Dinamika: Volume 9 . 2026 Jurnal Bahasa. Sastra. Pembelajarannya e-issn 2715-8381 Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert Tokoh Utama dalam Film 200 Pounds Beauty Versi Korea dan Versi Indonesia: Psikologi Analitik Carl Gustav Jung Nurul Syafiqah* Nensilianti. Ridwan. Universitas Negeri Makassar nensilianti@unm. aslanabidin@unm. syafikanurul288@gmail. Dikirim:22 Desember 2025 Direvisi: 3 Januari 2026 Diterima: 5 Januari 2026 Diterbitkan: 28 Februari 2026 How to Cite: Syafiqoh. AuKomparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert Tokoh Utama dalam Film 200 Pounds Beauty Versi Korea dan Indonesia: Psikologi Analitik Carl Gustav JungAy Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya. Vol. 9, no. 1, 2026, pp. 136Ae160. Published by Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Suryakancana Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional. ABSTRACT This article describe the comparison between extroverted and introverted characteristics of the main characters in the Korean version . and the Indonesian version . of the film 200 Pounds Beauty using Carl Gustav JungAos analytical psychology approach. This approach was chosen because it can reveal personality dynamics through four psychic functions thinking, feeling, sensing, and intuition that shape an individualAos extroverted and introverted orientations. The research employs a qualitative descriptive method with a comparative design, using literature study and documentation techniques on both films. The data, consisting of dialogues, scenes, and expressions of the main characters, were analyzed to identify personality traits based on JungAos theory. The results show that in the Korean version, the character Hanna/Jenny tends to be extroverted, demonstrated by her courage to appear in public and her pursuit of social recognition, while still harboring inner conflicts that reveal her introverted side. Meanwhile, in the Indonesian version, the character Juwita/Angel displays a balance between the two types, with a dominant introverted nature reflected through self-reflection, guilt, and moral awareness of her Cultural differences also influence the expression of personality and the social values presented. This study concludes that JungAos analytical psychology theory is effective for analyzing personality in cross-cultural films and understanding the process of self-acceptance. Keywords: analytical psychology. Carl Gustav Jung, extrovert, introvert Abstrak Artikel ini memaparkan komparasi karakter ekstrovert dan introvert tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea . dan versi Indonesia . menggunakan pendekatan psikologi analitik Carl Gustav Jung. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap dinamika kepribadian melalui empat fungsi psikis pikiran, perasaan, pengindraan, dan intuisi yang membentuk orientasi ekstrovert dan introvert individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain komparatif dan teknik studi pustaka serta dokumentasi terhadap kedua film. Data berupa dialog, adegan, dan ekspresi tokoh utama dianalisis untuk menemukan ciri kepribadian berdasarkan teori Jung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam versi Korea, tokoh Hanna/Jenny cenderung ekstrovert dengan keberanian tampil di ruang publik dan pencarian pengakuan sosial, namun tetap menyimpan konflik batin yang memperlihatkan sisi introvert. Sementara itu, tokoh Juwita/Angel dalam versi Indonesia memperlihatkan keseimbangan antara kedua tipe, dengan dominasi sifat introvert yang tercermin melalui Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 137 refleksi diri, rasa bersalah, dan kesadaran moral terhadap identitasnya. Tokoh utama dalam kedua versi film menunjukkan ekspresi kepribadian yang berbeda dalam menanggapi konflik batin dan pencarian jati diri. Penelitian ini menegaskan bahwa teori psikologi analitik Jung efektif digunakan untuk menganalisis kepribadian tokoh dalam film dan memahami proses penerimaan diri melalui dinamika fungsi psikis. Kata kunci: Carl Gustav Jung, ekstrovert, introvert, psikologi analitik PENDAHULUAN Setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang selalu terlibat dalam berbagai proses sosial. Dalam interaksi sosial, seseorang cenderung membentuk persepsi, menilai lingkungannya, berinteraksi, serta membandingkan diri dengan orang lain proses yang dikenal sebagai perbandingan sosial . ocial compariso. Perbandingan ini dapat meliputi berbagai aspek seperti kebebasan, empati, pandangan hidup, dan dinamika sosial lain yang memunculkan perilaku tersebut. Dalam berbagai konteks dan situasi, individu senantiasa melakukan perbandingan sosial sebagai bagian dari aktivitas sosial mereka (Festinger, 1954: . Dalam kehidupan nyata maupun dalam karya sastra, setiap tokoh memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda, yang mencerminkan pola pikir, emosi, dan tindakan masing-masing. Perbedaan ini menampilkan keunikan setiap individu, di mana satu aspek kepribadian biasanya lebih menonjol dan membentuk tipe karakter tertentu. Keanekaragaman karakter ini menunjukkan adanya variasi kepribadian antar individu (Aminah dkk. , 2023: . Komparasi mengacu pada proses mencari solusi dengan mengaitkan hubungan sebabakibat melalui pemilihan faktor-faktor tertentu yang berhubungan dengan suatu peristiwa atau keadaan, kemudian membandingkannya dengan faktor lain. Melalui proses ini, seseorang dapat menelaah persamaan dan perbedaan antara berbagai faktor, yang pada akhirnya membantu dalam pengambilan keputusan, penilaian, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap situasi atau peristiwa tersebut. Dalam industri film, perbandingan antarfilm merupakan hal yang wajar, terutama ketika film-film tersebut memiliki kesamaan tema, konflik, atau genre. Konflik dan genre yang serupa dapat menimbulkan beragam interpretasi, terutama jika konflik tersebut mencerminkan realitas sosial yang sedang diperbincangkan publik. Genre film juga turut memengaruhi cara penonton memaknai sebuah karya. Selain itu, perbandingan film dapat dilakukan untuk menilai perbedaan dalam aspek penokohan, alur cerita, maupun pesan moral yang disampaikan kepada penonton. Oleh karena itu, dalam proses pembuatan film, penting untuk memperhatikan genre, konflik, latar, pemeran, serta pesan yang ingin diungkapkan. Variasi pada aspek-aspek tersebut sering kali menjadi dasar munculnya perbandingan antara satu film dengan film lainnya (Apriliani dkk. , 2024: . Film sebagai medium artistik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai representasi simbolik dari dinamika psikologis manusia. Visualisasi emosi, gestur tubuh, dan interaksi antar-tokoh menjadi sarana untuk mengekspresikan konflik batin secara implisit (Nensilianti dkk. , 2024: 4. Dalam bidang psikologi, perilaku atau aktivitas individu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan sebagai respons terhadap adanya stimulus atau rangsangan yang diterima oleh individu atau organisme tersebut. Tujuan psikologi sastra adalah untuk memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam sebuah karya sastra. Penggambaran cerita dalam novel maupun film dapat merepresentasikan kehidupan nyata, yang tampak melalui perilaku dan karakteristik para tokohnya baik yang berasal dari imajinasi maupun pengalaman Oleh karena itu, penikmat karya fiksi sering kali larut dalam alur cerita dan ikut merasakan emosi yang ditampilkan, seperti kesedihan, kemarahan, atau kebahagiaan, hingga menimbulkan 138 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 reaksi emosional yang mendalam. Karakter dalam sebuah karya sastra atau film mencerminkan dinamika kehidupan sehari-hari manusia, seperti perasaan bahagia, iri, kecewa, dan sebagainya. Beragam karakter tokoh tersebut menimbulkan tanggapan psikologis dan emosional yang berbeda bagi setiap pembaca atau penonton ada yang terbawa perasaan hingga meneteskan air mata, ada pula yang hanya menikmati cerita tanpa keterlibatan emosional yang mendalam (Hartati dkk. , 2021:. Film 200 Pounds Beauty menjadi salah satu contoh yang relevan untuk dikaji karena menampilkan tema psikologi dan pesan utama yang sama dalam dua versi produksi berbeda, yaitu versi Korea Selatan tahun 2006 dan versi Indonesia tahun 2023. Meskipun keduanya mengisahkan perjalanan tokoh utama perempuan yang berjuang melawan ketidakpercayaan diri dan berusaha menemukan jati diri setelah mengalami transformasi fisik, masing-masing versi memiliki perbedaan dalam alur cerita, penokohan, serta penekanan konflik yang ditampilkan. Versi Korea lebih menonjolkan aspek emosional dan pergulatan batin tokoh utama dalam menghadapi tekanan sosial dan pencarian penerimaan diri, sedangkan versi Indonesia menambahkan unsur dramatik dengan gaya penceritaan yang menyesuaikan konteks sosial serta karakteristik penonton lokal. Dalam kedua film, terdapat kajian yang berfokus pada konflik psikologis yang dialami tokoh utama, yaitu Hanna Kang/Jenny . ersi Kore. dan Juwita/Angel . ersi Indonesi. Hanna/Juwita adalah wanita berbakat dengan suara luar biasa indah, tetapi tubuhnya yang gemuk membuatnya tenggelam dalam ketidakpercayaan diri dan memilih bersembunyi di balik suaranya, membiarkan orang lain menerima pujian atas kemampuan yang sebenarnya miliknya. Rasa takut untuk tampil di hadapan dunia membuatnya memendam keinginan untuk diakui hingga akhirnya ia mengambil keputusan drastis untuk menjalani operasi plastik total, mengubah penampilannya secara radikal menjadi sosok cantik dan penuh percaya diri. Identitas barunya sebagai Jenny/Angel membawanya ke puncak kesuksesan, tampil memukau di atas panggung, dan mendapat pengakuan luas. Namun, di balik kecantikan dan keberhasilan itu. Hanna/Juwita bergulat dengan konflik batin, dihantui rasa bersalah karena membangun kesuksesan di atas kebohongan identitas serta merasa terjebak dalam topeng yang ia ciptakan. Hingga akhirnya ia menyadari kecantikan sejati adalah penerimaan diri seutuhnya dan mulai mencintai dirinya sendiri tanpa syarat. Pemilihan kedua film 200 Pounds Beauty sebagai objek penelitian didasari oleh adanya kesamaan tema yang kuat, namun disertai dengan perbedaan yang mencolok dalam alur cerita dan karakterisasi tokoh. Kedua versi film tersebut sama-sama menyoroti isu transformasi diri, kepercayaan diri, dan pencarian jati diri melalui perubahan fisik yang memengaruhi kondisi psikologis tokoh utama. Meskipun memiliki tema serupa, masing-masing versi menampilkan konflik serta perkembangan karakter yang berbeda, baik dalam cara tokoh utama menghadapi tekanan sosial maupun dalam proses penerimaan diri pasca-transformasi. Perbedaan ini membuka peluang untuk melakukan analisis mendalam mengenai dinamika kepribadian ekstrovert dan introvert tokoh utama berdasarkan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung. Selain itu, penelitian ini juga memberikan ruang untuk meninjau sejauh mana perubahan fisik dapat memengaruhi pembentukan kepribadian serta keseimbangan emosional individu. Penelitian ini menganalisis dan membandingkan dua film berjudul sama, yaitu 200 Pounds Beauty versi Korea dan versi Indonesia. Perbandingan ini dianggap penting karena meskipun keduanya mengangkat tema, konflik, dan tokoh utama yang serupa, terdapat perbedaan Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 139 mencolok dalam alur cerita, karakterisasi, serta penekanan pada aspek psikologis tokoh. Dengan menggunakan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi orientasi kepribadian tokoh utama dalam kedua film tersebut melalui analisis aspek ekstrovert dan introvert. Fokus kajian meliputi perubahan perilaku tokoh sebelum dan sesudah menjalani operasi plastik, respons terhadap konflik batin, serta keterkaitan antara transformasi fisik dengan pembentukan citra diri dan kepercayaan diri. Pada versi Korea, analisis difokuskan pada bagaimana tokoh utama menampilkan kecenderungan ekstrovert seperti keberanian tampil di depan publik dan keinginan memperoleh pengakuan sosial, atau sebaliknya menunjukkan sisi introvert yang lebih tertutup dan reflektif. Sementara itu, pada versi Indonesia, perhatian diarahkan pada perubahan karakter serta cara tokoh mengekspresikan diri dalam menghadapi tekanan emosional dan proses penerimaan diri. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman mengenai bagaimana perbedaan alur dan penggambaran karakter memengaruhi dinamika kepribadian tokoh serta pesan moral yang disampaikan dalam masingmasing versi film. Dengan menggunakan pendekatan psikologi analitik Jung, penelitian ini akan mendeskripsikan secara mendalam karakter ekstrovert dan introvert pada tokoh utama dari dua versi film 200 Pounds Beauty. Teori ini menekankan bahwa karakter manusia tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu alam kesadaran, yang berkaitan dengan identitas dan kesadaran diri. ketidaksadaran personal, yang mencakup pengalaman serta konflik batin yang terlupakan atau dan ketidaksadaran kolektif, yang berisi pola dasar kejiwaan universal atau arketipe seperti shadow, anima/animus, dan Self. Ketiga lapisan tersebut saling berinteraksi membentuk dinamika psikis individu yang menjadi dasar analisis dalam penelitian ini (Jung, 1958:03-. Dalam memahami perbedaan karakter tokoh utama, penelitian ini menggunakan konsep ekstrovert dan introvert dalam psikologi analitik Jung. Ekstrovert menggambarkan individu yang energinya diarahkan keluar, terbuka terhadap lingkungan sosial, dan cenderung mengambil keputusan berdasarkan interaksi dengan orang lain. Sebaliknya, introvert menunjukkan orientasi ke dalam diri, reflektif, dan lebih nyaman dengan dunia internal mereka sendiri. Empat fungsi psikologis Jung membantu menjelaskan bagaimana karakter berpikir, merasakan, mengindra, dan berintuisi dalam membentuk sikap ekstrovert atau introvert. Berpikir . menggambarkan bagaimana tokoh menganalisis dan membuat keputusan berdasarkan logika. menunjukkan bagaimana mereka menilai situasi berdasarkan nilai-nilai pengindraan . mengacu pada perhatian pada fakta konkret dan detail nyata. sedangkan intuisi . menjelaskan kecenderungan tokoh menangkap kemungkinan dan makna tersembunyi di balik situasi (Jung, 1971: 455-. Pada tahap ini, pendekatan psikologi sastra menjadi penting untuk melengkapi analisis kepribadian tokoh. Kajian psikologi sastra merupakan disiplin ilmu yang menelaah karya sastra melalui perspektif psikologi, terutama yang berkaitan dengan perilaku serta keadaan jiwa Psikologi dan sastra memiliki hubungan erat karena sastra sering merefleksikan berbagai peristiwa dalam kehidupan manusia yang menggambarkan ragam perilaku. Jung . memandang hubungan antara psikologi dan sastra sebagai sesuatu yang sangat mendalam dan bermakna. Menurutnya, sastra merupakan wujud paling intim dan kompleks dari pikiran manusia, tempat di mana arketipe dan simbol-simbol universal muncul serta Ia berpendapat bahwa karya sastra mencerminkan dinamika psikologis seperti konflik batin, ketakutan, hasrat, serta pencarian jati diri yang bersumber dari alam bawah sadar Pandangan Jung ini menunjukkan bahwa karya sastra tidak hanya berfungsi sebagai representasi budaya, tetapi juga sebagai manifestasi dari proses kejiwaan manusia yang 140 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 Sejalan dengan itu. Maresty dkk. menegaskan bahwa pendekatan psikologi sastra memungkinkan pembaca atau peneliti memahami dinamika kepribadian tokoh, latar belakang konflik batin, hingga motivasi yang mendorong tindakan mereka. Dengan demikian, baik menurut Jung maupun Maresty, karya sastra menjadi ruang simbolik yang mencerminkan kompleksitas jiwa manusia serta memperkaya pemahaman terhadap kondisi psikologis dalam konteks sosial dan budaya. Selanjutnya, psikologi sastra sebagai teori sastra dengan pendekatan psikologis menitikberatkan pada aspek kejiwaan dalam karya sastra. Fokus utamanya mencakup tiga bidang kajian, yaitu psikologi pengarang, psikologi tokoh, dan psikologi pembaca. Sebagai bagian dari ranah humaniora, sastra berperan penting dalam membantu memahami berbagai masalah psikologis manusia serta dinamika batin yang kompleks. Manfaat utama psikologi sastra adalah memahami kondisi jiwa dalam karya, yang secara tidak langsung juga mencerminkan dinamika sosial masyarakat seperti perubahan, kontradiksi, dan penyimpangan kejiwaan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari (Wellek & Warren, 1964:81Ae. Selain itu, psikologi sastra merujuk pada cabang ilmu yang mengkaji unsur-unsur psikologis dalam karya sastra, seperti karakter, motivasi, dan tema yang muncul dalam cerita. Pendekatan ini bertujuan memahami bagaimana kepribadian, emosi, serta konflik batin tokoh terbentuk dan berkembang berdasarkan teori psikologi. Melalui analisis psikologi sastra, pembaca dapat melihat sisi psikologis manusia yang tercermin dalam karakter dan alur cerita. Pendekatan ini juga membantu memahami alasan di balik tindakan tokoh serta bagaimana pengalaman dan perasaan mereka memengaruhi perkembangan cerita. Psikologi sastra menjadi jembatan yang menghubungkan sastra dengan pemahaman lebih dalam tentang sifat dan perilaku manusia (Pomolango, dkk. , 2024:. Dengan menggabungkan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung dan pendekatan psikologi sastra, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika kepribadian tokoh utama dalam dua versi film 200 Pounds Beauty. Analisis ini tidak hanya mengungkap perubahan fisik dan sosial tokoh utama, tetapi juga memperlihatkan perjalanan batin menuju penerimaan diri, yang mencerminkan makna kecantikan sejati dari perspektif psikologis dan humanistik. Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan antara lain oleh Maulidya . menganalisis karakter Euis dalam film Keluarga Cemara menggunakan psikoanalisis Jung dan teori naratif film. Hasil penelitian film ini memiliki struktur naratif linear dengan konflik keluarga, sekolah, dan pekerjaan, terutama keuangan dan perpindahan. Karakter Euis yang introvert sulit beradaptasi, sementara tindakan impulsifnya mencerminkan ketidaksadaran Bayangan diri . muncul melalui ejekan saat menstruasi, sementara fungsi perasaan dominan membantunya lebih dewasa dan menerima kondisi keluarga. Luthfiyyahningtyas, dkk . meneliti standar kecantikan yang digambarkan dalam film 200 Pounds Beauty. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film tersebut merefleksikan pengaruh standar kecantikan global yang turut diadaptasi dalam konteks budaya Indonesia. Ciri-ciri kecantikan yang dianggap ideal dalam film meliputi mata besar dengan lipatan kelopak tebal alami, hidung mancung dengan lekukan alami, kulit putih bersih tanpa noda, serta bentuk wajah kecil dengan struktur V-line yang dinilai lebih estetis dan menarik. Effendi, dkk . dalam penelitiannya menganalisis kepribadian ekstrovert tokoh utama dalam novel Ganjil Genap. Hasilnya menemukan bahwa kepribadian ekstrovert tokoh utama Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 141 menunjukkan tipe kepribadian ekstrovert pikiran dan tipe kepribadian ekstrovert-perasaan lebih dominan muncul daripada tipe kepribadian ekstrovert-penginderaan dan tipe kepribadian ekstrovert-pengintuisian. Dari beberapa penelitian sebelumnya, belum ada yang secara spesifik meneliti film 200 Pounds Beauty dalam dua versi berbeda dan bagaimana perbedaan alur serta penokohan memengaruhi karakterisasi kepribadian ekstrovert dan introvert pada tokoh utamanya. Kajian yang telah dilakukan sebelumnya lebih banyak berfokus pada analisis psikologi karakter dalam novel, film lain, atau membahas konsep kecantikan dalam 200 Pounds Beauty tanpa melakukan perbandingan antara kedua versinya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengisi celah dalam kajian sebelumnya dengan menerapkan analisis komparatif berdasarkan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung, guna memahami bagaimana perbedaan alur dan penggambaran karakter dalam kedua film tersebut memengaruhi pembentukan kepribadian tokoh utama serta dinamika psikologis yang muncul. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang berlandaskan pada psikologi analitik Carl Gustav Jung mengenai tipe kepribadian ekstrovert dan introvert. Penelitian ini bersifat deskriptif-komparatif dengan tujuan untuk menganalisis dan membandingkan karakter tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea dan Indonesia berdasarkan empat fungsi kepribadian Jung, yaitu pemikiran, perasaan, pengindraan, dan intuisi. Peneliti sebagai instrumen utama mengumpulkan data melalui teknik dokumentasi, dengan mencermati dialog, narasi, dan adegan yang mencerminkan kepribadian tokoh utama. Analisis data dilakukan melalui tahap identifikasi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan untuk menemukan persamaan dan perbedaan penggambaran karakter dalam kedua film. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi teori, yaitu menggabungkan teori Jung, teori perbandingan sosial Leon Festinger . , dan teori Identitas Budaya dan Diaspora Stuart Hall . guna memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai pembentukan dan representasi kepribadian tokoh utama dalam konteks psikologis dan sosial HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Aspek Ekstrovert dalam film 200 Pounds Beauty Film 200 Pounds Beauty versi Korea dan Indonesia merupakan sebuah representasi psikologis yang tidak hanya menyajikan kisah transformasi emosional, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam melalui penggunaan teori kepribadian Carl Gustav Jung tentang ekstrovert dengan empat fungsi utama: pemikiran, perasaan, penginderaan, dan intuisi. Dalam film 200 Pounds Beauty, ekstrovert menjadi salah satu aspek kunci yang menciptakan dinamika interaksi sosial yang kaya dan kompleks. Ekstrovert adalah bentuk ekspresi kepribadian yang menampilkan keberanian, spontanitas, dan orientasi keluar terhadap lingkungan, sekaligus memberikan gambaran bagaimana individu merespons dunia secara terbuka. Dalam konteks film ini, ekspresi ekstrovert terlihat jelas dari cara tokoh utama mengambil keputusan secara logika, mudah terpengaruh oleh orang lain, serta mengekspresikan intuisi dan perasaannya secara langsung di ruang publik. Melalui karakter yang penuh percaya diri, emosional, dan spontan, 142 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 film ini menyajikan pandangan tentang bagaimana dorongan sosial membentuk perjalanan psikologis tokoh. Pemikiran Ekstrovert Film 200 Pounds Beauty versi Korea dan Indonesia memperlihatkan bahwa pemikiran ekstrovert bukan sekadar proses rasional, tetapi sebuah ekspresi terbuka yang diarahkan keluar untuk membenarkan pilihan hidup. Pemikiran ekstrovert ditandai dengan keberanian tokoh dalam menegaskan haknya dan mengandalkan logika praktis di ruang publik. Dalam film ini, hal tersebut tampak ketika Hanna menegaskan haknya untuk melakukan operasi plastik, atau ketika Juwita mengajukan cicilan sebagai solusi realistis. Melalui tindakan ini, film menampilkan lapisan makna bahwa pemikiran ekstrovert berfungsi sebagai sarana untuk menyatakan diri secara terbuka sekaligus menantang batasan sosial yang ada. Dengan demikian, pemikiran ekstrovert tidak hanya menghadirkan rasionalitas dalam bentuk yang objektif, tetapi juga menjadi medium keberanian individu untuk menegosiasikan identitasnya di hadapan (Data . Gambar 1. menegaskan haknya operasi plastik Hanna: AuKau bilang mereka tidak menghormati ahli bedah plastik karena mereka tidak berurusan dengan nyawa? Aku melakukan ini agar bisa menjalani sebuah keputusan, bukan untuk memuaskan kesombonganku! Ini hakku, karena aku yang mencarinya. Benar, kan?!Ay(Hanna menjelaskan kepada dokter bedah plastik yang akan menanganiny. (D-1/PC-2006/Scene 16/27:. Pada data . ini, tokoh Hanna menunjukkan kecenderungan berpikir rasional, logis, dan objektif dalam mempertahankan keputusannya kepada dokter bedah plastik. Ia menilai tindakannya bukan sebagai bentuk kesombongan atau ketidakpuasan diri, melainkan keputusan sadar yang didasari pertimbangan logis serta tanggung jawab sosial. Sikapnya yang tegas, argumentatif, dan terstruktur mencerminkan orientasi pada kenyataan objektif, di mana setiap keputusan harus memiliki dasar rasional dan dapat diterima secara sosial. Karena itu. Hanna tidak mudah terpengaruh oleh penilaian emosional atau opini subjektif orang lain, menunjukkan bahwa tindakannya lahir dari pemikiran yang matang dan realistis, bukan dorongan perasaan Dominasi fungsi berpikir ekstrovert tampak jelas melalui cara Hanna menggunakan alasan logis dan pembenaran rasional terhadap hak pribadinya untuk menjalani operasi plastik. Dalam dialognya, ia menegaskan bahwa keputusannya bukan demi kesombongan, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial. Cara komunikasinya yang lugas, tegas, dan faktual memperkuat bahwa logika menjadi dasar utama pandangannya. Hanna berbicara langsung pada inti persoalan tanpa emosi berlebihan, menilai tindakan Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 143 berdasarkan kebenaran umum yang dapat dibuktikan secara rasional. Hal ini menunjukkan bahwa Hanna adalah individu yang mengambil keputusan dengan berpijak pada logika, berorientasi pada fakta sosial, dan menilai tindakan melalui ukuran benar salah objektif yang dapat diterima masyarakat. (Data . Gambar 2. menasihati Yara soal pacarnya Yara: AuSekarang gue punya pacar! Nggak bertepuk sebelah tangan lagi!Ay Juwita/Angel: AuPacar?! Rizki maksud lo?! Orang yang nawarin gue jadi member Mejik Singset dagangannya dia?! Terus orang yang nyuruh lo buat beli semua produk dietnya?! Ini alat yang lo pakai sekarang di perut loA gue juga nggak tahu apaan! Ini juga pasti dia, kan. Yar?! Yar, lo sadar dong! Lo nih pacar atau member produknya dia?! Jangan-jangan dia tuh emang sengaja manfaatin lo biar dagangannya laku!Ay (Juwita/Angel menasihati Yara mengenai pacarnya yang dianggap bersikap aneh dan hanya memanfaatkannya untuk kepentingan pribad. (D-2/PC-2023/Scene 33/01:00:. Kutipan . ini menunjukkan bahwa tokoh Angel memperlihatkan dominasi fungsi berpikir ekstrovert dalam kepribadiannya, sebagaimana dijelaskan oleh Jung. Dominasi ini tampak dari cara Angel menilai situasi secara rasional, berorientasi pada fakta sosial, dan berpegang pada logika objektif dalam memahami perilaku orang lain. Ucapannya. AuYar, lo sadar dong! Lo nih pacar atau member produknya dia?! Jangan-jangan dia tuh emang sengaja manfaatin lo biar dagangannya laku!Ay, menunjukkan bahwa ia menggunakan penalaran sistematis dan realistis untuk menafsirkan hubungan Yara dengan Rizki. Angel tidak melihat situasi dari sisi emosional, melainkan menilai bahwa perilaku Rizki memiliki motif ekonomi yang rasional dan dapat dibuktikan secara nyata. Hal ini menegaskan kecenderungannya untuk berpikir secara objektif dan mengaitkan tindakan seseorang dengan logika sebab-akibat yang konkret. Fungsi berpikir ekstrovert pada Angel tercermin dari orientasinya terhadap dunia luar dan nilai-nilai sosial yang berlaku. Ia menilai hubungan ideal harus didasari ketulusan, bukan manipulasi, sehingga perilaku Rizki dianggap salah karena bertentangan dengan norma sosial yang rasional. Gaya komunikasinya yang lugas, tegas, dan berorientasi pada fakta konkret memperlihatkan bahwa logika menjadi dasar utama dalam pandangannya. Bagi Angel, berpikir logis bukan hanya bentuk analisis, tetapi juga wujud kepedulian yang didasarkan pada realitas Dengan demikian, dominasi fungsi berpikir ekstrovert menjadikannya pribadi yang analitis, kritis, dan berfokus pada kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, bukan emosional. Perasaan Ekstrovert Film 200 Pounds Beauty menggambarkan perasaan ekstrovert sebagai aspek penting dalam interaksi sosial. Perasaan ekstrovert adalah bentuk ekspresi emosional yang mudah dipengaruhi oleh perlakuan orang lain dan diekspresikan secara terbuka. Dalam film ini. Hanna merasa 144 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 bahagia setelah mendapat pujian dari Sang Jun, atau Juwita yang dengan tulus menasihati sahabatnya Yara. Bahkan, kemarahan Juwita dalam membela sahabatnya menunjukkan bahwa emosi ekstrovert sering kali hadir dalam bentuk reaksi langsung dan penuh intensitas. Melalui ekspresi emosional yang kuat ini, film menyajikan pandangan bahwa perasaan ekstrovert menjadi medium untuk meneguhkan hubungan sosial dan solidaritas. (Data . Gambar 3. terpengaruh sikap Sang Jun Hanna: AuAku perlu memeriksa situasinya. Ay Jeong Min: AuJadi dia tertarik denganmu?Ay Hanna: AuItu adalah perasaanA dia sangat baik padaku. Ay (Hanna menjelaskan kepada Jeong Min bahwa perasaannya muncul karena sutradara Sang Jun sangat baik padanya, menandakan emosinya mudah dipengaruhi oleh perlakuan orang lai. (D-3/PC-2006/Scene 04/10:. Kutipan . ini mencerminkan dominasi fungsi perasaan ekstrovert pada karakter Hanna, ketika ia menilai situasi emosionalnya berdasarkan pengaruh eksternal dan reaksi sosial di Ucapannya. AuItu adalah perasaanA dia sangat baik padaku,Ay menunjukkan bahwa Hanna menafsirkan kebaikan Sang Jun sebagai bentuk perhatian emosional yang menumbuhkan perasaan dalam dirinya. Ia tidak menilai emosinya dari refleksi batin yang mendalam, melainkan dari perlakuan dan respons orang lain terhadapnya. Dalam kerangka teori Jung, fungsi perasaan ekstrovert bekerja dengan menyesuaikan nilai emosional terhadap norma dan situasi sosial, sehingga makna AukebaikanAy Sang Jun dipahami sebagai sinyal adanya ketertarikan atau kasih Pola ini memperlihatkan bahwa Hanna menilai hubungan emosionalnya melalui standar sosial yang berlaku, bukan melalui pemahaman subjektif yang mendalam. Sikap Hanna menunjukkan bahwa emosinya terbuka dan mudah dipengaruhi oleh dunia Ia menilai relasi interpersonal berdasarkan penerimaan dan perlakuan sosial, sementara perasaannya berakar pada keinginan untuk disukai dan diterima. Ciri ini memperlihatkan sifat khas individu dengan dominasi fungsi perasaan ekstrovert yang ramah, responsif, dan mudah terbawa suasana emosional di sekitarnya. Cara Hanna menyesuaikan emosinya dengan ekspektasi sosial menunjukkan bahwa nilai kebaikan dan kasih sayang diartikan sesuai dengan pengaruh lingkungan. Ekspresi perasaannya yang spontan dan terbuka menjadi cerminan kecenderungannya untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial serta memastikan dirinya Karakter Hanna memperlihatkan kepribadian yang emosional, terbuka, dan berorientasi pada hubungan sosial, menjadikan kehangatan serta penerimaan eksternal sebagai tolok ukur utama dalam menilai nilai emosional dari setiap pengalaman hidupnya. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 145 (Data . Gambar 4. tulus menasihati Yara Yara: AuUdah ngomongnya? Udah?! Lo kenapa jadi ngejelek-jelekin dia sih?!Ay Juwita/Angel: AuYarA gue tahu mungkin gue udah bukan Juwita yang kayak dulu lagi, tapi gue masih sahabat lo. Yar, dan gue sayang banget sama lo! Eh. YarA lo tuh udah cantik, baik, jadi lo nggak perlu nyiksa diri lo kayak begini. Gue mohon banget dong. Yar, sama loA pliss, berhenti beli apapun dari si Rizki! Lo jangan dibodohin lagi sama dia. Yar! Karena suatu saat nanti lo bakalan ditinggalin gitu aja sama dia, kalau dia ngerasa lo udah nggak nguntungin lagi!Ay (Juwita/Angel menasihati Yara dengan tulus sebagai sahabat meskipun ia sudah berubah secara fisik setelah melakukan operasi plastik dan mengganti identitasnya menjadi Angel, meyakinkannya bahwa ia berharga tanpa menyiksa diri dan memperingatkan Yara tidak dimanfaatkan oleh Rizk. (D-4/PC 2023/Scene 33/01:00:. Dalam kompleksitas psikologis Juwita atau Angel, fungsi perasaan ekstrovert tampak sebagai aspek dominan yang mengatur cara ia berinteraksi dan menilai situasi sosial di Kutipan . ini memperlihatkan ekspresi emosional yang kuat melalui ucapannya. Augue masih sahabat lo. Yar, dan gue sayang banget sama lo!Ay, yang mencerminkan dorongan untuk menjaga dan memulihkan hubungan dengan Yara. Emosi yang ia tunjukkan bukan sekadar reaksi spontan, tetapi merupakan bentuk keterikatan sosial yang mendalam, di mana kasih sayang dan kepedulian diarahkan ke luar diri untuk melindungi orang lain dari penderitaan. Perasaan Juwita diatur oleh kebutuhan untuk menciptakan keharmonisan dan rasa aman dalam hubungan persahabatan, menjadikan nilai sosial dan keterhubungan emosional sebagai dasar utama dalam Sisi emosional Juwita yang dipengaruhi oleh fungsi perasaan ekstrovert terlihat dari pandangannya terhadap hubungan sosial dan nilai moral yang ia junjung tinggi. Juwita menilai kondisi Yara bukan dari sudut pandang pribadi, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab emosional seorang sahabat yang peduli. Nasihatnya agar Yara berhenti menyakiti diri sendiri menunjukkan dorongan untuk melindungi dan menuntun sahabatnya menuju kesejahteraan Hal ini sejalan dengan pandangan Jung bahwa individu dengan fungsi perasaan ekstrovert cenderung menyesuaikan diri dengan nilai sosial yang dianggap benar serta berusaha menjaga keseimbangan dalam relasi antarindividu. Empati dan kasih sayang yang ditunjukkan Juwita kepada Yara mencerminkan wujud konkret dari nilai moral dan sosial yang ia pegang, di mana keseimbangan emosionalnya bergantung pada keharmonisan hubungan dengan orang lain. Juwita menilai nilai emosional suatu tindakan berdasarkan dampaknya terhadap orang lain dan berupaya menjaga keterikatan sosial sebagai pusat orientasi moral dan emosional dalam 146 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 Penginderaan Ekstrovert Penginderaan ekstrovert dalam film 200 Pounds Beauty ditampilkan melalui reaksi spontan terhadap pengalaman konkret dan inderawi. Karakter ekstrovert menanggapi realitas dengan ekspresi langsung, seperti Hanna yang kaget melihat wajah barunya setelah operasi, atau Juwita yang protes karena makanan terlalu sedikit. Respons spontan ini memperlihatkan bagaimana penginderaan ekstrovert berorientasi pada dunia nyata dengan penuh kesadaran terhadap detail yang langsung memengaruhi dirinya. Melalui penggambaran ini, film menyajikan makna bahwa penginderaan ekstrovert menghadirkan keintensifan pengalaman inderawi yang tidak dapat dipisahkan dari dinamika sosial tokoh. (Data . Gambar 5. memakai hadiah dari Ammy AuKau memberikannyaA jadi aku mengenakannya. Ay (Hanna duduk sambil melihat dan mengatakan kepada Sang Jun bahwa hadiah baju yang ia terima sudah ia kenakan ke acara ulang tahunnya, tanpa mengetahui bahwa hadiah itu sebenarnya berasal dari Ammy, penyanyi yang menjadikannya sebagai penyanyi di balik layar dengan maksud tidak baik. (D-5/PC-2006/Scene 14/21:. Kutipan . mencerminkan fungsi pengindraan ekstrovert yang berfokus pada hubungan langsung antara individu dengan dunia luar melalui pengalaman konkret dan objek nyata. Ucapan Hanna. AuKau memberikannyaA jadi aku mengenakannya,Ay menunjukkan bagaimana ia merespons situasi berdasarkan realitas sensorik yang tampak di depan mata, yaitu hadiah berupa baju yang diterimanya. Dalam kerangka teori Jung, fungsi pengindraan ekstrovert menunjukkan orientasi terhadap hal-hal yang kasatmata dan berwujud, di mana tindakan Hanna didorong oleh penghargaan terhadap bentuk fisik dari pemberian itu tanpa menelusuri makna tersembunyi di Keputusannya mengenakan baju tersebut menandakan bahwa ia menilai sesuatu berdasarkan kesan nyata dan pengalaman langsung yang dialami, bukan melalui intuisi atau pertimbangan emosional yang mendalam. Melalui peristiwa ini, terlihat bahwa Hanna lebih berfokus pada aspek eksternal dan konkret dari pengalaman sosialnya. Ia mengekspresikan rasa terima kasih melalui tindakan nyata tanpa mencurigai adanya maksud lain di balik pemberian tersebut. Fungsi pengindraan ekstrovert bekerja dengan menangkap dunia sebagaimana adanya, menilai realitas berdasarkan apa yang tampak secara fisik tanpa interpretasi simbolik. Situasi ini juga mengungkap sisi kerentanan tipe pengindraan ekstrovert, karena kepekaan terhadap hal-hal nyata terkadang membuat seseorang kurang peka terhadap dinamika emosional atau makna tersembunyi di balik tindakan orang lain. Sikap Hanna menunjukkan bahwa ia berinteraksi dengan dunia luar secara spontan dan terbuka terhadap pengalaman indrawi, menjadikan persepsi konkret sebagai landasan utama dalam memahami realitas sosial yang dihadapinya. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 147 (Data . Gambar 6. Juwita protes makanan sedikit Juwita: AuYa elahA gini doang makanannya? Ini nggak ada nasi kotak pakai lauk apa gimana gitu? Mana kenyang gue ngemilin gini doang!Ay(Juwita membuka kotak makanan yang hanya berisi satu risol mayo, sementara ia merasa lelah setelah menjadi penyanyi di balik layar saat Eva tampil di panggun. (D-6/PC 2023/Scene 3/04:. Kutipan . memperlihatkan bahwa Juwita menampilkan dominasi fungsi pengindraan ekstrovert melalui respons spontan terhadap pengalaman nyata yang ia hadapi. Ucapannya. AuYa elahA gini doang makanannya? Ini nggak ada nasi kotak pakai lauk apa gimana gitu? Mana kenyang gue ngemilin gini doang!Ay menunjukkan kecenderungan untuk menilai situasi berdasarkan sensasi konkret dan kebutuhan fisik yang langsung dirasakannya. Reaksi ini memperlihatkan fokus Juwita pada dunia material dan indrawi, di mana kepuasan atau ketidakpuasan ditentukan oleh pengalaman jasmaniah yang nyata. Dalam kerangka teori Jung, fungsi pengindraan ekstrovert beroperasi dengan menangkap realitas sebagaimana adanya tanpa melalui penilaian abstrak atau refleksi mendalam, menjadikan pengalaman sensorik sebagai dasar utama dalam merespons dunia luar. Sikap Juwita mencerminkan orientasi kuat terhadap hal-hal yang nyata, langsung, dan Ia mengekspresikan keluhannya secara terbuka dan lugas, menunjukkan bahwa penilaiannya terhadap situasi berakar pada sensasi fisik dan kenyamanan tubuhnya. Makanan bagi Juwita bukan sekadar simbol sosial, tetapi bentuk konkret dari kepuasan material yang dapat Respons yang cepat dan jujur ini memperlihatkan kepribadian yang realistis, spontan, dan berorientasi pada pengalaman indrawi, khas individu dengan fungsi pengindraan ekstrovert yang menilai realitas melalui kenikmatan sensorik. Melalui reaksi ini, tampak bahwa Juwita memaknai kehidupannya melalui hal-hal yang dapat disentuh, dirasakan, dan dinikmati secara langsung, menjadikannya sosok yang praktis dan berpijak pada kenyataan fisik dalam menghadapi situasi sehari-hari. Intuisi Ekstrovert Film 200 Pounds Beauty menegaskan peran intuisi ekstrovert sebagai dorongan untuk membayangkan masa depan dan membaca peluang dari interaksi sosial. Intuisi ekstrovert tampak ketika Hanna membayangkan kehidupannya akan berubah setelah menjadi cantik, atau ketika Juwita yakin instingnya benar bahwa Mas Andre menyukainya. Intuisi diarahkan keluar untuk memprediksi dan menafsirkan kemungkinan dalam relasi sosial. Melalui ekspresi ini, film menyajikan lapisan makna bahwa intuisi ekstrovert menjadi motor penggerak harapan, ambisi, sekaligus keyakinan tokoh terhadap masa depan. 148 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 (Data . Gambar 7. membayangkan masa depan Hanna/Jenny: AuKau membelikanku ini dan berkata bahwa aku akan menjadi cantikAAy(Sebelum melepas perban operasi plastiknya Hanna/Jenny mengunjungi sambil berbicara pada ayahnya dan membawa boneka Barbie. Hanna/Jenny membayangkan berbagai kemungkinan tentang masa depannya bahwa dengan kecantikan ia bisa berubah, diterima oleh orang lain, dan kehidupannya terbuka menuju berbagai arah, sama seperti boneka Barbie yang dulu diberikan (D-7/PC-2006/Scene 20/31:. Kutipan . menggambarkan proses batin Hanna/Jenny dalam menghadapi pergulatan identitas dan pencarian makna diri melalui perubahan fisik yang ia yakini dapat mengubah Proses ini mencerminkan dominasi fungsi intuisi ekstrovert sebagaimana dijelaskan oleh Jung, yaitu kemampuan untuk menangkap makna simbolis dan melihat kemungkinan baru di luar diri. Melalui imajinasinya tentang masa depan. Hanna menafsirkan operasi plastik bukan sekadar tindakan medis, melainkan jalan menuju transformasi sosial dan emosional. Ucapannya. AuKau membelikanku ini dan berkata bahwa aku akan menjadi cantikAAy menyingkap hubungan simbolik antara boneka Barbie pemberian ayahnya dengan cita-cita masa kecil untuk menjadi sosok ideal yang diakui dan dicintai. Imajinasi itu menunjukkan cara kerja intuisi ekstrovert, yang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan visi masa depan melalui simbol-simbol yang bermakna secara emosional dan sosial. Fungsi intuisi ekstrovert dalam diri Hanna tampak dari kemampuannya memandang kecantikan sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih baik dan penerimaan sosial. Ia tidak hanya melihat operasi plastik sebagai perubahan fisik, tetapi juga sebagai simbol dari potensi baru yang bisa mengantarkannya keluar dari keterbatasan diri lama. Pandangan ini menunjukkan bahwa orientasi Hanna terhadap masa depan dipenuhi oleh harapan dan visi yang lahir dari persepsi intuitif, bukan dari logika atau pengalaman konkret semata. Namun, di balik optimisme tersebut, tersimpan ketegangan antara realitas dan harapan, memperlihatkan bahwa transformasi lahiriah belum tentu membawa perubahan batiniah yang sejati. Melalui pergulatan ini. Hanna menunjukkan dinamika psikologis khas individu dengan fungsi intuisi ekstrovert: berpikir visioner, penuh harapan, dan tergerak oleh makna simbolik dari setiap pengalaman hidupnya. (Data . Gambar 8. Juwita merasa disukai balik Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 149 AuSepertinya instingku benarA Mas Andre emang suka sama aku. Ay (Juwita bermonolog saat Mas Andre mengajaknya pulang setelah latihan vokal, merasa instingnya benar bahwa Mas Andre (D-8/PC-2023/Scene 09/12:. Kutipan . memperlihatkan dominasi fungsi intuisi ekstrovert dalam kepribadian Juwita, yang tampak melalui pernyataannya. AuSepertinya instingku benarA Mas Andre emang suka sama aku. Ay Ucapan ini mencerminkan kecenderungannya untuk menafsirkan peristiwa eksternal berdasarkan firasat dan makna tersembunyi yang ia tangkap tanpa memerlukan bukti konkret. memahami situasi emosionalnya melalui kemampuan untuk membaca tanda-tanda dan potensi dari perilaku orang lain, khususnya Mas Andre. Proses ini menunjukkan cara kerja intuisi ekstrovert yang berorientasi pada kemungkinan dan arah masa depan, di mana Juwita menilai tindakan seseorang bukan hanya dari fakta yang tampak, tetapi dari apa yang bisa terjadi Keyakinannya terhadap AuinstingAy menandakan bahwa ia hidup dalam dunia persepsi intuitif yang menafsirkan pengalaman nyata sebagai bagian dari jaringan makna yang lebih luas. Kecenderungan Juwita untuk mempercayai intuisi dan menghubungkannya dengan perasaan pribadinya menunjukkan upaya untuk menyatukan pengalaman batin dengan realitas sosial di sekitarnya. Ia tidak sekadar merasakan, tetapi juga menafsirkan tanda-tanda eksternal sebagai bagian dari pemahaman dirinya terhadap hubungan emosional yang sedang berkembang. Hal ini menggambarkan proses reflektif menuju kesadaran diri sebagaimana dijelaskan dalam konsep individuasi Jung, di mana seseorang berusaha memahami keseimbangan antara dunia dalam dan luar dirinya. Melalui intuisi yang diarahkan keluar. Juwita berupaya menemukan makna dan kejelasan emosional dari peristiwa yang ia alami, menjadikannya pribadi yang peka terhadap kemungkinan, simbol, dan arah perkembangan hubungan sosial di masa depan. Aspek Introvert dalam film 200 Pounds Beauty Dalam aspek introvert, 200 Pounds Beauty versi Korea dan Indonesia dapat dipahami sebagai perjalanan batin tokoh utama yang lebih menekankan pencarian makna diri daripada pencarian pengakuan sosial. Berdasarkan teori kepribadian Carl Gustav Jung, introvert memusatkan energi pada dunia dalam melalui empat fungsi utama pemikiran, perasaan, penginderaan, dan intuisi. Orientasi ini membuat tokoh utama lebih banyak merefleksikan pengalaman, emosi, serta pemikirannya secara mendalam sebelum mengambil keputusan. Transformasi fisik yang dialami bukan semata untuk mendapatkan perhatian orang lain, tetapi menjadi simbol upaya memahami diri dan mencapai penerimaan diri yang lebih autentik. Ekspresi emosionalnya cenderung tertahan, penuh pertimbangan, dan dipengaruhi oleh intuisi serta nilai personal yang ia yakini. Dengan demikian, film ini menegaskan bahwa keindahan sejati tidak bertumpu pada penilaian eksternal, melainkan pada ketenangan dan penerimaan diri yang tumbuh dari dalam. Pemikiran Introvert Film 200 Pounds Beauty menampilkan pemikiran introvert sebagai refleksi logis yang berpusat pada diri sendiri. Pemikiran introvert tampak dari keyakinan Hanna bahwa suaranya cukup untuk menggantikan Ammy, atau Juwita yang menegaskan operasi dilakukan demi dirinya Pemikiran ini tidak diarahkan keluar untuk persetujuan orang lain, tetapi menjadi pembenaran batin yang menegaskan identitas diri. Melalui penggambaran ini, film menciptakan lapisan makna bahwa pemikiran introvert merupakan sarana mempertahankan logika pribadi sekaligus menghadirkan resistensi terhadap tekanan sosial. 150 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 (Data . Gambar 9. yakin bisa ganti posisi Ammy Jeong Min: AuKau menghilang setahun yang lalu. Mereka telah mencarimu ke mana-mana. Kau mengacaukan album kedua Ammy. Mereka berusaha keras untuk mencari penggantimu. Ay Hanna/Jenny: AuAku bisa menjadi penggantinya. Mereka akan menyukaiku karena aku memiliki suara yang sama. Tidak?Ay(Hanna/Jenny menjawab dengan sangat yakin, berpegang pada logikanya sendiri bahwa suaranya sama persis. Ia tidak peduli apakah orang lain setuju atau menolaknya, karena baginya fakta itu sudah cukup. (D-9/PC-2006/Scene 30/45:. Kutipan . ini menampilkan dominasi fungsi berpikir introvert dalam diri Hanna, yang tampak melalui pernyataannya. AuAku bisa menjadi penggantinya. Mereka akan menyukaiku karena aku memiliki suara yang sama. Tidak?Ay Ucapan tersebut memperlihatkan bahwa Hanna menilai situasi berdasarkan logika internal yang bersumber dari keyakinan pribadinya, bukan dari pandangan sosial atau emosional. Ia menggunakan penalaran rasional untuk membenarkan tindakannya, meyakini bahwa kesamaan suara sudah cukup untuk menggantikan posisi Ammy. Pandangan ini menunjukkan bagaimana fungsi berpikir introvert bekerja yaitu berfokus pada penilaian logis yang berasal dari sistem pemikiran pribadi, bukan dari kenyataan objektif di luar Hanna menempatkan dirinya dalam kerangka berpikir yang tertutup dan introspektif, di mana validitas suatu tindakan ditentukan oleh rasionalitas yang ia bangun sendiri. Fungsi berpikir introvert yang mendominasi membuat Hanna terlihat rasional, namun sekaligus terlepas dari realitas sosial di sekitarnya. Ia menjustifikasi tindakannya berdasarkan prinsip internal yang ia yakini benar, tanpa mempertimbangkan dampak moral atau pandangan orang lain. Cara berpikir seperti ini mencerminkan kecenderungan individu dengan orientasi berpikir introvert yang mengutamakan konsistensi logika pribadi di atas norma eksternal. Melalui sikapnya. Hanna tampak berusaha mempertahankan kontrol dan stabilitas batin melalui argumen rasional yang ia bentuk sendiri. Namun, keyakinannya yang bersifat subjektif ini juga menunjukkan keterbatasan fungsi berpikir introvert ketika digunakan secara ekstrem, karena menjauhkan dirinya dari empati sosial dan membuatnya menilai kebenaran semata-mata dari sudut pandang batin yang logis tetapi tertutup terhadap realitas luar. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 151 (Data . Gambar 10. memohon melakukan operasi plastik Juwita: AuPlis ya. DokA tolongin saya. Ini satu-satunya harapan yang saya punya. Dok!Ay (Juwita memohon kepada dokter karena merasa operasi plastik adalah satu-satu harapanny. (D-10/PC-2023/Scene 14/24:. Pada data . Juwita memperlihatkan dominasi fungsi berpikir introvert melalui cara pandangnya yang rasional, logis, dan berorientasi pada prinsip pribadi. Ucapannya. AuPlis ya. DokA tolongin saya. Ini satu-satunya harapan yang saya punya. Dok!Ay menunjukkan bahwa keputusannya untuk menjalani operasi plastik tidak lahir dari dorongan emosional semata, melainkan dari pemikiran internal yang ia anggap masuk akal. Ia menilai tindakannya sebagai langkah logis dan realistis untuk memperbaiki kehidupannya, dengan keyakinan bahwa keputusan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Pola pikir ini menggambarkan bagaimana Juwita menggunakan rasionalitas subjektifnya untuk mengarahkan tindakan, menilai situasi berdasarkan pertimbangan logika batin, bukan semata pada reaksi emosional atau pandangan sosial semata. Dominasi fungsi berpikir introvert semakin tampak dari cara Juwita mempertahankan keyakinannya tanpa memerlukan validasi eksternal. Ia menilai benar atau salahnya tindakan berdasarkan sistem berpikir internal yang ia bentuk sendiri, bukan pada standar moral atau sosial di luar dirinya. Bagi Juwita, keputusan untuk mengubah penampilan merupakan hasil dari analisis rasional yang berakar pada kebutuhan pribadi dan pencarian makna hidup. Sikapnya yang tenang, tegas, dan konsisten menunjukkan kedewasaan intelektual serta kemampuan untuk mengandalkan logika pribadi dalam mengambil keputusan penting. Dengan demikian, kutipan ini menegaskan bahwa Juwita adalah individu dengan orientasi berpikir introvert yang kuat rasional, reflektif, dan mandiri dalam menilai realitas hidupnya berdasarkan kebenaran yang ia yakini secara internal. Perasaan Introvert Film 200 Pounds Beauty menggarisbawahi perasaan introvert yang lebih banyak terarah ke dalam batin. Tokoh introvert mengekspresikan emosi melalui monolog pribadi, kenangan, dan tangisan yang mendalam. Hal ini terlihat dari Hanna yang mengenang cinta pertamanya, atau Juwita yang menangis di depan Andre ketika menceritakan perlakuan tidak adil di masa lalu. Emosi ini tidak ditampilkan secara langsung untuk publik, melainkan sebagai pergulatan psikologis pribadi. Melalui representasi ini, film menegaskan bahwa perasaan introvert menjadi sarana tokoh untuk memahami luka batin dan meneguhkan identitas emosionalnya. 152 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 (Data . Gambar 11. mengagumi dirinya di mobil (Sambil mengendarai mobil barunya. Hanna/Jenny bercermin dan melihat wajahnya sambil bermonolog ) AuKau cantikA Kau mengagumkan. Ay (D-11/PC-2006/Scene 26/39:. Kutipan . ini menampilkan dominasi fungsi perasaan introvert dalam diri Hanna/Jenny, yang terlihat dari cara ia menilai dirinya berdasarkan nilai-nilai pribadi dan refleksi batin yang Ucapannya. AuKau cantikA Kau mengagumkan,Ay merupakan bentuk afirmasi internal, bukan untuk mendapatkan pengakuan sosial, melainkan untuk meneguhkan makna emosional yang ia yakini secara pribadi. Dalam kerangka teori Jung, fungsi perasaan introvert berorientasi pada nilai-nilai subjektif yang berasal dari dalam diri individu. Hanna tidak menilai kecantikan sebagai sesuatu yang harus diakui orang lain, tetapi sebagai simbol penerimaan diri dan keyakinan batin atas nilai pribadinya. Proses ini menunjukkan bahwa dirinya menilai realitas emosional melalui kesadaran diri yang mendalam, bukan melalui norma sosial atau validasi Sikap reflektif dan tenang yang ditunjukkan Hanna menegaskan orientasi emosionalnya ke Ia tampak berusaha menjaga keseimbangan batin dengan mengakui keberhargaan dirinya tanpa harus menunjukkannya kepada orang lain. Ungkapan tersebut menggambarkan pergulatan antara penerimaan diri dan kebutuhan untuk mempertahankan integritas emosionalnya di tengah tekanan sosial yang menuntut kesempurnaan fisik. Hal ini menunjukkan bahwa Hanna hidup dalam dunia perasaan yang kaya dan mendalam, di mana makna dan nilai emosional ditentukan oleh kesadaran batinnya sendiri. Dengan demikian, kutipan ini memperlihatkan bahwa fungsi perasaan introvert mendominasi kepribadian Hanna, menjadikannya sosok yang introspektif, autentik secara emosional, dan mampu menemukan kekuatan melalui penerimaan diri yang bersumber dari dalam, bukan dari penilaian dunia luar. Penginderaan Introvert Penginderaan introvert dalam film ini hadir melalui respons terhadap pengalaman nyata yang diserap ke dalam batin, bukan diekspresikan secara terbuka. Hanna memilih pulang diamdiam setelah dipermalukan, sementara Juwita menutupi kesedihannya dengan jawaban spontan. Pengalaman inderawi ini tidak dilepaskan ke ruang sosial, melainkan disimpan sebagai bagian dari refleksi batin. Melalui hal ini, film 200 Pounds Beauty menciptakan makna bahwa penginderaan introvert menjadi cara untuk melindungi diri dari luka sosial sekaligus menjaga keseimbangan emosional. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 153 (Data . Gambar 12. pulang setelah dipermalukan AuAku tidak bisa lebih bahagia dari hanya bermimpi tentangmu. Bahkan jika tidak berlangsung lamaA terima kasih sudah membuatku bahagia. Terima kasih banyak. Ay (Hanna bermonolog setelah tanpa sengaja mendengar dirinya dipermalukan oleh Sang Jun dan Ammy karena penampilannya di hari ulang tahun pria itu. Ia tidak menanggapi secara langsung ejekan tersebut, melainkan memilih pulang secara diam-diam, membiarkan kata-kata itu bergema di dalam hatinya. (D-12/PC-2006/Scene 15/24:. Kutipan . ini memperlihatkan dominasi fungsi pengindraan introvert pada karakter Hanna, ketika ia menghadapi pengalaman menyakitkan dengan cara yang tenang, reflektif, dan penuh penghayatan batin. Ucapannya. AuAku tidak bisa lebih bahagia dari hanya bermimpi tentangmuAAy menggambarkan bagaimana Hanna tidak menanggapi penghinaan yang ia terima secara eksternal melalui kemarahan atau perlawanan, melainkan memprosesnya secara internal sebagai pengalaman emosional yang sarat makna simbolik. Ia menyerap kesan sensorik dari peristiwa suara ejekan, ekspresi orang lain, suasana sekitarnya dan mengubahnya menjadi pengalaman batin yang mendalam. Responnya yang pasif dan lembut mencerminkan kecenderungan individu dengan fungsi pengindraan introvert untuk menginternalisasi pengalaman indrawi, menjadikannya sumber refleksi emosional dan pemahaman diri yang subtil. Dalam kerangka teori Jung, fungsi pengindraan introvert berfokus pada persepsi subjektif terhadap pengalaman konkret yang kemudian diolah menjadi kesadaran simbolis dan emosional. Hal ini tampak jelas pada Hanna yang tidak menilai peristiwa AudipermalukanAy sebagai tragedi sosial, melainkan sebagai pengalaman batin yang meneguhkan kesadarannya akan cinta dan kehilangan. Ia menafsirkan realitas melalui kesan-kesan indrawi yang diresapi secara mendalam suara, tatapan, dan suasana berubah menjadi simbol penderitaan yang puitis. Monolognya menegaskan orientasi ke dalam dirinya sendiri, di mana ia menemukan makna dalam keheningan dan rasa sakit. Dominasi fungsi pengindraan introvert membuat Hanna tampak lembut dan tenang di luar, tetapi di balik ketenangan itu tersembunyi kedalaman emosi yang kompleks serta kepekaan batin yang tajam terhadap pengalaman hidupnya. (Data . Gambar 13. Juwita tutupi kesedihan 154 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 Yara: AuKenapa Mikirin lu?Ay Juwita: AuNggakA nggak mikirin apa-apa. Gue kekenyangan. Ay (Juwita menutupi perasaannya dengan jawaban spontan saat Yara tiba-tiba menanyainya, padahal sebenarnya ia sedang teringat masa lalunya yang pahi. (D-13/PC-2023/Scene 04/10:. Kutipan . menunjukkan dominasi fungsi pengindraan introvert pada diri Juwita, yang tampak dari cara ia menanggapi pertanyaan Yara dengan jawaban sederhana namun sarat makna Ketika Yara bertanya. AuKenapa sih bengong mulu gitu? Mikirin apa lu?Ay dan Juwita menjawab. AuNggakA nggak mikirin apa-apa. Gue kekenyangan,Ay respons tersebut menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri untuk menyembunyikan perasaan yang enggan ia ungkapkan. Jawaban ringan itu bukan cerminan kondisi sebenarnya, melainkan cara halus Juwita menutupi pergulatan emosional yang muncul akibat kenangan masa lalu yang masih membekas. Reaksi ini memperlihatkan kecenderungan tipe pengindraan introvert yang memproses pengalaman secara mendalam melalui kesan indrawi dan emosi personal, namun mengekspresikannya dengan cara yang tenang dan tertutup. Adegan Juwita tampak sebagai pribadi yang introspektif dan sensitif, yang memilih keheningan sebagai bentuk perlindungan terhadap kerentanan batinnya. Pergulatan batin Juwita tergambar melalui ekspresi dan perilaku yang diam namun sarat Tatapan kosong dan sikapnya yang tampak tenang menunjukkan bahwa ia sedang larut dalam kenangan yang dibangkitkan oleh rangsangan sensorik tertentu mungkin aroma, suasana, atau nada suara yang membangkitkan perasaan kehilangan. Fungsi pengindraan introvert membuatnya mengaitkan pengalaman indrawi dengan emosi personal yang sulit diungkapkan secara verbal. Dengan menutupi perasaan menggunakan alasan fisik seperti AukekenyanganAy. Juwita berusaha melindungi dirinya dari rasa rapuh yang muncul. Reaksi ini memperlihatkan kedalaman emosional dan kecenderungan untuk mengolah perasaan secara pribadi. Ia tidak menilai dunia dari logika atau penilaian sosial, melainkan melalui kesan sensorik yang diresapi secara batin. Sikap ini menegaskan karakter reflektif dan sensitif dalam diri Juwita, yang memahami realitas melalui pengalaman indrawi yang terhubung erat dengan emosi dan makna personal yang tersembunyi di balik keheningan dirinya. Intuisi Introvert Terakhir, film 200 Pounds Beauty menggambarkan intuisi introvert sebagai kemampuan untuk memaknai pengalaman batin secara simbolis. Hanna memaknai tarian sebagai simbol ikatan batin, atau Juwita yang ingin Auterlahir kembaliAy setelah merasa gagal dalam kehidupan Intuisi ini berfokus pada simbol, makna, dan refleksi pribadi yang tidak ditujukan Melalui representasi ini, film menampilkan lapisan makna bahwa intuisi introvert menjadi kekuatan batiniah untuk memahami luka, kerinduan, serta makna hidup di balik perubahan fisik dan sosial. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 155 (Data . Gambar 14. Hanna maknai tarian sebagai ikatan Ammy: AuPernahkah Kau Ay Hanna: AuAku berdansa bersamamuA untuk membuatnya jadi nyata. Ay (Hanna menjawab sambil membayangkan tarian itu sebagai simbol ikatan batin dan takdir, lebih bermakna baginya daripada gerakan fisik. (D-14/PC-2006/Scene 03/09:. Kutipan . ini mencerminkan dominasi fungsi intuisi introvert pada karakter Hanna, yang terlihat dari cara ia menafsirkan pengalaman sensorik secara simbolik dan batiniah. Ucapannya AuAku berdansa bersamamuA untuk membuatnya jadi nyata. Ay menunjukkan bahwa bagi Hanna, tarian bukan sekadar gerakan fisik, melainkan simbol hubungan emosional dan makna yang lebih dalam. Ia tidak menari dalam arti konkret, tetapi membayangkan tarian itu sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan seseorang yang hanya hadir dalam pikirannya. Hal ini memperlihatkan orientasi Hanna terhadap dunia dalam, di mana pengalaman batin dan simbol menjadi pusat kesadarannya. Imajinasi dan intuisi menjadi sarana utama untuk memahami realitas yang tidak dapat dijangkau secara indrawi. Indikator fungsi intuisi introvert tampak dari perilaku Hanna yang larut dalam khayal hingga terjatuh di belakang panggung. Ia tenggelam dalam dunia imajinatif yang hanya bisa ia pahami sendiri, menandakan kecenderungan untuk menafsirkan pengalaman hidup melalui lambang dan visi batin. Bagi Hanna, musik dan tarian memiliki makna transendental sebagai jembatan antara realitas luar dan dunia emosional di dalam dirinya. Fungsi intuisi introvert mendorongnya untuk memaknai pengalaman sebagai simbol dari perjalanan batin, bukan sekadar kejadian nyata. Ia memandang tarian sebagai ekspresi spiritual dan bentuk penyatuan dengan perasaan terdalamnya. Melalui penghayatan yang simbolik dan penuh makna tersebut. Hanna memperlihatkan karakter reflektif, imajinatif, dan puitis, yang menilai realitas melalui persepsi batin dan makna tersembunyi di balik pengalaman hidupnya. (Data . Gambar 15. Juwita ingin terlahir kembali 156 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 AuMungkin aku nggak ditakdirin untuk bahagia di kehidupan iniA mungkin aku harus terlahir kembali, berinkarnasi jadi cewek dengan penampilan sempurna. Ay (Juwita/Angel bermonolog sambil menangis bahwa keinginannya melakukan operasi plastik muncul setelah dipermalukan Andre dan Eva, sebagai cara untuk menutupi luka batinny. (D-15/PC-2023/Scene 13/22:. Kutipan . ini memperlihatkan dominasi fungsi intuisi introvert pada diri Juwita/Angel, yang tampak dari kecenderungannya menafsirkan pengalaman hidup melalui simbol dan makna batin yang mendalam. Ucapannya. AuMungkin aku nggak ditakdirin untuk bahagia di kehidupan iniA mungkin aku harus terlahir kembali, berinkarnasi jadi cewek dengan penampilan sempurna,Ay menunjukkan bahwa ia memahami penderitaan bukan sebagai peristiwa nyata semata, melainkan sebagai simbol dari perjalanan spiritual dan eksistensial. Gagasan tentang AureinkarnasiAy mencerminkan cara berpikir yang imajiner dan reflektif, di mana ia berusaha memberi makna pada luka batinnya dengan mengaitkannya pada ide transformasi dan pencarian bentuk diri yang baru. Fungsi intuisi introvert membuat Juwita menafsirkan kenyataan hidupnya secara simbolik dan subjektif. Ia tidak memandang penderitaan secara logis atau emosional terbuka, melainkan melalui kesadaran batin yang penuh makna metaforis. Keinginannya untuk Auterlahir kembaliAy merupakan bentuk pencarian jati diri dan upaya memahami luka masa lalu melalui gambaran ideal yang ia ciptakan sendiri. Dalam hal ini. Juwita tidak hanya berusaha melarikan diri dari kenyataan, tetapi juga berupaya menemukan pemaknaan eksistensial terhadap rasa sakit dan ketidakbahagiaan yang ia alami. Monolog tersebut menggambarkan bahwa Juwita hidup dalam dunia refleksi batin yang sarat simbol dan makna tersembunyi. Ia lebih fokus pada visi dan kesadaran internal daripada realitas luar yang konkret. Cara berpikirnya yang intuitif membuatnya tampak melankolis dan introspektif, namun juga menunjukkan kedalaman spiritual dalam memaknai penderitaan sebagai bagian dari proses pembaruan diri. Pandangan hidup seperti ini menegaskan dominasi fungsi intuisi introvert, di mana pengalaman pribadi ditafsirkan sebagai perjalanan simbolik menuju pemahaman diri dan takdir yang lebih tinggi. Pembahasan Penelitian ini membahas komparasi tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea dan versi Indonesia dengan menggunakan teori kepribadian Carl Gustav Jung mengenai ekstrovert dan introvert. Analisis menunjukkan bahwa tokoh utama dalam kedua versi, yakni Hanna/Jenny dan Juwita/Angel, menampilkan dinamika kepribadian yang kompleks yang memadukan sifat ekstrovert dan introvert secara bersamaan. Sifat ekstrovert tampak melalui keberanian dalam mengambil keputusan, sikap terbuka, spontanitas, serta kemampuan berinteraksi aktif di ruang sosial. Tokoh-tokoh ini menunjukkan ekspresi sosial yang kuat dan berorientasi pada dunia luar, seperti saat mereka menegaskan hak pribadi, bernegosiasi secara rasional, serta mengekspresikan perasaan dengan jujur dan terbuka di hadapan orang lain. Sementara itu, sisi introvert tercermin dari kecenderungan reflektif, kesadaran diri yang mendalam, dan pergulatan batin terhadap identitas diri yang mereka ciptakan. Tokoh utama dalam kedua versi film sering kali memperlihatkan perasaan terasing, keresahan batin, dan pencarian makna diri sejati di balik citra sosial yang mereka tampilkan. Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 157 Selain menggunakan teori utama Carl Gustav Jung tentang kepribadian ekstrovert dan introvert, analisis ini juga diperkuat dengan Teori Perbandingan Sosial Leon Festinger . dan Teori Identitas Budaya dan Diaspora Stuart Hall . Dalam konteks teori Festinger, kecenderungan arah perbandingan sosial . e atas atau ke bawa. dapat dikaitkan dengan orientasi kepribadian menurut Jung. Individu ekstrovert umumnya lebih sering melakukan perbandingan ke atas . pward compariso. , yaitu membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih sukses, menarik, atau berstatus tinggi. Hal ini disebabkan oleh orientasi ekstrovert yang berfokus pada dunia luar dan kebutuhan akan validasi sosial. Melalui perbandingan ke atas, mereka terdorong untuk meningkatkan citra diri, memperoleh pengakuan, dan menyesuaikan diri dengan standar sosial yang berlaku. Meskipun upward comparison dapat memotivasi mereka untuk berkembang, pada saat yang sama juga dapat menimbulkan perasaan tidak puas atau rendah diri bila perbedaan yang dirasakan terlalu jauh. Sebaliknya, individu introvert cenderung melakukan perbandingan kebaawah . ownward compariso. , yaitu membandingkan diri dengan orang lain atau kondisi yang dianggap lebih rendah untuk memperkuat harga diri dan stabilitas Karena introvert berorientasi pada dunia batin, mereka menggunakan perbandingan sosial bukan untuk mencari pengakuan eksternal, melainkan sebagai sarana refleksi dan penerimaan diri. Melalui downward comparison, introvert menemukan keseimbangan psikologis dengan menyadari kelebihan dan ketenangan dalam dirinya dibandingkan tekanan sosial di luar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrovert lebih condong pada upward comparison untuk mencari validasi dan peningkatan diri, sedangkan introvert lebih cenderung melakukan downward comparison untuk menjaga keseimbangan batin dan penerimaan diri. Sementara itu, dalam konteks Teori Identitas Budaya dan Diaspora Stuart Hall . perilaku dan transformasi tokoh dalam film 200 Pounds Beauty dapat dipahami sebagai proses negosiasi identitas yang terus berlangsung dalam ruang budaya yang berbeda. Hall menekankan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang tetap, esensial, atau tunggal, melainkan hasil dari representasi, pengalaman sosial, dan wacana budaya yang mengitarinya, di mana individu senantiasa berada dalam proses becoming untuk menegosiasikan dirinya di antara nilai, norma, dan ideologi yang berlaku di masyarakat. Dalam versi Korea, identitas tokoh Hanna dikonstruksi oleh budaya yang menekankan standar kecantikan tinggi serta orientasi individualistik yang menuntut pengakuan sosial, di mana keberhasilan dan penerimaan diri diukur melalui penampilan fisik. Operasi plastik di Korea Selatan diterima sebagai bentuk selfimprovement yang berakar pada budaya kompetitif dan sistem sosial yang menilai kesempurnaan visual sebagai simbol profesionalisme dan kesuksesan, sehingga tubuh menjadi representasi status sosial sekaligus bentuk kendali diri terhadap nasib. Transformasi fisik Hanna, dengan demikian, merepresentasikan proses becoming upaya membangun identitas yang diakui dalam budaya yang menekankan performativitas dan pencapaian individual. Sebaliknya, dalam versi Indonesia, tokoh Juwita menghadapi dilema identitas karena budaya Indonesia yang kolektivistik, moralistik, dan religius masih memandang praktik operasi plastik sebagai sesuatu yang kontroversial dan bertentangan dengan nilai keaslian diri, kesopanan, serta relasi sosial yang harmonis. Kecantikan di Indonesia dipahami secara holistik, mencakup dimensi fisik, moral, dan spiritual, sehingga tindakan mengubah tubuh menyentuh ranah etis dan sosial yang berkaitan dengan kejujuran, kesederhanaan, serta penerimaan diri. Akibatnya, transformasi Juwita justru menimbulkan konflik batin dan krisis identitas karena perubahan fisiknya berlawanan dengan nilai budaya yang menekankan keseimbangan antara batin dan penampilan luar. Perbandingan antara dua versi film ini menunjukkan bahwa dalam budaya Korea, tubuh dan identitas bersifat performatif serta dipandang sebagai proyek sosial yang dapat dimodifikasi untuk memenuhi ideal sosial, sementara dalam budaya Indonesia, identitas lebih dilihat sebagai ekspresi autentik dari nilai moral dan spiritual yang harus dijaga 158 Dinamika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pembelajarannya Volume 9 . Februari 2026, halaman 136-160 Dengan demikian, melalui lensa teori Hall, dapat disimpulkan bahwa pembentukan identitas tokoh utama dalam kedua versi film merupakan hasil negosiasi kompleks antara kepribadian individu, tekanan sosial, dan nilai budaya yang berbeda, yang memperlihatkan bahwa identitas diri senantiasa dibentuk dan dinegosiasikan dalam pertemuan antara budaya lokal, global, dan modernitas. Penelitian ini memiliki keterkaitan dengan studi sebelumnya yang mengkaji kepribadian tokoh melalui pendekatan psikologi, seperti penelitian yang dilakukan oleh Maulidya . terhadap tokoh Euis dalam film Keluarga Cemara dengan menggunakan psikoanalisis Jung dan teori naratif. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Euis memiliki kecenderungan kepribadian introvert, yang terlihat dari kesulitannya dalam beradaptasi serta tindakannya yang merefleksikan ketidaksadaran pribadi dan aspek bayangan diri . Berbeda dengan penelitian tersebut, studi ini tidak hanya berfokus pada satu tokoh dalam satu film, melainkan membandingkan dua versi film 200 Pounds Beauty . ersi Korea dan Indonesi. dengan menggunakan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis orientasi ekstrovert serta introvert pada tokoh utama di kedua film tersebut. Dengan demikian, penelitian ini memperluas cakupan analisis dengan menghadirkan perspektif komparatif guna memahami dinamika psikologis tokoh utama secara lebih mendalam dan kontekstual. Selanjutnya, penelitian oleh Luthfiyyahningtyas, dkk . meneliti standar kecantikan dalam film 200 Pounds Beauty dan menemukan bahwa film tersebut membangun citra kecantikan ideal melalui ciri-ciri fisik seperti kulit putih, hidung mancung, dan bentuk wajah Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini tidak menyoroti aspek fisik, melainkan menganalisis orientasi kepribadian ekstrovert dan introvert tokoh utama menggunakan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung. Dengan demikian, penelitian ini memperluas fokus kajian dari representasi penampilan menuju dinamika psikologis dan kepribadian tokoh utama dalam dua versi film. Terakhir, penelitian oleh Effendi, dkk . berjudul Analisis Kepribadian Ekstrovert Tokoh Utama dalam Novel Ganjil Genap menggunakan teori Jung dan menemukan bahwa tipe ekstrovert pikiran dan ekstrovert perasaan lebih dominan dibandingkan tipe lainnya. Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini tidak hanya menelaah satu orientasi kepribadian, tetapi membandingkan dua orientasi sekaligus ekstrovert dan introvert pada tokoh utama dalam dua versi film 200 Pounds Beauty. Dengan demikian, penelitian ini memperluas fokus analisis dari satu karakter dalam karya sastra menjadi perbandingan dua karakter dalam karya film untuk memahami dinamika psikologis yang lebih kompleks. Dari perbandingan ini, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memberikan kebaruan dalam kajian film 200 Pounds Beauty dengan menerapkan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung untuk menganalisis orientasi kepribadian ekstrovert dan introvert pada dua versi film, yaitu Korea dan Indonesia. Penelitian ini memperkaya pemahaman tentang kepribadian tokoh sekaligus menunjukkan keterkaitan antara dinamika psikologis individu dan konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya. Hasil analisis memperlihatkan bahwa orientasi kepribadian tokoh utama dipengaruhi oleh cara mereka menyesuaikan diri terhadap nilai dan ekspektasi sosial: versi Korea menampilkan dorongan ekstrovert melalui usaha memperoleh pengakuan di tengah budaya yang menekankan pencapaian dan kesempurnaan penampilan, sedangkan versi Indonesia memperlihatkan sisi introvert melalui refleksi diri dan konflik batin ketika perubahan diri berhadapan dengan nilai moral dan kesederhanaan. Dengan demikian, pembentukan Nurul Syafiqoh, dkk. : Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert A 159 identitas tokoh tidak dapat dipisahkan dari interaksi antara kepribadian individu dan nilai-nilai budaya yang membentuk cara mereka memahami dan menampilkan diri. PENUTUP Dari hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa kepribadian tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea dan Indonesia didominasi oleh orientasi ekstrovert yang mendorong mereka untuk mencari pengakuan dan penerimaan sosial melalui transformasi fisik dan penyesuaian terhadap tuntutan lingkungan. Namun demikian, sisi introvert juga berperan penting dalam memperlihatkan pergulatan batin dan proses refleksi diri terhadap makna perubahan serta penerimaan diri yang sejati. Berdasarkan teori psikologi analitik Carl Gustav Jung, keseimbangan antara orientasi ekstrovert dan introvert menjadi kunci dalam mencapai proses individuasi atau kesadaran diri yang utuh. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa harmoni antara kedua orientasi kepribadian tersebut sangat penting bagi pembentukan identitas dan kestabilan psikologis individu. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk meneliti aspek penerapan teori Jung terhadap karakter film lain dengan pendekatan kualitatif agar dapat memberikan gambaran lebih luas tentang dinamika kepribadian tokoh dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA