Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Optimalisasi Pemanfaatan Air Embung Untuk Pola Tanam Di Desa Bakalan Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro Achmad Nuril Maulidin1*. Toni Budi Santoso1. Harjono1 Universitas Bojonegoro. Jalan Lettu Suyitno No. 2 Bojonegoro. nurilachmad458@gmail. ABSTRAK Air merupakan elemen penting dalam pertanian, khususnya dalam mendukung pertumbuhan tanaman dan meningkatkan produksi pangan. Ketersediaan air yang memadai sangat diperlukan dalam irigasi, terutama untuk tanaman padi. Penelitian ini dilakukan di Desa Bakalan. Kecamatan Kapas. Kabupaten Bojonegoro, untuk mengoptimalkan pemanfaatan air dari Embung Ngaglik guna memenuhi kebutuhan air irigasi. Penelitian ini menggunakan metode uji lapangan untuk mengukur ketersediaan air dan mengembangkan alternatif pola tanam yang efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk tanaman padi seluas 5 hektar hingga panen adalah 23. 213,95 mA, sedangkan untuk tanaman palawija adalah 4. 665,6 mA. Sementara itu, ketersediaan air embung dipengaruhi oleh curah hujan tahunan, dengan kapasitas sebesar 3. 444 mA. Luas lahan yang dapat dialiri air embung adalah 5 hektar, dengan pola tanam baru . adi-palawija-palawija, jenis cabai rawit mera. dinilai lebih efektif dari segi kebutuhan air dan kualitas hasil panen. Kesimpulan penelitian ini merekomendasikan penggunaan air embung hanya pada musim kemarau untuk irigasi lahan 5 hektar, serta penerapan pola tanam padi-palawijapalawija guna menghemat air dan meningkatkan produktivitas. Kata kunci: Sumber daya air. Padi, embung, curah hujan, existing. ABSTRACT Water is an important element in agriculture, especially in supporting plant growth and increasing food Adequate water availability is very necessary for irrigation, especially for rice plants. This research was conducted in Bakalan Village. Kapas District. Bojonegoro Regency, to optimize the use of water from Embung Ngaglik to meet irrigation water needs. This research uses a field test method to measure water availability and develop alternative efficient planting patterns. The research results show that the water requirement for rice plants covering an area of 5 hectares until harvest is 23,213. 95 mA, while for secondary crops it is 4,665. 6 mA. Meanwhile, the reservoir's water availability is influenced by annual rainfall, with a capacity of 3,444 mA. The area of land that can be irrigated by reservoir water is 5 hectares, with the new planting pattern . ice-palawijapalawija, type of red cayenne peppe. considered more effective in terms of water requirements and quality of The conclusion of this research recommends using reservoir water only in the dry season to irrigate 5 hectares of land, as well as implementing a rice-palawija-palawija planting pattern to save water and increase Keywords: Water resources, rice, reservoirs, rainfall, existing. PENDAHULUAN Dalam dunia pertanian, air adalah elemen krusial untuk pertumbuhan tanaman dan menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan produksi pangan. Tanaman harus memiliki pemahaman yang jelas mengenai jumlah air yang mereka butuhkan. Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Untuk memenuhi kebutuhan air bagi tanaman, terutama padi, diperlukan pasokan air yang memadai sejak 8Ae10 hari setelah pembenihan hingga 10 hari sebelum panen, sesuai dengan panduan dari "Balai Besar Padi" (Aidhil Sair Sida, 2. Jika tidak, pertumbuhan tanaman dapat terganggu, dan hasil panen akan berkurang. Selain itu, berbagai aspek lain juga perlu diperhatikan selama proses pertumbuhan, seperti pemupukan dan penyemprotan. Kurangnya pasokan air yang memadai dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu, sistem pengairan dan irigasi yang baik menjadi komponen vital dalam pengelolaan lahan pertanian. Untuk menciptakan sistem pengairan yang efektif, diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai kebutuhan air irigasi. kerusakan atau gangguan pada salah satu struktur irigasi dapat mengurangi efisiensi dan efektivitas sistem yang ada. Masalah seperti ini, yang masih belum teratasi, salah satunya terjadi di Desa Bakalan. Kecamatan Kapas. Kabupaten Bojonegoro. Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumber daya air di Embung Ngaglik guna memenuhi kebutuhan air irigasi. Optimasi diterapkan dengan beberapa alternatif pola tanam dan waktu tanam yang tepat, sehingga diperoleh kapasitas maksimum tampungan embung untuk memenuhi kebutuhan irigasi. METODE PENELITIAN Studi Literatur Studi literatur dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan dalam menganalisis permasalahan yang diteliti. Pengumpulan Data Pengumpulan data diperlukan dalam pengembangan jaringan, yaitu meliputi: Data primer Adapun data-data yang dibutuhkan sebagaiberikut: Data volume tampungan embung. Data sekunder Adapun data-data yang dibutuhkan sebagaiberikut: Data Curah Hujan. Data Iklim. Data luas lahan irigasi. Analisis Pengolahan Data proses pengolahan data meliputi: Data yang dimaksud harus dikumpulkan secara teratur dan akurat, sehingga dapat memberikan informasi yang benar dan relevan. Pengumpulan data yang tepat sebaiknya dilakukan bersama dengan instansi terkait. Uji konsitensi, selain kekurangan data, data hujan yang diperoleh dari stasiun sering kali mengandung kesalahan berupa ketidakakuratan . Analisis kebutuhan air irigasi untuk menentukan pola tanam yang terbaik. Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Data yang didapat saat survey di lapangan dan observasi pada intansi terkait selanjutnya digunakan untuk penentuan kelayakan pola tanam Desa Bakalan Kecamatan Kapas berdasarkan ketersediaan air disana. Data cuah hujan 10 tahun terakhir yang ada, selanjutnya di uji konsistensinya agar tidak ada data yang salah, selanjutnya data hujan yang telah di uji di analisa untuk mengetahui ke efektifan pola tanam eksisting pada Desa Bakalan Kecamatan Kapas Bojonegoro. PEMBAHASAN Analisis Data Curah Hujan Data curah hujan harian, yang diukur dalam mm/hari, dikumpulkan selama satu tahun dari tiga stasiun curah hujan terdekat dengan lokasi penelitian. Untuk analisis yang akurat, jumlah data curah hujan yang digunakan sebaiknya mencakup paling sedikit 10 tahun terakhir. Tabel 1. Data Curah Hujan St. Bojonegoro Bulan dalam Setahun Tahun Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agt Total Sep Okt Nov Des Total Hari Hujan Tahun Sumber : Dinas Sumber Daya Air Kab. Bojonegoro Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Tabel 2. Data Curah Hujan St. Kapas Bulan dalam Setahun Tahun Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agt Sep Okt Nov Des Total Total Hari Hujan Tahun Total Total Hari Hujan Tahun Sumber : Dinas Sumber Daya Air Kab. Bojonegoro Tabel 3. Data Curah Hujan St. Balen Bulan dalam Setahun Tahun Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agt Sep Okt Nov Des Sumber : Dinas Sumber Daya Air Kab. Bojonegoro Langkah selanjutnya adalah menghitung curah hujan rata-rata untuk daerah penelitian menggunakan metode rata-rata aritmatik, yang melibatkan data dari tiga sumber curah hujan, yaitu stasiun Bojonegoro. Kapas dan Balen. Sehingga semua data curah hujan ditotal dan dibagi 3. Contoh perhitungan di bulan januari : P1 P2 P3 ,0 170,0 178,. =174,0 mm Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Tabel 4. Rerata 3 sumber stasiun curah hujan. TAHU BULAN JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL Rerata OKT NOP DES SEP TAHUNA Total . m/th. Dapat di lihat dari data rata-rata tabel curah hujan di atas, dengan rata-rata curah hujan yang terbilang tinggi terdapat pada bulan November. Desember,Januari. Februari. Maret dan April. Dengan tinggi nya curah hujan pada bulan-bulan tersebut dapat di berikan pola tanam yang optimal misalnya pola tanam padi untuk satu musim panen. Sedangkan di bulan lainya dengan curah hujan yang tegolong rendah dapat di digunakan pola tanam Palawija atau yang lainya. Uji Konsistensi Data Data hidrologi sering kali mengandung kesalahan, yang dapat menyebabkan output analisis hidrologi menjadi tidak akurat jika data inputnya salah. Kualitas data sangat memengaruhi keakuratan hasil analisis, sehingga penting untuk menguji konsistensi data sebelum Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan curah hujan tahunan dari stasiun yang sedang diuji dengan rata-rata curah hujan akumulatif dari stasiun hujan terdekat. Salah Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 satunya Stasiun Bojonegoro. Tabel 5 Uji Konsistensi Data Sta. Sta. Bojonegoro Sta. Bojonegoro No. Sta. Pembanding Tahun Hujan Komulatif Sta. Kapas Sta. Balen Rerata Komulatif 1396,00 1286,00 1690,00 2028,00 1034,00 1601,00 2015,00 2168,00 963,00 1362,00 Sumber: Perhitungan Komulatif Sta. Bojonegoro . 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 Komulatif Sta. Hujan yang Berdekatan . Gambar 1. Uji Konsistensi Data Kurva Sta. Bojonegoro Untuk uji konsistensi selanjutnya yaitu menggunakan metode outlier, agar data yang menyimpang dari kebanyakan data lain dapat di hilangkan. Dengan cara menetapkan dua batas, yaitu ambang bawah (XL) dan atas (XH) sebagai berikut: ycUH = yaycuycy. cUA yan. ycI) ycUL = yaycuycy. cUA yan. ycI) Dimana : ycUH = Nilai ambang batas ycUL = Nilai ambang bawah Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 X = Nilai rata- rata S = Simpangan baku dari logaritma terhadap sampel data Kn = Besaran yang tergantung pada jumlah sampel data n = Jumlah sampel data Tabel 6. Nilai Kn untuk uji outlier 2,036 2,088 2,134 2,175 2,213 2,247 2,279 2,309 2,335 2,361 2,385 2,408 2,429 2,448 2,467 2,486 2,502 2,519 2,534 2,549 2,563 2,577 2,591 2,604 2,616 2,628 2,639 2,650 2,661 2,671 2,682 2,692 2,700 2,710 2,719 2,727 2,736 2,744 2,753 2,760 2,768 2,804 2,837 2,866 2,893 2,917 2,940 2,961 2,981 3,000 3,017 3,049 3,078 3,104 3,129 Sumber: U. Water Resources Council,1981 Tabel 7. Pengujian outlier data hujan Stasiun Hujan Bojonegoro Outlier No. Tahun 1396,00 1286,00 1690,00 2028,00 1034,00 1601,00 2015,00 2168,00 963,00 1362,00 3,14 3,11 3,23 3,31 3,01 3,20 3,30 3,34 2,98 3,13 3,177 0,122 10,00 2,036 2655,34 3,424 Batas bawah XL 849,39 Sumber: Perhitungan 2,929 Batas atas Contoh Perhitungan di tahun 2014: Nilai Ambang Atas (XH) XH = 2655,34 Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Nilai Ambang Bawah (XL) XL = 849,39 Karena XL O X O XH. Data ini bisa dipakai Dimana: = 10 = 0,122 = 1396,00 = 2,036 = 2655,34 = 849,39 Dari Tabel diatas, diperoleh nilai batas atas (XH) = 2655,34, nilai batas bawah (XL) = 849,39 sedangkan nilai rata Ae rata pada tahun 2014 yaitu (X) = 1396,00 adalah lebih besar dari nilai XL dan tidak lebih besar dari nilai XH . Dapat di ambil kesimpulan bahwa data hujan telah memenuhi kriteria uji outlier. Untuk uji data selanjutnya, digunakan metode RAPS (Rescaled Adjusted Partial Sum. Uji konsistensi hujan ini bertujuan untuk menentukan apakah data yang diolah konsisten atau Perhitungan dilakukan menggunakan metode RAPS pada setiap stasiun untuk memastikan hasil yang akurat. Kekonsistenan data dinilai berdasarkan nilai Q dan R, yang kemudian dibandingkan dengan tabel referensi : Tabel 8. Nilai Statistik Q dan R Q/. R/. 1,05 1,10 1,12 1,13 1,14 1,17 1,22 1,14 1,22 1,24 1,26 1,27 1,29 1,36 1,29 1,42 1,46 1,50 1,52 1,55 1,63 1,21 1,34 1,40 1,42 1,44 1,50 1,62 1,28 1,43 1,50 1,53 1,55 1,62 1,75 Sumber Analisis Hidrologi. Sri Harto Br, 1983 : 60 Berikut uji konsistensi data curah hujan metode (RAPS) dari Stasiun Bojonegoro. Kapas. Balen: Tabel 9 Uji Konsistensi Data Hujan Metode RAPS Stasiun Hujan Bojonegoro Tahun Hujan mm/hari 1396,00 1286,00 1690,00 2028,00 1034,00 1601,00 Sk* Dy2 -158,30 -268,30 135,70 473,70 2505,89 7198,49 1841,45 22439,17 -0,40 -0,67 0,34 1,19 0,40 0,67 0,34 1,19 -520,30 46,70 27071,21 218,09 -1,31 0,12 1,31 0,12 Sk** [Sk**] Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 2015,00 2168,00 963,00 1362,00 Jumlah Rerata 460,70 613,70 -591,30 -192,30 15543,00 1554,30 21224,45 37662,77 34963,57 3697,93 158823,01 1,16 1,54 -1,48 -0,48 1,16 1,54 1,48 0,48 Sumber : Perhitungan Untuk perhitungan di tahun 2014: Sk* = data hujan Ae rerata = 1396,00 Ae 1554,30 = - 158,30 Dy^2 = ((Sk*^. = ((-158,30^. = 2505,89 Sk** = Sk*/ Dy = -158,30/398,53 = -0,40 [Sk**] = Nilai Positif Dengan: Sk *. Sk ** Diketahui : Sk** max Sk** min Q/. R/. = Data hujan ke-i, = Data hujan rerata-i, = simpangan rata-rata = Jumlah data = Nilai statistik = 10 = 398,53 = 1,54 = -1,48 = 1,54 = Sk** mak - Sk** min = 3,02 0,49 0,96 1,05 1,21 90 % ===> 90 % ===> Data Hujan Konsisten Data Hujan Konsisten Curah Hujan Andalan Setelah data rata-rata curah hujan dari 3 stasiun diperoleh, data ini dapat digunakan untuk menghitung Curah Hujan Andalan. Curah Hujan Andalan ini penting untuk menentukan curah hujan efektif, yaitu curah hujan yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman. Untuk tanaman padi. Curah Hujan Andalan ditetapkan sebesar 80%, sedangkan untuk tanaman palawija sebesar 50%. Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Curah Hujan Efektif Curah hujan efektif ini digunakan untuk menghitung kebutuhan air irigasi yang mengaliri area Berikut adalah perhitungan curah hujan efektif untuk tanaman padi dan palawija : Tabel 10 Curah Hujan Efektif Probabilitas R50 R80 Re Pw Bulan Re Pw Harian Re Pd Bulan Re Pd Harian JAN PEB MAR APR MEI BULAN JUN JUL AGS SEP OKT NOP DES 379,33 358,67 340,33 328,67 305,00 293,67 271,33 239,67 174,00 164,33 402,67 359,67 344,00 298,00 257,33 223,67 220,33 210,00 138,67 138,00 338,00 314,33 304,67 290,00 289,67 240,33 222,00 188,33 165,67 26,00 336,00 323,00 252,33 238,67 228,33 192,67 188,33 144,33 122,67 48,67 118,67 116,33 103,00 76,00 74,33 68,67 41,67 39,00 19,33 16,67 161,67 122,00 115,67 84,00 40,33 40,00 37,67 32,67 1,67 0,00 53,33 52,33 36,67 26,67 23,33 11,67 7,00 3,00 0,00 0,00 69,67 58,67 33,33 27,67 27,33 1,00 0,00 0,00 0,00 0,00 125,67 71,67 49,33 44,00 42,33 0,67 0,00 0,00 0,00 0,00 283,67 195,00 161,33 158,00 123,33 18,00 3,00 2,33 2,23 0,00 412,33 313,00 277,33 240,33 239,00 108,97 87,33 85,00 75,33 25,67 441,33 344,67 333,33 287,33 235,67 220,97 182,00 158,67 128,67 91,67 299,33 240,50 265,00 210,50 71,50 40,17 17,50 14,17 21,50 70,67 173,98 228,32 187,13 152,93 170,20 127,00 23,27 7,87 0,60 2,25 77,27 134,67 209,53 168,35 185,50 147,35 50,05 28,12 12,25 9,92 49,47 121,79 159,82 6,98 5,61 6,18 4,91 1,67 0,94 0,41 0,33 1,65 4,06 5,33 1,58 54,09 94,27 0,05 1,80 3,14 130,99 107,05 119,14 88,90 16,29 5,51 0,42 4,37 3,57 3,97 2,96 0,54 0,18 0,01 15,05 0,50 Sumber : Perhitungan R80 di ambil dari data curah hujan dengan tingkat keandalan 80% sedangkan R50 di ambil dari data 50%. Contoh Perhitungan Re Palawija pada bulan januari: Re Palawija = 0,7 x R50 Re Palawija = 0,7 x 299,33 Re Palawija = 209,53 mm/bulan Re Palawija = 209,53/30 = 6,98 mm/hari Contoh Perhitungan Re Padi pada bulan januari: Re Padi = 0,7 x R80 Re Padi = 0,7 x 187,13 Re Padi = 130,99 mm/bulan Re Padi = 130,99 /30 = 4,37 mm/hari Analisis Kebutuhan Air Tanaman Padi Per Hektar Luas Pesemaian Luas Garapan Luas Tanaman Padi Faktor Palawija Relatif (FPR) = 0,12 Koefesiensi Pembibitan Koefesiensi Garapan Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Koefesiensi Tanaman Perhitungan : Kebutuhan :air pada masa pembibitan ( umur sekitar 25 hari ) = Luas x Koefisien Pembibitan: x FPR x hari pembibitan x 24 jam x 60 menit x 60 detik 400,00 lt/ha 518,40 m3/ha Kebutuhan air pada masa garapan tanah ( lama sekitar 7 hari ) = Luas x koefisien garapan tanah x FPR x hari garapa tanah x 24 jam x 60 menit x 60 detik 910,40 lt/ha 391,91 m3/ha Kebutuhan air pada masa pertumbuhan ( lama sampai panen = 90 hari )= Luas x koefisien pertumbuhan x FPR x hari pertumbuhan x 24 jam x 60 menit x 60 detik 480,00 lt/ha 732,48 m3/ha Total kebutuhan air padi dari pesemaian sampai panen = Kebutuhan air untuk pembibitan Kebutuhan Air garap Kebutuhan Air Pertumbuhan 790,40 lt/ha 642,79 m3/ha Total kebutuhan air tanaman padi daerah irigasi Ds. Bakalan = Total kebutuhan air padi dari pesemaian sampai panen x Luas lahan tanaman padi yang di aliri air embung = 4. 642,79 x 5 = 23. 213,95 m3 Analisis Kebutuhan Air Tanaman Palawija Per Hektar Luas:Tanaman Padi = 1 Ha Faktor Polowijo Relatif (FPR) = 0,12 Koefesiensi Tanaman Perhitungan : Kebutuhan air:palawija ( lama sampai panen = 90 hari ) = Luas x koefisien pertumbuhan x FPR x hari pertumbuhan x 24 jam x 60 menit x 60 detik 120,00 lt/ha 933,12 m3/ha Total kebutuhan air tanaman palawija daerah irigasi Ds. Bakalan = Kebutuhan air:palawija ( lama sampai panen = 90 hari ) x Total lahan tanaman palawija yang di aliri air embung = 933,12 x 5 = 4. 665,6 m3 Jadi total kebutuhan air pada tanaman padi sampai panen untuk lahan di daerah sawah desa bakalan yang di aliri air embung sebesar 5 ha yaitu 23. 213,95 m3. Sedangkan kebutuhan air pada tanaman palawija sampai panen untuk lahan di daerah sawah desa bakalan yang di aliri air embung sebesar 5 ha yaitu 4. 665,6 m3. Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Analisis Ketersediaan Air dan Optimasi Langkah-langkah untuk menentukan kebutuhan air: Volume tampungan awal = luas x tinggi R80 = Hujan andalan Ketersediaan air . = hujan andalan / 1000 . x luas waduk Komulatif ketersediaan air = volume tamping awal ketersediaan air . Kebutuhan air padi = kebutuhan air menurut FAO. 1986 irigation water management. irrigation water needs dalam satu kali masa tanam x4 bulan masa tanam : luas lahan yang di rencanakan. Kebutuhan air palawija = kebututhan air menurut FAQ. Irigation water management: irrigation water needs dalam satu kali masa tanam 4 bulan masa tanam : luas lahan direncanakan. Volume tampung embung = Panjang x lebar Evaporasi Volume penguapan = luas x evaporasi : 100 . x hari 1 bulan Angka infiltrasi Volume infiltrasi = luas : 1000. x hari dalam 1 bulan Total volume air keluar . = pemakaian air irigasi dalam 1 bulan x volume penguapan volume infiltrasi Pola tanam yang ada di desa Bakalan diketahui mengikuti pola Padi Ae Padi Ae Palawija, yang telah dianalisis menggunakan perhitungan neraca air seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut ini : Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Tabel 11. Perhitungan ketersediaan air dengan pola Padi- Padi- Palawija Sumber: Perhitungan Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Contoh perhitungan ketersediaan air bulan November . Ketersediaan air . = (R80/1. x luas embung = . ,27 /1. = 301,34 m3 volume penguapan = Luas embung x Evaporasi / 1000 x 30 = 3. 900 x 4,12 /1000 x 30 = 481,69 m3 volume infiltrasi = . ngka infiltrasi / 1. x hari dalam 1 bulan x luas tampungan embung = . ,010 / 1. x 31 x 3900 = 1,17 m3 total volume air keluar . = Volume penguapan volume infiltrasi = 481,69 1,17 = 482,86 m3 Volume Tampungan air efektif = Volume Tampungan Air x Efisiensi% = 13. 406,55 x 100% = 13. 406,55 m3 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, pola tanam yang ada, yaitu Padi Ae Padi Ae Palawija, dinilai kurang memadai untuk mengairi area seluas 5 hektar, dimana hanya volume di bulan Maret. April dan Mei yang masih terbilang cukup, sedangkan di bulan lainya di dapati minus (-)/kurang. Dengan keterangan palawijanya yaitu jenis kacang hijau yang sekarang harga jual nya mencapai Rp28. 000,00 per kg. Jika di total dengan panen per hektar nya yaitu sebanyak 1,2 ton dapat mencapai penjualan dengan harga Rp33. 000,00. Sedangkan harga jual padi mencapai Rp8. 000,00 per kg. Jika di total dengan panen per hektar nya yaitu sebanyak 6 ton dapat mencapai penjualan dengan harga Rp48. 000,00 . Maka dalam perhitungan selanjutnya penulis akan mencoba dengan pola PadiPalawija- Palawija, karena di nilai air yang tersedia untuk pola tata tanam existing belum Berikut adalah tabel neraca air berdasarkan hasil perhitungan untuk pola tanam baru yaitu Padi Ae Palawija Ae Palawija: Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Tabel 12 Perhitungan ketersediaan air dengan pola Padi- Palawija- Palawija (Cabai Rawit Mera. r eb m etp eS sutsugA i eM n a luB t er aM ir aurb eF ir aun aJ r eb m es eD r eb m evoN n aut aS n ai arU m an aT a loP 31,781 28,927 90,956. 00,009. 76,431 02,525 98,331. 00,009. 72,77 43,103 Am Am Am Am Am ) wolfni( riA n a a id esr et eK fit a lu moK gnubmE nagnupmaT sauL )or kim( gnubmE nagnupmaT sauL n ah aL n as ap m iL e mu loV ) wolfnI( n agnup m aT riA n a a id esr et eK 39,251 44,695 19,883. 00,009. i luJ 02,071 87,366 53,589. 00,009. r ebotkO 00,007. 00,721 03,594 31,946. 00,009. 72,32 47,09 34,441. 00,009. IDAP 86,03 47,097. 00,009. 24,128. 00,009. ti w aR i ab aC( aji w al aP )h ar eM 67,328. 00,009. ti w aR i ab aC( aji w al aP )h ar eM 67,328. 00,009. 30,156. 96,184 68,284 Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Am Am Am 67,328. 00,009. ISAGIRI RIA NAHUTUBEK idaP nana yaL laerA idaP riA nahutubeK ajiwalaP nana yaL laerA ajiwalaP riA nahutubeK latoT riA nahutubeK fitalumoK latoT riA nahutubeK ISAGIRI RIA NAAIDESRETEK naaide sreteK emuloV l a wA n agnup m aT e mu loV 55,238. 00,009. 78,913. 10,833 22,933 79,339. 37,354 49,454 64,225. 08,164 98,264 riA n agnup m aT e mu loV 24,361. 05,484 17,584 )aE( nagnapaL i saropavE rh/mm napaugneP emuloV Am i sartlifnI a kgnA rh/mm i sartlifnI emuloV Am A m ) wolftuO( gnub mE r aul eK riA e mu loV l atoT 69,909. 03,332 74,432 Am 63,133. i snei sifE fit kefe ria nagnupmaT emuloV 71,854 83,954 Am Am 44,063. 00,001 30,156. 66,87 18,954 89,064 00,001 78,913. 36,462 79,353. 00,001 79,339. 25,935 95,864 97,964 00,001 64,225. 70,376 52,663. 00,001 24,361. 41,158 03,654 15,754 00,001 69,909. 79,111. 72,713. 00,001 63,133. 14,966. 23,505 94,605 00,001 44,063. 92,341. 75,343. 00,001 79,353. 37,415. 77,784 89,884 00,001 52,663. 49,409 ac ar eN 00,001 72,713. 88,332 nana yal laerA 00,001 75,343. 71,062 Sumber: Perhitungan Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, pola tanam Padi Ae Palawija Ae Palawija dinilai memadai untuk mengairi lahan seluas 5 hektar. Dengan keterangan palawijanya yaitu jenis cabai rawit merah yang sekarang harga jual nya mencapai Rp45. 500,00 per kg. Jika di total dengan panen per hektar nya di perkirakan dapat mencapai 16 ton, perkiraan ini di ambil dari data rata-rata hasil panen perhektar nya di Indonesia. Hasil panennya dapat mencapai penjualan dengan harga Rp728. 000,00. Untuk perbandingan hasil panen dari pola tanam existing dan pola tanam optimasi di lihat dari segi kualitas harga nya dapat kita lihat dari perbandingan berikut ini: Pola tanam Existing: Diketahui : Harga Kacang hijau/Kg Hasil Panen Kacang hijau/ha Harga Padi /kg Hasil Panen Padi/hektar Luas lahan Musim Tanam 1 Luas lahan Musim Tanam 2 Rp28. 000,00 1200 kg Rp8. 000,00 6000 kg Ha Padi Ha Padi Ha Palawija Luas lahan Musim Tanam 3 Ha Palawija Menentukan keuntungan hasil panen dari musim tanam 1, 2 dan 3 ? Total panen kacang hijau /ha = Harga Kacang hijau/Kg x Hasil Panen Kacang hijau/ha = 28. 000,00 x 1200 = Rp33. 000,00 Total Panen Padi/ha = Harga Padi /kg x hasil Panen Padi/hektar = 8. 000,00 x 6000 = Rp48. 000,00 Keuntungan hasil panen MT1 = Keuntungan Panen Padi/ha x Luas Lahan MT 1 = 48. 000,00 x 5 = Rp240. 000,00 Keuntungan hasil panen MT2 = Rp196. 000,00 Keuntungan hasil panen MT3 = Rp67. 000,00 Keuntungan Pola Tanam Padi-padi-palawija (Kacang hija. = Keuntungan hasil panen MT1 Keuntungan hasil panen MT2 Keuntungan hasil panen MT3 = Rp240. 000,00 Rp196. 000,00 Rp67. 000,00 Rp504. 000,00 Pola Tanam Optimasi : Diketahui : Harga Cabai rawit / kg Rp45. 500,00 Hasil Panen Cabai rawit/ha : 16000 kg Harga Padi /kg Rp8. 000,00 Hasil Panen Padi/hektar 6000 kg Luas Lahan MT 1 Ha Padi Luas Lahan MT 2 Ha Palawija Luas Lahan MT 3 Ha Palawija Menentukan keuntungan hasil panen dari musim tanam 1, 2 dan 3 ? Total panen Cabai rawit /ha : Rp728. 000,00 Total Panen Padi/ha : Rp48. 000,00 Received: 9 September 2024. Accepted: 28 Oktober 2024 Seminar Nasional Teknik Sipil e-ISSN: 3064-1012 Vol. 1 No. November 2024 Keuntungan hasil panen MT1 : Rp240. 000,00 Keuntungan hasil panen MT2 : Rp3. 000,00 Keuntungan hasil panen MT3 : Rp1. 000,00 Keuntungan Pola Tanam Padi-palawija-palawija . abai rawit mera. = Rp5. 000,00 Hasil dari perbandingan keuntungan hasil panen pola tanam existing dengan pola tanam optimasi adalah sebagai berikut : Rp504. 000,00 < Rp5. 000,00 Hasil nya pola tanam optimasi dinilai lebih baik di bandingkan pola tanam sebelumnya yang dapat dilihat dari segi kebutuhan air dan kualitas harga jual hasil panen nya lebih baik dari pola tanam sebelumnya. Berdasarkan perhitungan di atas, diketahui bahwa pola tanam existing (Padi Ae Padi Ae Palawij. dengan menggunakan palawija jenis Kacang hijau dinilai kurang tepat dengan ketersediaan air yang tersedia maka di buat pola tanam baru yang di nilai lebih bagus dengan pola (Padi-palawija-palawij. dengan jenis palawijo cabai rawit merah untuk lahan dengan luas 5 ha, pola tata tanam tersebut dinilai cukup sehingga membuat fungsi embung yang ada menjadi optimal. KESIMPULAN. Berdasarkan hasil pembahasan diatas, kebutuhan air di Desa Bakalan. Kec. Kapas. Kab. Bojonegoro untuk padi di lahan 5 ha adalah 23. 213,95 mA, dan untuk palawija 4. 665,6 mA. Lahan seluas 5 ha dapat diairi dengan embung. Air embung sebaiknya digunakan hanya saat musim kemarau untuk mengairi lahan 5 ha, sedangkan pada musim hujan dianjurkan memanfaatkan air hujan untuk menghemat cadangan embung. Pola tanam padi-palawija-palawija dengan palawija cabai rawit merah disarankan karena lebih efisien dalam penggunaan air dan hasil panennya lebih baik dibandingkan pola padipadi-palawija . acang hija. DAFTAR PUSTAKA