Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Halaman jurnal di https://journal. id/skenoo Kajian Kristologis Lukas Pasal 7: Dimensi Keilahian Yesus dan Implikasinya bagi Iman Kristen Kasieli Zebua Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia Surabaya email: kasieli. zebua@sttia. INFO ARTIKEL Sejarah artikel: Dikirim 22 September 2024 Direvisi 16 April 2025 Diterima 15 Mei 2025 Terbit 30 Juni 2025 Kata kunci: Kristologi Lukas pasal 7 Keilahian Yesus Iman Kristen Keywords: Christology Luke Chapter 7 Divinity of Jesus Christian Faith ABSTRAK Sikap skeptis pada keilahian Kristus terus berkembang hingga saat ini. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji aspek-aspek Kristologis dalam Injil Lukas pasal 7, dengan fokus pada pemahaman tentang Keilahian Yesus dan implikasinya bagi iman Kristen. Lukas pasal 7 menyajikan narasi-narasi kunci yang memperlihatkan keilahian Yesus melalui tindakan, pengajaran, dan interaksi-Nya dengan berbagai Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis naratif yakni tafsir terhadap Lukas 7, akan mengidentifikasi tema-tema teologis yang menunjukkan otoritas Yesus sebagai Mesias. Anak Allah. Hasil penemuan penelitian ini dari peristiwa-peristiwa penting seperti penyembuhan, pengampunan dosa, dan pengajaranNya, menyatakan keilahian dan ketuhanan Yesus. Temuan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana Kristologi dalam Lukas pasal 7 relevan dalam konteks masa kini dan berdampak pada penguatan iman pengikut Kristus. ABSTRACT Skepticism regarding Christ's divinity continues to grow today. Therefore, this research aims to examine Christological aspects in the Gospel of Luke chapter 7, with a focus on understanding the divinity of Jesus and its implications for the Christian faith. Luke chapter 7 presents key narratives that demonstrate Jesus' divinity through His actions, teachings, and interactions with various Through descriptive qualitative methods with a narrative analysis approach, namely an interpretive to Luke 7, we will identify theological themes that show the authority of Jesus as the Messiah. Son of God. The results of research findings from important events such as healing, forgiveness of sins, and His teaching, reveal the divinity and divinity of Jesus. These findings are expected to provide a more comprehensive understanding of how Christology in Luke chapter 7 is relevant in the current context and has an impact on strengthening the faith of Christ's followers. PENDAHULUAN Kristologi, sebagai cabang teologi yang mempelajari tentang pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus, memiliki peranan penting dalam pemahaman iman Kristen. Dalam Kitab Lukas, khususnya pada pasal 7, terdapat berbagai peristiwa dan pengajaran yang menggambarkan dimensi keilahian Yesus dan bagaimana hal ini berhubungan dengan kehidupan-Nya di dunia. Lukas menunjukkan Yesus tidak hanya sebagai seorang guru atau nabi, tetapi juga sebagai sosok ilahi yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan, 36 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. mengampuni dosa, dan menawarkan keselamatan. Melalui narasi-narasi yang terdapat dalam pasal ini, pembaca diajak untuk merenungkan identitas Yesus dan konsekuensi dari keyakinan bahwa Ia adalah Mesias. Menemukan kebenaran tentang Tuhan Yesus di Alkitab adalah hal yang sangat luar biasa, karena pribadi yang diceritakan memiliki keunikan yang sangat istimewa. Banyak hal yang dicatat mengenai apa yang telah dilakukan Tuhan Yesus selama Ia berada di dunia untuk menjalankan misi penyelamatan, baik bagi bangsa Israel maupun bagi non-Israel. 1 Alkitab menjelaskan posisi Tuhan Yesus bagi orang-orang Kristen dengan jelas. 2 Kedatangan Yesus ke dunia merupakan pernyataan wahyu Allah kepada seluruh umat manusia. Namun demikian, ketidakpercayaan terhadap keilahian Kristus saat ini muncul sebagai tantangan teologis yang signifikan, terutama di tengah perkembangan pemikiran rasionalisme dan skeptisisme di masyarakat. 4 Banyak orang meragukan klaim bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan yang berkuasa, dengan alasan bahwa pemahaman ini dianggap tidak logis atau bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmiah. Dalam banyak konteks, pemikiran modern yang menekankan bukti empiris sering kali menciptakan keraguan mengenai kisah-kisah keajaiban dan keilahian Kristus. Wijaya menyampaikan bahwa ketidakpercayaan ini tidak hanya berakar pada kurangnya pemahaman tentang teologi Kristen, tetapi juga pada pandangan dunia yang lebih luas yang mengedepankan materialisme dan naturalisme. Secara praktis, ketidakpercayaan ini mengakibatkan dampak yang nyata dalam kehidupan iman di kalangan orang Kristen. Banyak orang yang menyatakan diri sebagai pengikut Kristus mengalami kesulitan dalam mengintegrasikan kepercayaan mereka terhadap keilahian Yesus ke dalam kehidupan sehari-hari. Gulo dan Harefa menyampaikan bahwa tidak sedikit orang Kristen mengalami keraguan akan kekuatan doa, kurangnya pengharapan akan intervensi ilahi dalam situasi sulit, serta penurunan semangat dalam berbagi iman dengan orang lain. 6 Selain itu, tantangan ini dapat memunculkan pemahaman yang lebih sekuler dan kondisional terhadap iman, di mana Yesus dipandang bukan sebagai Tuhan yang berkuasa, tetapi lebih sebagai seorang guru moral atau teladan hidup. 7 Oleh karena itu, penguatan pemahaman akan keilahian Kristus sangat penting untuk membantu orang Kristen mengatasi keraguan ini dan membangun fondasi iman yang teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan zaman. 1 Edi Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang PercayaAy (STT Tabernakel Indonesia. Surabaya, 2. 2 C. Groenen. Pustaka Teologi Sejarah Dogma Kristologi (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 25. 3 Nico Syukur Dister. Teologi Sistematika - Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 42. 4 Yakobus Adi Saingo. AuTinjauan Apologetis-Teologis Terhadap Skeptisisme Ke-Tuhan-an Yesus Menurut Kitab Injil,Ay Jurnal Luxnos 8, no. : 175. 5 Elkana Chrisna Wijaya. AuDistorsi Teologis Terhadap Inkarnasi Kristus Di Dalam Teori Limitasi,Ay PASCA : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 16, no. : 143. 6 Rezeki Putra Gulo and Agus Mawarni Harefa. AuProblematika Orang Kristen Masa Kini Dalam Bingkai Pelayanan Pastoral Konseling,Ay Jurnal Pendidikan Agama dan Teologi 1, no. : 95. 7 Nursenta Dahliana Purba. AuKeillahian Yesus Kristus,Ay Journal Kerusso 1, no. : 15. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 37 Beberapa penelitian sebelumnya yang mengkaji Lukas 7, seperti yang dilakukan oleh Taruna dan Dirgaprimawan dengan judul AuIman Pribadi dan Komunal: Sebuah Tinjauan Teologis atas Teks Lukas 7:1-10Ay menyimpulkan pentingnya iman kepada Kristus. 8 Juga Hia menemukan pentingnya iman dalam pengampunan dosa melalui penelitian dengan judul AuKajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih di dalam Perumpamaan Dua Orang yang Berhutang berdasarkan Lukas 7:40-43Ay. 9 Sedangkan dalam kajian ini peneliti bertujuan untuk mengeksplorasi dimensi keilahian Yesus yang terungkap dalam Lukas pasal 7, serta implikasinya terhadap pemahaman dan penerapan iman Kristen dalam konteks iman Kristen masa kini. Melalui analisis yang mendalam terhadap teks, diharapkan pembaca dapat lebih memahami bagaimana pengajaran dan tindakan Yesus dalam pasal ini membentuk fondasi iman yang berkelanjutan bagi umat percaya. METODE Metode penulisan kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis naratif yakni pendekatan tafsir yang dilakukan dengan menganalisis cerita dalam perikop tertentu. Dalam pendekatan ini, teks Alkitab dipahami sebagai sebuah cerita yang utuh. 10 Analisis naratif dilakukan untuk mengidentifikasi struktur, karakter, dan plot cerita, yang kemudian ditafsirkan untuk memahami makna spiritual dan teologis yang lebih mendalam. 11 Analisis naratif memberikan cara untuk memahami dan menyampaikan pesan Alkitab yang sejalan dengan bentuk kisah dan kesaksian pribadi, yang merupakan karakteristik khas dari Alkitab. 12 Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang pesan yang ingin disampaikan oleh Lukas 7 melalui analisis yang sistematis dan kontekstual. Tujuan utama dari metode ini adalah untuk menemukan sisi keilahian Yesus dari beberapa perikop dalam Lukas 7 tanpa perlu menyelidiki sejarah pembentukan perikopperikop itu. Selanjutnya peneliti mengeksplorasi berbagai interpretasi yang muncul dari pemahaman yang berbeda tentang kasih, kuasa, belas kasihan, dan pengampunan dalam setiap narasi. Proses interpretasi ini melibatkan siklus refleksi dalam konteks teks Lukas 7 dengan menggunakan berbagai referensi buku maupun jurnal, sehingga memungkinkan munculnya pemahaman yang lebih kaya dan mendalam tentang keilahian Yesus. Metode ini 8 Rizerius Bintang Taruna and Bernadus Dirgaprimawan. AuIman Pribadi Dan Komunal: Sebuah Tinjauan Teologis Atas Teks Lukas 7:1-10,Ay Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology 1, no. : 116Ae130. 9 Maritaisi Hia. AuKajian Eksegetikal Konsep Pengampunan Dan Kasih Di Dalam Perumpamaan Dua Orang Yang Berhutang Berdasarkan Lukas 7:40-43. ,Ay Jurnal Salvation 3 . 10 P. Didi Tarmendi. Analisis Naratif: Sebuah Metode Hermeneutika Kristiani Kitab Suci (Yogyakarta: Kanisius, 2. , 332 . 11 Petrus Alexander and Didi Tarmedi. AuAnalisis Naratif: Sebuah Metode Kristiani Hermeneutika Kitab Suci,Ay Melintas 29, no. : 332. 12 Ibid. 38 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman teologis dan praktis dalam kehidupan beriman umat Kristen. HASIL DAN PEMBAHASAN Yesus Menyembuhkan dan Membangkitkan: Menyatakan Keilahian-Nya Sebelum membahas keilahian Yesus dari sudut pandang Injil Lukas pasal 7 dan menjelaskan implikasinya bagi iman orang percaya, peneliti terlebih dahulu akan menjelaskan tentang kisah-kisah yang ada di Lukas pasal tujuh. Penjelasan ini diperuntukkan supaya pembaca dapat mengerti kronologi kisah yang ada di Lukas pasal 7 dan juga dapat mengerti dengan jelas apa yang Yesus lakukan selama Ia melayani. Dalam Lukas 7:1-10, pembaca akan melihat kisah tentang seorang hamba perwira Kapernaum yang telah disembuhkan oleh Yesus. Jika diperhatikan bahwa kisah ini terdapat juga dalam Matius 8:5-13. Sekalipun Lukas dan Matius menulis tentang kisah yang sama, namun sedikit perbedaan di dalamnya. Dalam Injil Matius dikatakan bahwa perwira ini datang menjumpai Yesus, tetapi dalam Injil Lukas beberapa orang tua-tua Yahudi yang datang kepada-Nya. Meskipun demikian hal ini bukanlah fokus dalam penelitian ini, sebab telah dibahas dan dijelaskan dalam pedoman penafsiran Alkitab oleh Saffer. Dalam Lukas 7:1-5 dijelaskan bahwa setelah Yesus berbicara dengan orang banyak. Ia masuk ke Kapernaum. Kapernaum sendiri terletak di pantai barat-laut Danau Genesaret. sana ada seorang Perwira Romawi yang juga adalah kepala pasukan tentara sewaan raja Herodes yang mempunyai seorang hamba. 16 Diceritakan bahwa hamba ini sedang sakit keras dan hampir mati. Injil Matius menyampaikan bahwa penyakit yang dideritanya ialah sakit lumpuh (Matius 8:. Setelah perwira mendengar tentang kedatangan Yesus, ia mengajukan permohonan kepada-Nya melalui beberapa orang tua-tua Yahudi. Bagi perwira ini. Yesus tidak sekedar seorang tabib tetapi lebih dari itu. Yesus seorang yang berpengaruh dan memiliki kuasa supranatural. Tua-tua Yahudi yang menjadi pengantara bagi perwira itu datang kepada Yesus dan meminta pertolongan-Nya. Untuk meyakinkan Yesus agar datang dan mengabulkan permintaan perwira tersebut, para tua-tua Yahudi menjelaskan kepada Yesus bahwa perwira ini adalah orang yang sangat baik. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami"(Luk. 7:4-. Setelah mendengar hal 13 B. Bolang. Tafsiran Lukas Jilid I . :9-. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 147. 14 Matthew Henry. Tafsiran Injil Lukas 1-12 (Surabaya: Momentum, 2. , 242. 15 Jack Russel Shaffer. AuA Harmonzation of Matt 8:5-13 and Luke 7:1-10,Ay MasterAos Seminary Journal Vol. 17 No . , 39. 16 J. Douglas & N. Hilyer. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid 1 (A-L) (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. , 422. 17 Rizerius Bintang Taruna & Bernadus Dirgaprimawan. AuIman Pribadi Dan Komunal: Sebuah Tinjauan Teologis Atas Teks Lukas 7:1-10,Ay Proceedings of The National Conference on Indonesian Philosophy and Theology 1, no. : 122. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 39 ini. Yesus pun pergi bersama-sama dengan mereka untuk menemui perwira tersebut. Akan tetapi perwira ini menganggap dirinya tidak layak untuk dikunjungi oleh Tuhan Yesus. Melihat iman dan pengakuannya atas otoritas yang dimiliki oleh Yesus, kuasa dan mujizatpun terjadi, hambanya disembuhkan. Kuasa kesembuhan yang terjadi secara ajaib atas atas hamba perwira ini menyatakan keilahian Yesus. Manurung menyampikan bahwa mujizat kesembuhkan yang dikerjakan oleh Yesus membuktikan keilahian-Nya. 18 Senada dengan ini. Darmawijaya menyampaikan bahwa di sini kuasa keilahian Yesus dinyatakan melalui kuasa penyembuhan dengan cara yang ajaib dan luar biasa. Ia adalah seorang tabib yang ajaib bagi mereka yang membutuhkan 19 Di sisi lain. Yesus juga menyatakan diri sebagai Tuhan dari segala bangsa dan tidak hanya menjadi Tuhan bagi orang Yahudi saja. Dapat dilihat bahwa Allah tidak pandang bulu kepada siapapun. Setiap orang yang percaya kepada-Nya bisa memperoleh anugerahNya. Anugerah dari Yesus itu menyatakan kekuasaan-Nya sungguh sempurna. Ia tidak hanya dapat menaklukan penyakit, tapi dapat menaklukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Kemudian. Yesus membangkitkan anak muda di Nain, seperti yang dicatat dalam Lukas 7:11-18. Tindakan ini tidak hanya menunjukkan kuasa-Nya atas kematian, tetapi juga mencerminkan sifat-Nya yang penuh belas kasihan. 21 Dalam konteks cerita. Yesus yang sedang dalam perjalanan ke kota Nain saat Ia berpapasan dengan prosesi penguburan. Ketika melihat ibu yang berduka. Yesus merasakan empati yang mendalam dan berkata, "Jangan menangis. " Ini menunjukkan bahwa Ia tidak hanya memiliki kuasa, tetapi juga perhatian yang tulus terhadap penderitaan Belas kasih ini merupakan salah satu aspek penting dari keilahian-Nya, membuktikan bahwa Yesus bukan hanya seorang nabi atau guru, tetapi juga adalah Allah yang peduli dan aktif dalam kehidupan umat-Nya. Lebih jauh lagi, tindakan Yesus membangkitkan anak muda tersebut menggambarkan otoritas-Nya atas kehidupan dan kematian. Ketika Ia memanggil anak itu untuk bangkit, katakata-Nya memiliki kekuatan yang melebihi segala hukum alam. "Hai anak muda. Aku berkata kepadamu, bangkitlah!" (Luk 7:14 ITB) mencerminkan bahwa Yesus memiliki kuasa ilahi untuk mengubah keadaan yang tampaknya tidak dapat diubah. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu ketika Dia yang memiliki kuasa atas kehidupan hadir. Hasil dari mukjizat ini bukan hanya mengembalikan kehidupan anak muda itu, tetapi juga membawa penghiburan bagi ibunya dan menyentuh hati banyak orang di sekitar mereka. Melalui tindakan ini. Yesus menegaskan bahwa Dia adalah sumber kehidupan Sudiantono Manurung. AuSTUDI TEOLOGIS MENGENAI MUKJIZAT KESEMBUHAN (Sebuah Refleksi Dalam Pelayanan Gerejaw. ,Ay Jurnal Teologi & Pengembangan Pelayanan DE TEUM Vol 6 No. , 261. 19 Darmawijaya Pr. Gelar-Gelar Yesus (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 127. 20 Donald Guthrie. Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius - Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. , 216. 21 D. Carson. Doktrin Yang Sulit Mengenai Kasih Allah (Surabaya: Momentum, 2. , 25. 40 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. dan harapan, meneguhkan keyakinan akan keilahian-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan. Mukjizat ini juga menjadi salah satu dari banyak tanda dan karya yang dilakukan oleh Yesus, yang sering kali dilihat sebagai penggenapan nubuat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama. Dalam tradisi Yahudi, para nabi seperti Elia dan Elisa juga melakukan kebangkitan orang mati, tetapi Yesus melakukannya dengan cara yang unik dan berkuasa. Dia tidak hanya mengikuti pola yang ada, tetapi melakukannya dengan otoritas ilahi, yang menunjukkan bahwa Ia adalah lebih dari sekadar nabi. Ia adalah Anak Allah. 23 Kisah ini juga menyampaikan pesan eskatologis, bahwa pada akhir zaman, kuasa Yesus akan mengalahkan kematian dan memberikan kehidupan yang kekal kepada orang-orang percaya. 24 Melalui tindakan-Nya. Yesus tidak hanya membangkitkan anak muda itu secara fisik, tetapi juga memberi gambaran yang lebih besar tentang pembaruan dan kehidupan baru yang Dia tawarkan kepada umat manusia melalui iman kepada-Nya. Yesus Melakukan Pekerjaan Mesianis: Menyatakan Keilahian-Nya Dalam Lukas 7:18-35, kita melihat bagaimana Yesus melakukan pekerjaan mesianis yang secara tegas menyatakan keilahian-Nya. Dalam konteks ini. Yohanes Pembaptis mengirimkan utusan kepada Yesus untuk menanyakan apakah Ia adalah "Dia yang akan datang" atau apakah mereka harus menanti orang lain. Pertanyaan ini mencerminkan keraguan yang mungkin muncul dalam pikiran seseorang yang mengharapkan Mesias yang akan membawa keadilan dan pembebasan. Yesus menjawab pertanyaan tersebut dengan karya-karya-Nya, membangkitkan yang mati, dan memberitakan kabar baik kepada orang miskin . Harefa menyampaikan bahwa melalui tindakan-Nya. Yesus tidak hanya memenuhi nubuat yang berkaitan dengan Mesias, tetapi juga menegaskan identitas-Nya sebagai Allah yang hadir di tengah umat-Nya. Lebih lanjut. Yesus mengajak mereka untuk melihat dan merenungkan apa yang telah terjadi sebagai bukti nyata dari misi-Nya. Dalam jawabannya. Ia menunjukkan bahwa karyakarya-Nya adalah penggenapan dari nubuat yang terdapat dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, seperti Yesaya 61:1-2, yang berbicara mengenai pengurapan untuk memberitakan kabar baik dan menghibur orang-orang yang berdukacita. Dengan melakukan hal ini. Yesus menunjukkan bahwa kedatangan-Nya bukan hanya sekadar pemenuhan harapan manusia, tetapi juga sebagai bagian dari rencana ilahi yang lebih besar. Ini menjadi penegasan bahwa Dia adalah Mesias yang dinantikan, yang datang untuk mengubah keadaan umat-Nya dan membawa harapan di tengah penderitaan. Di samping itu. Yesus melanjutkan dengan menggambarkan siapa yang sebenarnya 22 Gordon Lindasay. Apakah Yesus Itu Anak Allah ? (Jakarta: Immanuel, 1. , 9. 23 Dany Christopher. AuYesus Dan Narasi Elia-Elisa Dalam Injil Lukas,Ay Jurnal Amanat Agung 8, 1 . , 64. 24 Alfa Kurnia Batubuaja. AuKajian Teologis Parousia Dan Implikasinya Bagi Jemaat Kristen Masa Kini Alfa,Ay Magenang: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen 1, no. : 20Ae35. 25 Yulius Enisman Harefa. AuKarakteristik Kemesiasan Yesus,Ay Jurnal Teologi 2, no. : 178. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 41 dianggap berbahagia dalam kerajaan Allah. Ia mengingatkan bahwa banyak orang yang tidak memenuhi harapan duniawi tentang Mesias bisa jadi justru lebih mudah menerima kabar baik yang Dia bawa. Dalam konteks ini. Yesus menggambarkan karakteristik orang-orang yang terbuka terhadap pelayanan-Nya yaitu mereka yang didapati rendah hati dan penuh kerinduan untuk menemukan kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa keilahian-Nya tidak hanya dinyatakan dalam mukjizat, tetapi juga melalui sikap dan respons dari orang-orang terhadap karya-Nya. Reiling menjelaskan bagian ini, bahwa Yesus memisahkan antara kredibilitas-Nya sebagai Mesias dan persepsi salah yang mungkin muncul di kalangan orang Pernyataan Yesus tentang Yohanes Pembaptis sebagai yang terbesar di antara yang dilahirkan oleh perempuan juga memperkaya pemahaman akan peran dan misi Yohanes. Meskipun Yohanes dipuji. Yesus menunjukkan bahwa dalam kerajaan Allah, yang terkecil pun lebih besar daripadanya. Ini menciptakan sebuah paradoks di mana keilahian-Nya bukan hanya diakui melalui pengakuan langsung, tetapi juga melalui cara pandang yang berbeda tentang kekuatan dan kebesaran dalam konteks spiritual. Dengan mengungkapkan keilahianNya melalui pekerjaan mesianis dan interaksi dengan masyarakat. Yesus menunjukkan cara Allah hadir dalam dunia, mengubah paradigma manusia tentang kekuasaan dan otoritas. Melalui Lukas 7:18-35. Yesus secara jelas menyatakan bahwa Dia adalah Mesias yang membawa pembebasan, harapan, dan kehidupan, sekaligus menggugah umat untuk memahami makna sejati dari kehadiran-Nya di tengah-tengah mereka. Yesus Mengetahui Isi hati: Menyatakan Keilahian-Nya Dalam Lukas 7:36-40, terdapat sebuah perikop yang menunjukkan keilahian Yesus melalui kemampuan-Nya untuk mengetahui isi hati seseorang. Dalam perikop ini. Yesus diundang oleh seorang Farisi bernama Simon untuk makan bersama. Sementara mereka makan, seorang perempuan berdosa, yang dikenal sebagai perempuan pelacur, datang ke rumah Simon dan mulai menangis di kaki Yesus, mengusap kaki Yesus dengan rambutnya, dan mengoleskan minyak wangi ke kaki-Nya. Sostenis menyampaikan bahwa imanlah yang mendorong perempuan ini datang kepada Yesus yang sanggup mengampuni dia, sebab Yesus berbeda dengan para pemimpin agama lainnya. 27 Peristiwa ini memicu reaksi dari Simon, yang berpikir dalam hatinya bahwa jika Yesus benar-benar seorang nabi. Ia seharusnya mengetahui siapa perempuan itu dan bahwa ia adalah seorang berdosa. Yesus, mengetahui pikiran Simon, kemudian memberikan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang berutang kepada seorang krediturAisatu berutang lima ratus dinar dan yang lainnya lima puluh. Ketika kreditur itu mengampuni kedua utang tersebut. Yesus bertanya kepada Simon, "Siapakah di antara mereka yang lebih mengasihi dia?" Simon menjawab 26 J. Reiling. Pedoman Penafsiran Injil Lukas, ed. Sembiring (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2. , 234. 27 Sostenis Nggebu et al. AuStudi Reflektif Belas Kasihan Yesus Terhadap Perempuan Berdosa Dalam Teks Lukas 7:36-50,Ay Apostolos: Journal of Theology and Christian Education 3, no. : 135. 42 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. bahwa orang yang berutang lebih banyak akan lebih mencintai kreditur tersebut. Yesus kemudian menjelaskan bahwa perempuan berdosa itu menunjukkan kasih yang besar kepada-Nya, yang merupakan bukti dari pengampunan besar yang dia terima. Pengertian ini menunjukkan bahwa Yesus memiliki pengetahuan yang lebih dalamAi tidak hanya mengenai tindakan fisik tetapi juga tentang motivasi dan hati seseorang. 28 Dalam konteks ini, keilahian Yesus dinyatakan melalui kemampuan-Nya untuk membaca pikiran dan perasaan Simon. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya seorang guru atau nabi, tetapi juga Sang Allah yang dapat memahami dan mengetahui hati manusia. Dalam penjelasan tentang Yesus sebagai sosok yang mengetahui isi hati. Carson menyatakan bahwa pengampunan yang dia berikan melampaui segala bentuk pelanggaran, dan ini terefleksi dalam reaksi Yesus terhadap perempuan tersebut dibandingkan dengan penilaian Simon. Penting untuk dicatat bahwa dalam konteks ini, pengenalan Yesus atas isi hati manusia berkontribusi pada pemahaman bahwa Ia adalah Mesias yang diutus untuk menyelamatkan orang berdosa. Dalam konteks luas, ini mengajak kita untuk memahami betapa dalamnya cinta dan pengampunan Allah bagi umat manusia, terlepas dari dosa dan kesalahan yang mungkin kita lakukan. Yesus Mengampuni Dosa: Menyatakan Keilahian-Nya Kemudian muncullah perumpamaan tentang dua orang yang berutang kepada satu orang pelepas uang (Luk. 7:41-. Mereka dikisahkan sama-sama berhutang dan sama-sama Maka Yesus menunjuk kepada perempuan itu, lalu menggambarkan kepada Simon bagaimana perempuan itu menunjukkan penyesalan dan terima kasihnya. OAoDonnell mengungkapkan pandangan Kristeva seorang psikoanalisis bahwa perempuan berdosa yang datang kepada Yesus dianggap mengalami pemberontakan psikis untuk melawan rasa takut dan malu sehingga mengalami pemulihan, dan pertobatan serta identitas baru. 31 Singkat cerita Yesus berpaling dari wanita itu serta memberikan pengampunan kepada wanita itu dan terakhir. Yesus menyuruh wanita itu pulang dengan selamat dan sejahtera. Pemahaman Ketuhanan Yesus dari sudut pandang keilahian-Nya dapat dilihat dari apa yang telah Yesus lakukan kepada wanita berdosa ini. Dalam hal ini perempuan ini sebagai manusia berdosa karena bersalah kepada Allah. Dosa yang ia lakukan benar-benar mendukakan hati Tuhan dan mengurangi kemuliaan Tuhan dalam dirinya. Maka dari itu boleh dikatakan bahwa hanya Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa manusia berdasarkan anugerah Tuhan. Ketika di dalam dunia. Tuhan Yesus berulang kali mengampuni dosa manusia, salah 28 Ibid, 140. 29 D. Carson, dkk. Tafsiran Alkitab Abad Ke-21: Jilid 3 Injil Matius Wahyu (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 2. 30 Maritaisi Hia. Kajian Eksegetikal Konsep Pengampunan dan Kasih di dalam Perumpamaan Dua Orang yang Berhutang berdasarkan Lukas 7:40-43. Jurnal Salvation, 3. , 28. 31 Kevin OAoDonnell. AuSin Turned Upside down into Love as a Kristevan Reflection on the Penitent Woman in Luke 7:36-50,Ay Tylor & Francis Online, no. Practical Theology . Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 43 satunya wanita ini. 32 Sifat keilahian Yesus nyata bahwa Ia memproklamirkan kuasa pengampunan dosa bagi siapapun yang layak mendapatkannya. Orang-orang yang mempertanyakan hal ini kepada Yesus benar-benar tidak sadar bahwa Yesus adalah pribadi yang Mahakuasa. Stevanus menjelaskan bahwa tindakan Yesus mengampuni orang-orang berdosa. Ia mendeklarasikan diri-Nya sebagai Allah. Implikasi Keilahian Yesus bagi Iman Kristen Iman Kristen dipenuhi dengan pemahaman tentang keilahian Yesus Kristus yang terungkap jelas dalam perikop Lukas 7:1-50. Dalam teks ini, dapat dilihat beberapa aspek utama yang menunjukkan implikasi keilahian Yesus bagi orang Kristen, mulai dari mujizat kesembuhan, membangkitkan orang mati, mengenal isi hati manusia hingga pengampunan dosa dan kuasa-Nya yang mengubah hidup. Pertama, salah satu implikasi fundamental dari keilahian Yesus adalah pemahaman tentang hubungan antara iman dan tindakan. Dalam kisah perwira Romawi yang meminta Yesus menyembuhkan hambanya, terlihat betapa iman perwira tersebut sangat sederhana mendalamAiia Yesus menyembuhkan, bahkan tanpa Yesus perlu berada di dekat hamba tersebut (Luk. 7:6-. Yesus mengapresiasi iman ini dan menjadikannya contoh bagi yang lain. Ini menggarisbawahi bahwa iman Kristen bukan hanya sekadar pengakuan, tetapi juga berimplikasi pada tindakan nyata dan kepercayaan yang berani akan kuasa Allah. Paranni menyampaikan bahwa bagi umat Kristen, hal ini menjadi pengingat bahwa iman harus menghasilkan kehidupan yang penuh keyakinan dan tindakan, membuktikan iman kita melalui karya-karya nyata yang mencerminkan kasih Allah. Yesus memperlihatkan otoritas-Nya sebagai Mesias melalui mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya, termasuk kesembuhan hamba seorang perwira dari Kapernaum (Luk. 7:1-. Tidak hanya menunjukkan kuasa-Nya atas penyakit, tetapi juga menunjukkan betapa iman dapat menjadi jembatan untuk mengalami karya Allah. Perwira itu memahami bahwa Yesus memiliki otoritas bahkan dari jarak yang jauh dan percaya pada perkataan-Nya saja. Ini menggarisbawahi pentingnya iman dalam kehidupan orang percaya dan menunjukkan bahwa kepercayaan kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat membawa kepada pengharapan dan pembaruan. Kedua, pekerjaan Mesianis yang dikerjakan Yesus menekankan implikasi yang mendalam bagi orang Kristen dalam memahami misi dan panggilan hidup mereka. Yesus mengonfirmasi identitas-Nya sebagai Mesias dengan merujuk pada segala hal yang Ia lakukan, seperti menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan memberitakan kabar 32 Peter Wongso. Kristologi (Doktrin Tentang Kristu. (Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara, 1. , 22. 33 Kalis Stevanus. AuBukti Keilahian Yesus Menurut Injil,Ay Jurnal Teruna Bhakti 2, no. : 90. 34 Jefri Paranni et al. AuPembenaran Iman Dalam Perspektif Paulus Dan Implementasi Terhadap Iman Gerejs Masa Kini,Ay Humanitas: Jurnal Humaniora. Sosial dan Bisnis 1:4, no. : 246. 44 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. baik bagi orang miskin, menunjukkan bahwa pekerjaan-Nya tidak hanya bersifat fisik tetapi juga rohani. Bagi orang Kristen, hal ini mengajak untuk menghayati panggilan sebagai pewaris pekerjaan Mesianis-Nya, yakni untuk aktif dalam misi kasih dan pelayanan, membawa harapan dan penyembuhan kepada mereka yang membutuhkan. Ini berarti menyebarkan kasih dan keadilan Tuhan di tengah masyarakat, bersikap peka terhadap penderitaan orang lain, serta berkomitmen untuk menjadi alat damai dalam dunia yang sering kali penuh dengan ketidakadilan. Mengikuti contoh Yesus, orang Kristen diingatkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mencerminkan kerajaan Allah di bumi, dengan penuh iman, kasih, dan kerendahan hati. Ketiga, penting bagi orang Kristen memahami kemahatahuan Kristus terhadap isi hati Sebagaimana Yesus mengetahui pikiran dan sikap hati dari Simon terhadap Yesus maupun perempuan berdosa itu, mengajarkan bahwa penilaian manusia sering kali terbatas dan bias. Sebagai orang Kristen penting untuk selalu introspeksi diri dan terbuka terhadap kegagalan serta kelemahan sendiri, tanpa menghakimi orang lain. Yesus mengingatkan bahwa kasih dan pengampunan-Nya melampaui sejauh mana seseorang terlihat baik di hadapan orang lain. sebaliknya, ia mengutamakan pertobatan dan kerendahan hati. Dalam konteks ini, orang Kristen diajak untuk mencerminkan kasih yang tulus dan memahami bahwa setiap orang berharga di mata Tuhan, terlepas dari masa lalu mereka, sehingga mengasah sikap pengertian dan kasih kepada sesama, selaras dengan apa yang Yesus Keempat, wujud keilahian Yesus yang paling mencolok dalam Lukas 7 adalah kemampuan-Nya untuk mengampuni dosa. Dalam kisah perempuan berdosa yang mengurapi kaki-Nya. Yesus menyatakan pengampunan-Nya dan mengingatkan bahwa siapa pun yang telah diampuni banyak akan mencintai banyak pula (Lukas 7:. Ini menunjukkan bahwa pengampunan bukan hanya sekadar tindakan, tetapi juga memberi kesempatan untuk mengalami kasih dan penerimaan Allah. Hal ini memiliki implikasi mendalam bagi iman Kristen, di mana pengikut Yesus diundang untuk mengalami dan menyebarkan pengampunan kepada sesama, mengikuti teladan-Nya. Keilahian Yesus juga mengajarkan pentingnya kerendahan hati dan pengakuan. Kisah perempuan berdosa yang datang kepada Yesus dengan penuh penyesalan dan harapan menunjukkan aspek penting dari keilahian-Nya sebagai Juru Selamat. Yesus menunjukkan bahwa Allah berkenan kepada orang-orang yang datang kepada-Nya dengan hati yang Rumbi menyampaikan bahwa ciri khas dari iman Kristen adalah pengakuan akan kelemahan, dan pengharapan penuh kepada Kristus. 36 Ini menjadi dasar spiritual bagi setiap individu dalam komunitas iman untuk saling mendukung dan saling mengingatkan akan pentingnya datang kepada Allah dalam kerendahan hati dan penyerahan diri. 35 Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMengosongkan Diri (Ekenose. Ao Dalam Filipi 2:7 Dan Aplikasinya Bagi Orang Percaya. Ay 36 Frans Paillin Rumbi. AuTradisi MassuruAo Dan Pertobatan Dalam Injil Sinoptik,Ay BIAAo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 1, no. : 27. Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Ae 45 Melalui interaksi-Nya dengan individu dari berbagai latar belakang. Yesus menunjukkan sifat universal dari keilahian-Nya. 37 Dalam Lukas 7, kita melihat bagaimana Yesus berhubungan dengan orang-orang yang terpinggirkan seperti perempuan berdosa maupun perwira Romawi. Dalam kedaulatan-Nya. Yesus mengungkapkan bahwa kasih Allah tidak terbatas pada kalangan tertentu, tetapi diperuntukkan bagi semua orang. Ini membawa refleksi bagi umat Kristen untuk memperluas kasih dan penerimaan kepada siapa saja, tanpa memandang status sosial, latar belakang, atau dosa masa lalu. 38 Ini menunjukkan bahwa, di dalam kasih Allah, tidak ada batasan yang menghalangi siapa yang bisa menerima Hal ini harus mendorong umat Kristen untuk Aomenyebarkan kasih dan membangun komunitas yang inklusifAo39, serta untuk melawan sikap eksklusi yang mungkin muncul di dalam tubuh gereja. 40 Keberadaan Yesus sebagai Mesias bagi semua bangsa berbicara pada hati setiap orang percaya untuk mencari orang-orang yang terpinggirkan dan menjadi agen pendamaian dan keselamatan. KESIMPULAN Akhirnya, pembelajaran dari Lukas 7 mengundang refleksi mendalam tentang bagaimana keilahian Yesus membentuk identitas kita sebagai pengikut-Nya. Dengan menjadikan iman, pengakuan, tindakan kasih dan pengampunan sebagai prinsip dasar, orang Kristen dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia (Matius 5:13-. Kehidupan orang percaya seharusnya mencerminkan sifat-sifat Kristus, memungkinkan orang lain untuk melihat Kristus melalui tindakan dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Keberanian untuk mengasihi orang yang dianggap "berdosa" atau "terasing" dan keterbukaan untuk berbagi kasih karunia Allah dapat membawa perubahan yang mendalam dalam masyarakat. Lukas 7:1-50 memberikan banyak pelajaran berharga mengenai keilahian Yesus dan bagaimana Ia menciptakan ruang iman yang aktif, pengampunan serta penerimaan universal. Memahami dan menghidupi aspek-aspek ini menjadikan gereja sebagai tempat yang lebih memfasilitasi orang untuk datang kepada Allah dalam pertobatan, menemukan pengharapan, dan menjalani hidup yang dipenuhi dengan kasih dan kepercayaan. Dari empat judul perikop dalam Lukas 7, dari hasil penelitian ini dapat disimpulkanan bahwa pertama, karya Yesus dalam menyembuhkan dan membangkitkan orang mati. kedua, melakukan pekerjaan 37 Yohanis Udju Rohi. AuHakekat Misi Yesus Kepada Para Murid Dalam Matius 10:1-15 Sebagai Dasar Misi Gereja Dalam Menjalankan Misi Allah,Ay Missio Ecclesiae 3, no. : 179. 38 Pandir Manurung and Yuni Karlina Panjaitan. AuPemimpin Yang Melayani Dalam Konteks Pastoral,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 1, no. : 104Ae115, https://journal. id/skenoo/article/view/10/10. 39 Edi Sugianto. AuKajian Eksegesis Terhadap Kata AoMemberitakanAo Dalam Surat 1 Petrus 2:9-10 Dan Implikasinya Bagi Kaum Muda & Remaja Gereja Pantekosta Tabernakel AoKristus AjaibAo SurabayaAy (Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia, 2. 40 Nusli Siki et al. AuMemaknai Gereja Diaklesial Menurut Joas Adiprasetya Sebagai Upaya Mencegah Kasus Bunuh Diri,Ay Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. 2 (December 30, 2. : 117Ae128, https://journal. id/skenoo/article/view/95. 46 Ae Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen. Vol. No. Mesianis yang dinubuatkan dalam kitab Yesaya. ketiga, mengetahui isi hati manusia. keempat, mengampuni orang berdosa, menunjukkan keilahian-Nya. Hal ini memperjelas bagaimana keilahian Yesus dapat mengubah pemahaman umat Kristen tentang pengampunan, otoritas, dan inklusivitas. Ketika pengikut-Nya menyerap pemahaman ini dalam kehidupan sehari-hari, mereka diajak untuk hidup dalam pengertian yang lebih dalam tentang kasih kepada Allah dan sesama, serta bagaimana mereka dipanggil untuk menerapkannya dalam interaksi mereka dengan dunia di sekitar sebagai saluran berkat yang sama. Keilahian Yesus menjadi dasar bagi setiap aspek iman dan praktik Kristen, memberi makna pada panggilan untuk mengasihi, mengampuni, dan menyebarkan berita baik kepada semua orang. Daftar Pustaka