Volume 8 Nomor 1 . Journal of Midwifery Science: Basic and Applied Research e-ISSN: 2774-227X Hubungan Antara Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-59 Bulan Di Desa Leses Kecamatan Manisrenggo Kabupaten Klaten Agustina Funan1. Chentia Misse Issabella2. Yustina Ananti3 Bachelor of Midwifery Study Program. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. Indonesia Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Corresponding author: Agustina Funan Email: agustinafunan2002@gmail. ABSTRACT Stunting is a chronic nutritional problem characterized by a childAos height being below the standard for their age. This condition remains a major public health concern, particularly among toddlers, because it affects physical growth, cognitive development, and future productivity. Maternal parenting patterns are considered one of the important factors influencing childrenAos nutritional status. According to the Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) 2024, the prevalence of stunting in Indonesia reached 21. which is still above the WHO standard of less than 20%. In Central Java Province, the prevalence slightly decreased from 20. 8% in 2022 to 20. 7% in 2023, but it has not yet achieved the national target of 14%. Klaten Regency, the prevalence was recorded at 13. 9%, while Leses Village had the highest prevalence in the Manisrenggo Health Center area at 23. This study aimed to determine the relationship between maternal parenting patterns and the incidence of stunting among children aged 24Ae59 months. The study used a quantitative correlational analytical method with a cross-sectional design. A total of 55 mothers were selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and observation sheets, then analyzed using the Spearman Rank test. The results showed that 65. 5% of mothers had good parenting patterns, 18. 2% moderate, and 16. 4% poor. A significant relationship was found between maternal parenting patterns and stunting incidence . = 0. r = Ae0. , indicating that better parenting patterns are associated with lower stunting incidence. Keyword : Parenting pattern. Stunting. Toddlers PENDAHULUAN Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan tinggi badan anak di bawah standar Masalah gizi pada balita, khususnya stunting, masih menjadi tantangan besar dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Stunting pada balita usia 24Ae59 bulan merupakan periode kritis karena pada usia ini, dampak gizi buruk dapat bersifat permanen jika tidak segera ditangani. Anak dikatakan stunting jika hasil pengukuran antropometri dari panjang atau tinggi badan per usianya berada di bawah -2 SD . tandar devias. Stunting berdampak luas, tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan fisik tetapi juga perkembangan kognitif dan kesehatan jangka Dalam jangka panjang, anak yang mengalami stunting berisiko mengalami penurunan produktivitas, keterbatasan kognitif, peningkatan risiko penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, serta gangguan pada reproduksi. Dalam jangka pendek, stunting menyebabkan gangguan motorik, penurunan fungsi kognitif, serta melemahnya sistem imun . Pola asuh ibu memiliki peran penting dalam mencegah stunting. Pola asuh yang baik, khususnya dalam hal pemberian nutrisi, kebersihan, dan stimulasi kembang anak, dapat mengurangi risiko stunting . Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang memerlukan perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan data global, sekitar 149,5 juta balita di dunia mengalami stunting, dengan prevalensi tertinggi di Asia sebesar 53% . Di Indonesia, prevalensi stunting berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 adalah sebesar 21,6%, yang masih melebihi standar WHO yaitu di bawah 20% . Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Prevalensi stunting di Provinsi Jawa Tengah berdasarkan data SSGI mengalami penurunan dari tahun 2022 sebesar 20,8% menjadi 20,7% di tahun Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih belum signifikan dan belum mencapai target tahunan sebesar 3,4% yang ditetapkan agar prevalensi stunting nasional turun menjadi 14%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Klaten tahun 2023, prevalensi stunting di Klaten mencapai 13,9%. Sementara itu, berdasarkan data Puskesmas Manisrenggo tahun 2024, prevalensi stunting tercatat sebanyak 13,4%. Di tingkat desa. Desa Leses menunjukan angka prevalensi tertinggi sebesar 23,1%, disusul oleh Desa Solodiran 17,8%, dan Desa Nangsri 16,0%. Maka dari itu, perlu dilakukan tindak lanjut untuk menangani prevalensi stunting yang masih tinggi di Desa Leses, yang saat ini berada di bawah target yang telah ditetapkan secara nasional di Indonesia. Pola asuh yang kurang optimal dapat berdampak pada rendahnya asupan gizi, peningkatan risiko infeksi, serta kurangnya stimulasi yang diperlukan dalam proses tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, pola asuh ibu menjadi salah satu determinan penting dalam pencegahan stunting . Pola asuh ibu dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti tingkat pendidikan, pengetahuan tentang gizi, status ekonomi, budaya, dan dukungan keluarga. Ibu yang memiliki pengetahuan cukup mengenai pola makan sehat dan perawatan anak cenderung lebih mampu menyediakan makanan bergizi dan merawat kesehatan anak dengan baik. Sebaliknya, keterbatasan pengetahuan atau kesadaran dapat menyebabkan praktik pola asuh yang tidak memadai, seperti pemberian makanan yang kurang bergizi, sanitasi yang buruk, atau kurang perhatian terhadap imunisasi dan kesehatan anak . Terdapat penelitian yang menyatakan adanya hubungan signifikan antara praktik pemberian lingkungan, serta pemanfaatan layanan kesehatan dengan kejadian stunting. Penelitian lain juga menegaskan bahwa pola asuh orang tua dan pola pemberian makanan berhubungan dengan kejadian stunting . Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji hubungan antara pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada balita usia 24Ae59 bulan di Desa Leses, wilayah dengan prevalensi stunting tertinggi di wilayah kerja Puskesmas Manisrenggo. Kabupaten Klaten. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya meneliti faktor stunting secara umum pada wilayah dengan karakteristik sosial ekonomi yang beragam, penelitian ini secara khusus berfokus pada pola asuh ibu sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita usia 24Ae59 Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih spesifik mengenai pengaruh pola asuh ibu terhadap stunting sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan intervensi yang lebih tepat sasaran untuk menurunkan angka stunting di wilayah tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian kuantitatif dengan rancangan korelasional serta pendekatan cross sectional. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menganalisis hubungan antara variabel independen, yaitu pola asuh ibu, dengan variabel dependen, yaitu kejadian stunting pada balita usia 24Ae59 bulan. Desain cross sectional memungkinkan peneliti melakukan pengukuran semua variabel pada satu waktu yang bersamaan tanpa adanya intervensi, sehingga hasil penelitian dapat menggambarkan hubungan antarvariabel pada satu periode tertentu. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki balita berusia 24Ae59 bulan dan berdomisili di Desa Leses, wilayah kerja Puskesmas Manisrenggo. Kabupaten Klaten, dengan jumlah 80 Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan responden berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan peneliti. Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10%, diperoleh jumlah sampel sebanyak 45 responden. Untuk mengantisipasi kemungkinan drop out sebesar 18%, maka jumlah sampel ditambahkan sehingga jumlah akhir responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah 53 orang. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita usia 24Ae59 bulan dan menandatangani informed consent. Pemilihan usia tersebut didasarkan pada pertimbangan bahwa periode 24Ae59 bulan merupakan masa penting pertumbuhan anak sehingga kondisi stunting dapat diamati dengan jelas. Ibu dipilih sebagai responden karena memiliki peran utama dalam pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah ibu yang berpindah tempat tinggal selama penelitian berlangsung karena dapat menyebabkan data tidak lengkap dan memengaruhi hasil penelitian. Penetapan kriteria tersebut bertujuan agar data yang diperoleh lebih akurat dan sesuai dengan fokus penelitian. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Lokasi penelitian berada di Desa Leses, wilayah kerja Puskesmas Manisrenggo. Kabupaten Klaten. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada data awal yang menunjukkan bahwa Desa Leses memiliki prevalensi stunting tertinggi dibandingkan desa lain di wilayah kerja puskesmas tersebut. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari hingga Agustus 2025, yang meliputi tahap persiapan instrumen, pengumpulan data, hingga analisis hasil. Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang disusun berdasarkan teori pola asuh dan praktik pengasuhan gizi, serta lembar observasi untuk mengukur tinggi badan balita. Kuesioner terdiri dari 30 pertanyaan yang mencakup empat indikator, yaitu praktik pemberian makan, stimulasi psikososial, kebersihan, dan pemanfaatan layanan Sebelum digunakan, instrumen telah melalui uji validitas isi menggunakan teknik expert judgment dengan tiga orang ahli . hli gizi, dosen, dan bida. , serta dianalisis menggunakan rumus AikenAos V. Hasil pengujiamenunjukkan bahwa 30 item dinyatakan valid dengan nilai AikenAos V Ou 0,75, sedangkan enam item lainnya dihapus. Uji reliabilitas tidak dilakukan secara statistik karena instrumen merupakan kuesioner baru yang telah dinyatakan layak oleh para ahli. Prosedur pengumpulan data diawali dengan pemberian penjelasan kepada responden mengenai tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian. Setelah responden menyetujui dengan menandatangani informed consent, peneliti mendampingi responden dalam pengisian kuesioner untuk memastikan Selanjutnya, dilakukan pengukuran antropometri balita menggunakan microtoise, dan hasilnya dicatat dalam lembar observasi. Semua data yang terkumpul diverifikasi dan dijaga kerahasiaannya. Analisis data dilakukan dalam dua tahap. Pertama, analisis univariat digunakan untuk menggambarkan distribusi frekuensi karakteristik responden . sia, pendidikan, pekerjaa. , kategori pola asuh . aik, cukup, kuran. , dan status gizi Kedua, analisis bivariat dilakukan untuk menguji hubungan antara pola asuh ibu dan kejadian stunting menggunakan uji Spearman Rank. Tingkat signifikansi ditetapkan pada = 0,05. Jika nilai p < 0,05 maka hasil analisis dinyatakan signifikan, artinya terdapat hubungan antara variabel independen dan dependen. Penelitian ini telah melalui pertimbangan etik dan memperoleh izin resmi dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan STIKes Guna Bangsa Yogyakarta dengan nomor 048/KELPK/VI/2025. Selain itu, seluruh responden dilibatkan secara sukarela setelah diberikan penjelasan lengkap mengenai penelitian dan menandatangani informed Hal ini dilakukan untuk menjamin penerapan prinsip etika penelitian, termasuk penghargaan terhadap hak responden, kerahasiaan data, serta partisipasi sukarela tanpa paksaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Ibu Responden Karakteristik Usia Ibu Pendidikan Pekerjaan Kategori 21Ae30 Tahun 31Ae40 Tahun 41Ae50 Tahun >50 Tahun Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi Ibu Rumah Tangga PNS Pegawai Swasta Wirausaha Frekuensi . Persentase (%) Mayoritas responden berada pada kelompok usia 31Ae40 tahun . ,2%), yang merupakan usia dewasa madya dan umumnya memiliki tingkat kedewasaan emosional dan sosial yang baik. Kelompok usia ini cenderung lebih siap dalam mengasuh anak karena sudah memiliki pengalaman dan kemampuan untuk memahami informasi terkait pola asuh yang tepat. Kelompok usia produktif lainnya adalah 21Ae30 tahun . ,9%), yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada usia reproduksi sehat, sehingga secara biologis dan psikologis siap untuk melaksanakan peran sebagai ibu. Namun, 9,1% responden berusia 41Ae50 tahun dan 1,8% di atas 50 tahun yang termasuk kelompok berisiko tinggi dalam hal adaptasi terhadap informasi baru dan kemampuan fisik dalam pengasuhan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa ibu pada usia produktif cenderung memiliki kesiapan emosional dan kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan anak sehingga dapat mendukung pencegahan stunting . Hal ini menunjukkan bahwa usia ibu yang produktif dapat mendukung kualitas pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak secara Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Tingkat pendidikan responden didominasi oleh pendidikan menengah . ,5%) dan pendidikan tinggi . ,5%), sedangkan pendidikan dasar hanya Tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap kemampuan ibu dalam mengakses, memahami, dan menerapkan informasi mengenai pengasuhan, pemberian nutrisi, serta pemeliharaan Penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik tentang gizi dan kesehatan anak, sehingga dapat mengurangi risiko stunting. Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan kemampuan ibu dalam menerapkan pola makan sehat, praktik kebersihan, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan balita . Pendidikan ibu berperan penting dalam meningkatkan kualitas pengasuhan dan pencegahan Dari aspek pekerjaan, 50,9% responden adalah ibu rumah tangga, yang secara teori memiliki lebih banyak waktu untuk merawat dan memperhatikan anak dibanding ibu yang bekerja di luar rumah. Namun, pekerjaan tidak selalu menjadi penentu utama kualitas pengasuhan. Ibu yang bekerja . egawai swasta 20%, wirausaha 20%. PNS 9,1%) sering kali memiliki akses informasi yang lebih luas tetapi keterbatasan waktu dapat pengasuhan anak. Penelitian Rahmawati dkk. menyebutkan bahwa status pekerjaan ibu dapat memengaruhi kualitas interaksi dan pengawasan terhadap pola makan anak, terutama apabila tidak diimbangi dengan dukungan keluarga yang memadai . Hal ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga sangat diperlukan untuk menjaga kualitas pengasuhan pada ibu yang bekerja. Tabel 2. Karakteristik Anak Balita Karakteristik Kategori Usia Anak 24Ae35 Bulan 36Ae59 Bulan Laki-laki Perempuan Jenis Kelamin Frekuensi . Persentase (%) Sebagian besar balita berada pada kelompok usia 36Ae59 bulan . ,5%), sedangkan 45,5% berada pada kelompok usia 24Ae35 bulan. Usia ini merupakan periode emas . olden perio. bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pada fase ini, kebutuhan gizi sangat tinggi untuk mendukung pertumbuhan linier dan perkembangan kognitif. Jika pola asuh ibu kurang tepat, misalnya dalam hal pemenuhan gizi dan perawatan kesehatan, maka risiko stunting akan meningkat. Penelitian oleh Handayani dkk. menunjukkan bahwa usia 24Ae59 bulan merupakan periode yang paling rentan terhadap gangguan pertumbuhan karena kebutuhan zat gizi meningkat seiring pertumbuhan dan aktivitas anak. Hal ini menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi pada usia balita sangat penting untuk mencegah stunting . Distribusi jenis kelamin anak relatif seimbang, yaitu 50,9% laki-laki dan 49,1% Secara umum, jenis kelamin bukan faktor penentu utama kejadian stunting, tetapi beberapa literatur mengindikasikan bahwa anak laki-laki sedikit lebih rentan terhadap masalah gizi karena kebutuhan energi yang lebih besar. Hasil penelitian Prasetyo dan Lestari . juga menemukan bahwa balita laki-laki memiliki risiko stunting lebih tinggi dibanding perempuan karena metabolisme dan kebutuhan energi yang lebih besar pada masa pertumbuhan. Dengan demikian, anak laki-laki memerlukan perhatian gizi yang lebih optimal selama masa pertumbuhan . Tabel 3. Distribusi Pola Asuh Ibu Pola Asuh Baik Cukup Kurang Frekuensi . Persentase (%) Mayoritas ibu memiliki pola asuh yang baik . ,5%), yang mencakup pemberian nutrisi sesuai kebutuhan anak, pemeliharaan kebersihan, dan pemanfaatan layanan kesehatan. Namun, terdapat 18,2% dengan pola asuh cukup dan 16,4% dengan pola asuh kurang, yang menunjukkan masih adanya kelompok ibu yang memerlukan edukasi dan pendampingan terkait pengasuhan. Pola asuh yang tidak optimal dapat berdampak pada rendahnya asupan gizi, meningkatnya risiko infeksi, serta kurangnya stimulasi perkembangan anak, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap kejadian Penelitian oleh Kurniawati dkk. menyatakan bahwa pola asuh yang baik, terutama dalam praktik pemberian makan dan kebersihan anak, berpengaruh signifikan terhadap status gizi balita dan dapat menurunkan kejadian stunting . Tabel 4. Status Gizi Balita Frekuensi Status Gizi Persentase (%) . Normal Stunting Sebanyak 36,4% balita mengalami stunting, angka ini cukup tinggi dibanding target nasional <14%. Hal ini menunjukkan bahwa masalah Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR stunting masih menjadi tantangan serius di Desa Leses. Kecamatan Manisrenggo. Tingginya prevalensi stunting dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pola asuh ibu, asupan gizi yang tidak memadai, infeksi berulang, dan sanitasi Penelitian menunjukkan bahwa faktor sanitasi lingkungan dan riwayat penyakit infeksi memiliki kontribusi besar terhadap tingginya prevalensi stunting pada balita di wilayah pedesaan. Hal ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya dipengaruhi pola asuh, tetapi juga kondisi lingkungan dan kesehatan kejadian stunting pada balita usia 24Ae59 bulan. Selain itu, penelitian lain menyebutkan bahwa praktik pemberian makan yang tepat, pemeliharaan kebersihan, serta pemanfaatan layanan kesehatan secara rutin dapat membantu menurunkan risiko stunting pada anak. Penelitian ini melaporkan bahwa ibu yang secara konsisten menerapkan pola asuh responsif dan rutin memantau pertumbuhan anak di posyandu memiliki risiko stunting yang lebih rendah dibanding ibu dengan pola asuh kurang Hal ini menunjukkan bahwa penerapan pola asuh yang baik dan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin dapat menjadi upaya efektif dalam pencegahan stunting . Tabel 5. Tabulasi Silang Pola Asuh Ibu dengan Hubungan antara pola asuh ibu dan kejadian Kejadian Stunting stunting dapat dijelaskan melalui peran ibu dalam memenuhi kebutuhan dasar anak, terutama Pola Tidak Stunting Total kebutuhan gizi, kesehatan, dan stimulasi tumbuh Asuh Stunting Pola asuh yang baik akan mendorong ibu Baik memberikan makanan bergizi seimbang sesuai usia Cukup anak, memperhatikan jadwal makan, menjaga Kurang makanan dan lingkungan, serta Data ini menunjukkan bahwa dari ibu dengan kebersihan pola asuh baik, sebagian besar anak tidak membawa anak secara rutin ke fasilitas kesehatan mengalami stunting . ,5%), sedangkan pada ibu untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan. dengan pola asuh kurang, mayoritas anak Sebaliknya, pola asuh yang kurang optimal dapat . ,8%). Hal ini menyebabkan anak mengalami kekurangan asupan mengindikasikan bahwa semakin baik pola asuh gizi dalam jangka panjang, peningkatan risiko ibu, semakin rendah risiko anak mengalami infeksi berulang, dan gangguan pertumbuhan yang Temuan ini sejalan dengan penelitian ini akhirnya berkontribusi terhadap terjadinya stunting. Selain itu, ibu dengan pola asuh yang baik yang menunjukkan bahwa balita dengan lebih responsif terhadap kebutuhan anak, pengasuhan yang baik memiliki peluang lebih besar anak mengalami penurunan nafsu untuk mencapai status gizi normal dibanding balita dengan pola asuh kurang. Hal ini menunjukkan makan atau sakit. Respons yang cepat dalam bahwa kualitas pola asuh ibu memiliki pengaruh penanganan masalah kesehatan anak dapat mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan besar terhadap kejadian stunting pada balita. Praktik pengasuhan yang baik juga berkaitan dengan kemampuan ibu dalam memberikan Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Spearman Rank stimulasi psikososial dan menciptakan lingkungan Variabel p-value Interpretasi yang mendukung tumbuh kembang anak secara Pola 0,002 -0,414 Korelasi Oleh karena itu, pola asuh tidak hanya Asuh vs Sedang, berpengaruh terhadap status gizi anak, tetapi juga Stunting Negatif Hasil uji Spearman Rank menunjukkan p- terhadap kualitas kesehatan dan perkembangan value = 0,002 . < 0,. yang berarti ada hubungan anak secara menyeluruh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa signifikan antara pola asuh ibu dengan kejadian besar ibu dengan pola asuh baik memiliki Nilai korelasi r = -0,414 menunjukkan korelasi negatif dengan kekuatan sedang. Artinya, anak dengan status gizi normal, sedangkan ibu semakin baik pola asuh ibu, maka semakin kecil dengan pola asuh kurang lebih banyak ditemukan pada kelompok balita stunting. Kondisi ini kemungkinan anak mengalami stunting. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian memperkuat asumsi bahwa kualitas pengasuhan Noorhasanah dan Tauhidah . yang memiliki kontribusi penting terhadap kejadian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara stunting. Dengan demikian, edukasi mengenai pola pola asuh ibu dengan kejadian stunting pada balita. asuh yang tepat, pemberian makan anak, perilaku Penelitian Purwati dkk. juga menemukan bahwa hidup bersih dan sehat, serta pemanfaatan layanan pola asuh ibu berhubungan bermakna dengan kesehatan perlu terus ditingkatkan sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting di masyarakat. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR Penelitian Pertama, penggunaan desain crosectional hanya dapat menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh ibu dan kejadian stunting, sehingga belum dapat menjelaskan hubungan sebab akibat secara langsung. Kedua, jumlah sampel yang terbatas serta lokasi penelitian yang hanya dilakukan di Desa Leses menyebabkan hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas. Ketiga, data mengenai pola asuh memungkinkan terjadinya bias subjektivitas Selain itu, penelitian ini belum mengkaji faktor lain yang dapat memengaruhi kejadian stunting, seperti pendapatan keluarga, sanitasi lingkungan, riwayat penyakit infeksi, dan status gizi ibu selama kehamilan. Meskipun demikian, temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa pola asuh merupakan salah satu faktor penting dalam pencegahan stunting. yang dengan sukarela berpartisipasi sebagai responden dan memberikan data berharga untuk mendukung penelitian ini. Penulis juga berterima kasih kepada Kepala Puskesmas Manisrenggo, para bidan, serta kader posyandu yang telah memberikan dukungan, fasilitas, dan izin sehingga proses penelitian dapat berjalan lancar. Penghargaan yang tinggi disampaikan kepada pihak akademik, dosen pembimbing, serta rekan sejawat yang telah memberikan arahan, motivasi, dan masukan konstruktif sejak tahap perencanaan hingga penyusunan naskah. Penulis menyadari bahwa penelitian ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa bantuan, kerja sama, dan dukungan dari berbagai pihak yang telah disebutkan. DAFTAR PUSTAKA The Global Nutrition Report. Nutrition Country Profiles: Indonesia, 2018 . Kementerian Kesehatan RI. Peraturan Menteri SIMPULAN Kesehatan Republik Indonesia Tentang Standar Antropometri Anak Indonesia, 2022. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh . World Health Organization. Improving Early ibu memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Childhood Development: WHO Guideline, stunting pada balita usia 24Ae59 bulan . = 0,. Geneva: WHO, 2020. Mayoritas ibu berada pada kelompok usia 31Ae40 . UNICEF. Levels and Trends in Child tahun, berpendidikan menengah hingga tinggi, dan Malnutrition. New York: United Nations sebagian besar berprofesi sebagai ibu rumah tangga. ChildrenAos Fund, 2021. Sebanyak 65,5% responden menerapkan pola asuh . Kementerian Kesehatan RI. Buku Saku Hasil kategori baik, sementara 34,6% lainnya masih Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Jakarta: berada pada kategori cukup dan kurang. Prevalensi Kemenkes RI, 2023. stunting di Desa Leses tercatat sebesar 25,5%, yang . Elstari. Sutimbul, and D. Kusmayani, terdiri dari 18,2% balita pendek dan 7,3% balita AuHubungan Pola Asuh Ibu Dengan Kejadian sangat pendek. Analisis korelasi menunjukkan Stunting Pada Balita Wilayah Kerja bahwa semakin baik pola asuh ibu, semakin rendah Puskesmas Rias 2022,Ay Jurnal Kesehatan risiko stunting pada balita. Temuan ini menegaskan Masyarakat, vol. 8, no. 3, pp. 550Ae558, 2023. pentingnya edukasi pola asuh, khususnya terkait . Virgo. AuPemberian Vitamin A Pada Balita Di Posyandu Desa Beringin Lestari Wilayah psikososial, dan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Kerja Puskesmas Tapung Hilir 1 Kabupaten Intervensi berbasis keluarga dan dukungan tenaga Kampar Tahun 2018,Ay Jurnal Ners, pp. 35Ae52, kesehatan perlu diperkuat untuk mencegah stunting dan mendukung tumbuh kembang optimal anak. Wibowo. Irmawati. Tristiyanti. Penelitian lebih lanjut dengan cakupan yang lebih Normila, and A. Sutriyawan. AuPola Asuh Ibu luas disarankan untuk memperkuat bukti dan Dan Pola Pemberian Makanan Berhubungan mendukung program pencegahan stunting secara Dengan Kejadian Stunting,Ay Ji-Kes (Jurnal Ilmu Kesehata. , vol. 6, pp. 116Ae121, 2023. Sari. Wathan. Rahmawati. UCAPAN TERIMAKASIH