. Sentra produksi jagung di Jawa Barat Kabupaten Bandung. Rata-rata produksi jagung Kabupaten Bandung dalam periode lima tahun terakhir berkontribusi sebesar 6,6% terhadap produksi jagung Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan produktivitasnya, pencapaian produktivitas jagung di Kabupaten Bandung masih relatif Menurut Yasin, et. , . Girsang, . produktivitas jagung di Indonesia dapat menghasilkan 10,0-11,0 ton per hektar, namun produktivitas di lahan petani sangat beragam, berkisar antara 3,2-8,0 ton per hektar. Produktivitas jagung nasional masih jauh dari potensi genetik dari varietas unggul yang ada (Sutoro, 2. Perbandingan produktivitas jagung Kabupaten Bandung dengan Provinsi Jawa Barat disajikan pada Gambar 1. Pencapaian jagung di Kabupaten Bandung masih di bawah rata-rata produktivitas Provinsi Jawa Barat yaitu 7,65 ton per hektar, dimana Kabupaten Bandung baru mencapai 6,79 ton per hektar. Produktivitas jagung di Kabupaten Bandung antar kecamatan relatif Kecamatan Nagreg yang merupakan cenderung tidak meningkat, hanya berkisar 5-6 ton per hektar (Dinas Pertanian Kabupaten Bandung. Masih terdapat permasalahan yang dihadapi oleh petani dalam upaya mencapai produktivitas yang kurangnya permodalan. Terdapat permasalahan klasik yang dihadapi oleh pelaku di sektor pertanian yaitu pembiayaan usaha dalam bidang pertanian (Pardian, et. , 2012. Saidah, et. , 2012. Wulandari, et. , 2017. Salah satu sumber permodalan usaha tani dapat berasal dari pembiayaan pemerintah (Swastika Elizabeth 2017. Szczygielskia, , 2017. Wulandari, et. Page 162 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Pembiayaan dari pemerintah Indonesia bantuan atau hibah yang disalurkan bibit/benih, pupuk, dan alat panen (Wulandari, et. , 2017. Gambar 1. Pencapaian produktivitas jagung Kabupaten Bandung . on per h. Salah meningkatkan produktivitas jagung yaitu melalui penanaman varietas jagung hibrida. Namun, bagi sebagian petani merasa bahwa harga benih jagung hibrida masih relatif mahal sehingga sulit terjangkau. Varietas jagung yang dipilih petani umumnya penyediaan modal dan kualitas lahan (Hadijah, 2. Upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas jagung di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung, berupa benih jagung hibrida melalui (Kementerian Pertanian. Adanya bantuan benih unggul melalui pembiayaan pemerintah diharapkan produksi maupun produktivitas dapat meningkat dan berkelanjutan. Namun produktivitas jagung di Kecamatan Nagreg rata-rata pencapaian produktivitas kabupaten. Berdasarkan sebelumnya, penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida yang sudah dijalankan di Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung tindakan perbaikan yang diperlukan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan oleh pemerintah agar memprioritaskan pada faktor-faktor layanan program yang dianggap penting oleh petani berdasarkan ukuran tingkat kepentingan dan Page 163 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. METODE PENELITIAN Penelitian Kecamatan Nagreg. Kabupaten Bandung pada bulan April hingga Agustus tahun 2021. Penelitian ini Populasi dalam penelitian ini meliputi 270 petani jagung yang tergabung dalam 32 kelompok tani berstatus penerima program bantuan benih jagung hibrida. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportionate Berdasarkan perhitungan dengan rumus Slovin, didapatkan jumlah sampel sebanyak 73 petani yang tersebar secara proporsional pada masing-masing kelompok tani. Data hasil survey selanjutnya diolah dengan menggunakan tabel Importance Performance Analysis (IPA). Menurut Febriyanto . , analisis gap merupakan alat untuk aktual dengan kinerja potensial atau yang diharapkan. Nilai gap layanan yang dirasakan dan diharapkan oleh para konsumen . disebut dengan nama SERVQUAL atau skor dari kualitas layanan. Yulianti . merumuskan perhitungan tersebut sebagai berikut: Skor SERVQUAL = P Ae I Keterangan : = Skor Persepsi = Skor Ekspektasi Skor SERVQUAL bertujuan untuk bisa menjelaskan pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida yang ada dalam satu Metode Skala Likert digunakan untuk mengukur tingkat kepentingan dan kinerja, dengan lima Terdapat beberapa atribut yang ditanyakan kepada responden mengenai efektivitas pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida dari pemerintah terhadap peningkatan produktivitas jagung yang setiap atribut pertanyaan untuk tingkat kepentingan dan kinerja diberi skor 1 (Sangat Tidak Penting/Sangat Tidak Sesua. , skor 2 (Tidak Penting/Tidak Sesua. , (Kurang Penting/Kurang Sesua. , skor 4 (Penting/Sesua. dan 5 (Sangat Penting/Sangat Sesua. Total skor dari masing-masing penjumlahan dari jumlah responden yang memilih dikalikan pilihan angka skor Likert. TS = Oc T x Pn Keterangan: = total skor = total jumlah responden yang = pilihan angka skor Likert Menurut Durianto, et. , nilai rataan skor dihitung dengan cara yaitu total skor dibagi Keterangan: rata-rata kinerja/performance rata-rata kepentingan/harapan/imp jumlah responden X Y Page 164 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Parasuraman . mengungkapkan bahwa jika hasil gap analysis bernilai lebih kecil dari -1 berada dalam kategori baik, namun jika hasil kesenjangan bernilai lebih besar dari -1 berada dalam kategori tidak baik. Metode Importance Performance Analysis digunakan untuk mengetahui sejauh mana atribut pelaksanaan bantuan benih jagung hibrida dianggap penting dan diketahui oleh petani. Menurut Supranto Importance Performance Analysis merupakan digunakan untuk mengukur atribut dari tingkat kepentingan . dan tingkat kinerja . yang berguna untuk pengembangan program pemasaran yang efektif. Hasil dari IPA merupakan dari perhitungan SPSS 22 yang di dalamnya terdapat fasilitas analisis graphs scatter kemudian hasilnya berbentuk gambar diagram kartesius. Diagram kartesius tersebut terbagi menjadi 4 bagian yaitu kuadran I. II, i dan IV. Kuadran I (Concentrate Thes. Kuadran I menunjukkan atributatribut pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida yang dianggap kepuasan, namun kinerjanya belum dirasakan petani. Pada kuadran ini kinerjanya perlu diperbaiki atau Kuadran II (Keep Up The Good Wor. Kuadran II menunjukkan atributatribut pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida yang penting, dan telah dirasakan kinerjanya oleh Atribut-atribut pada kuadran ini harus dipertahankan karena dapat meningkatkan produktivitas usaha Kuadran i (Low Priorit. Kuadran i menunjukkan atribut pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida yang tidak penting pengaruhnya bagi petani, dan sudah cukup dirasakan petani. Kuadran IV (Possible Overkil. Kuadran IV menunjukkan atribut pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida menurut petani kurang penting dan dirasa berlebihan, sehingga perlu dikurangi. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar petani responden berusia antara 30-50 tahun. Rentang usia tersebut menunjukkan petani responden berada pada kategori usia Karakteristik pendidikan, lama berusahatani, dan luas lahan ditampilkan pada Tabel 1. Tingkat pendidikan sebagian besar petani responden hanya tamat Sekolah Dasar (SD) yaitu sebesar 57,53%. Rendahnya menyebabkan kemampuan petani dalam mengelola usahatani jagung termasuk penyerapan inovasi menjadi kurang maksimal. Rata-rata lamanya berusahatani petani responden adalah 19 tahun dengan pengalaman paling rendah adalah 1 tahun dan pengalaman tertinggi adalah 50 tahun. Persentase berkisar antara 1 sampai dengan 30 tahun . ,57%), hal ini dikarenakan Page 165 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Gap Analysis komoditas jagung terutama jagung hibrida mulai banyak dikembangkan di wilayah Kecamatan Nagreg sekitar tahun 1990-an. Luas lahan yang dimiliki petani responden sebagian besar berkisar antara 0,5-1 hektar dengan rata-rata luas lahan sebesar 0,99 hektar. Gap analysis dilakukan pada setiap atribut pertanyaan, dimensi dan secara keseluruhan. Atributatribut pertanyaan berkaitan dengan harapan/ekspektasi pendapat/persepsi pelaksanaan program bantuan benih meningkatkan produktivitas jagung Tabel 1. Karakteristik Petani Responden Variabel Frekuensi (Oran. Usia (Tahu. < 30 > 50 Total Pendidikan: Tidak Sekolah SMP SMA/SMK Total Lama Berusahatani (Tahu. < 15 > 30 Total Luas Lahan (H. < 0,5 0,5-1 > 1 Total Persentase (%) 1,37 54,79 43,84 100,00 0,00 57,53 21,92 16,44 4,11 100,00 41,10 42,47 16,44 100,00 13,70 57,53 28,77 100,00 Sumber: Data primer diolah Atribut-atribut dikelompokan ke dalam empat dimensi yaitu input, process, output Atribut-atribut pertanyaan yang terbagi ke dalam masing-masing dimensi disajikan pada Tabel 2. Menurut Levey dan Loomba . Input merupakan subsistem yang memberikan segala masukan untuk berfungsinya sebuah sistem. Input dapat berupa sarana fisik, peralatan, organisasi, manajemen. Aspek menjadi pertanyaan dalam dimensi input antara lain kegiatan sosialisasi program, buku panduan, rencana Page 166 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. (RUK) kelompok tani. Process interaksi yang dilakukan antara pemberi layanan dengan konsumen . Proses merupakan semua kegiatan dalam sistem. Interaksi yang ditanyakan dalam dimensi proses ini seperti rangkaian kegiatan yang berjalan antara penyuluh dengan Dimensi proses juga mencakup pendistribusian bantuan . ecukupan benih, kesesuaian varietas dan ketepatan wakt. Output merupakan hasil dari sebuah proses. Pertanyaan terkait dimensi output yang diharapkan dalam program bantuan ini yaitu peningkatan luas tanam, produksi, produktivitas, pendapatan petani, pelaksanaan RUK. Sementara outcome merupakan dampak yang ditimbulkan dari sebuah kegiatan atau layanan suatu program. Pertanyaan dalam dimensi outcome pelaksanaan bantuan ini yaitu minat petani dalam menanam jagung meningkat setelah mengikuti program bantuan benih jagung hibrida. Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai gap dimensi input bernilai negatif yaitu -0,58. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Shaleh et. yang menunjukkan nilai gap dimensi input bernilai negatif (-0,. pada kegiatan UPSUS kedelai. Semua atribut bernilai negatif, dimana untuk gap tertinggi adalah ada petunjuk/panduan bantuan benih jagung hibrida . dengan nilai -0,85 dan ada penyampaian sosialisasi mengenai program bantuan benih jagung hibrida . dengan nilai -0,82. Hal ini disebabkan karena menurut petunjuk/panduan sosialisasi program tidak sampai ke tingkat anggota kelompok tani, hanya terbatas kepada para ketua kelompok tani dan cenderung tidak simultan Tidak sosialisasi program, berkaitan juga dengan nilai gap yang negatif (-0,. pada atribut petani hadir dan aktif dalam sosialisasi program bantuan benih jagung hibrida. Aktivitas lain yang juga gapnya bernilai negatif 0,41 seperti musyawarah kelompok dalam penyusunan Rencana Usulan Kelompok (RUK) para anggota kelompok tani cenderung kurang aktif, hanya mengandalkan para pengurus kelompok tani. Selain itu dalam pembuatan RUK kurang dilakukan bimbingan oleh petugas dengan nilai gap -0,39. Gap dimensi process bernilai negatif yaitu -0,86. Hal ini sejalan dengan penelitian Shaleh et. yang menunjukkan nilai gap dimensi process bernilai negatif (-1,. pada kegiatan UPSUS kedelai. Nilai gap tertinggi pada dimensi ini adalah kesesuaian varietas benih dengan yang diinginkan petani . yaitu -2,07. Atribut tersebut sekaligus merupakan yang tertinggi dari keseluruhan atribut pada semua Tingginya gap pada atribut 11 ini disebabkan oleh varietas benih yang diterima petani tidak sesuai dengan yang diusulkan pada Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) yang di dalamnya memuat varietas benih. Preferensi petani di Kecamatan Nagreg menanam benih varietas NK, karena produktivitasnya relatif tinggi. Page 167 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. namun varietas benih bantuan yang diberikan pemerintah merupakan varietas lain yang tidak disukai petani. Atribut kesesuaian varietas benih menjadi hal yang paling krusial, karena varietas jagung yang ditanam petani sangat berpengaruh pada produktivitas yang dihasilkan. Selain itu, kedatangan benih kerap tidak tepat waktu atau terlambat . ilai gap 1,. , ketepatan waktu penanaman di lapangan yang sangat bergantung pada curah hujan. Hal ini sejalan dengan penelitian Mayrowani . dalam pengembangan jagung tidak tepat waktu. Nilai gap tingkat kecukupan benih dengan kebutuhan di lapangan . juga cukup besar yaitu -0,77, hal ini dikarenakan masih terdapat selisih antara jumlah penggunaan benih di lapangan dengan pengajuan kebutuhan benih. Realisasi penggunaan benih oleh petani di lapangan adalah rata-rata 12,48 kg per hektar, sedangkan sebanyak 15 kg per hektar. Kebutuhan benih jagung hibrida per hektar yang dianjurkan oleh Badan Litbang Pertanian yaitu 15-20 kg per Realisasi bantuan yang lebih kecil tersebut berdampak pada penerapan teknologi budidaya yang bantuan yang diperoleh. Pada atribut diberian . nilai gap bernilai negatif (-0,. , hal ini menurut petani responden jarang sekali ada kegiatan penyuluhan atau pelatihan yang diadakan oleh petani setempat. Sama halnya pada kegiatan pendistribusian dan pengecekan bantuan, serta monitoring dan evaluasi, semua responden bahwa masih belum optimalnya peran penyuluh dalam kegiatan-kegiatan tersebut. Nilai gap dimensi output bernilai negatif yaitu -0,93. Semua atribut pada dimensi ini bernilai negatif, dimana atribut adanya peningkatan merupakan yang tertinggi yaitu -1,18. Hal ini disebabkan karena produksi jagung yang dihasilkan mengalami penurunan cukup signifikan, dampak dari kualitas benih bantuan yang kurang baik . kuran biji tidak seragam, daya tumbuh rendah dan pertumbuhan tanaman tidak idea. Nilai gap atribut adanya peningkatan produktivitas juga bernilai cukup besar yaitu -0,82, hal ini menurut varieas jagung yang diberikan pemerintah dengan ususlan CPCL. Pencapaian produktivitas jagung yang belum optimal tersebut juga diduga berkaitan dengan rendahnya tingkat pendidikan petani responden yang mayoritas . ,53%) hanya lulusan SD, sehingga penerapan teknologi tidak berjalan optimal. Belum diindikasikan dengan nilai gap pada tercantum dalam RUK dilaksanakan . yang negatif cukup besar yaitu -1,02, hal ini dapat diduga bahwa pelaksanaan budidaya jagung di lapangan tidak sesuai dengan anjuran atau tidak optimal. Pada menggunakan faktor produksi tidak Page 168 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. optimal (Suminartika et. , 2. Nilai gap atribut adanya peningkatan program bantuan juga bernilai negatif (-1,. dikarenakan menurut petani bantuan pemerintah masih dirasakan kurang intensitasnya dan petani memiliki keterbatasan modal sehingga sulit meningkatkan indeks pertanaman dan skala usaha tani. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Mayrowani . yang menunjukkan bahwa bantuan pemerintah tidak meningkatkan luas tanam jagung. Nilai gap dimensi outcome bernilai negatif yaitu -0,45. Menurut petani responden walaupun terjadi peningkatan minat petani untuk berkelanjutan, namun selama ini bantuan tersebut masih belum sesuai kebutuhan/harapan Petani mengharapkan bahwa bantuan benih diterima tepat jenis, mutu dan waktu. Selain itu petani juga berharap pemerintah distribusi pupuk yang kerap terjadi kelangkaan saat dibutuhkan dan harganya cenderung tinggi. Nilai rata-rata keseluruhan dari semua dimensi baik itu input, process, ouput dan outcome adalah 0,70. Nilai gap tertinggi yaitu dimensi output sebesar -0,93 dan terendah ada pada dimensi outcome sebesar 0,45. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Shaleh et. yang menunjukkan bahwa dimensi output memiliki nilai gap tertinggi dalam program UPSUS Rata-rata nilai gap analisis yang negatif ini mengindikasikan bahwa bantuan benih yang diberikan oleh pemerintah masih belum sesuai dengan yang diharapkan petani. Terkait Parasuraman . jika hasil gap analysis bernilai kurang dari -1 sedangkan jika hasil kesenjangan bernilai lebih dari -1 berada dalam kategori tidak baik. Nilai -0,70 meski kurang dari -1, tetapi nilai -0,7 hampir mendekati nilai -1 atau berada pada zona AuwarningAy, sehingga kinerja pelaksanaan program bantuan benih jagung hibrida belum sepenuhnya Page 169 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Tabel 2. Ekspektasi Dan Persepsi Petani Terhadap Pelaksanaan Program Bantuan Benih Jagung Performance/Persepsi Importance/Ekspektasi Atribut Pertanyaan Dimensi Input: Ada penyampaian sosialisasi mengenai program bantuan benih jagung hibrida Ada petunjuk/panduan pelaksanaan bantuan benih jagung hibrida Petani hadir dan aktif dalam sosialisasi program bantuan benih jagung hibrida Pembuatan RUK dilakukan secara musyawarah dengan seluruh petani Pembuatan RUK dibimbing oleh petugas Rataan Skor Dimensi Input Frekuensi Total Skor Rataan Skor GAP P-I 3,64 0,82 3,34 0,85 3,82 0,41 3,97 0,41 3,82 0,39 0,58 4,34 3,78 0,56 4,38 3,78 0,53 4,21 4,01 0,19 4,27 3,66 0,62 4,49 3,73 0,77 4,71 2,64 2,07 4,64 3,40 1,25 0,86 Total Skor Rataan Skor GAP P-I Dimensi Process: Penyuluhan dan pelatihan bantuan diberikan Penyuluh pengecekan bantuan yang Penyuluh ikut serta dalam kepada kelompok tani Penyuluh evaluasi serta membantu penerima bantuan Tingkat kecukupan benih Kesesuaian varietas benih dengan yang diinginkan Ketepatan waktu datangnya Rataan Skor Dimensi Process Total Skor Rataan Skor Frekuensi 4,47 4,19 4,23 4,38 4,21 Performance/Persepsi Importance/Ekspektasi Atribut Pertanyaan Dimensi Output: Adanya mendapatkan bantuan benih jagung hibrida Adanya peningkatan luas tanam setelah mengikuti program bantuan Produktivitas peningkatan setelah adanya jagung hibrida Pendapatan meningkat setelah mengikuti jagung hibrida Usahatani jagung semakin bantuan jagung hibrida Semua RUK Rataan Skor Dimensi Output Frekuensi Dimensi Outcome: Minat menanam jagung meningkat setelah mengikuti program bantuan benih jagung hibrida Rataan Skor Dimensi Outcome Rataan Dimensi Keseluruhan Total Skor Rataan Skor Frekuensi 4,41 3,23 1,18 4,12 3,11 1,01 4,33 3,51 0,82 4,53 3,60 0,93 4,36 3,70 0,66 4,18 3,16 1,02 0,93 4,38 3,93 0,45 0,45 0,70 Sumber: Data primer diolah Page 170 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Analisis IPA Setelah diketahui nilai gap menggunakan analisis IPA untuk Berdasarkan diagram cartesius pada Gambar 2, dapat diuraikan sebagai berikut: Kuadran I Pada kuadran I terdapat tiga atribut yaitu: . Kesesuaian varietas benih dengan yang diinginkan petani . , . Ketepatan waktu datangnya benih . , dan . Adanya peningkatan produksi setelah mendapatkan bantuan benih jagung hibrida . Ketiga atribut tersebut berasal dari dua dimensi yaitu dimensi process yaitu atribut 11, dan atribut 12, dan pada dimensi output yaitu atribut 13. Tingkat kuadran I secara keseluruhan yaitu 67,37%, dimana pada gap analysis semua atribut pada kuadran I ini bernilai di atas rata-rata -0,70. Hal ini terjadi dikarenakan penyaluran benih tidak sesuai dengan yang diharapkan petani, seperti varietas benih yang disalurkan tidak sesuai dengan yang diusulkan, waktu datangnya benih tidak sesuai dengan jadwal tanam, dan tidak terjadi peningkatan produksi setelah mendapatkan bantuan benih jagung hibrida dari pemerintah. Menurut Mayrowani . , permasalahan teknis yang sering muncul dalam program bantuan pemerintah merupakan konsekuensi dari sistem bantuan yang diatur dari pusat atau bersifat top down. Permerintah perlu merubah pola ini menjadi pola moderat, dimana bantuan pemerintah idealnya sampai di tangan petani tepat pada saat dibutuhkan dan bersifat spesifik Hutagaol dan Hartoyo . , menyatakan bahwa program bantuan benih perlu dilanjutkan, karena telah mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani peserta program, namun disarankan agar paket teknologi . nput produks. tidak seragam dan disesuaikan dengan kondisi agroklimat. Elis beberapa upaya perbaikan dalam program bantuan benih kepada petani, antara lain: pemberian benih bantuan harus sesuai dengan jadwal tanam, jenis/varietas sesuai dengan kebutuhan petani, meningkatkan sosialisasi program serta adanya pembinaan dan pengawasan di Atribut pada kuadran I ini merupakan prioritas utama untuk dilakukan peningkatan atau perbaikan layanan, agar program bantuan dapat meningkatkan produktivitas usaha Kuadran II Terdapat enam atribut yang masuk ke dalam kuadran II yaitu: . Ada mengenai program bantuan benih jagung hibrida . , . Pembuatan RUK dilakukan secara musyawarah dengan seluruh petani . , . Penyuluh melakukan pengecekan bantuan yang diberikan . , . Tingkat kecukupan benih dengan kebutuhan di lapangan . , . Pendapatan petani meningkat setelah mengikuti program bantuan benih jagung hibrida . , dan . Minat petani dalam menanam jagung meningkat setelah mengikuti program bantuan benih jagung hibrida . Atribut- Page 171 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. atribut dalam kuadran ini perlu kinerja/performance I (Prioritas Pertam. i (Prioritas Renda. kinerjanya sudah dinilai baik oleh II (Prioritas Prestas. IV (Berlebiha. Gambar 2. Diagram kartesius kinerja bantuan benih jagung hibrida Kuadran i Terdapat empat atribut yang masuk kedalam kuadran i yaitu: . Ada petunjuk/panduan pelaksanaan bantuan benih jagung hibrida . , . Adanya peningkatan luas tanam setelah mengikuti program bantuan . , . Produktivitas adanya program bantuan benih jagung hibrida . , dan . Semua kegiatan yang tercantum dalam RUK dilaksanakan . Atribut-atribut pada kuadran ini bagi petani harapannya tidak terlalu tinggi, sehingga tidak diperlukan perhatian khusus untuk dilakukan Kuadran IV Terdapat enam atribut yang masuk kedalam kuadran IV yaitu: . Petani hadir dan aktif dalamjagung hibrida . , . Pembuatan RUK dibimbing oleh petugas . , . Penyuluhan diberikan . , . Penyuluh ikut serta dalam pendistribusian bantuan kepada kelompoktani/petani . , . Penyuluh sering mengadakan monitoring, evaluasi serta membantu bantuan . , dan . Usahatani jagung semakin berkembang setelah berjalannya program bantuan jagung hibrida . Page 172 of 175 Agus Gunawan. Efektivitas Pelaksanaan Program. Atribut-atribut pada kuadran ini menurut persepsi petani tidak perlu mendapat perhatian khusus untuk setiap atributnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil gap analysis rata-rata keseluruhan gap per dimensi memiliki nilai -0,70 atau kurang dari -1, tetapi nilai -0,7 hampir mendekati nilai -1 atau berada pada zona AuwarningAy, program bantuan benih jagung hibrida meningkatkan produktivitas usaha tani Berdasarkan hasil analisis IPA terdapat 3 atribut berada pada kuadran I, yaitu kesesuaian varietas benih dengan yang diinginkan petani . dan ketepatan waktu datangnya benih . yang berada pada dimensi process , serta satu atribut pada dimensi output yaitu adanya peningkatan produksi setelah mendapatkan bantuan benih jagung hibrida . Saran bagi pemerintah agar memperhatikan varietas benih yang produktivitasnya, memperhatikan time sehingga penyaluran benih bisa tepat pengawasan di lapangan serta menerapkan sanksi yang tegas jika DAFTAR PUSTAKA