Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 PEMIKIRAN PENDIDIKAN BERTRAND RUSSELL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Robby Pamungkas, 2Arwin Juli Rakhmadi 1,2 Fakultas Agama Islam. Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara 1 email: robbypamungkas2870@yahoo. email:almarshad@umsu. Abstrak Masalah kebekuan akal di dalam pengajaran agama Islam pada tingkat SMP dan SMA adalah sebuah ironi karena hal ini sangat bertentangan dengan pandangan al-Quran terkait dengan posisi akal di dalam tradisi Islam. Pada banyak ayat, al-Quran selalu menekankan para pembacanya untuk menggunakan akal secara serius. Berangkat dari masalah ini, peneliti menemukan Bertrand Russell dengan pemikirian pendidikan yang cukup solutif untuk masalah kebekuan akal ini dan juga memiliki implikasi yang baik terhadap pendidikan Islam secara umum, terutama pada penggunaan akal di dalam Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan akal di dalam pemikiran pendidikan Bertrand Russell dan implikasi pemikiran pendidikan beliau terhadap pendidikan Islam, serta solusi apa yang diberikan Bertrand Russell untuk masalah kebekuan akal yang terjadi di dalam pengajaran agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi tokoh. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah dokumentasi yang dilakukan dengan mengkaji literatur yang relevan dengan penelitian ini baik yang bersumber dari sumber-sumber primer maupun sumber-sumber Teknik analisis data penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah, seperti reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti yang valid. Pemikiran pendidikan Bertrand Russell secara kuat memberikan penekanan kepada penggunaan akal dan secara konsisten berimplikasi kepada tradisi penggunaan akal di dalam Islam, serta cukup solutif untuk menyelesaikan masalah kebekuan akal di dalam pengajaran agama Islam. Kata Kunci: pendidikan, akal, kebekuan. Islam, agama This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Berangkat dari pengalaman peneliti tentang kegiatan pembelajaran agama Islam di sekolah pada tingkat menengah pertama dan menengah atas, peneliti mendapati sebuah ketidaklayakan berupa kebekuan akal (Kejumudan aka. Para pengajar agama Islam tidak berusaha merangsang daya pikir para peserta didik dalam pengajaran mereka di dalam kelas-kelas. Padahal, dari sudut pandang psikologis dan biologis para peserta didik yang ada pada sekolah tingkat menengah pertama dan atas sudah sampai ke kondisi di mana mereka mampu untuk berpikir secara mandiri atau dalam istilah Islam disebut sebagai Aoaqil . engguna aka. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Peneliti melihat hubungan yang jelas antara fanatisme beragama dan kebekuan akal ini. Berangkat dari hal ini, peneliti mencoba mencari literatur dan tokoh terkait yang dapat dijadikan sumber inspirasi untuk menyelesaikan fenomena kebekuan akal di dalam pendidikan agama Islam. Pada saat peneliti mencari tokoh-tokoh yang memiliki kepedulian kepada dunia pendidikan, peneliti menemukan Bertrand Russell. Bertrand Russell adalah seorang pemikir besar Inggris yang cakupan pemikirannya cukup luas dan beragam. Peneliti menemukan dan tertarik kepada pemikiran beliau tentang pendidikan yang cukup solutif untuk permasalahan kebekuan akal di dalam pendidikan agama Islam yang peneliti alami selama Bertrand Russell menawarkan konsep-konsep pendidikan, seperti Liberty. Authority, dan Reverence yang menurut beliau harus bergerak secara dinamis di dalam ruang-ruang kelas (Denonn, 1. Meskipun masalah yang peneliti temukan adalah kebekuan akal yang terjadi di dalam pengajaran agama Islam, lebih jauh dari itu, peneliti juga ingin melihat implikasi pemikiran pendidikan Bertrand Russell terhadap pendidikan Islam pada dimensi teoretis yang dominan. Bertrand Russell menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah individu itu sendiri. Pendidikan tidak dijalankan demi kepentingan institusi tertentu (Denonn, 1. Konsep pendidikan ini sejalan dengan teologi Islam bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dirinya masing-masing baik di dunia maupun di hadapan Tuhan nanti. Sehingga, orang tidak menjadi terdidik kecuali untuk keselamatannya sendiri di hadapan Tuhan. Islam sebagai sebuah agama memiliki orientasi berupa Tuhan. Segala macam aktifitas yang diturunkan dari ajaran Islam berorientasi kepada Tuhan. Pendidikan Islam tentu saja juga berorientasi kepada Tuhan. Sehingga secanggih apapun rancangan teori dan praktik pendidikan Islam, tujuan utamanya tetap untuk menjadikan manusia sadar tentang perannya di bumi, yaitu sebagai hamba Tuhan. Meskipun Islam sudah menutup orientasinya, dalam arti tidak ada perdebatan tentang orientasi ajaran Islam, tetapi Islam tidak membatasi potensi akal manusia. Akal adalah wadah atau alat yang digunakan untuk menghimpun ilmu pengetahuan. Dorongan untuk menggunakan akal secara aktif di dalam tradisi Islam sangat mencolok dan Allah sering menyinggung kata-kata, seperti yaAoqilun, yatadabbarun, yatafakkarun dalam ayat-ayat yang bercerita tentang sebagian fenomena alam (Wasehudin, 2. Untuk memahami alam semesta, setiap orang memang harus mau membuka akalnya kepada berbagai macam tradisi pemikiran karena ada banyak pandangan tentang alam yang telah dirumuskan oleh manusia sepanjang sejarah manusia di bumi ini. Peneliti melihat bahwa pemikiran pendidikan Bertrand Russell dan pendidikan Islam sama-sama memiliki semangat untuk memaksimalkan penggunaan akal secara mandiri, meskipun keduanya memiliki orientasi yang berbeda. Orientasi pemikiran pendidikan Bertrand Russell adalah individu sedangkan Islam adalah Tuhan. Kesamaan pada penekanan penggunaan akal ini yang membuat peneliti tertarik untuk meneliti pemikiran pendidikan Bertrand Russell dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Selanjutnya, peneliti akan menguraikan secara lebih jauh pemikiran pendidikan Bertrand Russell dan implikasinya terhadap pendidikan Islam serta melihat bagaimana pemikiran pendidikan beliau dapat menyelesaikan masalah kebekuan akal di dalam pendidikan agama Islam yang peneliti singgung di awal. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dan jenis penelitiannya adalah studi tokoh. Studi tokoh adalah pengkajian secara sistematis terhadap pemikiran atau gagasan seorang pemikir, keseluruhannya atau sebagiannya. Pengkajiannya yakni meliputi latar belakang internal, eksternal, perkembangan pemikiran, hal-hal yang dilakukan dan kurang diperhatikan, kekuatan dan kelemahan pemikiran tokoh, serta kontribusinya bagi zamannya dan masa sesudahnya (Harahap, 2. Inti dari studi tokoh adalah suatu kajian secara mendalam, sistematis, kritis mengenai sejarah tokoh, ide orisinil, serta konteks sosiohistoris yang melingkupi tokoh yang dikaji di dalam sebuah penelitian. HASIL Bertrand Russell mendefenisikan pendidikan sebagai upaya untuk menjadikan seseorang berpikir, bukan beriman atau percaya kepada suatu ajaran tertentu (Denonn, 1. Pada bagian awal uraian beliau tentang pendidikan. Bertrand Russell menyinggung tentang motif politis dari pendidikan atau institusi pendidikan secara umum. Menurut Bertrand Russell, pendidikan sebagai sebuah institusi politis memiliki kecenderungan untuk menanamkan pandangan-pandangan tertentu kepada para pemuda untuk membuat mereka memihak kepada sebuah kelompok tertentu. Pendidikan semacam ini cenderung menanamkan doktrin secara dogmatis kepada para pemuda. Bertrand Russell memandang bahwa pendidikan seharusnya tidak bertujuan untuk membuat mereka memihak kepada kelompok ini atau itu, tetapi pendidikan seharusnya membuat mereka mampu untuk memilih secara cerdas di antara kelompok-kelompok yang ada. Pendidikan harusnya membuat mereka mampu untuk berpikir secara mandiri, bukan malah membuat mereka berpikir sesuai dengan pikiran guru-guru mereka (Denonn, 1. Bertrand Russell mengatakan bahwa jika kita benar-benar menghargai hak-hak anakanak didik, kita seharusnya mendidik mereka dalam rangka memberikan mereka pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan mental (Mental habit. sebagai syarat agar mereka mampu menghasilkan pendapat-pendapat yang independen. Kemudian Bertrand Russell menyinggung dua buah prinsip, yaitu keadilan (Justic. dan kebebasan (Libert. Bertrand Russell mengatakan bahwa keadilan dan kebebasan melingkupi secara luas pembangunan masyarakat, tetapi keduanya tidak cukup bila dikaitkan kepada pendidikan. Menurut Bertrand Russell keadilan secara jelas tidak begitu mungkin untuk anak-anak didik. Dan untuk kebebasan, ia secara esensial negatif dengan pengertian bahwa ia mengutuk semua campur tangan eksternal dengan alasan kebebasan (Denonn, 1. Menurut Bertrand Russell, prinsip kebebasan di dalam pendidikan tidak mungkin bisa sempurna karena dalam pengajaran, seorang guru memiliki otoritas untuk memberikan doktrin dan menanamkan pelajaran-pelajaran kepada para peserta didik. Maka dari itu, para peserta didik perlu mendengarkan si guru terlebih dahulu dan memberikan perhatian mereka kepada pengajaran si guru yang mana pada akhirnya, mereka bisa memilih apakah mau menerima atau menolak untuk meyakini pengajaran si guru. Penolakan dan penerimaan pengajaran dapat dilakukan oleh para peserta didik pada dimensi abstrak-teoretis di mana mereka juga perlu mendasari penolakan atau penerimaan mereka dengan argumen yang dapat diuji. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Bertrand Russell mengatakan bahwa otoritas di dalam pendidikan pada tingkat tertentu tidak bisa dihindari, dan para pendidik harus mencari cara untuk menerapkan prinsip otoritas agar sejalan dengan semangat kebebasan (Denonn, 1. Menurut Bertrand Russell, penghormatan diperlukan di mana otoritas di dalam pendidikan tidak bisa dihindari. Dengan penghormatan, seorang guru akan memiliki kerinduan untuk membantu peserta didik di dalam perjuangannya . embimbing dir. Dia akan melengkapi dan menguatkannya, bukan untuk semacam tujuan luar diri yang dikehendaki oleh negara atau oleh otoritas eksternal apapun, tetapi untuk tujuan-tujuan yang mana semangat peserta didik itu sendiri cari secara samar-samar. Seseorang yang merasakan ini dapat menggunakan otoritas dari seorang pendidik tanpa melanggar prinsip kebebasan. Menurut Bertrand Russell, pendidikan yang diadakan oleh negara, gereja, dan institusiinstitusi besar lain tidak berdiri di atas semangat penghormatan. Apa yang menjadi pertimbangan utama di dalam pendidikan bukan para peserta didik, para pemuda dan pemudi secara umum, tetapi hampir selalu yang menjadi pertimbangan adalah pemeliharaan tatanan yang ada. Ketika seorang peserta didik dipertimbangkan, sebab utamanya adalah kesuksesan duniawi, seperti menghasilkan uang atau mendapatkan jabatan yang baik. Menjadi normal dan mampu untuk melanjutkan hidup adalah gambaran hidup ideal yang ditetapkan di dalam pikiran para pemuda, kecuali oleh sedikit guru langka yang memiliki energi keyakinan cukup untuk menerobos sistem di mana mereka bekerja di Bertrand Russell mengatakan bahwa hampir semua pendidikan memiliki motif yang bersifat politis. Motif politis tersebut bertujuan untuk memperkuat kelompok, bangsa, agama atau bahkan masyarakat dalam persaingan dengan kelompok-kelompok lain (Denonn, 1. Menurut Bertrand Russell, ada beberapa mata pelajaran atau subjek yang bersifat kontroversial, seperti sejarah, agama, dan ilmu yang serumpun. Beliau mengatakan bahwa sejarah, agama, dan mata pelajaran kontroversial lain pada dimensi perintahnya . Mata pelajaran-mata pelajaran tersebut menyentuh kepentingan-kepentingan yang mana sekolah-sekolah dipelihara dan dijalankan, dan kepentingan-kepentingan tersebut menjaga sekolah-sekolah agar pandangan-pandangan tertentu terkait dengan mata pelajaran-mata pelajaran tersebut dapat ditanamkan (Denonn, 1. Mata pelajaran-mata pelajaran tersebut, sebagaimana yang kita ketahui, dapat dijadikan oleh lembaga-lembaga pendidikan sebagai media untuk menanamkan pandanganpandangan tertentu yang sesuai dengan kepentingan mereka dan secara umum, kepentingan-kepentingan tersebutlah yang menjadi motif utama dari sebagian orang mendirikan lembaga pendidikan. Mereka ingin melestarikan keyakinan-keyakinan mereka tentang sejarah, agama, hal-hal sosial-politik. Bertrand Russell mengatakan bahwa sejarah, di dalam setiap negara, diajarkan untuk mengagungkan negara itu sendiri. Anak-anak diajarkan untuk percaya bahwa negara mereka selalu benar dan hampir selalu menang dan juga negara mereka telah melahirkan orang-orang besar sekaligus negara mereka dengan segala hormat juga superior dari negara-negara lain. Karena keyakinan-keyakinan ini begitu penuh sanjungan, sehingga mereka begitu mudah untuk diterima, dan begitu sulit untuk dicabut dari insting mereka oleh pendidikan di kemudian hari (Denonn, 1. Dan tentang agama. Bertrand Russell mengatakan bahwa sekolah-sekolah dasar . ekolah pada umumny. secara umum selalu berada di bawah naungan semacam institusi agama atau negara yang mana ia memiliki sikap tertentu terhadap agama. Sebuah institusi agama ada dengan fakta bahwa anggota-anggotanya memiliki keyakinan-keyakinan pasti tentang persoalan-persoalan tertentu sehingga kebenaran Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 menjadi tidak dapat diketahui. Sekolah-sekolah yang dijalankan oleh institusi-institusi agama harus mencegah anak-anak muda, yang secara naluriah suka bertanya, dari pengetahuan bahwa keyakinan-keyakinan pasti tadi ternyata diselisihi oleh keyakinan-keyakinan lain yang sama-sama tidak masuk akal, dan bahwa banyak dari orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir sehat memandang bahwa tidak ada bukti yang baik berkenaan dengan keyakinan pasti apapun (Denonn, 1. Hal ini berlaku juga dengan sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan negara. Ketika sebuah negara secara militan sekular, sebagaimana di Perancis, sekolah-sekolah negeri menjadi sama dogmatisnya dengan sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan gereja-gereja (Denonn, 1. Bertrand Russell menyelisihi motif pendidikan apapun yang bertujuan untuk membuat orang-orang memiliki keyakinan mutlak dan pasti tentang sesuatu. Bertrand Russell menekankan bahwa pendidikan harus memiliki target untuk membuat orang-orang sadar bahwa mereka memiliki individualitas . edirian/kepribadia. dan kemampuan alamiah untuk berpikir secara mandiri. Secara sederhana, pendidikan, menurut Bertrand Russell, adalah usaha untuk membuat orang-orang berpikir, bukan percaya. Menurut Bertrand Russell, usaha untuk mencegah orang-orang dari kebebasan belajar tidak bisa dihindari selama tujuan pendidikan masih untuk menghasilkan keyakinan, bukan malah pemikiran dan untuk mendorong anak-anak muda agar memiliki pandangan pasti tentang hal-hal yang meragukan, bukan malah membiarkan mereka menghadapi keraguraguan yang ada dan didorong kepada kemandirian akal. Pendidikan seharusnya mendorong gairah untuk mencari kebenaran, bukan mendorong untuk percaya bahwa keyakinan tertentu adalah kebenaran (Denonn, 1. Penekanan Bertrand Russell adalah kepada usaha untuk membuat orang-orang mencari secara mandiri kebenaran itu dan bukan mengarahkan orang-orang untuk secara sepihak meyakini bahwa sebuah pandangan tertentu yang ada di dalam pelajaran sejarah, agama, dan ilmu sosial dan politik adalah kebenaran. Menurut beliau, menjadikan orang-orang yakin kepada sebuah pandangan tertentu di dalam subjek-subjek tadi bukan peran dari institusi Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa pendidikan dan institusiinstitusinya harus netral. Menurut Bertrand Russell, fakta bahwa pendidikan disikapi terutama sebagai persiapan untuk mencari penghidupan membuat anak-anak muda memandang ilmu dari sudut pandang yang murni utilitarian, yaitu sebagai jalan untuk menghasilkan uang dan bukan sebagai pintu gerbang menuju kebijaksanaan. Dan bagi kebanyakan mereka, tetapi bagi keseluruhan pada tingkat tertentu, pendidikan adalah sebuah alat untuk meraih keunggulan atas orang lain (Denonn, 1. Pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk membuat orang-orang memiliki kepedulian dominan kepada ilmu dan bukan kepada dimensi praktis dan pragmatisnya. Itu adalah sebab Bertrand Russell menolak utilitarianisme di dalam pendidikan secara umum. Jika kita cenderung memandang pendidikan sebagai sesuatu yang menguntungkan secara material, maka tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa diskusi, dialog, dan kebebasan berpikir tidak menjadi aktifitas dan hal utama di dalam dunia pendidikan kita. Bertrand Russell mengatakan bahwa penerimaan pasif ucapan-ucapan guru oleh kebanyakan peserta didik adalah sesuatu yang begitu mudah. Sikap seperti ini tidak memerlukan kemandirian pikiran, dan malah terlihat masuk akal karena guru lebih tahu daripada para peserta didiknya (Denonn, 1. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Pada dimensi teoretis sebuah ilmu tertentu, kita bisa melakukan semacam diskusi dan debat yang tidak terbatas. Dan tentu saja, kita dapat melakukan diskusi dan debat bila kita tidak memandang pendidikan dan ilmu sebagai hal-hal yang berorientasi kepada manfaat Seorang guru harus memahami dimensi teoretis dan praktis dari sebuah ilmu, agar ia mampu membimbing para peserta didiknya kepada proses pengajaran yang dinamis. Seorang guru harus mampu merangsang para peserta didiknya untuk menghasilkan pendapat-pendapat mereka sendiri tentang ilmu yang sedang diajarkan. Bertrand Russell mengatakan bahwa ini mungkin saja tidak akan ada kemandirian pikiran yang banyak meskipun pendidikan berbuat segalanya untuk mempromosikan kemandirian pikiran, tetapi pasti akan ada lebih dari yang ada untuk sekarang ini. Jika tujuannya adalah untuk membuat para peserta didik berpikir dan bukan untuk membuat mereka menerima kesimpulan-kesimpulan tertentu, maka pendidikan akan dijalankan secara cukup berbeda. Kita akan melihat di dalam pendidikan yang berbeda itu bahwa perintah-perintah satu arah akan berkurang dan diskusi akan menjadi lebih banyak, kesempatan bagi para peserta didik untuk mengungkapkan pendapat mereka akan lebih banyak, dan percobaan untuk menjadikan pendidikan lebih berfokus kepada masalah-masalah yang mana para peserta didik minati akan lebih banyak (Denonn, 1. Sebelum kita berpikir tentang bagaimana cara mendidik, kita perlu merumuskan terlebih dahulu tujuan yang jelas dari pendidikan kita. Meskipun kita mengetahui tujuan dari pendidikan kita, kita masih memiliki kemungkinan untuk menciptakan hasil pendidikan selain dari apa yang kita tuju (Denonn, 1. Pendidikan yang memiliki target selain dari kebaikan seorang peserta didik bukanlah pendidikan yang ideal. Hal ini karena mendidik adalah untuk membuat orang-orang berpikir, bukan percaya. Mendidik adalah untuk membuat para peserta didik sadar tentang kemampuan mereka untuk berpikir dan memilih secara mandiri. Bertrand Russell menyebutkan bahwa sekolah-sekolah negeri Amerika melakukan kesalahan kepada para peserta didik karena sekolah-sekolah negeri Amerika menjadikan mereka sebagai alat untuk mencapai sebuah tujuan, bukan sebagai tujuan itu sendiri. Menurut Bertrand Russell, seorang guru hendaknya lebih mencintai peserta didiknya daripada negaranya atau Gerejanya. Kalau tidak begitu, maka ia bukan seorang guru yang ideal (Denonn, 1. Bertrand Russell berpendapat bahwa tujuan pendidikan seharusnya adalah untuk membuat para peserta didik mampu untuk memilih secara cerdas di antara kelompokkelompok yang ada, dan bukan untuk membuat mereka bergabung ke kelompok manapun. Pendidikan seharusnya bertujuan untuk membuat para peserta didik berpikir secara mandiri, bukan untuk membuat mereka berpikir tentang apa yang guru-guru mereka pikirkan (Denonn, 1. Maka dari itu, pendidikan pada dasarnya bukanlah sebuah proses indoktrinasi, tetapi sebuah proses stimulasi daya pikir dan daya emosi para peserta didik. Tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan pikiran, bukan kepercayaan dan untuk mendorong anak-anak muda untuk menghadapi keragu-raguan dan mendorong mereka kepada kemandirian pikiran. Pendidikan seharusnya mengembangkan gairah untuk mencari kebenaran, bukan untuk melestarikan keyakinan bahwa sebuah ajaran tertentu adalah kebenaran (Denonn, 1. Menurut Bertrand Russell, pendidikan itelektual berarti pendidikan yang memuaskan rasa ingin tahu para peserta didik (Russell, 1. Mendidik berarti membuat orang-orang berpikir, bukan percaya karena kepercayaan adalah masalah pilihan pribadi setiap orang. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Di dalam pendidikan intelektual, tidak boleh ada anggapan bahwa ada pengetahuan yang berbahaya dan ada kebodohan yang baik. Setiap pengetahuan yang disampaikan harus disampaikan dengan tujuan intelektual, bukan untuk membuktikan semacam kesimpulan moral dan politis tertentu (Russell, 1. Penerapan pandangan seperti ini akan membuat para peserta didik mampu untuk berpikir secara komparatif dan mampu untuk membuat kesimpulan-kesimpulan mereka sendiri tanpa harus bergantung kepada guru-guru mereka. Orientasi pemikiran Islam adalah Tuhan. Maka, demikian juga dengan pemikiran pendidikan Islam. Dasar dari pendidikan Islam adalah kesadaran terhadap Tuhan di dalam pencarian ilmu, sebagaimana yang disebutkan di dalam wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW: aO aEaCA e Aa eC ae a aeI a aEa EacA AuBacalah! Dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Ay (Al-Quran dan Terjemahannya, 2. Pemikiran pendidikan Islam sebagai sebuah tradisi tidak muncul begitu saja, tetapi ada hal-hal yang menjadi dasar atau sumber dari kemunculannya. Secara umum dasar pemikiran pendidikan Islam adalah ajaran Islam itu sendiri. Islam adalah yang menyeluruh dan terpadu. Islam mencakup berbagai macam aspek manusia dan kehidupannya, termasuk Jadi, pemikiran pendidikan Islam berdasar kepada sumber ajaran Islam itu sendiri, yaitu Al-QurAoan. Al-QurAoan adalah wahyu Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sehingga sumber pemikiran pendidikan Islam adalah Tuhan. Sumber mentah pemikiran pendidikan Islam adalah Tuhan, tetapi pada proses pematangannya manusia tetap memberikan kontribusi berdasarkan kepada pengalaman hidup dan penggunaan nalarnya. Secara umum, konsistensi di dalam menjadikan Tuhan sebagai dasar atau sumber pemikiran pendidikan Islam adalah hal utama yang membedakan pendidikan Islam dengan pendidikan Barat. Ada perdebatan di dalam tradisi pemikiran Barat dan pemikiran pendidikannya. Puncak dari perdebatan tersebut adalah Tuhan dianggap tidak relevan untuk dijadikan sebagai dasar dari tradisi pemikiran Barat. Ahmad Tafsir, sebagaimana dikutip dari Harisah, mengatakan bahwa muslim yang sempurna ialah muslim yang jasmaninya sehat dan kuat, akalnya cerdas dan pandai, serta hatinya bertakwa kepada Allah SWT. Dengan dasar itu. Ahmad Tafsir merumuskan tujuan umum pendidikan Islam, yaitu untuk menciptakan muslim yang sempurna, atau manusia yang takwa, atau manusia yang beriman, atau manusia yang beribadah kepada Allah SWT (Harisah, 2. Tujuan pendidikan Islam adalah menjadikan seseorang peka terhadap kebesaran Tuhan atau takwa dan melatih jiwanya agar mau melaksanakan kehendak Tuhan di dalam keseharian hidupnya hingga dia wafat menghadap Tuhan. Tujuan pendidikan ini sekaligus sebagai tujuan ajaran islam itu sendiri. Segala macam aktifitas yang diturunkan dari tradisi Islam berorientasi kepada Tuhan. Pendidikan Islam tentu saja juga memiliki orientasi berupa Tuhan. Sehingga, secanggih apapun rancangan praktik pendidikan Islam, tujuan utamanya tetap untuk menjadikan manusia sadar tentang perannya di bumi, yaitu sebagai hamba Tuhan. Meskipun Islam sudah menutup orientasinya, dalam arti tidak ada perdebatan tentang orientasi ajaran Islam, tetapi Islam tidak membatasi penggunaan akal manusia. Manusia didorong untuk berpikir dan memahami realitas dengan sungguh-sungguh karena realitas adalah kreasi Tuhan. Maka dari itu, memahami realitas berarti memahami kreasi Tuhan dan usaha untuk memahami kreasi Tuhan ini adalah usaha untuk memahami Tuhan. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Akal adalah wadah atau alat yang digunakan untuk menghimpun ilmu pengetahuan. Akal juga bukan pencipta kebenaran, tetapi ia adalah alat yang digunakan manusia untuk menemukan kebenaran. Islam mengajarkan bahwa orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami alam dan Al-Quran, sehingga mereka menjadi berilmu adalah orang-orang yang derajatnya diangkat oleh Tuhan. Dorongan untuk menggunakan akal secara aktif di dalam tradisi Islam sangat mencolok dan dominan. Allah sering menyinggung kata-kata, seperti yaAoqilun, yatadabbarun, yatafakkarun dalam ayat-ayat yang bercerita tentang fenomena alam (Wasehudin, 2. Hasil yang diharapkan dari usaha menggunakan akal itu adalah kesadaran tentang Tuhan. Meskipun begitu, mereka yang menggunakan akalnya untuk memahami alam juga akan mendapatkan manfaat berupa ilmu pengetahuan alam. Bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan, mereka mendapat dua manfaat dari memikirkan alam, yaitu pengenalan lebih dalam tentang Tuhan dan ilmu pengetahuan alam. PEMBAHASAN Dorongan Penggunaan Akal di dalam Pendidikan Pengertian utama dari pendidikan menurut Russell adalah usaha untuk membuat orangorang mampu berpikir dan memilih secara cerdas dan mandiri apapun yang ia mau pilih (Denonn, 1. Sehingga sebuah usaha pendidikan yang ideal bukanlah usaha pendidikan yang secara dogmatis menanamkan pandangan-pandangan tertentu kepada para peserta Dalam pengertian ini. Russell tidak memandang bahwa institusi pendidikan yang didirikan oleh sebuah Negara dan agama, dengan orientasi mendidik berupa kepentingan Negara dan agama tersebut, sebagai institusi pendidikan yang ideal. Penekanan pada penggunaan akal oleh Russell di dalam mendidik pada dasarnya tidak bertentangan dengan semangat penggunaan akal di dalam Islam dan pendidikan Islam Pada ranah ilmu-ilmu sekular atau duniawi. Islam tidak mengenal konsep batas Karena, segala sesuatu yang indrawi, seperti alam ini, dapat dipikirkan (Husaini, 2. Bahkan, banyak ayat al-Quran yang merangsang para pembacanya untuk serius dalam menggunakan akal mereka ketika berhadapan dengan alam semesta (Wasehudin, 2. Penekanan Russell dalam penggunaan akal di dalam pendidikan berimplikasi kepada sikap pendidikan Islam terhadap doktrin-doktrinnya. Pendidikan Islam secara fundamental berorientasi dan mengajak siapa saja dari peserta didiknya kepada Tuhan (Harisah, 2. God- oriented education yang menjadi doktrin pendidikan Islam ini, bila kita pandang dari pengertian Russell tentang penggunaan akal di dalam pendidikan, perlu diuraikan secara inklusif dan komparatif oleh penyelenggara pendidikan Islam kepada para peserta didik. Uraian secara inklusif artinya adalah para penyelenggara pendidikan Islam tidak menutup pertanyaan, diskusi dan perdebatan tentang doktrin-dokrin Islam di dalam sekolah. Sedangkan, uraian secara komparatif artinya adalah para penyelenggara pendidikan Islam juga menyajikan doktrin-doktrin lain yang sejalan atau bertentangan dengan doktrindoktrin Islam di dalam sekolah atau ruang-ruang kelas ketika kegiatan belajar dan mengajar Hal ini agar para peserta didik terangsang dan terbiasa untuk membandingkan banyak hal. Pemikiran pendidikan Russell dan pendidikan Islam memiliki perbedaan pada ranah Orientasi pendidikan Russell adalah individu itu sendiri (Denonn, 1. , sedangkan pendidikan Islam berorientasi kepada Tuhan (Harisah, 2. Usaha pendidikan Russell berhenti pada kebebasan individu, sedangkan usaha pendidikan Islam selain Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 mengurusi pengembangan individu, ia juga mengarahkan individu untuk menyadari hakikat dirinya sebagai hamba Tuhan (Daud, 1. Sikap Kritis Terhadap Pelajaran Kontroversial Adanya motif politis di dalam pendidikan menjadi sebab indoktrinasi tidak bisa dihindari. Indoktrinasi, tentu saja, bertentangan dengan semangat berpikir kritis dan mandiri. Russell secara konsisten meneruskan pengertiannya tentang pendidikan, berupa usaha untuk membuat orang-orang berpikir secara cerdas dan mandiri, untuk menciptakan pendidikan yang tidak dibangun di atas motif politis atau, setidaknya, untuk membebaskan orang-orang dari indoktrinasi institusi pendidikan yang memiliki motif politis. Pendidikan Islam memiliki motif politis berupa memperbanyak masyarakat Islam dan pembangunan sebuah sistem politik Islam yang berpedoman kepada al-Quran dan tradisi Kenabian sebagai perwujudan kehendak Tuhan. Meskipun orentasi pendidikan Islam adalah Tuhan, tetapi pada aspek duniawi, pendidikan Islam juga memberikan perhatian kepada regenerasi masyarakat Islam dan pembangunan sistem politik Islam (Rokim, 2. Implikasi pemikiran pendidikan Russell terhadap pendidikan Islam yang memang memiliki semangat politis adalah pada dimensi intelektual atau olah pikir. Secara konsisten, pemikiran pendidikan Russell hanya dapat memberikan kontribusi kepada pendidikan Islam pada dimensi intelektual karena bagaimanapun. Islam tidak memiliki orientasi berupa pembebasan individu dari berbagai macam pandangan belaka. Akan tetapi. Islam hanya berusaha untuk membebaskan orang-orang dari selain Tuhan (Harisah, 2. Pemikiran pendidikan Russell dapat menghilangkan usaha indoktrinasi di dalam pendidikan Islam. Meskipun Islam memiliki seperangkat teologi dan aturan hidup yang sudah baku dan wajib dipraktikkan oleh para penganutnya, tetapi pada dimensi intelektual, pendidikan Islam harus tetap terbuka dan punya semangat untuk membandingkan tradisinya dengan tradisi lain. Sehingga, indoktrinasi hilang dan para peserta didik tidak merasa dipaksa untuk meyakini dan mempraktikkan prinsip-prinsip Islam. Menurut Russell, pelajaran sejarah, agama dan pelajaran yang serumpun bersifat kontroversial karena pelajaran-pelajaran tersebut adalah sebab didirikan dan dipertahankannya sekolah-sekolah (Denonn, 1. Pelajaran-pelajaran tersebut juga yang menjadi sebab dari upaya penanaman sepihak pandangan-pandangan tertentu demi kepentingan para penyelenggara pendidikan, apakah dari kalangan Negara atau agama. Maka dari itu, sikap kritis sangat diperlukan di dalam pengajaran sejarah dan agama. Sejarah, di dalam setiap negara, diajarkan dengan semangat untuk mengagungkan negara tersebut. Anak-anak diajari untuk percaya bahwa negara merekalah yang selalu benar dan hampir selalu berjaya, dan negara tersebut juga telah menghasilkan banyak orang-orang hebat, serta negara tersebut juga, dengan segala hormat, paling superior dari negara-negara lain (Denonn, 1. Itu adalah contoh indoktrinasi di dalam pelajaran sejarah yang sering terjadi di sekolah-sekolah, terutama sekolah negara. Keterbukaan, daya pikir kritis, dan daya pikir komparatif sangat jarang ditunjukkan oleh para guru ketika mengajar sejarah, terutama sejarah negaranya. Russell mengatakan bahwa setiap negara menginginkan untuk menunjukkan kebanggaan nasionalnya, dan sadar bahwa hal ini tidak dapat dilakukan dengan pengetahuan sejarah yang tidak memihak (Denonn, 1. Anak-anak yang tidak berdaya diajari dengan pembelokan, tekanan, dan sugesti. Gagasan-gagasan salah tentang sejarah dunia yang diajarkan di berbagai negara adalah gagasan-gagasan yang mendorong perselisihan dan menjadi sebab untuk menghidupkan nasionalisme fanatik. Seandainya hubungan baik antar negara-negara memang diinginkan, satu dari langkah- langkah yang perlu diambil adalah dengan mengajukan semua Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 pengajaran sejarah kepada sebuah komisi internasional, yang harus memproduksi bukubuku pelajaran netral yang bebas dari bias patriotik yang sekarang ini diminati di manamana (Denonn, 1. Hal yang sama juga berlaku pada agama menurut Russell. Sekolah-sekolah dasar secara praktis selalu berada di bawah pengaruh apakah semacam badan keagamaan atau Negara yang memiliki sikap tertentu kepada agama. Sebuah badan keagamaan ada dengan fakta bahwa anggota-anggotanya memiliki keyakinan pasti tertentu tentang hal-hal yang padahal kebenarannya tidak dapat dipastikan. Sekolah-sekolah yang dijalankan oleh badan-badan keagamaan harus mencegah para pemuda dari menyadari bahwa keyakinan-keyakinan pasti tersebut bertentangan dengan keyakinan-keyakinan lain yang sama-sama tidak masuk akal . , dan kebanyakan dari orang-orang pintar memandang bahwa tidak ada bukti yang baik terkait dengan keyakinan pasti apapun. Ketika sebuah Negara secara militan sekular, sebagaimana di Prancis, sekolah-sekolah Negara menjadi dogmatis sebagaimana sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Gereja-Gereja . ata AoTuhanAo tidak boleh disinggung di sekolah dasar Pranci. Hasil dari semua kasus tadi adalah sama, yaitu kebebasan dalam belajar diawasi, dan hal paling penting adalah anak-anak dihadapkan kepada dogma atau keheningan total (Denonn, 1. Pandangan Russell tentang sikap kritis kepada pelajaran kontroversial adalah upaya untuk menghindarkan para peserta didik dari indoktrinasi institusi pendidikan yang memiliki motif politis. Implikasi pandangan Russell ini terhadap pendidikan Islam adalah pada pelajaran sejarah dan pelajaran-pelajaran lain secara keseluruhan, usaha untuk mengkaji semua pelajaran secara terbuka dan komparatif harus dipraktikkan oleh para guru. Penguasaan seorang guru atas sebuah pelajaran akan membuatnya mampu untuk mengajarkan pelajaran tersebut secara bersih tanpa bias. Seorang guru harus mampu merangsang para peserta didik untuk berpikir dan tidak cepat-cepat menyimpulkan mana yang mereka mau yakini sebelum mendengarkan berbagai macam perbandingan tentang pelajaran yang diajarkan oleh guru mereka, terutama pada pelajaran sejarah dan agama yang menurut Russell kontroversial dan sering menjadi perantara-perantara untuk menanamkan doktrin kepada orang-orang. Pendidikan Sebagai Petualangan Intelektual Pendidikan yang ideal menurut Russell adalah pendidikan yang merangsang para peserta didik untuk berpikir dan memilih sendiri secara cerdas keyakinan-keyakinan mereka dalam segala hal. Tujuan pendidikan adalah para peserta didik itu sendiri dan bukan kepentingan material institusi pendidikan. Kebebasan berpikir para peserta didik akan terbengkalai selama tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan keyakinan dan bukan pemikiran, untuk memaksa para peserta didik untuk memegang pandangan-pandangan pasti pada hal-hal yang meragukan dan bukan malah membiarkan mereka mengamati keragu-raguan tersebut dan mendorong mereka kepada kemandirian berpikir. Pendidikan seharusnya melestarikan keinginan kepada kebenaran, bukan kepada keyakinan bahwa kepercayaan tertentu adalah kebenaran (Denonn, 1. Pendidikan sebagai petualangan intelektual tidak semestinya dipengaruhi oleh pertimbangan-pertimbangan moral. Ini seharusnya tidak diajarkan bahwa ada semacam pengetahuan yang berbahaya . dan ada kebodohan . yang baik. Pengetahuan yang disampaikan seharusnya disampaikan untuk tujuan intelektual, bukan untuk membuktikan asumsi moral atau politik tertentu. Tujuan dari pengajaran seharusnya, dari sudut pandang peserta didik, sebagian untuk memuaskan keingintahuannya, sebagian lagi untuk memberikannya kemampuan untuk bisa memuaskan keingintahuannya secara Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 Dari sudut pandang guru, harus ada juga rangsangan tentang jenis keingintahuan yang bermanfaat. Akan tetapi, jangan pernah ada penghilangan gairah untuk ingin tahu, bahkan meskipun pengajarannya mengarah kepada hal-hal yang berada di luar kurikulum sekolah sama sekali. Hal ini bukan berarti bahwa kurikulum harus diganggu, tetapi bahwa keingintahuan harus dianggap sebagai sesuatu yang terpuji, dan para peserta didik harus diberitahu cara untuk memuaskan keingintahuan mereka setelah jam-jam sekolah, melalui buku-buku di perpustakaan misalnya (Russell, 1. Implikasi konsep Russell ini terhadap pendidikan Islam adalah seorang guru tidak baik bila membatasi para peserta didik dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait pelajaran yang ia ajarkan di dalam kelas dengan alasan dogmatis bahwa Islam adalah agama yang telah disempurnakan, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dimensi praktis, berupa fikih. Islam memang terlihat baku, tetapi pada dimensi abstrak-konseptual, berupa akidah dan ushul fikih. Islam masih terbuka kepada diskusi dan perdebatan. Sehingga, pertanyaan, diskusi, dan perdebatan seputar dimensi abstrak-konseptual Islam tidak perlu dicegah. Misalnya, ketika para peserta didik mencoba untuk memperdebatkan konsep Tuhan menurut tradisi Islam, maka seorang guru yang mengampu kelas tersebut tidak baik bila berupaya untuk mencegah dan menutup perdebatan tersebut. Karena, rangsangan untuk berpikir biasanya muncul dari hal-hal konseptual, seperti Tuhan. Sehingga, seorang guru harus mampu memanfaatkan situasi seperti itu untuk membiasakan para peserta didiknya berpikir secara mandiri. Solusi Kebekuan Akal di dalam Pengajaran Agama Islam menurut Bertrand Russell Pemikiran pendidikan Bertrand Russell dapat menjadi solusi yang baik untuk masalah kebekuan akal yang terjadi di dalam pengajaran agama Islam dan agama-agama secara Penekanan Russell atas penggunaan akal membuat Russell berpikir bahwa daya pikir kritis sangat penting untuk digunakan ketika berhadapan dengan pelajaran-pelajaran dan isu-isu kontroversial, seperti sejarah dan agama (Denonn, 1. Tafsir tertentu tentang sejarah dan agama sering dijadikan alat oleh kelompok-kelompok tertentu di masyarakat untuk memenangkan kepentingan mereka. Sehingga, upaya indoktrinasi adalah model pendidikan yang menjadi ciri utama dari kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan selain kepentingan pendidikan. Solusi kebekuan akal yang terjadi di dalam pengajaran agama Islam dapat diambil dari beberapa pokok pikiran pendidikan Bertrand Russell, seperti pengertian pendidikan, penekanan yang utuh atas penggunaan akal, sikap kritis terhadap pelajaran-pelajaran kontroversial (Denonn, 1. , dan pendidikan sebagai petualangan intelektual (Russell. Pendidikan yang benar-benar berupaya untuk mengubah manusia tidak akan memiliki tujuan selain manusia itu sendiri. Menurut Russell pendidikan seperti itu adalah pendidikan yang memiliki semangat untuk membuat para peserta didik dapat berpikir dan memilih secara cerdas apa yang mereka mau yakini dan pilih (Denonn, 1. Dari pengertian pendidikan yang seperti itu, diturunkan beberapa pokok pikiran pendidikan lain, seperti sikap kritis terhadap pelajaran-pelajaran, dan pendidikan sebagai petualangan intelektual. Semua pokok pikiran itu pada dasarnya berdiri di atas satu penekanan, yaitu penekanan atas penggunaan akal. Semangat ini sangat penting untuk diadopsi oleh pendidikan Islam dan agama-agama secara umum agar para peserta didik yang dihasilkan adalah para peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir cerdas dan mandiri, tidak dogmatis dalam masalahmasalah agama, tidak fanatik, dan dapat mempertanggungjawabkan secara intelektual setiap pilihan mereka, termasuk pilihan agama yang diyakini. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 KESIMPULAN Pemikiran pendidikan Bertrand Russell, pada dimensi intelektual, menekankan pada kemurnian berpikir yang serius. Hal ini ditunjukkan secara eksplisit dari beberapa pokok pikiran pendidikan beliau yang telah diuraikan di dalam penelitian ini. Menurut Russell pendidikan adalah usaha untuk membuat orang-orang terangsang untuk berpikir dan memilih secara mandiri dan cerdas, bukan untuk membuat orang-orang memihak kepada pandangan-pandangan tertentu. Pada ranah tujuan. Russell menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah para peserta didik itu sendiri dan juga untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran seputar mata pelajaran yang diajarkan, bukan malah untuk menghasilkan keyakinan buta. Russell juga memandang bahwa dari sekian pelajaran yang ada, pelajaran sejarah, agama, dan yang serumpun dengan keduanya adalah pelajaran kontroversial karena pelajaran-pelajaran tersebut sering dijadikan alat untuk memenangkan kepentingan kelompok masing-masing melalui tafsir sepihak yang diajarkan secara dogmatis kepada para peserta didik di sekolah-sekolah yang mereka jalankan. Maka dari itu, penekanan pada penggunaan akal secara kritis sangat diutamakan oleh Russell kepada para guru dan terutama para peserta didik yang sering menjadi objek indoktrinasi. Pemikiran Russell tentang pendidikan sebagai petualangan intelektual menghasilkan pandangan bahwa tidak ada pengetahuan yang berbahaya dan baik. Semua pengetahuan harus diajarkan dengan tujuan intelektual atau sebagai latihan intelektual . ntellectual Pandangan ini menurunkan praktik pengajaran yang bersifat inklusif dan komparatif yang dapat dijalankan melalui metode pengajaran diskusi dan debat. Latihan intelektual tentu saja dapat dilakukan ketika sebuah pelajaran dibahas pada dimensi abstrak-konseptualnya, bukan pada dimensi praktis. Di dalam pendidikan Islam, latihan intelektual seperti ini dapat dilakukan pada pelajaran-pelajaran seperti akidah, usul fikih, tafsir al-Quran dan hadits. Implikasi pemikiran pendidikan Bertrand Russell terhadap pendidikan Islam secara konsisten adalah pada penekanan penggunaan akal atau pada dimensi intelektual. Implikasi ini juga adalah solusi dari fenomena kebekuan atau kemandegan akal yang sering terjadi di dalam pengajaran agama Islam ataupun pengajaran-pengajaran agama secara umum. Kecenderungan orang-orang untuk memandang agama sebagai sesuatu yang sakral dan sebagai acuan moralitas mutlak menjadi sebab utama dari kemalasan orang-orang untuk memainkan fungsi akalnya ketika mengajarkan dan mempelajari agama. Akibatnya, agama sering dianggap sebagai sarang fanatisme. Pada kasus ini, pemikiran pendidikan Betrand Russell benar-benar dapat menjadi solusi dari kebekuan akal tersebut. Bertrand Russell adalah seorang Ateis dan ia sangat kritis dalam memandang agama dan ia juga tidak memandang bahwa agama adalah pelajaran yang lebih tinggi dari pelajaranpelajaran lain di sekolah. Islam adalah sebuah tradisi teistik, sehingga pelajaran agama adalah pelajaran yang dipandang lebih tinggi dari pelajaran-pelajaran lain di dalam tradisi pendidikan Islam. Islam juga sebagai sebuah tradisi pemikiran tentu secara konsisten mengajak orang-orang untuk beriman dan mengabdi kepada Tuhan saja. Namun demikian. Islam tidak membatasi orang-orang untuk menggunakan akalnya sebagai alat untuk berpikir dan mempelajari alam semesta. Pada penggunaan akal untuk mempelajari alam semesta. Bertrand Russell dan Islam tidak mengenal konsep batas akal. Sehingga, pemikiran pendidikan Bertrand Russell dapat berimplikasi secara baik dan layak terhadap pendidikan Islam. Jurnal Homepage: https://aksaqilajurnal. com/index. php/aksaqila Tsaqila Jurnal Pendidikan dan Teknologi [TJPT] Vol 3 Nomor 2 Desember 2023, hal: 82-94 ISSN: 2807-6273 REFERENSI