Proceedings Series on Physical & Formal Sciences. Volume 5 Prosiding Seminar Nasional Fakultas Pertanian dan Perikanan ISSN: 2808-7046 Potensi Cadangan Pangan Pokok Masyarakat di Kabupaten Banyumas Wahyu Adhi Saputro1. Indrawan Firdauzi2. Fitri Amalinda Harahap3 Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian. Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis. Universitas Jenderal Soedirman ARTICLE INFO Article history: DOI: 30595/pspfs. Submited: 05 Mei, 2023 Accepted: 21 Mei, 2023 Published: 04 Agustus, 2023 Keywords: Banyumas. Beras. Padi. Pangan ABSTRACT Beras masih menjadi primadona sebagai pangan pokok masyarakat di Indonesia. Kondisi demikian menyebabkan setiap daerah harus mampu menyediakan pangan yang cukup bagi penduduknya khususnya masalah produksi padi. Jawa tengah memiliki produksi cukup tinggi terutama di Kabupaten Banyumas yang memiliki kontribusi dengan catatan produktivitas padi mencapai 56,31 kuintal/hektar. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi cadangan pangan pokok masyarakat di Kabupaten Banyumas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber pada Badan Pusat Statistik. Data yang digunakan adalah data time series dari tahun 2018 hingga tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rerata produksi padi di Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu lima tahun terakhir tercatat 375. 521 ton padi atau setara dengan 034 ton beras. Rerata konsumsi beras masyarakat di Kabupaten Banyumas relatif dengan catatan 1,56 kilogram per minggunya. Jika dilihat rerata jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas sebesar 1. 400 jiwa maka daerah ini masih mengalami surplus pangan pokok sebesar 53. ton beras. Tingginya konsumsi beras di Kabupaten Banyumas selaras dengan tingginya kontribusi beras dalam ketahanan pangan individu sehingga perlu adanya diversifikasi pangan selain beras. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Corresponding Author: Wahyu Adhi Saputro Universitas Jenderal Soedirman Email: wahyu. adhi@unsoed. PENDAHULUAN Peran penting masih diemban oleh sektor pertanian hingga saat ini. Kondisi demikian nantinya juga akan berpengaruh pada pemerataan pembangunan ekonomi yang ada di setiap wilayah di Indonesia. Hal ini didukung karena banyaknya daerah di Indonesia yang masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor Sektor pertanian yang maju tentunya selaras dengan ketersediaan bahan pangan sehingga pemenuhan pangan bagi masyarakat menjadi penting. Pangan pokok di Indonesia masih di dominasi oleh beras sehingga pemenuhan terhadap pangan menjadi hak asasi setiap manusia dan tertuang pada pasal 27 UUD 1945. Tidak heran jika sebagian beras masyarakat masih mengandalkan beras sebagai asupan pangan utamanya (Saputro dkk, 2. Apabila pangan tidak terpenuhi maka akan berimbas pada isu ekonomi dan dikhawatirkan meluas hingga isu politik dan sosial. Antisipasi terhadap kegagalan produksi juga menjadi langkah penting yang harus dilakukan Indonesia untuk mengontrol harga dan ketersediaan beras di pasar sehingga meminimalisir gejolak yang terjadi. Agenda ini menjadi penting bagi pemerintah pusat, daerah dan stakeholders untuk menjaga stabilitas nasional (Satriani dkk, 2. Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Pewujudan stabilitas pangan dalam pemaksimalan ketahanan pangan dapat dilakukan dengan menyediakan pangan yang cukup dan terjamin di setiap wilayah. Hal ini tentunya harus dilandasi kemampuan sumber daya pangan di setiap wilayah. Sumber daya pangan yang ada di setiap wilayah dengan menghasilkan komoditas pangan harus bisa mengutamakan kebutuhan domestik wilayah serta menjual ke wilayah sekitar. Nyatanya konsumsi pangan dari tahun ke tahun semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang terjadi. Ketergantungan terhadap beras sebagai pangan utama hampir mencapai 100 persen sehinga pola pangan ini harus diimbangi dengan kebijakan yang mengaturnya agar pola pangan tunggal beras ini tidak memberatkan pemerintah baik daerah maupun pusat dalam penyediaan pangannya (Utami dan Budiningsih, 2. Komoditas padi yang ditanam oleh petani terbagi menjadi dua bagian yaitu padi ladang dan padi sawah. Padi sawah merupakan padi yang dibudidayakan di lahan sawah seperti padi rembesan, padi rendengan, padi lebak dan lainnya sedangkan padi ladang merupakan padi dengan lahan budidaya berupa tegal, kebun maupun Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Destiningsih . terdapat 19 kecamatan di Kabupaten Banyumas yang memiliki keunggulan dalam membudidayakan komditas padi sawah dalam kurun waktu 2008 hingga tahun 2014. Hal ini dapat terlihat dari nilai indikator SLQ yang lebih besar dari 1. Pertumbuhan produksi hingga tahun 2012 cenderung meningkat. Penduduk Indonesia mayoritas atau sebagian besar mengonsumsi beras sebagai pangan utama. Langkah diversifikasi sebenarnya sudah banyak dilakukan namun nyatanya nasi masih sulit tergantikan. Konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai 1,4 kilogram perkapita di setiap minggunya pada tahun 2018. Catatan ini kemudian naik di tahun 2021 dengan konsumsi beras mencapai 1,45 kilogram di setiap minggunya (BPS, 2. Untungnya Indonesia hingga saat ini masih tercatat sebagai negara dengan produksi cukup tinggi di Asia Tenggara sebesar 34,6 juta ton (BPS, 2. Perolehan ini menempatkan Indonesia pada peringkat empat produsen beras di dunia menurut United States Department of Agriculture . Pertimbangan nilai inilah yang mengharuskan produksi padi harus tetap stabil bahkan meningkat demi memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam negeri. Langkah strategis juga diterapkan untuk menjaga stabilitas dengan berbagai macam teknologi budidaya tepat guna. Produksi padi di Kabupaten Banyumas juga memiliki kontribusi yang cukup baik dengan produktivitas padi mencapai 56,31 kuintal/hektar. Hasil produksi padi kemudian diolah menjadi beras dan dipasarkan kepada masyarakt dengan diperjual belikan di beberapa ritel modern di Kabupaten Banyumas (Arimurti dkk, 2. Berdasarkan uraian yang telah disebutkan maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi cadangan pangan pokok masyarakat di Kabupaten Banyumas. METODE PENELITIAN Kabupaten Banyumas merupakan salah satu wilayah di Jawa Tengah yang memiliki catatan produksi padi yang cukup baik. Perolehan produksi padi Kabupaten Banyumas dalam kurun lima tahun terakhir mencapai lebih dari 300 ton setiap tahunnya. Perolehan catatan tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan domestik maupun wilayah sekitarnya jika mengalami surplus. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive mengingat capaian produksi padi Kabupaten Banyumas cukup besar. Metode deskriptif analitik digunakan dengna dukungan data sekunder yang bersumber pada Badan Pusat Statistika Kabupaten Banyumas. Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber pada tahun 2018 hingga tahun 2022. Data jumlah produksi padi pada wilayah yang diteliti yang sudah diketahui kemudian dikonversikan ke dalam satuan beras terlebih Angka konversi beras dapat dilakukan dengan mengalikan produksi padi netto dengan 0,632 namun terlebih dahulu produksi padi dicari dalam netto dengan mengalikan produksi padi dengan nilai konversi padi netto sebesar 0,826 (Purnomo dkk, 2. Pengurangan nilai produksi padi yang telah dikonversi menjadi beras dengan kebutuhan konsumsi masyarakat domestik akan menghasilkan nilai cadangan pangan. Nilai konsumsi harus diketahui terlebih dahulu dengan mengalikan konsumsi perkapita dengan jumlah kapita atau penduduk yang ada di Kabupaten Banyumas. Keseluruhan komponen yang telah ada nantinya akan dikurangkan sehingga didapatkan angka cadangan pangan beras secara tepat (Anggrasari dan Saputro, 2. Berikut ini rumus matematis untuk menghitung cadangan pangan (Suroso, 2. PCP = Rnet Ae Kkr Keterangan: PCP = potensi cadangan pangan Rnet = produksi neto beras Kkr = konsumsi komulatif beras HASIL DAN PEMBAHASAN Padi masih menjadi tanaman utama yang dibudidayakan petani. Hal ini juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Produksi padi yang dihasilkan oleh petani di Kabupaten Banyumas nantinya akan digiling menjadi beras dan berakhir menjadi konsumsi masyarakat. Beras juga masih menjadi primadona masyarakat terutama Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 dalam pemenuhan kebutuhan pangan sehari-hari. Produksi padi dan konversinya di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Produksi Padi dan Konversi Menjadi Beras Kabupaten Banyumas Produksi Konversi Produksi Konversi Produksi (To. Netto Padi Netto Beras Beras (To. 0,826 0,632 0,826 0,632 0,826 0,632 0,826 0,632 0,826 0,632 Rerata Sumber: Data BPS Diolah . Tahun Produksi Beras (K. Berdasarkan tabel 1 mengenai produksi padi di Kabupaten Banyumas mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pencapaian produksi tertinggi berada pada tahun 2018 dengan produksi lebih dari 400 ribu ton padi. Penurunan cukup derastis terjadi pada tahun 2018 menuju tahun 2019 dengan penurunan produksi padi sebesar 097 ton dengan persentase penurunan sebesar 9. Pada tahun selanjutnya yaitu tahun 2020 produksi padi Kabupaten Banyumas mengalami kenaikan sebesar 20. 871 ton padi atau sebesar presentase 5,6%. Penurunan produksi padi terjadi dari tahun 2020 hingga tahun 2022 dikarenakan banyak sebab seperti penurunan luas panen, kegagalan panen akibat perubahan iklim serta hama penyakit tanaman serta sebab lainnya. Rerata produksi padi Kabupaten Banyumas dari tahun 2018 hingga tahun 2022 mencapai 375. 521 ton padi. Tabel 1 juga menunjukkan perolehan produksi beras yang dihasilkan oleh Kabupaten Banyumas. Perolehan produksi beras didapatkan dengan mengalikan nilai konversi padi . abah kering pane. menjadi gabah kering giling kemudian menjadi beras. Nilai konversi netto padi sebesar 0,826 sedangkan nilai konversi beras setara dengan nilai 0,632. Produksi padi netto Kabupaten Banyumas dari tahun ke tahun mengalami fluktuasi yang hampir sama dengan produksi padi. Perolehan produksi padi netto dari tahun 2018 hingga tahun 2021 memiliki produksi padi netto lebih dari 300 ribu ton sedangkan tahun 2022 produksi padi netto mengalami penurunan menjadi 275. 623 ton padi netto. Produksi beras yang dihasilkan oleh Kabupaten Banyumas memiliki perolehan yang berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pencapaian tertinggi produksi beras berada pada tahun 2018 mencapai 213 ribu ton lebih beras diikuti pencapaian tertinggi kedua pada tahun 2020 yang mencapai perolehan beras lebih dari 203 ribu ton beras. Rerata perolehan produksi beras di Kabupaten Banyumas dalam kurun lima tahun terakhir mencapai 196. 034 ton beras. Produksi padi dan konversinya menjadi beras yang dihasilkan oleh Kabupaten Banyumas tentunya tidak lepas dari seberapa besar luas panen padi yang dihasilkan pada wilayah yang dimaksud. Berikut ini adalah gambar mengenai perkembangan luas panen padi yang terjadi di Kabupaten Banyumas. Gambar 1. Luas Panen Padi Kabupaten Banyumas Dalam Hektar Sumber: Data BPS Diolah . Berdasarkan gambar 1 dapat diketahui seberapa besar luas panen padi Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Luas panen tertinggi berada pada tahun 2018 yang mencapai 70 ribu hektar Catatan ini mengalami penurunan pada tahun 2019 sebesar 8,7%. Luas panen yang terjadi pada tahun Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 2020 masih mengalami penurunan namun tidak terlalu signifikan atau terpaut selisih 506 hektar padi yang Luas panen padi di Kabupaten Banyumas mengalami peningkatan kembali di tahun 2021 sebanyak 451 hektar namun mengalami penurunan kembali secara cukup signfikan pada tahun 2022 sebesar 5,3%. Berbagai macam hal yang mempengaruhi penurunan luas panen yang terjadi di Kabupaten Banyumas, beberapa diantaranya karena beberapa daerah yang mengalami kegagalan panen serta indeks pertanaman padi yang turun di beberapa daerah. Pentingnya mengetahui luas panen adalah untuk mengetahui keselarasan produksi dengan luas lahan padi yang dipanen sehingga produksi beras yang dihasilkan dari padi dapat mencukupi untuk kebutuhan domestik terlebih dahulu. Kebutuhan beras secara domestik tentunya akan berhubungan dengan banyaknya jumlah kapita yang dimiliki pada suatu wilayah tertentu dalam hal ini Kabupaten Banyumas yang dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 2. Jumlah Kapita Penduduk Kabupaten Banyumas Sumber: Data BPS Diolah . Berdasarkan gambar 2 mengenai perkembangan jumlah kapita penduduk yang ada di Kabupaten Banyumas dapat terlihat perkembangan dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Peningkatan jumlah kapita yang terjadi antara tahun 2018 ke tahun 2019 sebesar 0,9%. Laju pertumbuhan jumlah kapita pada tahun 2020 cukup signifikan jika dibandingkan pada tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan pada tahun ini mencapai Pertumbuhan jumlah kapita penduduk masih terjadi di tahun 2021 dan tahun 2022 dengan capaian 3,54% dan 3,99%. Laju pertumbuhan penduduk yang terjadi di Kabupaten Banyumas ini bernilai positif sehingga akan terjadi peningkatan di setiap tahunnya. Perlu adanya kesiapan di sektor pertanian selaku penyedia bahan pangan untuk melakukan pemenuhan kebutuhan pangan wilayah Banyumas. Kebutuhan pangan terutama beras harus disesuaikan dengan konsumsi beras yang dilakukan oleh komponen masyarakat di Banyumas yang terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 2. Kebutuhan Beras Kabupaten Banyumas Tahun Jumlah Penduduk Konsumsi Beras Konsumsi Beras (Jiw. Perminggu (K. Pertahun (K. 1,505 78,26 1,504 78,21 1,551 80,65 1,565 81,38 1,668 86,74 Rerata 1,559 81,05 Sumber: Data BPS Diolah . Kebutuhan Beras Banyumas (K. Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui perkembangan jumlah penduduk dalam satuan jiwa di Kabupaten Banyumas lima tahun terakhir. Pertumbuhan penduduk selalu meningkat dari tahun ke tahun hingga tahun 2022 mencapai lebih dari 1,8 juta penduduk. Peningkatan jumlah penduduk dari tahun 2018 ke tahun 2019 mencapai 2,45% sedangkan pertumbuhan penduduk di tahun selanjutnya yaitu tahun 2020 mencapai 3,29%. Terdapat selisih 0,84% yang menandakan bahwa laju pertumbuhan jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas masih dalam kondisi yang bertambah hingga tahun 2020. Kondisi demikian juga masih berlanjut hingga tahun 2022. Rerata jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu lima tahun terakhir mencapai lebih dari Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 1,7 juta penduduk. Beras masih menjadi komponen pangan utama masyarakat sehingga perlu diketahui seberapa besar jumlah konsumsi beras mingguan setiap jumlah penduduknya. Konsumsi beras di setiap minggunya juga bervariasi dari tahun ke tahun. Rerata konsumsi mingguan terhadap beras mencapai 1,559 kilogram beras. Konsumsi beras mingguan tertinggi terjadi pada tahun 2022 dengan capaian konsumsi lebih dari 1,6 kilogram beras di setiap minggunya. Hal ini juga berlaku terhadap konsumsi beras setiap tahunnya yang dilakukan oleh penduduk di Kabupaten Banyumas. Dalam kurun lima tahun terakhir konsumsi beras setiap tahunnya mencapai 81,05 kilogram beras. Konsumsi beras pertahun tertinggi terjadi pada tahun 2022 yang mencapai 86,74 kilogram Jumlah konsumsi inilah yang menjadi patokan pangan yang harus disediakan oleh wilayah Banyumas agar tidak terjadi defisit pangan terutama untuk beras. Tabel 2 juga memberikan gambaran mengenai seberapa besar konsumsi beras yang dibutuhkan di Kabupaten Banyumas. Peningkatan jumlah kebutuhan beras terjadi dari tahun ke tahun hingga tahun 2022. Kebutuhan beras tertinggi terjadi pada tahun 2022 mencapai lebih dari 157 ribu ton beras. Hal ini selaras dengan jumlah penduduk yang besar pada tahun tersebut. Peningkatan kebutuhan beras yang terjadi pada tahun 2019 mencapai 2,38% dan kemudian meningkat di tahun sebelumnya hingga 6,52%. Peningkatan kebutuhan beras juga terjadi pada tahun 2021 sebesar 1,62%. Peningkatan yang terjadi diikuti dengan tahun 2022 dengan capaian peningkatan sebesar 7,86%. Rerata kebutuhan beras yang terjadi di Kabupaten Banyumas dalam kurun lima tahun terakhir mencapai lebih dari 142 ribu ton beras. Cadangan pangan dapat diketahui dengan melihat apakah terjadi surplus atau defisit dari produksi padi yang telah dikonversi menjadi beras dengan jumlah kebutuhan beras setiap tahunnya. Cadangan pangan yang terjadi di Kabupaten Banyumas dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 3. Cadangan Pangan Kabupaten Banyumas Tahun Produksi Beras Konsumsi Beras Rerata Sumber: Data BPS Diolah . Cadangan Pangan Berdasarkan tabel 3 mengenai cadangan pangan yang terjadi di Kabupaten Banyumas dapat diketahui bahwa rerata cadangan pangan beras yang terjadi dalam lima tahun terakhir mencapai lebih dari 50 ribu ton beras tepatnya pada capaian 53. 370 kilogram beras. Perlu diketahui bahwa terjadi penurunan cadangan pangan dari tahun ketahun. Penurunan dari tahun 2018 ke tahun 2019 mencapai persentase sebesar 29%. Penurunan cadangan pangan secara ekstrim terjadi pada tahun 2022 mencapai persentase sebesar 66%. Penurunan cadangan pangan beras yang terjadi dari tahun ke tahun selaras dengan kenaikan konsumsi beras masyarakat yang terjadi. Perlu adanya keseimbangan antara produksi dengan konsumsi yang terjadi sehingga cadangan pangan yang dihasilkan bisa lebih optimal. Penurunan cadangan pangan beras yang terjadi juga mengansumsikan bahwa beras hingga kini masih menjadi pangan pokok utama masyarakat di Kabupaten Banyumas. Perlu adanya diversifikasi pangan yang dilakukan masyarakat agar pangan tidak hanya bersumber dari beras saja. Atas dasar pemenuhan pangan masyarakat di Kabupaten Banyumas yang belum bervariasi maka muncul Peraturan Bupati Banyumas Nomor 32 Tahun 2022. Peraturan tersebut mengenai diversifikasi pangan yang harusnya mulai dilakukan oleh masyarakat dengan menggunakan pangan lokal sehingga asupan pangan dapat beragam, bergizi dan seimbang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rerata produksi padi di Kabupaten Banyumas dalam kurun waktu lima tahun terakhir tercatat 375. 521 ton padi atau setara dengan 196. 034 ton beras. Produksi padi dan konversinya terhadap beras mengalami fluktuasi dalam lima tahun terakhir. Penurunan produksi terjadi pada tahun 2018 ke tahun 2019 dan mengalami peningkatan pada tahun 2020, namun kembali terjadi penurunan kembali hingga tahun 2022. Rerata konsumsi beras masyarakat di Kabupaten Banyumas relatif dengan catatan 1,56 kilogram per minggunya. Rerata konsumsi beras masyarakat di Kabupaten Banyumas di setiap tahunnya mencapai 81,05 kilogram. Jika dilihat rerata jumlah penduduk di Kabupaten Banyumas sebesar 1. 400 jiwa maka daerah ini masih mengalami surplus pangan pokok sebesar 53. 637 ton beras. Cadangan pangan dari tahun ke tahun mengalami penurunan yang menandakan bahwa ketergantungan pangan masyarakat terhadap beras cukup tinggi namun tidak diiringi dengan peningkatan produksinya. Tingginya konsumsi beras di Kabupaten Proceedings homepage: https://conferenceproceedings. id/index. php/pspfs/issue/view/23 ISSN: 2808-7046 Banyumas selaras dengan tingginya kontribusi beras dalam ketahanan pangan individu sehingga perlu adanya diversifikasi pangan selain beras. UCAPAN TERIMA KASIH Pertama penulis ingin mengucapkan terimakasih banyak pada Universitas Jenderal Soedirman yang telah memfasilitasi tim peneliti dengan memberikan hibah dana riset peningkatan kompetensi. Tak lupa penulis juga mengucapkan terimakasih pada LPPM Universitas Jenderal Soedirman yang telah memberikan izin Ucapan banyak terimakasih juga tim peneliti haturkan kepada seluruh pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu dan membantu banyak dalam penelitian yang tim lakukan. DAFTAR PUSTAKA