Studi Korelasi Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-Pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal Ghazaly et al. STUDI KORELASI CELEBRITY WORSHIP DAN KUALITAS HIDUP PADA PENGGEMAR K-POP BERUSIA DEWASA AWAL YANG MENGGUNAKAN APLIKASI X Virginia Arielle Ghazaly1. Rahmah Hastuti2. Jessica Chandhika3 Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: virgieghazaly@gmail. Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: rahmahh@fpsi. Program Studi Psikologi Jenjang Sarjana. Universitas Tarumanagara. Jakarta Email: jessica@fpsi. Masuk: 13-11-2024. Revisi: 20-12-2024. Diterima untuk diterbitkan: 20-01-2025 ABSTRAK Musik K-pop banyak digemari oleh masyarakat global saat ini. Penggemar K-pop tidak hanya menyukai musik K-pop, namun juga mengidolakan para penyanyinya. Penggemar K-pop sering mengikuti berita terbaru hingga mengumpulkan informasi pribadi mengenai idolanya, salah satunya melalui aplikasi X. Perilaku ini dikenal sebagai celebrity worship, yaitu perilaku yang cenderung menunjukkan hubungan parasosial dan obsesi terhadap idolanya. Beberapa penelitian terdahulu menemukan kaitan antara celebrity worship dengan beberapa aspek kualitas hidup, namun hasilnya masih inkonsisten. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi korelasi antara celebrity worship dengan kualitas hidup secara keseluruhan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional yang menggunakan teknik nonprobablity sampling berjenis purposive sampling. Alat ukur Celebrity Attitude Scale 23-item digunakan untuk mengukur celebrity worship, sedangkan kualitas hidup diukur dengan WHOQOL-BREF. Partisipan pada penelitian ini melibatkan 482 penggemar K-pop berusia 20 hingga 40 tahun atau dewasa awal, dan aktif menggunakan aplikasi X untuk mendukung aktivitas celebrity worship yang dilakukan. Analisis korelasi menggunakan metode Pearson menunjukkan koefisien r = 0,106 dan nilai signifikansi p = 0. 02 < 0. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara celebrity worship dengan kualitas hidup pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X di kalangan dewasa awal. Semakin tinggi tingkat celebrity worship, maka semakin tinggi tingkat kualitas hidup individu, dan demikian pula sebaliknya. Kata Kunci: Penggemar K-pop, celebrity worship, kualitas hidup, aplikasi X, dewasa awal ABSTRACT Currently. K-pop music is widely loved by people worldwide. K-pop fans not only enjoy the music, but also idolize the Fans often keep up with the latest news and gather personal information about their idols, often through applications such as X application. This behavior is known as celebrity worship, the behavior of fans who tend to show parasocial relationship and obsession towards their idols. Previous studies have found links between celebrity worship and various aspects of quality of life, although the results remain inconsistent. The aim of this research is to identify the correlation between celebrity worship and overall quality of life. This is a quantitative correlational research using purposive sampling, a type of non-probability sampling. The 23-item Celebrity Attitude Scale was used to measure celebrity worship, while quality of life was measured using the WHOQOL-BREF. Participants included 482 K-pop fans aged 20 to 40 years . oung adult. who actively uses X to support their celebrity worship activities. Pearson correlation analysis revealed a coefficient of r = 0. 106 with a significance value of p = 0. 02 < 0. These results indicate a positive and significant correlation between celebrity worship and quality of life among young adult K-pop fans using X. The higher the level of celebrity worship, the higher the individual's quality of life, and vice versa. Keywords: K-pop fans, celebrity worship, quality of life. X application, young adults phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 1, 8-19 E-ISSN: 3032-7202 Pesatnya kemajuan teknologi seperti keberadaan internet dan media sosial telah mendukung terjadinya proses globalisasi (Dahroni, 2. Salah satu contoh globalisasi adalah fenomena Korean Wave yang marak dijumpai saat ini (Glodev et al. , 2. Fenomena Korean Wave turut berkontribusi pada meningkatnya popularitas musik K-pop yang kini banyak digemari oleh masyarakat global. Sebagian besar penggemar K-pop juga mengidolakan para penyanyi K-pop. Rasa suka yang dialami cenderung mendorong penggemar K-pop untuk memantau berita paling baru hingga menjelajahi informasi terkait kehidupan pribadi idolanya. Perilaku ini dikenal dengan istilah celebrity worship, yaitu perilaku penggemar yang cenderung menunjukkan hubungan parasosial dan obsesi terhadap idolanya (McCutcheon et al. , 2. Berbagai macam informasi yang dicari oleh penggemar K-pop terkait idolanya dapat ditemukan di media Para penggemar K-pop dapat memanfaatkan media sosial untuk mengikuti informasi terkini mengenai idola mereka, baik terkait pekerjaan maupun kehidupan pribadi, serta untuk berinteraksi dengan sesama penggemar. Berbagai platform media sosial dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan penggemar K-pop dari berbagai belahan dunia (Jang & Song, 2. Bagi para penggemar K-pop, aplikasi X merupakan platform media sosial yang paling sering digunakan (Yuniarti & Agustina, 2. Berbagai selebriti K-pop memiliki akun resmi pada aplikasi X untuk mengunggah foto, video, dan berita terbaru terkait kegiatannya. Penggemar K-pop juga menggunakan aplikasi X untuk menyebarkan berbagai macam informasi mengenai idolanya. Contoh informasi yang disebar termasuk nominasi penghargaan, jadwal konser, merchandise, dan pencapaian lagu idolanya di platform musik (Pohan & Gustiana, 2. Melalui aplikasi X, penggemar K-pop dapat melihat update terbaru idolanya secara real-time (Herman, 2. Penggemar K-pop juga dapat berinteraksi dengan lebih mudah menggunakan fitur repost dan quote post. Oleh karena itu, aplikasi X menjadi lebih menarik untuk digunakan sebagai platform media sosial yang dapat mendukung aktivitas celebrity worship penggemar K-pop. Aplikasi X dapat digunakan untuk memperluas jaringan sosial karena aplikasi ini menyediakan platform bagi individu dengan minat serupa untuk saling terhubung, seperti pada penggemar K-pop. Namun, tetap ada kemungkinan bahwa penggunaan aplikasi X dapat memberikan dampak negatif kepada penggunanya. Salah satu fenomena yang dapat terjadi pada aplikasi ini adalah fanwar antar penggemar K-pop. Fanwar merupakan konflik antara penggemar yang disebabkan oleh keinginan untuk membela idolanya (Pohan & Gustiana, 2023. Purba et al. , 2. Fanwar terjadi ketika pengguna aplikasi X menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan pendapat yang dimiliki oleh penggemar suatu selebriti. Misalnya, ketika ada pengguna yang mengkritik seorang penyanyi K-pop, maka penggemarnya juga akan mengkritik kembali pengguna Beberapa pihak yang terlibat dalam fanwar cenderung melakukan penghinaan terhadap lawannya. Terkadang, pelaku fanwar dapat menggunakan hinaan terkait fisik hingga hal-hal yang berkaitan dengan SARA (Purba et al. , 2. Perilaku seperti ini mengindikasikan bahwa beberapa penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X memiliki tingkat celebrity worship yang cukup tinggi. Intensitas celebrity worship juga dicerminkan oleh dimensi-dimensi dari celebrity worship. Terdapat tiga dimensi yang meliputi entertainment/social, intense/personal, dan mild pathological atau borderline/pathological (Maltby et al. 2002, 2. Ketiga dimensi ini secara berurutan mencerminkan intensitas celebrity worship yang rendah, sedang, dan tinggi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa semakin intens seseorang terlibat dalam celebrity worship, semakin rendah tingkat self-esteem dan subjective well-being yang dimiliki (Zsila et al. , 2. Subjective well-being yang dimaksud mencakup kepuasan hidup serta emosi positif (Diener, 2009. Zsila et al. , 2. Penelitian ini juga mengungkap bahwa tingkat celebrity worship yang tinggi berkorelasi dengan meningkatnya rasa lelah dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Aspek-aspek ini sejalan dengan dimensi kualitas hidup sebagaimana yang dijelaskan oleh World Health Organization Quality of Life atau WHOQOL (World Health Organization, 1. Menurut World Health Organization . , kualitas hidup didefinisikan sebagai pandangan subjektif individu terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Kualitas hidup mencakup empat dimensi, yaitu dimensi kesehatan fisik, dimensi psikologis, dimensi Studi Korelasi Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-Pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal Ghazaly et al. hubungan sosial, serta dimensi lingkungan. Rasa lelah termasuk dalam aspek dimensi kesehatan fisik, sementara self-esteem dan emosi positif termasuk dalam aspek dimensi psikologis. Aktivitas para penggemar K-pop di aplikasi X mengindikasikan bahwa celebrity worship di kalangan ini layak menjadi fokus kajian lebih lanjut. Melihat berita positif dan update mengenai idola dapat memicu rasa bahagia pada penggemar K-pop. Hal ini dapat meningkatkan kualitas hidup pada dimensi psikologis. Kualitas hidup pada dimensi hubungan sosial juga dapat meningkat berkat interaksi antara penggemar Kpop di aplikasi X. Meskipun demikian, penurunan kualitas hidup yang disebabkan oleh penggunaan aplikasi X tetap dapat terjadi. Fanwar antara penggemar K-pop pada aplikasi X dapat menyebabkan perasaan negatif, yang merupakan salah satu aspek dari dimensi psikologis. Berdasarkan paparan ini, dapat dikatakan bahwa penggunaan aplikasi X memberikan beragam pengalaman emosional bagi penggemar K-pop, terutama bagi penggemar yang berinteraksi satu sama lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara celebrity worship dengan kualitas hidup pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X di kalangan dewasa awal. Hasil penelitian dari Zsila et al. mengindikasikan bahwa celebrity worship dapat dikaitkan dengan rendahnya beberapa aspek kualitas hidup. Meskipun demikian, penelitian yang membahas terkait celebrity worship dengan kualitas hidup secara keseluruhan menyatakan bahwa para penggemar yang melakukan celebrity worship masih dikategorikan memiliki kualitas hidup yang baik (Nawardi et al. , 2020. Safithri et al. , 2. Morgan et al. juga menemukan bahwa celebrity worship mampu meningkatkan dukungan sosial yang diterima Beberapa penemuan ini menimbulkan pertanyaan terkait keberadaan dan arah korelasi dari celebrity worship dengan kualitas hidup secara keseluruhan. Penelitian-penelitian tersebut belum menguji korelasi antara kedua variabel. Kualitas hidup penggemar K-pop di kalangan dewasa awal merupakan topik penelitian yang menarik, mengingat bahwa tahap perkembangan psikososial yang dialami individu berusia dewasa awal adalah intimacy vs. isolation (Erikson, 1982, dalam Papalia & Martorell, 2. Pada tahap ini, para individu menciptakan hubungan yang mendalam dengan teman atau pasangan. Jika individu dewasa awal tidak dapat menciptakan hubungan tersebut, muncul kecenderungan bagi individu untuk mengalami isolasi dan menjadi terlalu fokus pada diri sendiri. Menurut Stever . , individu dewasa awal yang mengalami isolasi dapat menciptakan intimacy satu arah dengan selebriti yang diidolakan. Hubungan parasosial dengan idola adalah salah satu cara untuk mengatasi rasa isolasi yang disebabkan oleh tidak adanya hubungan mendalam dengan orang-orang sekitar. Hubungan parasosial dengan idola dianggap sebagai pilihan yang aman, terutama bagi individu yang pernah mengalami masalah dalam hubungan. Selain dari segi psikososial, beberapa aspek dari dimensi-dimensi kualitas hidup juga lebih relevan bagi individu pada usia dewasa awal. Misalnya, aspek kapasitas pekerjaan pada dimensi kesehatan fisik, serta aspek kebebasan dan keuangan pada dimensi lingkungan (World Health Organization, 1. Individu pada rentang usia dewasa awal, yaitu usia 20 hingga 40 tahun, umumnya memiliki kontrol yang lebih tinggi dalam mengelola aspek-aspek tersebut (Papalia & Martorell, 2. Pada usia ini, individu mulai menjadi lebih independen dan memiliki pekerjaan untuk mendukung kondisi finansial masing-masing. Aspek kualitas hidup bukanlah satu-satunya alasan penggemar K-pop pada kalangan dewasa awal menarik untuk Hasil survei di Indonesia juga menunjukkan bahwa jumlah penggemar K-pop di kalangan dewasa awal lebih besar dibandingkan kalangan usia lainnya (Triadanti & Wardoyo, 2. Jangkauan usia yang mendominasi survei ini adalah usia 20 hingga 25 tahun, dengan persentase sebesar 40. 7 persen. Penelitian ini melibatkan penggemar K-pop pada usia dewasa awal yang menggunakan aplikasi X untuk mendukung aktivitas celebrity worship yang dilakukan. Metode kuantitatif korelasional diterapkan pada penelitian ini untuk menguji korelasi yang dimiliki oleh celebrity worship dan kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan alat ukur 23-item Celebrity Attitude Scale yang dikembangkan oleh Maltby et al. untuk mengukur variabel celebrity worship. Sedangkan, pengukuran terhadap variabel kualitas hidup dilakukan melalui alat ukur WHOQOL-BREF dari World Health Organization . , yang telah phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 1, 8-19 E-ISSN: 3032-7202 diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Mardiati et al. Melalui analisis hasil pengukuran kedua variabel, dapat diketahui apakah terdapat korelasi antara celebrity worship dengan kualitas hidup penggemar K-pop yang aktif menggunakan aplikasi X, khususnya pada kalangan dewasa awal. Secara teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat melengkapi kajian empiris mengenai korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup, khususnya pada penggemar K-pop. Kegemaran masyarakat terhadap K-pop yang semakin meluas dapat mendorong berbagai peneliti untuk melakukan lebih banyak penelitian terkait penggemar K-pop. Penelitian ini dapat dapat menjadi landasan bagi penelitian-penelitian ke depannya yang membahas terkait celebrity worship dan kualitas hidup pada penggemar K-pop. Secara praktis, penelitian ini dapat dijadikan sarana untuk mengukur dan merefleksikan tingkat celebrity worship dan kualitas hidup penggemar K-pop. Hasil penelitian ini juga dapat meningkatkan kesadaran penggemar K-pop untuk memperhatikan tingkat celebrity worship dan kualitas hidup yang dialami. Penggemar K-pop dapat diarahkan untuk mencari cara agar terhindar dari perilaku celebrity worship yang berlebihan. Selain itu, para penggemar K-pop juga dapat didorong untuk mengeksplorasi upaya meningkatkan kualitas hidup masing-masing. Terakhir, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi penyelenggara psikoedukasi untuk menyelenggarakan program edukasi bagi penggemar K-pop. Program ini dirancang untuk memberikan panduan kepada penggemar dalam menjaga tingkat celebrity worship agar tetap dalam batas wajar. Apakah Terdapat Korelasi antara Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal? Sebagaimana yang telah dibahas pada pendahuluan, celebrity worship adalah perilaku penggemar yang cenderung menunjukkan hubungan parasosial dan obsesi terhadap idolanya (McCutcheon et al. , 2. Sedangkan, kualitas hidup adalah persepsi individu terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitarnya (World Health Organization, 1. Celebrity worship ditemukan memiliki korelasi dengan beberapa aspek pada dimensi-dimensi kualitas hidup, seperti dimensi kesehatan fisik, psikologis, dan hubungan sosial (Morgan et al. , 2024. Zsila et al. , 2. Penelitian dari Zsila et al. mengindikasikan korelasi negatif antara celebrity worship dengan dimensi kesehatan fisik dan psikologis. Sedangkan, penelitian dari Morgan et al. mengindikasikan adanya korelasi positif antara celebrity worship dengan dimensi hubungan sosial. Hasil dari beberapa penelitian ini mengindikasikan adanya korelasi antara celebrity worship dengan kualitas hidup secara keseluruhan, meskipun arah korelasi masih inkonsisten dan baru dapat diidentifikasi pada penelitian ini. H1: Terdapat korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X di kalangan dewasa awal. METODE Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dengan strategi korelasional untuk mengidentifikasi korelasi dan arah korelasi antara dua variabel (Gravetter & Forzano, 2. Dua variabel yang diuji pada penelitian ini adalah celebrity worship dan kualitas hidup. Penelitian ini juga menerapkan desain cross-sectional, yaitu metode penelitian yang melibatkan partisipan dari beberapa kelompok usia tertentu (Gravetter & Forzano. Dalam penelitian ini, kelompok usia yang dipilih adalah dewasa awal, yaitu usia 20 hingga 40 tahun. Variabel celebrity worship dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner berbasis Google Forms yang memuat butir-butir pengukuran untuk masing-masing variabel. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara online dengan memanfaatkan berbagai platform media sosial, seperti X. Instagram. LINE, dan WhatsApp. Data dikumpulkan dari partisipan yang sesuai dengan kriteria karakteristik yang telah ditetapkan. Proses pengumpulan data menggunakan perangkat seperti handphone Studi Korelasi Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-Pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal Ghazaly et al. dan laptop. Laptop berfungsi untuk pengolahan data menggunakan aplikasi IBM SPSS 26 for Windows dan Google Sheets, menghitung jumlah minimum partisipan dengan G*Power 3. 1, serta menyusun makalah penelitian menggunakan Microsoft Word. Partisipan Karakteristik partisipan dalam penelitian ini mencakup: . memiliki idola yang merupakan selebriti K-pop. menggunakan aplikasi X dan aktif berinteraksi dengan sesama penggemar K-pop. berada dalam rentang usia 20 hingga 40 tahun. Penelitian ini tidak menetapkan batasan terkait latar belakang budaya, ras, agama, status sosial ekonomi, maupun tingkat pendidikan partisipan. Penelitian ini menerapkan teknik nonprobability sampling, yaitu teknik yang digunakan ketika angka populasi sulit untuk diukur secara akurat (Gravetter & Forzano, 2. Teknik ini digunakan karena jumlah penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X sangatlah besar, dan jumlahnya bersifat dinamis sehingga ukuran populasi tidak dapat dihitung secara akurat. Purposive sampling merupakan jenis nonprobability sampling yang diterapkan pada penelitian ini. Teknik ini melibatkan pemilihan partisipan berdasarkan karakteristik tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian (Sugiyono, 2. Mengingat penelitian ini memiliki karakteristik yang cukup spesifik, maka purposive sampling dianggap paling sesuai untuk diterapkan. Data dikumpulkan melalui partisipan yang dijangkau menggunakan berbagai media sosial, khususnya aplikasi Kuesioner yang dirancang melalui Google Forms disebarkan secara online melalui platform-platform Jumlah minimum partisipan dihitung melalui aplikasi G*Power. Hasil perhitungan G*Power menunjukkan bahwa jumlah minimum partisipan dalam penelitian ini adalah 111 orang. Sejumlah 482 partisipan terlibat dalam penelitian ini, di antaranya 455 partisipan perempuan . 4 perse. dan 27 partisipan laki-laki . 6 perse. Pengukuran Variabel celebrity worship dalam penelitian ini diukur menggunakan Celebrity Attitude Scale (CAS) yang dikembangkan oleh Maltby et al. dan terdiri dari 23 butir. Skala ini merupakan pengembangan dari Celebrity Attitude Scale (CAS) yang dirancang oleh McCutcheon et al. dan meliputi 34 butir. Sebelum digunakan pada partisipan, peneliti terlebih dahulu melakukan adaptasi terhadap CAS 23 -item ke dalam bahasa Indonesia. Proses validasi dilakukan melalui expert judgement dengan melibatkan tiga ahli. Butir-butir dalam alat ukur kemudian disesuaikan berdasarkan masukan dari para ahli sebelum disebarkan kepada partisipan. Alat ukur ini menggunakan skala Likert 5-poin. Skor 1 menunjukkan respons AuSangat tidak setujuAy, skor 2 menunjukkan respons AuTidak setujuAy, skor 3 menunjukkan respons AuNetralAy, skor 4 menunjukkan respons AuSetujuAy, dan skor 5 menunjukkan respons AuSangat setujuAy. Terdapat tiga dimensi pada alat ukur CAS, yaitu dimensi entertainment/social, dimensi intense/personal, dan dimensi mild pathological atau borderline/pathological. Contoh butir pada dimensi entertainment/social adalah AuSaya senang berbicara dengan orang lain yang menyukai idola sayaAy. Pada dimensi intense/personal, salah satu contoh butirnya adalah AuSaya dan idola saya memiliki ikatan spesial yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata-kataAy. Terakhir, contoh butir dari dimensi mild pathological atau borderline/pathological adalah AuSaya sering merasa bahwa saya harus mempelajari kebiasaan pribadi idola sayaAy. Seluruh butir pada ketiga dimensi ini merupakan butir positif. Semakin tinggi skor yang diraih oleh partisipan, maka semakin tinggi tingkat celebrity worship yang dimiliki partisipan. Peneliti melakukan analisis butir dan ditemukan bahwa seluruh butir memiliki koefisien korelasi butir-total di atas 0. Oleh karena itu, tidak ada butir yang perlu Uji reliabilitas terhadap CAS menunjukkan bahwa alat ukur ini reliabel dengan koefisien CronbachAos Alpha sebesar = 0. Pengukuran terhadap kualitas hidup partisipan dilakukan dengan instrumen WHOQOL-BREF yang dirancang oleh World Health Organization . , dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh Mardiati et al. Alat ukur ini tersusun atas 26 butir dan mencakup empat dimensi, meliputi dimensi kesehatan phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 1, 8-19 E-ISSN: 3032-7202 fisik, dimensi psikologis, dimensi hubungan sosial, dan dimensi lingkungan. Terdapat tiga butir negatif pada WHOQOL-BREF, yaitu butir 3 dan 4 pada dimensi kesehatan fisik, serta butir 26 pada dimensi Contoh butir negatif dari dimensi kesehatan fisik adalah AuSeberapa sering Anda membutuhkan terapi medis untuk dapat berfungsi dalam kehidupan sehari-hari Anda?Ay. Kemudian, contoh butir negatif dari dimensi psikologis adalah AuSeberapa sering Anda memiliki perasaan negatif seperti Aofeeling blueAo. , putus asa, cemas dan depresi?Ay. Seluruh butir pada dimensi hubungan sosial dan lingkungan merupakan butir positif. Salah satu contoh butir dari dimensi hubungan sosial adalah AuSeberapa puaskah Anda dengan hubungan personal/sosial Anda?Ay. Terakhir, contoh butir dari dimensi lingkungan adalah AuSeberapa jauh ketersediaan informasi bagi kehidupan Anda dari hari ke hari?Ay. Sama seperti CAS, respons jawaban pada WHOQOL-BREF juga menggunakan skala Likert 5-poin. Hasil uji reliabilitas awal terhadap WHOQOL-BREF menunjukkan koefisien CronbachAos Alpha sebesar = 0. Meskipun koefisien tersebut mencerminkan reliabilitas yang baik, namun melalui hasil analisis butir ditemukan bahwa terdapat dua butir yang memiliki koefisien korelasi butir-total di bawah 0. Butir tersebut adalah butir 3 dan 4 pada dimensi kesehatan fisik, sehingga kedua butir perlu dieliminasi. Hasil uji reliabilitas akhir terhadap WHOQOL-BREF menunjukkan koefisien CronbachAos Alpha sebesar = 0. 917, menandakan bahwa WHOQOL-BREF merupakan alat ukur yang reliabel. Prosedur Tahap awal yang dilakukan peneliti sebelum mengambil data adalah memilih variabel-variabel yang dianggap menarik untuk diteliti. Pemilihan variabel tersebut diselaraskan dengan fenomena yang sedang marak terjadi saat ini. Selanjutnya, peneliti mencari alat ukur yang umumnya digunakan untuk mengukur kedua variabel tersebut. Peneliti mengadaptasi alat ukur CAS ke dalam bahasa Indonesia dan melewati proses expert judgement terlebih dahulu. Sedangkan, alat ukur WHOQOL-BREF yang digunakan telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh penulis lain. Butir-butir pada alat ukur dimasukkan ke dalam kuesioner berbasis Google Forms, kemudian disebarkan melalui beberapa platform media sosial, seperti X. Instagram. LINE, dan WhatsApp. Peneliti menyebarkan tautan kuesioner kepada partisipan yang memenuhi Data dari partisipan yang mengisi kuesioner namun tidak memenuhi kriteria perlu dikeluarkan dari Proses pengambilan data berlangsung selama empat minggu, mulai dari 16 September 2024 hingga 14 Oktober 2024. HASIL Gambaran Variabel Celebrity worship dan kualitas hidup merupakan dua variabel yang diuji pada penelitian ini. Alat ukur kedua variabel tersebut menggunakan skala Likert 5-poin, sehingga mean hipotetik dari hasil pengukurannya adalah 3. Uji deskriptif variabel celebrity worship dan kualitas hidup menunjukkan bahwa kedua mean empirik yang didapat memiliki nilai lebih besar dari 3 atau lebih besar dari mean hipotetik. Variabel celebrity worship memiliki mean empirik sebesar 3. Variabel kualitas hidup memiliki mean empirik sebesar 3. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tingkat celebrity worship dan kualitas hidup yang dialami partisipan tergolong tinggi. Hasil uji deskriptif terhadap kedua variabel dapat dilihat secara lebih jelas pada Tabel 1. Tabel 1 Hasil Uji Deskriptif Variabel Variabel Min Max Mean hipotetik Mean empirik Keterangan Celebrity worship Tinggi Kualitas hidup 4,96 Tinggi Studi Korelasi Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-Pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal Ghazaly et al. Uji Normalitas Uji normalitas data variabel celebrity worship dan kualitas hidup dilakukan dengan One-Sample Kolmogorov Smirnov. Melalui uji One-Sample Kolmogorov Smirnov, didapat nilai signifikansi p = 0. 05 pada variabel celebrity worship dan kualitas hidup. Nilai signifikansi yang didapat menandakan bahwa data kedua variabel memenuhi asumsi normalitas atau berdistribusi secara normal. Peneliti juga melakukan uji normalitas pada data dari masing-masing dimensi kualitas hidup, karena penelitian ini juga mengidentifikasi korelasi antara celebrity worship dengan setiap dimensi kualitas hidup. Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov Smirnov, ditemukan bahwa keempat dimensi kualitas hidup memiliki nilai signifikansi yang sama, yaitu p = 0. 000 < 0. Nilai signifikansi yang dihasilkan menandakan bahwa terdapat distribusi data yang tidak normal pada keempat dimensi. Uji Linearitas Setelah uji normalitas dilakukan, peneliti melanjutkan dengan uji linearitas pada data kedua variabel. Analisis perbandingan mean menunjukkan nilai signifikansi deviation from linearity sebesar p = 0. Nilai signifikansi tersebut menunjukkan adanya hubungan linear antara variabel celebrity worship dengan kualitas hidup. Analisis Hipotesis Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup. Hipotesis penelitian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson karena data kedua variabel berdistribusi secara normal (Schober et al. , 2. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan koefisien r = 0. 106 dan nilai signifikansi p = 0. 02 < 0. Berdasarkan koefisien korelasi dan nilai signifikansi yang diperoleh, ditemukan bahwa celebrity worship dan kualitas hidup memiliki korelasi yang positif dan signifikan, khususnya pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X di kalangan dewasa awal. Artinya, semakin tinggi tingkat celebrity worship yang dialami penggemar tersebut, semakin tinggi pula tingkat kualitas hidup yang dialami. Teridentifikasinya korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup menunjukkan bahwa hipotesis penelitian dapat diterima. Namun, kekuatan dari korelasi tersebut tergolong lemah (Schober et al. , 2. Hasil uji korelasi Pearson antara variabel celebrity worship dan kualitas hidup dapat dilihat secara lebih jelas pada tabel 2. Tabel 2 Hasil Uji Korelasi Pearson antara Celebrity Worship dengan Kualitas Hidup Variabel Korelasi Pearson Keterangan Celebrity worship dan kualitas hidup Korelasi positif dan signifikan Beberapa penelitian sebelumnya menemukan korelasi antara celebrity worship dengan beberapa aspek pada dimensi-dimensi kualitas hidup. Maka dari itu, penelitian ini juga mengidentifikasi korelasi antara celebrity worship dengan masing-masing dimensi kualitas hidup. Uji korelasi dilakukan dengan metode Spearman karena data dari keempat dimensi kualitas hidup berdistribusi secara tidak normal (Schober et , 2. Uji korelasi Spearman yang dilakukan antara celebrity worship dengan dimensi kesehatan fisik menunjukkan koefisien rs = 0. 101 dan nilai p = 0. 027 < 0. Artinya, antara celebrity worship dengan dimensi kesehatan fisik terdapat korelasi yang positif dan signifikan. Korelasi antara celebrity worship dengan dimensi psikologis juga diuji menggunakan Spearman, dan dihasilkan koefisien rs = 0. 001 dan nilai p = 0. 984 > 0. Berdasarkan hasil tersebut, maka celebrity worship dengan dimensi psikologis tidak memiliki korelasi. Selanjutnya, uji korelasi Spearman antara celebrity worship dengan dimensi hubungan sosial menghasilkan koefisien rs = 0. 115 dan nilai p = 0. 012 < 0. Koefisien r dan nilai p yang didapat phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 1, 8-19 E-ISSN: 3032-7202 menandakan bahwa celebrity worship dan dimensi hubungan sosial memiliki korelasi positif dan signifikan. Terakhir, hasil uji korelasi Spearman antara celebrity worship dengan dimensi lingkungan menunjukkan koefisien rs = 0. 087 dan nilai p = 0. 057 > 0. Berdasarkan koefisien rs dan nilai p yang diperoleh, maka tidak ada korelasi antara celebrity worship dengan dimensi lingkungan. Jika disimpulkan, maka celebrity worship hanya memiliki korelasi yang positif dan signifikan dengan dua dimensi dari kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik dan lingkungan. Hasil uji korelasi Spearman antara celebrity worship dan keempat dimensi kualitas hidup juga dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3 Hasil Uji Korelasi Spearman antara Celebrity Worship dengan Setiap Dimensi Kualitas Hidup Variabel Celebrity worship kesehatan fisik Celebrity worship Celebrity worship hubungan sosial Celebrity worship Korelasi Pearson Keterangan Korelasi positif dan signifikan Tidak ada korelasi Korelasi positif dan signifikan Tidak ada korelasi DISKUSI Penelitian ini mengungkapkan adanya korelasi yang positif dan signifikan antara celebrity worship dan kualitas hidup pada penggemar K-pop berusia dewasa awal yang menggunakan aplikasi X. Semakin tinggi tingkat celebrity worship yang dialami, semakin tinggi pula tingkat kualitas hidup yang dirasakan oleh penggemar tersebut. Sebaliknya, semakin rendah tingkat celebrity worship yang dialami, semakin rendah pula tingkat kualitas hidup yang dirasakan. Fokus penelitian ini adalah pada penggemar K-pop usia dewasa awal yang aktif menggunakan aplikasi X untuk mendukung aktivitas celebrity worship. Contoh aktivitas yang dilakukan seperti mengikuti berita terbaru penyanyi K-pop yang diidolakan, serta berinteraksi dengan sesama penggemar K-pop. Hasil penelitian ini didukung oleh temuan dari beberapa penelitian sebelumnya. Temuan dari Safithri et al. mengungkapkan bahwa penggemar K-pop yang terlibat dalam celebrity worship cenderung memiliki kualitas hidup yang baik. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Nawardi et al. yang mendapati bahwa penggemar yang melakukan celebrity worship, khususnya pada usia 20 hingga 30 tahun, memiliki kualitas hidup yang relatif baik. Meskipun sejalan dengan hasil penelitian dari Safithri et al. dan Nawardi et al. , namun hasil penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya yang meneliti hubungan antara celebrity worship dan beberapa aspek kualitas hidup. Zsila et al. menemukan hubungan negatif antara celebrity worship dengan self-esteem dan subjective well-being. Kedua hal ini merupakan aspekaspek dari dimensi psikologis pada kualitas hidup (World Health Organization, 1. Subjective wellbeing pun disebut sebagai salah satu pendekatan kualitas hidup (Diener & Suh, 1. Penelitian oleh Zsila et al. juga menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat celebrity worship, semakin besar rasa lelah yang dirasakan individu saat menjalani aktivitas sehari-hari. Aspek ini termasuk ke dalam dimensi kesehatan fisik dari kualitas hidup (World Health Organization, 1. Temuan dari Zsila et al. mengindikasikan bahwa tingginya tingkat celebrity worship dapat berkaitan dengan rendahnya kualitas hidup individu. Perbedaan arah korelasi antara hasil penelitian Zsila et al. dan penelitian ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah usia. Zsila et al. mencatat bahwa tingkat kelelahan cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Selain itu, penelitian tersebut hanya membahas Studi Korelasi Celebrity Worship dan Kualitas Hidup pada Penggemar K-Pop yang Menggunakan Aplikasi X di Kalangan Dewasa Awal Ghazaly et al. aspek-aspek dari dua dimensi kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik dan psikologis. Kualitas hidup secara keseluruhan mencakup empat dimensi, yaitu kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan (World Health Organization, 1. Keterlibatan dimensi lain seperti hubungan sosial dan lingkungan juga dapat menjadi penyebab ditemukannya perbedaan arah korelasi antara penelitian Zsila et al. dengan penelitian ini. Berdasarkan hasil uji korelasi Pearson dalam penelitian ini, celebrity worship dan kualitas hidup memiliki koefisien korelasi r = 0. Meskipun korelasi ini signifikan . = 0. 02 > 0. , namun koefisien korelasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan hubungan ini tergolong lemah (Schober et al. , 2. Hal ini disebabkan oleh celebrity worship yang hanya menunjukkan korelasi signifikan pada dua dimensi kualitas hidup, yaitu kesehatan fisik dan hubungan sosial, dengan arah korelasi yang positif. Sementara itu, tidak ditemukan korelasi signifikan antara celebrity worship dengan dimensi psikologis maupun lingkungan. Korelasi positif antara celebrity worship dan dimensi kesehatan fisik yang ditemukan pada penelitian ini berbeda dengan indikasi yang didapat dari penelitian Zsila et al. Penelitian dari Zsila et al. mengindikasikan adanya korelasi negatif antara celebrity worship dan dimensi kesehatan fisik. Hal ini dikarenakan ada peningkatan rasa lelah yang dialami individu sehari-hari seiring meningkatnya tingkat celebrity worship. Meskipun demikian, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Fajriah et al. yang mengungkapkan bahwa penggemar K-pop cenderung lebih menjaga kesehatan fisik mereka setelah menjadi penggemar idolanya. Meskipun aktivitas celebrity worship umumnya tidak melibatkan kegiatan fisik, namun terdapat beberapa aktivitas yang dapat mendorong penggemar untuk melakukan gerakan fisik. Salah satu contohnya adalah tren TikTok berupa tantangan koreografi singkat dari lagu-lagu K-pop (Abidin & Lee, 2. Dalam tantangan ini, penyanyi K-pop akan memperagakan koreografi singkat dari lagunya melalui video TikTok. Penggemar diajak untuk mempelajari koreografi tersebut dan memperagakannya dalam video untuk diunggah ke aplikasi TikTok. Melalui partisipasi dalam tren ini, penggemar K-pop dapat meningkatkan aktivitas fisik mereka saat mempelajari dan menampilkan koreografi. Selain kesehatan fisik, penelitian ini juga menunjukkan adanya korelasi positif dan signifikan antara celebrity worship dan dimensi hubungan sosial. Brooks . menyebutkan bahwa hubungan sosial merupakan salah satu faktor yang terkait dengan celebrity worship. Celebrity worship dapat mendorong penggemar K-pop untuk terlibat aktif dalam interaksi dan kegiatan dalam komunitas penggemar. Penelitian ini juga berfokus pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X untuk berinteraksi dengan sesama Melalui interaksi ini, penggemar K-pop dapat memperoleh dukungan sosial dari individu yang mengidolakan figur yang sama. Kim et al. mengungkapkan bahwa interaksi online di antara penggemar K-pop dapat meningkatkan kesejahteraan dan rasa kebersamaan dalam komunitas virtual. Morgan et al. juga mengungkapkan bahwa interaksi dalam konteks celebrity worship cenderung meningkatkan kesejahteraan, dukungan sosial, dan sense of belonging di kalangan penggemar. Berbeda dengan kesehatan fisik dan hubungan sosial, penelitian ini tidak menemukan korelasi signifikan antara celebrity worship dan dimensi psikologis dari kualitas hidup. Penemuan ini didukung oleh temuan Nabilla . dan Salsabila et al. yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara celebrity worship dengan psychological well-being. Namun, beberapa penelitian lain menunjukkan korelasi yang signifikan antara celebrity worship dengan aspek-aspek psikologis, meski arahnya inkonsisten. Penelitian dari Tansy & Kurniawati . menemukan korelasi positif antara celebrity worship dengan psychological well-being. Sedangkan. Zsila et al. menemukan korelasi negatif antara celebrity worship dengan self-esteem dan subjective well-being. Perbedaan hasil penelitian-penelitian tersebut mungkin disebabkan oleh variasi tingkat celebrity worship yang dialami penggemar. Sebuah penelitian menemukan bahwa celebrity worship hanya berdampak negatif pada psychological well-being jika dilakukan secara berlebihan (Nurhayati & Sary, 2. Pada tingkat rendah dan sedang, celebrity worship tidak memiliki pengaruh negatif terhadap psychological well-being. Penggemar yang tidak melakukan phronesis@fpsi. Phronesis: Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Tahun 2025. Vol. No. 1, 8-19 E-ISSN: 3032-7202 celebrity worship secara berlebihan lebih cenderung untuk memperhatikan psychological well-being masing-masing, serta melakukan celebrity worship hanya untuk mencari hiburan. Dimensi kualitas hidup lainnya yang tidak menunjukkan korelasi signifikan dengan celebrity worship adalah dimensi lingkungan. Terdapat beberapa aspek pada dimensi ini, yaitu keamanan, kondisi tempat tinggal, keuangan, akses informasi, layanan kesehatan, dan kesempatan rekreasi (World Health Organization, 1. Aspek-aspek ini kurang relevan dengan celebrity worship, sehingga tidak ditemukan korelasi antara keduanya. Penelitian terkait celebrity worship dan dimensi lingkungan juga belum banyak Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi korelasi antara celebrity worship dan dimensi lingkungan secara lebih dalam dengan fokus pada aspek tertentu. Misalnya, penelitian selanjutnya dapat berfokus pada akses informasi atau kesempatan rekreasi pada penggemar K-pop, karena aspek-aspek ini masih memiliki relevansi dengan celebrity worship. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, seperti topik yang masih tergolong baru sehingga sebagian besar referensi yang digunakan tidak membahas korelasi langsung antara kedua variabel. Kekurangan referensi yang lebih relevan menyulitkan dalam mengeksplorasi mekanisme korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup, terutama terkait dengan kesehatan fisik dan kondisi lingkungan penggemar yang belum banyak diteliti. Selain itu, hasil penelitian ini tidak dapat diterapkan pada penggemar K-pop secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan partisipan penelitian terbatas pada penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X dan berasal dari kalangan dewasa awal. Penelitian ini juga melibatkan jumlah partisipan laki-laki yang jauh lebih sedikit dibandingkan partisipan perempuan. Meskipun demikian, penelitian ini memiliki unsur kebaruan dan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya yang membahas topik serupa. KESIMPULAN Penelitian ini melibatkan 482 penggemar K-pop yang menggunakan aplikasi X dari kalangan dewasa awal. Hasil penelitian menemukan adanya korelasi yang positif dan signifikan antara celebrity worship dan kualitas hidup. Semakin tinggi tingkat celebrity worship yang dialami, semakin tinggi juga kualitas hidup penggemar K-pop berusia dewasa awal yang menggunakan aplikasi X, dan demikian pula sebaliknya. Hasil penelitian ini sejalan dengan hipotesis yang diajukan. Korelasi antara celebrity worship dan kualitas hidup yang ditemukan pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan kajian empiris, serta menjadi landasan untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Konstruksi alat ukur celebrity worship yang dikhususkan untuk penggemar K-pop juga dapat menjadi fokus pada penelitian ke depannya. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk merancang program psikoedukasi. Meskipun ditemukan adanya hubungan positif antara celebrity worship dengan kualitas hidup, namun perlu diingat bahwa perilaku celebrity worship yang berlebihan juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap penggemar. Penggemar K-pop perlu mengetahui batasan yang wajar dalam menunjukkan perilaku celebrity worship terhadap idolanya. Program psikoedukasi dapat menjadi salah satu upaya untuk mengedukasi penggemar K-pop terkait cara-cara untuk menjaga tingkat celebrity worship agar tidak melebihi batas wajar. Program psikoedukasi yang dirancang juga dapat mengangkat topik terkait cara-cara meningkatkan kualitas hidup. REFERENSI