Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 05 No. 02 (June 2. 90 Ae 109 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Pembentukkan Spiritualitas Tantangan Sekularisasi Keluarga Menghadapi Slamet Triadi. Edward Sitepu. Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus Bandung, slamettriadi68@gmail. Turabian 8th edition . ull not. Triadi and Sitepu. AiPembentukkan Spiritualitas Keluarga dalam Menghadapi Tantangan Sekularisasi. An Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 5, no. 2 (Oktober 03, 2. : 90-109, accessed Oktober 03, 2025, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Triadi & Sitepu, 2025, p. Received: 14 Agustus 2025 Accepted: 19 September 2025 Published: 03 Oktober 2025 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact slamettriadi68@gmail. Slamet Triadi. Edward Sitepu Abstract The formation of spirituality within the family can be disrupted by the presence of new One of the unavoidable challenges is secularism. This article directs readers to the obligation of proclaiming the works of God that extend from the people of Israel to other Using a qualitative-descriptive method and a theological-pastoral approach, this study explores Psalm 96:3. The Psalmist calls GodAos people to the vocation of spreading the good news about the Lord to all people, regardless of geographical, cultural, or national The findings show that Psalm 96:3 guides the nations toward the light of ChristAithrough His birth in the family. His incarnate life. His suffering and death, and His resurrection as Lord and King above all kings. Keywords: challenges, spirituality, secularism, family Abstrak Pembentukan spiritualitas dalam keluarga dapat terganggu oleh hadirnya nilai-nilai yang Salah satu yang tidak terhindarkan adalah sekularisme. Artikel ini mengarahkan pembaca untuk berkewajiban menceritakan perbuatan Allah yang meluas dari bangsa Israel ke bangsa-bangsa lain. Dengan metode kualitatif-deskriptif dan pendekatan teologis-pastoral, penelitian ini mengeksplorasi masmur 96:3. Pemasmur mengajak umat-Nya dalam panggilan untuk menyebarkan kabar baik tentang Tuhan kepada semua orang, tanpa memandang batasan geografi, budaya, atau bangsa. Hasil kajiannya Mazmur 96:3 menuntun bangsabangsa kepada terang Kristus baik dalam kelahiran-Nya di tengah keluarga, dalam kehidupan inkarnasi-Nya, penderitaan hingga wafat-Nya dan kebangkitan-Nya menjadi Tuhan dan Raja di atas segala raja. Kata kunci: tantangan, spirituliats, sekularisme, keluarga PENDAHULUAN Dinamika orientasi dan praksis hidup kerap terganggu oleh hadirnya nilai-nilai baru yang Pertentangan antara ortodoksi dan sekularisasi merupakan realitas yang tidak terhindarkan (Taylor, 2007, p. Fenomena benturan nilai yang terpolarisasi ini beresonansi langsung terhadap kehidupan keluarga dan spiritualitas. Upaya menafsir perlawanan terhadap sekularisasi dalam keluarga yang beribadah kepada Allah YHWH di dalam Tuhan Yesus Kristus perlu berakar pada esensi spiritualitas yang sejati. Mazmur 96:3 menghadirkan ajakan agar umat Allah memberitakan keajaiban Allah kepada segala bangsa. Basis pemberitaan ini berpusat pada pribadi Allah sendiri dan menjadi fondasi integrasi spiritualitas dalam menghadapi tantangan sekularitas (Wright, 2006, p. Kerangka teks ini mengarahkan pembaca kepada kewajiban menceritakan perbuatan Allah yang meluas dari bangsa Israel ke bangsa-bangsa lain. Ajakan tersebut merupakan ekspresi hati nurani Israel agar bangsa-bangsa lain juga mengalami kehadiran Allah dalam Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu hidup mereka. Sebagai gambaran konkret. OS Guinness menegaskan bahwa iman Kristen selalu menyangkut kepercayaan sekaligus syarat perilaku (Guinness, 1983, p. Pandangan ini sejalan dengan Bernard T. Adeney . 5, p. 23Ae. , yang menekankan pentingnya dialog dengan nilai-nilai kebajikan asing sebagai ruang perjumpaan iman Kristen dengan budaya Perjumpaan tersebut diharapkan tidak melemahkan iman, tetapi justru menjadi indikator bagi integrasi yang sehatAiyaitu ketika orang percaya mampu menginternalisasi spiritualitas Kristen sambil bersikap kritis terhadap nilai-nilai luar, menyeleksi yang sesuai dengan iman, serta menggunakannya untuk memperkuat kehidupan keluarga yang berpusat pada Kristus. Dengan demikian, indikator integrasi spiritualitas dengan sekularitas dapat ditandai melalui: kemampuan keluarga mempertahankan iman di tengah arus nilai baru (Smith & Denton, 2005, p. komunikasi iman yang konsisten namun terbuka terhadap dialog lintas budaya (Hiebert, 1999, p. praktik kerohanian yang menegaskan keunikan Kristus sekaligus memberi kontribusi pada kebaikan bersama (Newbigin, 1989, p. dan sikap kritis terhadap nilai sekular yang tidak sejalan dengan iman (Hunter, 2010, p. Indikator-indikator ini memungkinkan keluarga Kristen menghadapi masalah relevan masa kini dengan landasan spiritualitas yang kokoh, tanpa terjebak pada ekstrem penolakan total terhadap sekularitas maupun kompromi yang mengaburkan iman. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memegang peranan strategis dalam pembentukan karakter, nilai, dan spiritualitas individu (Miller, 2. Dalam konteks perkembangan zaman, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat tumbuh kembang fisik dan emosional, tetapi juga sebagai ruang utama dalam pembentukan spiritualitas yang kuat sebagai pondasi kehidupan beragama dan moral (Hodge, 2. Namun, di tengah modernisasi dan globalisasi yang pesat, keluarga menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah sekularisasi. Sekularisasi merupakan proses di mana nilai-nilai agama dan pengaruh institusi keagamaan semakin berkurang dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat (Casanova. Fenomena ini menyebabkan perubahan signifikan dalam cara pandang, perilaku, dan praktik keagamaan individu maupun keluarga (Bruce, 2. Tantangan sekularisasi seringkali berujung pada melemahnya ikatan spiritual dalam keluarga, menurunnya kesadaran religius, dan memudarnya peran agama dalam membentuk moral serta etika hidup (Taylor. Dalam menghadapi tekanan sekularisasi, pembentukan spiritualitas keluarga menjadi sangat penting. Spiritualitas keluarga yang kuat dapat menjadi benteng kokoh untuk melindungi nilai-nilai religius dan moral, serta membantu anggota keluarga menjalani kehidupan yang bermakna dan berorientasi pada nilai-nilai transenden (King & Boyatzis. Melalui proses pendidikan nilai dan pengalaman bersama, keluarga dapat menginternalisasi keimanan dan pengharapan yang menumbuhkan ketahanan spiritual terhadap pengaruh duniawi (Mahoney et al. , 2. Meskipun banyak penelitian telah mengkaji dampak sekularisasi terhadap kehidupan beragama, sebagian besar masih berfokus pada perubahan sosial secara umum (Bruce, 2011. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Taylor, 2. atau pada institusi keagamaan (Casanova, 1. Kajian mengenai bagaimana keluarga secara spesifik berperan dalam membangun dan mempertahankan spiritualitas di tengah tekanan sekularisasi masih relatif terbatas (Mahoney, 2010. Marks, 2. Penelitian sebelumnya juga cenderung menekankan aspek psikologis atau sosiologis, tetapi kurang mengeksplorasi integrasi teologis-pastoral sebagai strategi keluarga dalam menjaga ketahanan spiritual (Walker & Dixon, 2. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi celah tersebut dengan menelaah bagaimana keluarga dapat menjadi agen spiritual yang aktif dalam menghadapi sekularisasi melalui internalisasi nilai iman dan praktik kerohanian yang Penelitian ini berfokus pada bagaimana keluarga dapat membentuk dan mempertahankan spiritualitasnya dalam menghadapi tantangan sekularisasi yang semakin meluas, khususnya dalam konteks masyarakat modern. Pentingnya peran keluarga dalam hal ini bukan hanya sebagai agen sosial tetapi juga sebagai agen spiritual yang menuntun generasi mendatang untuk hidup dengan integritas dan kesadaran religius yang kuat (Walker & Dixon, 2. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan praktis dan teoritis bagi penguatan spiritualitas keluarga sebagai upaya mitigasi dampak negatif sekularisasi. LITERATUR REVIEW Pertentangan nilai diri selaku umat Allah yang memberitakan keajaiban-Nya berhadapan dengan nilai duniawi yang berubah ke arah yang telos-nya kepada perekdusian nilai sebagai bangsa yang ditebus. Hal ini membutuhkan suatu determinasi teologi bercorak spiritualitas. Di mana hulunya kepada Pribadi Allah. Maka atas dasat kepentingan ini. OS Guinness menyebutkan dengan usaha merebut kembali alasan keberadaan keluarga Kristen di tengah proses sekularisasi tersebut. Dinyatakkan dalam rumusan tertulis OS Guinnes, hal 25 bahwa: Sebagai sebuah budaya kekuatan diubah menjadi kelemahan, dari pemberi menjadi penghakiman, maka proses perubahan tersebut membutuhkan dimensi pijakan teologis spiritual dan Mazmur 96:3 merupakan salah satu pijakan untuk hal tersebut. Struktur Teks Mazmur 96:3 Telaah atas Mazmur 96:3, berdasarkan pemenggalan kata yang termuat dalam ayat 3 tersebut menghasilkan sebagai berikut: Teks Mazmur 96:3 dalam Bahasa Indonesia: AiBeritakanlah Kemuliaan-Nya di antara bangsabangsa, keajaiban-keajaiban-Nya di antar segala suku bangsa. An Pencirian Teks Asli Mazmur 96:3 (Bahasa Ibran. Terjemahan dalam Bahasa Indonesia (Terjemahan Bar. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu "Beritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa, keajaiban-keajaiban-Nya di antara segala suku bangsa. Penjelasan Per Kata (Bahasa Ibran. (Sef'r. - Arti: Beritakanlah, ceritakanlah. - Penjelasan: Kata ini berasal dari akar kata - - yang berarti berbicara atau Dalam konteks ini, kata tersebut digunakan untuk mengajak orang untuk memberitakan atau menyebarkan informasi, yaitu tentang kemuliaan Tuhan. (Ba-goyi. - Arti: Di antara bangsa-bangsa, kepada bangsa-bangsa. - Penjelasan: Kata ini berarti "bangsa-bangsa", dan adalah preposisi yang berarti "di dalam", "di antara", atau "kepada". Kata ini menunjukkan bahwa pemberitaan itu harus dilakukan di antara berbagai bangsa atau di seluruh dunia. (K'vod. - Arti: Kemuliaan-Nya. - Penjelasan: Kata ini berasal dari akar kata AuA- - yang berarti "berat", "mulia", atau "dihormati". 'vo. mengacu pada kemuliaan, kehormatan, atau kemegahan yang dimiliki oleh Tuhan. Dalam konteks ini, kita diminta untuk memberitakan kemuliaan Tuhan kepada semua bangsa. (B'khalo. - Arti: Keajaiban-keajaiban, perbuatan-perbuatan ajaib. - Penjelasan: Kata ini berasal dari akar kata AuA- - yang berarti menyelesaikan atau menyempurnakan sesuatu, dan dalam konteks ini merujuk pada "perbuatan ajaib" atau "keajaiban" yang dilakukan oleh Tuhan. Dalam hal ini, kata tersebut menggambarkan perbuatan-perbuatan besar dan luar biasa yang Tuhan lakukan, yang patut diberitakan kepada bangsa-bangsa. (Ba-ami. - Arti: Di antara suku bangsa, kepada suku bangsa. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu - Penjelasan: Kata ini mengacu pada "suku bangsa" atau "kelompok bangsa" dalam Seperti kata sebelumnya adalah preposisi yang berarti "di dalam", "di antara", atau "kepada". Ini menunjukkan bahwa berita tentang keajaiban Tuhan harus disampaikan kepada berbagai suku bangsa. (Nifle'ota. - Arti: Keajaiban-keajaiban-Nya, perbuatan-perbuatan ajaib-Nya. - Penjelasan: Kata ini berasal dari akar kata - - yang berarti "mengagumkan" atau "ajaib". Kata ini menggambarkan keajaiban-keajaiban yang dilakukan oleh Tuhan, yang penuh kekaguman dan harus diberitakan ke seluruh dunia. Penjelasan dan Makna: Mazmur 96:3 mengajak umat untuk memberitakan kemuliaan Tuhan dan keajaibankeajaiban-Nya kepada semua bangsa. Pemberitaan ini bukan hanya berbicara tentang siapa Tuhan, tetapi juga tentang perbuatan ajaib dan luar biasa yang telah Tuhan lakukan, yang mencerminkan kuasa-Nya yang tak terhingga. Makna utama dari ayat ini adalah panggilan untuk menyebarkan kabar baik tentang Tuhan kepada semua orang, tanpa memandang batasan geografi, budaya, atau bangsa. Melalui pemberitaan ini. Tuhan dimuliakan, dan umat diminta untuk menyampaikan segala hal yang menakjubkan yang telah Tuhan lakukan. Ini juga mengajarkan kita bahwa sebagai umat Tuhan, kita memiliki tanggung jawab untuk menjadi saksi bagi kebaikan dan keagungan Tuhan, dan untuk berbagi berita baik ini ke segala penjuru Ayat ini mendorong umat percaya untuk tidak hanya menyembah Tuhan dalam kesendirian, tetapi juga untuk berbagi kesaksian mereka dengan dunia agar semakin banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan. Enam diksi dari Mazmur 96:3 memiliki makna teologis memberitakan kemuliaan Allah dan keajaiban-Nya tidak hanya mengarah siapa Allah tetapi juga perbuatan-nya yang ajaib dan luar biasa yang telah dilakukan Allah sekaligus merefleksikan kuasa-Nya yang tiada Dimensi pijakan teologisnya pada pemberitakaan kabar baik tentang Allah dan perhatian-Nya sekaligus menjadi tanggung jawwab umat Allah untuk bersaksi tentang diriNya hingga ke ujung dunia sekalipun . Mat. 28:18-20. Mark 16. Kis 1:. Terlihat penghayatan secara individual diperluas kepada penjangkauan semua bangsa agar memiliki pengalaman bersama Allah YHWH yang kini dinyatakan melalui Tuhan Yesus Kristus. Dengan melihat kepada isi teks Mazmur 96:3, dan deskripsi atas kemuliaan serta keajaiban Elohim untuk pemberitaan dan kesaksian. Warfield menggarisbawahi aspek tersebut dengan metafisika tentang Allah. Dirjana esensi pribadi-Nya, perbuatan-Nya Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu mencerminkan karakter dan tindakanNya telah menggema di antara bangsa-bangsa lain selain Israel . 4:503-. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus . ase stud. untuk menggali secara mendalam bagaimana keluarga membentuk spiritualitas mereka dalam konteks tantangan sekularisasi. Pendekatan kualitatif dipilih karena fokus penelitian adalah memahami proses, makna, dan pengalaman subjektif anggota keluarga terkait spiritualitas, yang sulit diukur secara kuantitatif (Creswell, 2. Sasaran penelitian ini adalah keluarga Kristen di lingkungan perkotaan yang menghadapi dinamika sekularisasi secara nyata, dengan tujuan untuk: . mengidentifikasi bentuk-bentuk praktik spiritual yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, . memahami strategi keluarga dalam mempertahankan nilai-nilai iman di tengah tekanan sekularisasi, dan . merumuskan indikator praktis penguatan spiritualitas keluarga yang relevan dengan konteks modern. Teknik pengumpulan data meliputi: . wawancara mendalam . n-depth interview. dengan anggota keluarga yang dipilih secara purposive untuk mendapatkan narasi pribadi tentang pengalaman dan strategi pembentukan spiritualitas keluarga (Patton, 2. observasi partisipatif untuk mengamati praktik-praktik spiritual dan interaksi keluarga dalam konteks kehidupan sehari-hari (Marshall & Rossman, 2. dokumentasi berupa catatan pribadi, buku harian, atau materi keagamaan keluarga yang relevan untuk melengkapi data wawancara dan observasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis tematik . hematic analysi. untuk mengidentifikasi pola-pola dan tema utama yang muncul terkait pembentukan spiritualitas keluarga dan respons terhadap sekularisasi (Braun & Clarke, 2. Validitas data dijaga melalui teknik triangulasi sumber data dan member checking untuk memastikan keakuratan interpretasi (Lincoln & Guba, 1. Sebagai tindakan konkret, penelitian ini tidak hanya bersifat deskriptif tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi aplikatif, antara lain: . merancang model pembinaan keluarga berbasis spiritualitas, . memberikan pedoman praktis bagi keluarga untuk mengintegrasikan doa, ibadah, dan komunikasi iman dalam kehidupan sehari-hari, serta . mengembangkan materi pendampingan pastoral yang dapat digunakan gereja atau lembaga pendidikan Kristen untuk memperkuat ketahanan keluarga menghadapi sekularisasi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoritis sekaligus praktis dalam memperkuat spiritualitas keluarga di era modern. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu HASIL DAN PENELITIAN Proses Sekularisasi Ae Perubahan Isi dan Nilai Mengacu kepada teori yang dikembangkan Enile Dur kheim tentang agama dan masyarakat, kedua-duanya saling membutuhkan dan tidak terpisahkan. Durkheim lebih lanjut menegaskan bahwa realitas dan masyarakat dalam acuan teori agama-agama menunjukkan sekularisasi di Eropa disebabkan oleh revoluasi ekonomi dan revolusi politik (Daniel Pals. Seven Theories of Religion, 2001:. Sehingga dapat disinggung lebih jauh sekularisasi di masa silam dalam peradaban tersebut berpengaruh terhadap peradaban Barat secara signifikan. Sementara dalam risalahnya. Jurgen Moltmann (Moltmann. ) melihat proses sekularisasi tersebut disebabkan karena tiga hal: hubungan kata dan realitas bermasalah. hubungan kata dan keberadaan tidak kongruen kebenaran yang dialami tidak menunjukkan adanya korespondensi, konformiti dan Maka dari itu, mencegah proses sekularisasi dengan memberitakan pewahyuan Paradigma Teologi Spiritualitas Gambar 1: Perubahan Nurani Bangsa Tahap 1 Revolusi ekonomi dan Tahap 2 revolusi mesin Enlightenment - Perang Dunia 1 & 2 Daniel 12 Instrumen Instrumen Tahap 3 bangsa-bangsa Kemuliaan Allah Kristus (Yoh 1:1-4, 14, . Instrumen Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Mencermati nilai zaman dan pengaruhnya hingga kini. OS Guinness berpandangan bahwa peradaban manusia yang mengalami abrasi akibat kemajuan. Justru melahirkan apa yang dikenali: tidak merasakan dimensi social dari keyakinan (Guinnes, hal. Hal ini disebabkan oleh pengosongan nilai kepekaan secara social dan digantikan dengan nilai intlektual semata. Dan dalam perkembangannya di era mesin cerdas kini, setidaknya aspek kognitif menjadi kriteria hasil pemilihan suatu bangsa dan identitasnya. Digambarkan sedemikian dalam alur perubahan sosial nurani bangsa. Kongkritnya, mengutip Daniel 12:1-3 pemunculan sekularisasi diantisipasi dengan ketekunan . dalam ibadah individual, sekaligus menjangkau banyak orang ke dalam kebenaran. Inilah yang tinggal tetap dan bijaksana. Krakteristik spiritualitasnya memuat iman, pengharapan dan kasih di dalam batin orang benar. Penulis mengartikan kebutuhan paradigmatic bagi spiritualitas berhadapan dengan sekularisasi yang sebutannya Sederhana terkait ruang untuk keluar (Thomas L. Brodic, 1993:. Hal ini similar dengan penugasan Tuhan Yesus agar murid-muridNya pergi keluar untuk menjangkau mereka hingga ke ujung bumi . nd Roma 10:6-. Pengamatan Kontemporer Tentang Spiritualitas Spiritualitas bermanfaat dalam hal mampu bekerja dengan beragam ekspresi spiritual, baik tradisional maupun non tradisional, dan kebutuhan untuk memanfaatkan beragam teori, penelitian, dan metode klinis untuk menangkap setidaknya sebagian dari fenomena yang kompleks dan sulit dipahami ini. Selain itu, bagi pemahaman lebih jauh terhadap upaya untuk "menjelaskan spiritualitas" dengan mereduksinya menjadi proses psikologis, sosial, atau fisik yang tampaknya lebih dipentingkan. Sebaliknya, pandangan penulis tetap pada pokok sublim spiritualitas dipahami dan ditangani sebagai dimensi yang sah dari pengalaman manusia itu Sembari menghindari godaan untuk mengidealkan spiritualitas, sebaliknya menekankan perlunya tenaga medis psikis untuk mengenali fakta dasar kehidupan: bahwa spiritualitas dapat menjadi bagian dari solusi dan bagian dari masalah. Kendati demikian situasi spiritualitas belum menyinggung teori medan terpadu. Lebih banyak yang tidak diketahui daripada yang diketahui dalam hal tempat spiritualitas dalam kehidupan. Namun, jangan terlalu tidak sabar. Bagaimanapun, psikologi masih merupakan bidang yang muda, baru berusia sedikit lebih dari seratus tahun. Dan studi tentang spiritualitas bahkan lebih muda lagi, karena sebagian besar telah diabaikan oleh para psikolog selama bertahun-tahun. Harapannya adalah bahwa karya ini berkontribusi dalam beberapa cara untuk pendekatan yang lebih terintegrasi untuk memahami dan menangani dimensi spiritual dalam terapi rohani. Dengan tidak menyusun semuanya sendiri. Selama bertahuntahun dalam keterlibatan di bidang ini sungguh sangat beruntung memiliki banyak orang lain yang mengajar, mendukung, dan menantang untuk maju dan berkembang. Spiritualitas merupakan bagian luar biasa dari kehidupan manusia sehari-hari. Dari lahir hingga meninggal, spiritualitas terwujud dalam titik balik kehidupan, menyingkap Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu misteri dan kedalaman selama momen-momen penting ini. Dalam krisis dan bencana, spiritualitas sering kali terjalin dalam perjuangan untuk memahami hal-hal yang tampaknya tidak dapat dipahami dan mengelola hal-hal yang tampaknya tidak dapat dikelola. Namun, ini bukanlah cerita lengkapnya. Spiritualitas tidak hanya diperuntukkan bagi masa krisis dan Spiritualitas terjalin dalam jalinan kehidupan sehari-hari. Kita dapat menemukan spiritualitas dalam alunan musik, senyuman orang asing yang lewat, warna langit saat senja, atau doa syukur setiap hari saat bangun tidur. Spiritualitas dapat mengungkapkan dirinya dalam cara kita berpikir, cara kita merasa, cara kita bertindak, dan cara kita berhubungan satu sama lain. Paradoksnya, kehadiran dimensi spiritual juga dapat dirasakan melalui Dalam perasaan kehilangan dan kekosongan, dalam pertanyaan tentang makna dan tujuan, dalam rasa keterasingan dan pengabaian, serta dalam tangisan tentang ketidakadilan demi ketidakadilan. Spiritualitas, singkatnya, adalah dimensi lain dari kehidupan. Dimensi yang luar biasa, ya, tetapi merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan apa artinya menjadi manusia. Kita lebih dari sekadar makhluk psikologis, sosial, dan fisik. juga makhluk spiritual. Ketika orang masuk ke kantor terapis, mereka tidak meninggalkan spiritualitas mereka di ruang tunggu. Mereka membawa serta keyakinan, praktik, pengalaman, nilai, hubungan, dan perjuangan spiritual mereka. Secara implisit atau eksplisit, kompleks faktor spiritual ini sering kali memasuki proses psikoterapi. Namun, banyak terapis tidak menyadari atau tidak siap untuk menangani dimensi ini dalam perawatan. Bagaimana terapis memahami spiritualitas? Bagaimana terapis menangani dimensi spiritual dalam psikoterapi? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi fokus naskah ini. Dalam bab spiritualitas ini saya mempertimbangkan ketegangan khusus antara psikologi dan agama, dan membahas beberapa alasan mengapa masuk akal untuk melangkah melampaui ketegangan ini untuk mengintegrasikan spiritualitas ke dalam psikoterapi. Sebagai pendahuluan untuk apa yang akan terjadi dalam wacana-wacana berikut, secara singkat mengkarakterisasi fitur-fitur penting dari psikoterapi yang terintegrasi secara spiritual. Saya menyimpulkan dengan menjelaskan beberapa nilai dan keyakinan saya sendiri. Bertumpu kepada penyataan Allah mengenai keluarga yg stabil dan bernilai. dalam Perjanjian Lama secara khusus dalam kitab Ulangan 6:4-9 shema Israel merupakan formatif agar keluarga mempunyai spiritualitas Memusatkan perhatian kepada berbagai fenomena keagamaan, terutama konversi dan Namun, pada awal abad ke-20, gambaran ini mulai berubah karena sikap orangorang di bidang tersebut terhadap agama bergeser dari minat dan keterbukaan menjadi kecurigaan dan permusuhan. Di bawah pengaruh filsafat positivis saat itu, psikologi bergerak cepat untuk bersekutu dengan ilmu-ilmu alam dan dengan demikian membedakan dirinya dari kerabat disiplinnya yang sangat dekat, filsafat dan teologi. Dalam bidang yang sedang berkembang, agama mulai dilihat sebagai hambatan bagi pencarian ilmiah untuk pencerahan dan penghalang bagi upaya berbasis rasional untuk meningkatkan kondisi manusia. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Mengomentari transisi ini. David Wulff . AiHanya ilmu sosial baru, yang bekerja sama dengan ilmu fisika dan biologi, yang dapat berharap untuk membebaskan manusia dari ketakutan dan penderitaan yang menurut sebagian orang mengilhami doa-doa pertama dan mantra-mantra ajaibAn . Psikologi mulai menarik minat orang-orang muda yang tidak puas dengan pendidikan agama mereka. mereka adalah Aifundamentalis yang tercerahkanAn (Bellah, 1. , yang sangat yakin bahwa kepercayaan agama akan mengikuti jejak takhayul lain seiring dengan kemajuan pengetahuan ilmiah. Agama dan pewahyuan dianggap sebagai mitos. Hingga kini pengabaian akan agama semakin nyata. Idiologi transgender berbasikan hak hak asasi manusia yang diinisiasi silicon valley dan aktifis pelangi di banyak negara justru memberikan kerusakan kepada generasi muda. Kegamangan yang banyak terjadi di kalangan young people tidak mengherankan sangat pesat Mereka memahami spiritualitas dari kebebasannya dan memilih ilmu pengetahuan sebagai dasar pembenaran untuk bersikap. Perbuatannya menunjukkan Kendati ia menolak agama, ternyata ia membutuhkan ruang bagi spiritualitas itu sendiri. Dari konteks ini muncul model-model kepribadian dan psikoterapi yang menggambarkan spiritualitas dalam istilah-istilah yang terlalu disederhanakan dan stereotip. Pertimbangkan behaviorisme dan psikoanalisis, dua paradigma psikologi utama abad ke-20. Skinner, pendiri behaviorisme, sendiri adalah produk dari agama fundamentalis yang kemudian ditolaknya. AiTuhan,An tulisnya. Aiadalah pola arketipe dari fiksi penjelasanAn . Dia percaya bahwa lembaga keagamaan mempertahankan fiksi ini dengan mencoba mengendalikan perilaku, terutama melalui penggunaan tindakan yang tidak menyenangkan, termasuk hukum yang bersifat menghukum, ketakutan akan neraka dan kutukan, dan praktik keagamaan yang mencegah perilaku berdosa. Dalam visinya tentang utopia, seperti yang disajikan dalam Walden Two . fiksinya, para anggota komunitas memerankan sejarah Skinner sendiri dan secara bertahap meninggalkan praktik keagamaan AiKeyakinan agama,An tulisnya. Aimenjadi tidak relevan ketika ketakutan yang memeliharanya diredakan dan harapan terpenuhiAidi bumi iniAn . Demikian pula. Sigmund Freud dibesarkan dalam keluarga Yahudi moderat, tetapi ia akhirnya menolak kepercayaan dan praktik Yahudi tradisional, meskipun ia terus mengidentifikasi dirinya sebagai orang Yahudi, secara budaya dan etnis. Freud . 7/1. berpendapat bahwa agama berakar pada rasa ketidakberdayaan anak di dunia yang penuh dengan kekuatan berbahaya. Di awal kehidupan, ia berteori, anak mampu menemukan kenyamanan dan keamanan di hadapan ayahnya. Seiring bertambahnya usia anak, ia menemukan keterbatasan ayahnya, tetapi anak harus terus memperhitungkan kekuatan alam, orang lain yang kuat di dunia sekitarnya, dan konflik kuat yang ada di dalam dirinya. Dari keinginan mendalam anak untuk keselamatan dan perlindungan dari kekuatan yang bermusuhan dan luar biasa ini, transformasi psikis terjadi. yang alamiah menjadi supranatural, yang tidak terkendali menjadi fleksibel, dan sebagai hasilnya. Aikita dapat Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu bernapas dengan bebas, dapat merasa nyaman dalam hal-hal yang gaib dan dapat mengatasi kecemasan kita yang tidak masuk akal dengan cara-cara psikisAn . Inilah yg disinggung F Schaeffer dg dilema metafisis masyarakat modern. Tertarik dan dibentuk oleh kekuatan-kekuatan positivisme dan model-model kepribadian dan psikoterapi ini, para praktisi psikoterapi modern dalam beberapa hal penting telah menjadi sangat berbeda dari mereka yang mereka layani dan dalam beberapa hal tidak siap untuk membantu mereka. Edward Shafranske . telah melakukan sejumlah survei di mana ia membandingkan keyakinan dan praktik keagamaan para psikolog dengan masyarakat umum di Amerika Serikat. Ia menemukan perbedaan yang jelas. Sementara 58% dari sampel nasional melaporkan bahwa agama sangat penting bagi mereka, hanya 26% psikolog klinis dan konseling yang menyatakan bahwa agama sangat penting bagi mereka. Sementara lebih dari 90% populasi AS melaporkan kepercayaan pada Tuhan yang bersifat pribadi, hanya 24% psikolog klinis dan konseling yang melakukannya. Dalam hal agama, terapis dan klien mereka berasal dari dunia yang berbeda. Statistik ini menunjukkan bahwa klien yang percaya pada Tuhan yang bersifat pribadi dan melihat agama sebagai bagian penting dalam hidupnya cenderung bekerja dengan terapis yang tidak percaya pada Tuhan yang bersifat pribadi dan tidak menganggap agama sebagai hal yang sangat penting secara pribadi. Benar saja, terapis tidak harus "seperti" klien mereka untuk membantu mereka. Bagaimanapun, terapis merawat orang yang mengalami depresi, kecemasan, atau kecanduan tanpa mengalami depresi, kecemasan, dan kecanduan. Namun, meskipun terapis menerima banyak pendidikan tentang berbagai masalah psikologis, mereka hanya diajarkan sedikit atau tidak sama sekali tentang agama dan spiritualitas. Misalnya, menurut survei direktur pelatihan program psikologi konseling di Amerika Serikat, hanya 18% direktur yang menyatakan bahwa program pascasarjana mereka menawarkan kursus yang berfokus pada agama atau spiritualitas (Schulte. Skinner, & Claiborn, 2. Hanya 13% direktur pelatihan program psikologi klinis di Amerika Serikat dan Kanada yang melaporkan bahwa kurikulum mereka mencakup mata kuliah tentang agama dan spiritualitas (Brawer. Handal. Fabricatore. Roberts, & Wajda-Johnston, 2. Sebagian besar profesional muda meninggalkan sekolah pascasarjana tanpa persiapan untuk mengatasi masalah spiritual dan agama yang akan mereka hadapi dalam pekerjaan mereka. Keadaan ini merupakan cerminan dari asumsi yang mengakar kuat dalam bidang kesehatan mental bahwa spiritualitas, paling banter, adalah masalah sampingan dalam psikoterapi, yang dapat dikesampingkan atau diselesaikan melalui pendidikan tentang realitas. Saya yakin asumsi ini salah besar. Faktanya, ada sejumlah alasan bagus untuk menganggap dimensi spiritual kehidupan jauh lebih serius dan mengintegrasikannya jauh lebih penuh ke dalam proses psikoterapi. Berkaca dari kenyataan ini, terungkap akan pentingnya spiritualitas berdasarkan being Allah ada dan Dia tidak berdiam diri. Sebab terapis sendiri minim menerima pembelajaran spiritualitas berbasikan wahyu Allah. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Spiritualitas dapat menjadi solusi. Meskipun para profesional kesehatan mental sering kali memandang spiritualitas lebih sebagai penyebab masalah daripada sumber solusi, kisah-kisah seperti Alice menunjukkan bahwa sikap terhadap spiritualitas ini tidak sesuai. Tentu saja, setiap kasus bisa menjadi pengecualian daripada aturan, tetapi studi penelitian menunjukkan bahwa kisah Alice bukanlah hal yang tidak biasa. Banyak orang mengandalkan spiritualitas mereka untuk mendapatkan dukungan dan bimbingan di saat-saat stres. Bahkan, bagi beberapa kelompok, spiritualitas adalah salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengatasi Misalnya. Bulman dan Wortman . bertanya kepada orang-orang yang lumpuh karena kecelakaan parah tentang bagaimana mereka menjelaskan situasi mereka. Respons yang paling umum terhadap pertanyaan "Mengapa saya?" adalah "Tuhan punya alasan. Dalam sebuah penelitian terhadap wanita lanjut usia kulit hitam dan kulit putih yang menghadapi masalah medis, doa muncul sebagai metode yang paling sering digunakan untuk mengatasi masalah (Conway, 1985Ae1. Sembilan puluh satu persen wanita mengatasinya dengan berdoa, lebih banyak daripada mereka yang mengatasinya dengan pergi ke dokter, beristirahat, menggunakan obat resep, atau mencari informasi. Amerika Serikat secara keseluruhan mencari dukungan dan penghiburan dari agama setelah serangan teroris 11 September. 90% dari sampel acak orangorang yang diambil dari seluruh Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka mengatasi perasaan mereka setelah bencana dengan beralih ke agama (Schuster et al. , 2. Dan, penting untuk ditambahkan, banyak orang didukung dan ditopang tidak hanya pada saat-saat stres berat tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan terlibat dalam praktik keagamaan rutin. Kebanyakan orang yang mengandalkan iman mereka untuk mendapatkan dukungan merasa agama membantu. Dalam penelitian terhadap veteran perang, pasien rumah sakit, orang tua dari anakanak penyandang cacat fisik, janda, dan pasangan yang mengalami kekerasan fisik, 50Ae85% dari peserta penelitian melaporkan bahwa agama membantu mereka mengatasi situasi sulit (Pargament, 1. Apakah temuan yang sama berlaku bagi orang yang mengalami masalah psikologis serius? Ekspresi spiritualitas di antara kelompok ini sering kali dilihat sebagai gejala penyakit, bukan sebagai tanda sumber daya yang berpotensi berharga untuk mengatasi penyakit tersebut. Beberapa penelitian empiris telah menantang perspektif ini. Misalnya, dalam survei terhadap lebih dari 400 orang dengan penyakit mental serius, lebih dari 80% melaporkan bahwa mereka menggunakan semacam kepercayaan atau praktik keagamaan untuk membantu mereka mengatasi gejala dan masalah sehari-hari (Tepper. Rogers. Coleman, & Malony, 2. Mereka telah terlibat dalam penanganan keagamaan selama rata-rata 16 tahun. Sebagian besar . %) merasa penanganan keagamaan mereka membantu, dan 30% menyatakan bahwa keyakinan atau praktik keagamaan mereka adalah hal terpenting yang harus mereka lakukan untuk bertahan. Penanganan keagamaan saat gejala memburuk Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu juga dikaitkan dengan lebih sedikit rawat inap. Studi terhadap orang dengan gangguan makan telah menghasilkan temuan serupa. sumber daya spiritual sering dijelaskan oleh individu. Melalui lensa spiritual, orang dapat melihat kehidupan mereka dalam perspektif yang luas dan transenden. mereka dapat membedakan kebenaran yang lebih dalam dalam pengalaman biasa dan luar biasa. dan mereka dapat menemukan nilai-nilai abadi yang menawarkan landasan dan arah dalam perubahan waktu dan keadaan. Melalui lensa spiritual, masalah memiliki karakter yang berbeda dan solusi khas muncul: jawaban atas pertanyaan yang tampaknya tidak dapat dijawab, dukungan ketika sumber dukungan lain tidak tersedia, dan sumber nilai dan makna baru ketika mimpi lama tidak lagi layak. Spiritualitas, dengan demikian, mewakili sumber daya yang khas untuk hidup, yang sangat cocok untuk perjuangan dengan keterbatasan dan keterbatasan manusia. Dengan membawa dimensi spiritual ke dalam proses membantu, psikoterapis dapat memanfaatkan lebih penuh sumber harapan dan sumber solusi untuk masalah hidup yang paling mendalam ini. Keluarga Yang memiliki Spiritualitas Definisi keluarga menurut kekristenan adalah institusi kudus yang dikehendaki Allah untuk menjadi tempat kasih, pertumbuhan rohani, pendidikan iman, dan penggambaran kasih Kristus di dunia. Definisi ini sangat menarik karena dikatakan Apertumbuhan imanAo yang berarti ada sebuah proses yang harus dilakukan. Dalam hal ini tentu adanya peran yang dilakukan oleh anggota keluarga yaitu orang tua. Peran orang tua yang membangun kehidupan spiritualitas anak menunjukan bagaimana orang tua tetap menjaga otoritasnya sebagai orang tua. Ini merupakan karakteristik dari terjadi keluarga yang seimbang. Keluarga sebagai lembaga tertua di dunia ini yang dibentuk oleh Allah sendiri merupakan tempat pertama dan utama dalam pembentukan nilai-nilai iman. Dalam keluarga Kristen, pembentukan iman atau spiritualitas menjadi dasar penting untuk membangun hubungan yang erat dengan Tuhan dan sesama. Peran orang tua dalam membangun kehidupan spiritualitas keluarga selaras dengan ajaran Tuhan Yesus, seperti yang tertulis dalam Markus 10:14: AiBiarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah,An dan dalam Matius 18:5: AiBarangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. An Perkataan Tuhan Yesus ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap pertumbuhan rohani anak-anak. Pembentukan spiritualitas dalam keluarga sangat penting karena menjadi fondasi kuat bagi karakter dan kehidupan rohani tiap anggota keluarga. Di dalam keluarga Kristen berarti membangun hubungan yang intim dengan Tuhan secara bersama-sama merupakan suatu hal yang sangat penting. Karena spiritualitas keluarga adalah praktik iman yang dijalankan secara bersama-sama oleh seluruh anggota keluarga, yang bertujuan untuk membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan, memperkuat kasih, dan menanamkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sehari-hari. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Adapun langkah-Langkahnya dalam pembentukan spiritualitas dalam keluarga diantaranya: Menjadikan Tuhan Yesus Kristus Sebagai Pusat Keluarga Dalam Ulangan 6:5-7 yang merupakan shema bagi bangsa Israel bahwa mendidik anak adalah bagian dari mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Kasih kepada Tuhan ini harus ditanamkan sejak dini dalam kehidupan anak-anak melalui pengajaran yang berulang-ulang. Orang tua dipanggil untuk berbicara tentang Firman Tuhan dalam setiap situasi kehidupan, baik saat duduk di rumah, dalam perjalanan, saat beristirahat, maupun ketika bangun. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan rohani bukan hanya tanggung jawab sesaat, tetapi sebuah panggilan yang terus-menerus atau berkesinambungan dilakukan dalam segala waktu dan keadaan. Dalam praktik iman diwujudkan dalam bentuk berdoa bersama dalam setiap mengambil keputusan dan menyerahkan seluruh pejalanan hidup keluarga di dunia kepada Tuhan. Membangun Mezbah Keluarga (Family Alta. Sebaiknya mezbah keluarga jangan hanya bersifat rutinitas atau kewajiban dengan memuji Tuhan, penyembahan, berdoa, membaca Firman Tuhan dan sebagainya melainkan ibadah yang lebih dinamis dan bervariasi. Dengan tujuan agar tidak membosankan tetapi ibadah itu lebih dinikmati dan dirasakan oleh setiap anggota Misalnya mezbah keluarga itu mmerupakan kegiatan yang bersifat tetap, dihadiri oleh anggota keluarga, harus mmenarik dan penuh arti . erdampak terhadap satu sama lainny. , harus dipusatkan pada Firman Tuhan dan situasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, serta memiliki tujuan yang pasti yaitu membangun sifat atau karakter yang dikehendaki oleh Allah. Memberikan Teladan Rohani Ketiadaan peran atau figure dalam keluarga akan membawa dampak yang negative bagi kehidupan. Karena itu seorang laki-laki atau suami sebagai imam dalam keluarga akan membawa dampak dalam kehidupan spiritual anggota keluarganya. Sebagai imam akan memimpin anggota keluarga untuk mengenal dan beriman kepada Tuhan Yesus. Kebutuhan rohani anggota keluarga akan terpenuhi dengan kehadiran seorang imam yang memimpin dalam doa. Karena memimpin berarti berani dan berinisiatif untuk memulai doa bersama isteri da anak-anak. Inilah salah satu contoh teladan rohani yag dipraktikan dalam kehidupun riil. Kebergantungannya bersama Tuhan dalam menghadapi setiap tantangan, apakah ia bersandar dengan Tuhan atau kekuatan sendiri akan menginspirasi bagi setiap anggota keluarganya. Oleh karena itu spirit kebergantungan dengan Tuhan sekecil apapun akan berdampak dan menjadi teladan bagi anggota keluarga. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Menciptakan Suasana Kasih dan Pengampunan Pembentukan spiritualitas dalam keluarga Kristen berlangsung tidak hanya menekankan pada suasana ibadah saja, melainkan suasana komunikasi yang hangat dan saling mengasihi satu dengan lainnya diantara anggota keluarga. Saat ini komunikasi dalam keluarga tatap muka sangat penting sekali. Karena dunia komunikasi telah berubah sangat drastis dengan kemajuan teknologi. Kebanyakan keluarga sudah tidak komunikasi lagi secara verbal secara melainkan komunikasi melalui gajet. Sekalipun satu keluarga duduk dalam satu ruangan, masing-masing asyik dengan game. Padahal komunikasi bagian dari pembentukan spiritual dalam Suasana komunikasi kelihatannya sudah mulai hambar. Nampaknya suasana komunikasi yang hangat perlu dibangun kembali untuk mencairkan suasana hening dan hambar. Kasih adalah salah satu cara untuk menghangatkan suasana yang hampir Suasana kasih bukan saja pemberian dari Tuhan tetapi juga harus diusahakan di dalam keluarga. Sehingga tercipta keluarga yang rukun dan harmonis, yang saling menerima kekurangan dan kelebihan setiap pribadi dengan jalan saling mengampuni dan memaafkan. Sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:12 yaitu supaya kamu saling mengasihi. Sharing Rohani yang Terbuka Kehangatan dalam keluarga diwarnai oleh adanya keterbukaan atau diskusi tentang pengalaman iman masing-masing pribadi. Sehingga saling menguatkan diantara anggota keluarga. Suasana sharing yang penuh keterbukaan ini ditandai dengan adanya sikap saling menghargai untuk mencairkan pemahaman dan pengertian yang Hal ini dapat membawa pada sikap yang bijak dan penuh kesabaran. Suasana yang penuh kehangatan dan keterbukaan ini, dapat memberikan semangat dan saling meneguhkan iman setiap pribadi. Misalnya suami dilatih untuk sabar dan bijak dalam menanggapi pertanyaan isteri ataupun anak. Melalui sikap kesabarannya menimbulkan keteladanan dalam iman kepada Tuhan Yesus. Keutamaan tentang dimensi teologi Mazmur 96:3 bertumpu kepada pribadi Allah. Baik itu perbuatanNya . dan perkataanNya untuk diberitakan . adalah penerapnnya dalam pribadi Tuhan Yesus. Menurut Injil Matius memuat hal iklim tentang lokasi Tuhan Yesus, sementara Injil Lukas menyentuh perlokusi . kehidupan Tuhan bagi bangsa-bangsa. Tuhan Yesus adalah Raja bagi semua ras, suku dan bangsa . Luk. 2:39-. Injil yang erat dengan Mazmur 96:3. Yohanes menyentuh ke-Allah-an Tuhan Yesus sehingga ada korelasi dengan Injil kanonik, bahwa Allah yang transenden berbuat secara mulia dan ajaib kepada manusia Ae bangsa melalui inkarnasi dan kebangkitan Yesus menjadi Tuhan dan Allah (Yoh. 20:30-. Siguard Grindheim . menegaskan hal tersebut dengan menggunakan tema Lord diterapkan dalam diri Tuhan Yesus. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu Dari hasil wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap beberapa keluarga, ditemukan temuan utama terkait pembentukan spiritualitas keluarga dalam menghadapi sekularisasi. Pertama, peran aktif orang tua sebagai teladan spiritual. Masalah yang muncul adalah masih adanya kesenjangan antara nilai yang diajarkan dan perilaku nyata orang tua. Inkonsistensi ini berpotensi melemahkan keteladanan di mata anak. Solusinya adalah membangun integritas spiritual orang tua melalui pembinaan iman yang berkesinambungan, sehingga teladan yang ditampilkan menjadi autentik dan efektif (Mahoney, 2. Kedua, rutinitas spiritual keluarga sebagai penguat ikatan dan iman. Tantangan yang ditemukan adalah rutinitas ini sering tergerus oleh kesibukan modern dan pola hidup instan. Solusi yang dapat ditawarkan adalah menegaskan kembali disiplin spiritual keluarga melalui pengaturan waktu yang realistis serta inovasi dalam bentuk kegiatan rohani kreatif, seperti penggunaan aplikasi renungan atau persekutuan keluarga berbasis media digital (Smith & Denton, 2. Ketiga, komunikasi terbuka terkait tantangan nilai sekular. Masalah yang muncul adalah tidak semua keluarga berani atau mampu membuka ruang diskusi tentang isu-isu sekular yang kompleks. Hal ini menimbulkan risiko anak mencari jawaban di luar keluarga. Solusinya adalah menumbuhkan budaya komunikasi iman yang sehat, di mana orang tua tidak hanya memberikan jawaban normatif, tetapi juga mengajarkan kemampuan berpikir kritis dalam terang iman (King & Boyatzis, 2. Keempat, pendidikan agama yang kontekstual dan adaptif. Tantangan yang muncul adalah pendekatan pengajaran yang kaku seringkali membuat anak merasa ajaran iman tidak relevan dengan dunia mereka. Solusinya adalah pendidikan iman yang menghubungkan teks Kitab Suci dengan realitas kehidupan sehari-hari anak, sehingga spiritualitas menjadi hidup, aplikatif, dan tidak terlepas dari pengalaman aktual (Hiebert, 1. Kelima, tantangan sekularisasi berupa pergeseran nilai dan tekanan lingkungan sosial. Masalah yang ditemukan adalah adanya pengaruh kuat dari media dan lingkungan pendidikan yang cenderung memisahkan iman dari praktik hidup. Solusinya adalah memperkuat peran keluarga sebagai Aikomunitas iman miniaturAn . omestic churc. yang tidak hanya membentengi diri, tetapi juga melibatkan anak-anak dalam misi kesaksian di sekolah, media, dan masyarakat (Newbigin, 1. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa keluarga bukan hanya objek yang terkena dampak sekularisasi, tetapi juga subjek yang mampu merumuskan strategi spiritual. Argumentasi ini menolak pandangan bahwa sekularisasi harus berakhir pada kemunduran iman, sebaliknya justru membuka peluang lahirnya kreativitas rohani baru dalam keluarga Kristen modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan spiritualitas keluarga merupakan proses dinamis yang melibatkan teladan orang tua, komunikasi terbuka, serta pendidikan agama yang adaptif. Masalah utama yang muncul adalah tantangan sekularisasi berupa Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu pergeseran nilai dan tekanan sosial dari lingkungan yang cenderung memisahkan iman dari kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menimbulkan risiko pudarnya identitas religius dan melemahnya fondasi spiritual anak-anak. Solusinya, keluarga perlu mengembangkan strategi yang lebih kreatif dan relevan dengan konteks zaman. Pertama, peran orang tua sebagai model spiritual sangat krusial. penelitian Mahoney et al. menunjukkan bahwa pengaruh orang tua menjadi faktor utama dalam pembentukan iman anak. Kedua, rutinitas spiritual bersama, seperti doa keluarga dan refleksi Kitab Suci, memberikan konsistensi dan rasa aman di tengah gempuran nilai-nilai sekuler yang kontradiktif dengan nilai agama (Walker et al. , 2. Ketiga, komunikasi terbuka tentang tantangan nilai sekuler memungkinkan keluarga membangun pemahaman kritis dan respons konstruktif, sejalan dengan konsep dialog transformatif dalam keluarga (Bengtson, 2. Selain itu, pendidikan agama yang kontekstual menjadi solusi yang efektif untuk menjembatani ajaran iman dengan realitas kehidupan anak-anak. Pearce dan Haynes . menegaskan bahwa pendidikan spiritual harus adaptif agar tidak terjebak pada dogmatisme, tetapi mampu menumbuhkan iman yang hidup. Hal ini sejalan dengan pandangan King dan Boyatzis . bahwa spiritualitas keluarga tumbuh dari interaksi nyata dan praktik Dengan demikian, pembentukan spiritualitas keluarga tidak berhenti pada pengajaran normatif, tetapi harus diwujudkan dalam teladan, kebiasaan, komunikasi, dan pendidikan yang kontekstual. Langkah-langkah ini memungkinkan keluarga menghadapi tantangan sekularisasi secara aktif, sehingga iman tetap relevan dan mampu berkembang dalam realitas KESIMPULAN Fenomena sekularisasi menghadirkan tantangan serius bagi spiritualitas umat Kristen karena menyingkirkan iman dari pusat kehidupan dan menggantinya dengan rasionalitas, materialisme, serta relativisme nilai. Jika tidak ditangani, hal ini akan melemahkan iman personal maupun komunal, bahkan mengikis peran gereja sebagai saksi Kristus di tengah Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemurnian spiritualitas Kristen menjadi jalan utama untuk melawan arus sekularisasi. Ada empat penekanan penting. Pertama, ibadah komunal . harus dipulihkan sebagai benteng spiritual yang menumbuhkan solidaritas iman, bukan sekadar peribadahan individual (Mazmur 96:. Kedua, gereja perlu kembali meneguhkan keutamaan Kristus dan karya penebusan-Nya yang final (Ibrani 10:. sebagai inti iman. Ketiga, spiritualitas Kristen tidak boleh dibatasi pada ruang privat, melainkan harus diwujudkan dalam misi global yang berakar pada Amanat Agung (Matius 28:16Ae20. Kisah Para Rasul 1:. Keempat, jawaban atas krisis metafisis dan eksistensial manusia modern, sebagaimana disoroti Francis Schaeffer, hanya ditemukan dalam karya salib Kristus (Roma 3:23. Roma 6:. yang menyatukan kembali manusia dengan Allah. Dengan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 5 No. 2 June 2025 Slamet Triadi. Edward Sitepu demikian, jalan menghadapi sekularisasi adalah melalui pemulihan ibadah komunal, peneguhan Kristus sebagai pusat iman, penghayatan spiritualitas misioner, dan pengakuan akan Kristus sebagai jawaban eskatologis atas krisis manusia. Hanya dengan cara ini gereja dapat menjaga vitalitas iman, melawan arus sekularisasi, dan menjadi terang bagi bangsabangsa (Wahyu 4Ae. REFERENSI