HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN PENYESUAIAN DIRI MAHASISWA BARU FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG RELATIONSHIP BETWEEN RELIGIOSITY LEVEL AND SELF-ADJUSTMENT OF NEW STUDENTS AT THE FACULTY OF MEDICINE. MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF SEMARANG Noor Yazid1. Rochman Basuki1. Putri Novi Kurniasari2 1 Faculty of Medicine. Muhammadiyah Semarang University. Semarang. Indonesia. 2Student of the Faculty of Medicine. Muhammadiyah Semarang University. Semarang. Indonesia. Corresponding author: putrinovi1234@gmail. KATA KUNCI KEYWORDS ABSTRAK Religiusitas. Penyesuaian Diri. Penyesuaian Akademik. Penyesuaian Sosial. Penyesuaian Personal-Emosional. Kelekatan Institusional Religiosity. Self Adjustment. Academic Adjustment. Social Adjustment. Personal-Emotional Adjustment. Institutional Attachment Latar Belakang: Penyesuaian diri merupakan proses yang mencakup respon perilaku dan mental seseorang, yang dapat mengatasi suatu ketegangan, permasalahan serta putus harapan yang ada pada dirinya. Penyesuaian diri menjadi permasalahan umum yang ditemui pada mahasiswa baru dan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya Religiusitas adalah sebuah keyakinan dan pengalaman seseorang mengenai agama yang dipeluknya. Religiusitas dianggap formal dan institusional karena menunjukkan komitmen terhadap keyakinan dan praktik agama tertentu. Penyesuaian diri meliputi penyesuaian akademik, sosial, personal-emosional, dan kelekatan Tujuan: untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UNIMUS. Metodologi: Penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang terdiri dari religiusitas dan penyesuaian diri. Penelitian ini menggunakan populasi sebanyak 141 responden di Fakultas Kedokteran UNIMUS. Analisis data menggunakan uji rank spearman dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil Penelitian: Terdapat korelasi positif antara religiusitas dengan penyesuaian diri dengan nilai koefisien korelasi 0,504 dan nilai p-value 0,000. Pembahasan: Korteks prefrontal berperan sebagai aktivitas volunter, pengambilan keputusan, kreativitas dan sifat kepribadian, sedangkan emosi seseorang diperankan oleh sistem limbik. Aktivitas sistem limbik diatur oleh Hipotalamus memberikan efek sistemik melalui saraf simpatis dan hormonal. Amigdala berperan sebagai "jendela" sistem limbik dengan dunia luar. Religiusitas melatih prefrontal bagaimana mengontrol emosi seseorang. Kesimpulan: Ada hubungan searah yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri mahasiswa baru Fakultas Kedokteran UNIMUS. ABSTRACT Background: Adjustment is a process that includes a person's behavioral and mental response, which can overcome a tension, problem and hopelessness that exists in him. Adjustment is a common problem encountered in new students and is influenced by several factors, one of which is religiosity. Religiosity is a person's belief and experience regarding the religion he embraces. Religiosity is considered formal and institutional because it is a commitment to certain religious beliefs and Self-adjustment includes academic, social, personalemotional adjustments, and institutional attachments. Purpose: is there a relationship between the level of religiosity and adjustment of new students at the Faculty of Medicine. UNIMUS. Methodology: Analytical research with a cross sectional. The instrument used was a questionnaire of religiosity and self-adjustment. This research used a population of 141 respondents at the Faculty of Medicine. UNIMUS. Analysis used the rank-Spearman test with a 95% confidence level. Research Results: The relationship between religiosity and selfadjustment with a correlation coefficient of 0. 504 and a p-value of 0. Discussion: Prefrontal cortex plays a role in voluntary activity, decision making, creativity and personality traits, while a person's emotions are played by the limbic system. Activity of the limbic system is regulated by the hypothalamus. The hypothalamus exerts systemic effects via sympathetic and hormonal nerves. The amygdala acts as a limbic system "window" to the outside world. Religiosity trains prefrontal how to control emotions. Conclusion: There is a significant unidirectional relationship between the level of religiosity and the adjustment of new students at the UNIMUS Faculty of Medicine. PENDAHULUAN Mahasiswa merupakan masa remaja di rentang usia 18-25 tahun (Nadzir dkk, 2. yang belajar di jenjang Perguruan Tinggi (Zamrodah, 2. Mahasiswa di masa ini memiliki tanggung jawab terhadap masa perkembangannya termasuk pula kehidupannya sendiri (Nadzir dkk, 2. Pada menjadikan kendala seperti adanya tugas perkembangan (Sagita dkk. Tidak perkembangan, tetapi mahasiswa baru menghadapi kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sehingga menyebabkan mahasiswa baru terkena dampak buruk seperti merasa kurang percaya diri dengan kemampuannya dan masalah kesehatan yang menurun (Rosiana, 2. Penyesuaian diri . adalah proses yang mencakup respon perilaku permasalahan serta putus harapan yang ada pada dirinya (Rubio, 2. Permasalahan yang sering muncul penyesuaian diri (Iflah dkk, 2. Awal tahun memasuki perkuliahan seringkali disebut sebagai masa paling sulit untuk mahasiswa, sebab mereka di masa ini akan menghadapi situasi baru, antara lain teman baru dari daerah berbeda, materi perkuliahan yang lebih sulit, metode pembelajaran yang tidak selaras di SMA, serta sistem perkuliahan yang berbeda (Rahayu dkk, 2. Dari penelitian sebelumnya, dilakukan pengukuran dengan menggunakan skala penyesuaian diri mahasiswa. Skala tersebut terdiri dari subskala personalemosional, dan sosial. Penjabaran dari kategorisasi data bahwa mayoritas mahasiswa baru memiliki tingkat penyesuaian sedang hingga tinggi di semua subskala. Namun masih terdapat mahasiswa dengan tingkat penyesuaian rendah, antara lain . ,38%), personal-emosional . ,42%), penyesuaian sosial . ,69%), dan . ,98%) (Rahayu dkk, 2. Penyesuaian diri ini merupakan mengelola keilmuan, psikologis, dan tantangan sosial pada saat mengalami transisi menuju kehidupan perkuliahan (Anderson dkk, 2. Cara seseorang mencoba untuk mengatasi stress, permasalahan, dan ketegangan adalah melalui proses penyesuaian diri (Julia dkk, 2. Pada mahasiswa baru terdapat penurunan sikap seperti menunjukan tingkah laku negatif dan perilaku acuh tak acuh terhadap kaidah agama (Rijal. Sesuai. dengan firman Allah SWT. dalam Q. S Al-Isra ayat 15. AaeO aII oon aEIa eAaN e aO eNaaO Aa aIac aI eN a O a aIIA AEA a ca AE Aa aIac aIA a no Aa aa aO aEA a aAEa eO aN acOA Aa aIa aaOeI aEIac aO aI on a e O aaO e aUO a aA AacOA AaIa e aA A eOEA a AaUA AuBarangsiapa berbuat sesuai dengan petunjuk (Alla. , maka sesungguhnya itu untuk . dirinya sendiri. barangsiapa tersesat maka sesungguhnya . itu bagi dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasulAy. Agama Religiusitas tidak mungkin dipisahkan dari agama, sebab agama suatu lembaga yang mengatur tata cara ibadah manusia kepada Allah swt. sementara religiusitas adalah kualitas dari umat beragama (Widayat dkk. Religiusitas pengetahuan, serta keyakinan individu tentang agama yang dianut, dan ketaatannya terhadap ibadah sebagai sarana untuk menghayati agama dan menjadikan pandangan hidup (Sagita Religiusitas dianggap formal dan institusional karena menunjukkan komitmen terhadap keyakinan dan praktik agama tertentu (Amir dkk, 2. Dari segi religiusitas, terdapat lima dimensi yaitu dimensi perasaan, dan konsekuensial (Indrayati dkk, 2019. Sagita dkk, 2. Universitas Muhammadiyah Semarang mempunyai program studi yaitu Fakultas Kedokteran. Berdasarkan data mendapatkan bahwa nilai rata-rata IPK angkatan 2021 semester pertama 2,71. Angka menunjukan bahwa IPK tersebut kurang memuaskan. Berdasarkan hasil mahasiswa angkatan 2021 untuk menjadi kendala dalam mencapai IPK yang memuaskan. Dari wawancara tersebut diketahui beberapa hal. Salah satunya adalah berkaitan dengan aspek sosial yaitu merasa sulit beradaptasi dengan teman baru . urang membau. , takut mengikuti organisasi mahasiswa, dan masalah interaksi dengan tetangga tempat tinggal baru. Dari aspek personal-emosional yaitu masalah adaptasi jauh dari orang tua karena faktor jarak. Dari aspek kelekatan institusional yaitu gagalnya ketika mendaftar universitas yang lain dan keterpaksaan dalam memilih jurusan karena kehendak orang tua. Di sisi lain, berdasarkan data dari LSIK (Lembaga Studi Islam Kemuhammadiyaha. nilai ujian praktek sholat pada program mentoring agama islam tahun 2021, nilai rata-rata mahasiswa angkatan 2021 FK Unimus sebanyak 75,6. Dari 144 mahasiswa 20% . memiliki nilai di bawah standar. Hasil tersebut menjadikan peneliti tertarik untuk menilai lebih dalam tentang mahasiswa FK UNIMUS angkatan Serta peneliti tertarik untuk meneliti apakah terdapat hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengkaji mengenai hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. METODOLOGI Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh yaitu data kuesioner yang terdiri dari religiusitas dan penyesuaian diri. Penelitian ini menggunakan populasi sebanyak 141 responden dan pengambilan sampel di Fakultas Kedokteran UNIMUS. Analisis data menggunakan uji rank spearman dengan tingkat kepercayaan HASIL Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 141 responden. Tabel 1. Distribusi, frekuensi, dan persentase tingkat religiusitas Tingkat religiusitas Frekuensi Presentase (%) Tidak religius Religius Sangat Religius Total Berdasarkan tabel 1 hasil yang diperoleh, terdapat 141 responden, sebanyak 73 responden . ,8%) religius dan sebanyak 68 responden . ,2%) sangat religius. Tabel 2. Distribusi, frekuensi, dan persentase penyesuaian diri Penyesuaian diri Frekuensi Presentase (%) Rendah Sedang Tinggi Total Berdasarkan tabel 2 hasil yang diperoleh, terdapat 141 responden, . %) mengalami penyesuaian diri rendah, sebanyak 94 responden . ,7%) mengalami penyesuaian diri sedang dan sebanyak 23 responden . ,3%) mengalami penyesuaian diri tinggi. Tabel 3. Uji korelasi rank-spearman Penyesuaian diri Religius Dari tabel 3 hasil uji rank spearman, hubungan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri diperoleh nilai koefisien korelasi 0,504 yang menunjukkan hubungan yang kuat. Selain itu pada koefisien korelasi menunjukkan hasil positif yang memiliki arti arah hubungan yang Dari hasil analisis juga menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri. PEMBAHASAN Berdasarkan didapatkan nilai koefisien korelasi 0,504 antara variabel yang diamati. Hal ini menunjukkan religiusitas memiliki penyesuaian diri. Selain itu pada koefisien korelasi menunjukkan hasil hubungan yang searah. Artinya, apabila nilai religiusitas tinggi maka nilai penyesuaian diri tinggi. Untuk menilai hubungan kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan atau tidak dapat dilihat dari hasil analisis nilai p-value sebesar 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri. Hasil ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang Koefisien p-value 0,504 0,000 dilakukan Sulistyani dkk. pada mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Hasil signifikan antara penyesuaian diri dengan religiusitas mahasiswa awal (Sulistyani dkk, 2. Secara teoritis, untuk meningkatkan penyesuaian diri perlu ditanamkan nilai-nilai tentang pentingnya sikap religiusitas dalam kehidupan seharihari. Ketika kekuatan religiositas yang baik ada pada diri seseorang, hal itu penyesuaian diri seseorang. Jadi semakin tinggi nilai religiositas maka semakin baik tingkat penyesuaiannya. Sebaliknya, religiositas, semakin rendah tingkat penyesuaiannya (Ali, 2. Menurut teori buku fisiologi Sherwood, seluruh rangsangan stressor seseorang akan diproses oleh area asosiasi korteks prefrontal yang berperan sebagai fungsi saraf paling tinggi. Peran yang aktivitas volunter . , pengambilan keputusan, kreativitas dan sifat Korteks memiliki hubungan dua arah dengan sistem limbik melalui perantara cincin korteks limbik. Cincin korteks limbik terdiri dari korteks orbitofrontal, gyrus subcallosal, gyrus cingulata, gyrus parahippocampal dan uncus (Sherwood. Dari gambar 1 dapat dilihat bahwa sistem limbik merupakan kumpulan dari struktur-struktur yaitu korteks serebri . orteks asosiasi limbi. , ganglia basal, thalamus, dan semua itu atas kendali hypothalamus. Sistem ini, menjalankan peran dalam emosi, seseorang (Sherwood, 2. Gambar 1. Sistem Limbik Amigdala yang merupakan bagian dari nukleus basal juga memiliki peran penting dalam mengatur emosi Amigdala menerima sinyal dari bagian korteks limbik dan juga korteks serebri yang lain . eokorteks lobus temporalis, parietalis, occipitali. sehingga amigdala disebut sebagai AujendelaAy sistem limbik untuk melihat kedudukan seseorang di dunia. Sebaliknya amigdala juga menyalurkan sinyal ke korteks-korteks tersebut, ke Selanjutnya hypothalamus memberikan efek ke sistemik (Hall, 2. Dalam ilmu fisiologi, dalam keadaan tertekan maka otak akan memberikan respon alami yaitu fight . dan flight . enghindar atau lar. dengan Respon ini akan dimulai di amigdala, bagian otak yang berperan dalam mengenali tanda bahaya (Pudjono, 1. Amigdala mengirim Hypothalamus memiliki dua jalur untuk memberikan dampak sistemik, yaitu melalui sistem saraf simpatis menuju ke medula kelenjar adrenal dan juga melalui hormon ke hypophysis. Jalur pertama mengirimkan sinyal melalui sistem saraf simpatis ke medula kelenjar Adrenaline inilah yang meningkat, napas dangkal dan lainlain. Semua hal di atas disebut respon stress pada tubuh (Sherwood, 2. Jalur kedua lebih lambat karena Hipotalamus corticotropic releasing hormone (CRH) dan akan menstimulasi glandula pituitary untuk menghasilkan hormon ACTH . drenocorticotrophic hormon. ACTH menstimulasi korteks kelenjar adrenal untuk melepaskan kortisol ke dalam aliran darah. Kortisol mempengaruhi mengakibatkan glukosa dalam darah meningkat. Selanjutnya glukosa akan didistribusikan ke bagian tubuh yang akan memerlukan energi ekstra. Kortisol juga meningkatkan kerja dari adrenaline, baik dalam darah . drenaline sebagai neurotransmitte. Dampaknya respon sistemik akan lebih meningkat dan aktivitas sinyal di sistem limbik akan semakin meningkat dan kacau sehingga mengakibatkan mengendalikan emosinya, yang ini berarti penyesuaian diri seseorang (Sherwood, 2009. Pudjono, 1. Berdasarkan teori fisiologi pada buku Guyton, semua aktivitas perilaku neurohormonal . dalam Neurohormonal tersebut terdiri dari sistem norepinefrin, serotonin dan Sistem norepinefrin berfungsi sebagai hormon eksitasi dan dapat menyebar di setiap otak, sistem serotonine sebagai inhibisi dan di arahkan ke regio ganglia basal khususnya ke struktur garis tengah, sedangkan dopamine bersifat eksitasi pada beberapa area otak dan inhibisi pada area lain dan di arahkan ke regio ganglia basal (Hall, 2. Nuclei raphe menghasilkan serotonine, berasal dari bagian tengah pons dan medula oblongata yang di dalamnya terdapat beberapa nuclei tipis. Nuclei raphe mengirimkan akson-aksonnya ke sistem limbik yang berfungsi sebagai modulasi suasana hati dan perasaan sebagai neurotransmitter. Selain itu, akson nuclei raphe juga dalam jumlah sedikit mengirimkan ke korteks serebri (Hall, 2. Dimana salah satu fungsi dari korteks serebri adalah sebagai pusat intelegensia seseorang. Berdasarkan teori Daniel Goleman, ia menggunakan istilah amygdala hijack . embajakan amigdal. untuk mendeskripsikan emosional seseorang di luar kewajaran stimulus seharusnya. Amygdala rangsangan masuk melalui thalamus langsung di kirim ke amigdala dan rangsangan lainnya ke neokorteks. Bila rangsangan yang cocok . engalaman buruk yang terekam di dalam pertahanan diri dari ancaman amigdala akan memicu HPA . ypothalamus, pituitary, adrena. aksis dan membajak otak rasional. Namun apabila amigdala tidak menemukan kecocokan, maka tindakan yang berlaku ialah yang sesuai dengan perintah neokorteks. Semua itu tergantung dari bagaimana neokorteks belajar mengendalikan emosi (Goleman, 2. Penyesuaian personal-emosional dan kelekatan merupakan aktivitas dari sistem limbik dan korteks serebri . rea prefronta. Seseorang dengan religiusitas tinggi mengendalikan emosi yang positif pada area prefrontal sehingga memiliki kemampuan mengendalikan amigdala. Hal tersebut mengakibatkan tidak akan terjadi amigdala hijack . embajakan amigdal. sehingga emosi seseorang dapat terkontrol. Disisi lain, seseorang dalam keadaan tenang, tentram, khusyuk dapat meningkatkan sekresi neuro-transmitter . eurohormone bahagi. oleh nuclei Nuclei raphe akan mengirimkan neurotransmitter ke sistem limbik dan korteks serebri. Sehingga, dalam mempengaruhi KESIMPULAN Ada hubungan kuat dan searah antara religiusitas dengan penyesuaian diri mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang. SARAN Kepada peneliti selanjutnya, dapat memberikan atau meneliti dengan menambahkan variabel-variabel lain dan mendalami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi religiusitas dan penyesuaian diri. UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian skripsi ini. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada Dekan. Kaprodi. Pembimbing. Dosen Fakultas Kedokteran UNIMUS serta keluarga dan teman-teman peneliti. DAFTAR PUSTAKA