Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 1, 2025, pp. 08 Ae 15 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Efektivitas Pemberian Video Edukasi Tentang Sasaran Keselamatan Pasien : Identifikasi Pasien Dengan Benar Terhadap Pengetahuan Perawat di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda Nur Rahima1a. Enok Sureskiarti1b. Rini Ernawati1c Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Indonesia nrrhma18@gmail. es202@umkt. re840@umkt. HIGHLIGHTS A Efektivitas pemberian video edukasi tentang sasaran keselamatan pasien pada perawat ARTICLE INFO Article history Received date Des 08th 2025 Revised date Jan 28th 2025 Accepted date Feb 15th 2025 Keywords: Keselamatan pasien Identifikasi pasien Pengetahuan perawat Video edukasi ABSTRACT/ABSTRAK Accurate patient identification is a primary component of patient safety goals within healthcare settings. Failure to consistently implement this standard can lead to preventable incidents and adverse outcomes. Typically, the six patient safety goals (PSG. are only fully addressed after an unexpected incident has occurred. Additionally, patient medical records are still found to be incomplete, which can indicate a weak implementation of the patient safety system. This study aims to determine the knowledge of nurses at Abdoel Moeis Hospital in Samarinda before and after the provision of educational videos. This research will be conducted using a quasi-experimental design with a one-group pretest-posttest design and the Wilcoxon signed-rank test. The results show a significant increase in nurses' knowledge . < 0. , indicating the effectiveness of providing educational videos on patient safety goals: correctly identifying patients at Abdoel Moeis Hospital in Samarinda. Copyright A 2025 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Nur Rahima Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Jl. Ir. Juanda No. Sidodadi. Samarinda Ulu. Samarinda. Email: nrrhma18@gmail. PENDAHULUAN Rumah Sakit salah satu institusi pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam menjaga, merawat, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai fasilitas kesehatan tingkat lanjut, rumah sakit bertanggung jawab tidak hanya dalam memberikan pelayanan kuratif, tetapi juga promotif, preventif, dan rehabilitatif. Dalam pelaksanaannya, rumah sakit dituntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan aman bagi pasien. Salah satu indikator utama mutu pelayanan kesehatan adalah keselamatan pasien. Keselamatan pasien mencakup upaya sistematis dalam mencegah Page . terjadinya cedera atau kerugian yang tidak disengaja selama proses pelayanan kesehatan berlangsung. Pada tahun 2004. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan studi terhadap fasilitas kesehatan di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Inggris. Denmark, dan Australia. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa insiden yang tidak diharapkan . dverse event. terjadi dalam rentang 3,2% hingga 16,5% dari total pelayanan kesehatan yang diberikan. Temuan ini menjadi perhatian global dan mendorong negara-negara tersebut untuk melakukan penelitian lebih lanjut serta mengembangkan sistem keselamatan pasien. Upaya ini dilakukan untuk mengurangi risiko kesalahan medis dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara menyeluruh (Tri Puji Astuti, 2. Di Indonesia, data Insiden Keselamatan Pasien (IKP) pada tahun 2019 menunjukkan tingkat kejadian tertinggi terjadi di Provinsi Bali sebesar 38%, diikuti oleh DKI Jakarta sebesar 24%. Jawa Tengah 18,9%. Kalimantan Timur 15%. Nusa Tenggara Timur 14%, dan Sulawesi Selatan sebesar 9%. Salah satu bentuk insiden yang cukup menonjol adalah medication error . esalahan pemberian oba. , yang dilaporkan mencapai 5,4% pada periode Januari hingga Maret 2018. Penyebab utama dari kejadian tersebut adalah kelalaian perawat dalam melakukan proses identifikasi pasien sebelum tindakan medis (Riris Andriati. Rita Dwi Pratiwi. Santi Mairiza, 2. Tahun 2020. Lembaga Kesehatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Rantuprapat menginformasikan bahwa terjadi 18% kesalahan pengenalan identitas pasien, 2% kurangnya efektivitas komunikasi yang mengakibatkan kesalahan dalam penggunaan obat, dan 10% disebabkan oleh ketidakjalanan prosedur (Simamora et al. , 2. Hasil wawancara terstruktur yang dilakukan pada tanggal 11 Juli 2023 dengan kepala ruangan dan dua orang perawat di Ruang Karang Asam menunjukkan bahwa implementasi standar operasional terkait sasaran keselamatan pasien belum berjalan Validasi melalui komunikasi daring menunjukkan bahwa pengulangan enam sasaran keselamatan pasien tidak selalu dilakukan secara konsisten dalam operan shift. Umumnya, hanya terdapat pengingat antar perawat terkait tindakan tertentu, seperti pemasangan pagar tempat tidur, identifikasi pasien, serta pelaporan kondisi pasien kepada dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP). Enam sasaran keselamatan pasien baru disampaikan secara lengkap ketika telah terjadi insiden yang tidak Selain itu, pencatatan rekam medis pasien juga masih ditemukan belum lengkap, yang dapat menjadi indikator lemahnya penerapan sistem keselamatan pasien. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan, kebijakan, dan praktik di lapangan dalam penerapan sasaran keselamatan pasien, khususnya di Ruang Karang Asam. Hal ini menunjukkan pentingnya evaluasi dan peningkatan mutu secara berkelanjutan dalam implementasi standar keselamatan pasien untuk menjamin kualitas pelayanan dan perlindungan terhadap pasien. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilaksanakan di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda pada dimulai bulan Desember 2023. Desain penelitian yang digunakan yaitu Quasi Experimental Design dengan One Group Pretest-Posttest Design. Rancangan ini untuk mengetahui efektivitas pemberian video edukasi tentang sasaran keselamatan pasien : identifikasi pasien dengan benar terhadap pengetahuan perawat di RSUD Abdoel Moeis Samarinda. Peneliti ingin memperoleh hasil yang akurat melalui beberapa tes, yakni pretest . ebelum perlakua. dan posttest . esudah perlakua. berupa video edukasi dengan durasi kurang lebih 10 menit. Populasi penelitian ini berjumlah 35 perawat di ruang rawat inap ruang Karang Asam RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Dilakukan perhitungan sampel dengan menggunakan rumus uji normalitas berdasarkan pendapat (Suci Noor Hayati et Page . , 2. yang menyatakan bahwa apabila populasi kurang dari 50 menggunakan metode shapiro-wilk dan jika lebih dari 50 metode kolmogorov-smirnov untuk menilai normalitas data berdasarkan pertimbangan tersebut. Sehingga, didapatkan hasilbesaran sampel sebanyak 33 perawat dan dilakukan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling, maka peneliti memiliki kriteria inklusi dan eksklusi yang diinginkan. HASIL Tabel 1. Distribusi Responden . Karakteristik Usia 23-30 Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Pendidikan Terakhir D3 Keperawatan D4 Keperawatan S1 Keperawatan S1 Ners Total Masa Kerja <1 Tahun 1-5 Tahun 6-10 Tahun 11-15 Tahun 16-20 Tahun Total Mengikuti Sosialisasi Keselamatan Pasien Pernah Belum Pernah Total Sumber Informasi Keselamatan Pasien Media Elektronik . martphone, compute. Media Cetak . uku, jurnal. SOP) Pelatihan Teman Sejawat Tidak Tahu Total Frekuensi . Presentase (%) Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden berusia 31-40 tahun 17 responden . 0%), perempuan 26 responden . 8%), memiliki tingkat Pendidikan D3 25 responden . 8%), dan masa kerja perawat rata-rata 1-5 tahun sebanyak 15 responden . 5%). Berdasarkan kategori yang mengikuti sosialisasi keselamatan pasien mayoritas pernah mengikuti sosialisasi sebanyak 28 respondeen . 8%) dan sumber infromasi yang didapatkan paling banyak 21 responden . yaitu media elektronik . martphone/compute. Page . Tabel 2. Distribusi frekuensi pengetahuan perawat sebelum dan sesudah pemberian video edukasi Kuesioner Pre-test Post-test Frequency Mean Median Max Min Pada tabel di atas diperoleh hasil, nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan video edukasi adalah 7. 42 dan sesudah pemberian video edukasi Std. Deviation sebelum pemberian video edukasi sebanyak 751 dan Std. Deviation setelah pemberian video edukasi adalah 331. Tabel 3 Hasil Kuesioner Pre-Test dan Post-Test Efektivitas Pemberian Video Edukasi Pengetahuan Sebelum Intervensi . Pengetahuan Sesudah Intervensi . Media (Minimum-Maximu. P-Value Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil p-value 0,001 karena nilai p < . maka Ha diterima dan Ho ditolak. Kesimpulan ini menunjukkan adanya efektivitas pemberian video edukasi tentang sasaran keselamatan pasien: identifikasi pasien dengan benar, baik sebelum maupun sesudah diberikan intervensi terhadap pengetahuan perawat di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. PEMBAHASAN Jenis Kelamin Berdasarkan temuan dari penelitian ini, sebagian besar partisipan adalah perempuan dengan jumlah 26 responden . ,8%), sementara jumlah responden laki-laki sebanyak 26 orang . ,8%). Sejalan dengan temuan oleh (Farisia, 2. yang menunjukkan mayoritas responden perempuan sebanyak 63 . ,3%). Menurut hasil penelitian ini, perempuan diakui memiliki naluri yang signifikan dalam merawat diri dan memperhatikan kesehatan mereka. Peneliti berasumsi bahwa perempuan cenderung memilki perhatian yang lebih besar, sepertu sifat keibuan dan lebih teliti serta cekatan dalam melaksanakan Tindakan dibandingkan dengan laki-laki. Usia Hasil penelitian menunjukkan Sebagian besar perawat berusia 31-40 tahun dengan 17 responden . ,0%). Penelitian menyiratkan bahwa seiring bertambahnya usia, khususnya pada rentang usia 31-40 tahun, terdapat perbedaan dalam evolusi pola pikir seseorang, fisik dan skill yang kuat sehingga mampu bekerja dengan cepat sehingga hasil yang didapatkan meningkat. Pendidikan Terakhir Hasil penelitian pendidikan terakhir responden memilii Pendidikan terakhir D3 Keperawatan mencapai 25 perawat . ,8%). Temuan ini sejalan dengan penelitian Hia . yang menunjukkan mayoritas responden dengan tingkat pendidikan D3 mencapai 21 orang . ,4%) sedangkan perawat yang memiliki Pendidikan S1 berjumlah 8 orang . ,6%). Perawat berpendidikan D3 tersebar di berbagai ruangan di Rumah Sakit, sementara jumlah perawat lulusan S1 dan S1 Ners masih tergolong sedikit. Terkait dengan hal tersebut. Renoningsih dan rekan-rekannya pada tahun 2016 melaporkan bahwa 53 perawat yang telah menyelesaikan Page . pendidikan tingkat sarjana (S. menunjukkan tingkat penerapan keselamatan pasien yang positif. Peneliti berasumsi bahwa jumlah perawat dengan latar belakang pendidikan D3 lebih tinggi karena lebih menekankan pada pengalaman praktis lapangan dari pada teori, sehingga mereka memiliki kerterampilan yang lebih unggul dibandingkan dengan perawat berpendidikan S1 Keperawatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang perawat, semakin meningkat pula tingkat pengetahuan yang dimilikinya. Hal ini dapat mencerminkan kemampuan perawat dalam mengimplementasikan prinsip keselamatan pasien. Masa Kerja Mayoritas responden memiliki pengalaman kerja antara 1 hingga 5 tahun, yang mencakup 15 responden atau sekitar 45,5% dari total. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Fradini Wandira. Andoko, 2. yang mencatat bahwa 70,6% dari 17 responden dicatat memiliki pengalaman kerja kurang dari 5 tahun. Menurut (Nuryanti et al. , 2. Lama pengalaman seorang perawat memiliki dampak besar terhadap kinerja mereka di ruang perawatan. Semakin bertambahnya masa kerja seorang perawat di rumah sakit, semakin banyak pengalaman yang ia peroleh. Perawat yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di rumah sakit memiliki perspektif yang berbeda dari mereka yang baru bergabung. Pengalaman yang panjang membentuk pola pikir mereka menjadi lebih matang, dan kinerjanya menjadi semakin unggul seiring berjalannya waktu. Mengikuti Sosialisasi Keselamatan Pasien Penelitian mengungkapkan bahwa hampir semua perawat, yakni 28 dari 33 responden . ,8%), telah mengambil bagian dalam sosialisasi keselamatan Hasil penelitian ini sesuai dengan temuan dalam penelitian yang dilakukan oleh (Ito, 2. dan (Diyah Arini. Christina Yuliastuti, 2. di mana hamper semua responden, sebanyak 62 orang . ,9%) pernah mengikuti sosialisasi keselamatan pasien, sedangkan hanya 2 orang responden . ,1%) yang tidak pernah mengikuti sosialisasi keselamatan pasien. Temuan ini sejalan dengan (Tunny & Tauran, 2. yang menekankan pentingnya sosialisasi dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampian perawat dalam keselamatan pasien. Dapat disimpulkan oleh peneliti bahwa partisipasi seorang perawat dalam pelatihan atau sosialisasi mengenai keselamatan pasien dapat meningkatkan keterampilannya dalam mengimplentasikan langkah-langkah keselamatan pasien. Sebanyak 21 orang responden, atau sekitar 63,6% dari keseluruhan responden mendapatkan informasi keselamatan pasien dari Media Elektronik . Video dianggap sebagai medium elektronik yang efisien dalam menyampaikan informasi, sejalan dengan pandangan menurut (Yudianto. dalam (Suci Noor Hayati et al. , 2. Menurut (Mamin et al. , 2. Video memiliki kemampuan untuk menarik 94% dari saluran masuk pesan atau informasi ke dalam pikiran manusia melalui penggunaan mata dan telinga, sementara mampu mempertahankan 50% dari apa yang dipelajari dari kombinasi visual dan audio dalam video. Peneliti menyimpulkan bahwa informasi yang diperoleh dari sumber elektronik dapat mempengaruhi perilaku perawat dalam menerapan keselamatan pasien terutama pada identifikasi pasien dengan benar. Tingkat Pengetahuan Perawat Sebelum dan Sesudah Pemberian Video Edukasi Pengetahuan perawat di Ruang Karang Asam yang berjumlah 33 perawat sebelum diberikan video edukasi mendapatkan nilai rata-rata sebesar 7,42 . ,75%) dengan std deviation 751 dan sesudah diberikan video edukasi rata-rata 88 . ,5%) dengan std deviation 331 dengan selisih antara pre-test dan Page . post-test 5,7% dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan rata-rata perawat mengeni identifikasi pasien dengan benar dapat dianggap AubaikAy. Hal ini mengindikasikan bahwa, peningkatan yang relatif kecil mungkin disebakan oleh perawat di Ruang Karang Asam RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda telah mengikuti pelatihan 6 SKP sebelumnya. Teori pengetahuan perawat yang mencakup pemahaman (Kno. , di mana perawat mengingat materi yang telah dipelajari sebelumnya, penerapan pengetahuan tersebut minimal melibatkkan setidaknya dua informasi dari pasien, seperti rekam medis, gelang identitas atau papan identitas di depan pintu kamar/tempat tidur. Selain itu perawat setidaknya memeriksa habwa setiap pasien menerima pengobatan dan perawatan yang sesuai (Farisia, 2. Pada perhitungan pre-test dan post-test tentang kejadian tidak diharapkan dengan 4 pertanyaan kuesioner didapatkan hasil rata-rata nilai pre-test sebesar 3,52 dengan standar deviasi . 667 dan rata-rata nilai post-test sebesar 3,82 . %) dengan standar deviasi . Dengan selisih antara pre-test dan post-test 7,5%. Artinya ada peningkatan pengetahuan perawat tentang sasaran kejadian tidak diharapkan sebelum dan sesudah diberikan intervensi sebesar 7,5%. Begitu pula dengan pengetahuan tentang kejadian tidak diharapkan, responden berpengetahuan AubaikAy pada pretest dan posttest dengan nilai 88% dan 95,5%. Peningkatan yang relatif kecil mungkin disebabkan oleh data bahwa sebagian yaitu 28 besar perawat di Ruang Karang Asam RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda telah mengikuti pelatihan keselamatan pasien sebelumnya dan mendapatkan informasi melalui berbagai sumber termasuk media elektronik. Efektivitas Pemberian Video Edukasi Tentang sasaran Keselamatan Pasien : Identifikasi Pasien dengan Benar Terhadap Pengetahuan Perawat di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda Pada penelitian ini,hasil yang diperoleh dari 33 responden bahwa terdapat perbedaan pre dan post intervensi pemberian video edukasi terhadap pengetahuan perawat, dimana nilai mean rank pre intervensi yaitu 7. 42 dan sesudah pemberian intervensi video edukasi tentang sasaran keselamatan pasien : identifikasi pasien dengna benar terhadap pengetahuan perawat maka dilakukan uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon yang memperoleh hasil dilihat dari p-value 0,001 dan nilai p < ( = 0. , maka Ha diterima sementara Ho ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan responden sebelum dan sesudah diberikan video edukasi tetntang sasaran keselamatan pasien : identifikasi pasien dengan benar terdapat peningkatan rata-rata pengetahuan responden. Sehingga terdapat pengaruh yang signifikan terhadap sebelum pemberian video edukasi dan sesudah diberikan video edukasi. Temuan ini sejalan dengan yang dilakukan oleh penelitian (Rini Ernawati. Ferry Fadzlul Rahman. Siti Khoiroh M. Dwi Rahmah F. Milkhatun. Jovi Sulistiawan, 2. yang menunjukkan pengaruh positif media audiovisual berbasis web terhadap pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang anak dengan perbedaan skor pre-test dan post-test pada kelompok intervensi dengan p-value = 0,000. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Begitu juga penelitian (Mira Utaimi Ningsih, 2. dan penelitian milik (Ningsih, 2. yang menggambarkan peningkatan keterampilan responden setelah pemberian video edukasi dengan p = 0. Selain itu, hasil penelitian (Avelina & Pora, 2. menggunakan uji McNemar juga menunjukan bahwa efektivitas video edukatif dengan nilai 000 dalam meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam komunikasi terapeutik pasien gangguan jiwa. Temua ini serupa juga ditemukan dalam penelitian (Fitriana, 2. hasil penelitian menunjukkan p-value 0. 000 dengan judul penggunaan video animasi sebagai sarana edukasi terhadap pengetahuan Page . dan sikap kader posyandu dalam deteksi resiko stunting dengan nilai rata Ae rata pengetahuan sebelum diberikan edukasi 11,33 dan setelah diberikan edukasi 12,63 dengan standar deviasi sebelum diberikan edukasi 1,655 dan setelah diberikan edukasi 1,066. Penelitian Wiwin Herwina . yang menyoroti peningkatan pengetahuan melalui video animasi dan peningkatan daya imajinasi melalui medium visual khususnya video edukasi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa video edukasi memiliki dampak besar dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman responden, mendukung asumsi bahwa penggunaan video edukasi merupakan metode yang efektif pada era revolusi industri 4. 0, yang ditandai oleh kemajuan teknologi internet. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa video edukasi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menampilkan video edukasi, animasi dan lain sebagainya, karena video edukasi sendiri memiliki keuntungan sangat mudah untuk diakses, memiliki gambar yang menarik, audio dan disertakan dengan tulisan yang sangat memudahkan seseorang untuk menonton diwaktu bekerja maupun waktu luang KESIMPULAN Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian video edukasi tentang Sasaran Keselamatan Pasien, khususnya pada aspek "identifikasi pasien dengan benar", efektif dalam meningkatkan pengetahuan perawat di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Hal ini ditunjukkan melalui hasil uji statistik yang menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai pre-test dan post-test, dengan nilai p-value sebesar 0,001 ( = 0,. , yang berarti Ha diterima. Dengan demikian, intervensi berupa video edukasi terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman perawat mengenai pentingnya identifikasi pasien yang tepat serta pengetahuan tentang kejadian tidak diharapkan . nexpected event. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar dilakukan pada populasi yang lebih luas dengan melibatkan kelompok kontrol guna memperkuat validitas hasil. Selain itu, pengembangan media edukasi berbasis audiovisual dapat menjadi strategi berkelanjutan dalam meningkatkan kompetensi perawat dalam menerapkan Sasaran Keselamatan Pasien secara menyeluruh di berbagai fasilitas layanan kesehatan. DAFTAR PUSTAKA