JURNAL AWILARAS ISSN Daring: 2407-6627 | Beranda Jurnal: https://simlitmas. id/ejurnal/index. php/awilaras/about/index SISTEM NADA ATAU TUNING SYSTEM PADA PERANGKAT GAMELAN SEKATEN DI SURAKARTA. YOGYAKARTA. DAN CIREBON Dea Lunny Primamona Program Studi Seni Program Doktor Institut Seni Indonesia Surakarta Jalan Ki Hadjar Dewantara No. 19 Kentingan. Jebres. Surakarta E-mail: dealunny@gmail. ABSTRAK Sekaten atau Muludan merupakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bunyi gamelan dikumandangkan di tiga kota yang memiliki sejarah kerajaan bercorak Islam-Jawa seperti Surakarta. Yogyakarta, dan Cirebon. Semua perangkat gamelan di ketiga kota tersebut menggunakan sistem nada mirip laras pelog pada karawitan Jawa pada umumnya. Meskipun terdengar seperti laras pelog, nada-nada yang ada di setiap perangkat gamelan tersebut sama sekali berbeda. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kajian khusus tentang pengukuran frekuensi dan jangkah nada yang dilakukan dengan metode deskripsi analitis dan pendekatan etnomusikologi. Hasil pengukuran frekuensi dan jangkah nada menghasilkan pengetahuan bahwa: . Perbedaan sistem nada mirip laras pelog terletak pada karakteristik, rasa, dan nuansa yang . Ada beberapa perangkat gamelan yang rentang nada atau ambitusnya sangat sulit ditirukan oleh suara sopran manusia. Pada sepasang gamelan di tiap kota yang sama, memiliki karakteristik, rasa, dan nuansa yang berbeda juga yang diakibatkan oleh adanya perbedaan frekuensi nada dari masing-masing instrumen. Catatan mengenai data musikal ini merupakan arsip penting bagi peneliti dan praktisi di bidang ilmu Etnomusikologi. Karawitan, maupun Musikologi di Nusantara. Kata kunci: sistem nada, jangkah. Sekaten, gamelan Jawa, etnomusikologi ABSTRACT Sekaten or muludan is a commemoration of the birth of the Prophet Muhammad SAW. Gamelan sounds are played in three cities that have a history of Javanese-Islamic kingdoms such as Surakarta. Yogyakarta and Cirebon. All gamelan instruments in these three cities use a tone system similar to the laras pelog of Javanese musical instruments in general. Even though it sounds like pelog, however, the pelog in each gamelan device is completely different. Therefore, a special study is needed regarding the measurement of frequency and range of notes using analytical description methods with an ethnomusicology approach. The results of measuring the frequency and range of notes produce the knowledge that: . The difference between a pelog barrel-like tone system lies in the characteristics, taste and nuance . There are several gamelan instruments whose pitch range or ambitus is very difficult for a human soprano to imitate. A pair of gamelans in the same city have different characteristics, tastes and nuances which are also caused by differences in the tone frequencies of each instrument. These records regarding musical data are important archives for researchers and practitioners in the fields of Ethnomusicology. Karawitan and Musicology in the archipelago. Keywords: : tuning system, range. Sekaten. Javanese gamelan, ethnomusicology A. PENDAHULUAN Masyarakat Jawa yang berorientasi pada budaya keraton hingga sekarang masih mengadakan sekatenan. Sekaten merupakan upacara tradisional untuk memperingati Maulid atau muludan (Jaw. yaitu hari kelahiran Nabi Muhammad S. Upacara sekaten diselenggarakan pada tanggal 5 sampai 12 Rabiul Awal pada kalender Hijriyah dan ditutup dengan acara grebeg mulud. Upacara sekaten dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut dengan memainkan Gamelan Sekaten di masing-masing lingkungan keraton dengan waktu yang telah ditentukan. Upacara sekaten diawali saat Kyai Kanjeng Sunan Kalijaga atau yang biasa disebut dengan Raden Patah melakukan penyebaran agama Islam (Ahmad dkk. , 2021. Moh. Abdul Kholiq Hasan elQudsy, 2014. Soepanto dkk. , 1. Pada masa Kerajaan Demak abad ke-15 mayoritas masyarakat beragama Hindu, sehingga Raden Patah bersiasat menyebarkan agama Islam kepada masyarakat mayoritas pemeluk agama Hindu (Ahmad dkk. , 2. Raden Patah menyebarkan agama Islam dengan cara berdakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat setempat. Raden Patah berdakwah dengan menabuh gamelan secara keras, selanjutnya untuk dapat menyaksikan sajian gamelan secara utuh mereka harus mengucapkan dua kalimat syahadat yaitu syahadat Allah dan syahadat Rasul (Soepanto dkk. , 1. Di dalam bahasa Jawa Baru, kata AusekatenAy berasal dari kata AusekatiAy yang artinya setimbang atau seimbang (Supariadi dkk. , 2. Kata AosekatenAo berasal dari AosekatAo yang artinya batas, maksudnya orang hidup harus dapat membatasi diri untuk tidak berbuat tidak baik, tahu batasbatas kebaikan dan kebatilan, yang ada dalam tradisi Jawa kerap disampaikan dengan rangkaian kata. Auala lan becik puniku prayoga kawruhanaAy yang berarti perbedaan baik dan buruk harus Ada beberapa pendapat terkait dengan arti sekaten yaitu berasal dari kalimat syahadat atau syahadatain (Ahmad dkk. , 2021. Supariadi dkk. , 2017. Soepanto dkk. , 1. Kalimat tersebut merupakan kalimat yang wajib diucapkan bagi orang-orang yang ingin memeluk Agama Islam. Ada juga yang berpendapat bahwa sekaten sering diartikan sebagai kata AosekatiAo yaitu satuan berat setara dengan 6 kg atau ukurannya lebih besar dari gamelan pada umumnya (Supariadi dkk. , 2. Sejarah perpecahan gamelan sekaten berawal dari perpecahan Kerajaan Demak yang terbagi menjadi dua yaitu Pajang, dan Mataram Islam. Pecahnya kerajaan Mataram menjadi dua yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta mengakibatkan gamelan juga dibagi menjadi dua, yaitu dengan nama Kyai Naga Jenggot di Kasunanan Surakarta dan Kyai Naga Wilaga di Kasultanan Yogyakarta. Gamelan Naga Jenggot di Kasunanan Surakarta diduplikat dan diletakkan di Mangkunegaran alun-alun lor Surakarta dengan nama Kyai Guntur Madu. Sedangkan Gamelan Naga Wilaga di Kasultanan Yogyakarta dibuatkan pasangannya dan diberi nama Kyai Guntur Sari. Sedangkan lahirnya gamelan sekaten di Cirebon yaitu ketika Kerajaan Cirebon mulai menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Islam Demak yaitu Pangeran Sabrang Lor meminang Ratu Ayu yang kemudian diberikan seperangkat gamelan sekaten sebagai cendera mata. Ada yang berpendapat bahwa Gamelan Sekaten yang berada di Cirebon merupakan gamelan asli dari kerajaan Demak. Sampai dengan artikel ini ditulis. Gamelan Sekaten sering digunakan untuk memperingati Maulud Nabi atau kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adanya upacara sekaten di Jawa Tengah saat ini dapat ditemui di tiga tempat yaitu Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta, dan Kanoman Cirebon. Sekaten pada masing-masing daerah tersebut memiliki tradisi yang berbeda-beda. Perbedaan lain yaitu gamelan, sajian gending, dan pengrawit dari masing-masing daerah . iasanya mereka adalah abdi dale. Gamelan yang digunakan dalam upacara sekaten biasanya menggunakan gamelan pakurmatan yang ukurannya dua kali lipat dari gamelan pada umumnya. Hal tersebut tidak sama dengan gamelan Kanoman Cirebon yang ukuran gamelannya hampir sama dengan gamelan pada umumnya. Gamelan yang saat itu penulis amati diarak dari Bangsal Ukiran (Gedong Pejimata. , untuk disucikan di Langgar Keraton Kanoman, dan terakhir dibawa ke siti hinggil tempat di mana gamelan tersebut akan dimainkan. Menurut pengamatan, tidak semua gong dibunyikan dikarenakan usianya yang tua dan sudah rapuh. Sekaten atau hari raya kelahiran nabi Muhammad SAW hanya terjadi setahun sekali. Dengan kata lain momen untuk melihat dan mendengarkan secara langsung peristiwa budaya dan fenomena musik ini sangat langka. Setiap keraton baik itu Keraton Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta, maupun Kanoman Cirebon memiliki prosesi atau tata cara pelaksanaan yang berbedabeda. Pada tahun 2019, tabuhan gamelan sekaten dimulai dari tanggal 3 November 2019 di Surakarta, menyusul di Yogyakarta pada tanggal 4 November 2019, dan terakhir Cirebon pada tanggal 6 November 2019. Dalam waktu kurang lebih seminggu, penulis termasuk tim yang beranggotakan enam mahasiswa berlatar-belakang Etnomusikologi dan Karawitan harus menyusun strategi untuk dapat menyaksikan dan merekam audio atau video dari peristiwa budaya sekaten Pengukuran frekuensi nada pada penulisan ini disebut dengan pengukuran tidak langsung, sebab, peneliti tidak mungkin melakukan intervensi atau rekayasa dalam peristiwa budaya sekaten, atau lebih tepatnya pada saat gamelan sekaten ditabuh. Lingkungan sekitar berupa soundscape masyarakat pun tidak dapat dihindari. Sekaten merupakan peristiwa yang terbuka bagi masyarakat luas tanpa terkecuali. Oleh karena itu, penulisan ini mengandalkan hasil perekaman audio maupun video apa adanya yang didapatkan untuk selanjutnya dibawa ke meja kerja untuk dianalisis. METODE Langkah pertama yang harus ditempuh adalah data identifikasi dan kodifikasi. Selanjutnya klasifikasi sesuai dengan fokus persoalan. Setelah itu penulis memilih video yang paling memudahkan penulis untuk mengetahui nada yang dibunyikan dalam satu instrumen. Setelah itu mengamati setiap nada yang ditabuh. Biasanya, suara dominan yang dapat ditangkap oleh alat rekam . alam kondisi seluruh perangkat ditabu. adalah suara saron atau instrumen yang nadanya berada pada register middle. Maka, instrumen saron adalah instrumen yang pertama kali diamati. Namun demikian, hal ini tidak berlaku pada gamelan sekati di Cirebon. Pengukuran kemudian dilakukan pertama-tama dengan mendengar dan mengalihkan bunyi dengan siter, gitar atau vokal. Lalu melakukan pengukuran frekuensi dengan menggunakan aplikasi G-String untuk android. Semua data yang didapat kemudian dicatat. Untuk menguji hasil frekuensi yang didapat, digunakan juga aplikasi Frequency Generator pada android. Aplikasi tersebut menghasilkan bunyi sesuai dengan angka yang dimasukkan ke dalam aplikasi. Setelah itu, video atau audio yang menjadi sumber pertama pengukuran diputar secara bersamaan dengan aplikasi FG Penulis kemudian mengamati kemiripan bunyi dan kemungkinan selisihnya. Langkah ini dapat dilakukan lebih dari satu kali. Langkah berikutnya adalah menyajikan data ke dalam bentuk tabel. Apabila pengamatan atau analisis dilakukan lebih dari satu kali pengukuran pada tiap-tiap nada, maka, data yang diambil perlu dipertimbangkan. Misalnya jumlah banyaknya uji coba pengukuran terhitung ganjil, maka data yang diambil adalah nilai yang ada pada data tengah. Sedangkan apabila jumlah banyaknya uji coba pengukuran terhitung genap, maka diambil data median . ilai tenga. Idealnya median didapat dengan menjumlahkan semua nilai . alam bentuk H. pada dua data uji coba yang berada di tengah. Lalu diambil nilai rata-ratanya. Misalnya ada empat kali uji coba maka nilai diambil dari data uji coba kedua dan ketiga, dan diambil hasil nilai rata-ratanya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini merupakan hasil dari pengukuran frekuensi nada nm = nem . pn = penunggul . gl = gulu . dd = dhadha . lm = lima . frekuensi (H. jangkah nada (Cen. gembyang (Cen. terhadap beberapa instrumen yang ada di masing-masing perangkat gamelan sekaten di Surakarta. Yogyakarta, dan Cirebon. Surakarta Perangkat Gamelan Kiai Gunturmadu . i bangsal pradangga selata. Demung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Saron barung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Nada Frekuensi (H. Saron peking . Jangkah nada (Cent. Dari pemaparan data tabel di atas, maka dapat ditarik beberapa poin. Pertama, gamelan Kiai Gunturmadu memiliki jangkah panjang antara dhadha ke pelog sekitar 300 Cents, tidak berbeda dengan pelarasan gamelan ageng pada umumnya. Kedua jarak nada barang ke penunggul dari ricikan demung ke saron adalah 149 Cents dan dari ricikan saron ke peking adalah 169 Cents. Hal ini berbeda dengan perangkat gamelan ageng yang rata-rata memiliki jangkah panjang antara 250 Ae 260 Cents pada kasus tersebut. Ketiga, berbeda dengan data sebelumnya di buku Kajian Musik Nusantara 2, jangkah gembyang antara penunggul demung ke penunggul saron dan penunggul saron ke penunggul peking dibuat pleng, atau tepat di kisaran 1200 Cents. Namun demikian, hasil ini dapat disebabkan oleh proses interpretasi suara yang berbeda . alam hal ini yang penulis lakukan adalah pengukuran nada secara tidak langsun. Keempat, hal yang paling signifikan ditunjukkan adalah perbedaan pitch antara nada penunggul demung gamelan Kiai Gunturmadu yaitu 168 Hz dengan gamelan ageng lainnya yang mencapai 290 Hz dan nada nem sebesar 272 Hz, sementara pada gamelan ageng biasanya ada di angka sekitar 468 Hz. Jangkah nada dari nem ke barang dalam gamelan Kiai Gunturmadu juga berbeda yakni 232 Cents, 193 Cents, dan 156 Cents yang pada gamelan ageng biasanya tidak mencapai angka 150 Cents. Perangkat Gamelan Kiai Guntursari . i bangsal pradangga utar. Demung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Saron barung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Nada Frekuensi (H. Peking . Jangkah nada (Cent. Dari pemaparan data tabel di atas, maka dapat ditarik beberapa poin. Pertama, gamelan Kiai Guntursari memiliki jangkah panjang antara dhadha ke pelog sekitar 155-268 Cents, yaitu memiliki jangkah pendek dan jangkah rata-rata. Sedikit berbeda dengan apa yang terjadi dalam pelarasan gamelan ageng pada umumnya. Kedua, jarak nada barang ke penunggul dari ricikan demung ke saron adalah 173 Cents dan dari ricikan saron ke peking adalah 209 Cents. Hal ini berbeda dengan perangkat gamelan ageng yang rata-rata memiliki jangkah panjang antara 250 Ae 260 Cents pada kasus tersebut. Ketiga, berbeda dengan data sebelumnya di buku Kajian Musik Nusantara 2, jangkah gembyang antara penunggul demung ke penunggul saron dan penunggul saron ke penunggul peking dibuat pleng, atau tepat di kisaran 1200 Cents. Jangkah gembyang di nada lainnya misalnya nada pelog demung ke pelog saron mencapai lebih dari 1400 Cents. Namun demikian, hal ini dapat disebabkan oleh proses interpretasi suara yang berbeda . alam hal ini yang penulis lakukan adalah pengukuran nada secara tidak langsun. Keempat, hal yang paling signifikan ditunjukkan adalah perbedaan pitch antara nada penunggul demung gamelan Kiai Guntursari yaitu 216 Hz dengan gamelan ageng lainnya yang mencapai 290 Hz dan nada nem sebesar 354 Hz sementara pada gamelan ageng biasanya ada di angka sekitar 468 Hz. Selain itu jangkah nada ekstrem terjadi antara nada nem ke barang dari masing-masing ricikan yakni 252 Cents, 242 Cents dan 268 Cents, dan ini tidak pernah terjadi pada pelarasan gamelan ageng yang biasanya tidak mencapai angka 150 Cents. Yogyakarta Perangkat Gamelan Kiai Gunturmadu . angsal utar. Demung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Saron barung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Nada Frekuensi (H. Saron peking . Jangkah nada (Cent. Dari pemaparan data tabel di atas, maka dapat ditarik beberapa poin. Pertama, gamelan Kiai Gunturmadu memiliki jangkah pendek antara dhadha ke pelog sekitar kurang dari atau sama dengan 240 Cents, berbeda dengan apa yang terjadi dalam pelarasan gamelan ageng pada Kedua, jarak nada barang ke penunggul dari ricikan demung ke saron adalah 118 Cents dan dari ricikan saron ke peking adalah 113 Cents. Hal ini berbeda dengan perangkat gamelan ageng yang rata-rata memiliki jangkah panjang antara 250 Ae 260 Cents pada kasus tersebut. Ketiga, berbeda dengan data sebelumnya di buku Kajian Musik Nusantara 2 (Hastanto, 2. , jangkah gembyang antara penunggul demung ke penunggul saron dan penunggul saron ke penunggul peking dibuat pleng, atau tepat di kisaran 1200 Cents dan ada jangkah gembyang nada barang yang tidak mencapai 1200 Cents. Namun demikian, hal ini dapat disebabkan oleh proses interpretasi suara yang berbeda . alam hal ini yang penulis lakukan adalah pengukuran nada secara tidak Keempat, hal yang paling signifikan ditunjukkan adalah perbedaan pitch antara nada penunggul demung gamelan Kiai Gunturmadu yaitu 194 Hz dengan gamelan ageng lainnya yang mencapai 290 Hz dan nada nem sebesar 310 Hz sementara pada gamelan ageng biasanya ada di angka sekitar 468 Hz. Jangkah nada dari nem ke barang dalam gamelan Kiai Gunturmadu juga berbeda yakni 297 Cents, 312 Cents, dan 190 Cents yang pada gamelan ageng biasanya tidak mencapai angka 150 Cents. Perangkat Gamelan Kiai Nagawilaga . angsal selata. Demung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Saron barung . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Saron peking . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Dari pemaparan data tabel di atas, maka dapat ditarik beberapa poin. Pertama, gamelan Kiai Guntursari memiliki jangkah panjang antara dhadha ke pelog sekitar 273-308 Cents, tidak berbeda dengan apa yang terjadi dalam pelarasan gamelan ageng pada umumnya. Kedua, jarak nada barang ke penunggul dari ricikan demung ke saron adalah 231 Cents dan dari ricikan saron ke peking adalah 201 Cents. Hal ini berbeda dengan perangkat gamelan ageng yang rata-rata memiliki jangkah panjang antara 250 Ae 260 Cents pada kasus tersebut. Ketiga, berbeda dengan data sebelumnya di buku Kajian Musik Nusantara 2 (Hastanto, 2. , jangkah gembyang antara penunggul demung ke penunggul saron dan penunggul saron ke penunggul peking dibuat pleng, atau tepat di kisaran 1200 Cents. Jangkah gembyang di nada lainnya misalnya nada barang demung ke barang saron mencapai lebih dari 1101 Cents. Namun demikian, hal ini dapat disebabkan oleh proses interpretasi suara yang berbeda . alam hal ini yang penulis lakukan adalah pengukuran nada secara tidak langsun. Keempat, hal yang paling signifikan ditunjukkan adalah perbedaan pitch antara nada penunggul demung gamelan Kiai Guntursari yaitu 212 Hz dengan gamelan ageng lainnya yang mencapai 290 Hz dan nada nem sebesar 324 Hz sementara pada gamelan ageng biasanya ada di angka sekitar 468 Hz. Selain itu jangkah nada ekstrem terjadi antara nada nem ke barang dari masing-masing ricikan yakni 206 Cents, 207 Cents dan 179 Cents, dan ini tidak pernah terjadi pada pelarasan gamelan ageng yang biasanya tidak mencapai angka 150 Cents. Cirebon Gamelan di Cirebon ini dinamakan gamelan Sekati. Fenomena bunyi di Cirebon berbeda dengan di dua kota sebelumnya. Maka, perlu dijelaskan dahulu instrumentasinya sesuai data wawancara di lapangan dengan gambar 1 di bawah ini. Gambar 1. Sketsa layout gamelan Sekati di Keraton Kanoman Cirebon Instrumen 1. Bedug. Titil. 3 Gong pengiring. Bonang Jenglong. Bonang Racik. Saron. Cret. Kebluk dan Ketuk. Gong bibit . idak dimainkan lag. Secara umum instrumen gamelan sekati terdiri dari dua jenis yaitu, yang memiliki wilahan dan pencon. Nada yang digunakan berjumlah tujuh, dari kanan nayaga ke kiri nayaga untuk saron, titil, dan bonang jenglong, sementara untuk bonang racik, urutan nadanya berbeda . itunjukkan dengan skem. Nayaga titil, bedug dan seorang lurah gamelan menghadap pada nayaga lain yang menghadap ke muka. Urutan nada tinggi ke rendah dimulai dari nada 1 Ae 2 Ae 3 Ae 4 Ae 5 Ae 6 Ae 7, sesuai gambar. Dilihat secara fisik, gamelan ini termasuk dalam rumpun gong renteng dari Jawa Barat, kemungkinan bukan dari Demak. Kemungkinan lainnya adalah hanya dua gong bibit yang selalu ditutup dengan kain itulah yang merupakan bagian dari gamelan Sekar Delima yang berasal dari Demak. Menurut data video dan audio, pada saat seluruh perangkat gamelan ditabuh, bunyi dominan yang dapat direkam adalah instrumen bonang racik dan titil. Selain dominan suaranya, bonang racik dan juga titil juga lebih sering ditabuh dengan pola-pola tertentu dibandingkan dengan instrumen Dengan demikian, jika diurutkan sekilas maka nada low dihasilkan oleh gong, middle oleh saron, bonang racik, bonang jenglong, cret, dan kebluk Ae ketuk, dan nada high dihasilkan oleh titil. Namun demikian, pengukuran dilakukan atas empat instrumen yakni, saron, titil, bonang jenglong dan bonang racik mewakili register suara high dan middle saja. Mari kita lihat hasil pengukuran dan analisis data berikut ini. Saron . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Jangkah gembyang (Cent. Titil . Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Bonang jenglong Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Bonang racik Nada Frekuensi (H. Jangkah nada (Cent. Dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada nada yang rusak di dalam gamelan Sekati jika dilihat dari hasil pengukuran keempat macam instrumen, yakni saron, titil, bonang jenglong dan bonang racik. Hanya saja, interval atau jangkah nada dari keempat instrumen memiliki karakteristik berbeda-beda. Saron dan titil tidak memiliki jangkah nada yang ekstrem atau signifikan. Bonang jenglong mempunyai jangkah nada yang cukup panjang yakni dari nada r ke 7 yaitu 609 Cents dan dari nada 5 ke 3 sebesar 347 Cents. Sementara itu, bonang racik mempunyai jangkah nada yang cukup panjang, dari nada 3 ke 1 yaitu sebesar 367 Cents. 1 ke 5 sebesar 713 Cents dan r ke 7 sebesar 609 Cents. Keempat instrumen menghasilkan sebanyak 15 nada yang apabila dijabarkan dari nada rendah ke tinggi tampak sebagai berikut. Gambar 2. Interval nada dari empat instrumen gamelan Sekati Dari gambar di atas terlihat bahwa di dalam gamelan sekati terdapat setidaknya 3 gembyang. Nada yang paling rendah yaitu r sebesar 197 Hz yang dihasilkan dari bilah ketujuh bonang jenglong dan bonang racik dan nada paling tinggi ! sebesar 1053 Hz yang dihasilkan oleh bilah pertama titil. Jika tidak dilakukan dengan seksama dan mengandalkan data wawancara saja, maka pengurutan tata letak bilah atau pencon pada gamelan sekati Cirebon secara umum ditata berdasarkan dari nada rendah . ke tinggi . , kecuali instrumen bonang racik. Sehingga pada umumnya nada tersebut disusun dari nada 7 Ae 6 Ae 5 Ae 4 Ae 3 Ae 2 Ae 1. Namun ternyata, pengurutan nada yang ditunjukkan dengan analisis musikal ini, menunjukkan hal yang berbeda. Bonang jenglong dan bonang racik tidak memiliki nada 4 kecuali diambil dari 1 gembyang di register bawah sehingga dalam data video yang dianalisis, memperlihatkan penabuhan yang dilakukan pada instrumen berpencon dengan berbilah ini berbeda letaknya. Nada r ini berada di paling ujung kiri pada instrumen bonang jenglong dan bonang racik. Agar lebih dipahami, perbedaan tata letak dapat ditunjukkan dengan tabel berikut ini. Tata letak bilah dan atau Saron Titil Bonang jenglong Bonang racik Nada Tabel 1. Perbedaan tata letak bilah atau pencon pada perangkat gamelan Sekati KESIMPULAN Dari pemaparan keseluruhan analisis di atas, penulis menyimpulkan bahwa, laras pelog gamelan sekaten di Surakarta maupun di Yogyakarta berbeda dengan laras pelog pada umumnya. Rasa musikal tersebut dipengaruhi oleh kasus jangkah nada maupun gembyang yang sudah dipaparkan Gamelan yang diberi nama Kiai Gunturmadu di kedua kota yakni Surakarta dan Yogyakarta selalu memiliki pitch yang jauh lebih rendah dengan gamelan pasangannya, yakni gamelan Kiai Guntursari dan Kiai Nagawilaga. Gamelan Kiai Gunturmadu Surakarta mempunyai pitch yang lebih rendah daripada Kiai Gunturmadu Yogyakarta, dan gamelan Kiai Nagawilaga mempunyai pitch lebih rendah dari gamelan Kiai Guntursari Surakarta. Selain itu, ambitus suara yang dihasilkan oleh kedua perangkat gamelan sekaten. Surakarta dan Yogyakarta tidak sama dengan ambitus suara Hal ini berbeda dengan gamelan Cirebon. Di antara ketiga perangkat, gamelan sekati yang ada di Cirebon memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Gamelan sekati di Cirebon mempunyai pitch-pitch yang tinggi untuk ricikan balungannya daripada kedua kota sebelumnya. Surakarta dan Yogyakarta. Gamelan sekati hanya memiliki satu perangkat tanpa perangkat pendamping seperti yang lainnya. Jangkah panjang nada yang ada di gamelan sekati sangat signifikan perbedaannya dengan gamelan sekaten lainnya. Penataan antara nada satu dengan yang lain dalam rancakan, harus diperhatikan dengan seksama dan penataan ini menjadi sangat penting dalam menemukan nada apa saja yang dihasilkan. DAFTAR PUSTAKA