Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Vol. 5 No. February 2025, pp. ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346. DOI: 10. 57163/almuhafidz. Journal Homepage: https://jurnal. stiq-almultazam. id/index. php/muhafidz/index TRANSFORMATION OF TRADITIONAL TO MODERN TAFSIR FROM THE PERSPECTIVE OF FAZLUR RAHMAN'S HERMENEUTICS Nurcahyati,1* Haqiqi2 1 Universitas PTIQ Jakarta. Indonesia 2 Universitas Islam Internasional Islamabad. Pakistan Article Info Article history: Received Jan 13, 2025 Revised Feb 10, 2025 Accepted Feb 10, 2025 Published Feb 25, 2025 Keywords: Hermeneutics Modern Tafsir Traditional How to Cite Nurcahyati. Nurcahyati. Haqiqi. AuTransformation of Traditional to Modern Tafsir from The Perspective Fazlur Rahman's HermeneuticsAy. Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir, 5. , https://doi. org/10. 57163/almuha ABSTRACT This article examines the transformation of tafsir from traditional to modern in the perspective of Fazlur Rahman's hermeneutics. This research was conducted using qualitative methodology with hermeneutic analysis to understand the mufassir's efforts in answering the challenges of the times in a more contextual and relevant way. The traditional textual approach is now replaced by a more unified hermeneutic method, combining social, historical and linguistic analysis. This allows Qur'anic interpretation to deepen meanings that are not only appropriate to the context of the past, but also relevant to modern social, political and cultural realities. The development of globalization and modernity has had a significant impact on the dynamics of tafsir, with modern mufassirs applying adaptive methods to address social issues. However, this transformation faces the challenge of maintaining a balance between innovation and respect for tradition and the authority of the sacred The interim conclusion of the study shows that changes in tafsir not only enrich the intellectual horizons of Islam, but also play an important role in developing an understanding and practice of the Qur'an that is more relevant to the context of modern society. This is an open access article under the CC BY license. Corresponding Author: Nurcahyati Universitas PTIQ Jakarta. Jalan Batan 1 No. Kelurahan Lebak Bulus. Kecamatan Cilandak. Jakarta Selatan. Indonesia Email: yayanuryaya1@gmail. Copyright . 2025 Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 PENDAHULUAN Menafsirkan Al-QurAoan adalah upaya untuk menjelaskan dan memahami makna dari teks yang berada di dalamnya, telah mengalami transformasi sepanjang sejarahnya. Aktivitas interpretasi Al-QurAoan sudah dimulai pada masa Rasulullah SAW dan terus berkembang seiring waktu dan perkembangan zaman sampai menghasilkan berbagai macam metode dan corak tafsir. Selain itu, berkembang juga berbagai teknik interpretasi, penulisan dan jenis bahasa yang digunakan dalam menginterpretasikan Al-QurAoan yang menjadi salah satu keistimewaan Al-QurAoan itu sendiri. Dinamika dari perkembangan tafsir yang bermacam-macam dan beragam tidak dapat dipungkiri lagi karena tafsir merupakan hasil karya manusia yang terus menerus berkembang dari generasi ke Baik dari masa lampau atau sampai masa mendatang. Abdul Muin Salim mengatakan bahwa terdapat dua aliran dalam perkembangan tafsir ini yaitu riwayah yang menggunakan interpretasi dari Al-QurAoan, hadits/sunnah dan atsar sahabat, serta yang kedua adalah dirayah yang tidak hanya menggunakan riwayat tetapi juga data lain di luar riwayat tersebut. Secara umum, para mufassir membagi perkembangan penafsiran Al-QurAoan ke dalam tiga fase . utama, yaitu: . periode mutaqoddimiin . bad ke1-4 H), . periode mutaakhirin . bad ke 4-12 H) dan . periode modern . bad ke 12-sekaran. Ahmad Mustafa Al-Maraghi . 0-1371 H/1883-1925 M) sendiri memberikan pembagian yang lebih rinci terkait dengan tingkatan tersebut, yaitu terdapat tujuh Tahap-tahap tersebut meliputi: . Periode tafsir di masa sahabat, . periode tafsir di masa tabiAoin, . periode pengumpulan dari pendapat para sahabat dan tabiAoin, . periode tafsir di masa Ibnu Jarir dan generasi yang mulai mendokumentasikan karya tafsir mereka, . periode tafsir di masa para mufassir yang tidak lagi mencantumkan sanad periwayatan, . periode perkembangan kebudayaan Islam yang dikenal dengan Aoashr al-MaAorifah al-Islamiyah, dan . periode penulisan, transliterasi serta penerjemahan Al-QurAoan ke berbagai bahasa asing. Adapun Muhammad Husain AlDzahabi mengklasifikasikan sejarah tafsir ke dalam tiga fase utama, di antaranya: . Fase Rasulullah SAW dan para sahabat, . Fase tabi'in, dan . Fase kodifikasi tafsir. Peneliti sendiri lebih cenderung kepada pembagian yang dikemukakan oleh Al-Dzahabi karena dinilai lebih sederhana tetapi mampu mencakup seluruh periode perkembangan tafsir. Tafsir sebagai upaya untuk memahami wahyu Ilahi, telah mengalami perkembangan signifikan dari pendekatan tradisional yang mengandalkan metodologi dan sumbersumber klasik menuju tafsir yang kontekstual dan responsif terhadap dinamika perkembangan zaman. Dalam tradisi tafsir klasik yang memegang prinsip bahwasannya Al-QurAoan bersifat shalih likulli zaman wa makan sering diterapkan secara kaku, dengan memaksakan berbagai konteks ke dalam tekstualitas Al-QurAoan. Akibatnya, hasil penafsiran menjadi sangat tekstual dan literal, dengan penekanan utama pada analisis tata bahasa, struktur kalimat dan arti kata pada ayat-ayat Al-QurAoan. Sebaliknya, tafsir modern menawarkan pendekatan yang lebih fleksibel dan kontekstual. Prinsip tersebut tidak hanya dimaknai secara harfiah, tetapi juga digunakan untuk menggali nilai-nilai moral ideal dari setiap ayat Al-QurAoan. Pendekatan ini menitikberatkan pada aspek 1 Muhammad Wildan Faqih. AuSejarah Perkembangan Tafsir,Ay Journal of Education Research 5, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. 47467/jdi. 2 Abdul Manaf. AuSejarah Perkembangan Tafsir,Ay Jurnal TAFAKKUR: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 1, no. , https://doi. org/10. 62359/tafakkur. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 metodologis dan epistemologis yang memiliki maksud untuk menghasilkan pembacaan yang lebih produktif dan inovatif, bukan hanya sekadar pengulangan . Transformasi pemikiran dan budaya Islam setelah adanya serangan Mongol menjadi periode penting yang menandai akan adanya kebangkitan kembali peradaban Islam. Meskipun invasi Mongol pada abad ke-13 awalnya menyebabkan kehancuran besar, termasuk hancurnya pusat-pusat pengetahuan dan budaya seperti Baghdad. Namun, dampak jangka panjangnya justru mendorong adanya penyebaran ilmu pengetahuan dan budaya Islam ke wilayah yang lebih luas. Pemimpin Mongol yang kemudian akhirnya memeluk Islam memiliki peranan yang penting dalam mendukung revitalisasi budaya dan ilmu pengetahuan. Mereka tidak hanya membangun kembali kotakota yang hancur tetapi juga mendirikan pusat-pusat pembelajaran baru. Pada masa tradisi intelektual dari berbagai budaya seperti Persia. India dan Cina, yang memperkaya khazanah intelektual Islam. Akibatnya. Islam mengalami kemajuan yang signifikan dalam bidang filsafat, sains, seni dan arsitektur yang menunjukkan kemampuan untuk beradaptasi dan berkembang meskipun menghadapi tantangan besar. Adapun kebangkitan Islam pada abad ke-20 lebih fokus terhadap respon dari gerakan-gerakan modernis yang dianggap sudah dipengaruhi dengan budaya Barat dan bukan hanya sebatas merekonstruksi pemahaman ajaran Islam. Muncul kritikan dan perdebatan antara aliran modernis, revivalis dan tradisionalis. Utamanya pada pemikiran tokoh-tokoh modernis seperti Ahmad Khan dan Thoha Husein, yang menafsirkan AlQurAoan untuk membenarkan pandangan Barat. Bagi kelompok revivalis, penafsiran tersebut dianggap sebagai sikap apologetik. Sementara itu, gerakan pembaruan Islam berfokus pada isu-isu internal umat, menanggapi praktik keagamaan "tradisional" seperti taklid, tarekat dan bid'ah yang dianggap menyimpang dari pengajaran Al-QurAoan dan Hadits. Kelompok revivalis menekankan pentingnya ijtihad untuk mengatasi stagnasi Adapun dominasi Barat atas Islam yang memengaruhi penafsiran Al-QurAoan yaitu dengan cara yang signifikan, menjadikannya semakin kompleks dan menantang seiring dengan pergeseran peradaban Islam yang kian didominasi oleh dunia Barat. Tradisi penerjemahan Al-QurAoan di Barat, dimulai oleh Peter the Venerable dan Robert of Ketton, sering kali mencerminkan nilai-nilai budaya Barat, yang memengaruhi cara memahami Beberapa sarjana Barat juga meneliti pengaruh tradisi Yahudi-Kristen dalam AlQurAoan, berargumen bahwa Nabi Muhammad SAW mungkin terpengaruh oleh ajaran agama-agama tersebut, sehingga menciptakan kesan bahwa Al-QurAoan tidak sepenuhnya wahyu ilahi. Dalam menghadapi dinamika ini, para mufassir modern berusaha mengembangkan pendekatan-pendekatan baru dalam tafsir Al-QurAoan, guna menjembatani isu-isu modernitas dengan pesan-pesan yang terkandung dalam teks AlQurAoan tersebut. Proses ini melahirkan penafsiran yang lebih segar dan relevan, menjadikan penjelasan Al-QurAoan lebih dinamis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, memberikan wawasan yang relevan untuk menjawab tantangan yang dihadapi umat Islam di era modern ini. Secara keseluruhan, meskipun perspektif 3 Eni Zulaiha. AuTafsir Kontemporer: Metodologi. Paradigma Dan Standar Validitasnya,Ay Jurnal Ilmiah Agama Dan Sosial Budaya . https://journal. id/index. php/jw/article/download/780/937. 4 Abu Haif and Rifkatul Mahfudah. AuTransformasi Intelektual Dan Kultural: Perkembangan Islam Pasca Serangan Mongol,Ay Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial 1, no. : 436, https://doi. org/https://doi. org/10. 5281/zenodo. 5 Mardinal Tarigan et al. AuPeradaban Islam : Masa Kebangkitan Kembali,Ay Journal on Education 5, no. : 12175Ae89, https://jonedu. org/index. php/joe/article/view/2178. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Barat membawa pandangan yang seringkali kritis, ia juga memperkaya pemahaman terhadap Al-QurAoan, meskipun tetap menimbulkan perdebatan tentang makna dan otoritas teks tersebut. Transformasi tafsir dari tradisional ke modern, terutama melalui perspektif Fazlur Rahman, mencerminkan respon terhadap kekuatan besar yang muncul akibat modernitas di dunia Muslim. Seiring dengan munculnya negara-negara Muslim merdeka dan tantangan global yang semakin berkembang, masyarakat Muslim terjebak dalam dua ekstrem: menghindari tantangan baru atau melarikan diri ke masa lalu. Rahman berargumen bahwa masyarakat yang hanya bertahan pada masa lalu tanpa beradaptasi dengan realitas masa kini akan menjadi "fosil", sementara yang mengorbankan cita-cita agama demi kemajuan bisa kehilangan jati diri. Oleh karena itu. Rahman mengusulkan tafsir yang lebih kontekstual, yang menghubungkan Al-QurAoan dengan tantangan sosial, politik dan moral zaman sekarang. Dengan demikian, tafsir modern harus mampu menjawab tantangan tersebut tanpa mengorbankan esensi moralitas dan prinsip-prinsip Islam yang terkandung dalam wahyu. Berdasarkan pemahaman tersebut penting kiranya penulis mengangkat rumusan masalah yang meliputi beberapa aspek yaitu terkait dengan faktor yang mendorong transformasi tafsir dari tradisional ke modern dalam perspektif Fazlur Rahman serta bagaimana pendekatan ini memberikan dampak kepada pemahaman umat Islam terhadap Al-QurAoan di era modern. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan membantu mengidentifikasi dan menganalisis dinamika perubahan tafsir dalam konteks modernitas umat Islam pada masa kini. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian mengenai transformasi tafsir dari tradisional ke modern telah banyak di bahas, terutama dengan munculnya beberapa teori atau perspektif baru dalam memahami teks Al-QurAoan tersebut. Salah satunya adalah pemikiran Fazlur Rahman tentang hermeneutika dalam tafsir Al-QurAoan yang mengusung pendekatan berbeda dengan tafsir tradisional yang sudah mapan selama berabad-abad. Namun demikian, kajian mengenai transformasi tafsir Al-QurAoan dari tradisional ke kontemporer sudah menjadi hal yang krusial untuk dijadikan sebagai penelitian secara lanjutan. Pada penelitian yang berjudul AuCriticism of Fazlur RahmanAos Al-QurAoan HermeneuticsAy yang disusun oleh Femy Putri Nursyifa, dkk pada Journal of AoUlumul AlQurAoan and Tafsir Studies, vol. 2, no. artikel ini mengkritisi metode hermeneutika ganda . ouble movemen. yang diperkenalkan oleh Fazlur Rahman dalam penafsiran AlQurAoan, yang melibatkan dua tahap yaitu memahami konteks sosial-historis wahyu dan mengaplikasikan nilai moral teks untuk isu kontemporer. 8 Adapun pada artikel ini, penulis tidak akan menjelaskan kritikan terhadap teori dari Fazlur Rahman tersebut melainkan metode ini bertujuan menggali makna universal yang relevan dengan zaman Namun kita sepakat bahwa kontribusi Rahman terhadap ijtihad modern tetap 6 Muhammad Anshori. AuTren-Tren Wacana Studi Al-QurAoan Dalam Pandangan Orientalis Di Barat,Ay Jurnal Nun 4, no. : 14Ae41, https://doi. org/https://doi. org/10. 32495/nun. 7 Fazlur Rahman. Islamic Methodology in History (Pakistan: Islamic Research InstituteAos, 1. , https://ia903207. org/2/items/FazlurRahmanIslamandModernity/FazlurRahmanIslamicMeth odologyinHistoryIslamic. 8 Femy Putri Nursyifa Naqiya. Hilya Nuri, dkk. AuCriticism of Fazlur RahmanAos Al-QurAoan Hermeneutics,Ay Jurnal of AoUlumul Al-QurAoan and Tafsir Studies 2, no. : 7, https://doi. org/10. 54801/juquts. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 penting karena membuka ruang bagi penafsiran yang lebih kontekstual dan moral dalam memahami Al-QurAoan untuk generasi modern. Buku Islamic Methodology in History karya Fazlur Rahman . secara ringkas membahas tentang penerapan metodologi ilmiah dan historis dalam memahami perkembangan pemikiran Islam sepanjang sejarah. Rahman mengkritik tafsir tradisional yang cenderung literal dan statis, serta mengusulkan pendekatan yang lebih kontekstual dengan mempertimbangkan situasi sosial dan historis di balik wahyu-wahyu Islam. Buku ini menekankan pentingnya ijtihad . enafsiran independe. dan metodologi rasional dalam studi Islam, serta bagaimana pemahaman terhadap teks-teks suci harus disesuaikan dengan tantangan zaman tanpa terjebak pada dogma masa lalu. Rahman berargumen bahwa untuk memahami ajaran Islam dengan lebih relevan, diperlukan pemikiran yang dinamis dan terbuka terhadap perubahan sosial dan intelektual. 9 Adapun dalam versi ini, penulis hanya akan menjelaskan lebih langsung mengacu pada pemikiran Rahman tentang pentingnya kontekstualisasi Al-QurAoan dan mengaitkannya dengan tantangan yang dihadapi masyarakat Muslim dalam menghadapi modernitas. Pada artikel yang ditulis oleh Abd. Rozaq dengan judul AuQur'anic Hermeneutics and its Applications by Fazlur RahmanAy pada International Journal of Islamicate Social 1, no. Artikel ini mengidentifikasi pemikiran Fazlur Rahman, seorang intelektual yang menggabungkan pemikiran klasik dengan ide-ide ultramodern dan neomodernisme. Rahman mengajak umat Islam untuk mengembangkan pemahaman kritis terhadap dunia Barat. Salah satu kontribusinya yang signifikan adalah pengenalan teknik hermeneutika Gerakan Ganda . ouble movemen. , yang dapat diterapkan untuk memahami teks-teks hukum dan sosial. Berdasarkan temuan tersebut. Rahman menekankan pentingnya memahami latar belakang sosial-historis dalam konteks hukum. Walaupun metodenya bukan hal baru, kontribusinya terletak pada penekanan terhadap faktor-faktor sosialhistoris dan pendekatan Gerakan Ganda . ouble movemen. 10 Fokus penelitian ini hanya memaparkan terkait beberapa contoh penafsiran Fazlur Rahman yang berkaitan dengan sosio-historis dengan tidak menjelaskan secara spesifik terkait dengan transformasi tafsir tradisional ke modernny, namun memiliki keterkaitan berkenaan dengan metodologi penafsiran yang digunakan sebagai pisau analisis dalam artikel yang akan di Selain itu tidak dapat di pungkiri dari berbagai penelitian yang ada, kekhawatiran utamanya adalah adanya potensi penyimpangan dari tradisi Islam yang autentik. Beberapa penelitian menunjukan banyaknya tantangan dalam menjaga relevansi antara inovasi metodologis dan penjagaan terhadap otoritas teks suci. Dominasi pandangan sekuler dalam tafsir kontemporer menjadi salah satu isu yang banyak diperdebatkan. Tinjauan pustaka ini menegaskan bahwa transformasi tafsir bukan hanya perubahan metodologis, tetapi juga refleksi dari dinamika intelektual Islam dalam merespons tantangan zaman. Dengan mengintegrasikan tradisi dan inovasi, tafsir modern memberikan kontribusi signifikan dalam membangun pemahaman Al-QurAoan yang lebih relevan dan aplikatif bagi umat Islam di era modern. METODE Dalam penelitian ini, penulis menerapkan metode pengumpulan data melalui studi Metode ini termasuk dalam penelitian kepustakaan . ibrary researc. yang 9 Rahman. Islamic Methodology in History. 10 Abd. Rozaq. AuQurAoanic Hermeneutics and Its Applications by Fazlur Rahman,Ay International Journal of Islamicate Social 1, no. : 115, https://doi. org/https://doi. org/10. 62039/ijiss. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 berkaitan dengan topik yang diteliti. Dokumen yang digunakan dapat berupa catatan pribadi, surat-surat, buku harian, laporan pekerjaan, atau buku-buku yang relevan dengan subjek penelitian. Penelitian (Researc. adalah rangkaian aktivitas ilmiah yang bertujuan untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Hasil penelitian ini tidak dimaksudkan sebagai solusi langsung untuk masalah yang ada, karena penelitian hanya merupakan salah satu bagian dari upaya penyelesaian masalah yang lebih luas. Fungsi utama penelitian adalah memberikan penjelasan serta jawaban terhadap permasalahan yang dihadapi, sekaligus menawarkan alternatif solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah tersebut. Objek kajian penelitian ini menggunakan data pustaka sebagai sumber utama, yang diperoleh dari buku-buku yang membahas pemikiran Fazlur Rahman. Proses penelitian ini meliputi langkah-langkah membaca, menelaah, dan menganalisis berbagai literatur yang relevan, baik karya-karya Fazlur Rahman maupun tulisan lain yang berhubungan dengan pemikiran dan relevansi karyanya. HASIL DAN DISKUSI Biografi Fazlur Rahman Fazlur Rahman Malik lahir pada 21 September 1919 di Hazara, sebuah daerah yang saat itu berada di bawah Kekuasaan Britania di anak benua Indo-Pakistan, yang sekarang menjadi bagian dari Pakistan. Pada saat kelahirannya, masyarakat di sekitarnya tengah terlibat dalam perdebatan sengit antara tiga kelompok yang bertentangan: modernis, tradisionalis, dan fundamentalis, yang masing-masing mengklaim kebenaran atas pandangan mereka. Ketegangan ini semakin meningkat setelah Pakistan diproklamasikan sebagai negara merdeka pada 14 Agustus 1947, setelah berpisah dari India. Perdebatan antara tiga kelompokAimodernis, tradisionalis dan fundamentalisAi berpusat pada bagaimana membentuk negara Pakistan setelah kemerdekaannya dari India. Kelompok modernis mengusulkan konsep kenegaraan Islam berdasarkan ideologi modern, sementara kelompok tradisional berpegang pada teori politik Islam klasik seperti khalifah dan Imamah, dan kelompok fundamentalis mengusulkan negara "kerajaan Tuhan. " Perdebatan ini akhirnya membentuk konstitusi yang terus mengalami Di tengah perdebatan ini. Fazlur Rahman muncul dengan gagasan neomodernisnya, yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai modern dengan tradisi Islam. Rahman tumbuh dalam keluarga yang sangat peduli dengan pendidikan. Ayahnya. Maulana Syihab Al-Din adalah seorang ulama tradisional bermazhab Hanafi yang meskipun berpegang pada ajaran tradisional, tidak menentang pendidikan modern. Keyakinan ini memengaruhi Rahman untuk tidak terjebak dalam pemikiran sempit dan menggabungkan nilai-nilai modern dan tradisional dalam cara yang lebih progresif. Rahman memulai pendidikan dengan bimbingan ayahnya dalam bidang studi tradisional, kemudian melanjutkan pendidikan modern di Lahore dan akhirnya di Inggris, meskipun mendapat penolakan dari masyarakat yang menganggap pendidikan Barat bertentangan dengan Islam. Sukandrrumidi. Metodologi Penelitian: Petunjuk Praktis Untuk Peneliti Pemula (Yogyakarta: GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS, 2. , 100Ae101. 12 Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia , 2. , 9. 13 Nursyifa Naqiya. Hilya Nuri, dkk. AuCriticism of Fazlur RahmanAos Al-QurAoan Hermeneutics,Ay 9. 14 Khairul Hamim. AuMetodologi Tafsir Kontemporer (Kajian Atas Pemikiran Fazlur Rahma. ,Ay Jurnal Ilmiah Mandala Education (JIME) 8, no. : 2448, https://doi. org/10. 36312/jime. 15 Hamim, 2449. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 Pada tahun 1946. Rahman melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford. Inggris. Di sana, ia dibimbing oleh Profesor S. Van den Bergh dan H. Gibb, dan berhasil menyelesaikan program Ph. -nya pada tahun 1949 dengan disertasi yang membahas tentang Ibn Sina. Disertasi tersebut kemudian diterbitkan oleh Oxford University Press pada tahun 1951 dengan judul AvicennaAos Psychology. Pada tahun 1959. Rahman juga menerbitkan edisi terjemahannya atas kitab An-Nafs karya Ibn Sina dengan judul AvicennaAos De Anima, melalui penerbit yang sama. Setelah mengajar di Barat. Rahman kembali ke Pakistan pada 1961 atas permintaan Perdana Menteri Ayyub Khan untuk memimpin Institut Penelitian Islam, di mana ia melakukan reformasi sosial dan budaya. Namun, upayanya memicu perlawanan dari gerakan Islam konservatif, terutama melalui karya-karyanya seperti Metodologi Islam dalam Sejarah . dan Islam . , yang mengkritisi pemahaman wahyu. Reaksi keras dari kelompok politik dan agama yang menentang Ayyub Khan membuat pandangannya menjadi sasaran kritik, yang akhirnya berdampak pada kesehatannya dan memaksanya mengundurkan diri pada 1968. Rahman kemudian kembali ke Barat, menjadi profesor di Universitas California. Los Angeles, dan pada 1969 pindah ke Universitas Chicago sebagai profesor pemikiran Islam. Ia diangkat sebagai Harold H. Swift Distinguished Service Professor pada 1986 dan meninggal pada 1988. Karya-karya intelektual Rahman yang mencakup berbagai isu seperti hak asasi manusia, hak perempuan, pendidikan, dan hukum terus berpengaruh dalam pemikiran Islam, mendorong reformasi sosial, serta mengkritik elemen-elemen irasional dalam tradisi Islam. Transformasi Tafsir dari Tradisional ke Modern Transformasi dari tafsir tradisional ke tafsir kontemporer menjadi fenomena penting yang layak untuk diteliti, karena dampaknya sangat besar terhadap cara umat Islam memahami dan mengamalkan ajaran agama di belahan dunia manapun. Transformasi ini tidak hanya sebatas membahas metode atau teknik interpretasi saja melainkan juga sebagai cerminan cara seseorang memandang hubungan antara teks dan konteks dari Al-QurAoan. Meskipun tafsir kontemporer memiliki dasar atau asas yang sama dengan tafsir klasik yakni untuk menyesuaikan pemahaman Al-QurAoan dengan konteks zamannya, sekaligus untuk merespon kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan di era modern. Tuntutan-tuntutan baru yang dihadirkan oleh perubahan zaman ini menekankan pentingnya pendekatan dan metodologi tafsir yang relevan, sehingga Al-QurAoan akan tetap menjadi kitab yang sempurna dan mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang dihadapi umat Islam saat Pembaruan dalam penafsiran Al-QurAoan mulai mendapatkan momentum dengan diterbitkannya karya pertama sebanyak enam jilid tafsir yang ditulis oleh Ahmad Khan. Setelah kontribusi Ahmad Khan, gerakan pembaruan tafsir di anak benua Indo-Pakistan terus berkembang hingga era modern. Pada awalnya, kajian difokuskan pada perkembangan konsep ijtihad dan implikasinya, mengingat ijtihad dianggap sebagai 16 Abuddin Nata. Pemikiran Pendidikan Islam Dan Barat (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2. , 316. Rifai Shodiq Fathyoni. AuBiografi Fazlur Rahman . ,Ay https://wawasansejarah. com/biografi-fazlur-rahman/. 18 Maolidya Asri Siwi Fangesty. AuKarakteristik Dan Model Tafsir Kontemporer,Ay Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 3, no. : 54, http://dx. org/10. 15575/mjiat. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dasar utama dalam pembaruan tafsir, terutama terkait berbagai isu teologis. Selanjutnya, pembaruan ini diperluas dengan menyesuaikan tafsir Al-QurAoan sesuai dengan tuntutan zaman modern. Penilaian terhadap pembaruan tafsir ini didasarkan pada interpretasi yang berbeda dari tafsir klasik serta pengaruh pandangan dunia . dan budaya Barat dalam pendekatan penafsirannya. Tafsir tradisionalisme yang mengacu pada pendekatan tekstual-struktural, berfokus pada penafsiran literal dari teks-teks agama dengan merujuk pada penafsiran klasik yang sudah mapan terutama pada penafsiran yang dilakukan oleh Rasulullah SAW memiliki ciri-ciri dan karakteristik khusus. Beberapa aspek dari penafsiran tersebut mencakup penegasan, perincian, pengembangan, pembatasan makna, kualifikasi makna serta pemberian ilustrasi. Dari segi tujuannya, penafsiran Rasulullah SAW terhadap ayat-ayat Al-QurAoan bertujuan untuk memberikan petunjuk, menunjukkan praktik langsung dan melakukan koreksi terhadap pemahaman yang kurang tepat. Seiring berjalannya waktu, kegiatan penafsiran terus berkembang. Berbagai masalah yang muncul dapat diselesaikan dengan merujuk pada Al-QurAoan melalui tafsiran. Hal inilah yang kemudian melahirkan metodologi tafsir Al-QurAoan dengan corak atau pendekatan yang berbedabeda. 20 Pendekatan tradisional ini lebih menekankan pada kesesuaian teks dengan makna yang telah diterima secara konvensional, seringkali tanpa memperhitungkan dinamika sosial atau perkembangan zaman. Ulama-ulama klasik seperti Al-Tabari. AlQurtubi dan Al-Razi cenderung mengikuti tradisi penafsiran yang telah ada dan menghindari interpretasi yang terlalu bebas. Salah satu pendekatan yang berkembang dalam tafsir kontemporer adalah tafsir kontekstual, yang menawarkan peluang untuk menghubungkan nilai-nilai secara umum dalam Al-QurAoan dengan isu-isu modern yang beragam. Pluralisme, sebagai salah satu contohnya menjadi semakin penting di dunia modern yang ditandai oleh keragaman budaya, agama dan keyakinan. Pendekatan ini menekankan akan pentingnya menghormati perbedaan dan mendorong adanya diskusi antaragama untuk menciptakan harmonisasi sosial. Saeed mengemukakan bahwa tafsir kontekstual mengakui bahwa ajaran Islam tentang toleransi dan saling menghormati dapat diterapkan secara efektif dalam masyarakat yang pluralistik saat ini. Namun, seiring dengan kemajuan zaman, metodologi tafsir mengalami perubahan yang signifikan dengan munculnya pendekatan kontekstual dan rasional. Munculnya perubahan ini senantiasa untuk memahami Al-QurAoan dalam konteks yang lebih luas dan relevan dengan isu-isu kontemporer. Metodologi tafsir kontemporer mulai mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dan terbuka. Salah satu perubahan signifikan adalah penerimaan tafsir bil-Ra'yi, yang memungkinkan penafsiran berdasarkan akal dan konteks sosial, politik serta budaya saat ini. Hal ini memberikan ruang bagi para mufassir untuk mengeksplorasi makna ayat-ayat Al-QurAoan dengan cara yang lebih dinamis dan Dalam metodologi kontemporer, berbagai metode penafsiran seperti tahlili, 19 M Haryono Yudhie. Nalar Al-QurAoan (Jakarta Timur: Nalar, 2. , 174Ae75. 20 Mustahidin Malula dan Reza Adeputra Tohis. AuMetodologi Tafsir Al-QurAoanAy, dalam Jurnal Al- Mustafid: Jurnal QurAoan Hadith Studies . https://doi. org/10. 30984/mustafid. 21 Annisa Rizki Ananda. AuTransformasi Perkembangan Tafsir: Model Tafsir Hadits Modern Fazlur Rahman Sebagai Kritik Terhadap Model Tafsir Sebelumnya,Ay Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu Al-QurAoan Dan Hadits 15, no. : 236, http://dx. org/10. 24042/al-dzikra. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 muqorron dan maudhu'i diperkenalkan. Pendekatan ini menjadikan Al-QurAoan sebagai sumber inspirasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Transformasi tafsir Al-QurAoan yang diusulkan oleh Fazlur Rahman membawa pendekatan yang lebih segar dan relevan dengan konteks sosial serta historis dalam memahami teks suci. Salah satu elemen penting dari pemikiran Rahman adalah penerapan metodologi sosio-historis. Melalui pendekatan ini. Rahman menganalisis konteks sejarah dan sosial di mana ayat-ayat Al-QurAoan diturunkan, sehingga tafsir tidak hanya menjadi penjelasan tekstual, tetapi juga mampu memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai relevansi ayat-ayat tersebut dalam konteks zaman sekarang. Rahman juga mengkritik penafsiran tradisional yang dinilai stagnan dan kurang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia mendorong pemikiran kritis terhadap teks AlQurAoan dengan menekankan bahwa tafsir seharusnya menghubungkan pesan-pesan AlQurAoan dengan realitas sosial dan budaya yang ada di masyarakat saat ini. Dalam upaya untuk menjembatani antara tradisi dan modernitas. Rahman mengakui pentingnya menjaga nilai-nilai tradisional, namun ia juga menekankan bahwa reinterpretasi ajaran Al-QurAoan sangat diperlukan agar dapat memberikan solusi bagi permasalahan kontemporer umat Islam. Lebih jauh lagi. Rahman mengedepankan prinsip keadilan dan kemanusiaan dalam tafsir Al-QurAoan, mendorong penerapan ajaran-ajaran Al-QurAoan dalam kehidupan sosial dan politik agar Al-QurAoan tidak hanya dipahami sebagai teks religius, melainkan sebagai pedoman hidup yang etis dan relevan. Dengan fokus pada pemahaman makna yang mendalam. Rahman percaya bahwa esensi ajaran AlQurAoan adalah kunci untuk menerapkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar mengikuti tekstualitasnya semata. Tantangan Fazlur Rahman dalam Transformasi Penafsiran Transisi dari tafsir tradisional ke kontemporer tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama dalam menghadapi kritik terhadap pendekatannya. Seperti yang diungkapkan oleh Hadi Mutamam yaitu ketidakpuasan terhadap tradisional yang dianggap tidak cukup relevan dalam menjawab permasalahan umat Islam di era modern. Karya-karya tradisional cenderung kurang responsif terhadap tantangan sosial, budaya dan isu-isu kontemporer, sehingga mendorong lahirnya pendekatan tafsir yang lebih adaptif terhadap dinamika zaman. Tafsir tradisional umumnya berfokus pada pemahaman teks Al-Qur'an dalam konteks sejarah dan budaya di masa ketika ayat-ayat tersebut diturunkan. Meskipun tafsir tradisional memberikan kedalaman pemahaman tentang teks dan makna, ia cenderung tidak memberikan jawaban yang cukup relevan atau aplikatif terhadap masalah-masalah modern. Dalam konteks ini, tafsir tradisional memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, tafsir klasik tidak selalu mempertimbangkan perkembangan sosial dan budaya terkini, yang berarti ia sering kali tidak dapat mengatasi isu-isu yang muncul di masyarakat modern, seperti Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender dan pluralisme. Kedua, tafsir tradisional juga terbatas dalam menyikapi isu-isu kontemporer yang muncul seiring dengan perubahan zaman. Karena pemahaman yang dominan lebih mengacu pada konteks sejarah masa lalu, tafsir tradisional sulit untuk diaplikasikan langsung dalam menghadapi tantangan sosial dan budaya masa kini. Ketiga, beberapa tafsir tradisional memiliki pendekatan yang terlalu dogmatis, dengan mengikuti 22 Irvandi Mile Muh Arif. AuMetodologi Studi Tafsir Al-QurAoan,Ay Jurnal PEKERTI: Jurnal Pendidikan Islam & Budi Pekerti 4, no. : 2, https://doi. org/10. 58194/pekerti. 23 Rizki Ananda. AuTransformasi Perkembangan Tafsir: Model Tafsir Hadits Modern Fazlur Rahman Sebagai Kritik Terhadap Model Tafsir Sebelumnya,Ay 236. 24 Rizki Ananda, 237. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 interpretasi tradisional yang tidak membuka ruang untuk reinterpretasi sesuai dengan perubahan dan kebutuhan zaman. Keempat, tafsir tradisional kurang fleksibel dalam merespons perubahan yang terjadi dalam norma sosial dan hukum, serta dalam menjalankan pemikiran yang berkembang di dunia modern. Karena itu, para pemikir kontemporer mendorong perlunya pendekatan tafsir yang lebih dinamis dan adaptif, yang mampu menjawab tantangan modern tanpa kehilangan esensi ajaran Al-Qur'an itu Namun menurutnya pendekatan baru ini sering kali memicu perdebatan mengenai keotentikan dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Tantangan utama tafsir kontemporer adalah menjaga relevansi terhadap kebutuhan masyarakat modern tanpa mengabaikan warisan tradisi yang menjadi dasar otoritas 25 Dengan demikian, tafsir kontemporer berupaya menjembatani antara tradisi dan modernitas, menjadikan Al-QurAoan relevan dan bermanfaat bagi masyarakat masa kini. Secara keseluruhan, perubahan metodologi dari tradisional ke modern dalam studi tafsir menunjukkan upaya untuk membumikan Al-QurAoan sebagai panduan hidup yang tidak hanya terikat pada masa lalu, tetapi juga mampu menjawab tantangan dan kebutuhan zaman sekarang. Ini adalah refleksi dari dinamika pemikiran Islam yang terus berkembang, sejalan dengan perubahan sosial dan budaya di masyarakat. Tantangan dalam transformasi tafsir terletak pada upaya menjembatani kebutuhan zaman modern dengan nilai-nilai tradisional Islam. Globalisasi, perkembangan teknologi dan perubahan sosial mendorong umat Islam untuk merevisi pemahaman mereka terhadap Al-QurAoan. Namun, proses ini menghadapi kritik, baik dari pihak yang menolak perubahan karena kekhawatiran akan penyimpangan tradisi maupun dari tantangan dominasi gagasan Barat. Transformasi tafsir memerlukan pendekatan yang hati-hati untuk menjaga relevansi ajaran Islam tanpa mengorbankan otentisitasnya sambil membangun dialog yang konstruktif antara Islam dan peradaban global. Meskipun menghadapi berbagai tantangan dan kritik, reformasi yang dilakukan oleh Ghazana Khan menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam konteks pemerintahan untuk menghasilkan perubahan positif. Langkah-langkah kebijakannya seperti penerapan simbol-simbol Islam, reformasi sistem hukum dan perpajakan, serta pengawasan terhadap praktik-praktik yang tidak sesuai dengan nilainilai Islam membawa pengaruh besar dalam memperkokoh asas pemerintahan yang berbasis nilai-nilai agama. Reformasi ini bahkan dikenal sebagai AuMasa Keemasan Islam setelah kejatuhan BaghdadAy (The Golden Age of Islam Post Baghda. yang mencerminkan bagaimana Islam mampu menyesuaikan dan berkembang meski di tengah tantangan Adapun secara spesifik. Fazlur Rahman menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi transformasi tafsir, terutama dalam konteks modern yang membutuhkan reinterpretasi teks-teks Al-Qur'an. Salah satu tantangan utama yang ia hadapi adalah keterasingan tafsir klasik dari konteks sosial dan sejarah masa kini. Rahman mengkritik metode tafsir tradisional yang sering kali tidak memperhatikan isu-isu kontemporer, dan 25 Hadi Mutaman Muhammad. AuKontribusi Dan Kritik Tafsir Kontemporer,Ay Jurnal Al-Fikr 17, no. : 162Ae64, https://journal. uin-alauddin. id/index. php/alfikr/article/download/2274/2207. 26 Arif, 11. 27 Arif, 8. 28 Abdullah Lewo. AuPenafsiran Al-QurAoan Di Era Kontemporer,Ay Mashadiruna: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 2, no. , http://dx. org/10. 15575/mjiat. 29 Haif and Mahfudah. AuTransformasi Intelektual Dan Kultural: Perkembangan Islam Pasca Serangan Mongol,Ay 435. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 ia mendorong pemahaman Al-Qur'an yang relevan dengan permasalahan zaman. Namun, pendekatan ini menghadapi resistensi dari kalangan tradisionalis yang enggan meninggalkan cara penafsiran lama. Selain itu. Rahman juga mengidentifikasi masalah pemisahan antara teks dan konteks dalam tafsir klasik, di mana ayat-ayat Al-Qur'an sering kali diinterpretasikan secara terpisah tanpa mempertimbangkan hubungan antarbagian, yang dapat menyebabkan pemahaman yang tidak holistik. Oleh karena itu. Rahman mengusulkan metode tafsir Double Movement yang berfokus pada integrasi antara teks dan konteks, meskipun pendekatan ini membutuhkan perubahan pola pikir dari para mufassir. Tantangan lain yang dihadapi Rahman adalah subjektivitas dalam Ia berpendapat bahwa setiap generasi berhak menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan konteks mereka, namun hal ini menuntut keseimbangan antara kebebasan interpretasi dan integritas teks itu sendiri. Selain itu, transformasi tafsir yang diusulkan Rahman sering kali menghadapi penolakan dari kalangan konservatif yang lebih memilih tafsir konvensional. Ia harus berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan dari ulama serta komunitas Muslim agar metode barunya diterima. Terakhir. Rahman juga harus mengatasi kompleksitas isu-isu modern, seperti pluralisme. Hak Asasi Manusia dan gender, yang memerlukan reinterpretasi lebih mendalam dan inovatif terhadap teks Al-Qur'an. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini. Rahman berupaya menjawabnya dengan pendekatan kritis dan komprehensif, menekankan pentingnya struktur dan logika dalam memahami Al-Qur'an agar dapat memberikan solusi terhadap masalah-masalah kontemporer yang dihadapi oleh masyarakat Muslim. Kontribusi Tafsir Modern Perspektif Fazlur Rahman terhadap Kebangkitan Intelektual Tafsir berperan penting dalam pengembangan intelektual umat Islam dengan meningkatkan pemahaman agama, menjembatani teks Al-QurAoan dan konteks sosial, serta menjaga relevansi ajaran agama di tengah perkembangan ilmu pengetahuan. Proses tafsir juga mendorong pemikiran kritis melalui pendekatan analitis dan reflektif yang menghasilkan penafsiran inovatif. Selain itu, tafsir berkontribusi dalam pendidikan agama, membangun fondasi intelektual generasi muda dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam. Menurut Tia Rahayu dan Alwizar dalam penelitiannya menjelaskan bahwa tafsir AlQurAoan juga memberikan kontribusi yang besar terhadap perkembangan intelektual umat Islam melalui berbagai cara. Tafsir membantu memahami makna dan konteks Al-QurAoan agar memudahkan penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, tafsir juga mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu seperti linguistik, sejarah dan filsafat, yang mendorong penggunaan akal dan logika dalam penafsiran serta memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan. Tafsir yang adaptif terhadap perubahan zaman juga menjaga relevansi ajaran Islam dalam konteks modern, baik secara sosial, budaya, 30 Rifki Ahda Sumantri. AuHermeneutika Al-QurAoan Fazlur Rahman Metode Tafsir Double Movement,Ay Komunika: Jurnal Dakwah Komunikasi . https://ejournal. id/susi/index. php/JK/article/download/3314/2335/. 31 Agus Salim Hasanudin and Eni Zulaiha. AuHakikat Tafsir Menurut Para Mufassir,Ay Jurnal Iman Dan Spiritualitas 2, no. : 203Ae10, http://dx. org/10. 15575/jis. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 maupun ilmiah. Dengan begitu, tafsir tidak hanya menjadi sarana memahami teks suci, tetapi juga mendorong pengembangan intelektual dan dialog dalam masyarakat Islam. Tafsir modern menurut Hadi Mutamam, memiliki peran signifikan dalam menjaga relevansi dan penerapan Al-Qur'an di zaman sekarang. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman Al-Qur'an dalam konteks sosial, politik dan keagamaan masa kini dengan menegaskan bahwa dalil Al-Qur'an diberikan sebagai respons terhadap kondisi masyarakat pada zamannya, bukan terpisah dari konteks ruang dan waktu. Tafsir modern juga memperhatikan perkembangan bahasa dengan mengakui bahwa makna bahasa dapat berubah seiring waktu. Di samping itu, tafsir modern tetap menghargai pemahaman Nabi Muhammad terhadap wahyu, tetapi menekankan pentingnya interpretasi yang mampu mengatasi tantangan dan permasalahan yang dihadapi dunia saat ini. Dalam pendekatan ini, peran mufassir juga dianggap penting, di mana seorang penafsir diharapkan aktif dalam masyarakat dan peka terhadap isu-isu yang dihadapi. Seperti contohnya tafsir kontemporer metode "Double Movement" yang digagas oleh Fazlur Rahman, menggunakan pendekatan sosio-historis untuk memahami konteks turunnya ayat-ayat Al-QurAoan. Pendekatan ini memungkinkan pengungkapan nilai-nilai moral universal yang kemudian diterapkan dalam konteks kekinian, menjadikannya sebagai solusi atas problematika modern. Tafsir kontemporer berkontribusi dalam memperluas wawasan intelektual umat Islam dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, seperti sejarah, linguistik, dan filsafat, ke dalam proses penafsiran. Selain itu, tafsir ini menciptakan ruang dialog antarmazhab dan aliran pemikiran, memperkaya diskursus intelektual dalam Islam. Dengan mengangkat nilai-nilai keadilan, kemanusiaan dan kesetaraan dari Al-QurAoan, tafsir kontemporer turut mendorong perkembangan pemikiran Islam yang adaptif dan relevan dalam konteks sosial, budaya dan ilmiah saat Pengaruh Modernitas. Globalisasi dan Kebangkitan Intelektual terhadap Perkembangan Tafsir Al-QurAoan Perkembangan Tafsir dan perubahan metodologi tafsir ini tidak terlepas dari berbagai pengaruh, di antaranya pengaruh modernitas, globalisasi dan kebangkitan intelektual itu sendiri. Ketiga elemen ini memengaruhi cara pandang terhadap Al-QurAoan, pendekatan tafsir dan relevansi pesan-pesan Ilahi dalam konteks masyarakat yang terus Pengaruh modernitas terhadap perkembangan tafsir sangat signifikan dalam membentuk pendekatan baru terhadap Al-QurAoan. Modernitas mendorong tafsir berkembang dari pendekatan tradisional yang dominan hingga munculnya metode penafsiran yang lebih sistematis dan kontekstual, seperti metode maudhui . , tahlili, ijmali dan muqarran. Modernitas juga memengaruhi konten dan fokus tafsir dengan munculnya mufassir yang membahas isu-isu kontemporer. Hal ini menandai 32 Tia Rahayu and Alwizar. AuRelevansi Sumber Tafsir Al-QurAoan: Perspektif Tafsir Bi al-Matsur. Bi Ar- RaAoyi Dan Bi al-Isyari,Ay Hamalatul QurAoan: Jurnal Ilmu-Ilmu Al-QurAoan 5, no. : 569Ae79, https://doi. org/https://doi. org/10. 37985/hq. 33 Hadi Mutaman Muhammad. AuKontribusi Dan Kritik Tafsir Kontemporer,Ay Jurnal Al-Fikr 17, no. : 157Ae62, https://journal. uin-alauddin. id/index. php/alfikr/article/download/2274/2207. 34 Sulkifli and Nurul Hikmah Amir. AuKontribusi Metode Double Movement Fazlur Rahman Terhadap Penafsiran Al-QurAoan,Ay Tafsere . 60Ae74, https://doi. org/https://doi. org/10. 24252/jt. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 pergeseran dari tafsir berbasis tradisi riwayah menuju penggabungan data dan analisis yang lebih luas, termasuk ilmu pengetahuan modern, sosiologi dan sejarah. Modernitas membawa integrasi ilmu pengetahuan, memperluas cakupan analisis dan menambah kedalaman pemahaman terhadap konteks ayat-ayat suci. Mufassir modern menjadikan tafsir lebih relevan dalam kehidupan umat Islam saat ini. Kemajuan teknologi informasi juga mempermudah aksesibilitas terhadap karya-karya tafsir. Publikasi digital dan media elektronik memungkinkan penyebaran tafsir ke khalayak yang lebih luas, membuka peluang bagi generasi modern untuk memaknai Al-QurAoan secara lebih kontekstual. Tafsir modern, seperti karya al-Maraghi dan al-Manar, menjadi contoh konkret bagaimana modernitas mengarahkan penafsiran Al-QurAoan ke arah yang lebih relevan, responsif dan bermanfaat bagi masyarakat masa kini. Fazlur Rahman dalam pendekatannya terhadap tafsir Al-Qur'an, berpendapat bahwa meskipun Al-Qur'an diturunkan dalam konteks tertentu, ia memiliki nilai-nilai universal yang relevan sepanjang waktu. Dalam karyanya Islam and Modernity . Rahman mengkritik sistem pendidikan Islam yang terlalu terikat pada tradisi klasik dan dogma madzhab tertentu, yang menghambat umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman modern. Rahman menawarkan konsep "Intelektualisme Islam," yaitu pemikiran Islam yang mampu menilai dan menanggapi perubahan zaman. Sehingga modernitas turut mendorong kemunculan institusi pendidikan Islam berbasis modern, termasuk perguruan tinggi Islam yang menjadi pusat pengembangan tafsir berlandaskan ilmu pengetahuan. Pesantren modern juga mulai menerapkan kurikulum yang menggabungkan ilmu agama dengan ilmu umum, sehingga melahirkan generasi mufassir yang mampu menjawab tantangan era global. Dalam kerangka ini, tafsir kontemporer memberikan ruang bagi pemikiran yang lebih inklusif terhadap berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu sosial, filsafat dan ilmu alam. Pendekatan yang menyeluruh ini memungkinkan Al-QurAoan tetap relevan sebagai pedoman hidup yang adaptif. Pengaruh globalisasi terhadap perkembangan tafsir mencakup aspek positif dan negatif yang saling berkaitan. Di era ini, kemajuan teknologi informasi memudahkan akses terhadap ilmu tafsir dan penyebaran pemahaman Al-QurAoan. Berbagai platform digital, seperti media sosial dan situs web, memungkinkan muslim dari berbagai belahan dunia untuk mempelajari tafsir secara cepat dan efisien, sehingga literasi agama dapat diperkuat secara global. Namun, globalisasi juga membawa tantangan berupa pengaruh budaya Barat yang liberal dan pola pikir yang sering kali bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini dapat mengikis identitas muslim terutama di kalangan generasi muda melalui adopsi gaya hidup dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan prinsip keislaman. Arus globalisasi mendorong tafsir untuk beradaptasi dengan pendekatan modern, seperti metode tematik dan digitalisasi guna menghadapi isu-isu kontemporer. Meski membuka peluang besar untuk memperluas dakwah, globalisasi juga memunculkan ancaman seperti ekstremisme dan liberalisme. Oleh karena itu, tafsir modern berfungsi 35 Faqih. AuSejarah Perkembangan Tafsir. Ay 36 Sakirman. AuKonstruk Metodologi Tafsir Modern: Telaah Terhadap Tafsir Al-Manar. Al-Maraghi Dan Al-Misbah,Ay Hermeneutika: Jurnal Ilmu Al-QurAoan Dan Tafsir 10, no. : 281Ae92, https://doi. org/http://dx. org/10. 21043/hermeneutik. 37 Muhammad Arman Al Jufri. AuIslam Dan Modernitas: Membaca Pikiran Fazlur RahmanAy (UIN Sunan Kalijaga, n. ), https://iatmagister. uin-suka. id/id/kolom/detail/485/blog-post. 38 Azyumardi Azra. Esei-Esei Intelektual Muslim Dan Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1. , 67Ae70. 39 Musthofa Ibrahim. Nala Hanifatul Magfiroh, and Putri Aulia Nurrizki Fadillah. AuIslam Dan Globalisasi,Ay Jurnal Ilmu Sosial. Manajemen Dan Akuntansi 2, no. : 905Ae16, https://melatijournal. com/index. php/jisma/article/view/354. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 sebagai alat penting untuk menjembatani ajaran Al-QurAoan dengan dinamika global yang terus berubah. Pendekatan berbasis nilai-nilai keadilan dan kesetaraan menjadi panduan bagi umat Islam untuk tetap teguh pada ajaran agama, sambil memanfaatkan globalisasi sebagai sarana memperluas wawasan keagamaan dan menjadikan tafsir lebih inklusif serta relevan di dunia modern. Pengaruh globalisasi terhadap transformasi tafsir Fazlur Rahman terlihat dalam pendekatannya yang menekankan pentingnya memahami Al-Qur'an dalam konteks sosial, politik dan budaya masa kini. Melalui metode "Double Movement" Rahman menyarankan agar tafsir menghubungkan konteks wahyu dengan tantangan Globalisasi mendorong tafsir untuk lebih responsif terhadap isu-isu modern, seperti hak asasi manusia, kesetaraan gender dan pluralisme. Kebangkitan intelektual yang dipelopori oleh cendekiawan Muslim modern seperti Fazlur Rahman. Muhammad Abduh. Nasr Hamid Abu Zayd dan cendekiawancendekiawan lainnya telah membawa perubahan signifikan dalam metodologi tafsir AlQurAoan. Para pemikir ini menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam dengan menerapkan pendekatan kritis berbasis rasionalitas untuk menjawab berbagai tantangan kontemporer yang dihadapi umat Islam. 42 Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan penafsiran baru terhadap teks suci, tetapi juga berupaya menghubungkan nilai-nilai Islam dengan dinamika modernitas. Di Indonesia, kebangkitan intelektual tersebut tercermin dari meningkatnya partisipasi dalam pendidikan tinggi dan adopsi pendekatan multidisipliner dalam kajian Para intelektual Muslim memanfaatkan berbagai disiplin ilmu, seperti linguistik, antropologi dan sosiologi untuk memberikan interpretasi yang lebih holistik terhadap AlQurAoan. Hal ini terlihat dalam salah satu karya seperti Tafsir Al-Mishbah yang ditulis oleh Quraish Shihab yang mengintegrasikan wawasan linguistik dan analisis sosial dalam Secara keseluruhan, transformasi metodologi tafsir ini menunjukkan bagaimana tafsir tidak hanya sebagai alat untuk memahami teks-teks agama secara harfiah, tetapi juga sebagai sarana untuk menjawab tantangan zaman dan memberi arah bagi umat Islam dalam menghadapi permasalahan sosial dan global yang semakin kompleks. Dampak Transformasi Metodologi Tafsir terhadap Pemahaman Al-QurAoan Pembaruan . dalam Islam diakui oleh mayoritas ulama, meskipun terdapat perbedaan dalam definisi dan pelaksanaannya. Beberapa ulama, seperti Ahmad ibn Hanbal, menganggap tajdid sebagai penyebaran ilmu, sementara lainnya memandangnya sebagai pengembalian ajaran agama ke masa salaf. Ada pula yang memahami tajdid sebagai penyesuaian ajaran agama dengan konteks modern melalui taAowil yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial. Namun, pandangan yang terlalu membatasi pada metode generasi salaf dapat mengabaikan sifat dialogis Al-QurAoan, sementara interpretasi yang terlalu bebas berisiko menghilangkan universalitasnya. Pendekatan moderat diperlukan dengan menjaga keseimbangan antara relevansi modern dan keaslian ajaran. Pendapat-pendapat seperti Al-Maududi dan Muhammad Asad 40 Mohamad Wardan et al. AuIslam Dan Globalisasi Dalam Kajian Tafsir Al-QurAoan,Ay Almaheer: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. : 48Ae59, https://doi. org/http://10. 63018/jpi. 41 Muhammad Amin. AuKontribusi Tafsir Kontemporer Dalam Menjawab Persoalan Umat,Ay Jurnal Substantia . https://jurnal. id/index. php/substantia/article/download/4880/3162. 42 Rahman, 143Ae47. 43 Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah, n. , 65Ae72. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam memahami mutasyabih atau metafora dalam Al-QurAoan agar tetap sesuai dengan esensi agama tanpa menghilangkan aspek suprarasionalitasnya. Transformasi metodologi tafsir telah membawa pergeseran dari pendekatan tekstual menuju pendekatan kontekstual yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Pendekatan ini memanfaatkan metode hermeneutika untuk memaknai Al-QurAoan dalam konteks sosial, historis dan kultural, menjadikannya lebih responsif terhadap permasalahan kontemporer. Dengan integrasi berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi dan filsafat, tafsir modern menghasilkan pemahaman yang dinamis dan progresif, menjadikan kitab suci Al-QurAoan sebagai panduan hidup yang relevan dalam memecahkan problematika umat manusia sepanjang masa. Perbedaan dalam metode penafsiran ini membawa dampak besar pada cara memahami dan menerapkan hukum Islam. Misalnya. Quraish Shihab dalam menafsirkan ayat tentang riba tidak hanya diartikan sebagai larangan secara harfiah, tetapi juga mempertimbangkan dampak perekonomian dan sosial dalam konteks zaman sekarang. Pendekatan ini berbeda dengan tafsir klasik yang lebih berfokus pada konteks historis, yang sering kali kurang sesuai dengan dinamika ekonomi saat ini. Hasil temuan inilah yang menunjukkan bahwa metode kontekstual tidak hanya menghasilkan pemahaman yang sesuai, tetapi juga memiliki potensi untuk mereformasi aspek-aspek hukum Islam yang masih dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan zaman. Meski demikian, pendekatan ini tidak terlepas dari berbagai tantangan, terutama dalam menjaga keseimbangan antara fleksibilitas penafsiran dan penghormatan serta penjagaan terhadap otoritas teks suci. Dengan mengintegrasikan analisis sosio-historis, mufassir kontemporer mampu memberikan solusi bagi berbagai tantangan hukum Islam di era modern. Abdullah Saeed dalam bukunya, menekankan pentingnya memahami maqasid alshariah ketika menafsirkan ayat-ayat hukum, terutama yang berkaitan dengan hukumhukum utama. Pendekatan ini bertujuan untuk menjaga inti dan tujuan utama dari hukum Islam, seperti keadilan, kemaslahatan dan kesejahteraan umat. Sebagai contoh, dalam menafsirkan ayat tentang hukuman potong tangan bagi pencuri. Saeed menawarkan interpretasi yang lebih humanis dan lebih sesuai dengan konteks hukum pidana modern, yang lebih mengutamakan rehabilitasi daripada pemberian hukuman fisik yang keras. Mengenai dampak transformasi tafsir Fazlur Rahman terhadap pemahaman AlQur'an sangat besar, terutama dalam konteks modernitas. Metode tafsir yang diajukan Rahman, yang dikenal sebagai "Double Movement," memungkinkan pemahaman AlQur'an yang lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman. Metode ini berfokus pada dua gerakan: pertama, mengkaji situasi historis saat wahyu diturunkan, dan kedua, kembali ke konteks kekinian untuk menerapkan nilai-nilai universal Al-Qur'an. Dampak utama dari metode ini adalah memungkinkan Al-Qur'an untuk tetap relevan dalam mengatasi masalah-masalah sosial, politik dan budaya di dunia modern. Rahman menekankan pentingnya memahami moral dasar yang terkandung dalam Al-Qur'an yang 44 Yudhie, 220Ae23. 45 Wely Dozan. Farihin, and Lalu Masaji. AuReformasi Tafsir Al-QurAoan Di Era Modern (Telaah Historis Dinamika Dan Transformasi Metodologi Interpretas. ,Ay Al-Afkar: Journal for Islamic Studies 5, no. 425Ae30, https://doi. org/https://doi. org/10. 31943/afkarjournal. 46 Muhammad Ardi Kusumawardana. AuMetodologi Kontekstual Dalam Tafsir Ayat Hukum: Studi Literatur Atas Tafsir Klasik Dan Kontemporer,Ay 3888. 47 Abdullah Saeed. Interpreting the QurAoan: Towards a Contemporary Approach (New York: Routledge Taylor & Francis Group, 2. , http://islam-and-muslims. com/Abdullah-Saeed-Interpreting-Quran. Vol. 5 No. February 2025, pp. Nurcahyati. Haqiqi Al-Muhafidz: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 dapat diterapkan di berbagai zaman, meskipun konteksnya berubah. Pendekatan ini juga mengkritik tafsir tradisional yang cenderung terjebak dalam interpretasi literal dan tidak mempertimbangkan dinamika sosial serta perubahan zaman. Dengan demikian, transformasi tafsir Rahman membuka peluang bagi pemahaman Al-Qur'an yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan zaman modern, sambil tetap menjaga esensi nilai-nilai moral yang terkandung dalam teks Al-Qur'an. Metode ini mengajak umat Islam untuk berpikir kritis dan melakukan ijtihad dalam menghadapi tantangan kontemporer. KESIMPULAN Transformasi tafsir yang diperkenalkan oleh Fazlur Rahman melalui metode "Double Movement" memberikan dampak besar dalam memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur'an di era modern. Rahman mengusulkan pendekatan tafsir yang lebih kontekstual, yang menghubungkan teks Al-Qur'an dengan dua dimensi realitas: pertama, memahami konteks sosial, historis, dan budaya saat wahyu diturunkan, dan kedua, kembali ke realitas masa kini untuk mengaplikasikan nilai-nilai universal Al-Qur'an. Dengan cara ini, tafsir tidak hanya relevan dengan masa lalu, tetapi juga memberikan solusi bagi isu-isu kontemporer seperti Hak Asasi Manusia, kesetaraan gender, dan Transformasi tafsir yang diajukan Rahman berfokus pada menghidupkan tafsir dalam konteks yang dinamis dan terus berkembang. Ia menekankan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang hidup dan tafsir harus dapat merespon perubahan sosial dan budaya yang terjadi akibat globalisasi dan modernitas. Metode ini memungkinkan tafsir untuk lebih responsif terhadap perubahan zaman, tetapi juga menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara inovasi tafsir dengan penghormatan terhadap tradisi dan otoritas teks Al-Qur'an. Sebagian pihak mengkritik bahwa pendekatan Rahman cenderung mengesampingkan makna literal dan pesan utama dari Al-Qur'an. Namun, pendekatan tafsir Rahman tetap menunjukkan pentingnya memahami Al-Qur'an secara holistik, menggabungkan konteks historis dan relevansinya dengan permasalahan masa Secara keseluruhan, transformasi tafsir yang diajukan Fazlur Rahman memperlihatkan bahwa tafsir tidak hanya sekadar sebuah aktivitas intelektual, tetapi juga alat untuk memahami dan mengaplikasikan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari yang terus berkembang. Pendekatan ini memberi ruang bagi penafsiran yang lebih fleksibel dan relevan di tengah dinamika global dan tantangan modernitas. BATASAN Pembahasan dalam artikel ini dibatasi pada kajian transformasi tafsir dalam konteks pemikiran Fazlur Rahman, khususnya mengenai metode tafsir "Double Movement" dan pengaruhnya terhadap pemahaman Al-Qur'an di era modern. Penelitian ini tidak membahas secara mendalam mengenai tafsir klasik dan metodologi tafsir lainnya yang berkembang di dunia Islam. Selain itu, penelitian ini juga lebih berfokus pada teori dan prinsip-prinsip dasar tafsir Rahman tanpa memasukkan analisis praktik tafsir di lapangan atau penerapannya di komunitas Muslim secara langsung. KONTRIBUSI PENULIS Adapun kontribusi yang diberikan pada penelitian ini yaitu memperkaya wacana tafsir kontemporer dengan menggali metode hermeneutika Fazlur Rahman sebagai upaya untuk menanggapi dinamika sosial dan globalisasi. Dengan memperkenalkan tafsir yang 48 Nursyifa Naqiya. Hilya Nuri, dkk. AuCriticism of Fazlur RahmanAos Al-QurAoan Hermeneutics,Ay 12. Transformation of Traditional to Modern TafsirA ISSN: 3062-6919 E-ISSN: 2807-6346 lebih responsif terhadap masalah-masalah modern, artikel ini menunjukkan relevansi AlQur'an dalam konteks kekinian, sekaligus menyoroti tantangan yang dihadapi oleh mufassir dalam menyelaraskan tradisi dengan kebutuhan zaman. Kontribusi lainnya adalah menyediakan pemahaman yang lebih mendalam mengenai bagaimana tafsir dapat beradaptasi dengan isu-isu global tanpa kehilangan esensi nilai-nilai universal Al-Qur'an. REFERENSI